LATHI


LATHI

Dalam bahasa Jawa berarti lidah, atau bisa juga bermaksud ucapan.

Lagu yang menggabungkan bahasa Inggris dengan bahasa Jawa ini buat saya kok sarat dengan kesakitan.

Ada rasa perih, sedih, penderitaan, yang disebabkan oleh cinta.

Love’s a bless and curse.

Cinta itu anugerah sekaligus kutukan. Menjadi indah ketika ia tiba pada saat dan sasaran yang tepat. Namun menjadi sebuah kesalahan ketika cinta menimbulkan kesakitan dan airmata.

Dalem banget. Sedalam yang digambarkan dalam video clip lagu ini.

Never wanted this kind of pain, turned myself so cold and heartless.

Segala penderitaan yang disebabkan oleh cinta bahkan mampu membuat seseorang yang penuh cinta menjadi dingin dan mati rasa.

Saya mencoba memahami apa arti kalimat dalam bahasa Jawa yang ada di lagu ini.

Kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi.

Kamu tidak bisa lari dari kesalahan, harga diri seseorang ada pada lidahnya (perkataannya).

Hmmm … karena lidah juga, cinta yang indah bisa jadi menyakitkan bahkan berujung penderitaan.

Sambil menghirup wangi kopi di hadapan saya sore ini, saya jadi berpikir tentang kehidupan dan cinta. Apa yang kita pikir baik kadang belum tentu baik juga. Apa yang kita rasa cinta ternyata seringkali membutakan mata. Hingga segala hal yang nyata nampak bak ilusi yang ingin kita lihat saja padahal ia menyakitkan.

Lathi – Weird Genius Feat Sara Fajira (Cover)

Love, R

Lirik:

I was born a fool
Broken all the rules
Seeing all null
Denying all of the truth

Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for

Never wanted this kind of pain
Turned myself so cold and heartless
But one thing you should know

‘Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi’

Pushing through the countless pain
And all I know that this love’s a bless and curse

Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for

Never wanted this kind of pain
Turned myself so cold and heartless
But one thing you should know

‘Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi’

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini


Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Film yang diangkat dari novel karya Marcela FP ini sukses membuat saya menangis (lagi). Iyaaaa saya memang gembeng kelas berat.

Ceritanya adalah tentang keluarga dan arti kebahagiaan. Kebahagiaan yang nyatanya semu bagi semua. Kebahagiaan yang dipaksakan karena sang ayah tidak ingin ada airmata di dalam keluarganya. Sang ayah yang tumbuh dewasa sebatang kara dan ketika dirinya mulai merasakan bahagia, ia takut untuk kehilangan sang rasa.

Rasa takut yang ditutupinya dengan berbohong mengenai kematian salah satu anak kembarnya. Kebohongan yang ditutupi selama puluhan tahun sehingga memaksa sang istri untuk berusaha tegar dan tidak mengeluarkan airmata. Kenyataan yang juga disembunyikan dari anak-anaknya agar mereka tidak tahu apa arti kesedihan.

Sang ayah kemudian menjadi kepala rumah tangga yang over protective. Ia tidak ingin anak-anak dan istrinya mengalami kesakitan. Hingga mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak mampu mengungkapkan isi hati, perasaan, karena tidak pernah mengalami rasa sakit atau kekecewaan. Rasa yang terus dianggap tidak ada ketika muncul. Seperti robot dengan tombol on dan off untuk mengendalikan semua bentuk rasa.

Angkasa, si sulung, yang sejak kecil dipaksa menerima beban tanggung jawab menjaga kedua adiknya justru tumbuh menjadi lelaki yang plin plan. Karena baginya bahagia itu adalah ketika ia mampu menjaga seisi rumah dengan seksama. Hingga memutuskan untuk membahagiakan dirinya sendiri pun ia tak bisa.

Aurora si anak tengah, tumbuh menjadi wanita yang merasa dirinya tidak pernah dianggap. Karena melihat sang ayah dan seisi rumah hanya peduli pada sang adik bungsu. Perhatian berlebihan dari sang ayah yang ternyata berlatar belakang cerita penuh duka.

Awan, si bungsu, yang tumbuh dewasa tanpa pernah merasakan kesulitan dalam hidup. Semua serba ada dan sudah diatur. Sudut pandangnya berubah ketika ia bertemu Kale kemudian merasakan kekecewaan.

Ajeng, sang ibu, yang mengalami kesedihan luar biasa karena tidak pernah sempat melihat bayi kembarnya yang meninggal dunia. Ia bahkan juga mengalami trauma sehingga tidak mampu membawa kendaraan setelah melihat kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Awan.

Banyak pergulatan emosi terjadi kemudian, yang menyebabkan mereka harus mengakui bahwa sebenarnya mereka rapuh. Mereka sedih. Komunikasi memang menjadi inti masalah dalam cerita ini. They look okay, but they’re not dan tidak ada yang mau mengakui karena berpikir bahwa ada kebahagiaan orang lain yang ditentukan dan menjadi tanggung jawab mereka. Hingga mereka lupa untuk mencari kebahagiaan mereka sendiri.

Menonton film ini membuat saya ingin memeluk erat ketiga anak dan suami di rumah. Bersyukur selama ini saya membiasakan anak-anak untuk mengungkapkan isi hati dengan bebas. Jika merasa marah, marahlah dengan sewajarnya. Jika bersedih, menangislah sepuasnya. Tidak perlu menutupi apa yang ada di dalam hati.

Be true to yourself.

Saya juga membiarkan anak-anak mengalami kekecewaan dan rasa sakit. Untuk kemudian mengambil pelajaran dan kekuatan di balik semua kegagalan.

It’s okay not to be okay.

Tidak perlu bersembunyi dari rasa sakit dan kecewa itu. Hadapi saja, ungkapkan, lalu nikmati dengan segenap rasa. Karena itu semua yang akan menjadikan kita bisa berdiri tegak hingga di akhir masa.

Well, parenthood is never easy. Pada akhirnya bahagia itu adalah kemampuan untuk menerima kenyataan, kemampuan untuk mengungkapkan perasaan, dan itu yang akan mempererat hubungan antar individu dalam keluarga.

Love, R

Sumber foto: Wikipedia

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #ReReynilda

Tentang Hati (Sebuah Elegi)


Tentang Hati (Sebuah Elegi) Ketika hatimu mati Karena prasangka dan dengki Ingat-ingatlah mati Yang setiap saat menghampiri Aku tak akan bergeming Karena lisanku toh tak kau percayai Semoga Allah mengampuni Segala fitnah yang terlontar dengan keji Betapapun hati ini ingin balas menyakiti Namun ku tetap menahan diri Kan kubalas indah hanya dengan puisi Karena hanya […]

Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?


Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?

“Bunda …”
“Yes?”
“I left my lunch box and bottle at home.”
“So?”
“Can you send it to me?”
“No, I can’t.”
“But I’m hungry,
Bunda.”

Begitulah pesan singkat yang saya terima dari putri sulung saya. Ketika sedang menikmati secangkir kopi hangat pagi itu. Kotak makan, dan botol minumnya memang tertinggal di rumah. Saya menemukannya tergeletak di depan pintu. setelah ia pamit berangkat sekolah.

Ia memang nampak terburu-buru hari itu. Ada tugas Student Council, katanya. Semacam OSIS di sekolah Indonesia. Dengan singkat saya membalas pesannya, “Learn from this lesson.”

Kejam kah saya? Bagaimana dengan Anda para ibu? Jika anda menjadi saya, apakah anda akan mengambil langkah yang sama dengan saya yaitu menolak mengantar barang yang tertinggal sebagai pembelajaran? Atau justru tergopoh-gopoh pergi ke sekolah untuk mengantar barang mereka karena kasihan?

I might sound mean to many. Ibu yang kejam. Sekolah sebelah rumah saja tidak mau mengeluarkan sedikit effort untuk mengantar keperluan bocah yang tertinggal.

Ya. Begitulah cara saya mendidik anak-anak di rumah. Disiplin dan tanggung jawab adalah hal yang utama di keluarga kami. Jangan heran jika berkunjung ke rumah saya, anda akan melihat saya tidak segan memerintahkan anak-anak untuk melakukan banyak hal, bahkan sejak usia mereka masih sangat muda.

Memasak, membersihkan rumah, membereskan kamar, membuang sampah, pendeknya semua harus mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Semua. Tanpa kecuali.

Bahkan putra bungsu saya yang baru berusia 9 tahun, sudah terampil mempersiapkan menu sahur sederhananya sendiri, lho. Apalagi kedua kakaknya. Merekalah yang sekarang ini bertanggung jawab atas banyak hal di rumah kami.

Bagaimana saya melakukan semuanya?

It takes two to tango.

Kami melakukannya bersama-sama. Berproses sedari kecil, dan belajar dari semua kesalahan selama proses berlangsung. Seperti yang saya ceritakan dalam buku antologi Tips Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Anak Jilid 1 https://curhatanaksekarang.com/tips-mengoptimalkan-kemampuan-belajar-anak/

Belajar bukan hanya di ruang kelas dan membuka buku. Belajar hidup disiplin dan mengenal arti tanggung jawab, juga termasuk ilmu tentang kehidupan yang akan berguna seumur hidup. Ini yang tanpa lelah saya tanamkan di diri putra dan kedua putri saya.

Untuk siapa semua life skills ini? Untuk mereka. Agar kelak mereka bertiga tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang disiplin, berani bertanggung jawab, dan tidak pernah menyusahkan orang lain.

Mau membaca tulisan kami semua dan menyerap manfaatnya? Mari belajar bersama.

Love, Reyn.

Secangkir Kopi Hangat Emak – Belajar Hidup. Hidup Belajar


Secangkir Kopi Hangat Emak – Belajar Hidup. Hidup Belajar

Rayyan, I need to talk to you.”
“Yes,
Bunda?”
“I’ve tried my best to teach you good manners. On the dining table, while talking to others, etc … but you didn’t seem to bother. Everything is a joke to you.”

Bocah 9 tahun itu tertawa dan berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengajak saya menonton film kesukaannya.

“Listen! It’s time for you to listen! You are so playful! Do you know why I teach all of you manners every single day?”
“Mmm … to make me a well-behaved kid?”
“Exactly. You knew it, yet you like to test my patience everyday. You will not stay in this house with me forever you know that? You will go out and might stay with other families one day. How are you going to be a well-behaved person if you don’t start here now. In your own house?”

Bungsu dari 3 bersaudara ini mulai menundukkan kepala dan berusaha memeluk saya. Mungkin wujud penyesalannya.

“You said you want to see me healthy until I grow older and can no longer take care of you? You said you don’t like to hear me nagging every single day? Yet, you keep making me angry.”

Kemudian saya mulai membuka gawai dan mencari sesuatu melalui internet.

Boy’s boarding school.

Mata bocah pecicilan itu pun terbeliak dan saya merasakan jantungnya berdegup kencang. Saya memang sengaja membuatnya melihat apa yang saya cari di internet.

“Why are you searching for boy’s boarding school?”
“I’m thinking of sending you to a boarding school. You will learn how to interact with other people and take care of yourself here. You will be placed in a dormitory, in a single room or a shared one. You will learn how to behave and communicate with others without me around. I think you will like it. You are going for National Service too soon. So this is good for you. Maybe you will listen to the teachers there better than me.”

Mata bulat bocah lelaki itu berkaca-kaca, kemudian ia membalikkan badannya dan saya melihat bahunya berguncang tanda ia sedang menangis.

“Aahhhh. I found one. I think this is perfect. Mazowe Boys Boarding School in Zimbabwe. Do you know where Zimbabwe is? Rayyan?”
“I don’t know! And I don’t want to know!”

Ia menjerit dari balik selimut yang menutupi sekujur tubuhnya sambil menangis.

“It’s in Africa. It’s just perfect for you. I’m going to call the school tomorrow. Good night.”


“Aahhh good,
Bunda. I agree with your choice. Zimbabwe is perfect for him.” Sang ayah pun turut andil menambahkan bumbu hingga bocah lelaki itu pun semakin menangis.

Saya setengah mati menahan tawa.

“Please don’t send me to a boarding school. I promise I will practice good behaviour, I will listen to you bunda, ayah, and kakak. I promise I will help around the house. I promise I will study more and be a well-behaved student at school. I want to be with you Bunda. I don’t want to go to Africa.”
“Promise? I just want to raise you right,
Rayyan. I want people to see you as a kind boy, not a naughty one that people refuse to be around. So, you promise me? If you break your promise what should I do?”

“Send him to Zimbabwe,” ujar sang ayah.

Tersedu-sedu ia menangis sambil memeluk saya semalam. Ya ya, saya tahu. Saya dan ayahnya adalah naughty parents. Hahaha! Saya suka sekali bermain drama dengan anak-anak. Kadang juga sedikit membumbui dengan ancaman secara halus. Pokoknya bukan ilmu parenting yang baik deh. Hahaha! Tak perlu ditiru.

Rayyan sebenarnya anak yang manis. Ia terhitung penurut, namun sangat playful. Semua hal adalah humor konyol, dan lucu untuknya. Ia kadang tidak bisa memilah dan bertindak semaunya di sembarang tempat. Kami sedang mengajarkannya untuk pandai menempatkan diri. Di mana ia bisa bergurau dengan bebas, dan di mana ia harus diam dan bertingkah laku baik.

Ini adalah salah satu cara saya mendidiknya karena saya tidak ingin terlalu sering membentak bahkan melayangkan tangan ketika kesal. Saya ingin menanamkan kata-kata baik dan positif di dalam benaknya. Hal yang akan ia bawa hingga dewasa.

Lantas, bagaimana hasil sang drama mama semalam?

Pagi tadi, bocah lelaki itu bangun sahur dengan tersenyum. Mempersiapkan makanannya sendiri dengan cekatan, membuang sampah tanpa banyak alasan, dan duduk dengan manis di meja makan. Selesai makan, ia membawa piring makannya kemudian mencuci dengan tertib, dan kembali ke meja makan untuk membersihkan sisa makanannya.

Setelah itu ia mandi, meletakkan baju kotornya dalam mesin tanpa diperintah, kemudian menawarkan sang kakak untuk menyapu rumah. Setelah selesai ia pergi tidur tanpa beliakan mata saya, namun meminta ijin menggunakan gawai nya nanti untuk menonton film kesukaannya.

Good boy. Semoga bukan hanya hari ini janji itu dipenuhinya. Ingat, Zimbabwe menantimu di sana.

Love, R

#WCR #ChallengeMenulis #RumahMediaGrup #ReRe

The Earth Of Mankind


The Earth Of Mankind

Wah! Ada film baru di Netflix. Judulnya berbahasa asing tapi aktornya tampak familiar.

Penasaran, saya pun memutarnya.

Bumi Manusia!

Film yang saya tunggu-tunggu sejak awal dirilis dulu. Bukan karena pemerannya Iqbal di Dilan yang lucu, tapi karena film ini adaptasi sebuah novel yang seru. Eeee … saya belum selesai sih membaca e-book nya. Mata tua saya menolak untuk menatap deretan katanya terlalu lama. Maklum, orang jaman baheula, yang lebih kuat membaca lembar demi lembar dibanding deretan kata pada layar.

Tidak biasanya lho, saya yang lebih tertarik dengan tampilan visual dibanding membaca baris demi baris kata, kali ini langsung mencari e-book novel aslinya. Karena film berdurasi 3 jam ini masih membuat saya kehausan akan cerita para tokoh di dalamnya.

Di dalam novel yang ditulis setahun sebelum saya lahir ini, Pramudya Ananta Toer menggambarkan suasana ketika Hindia Belanda menguasai tanah Jawa. Geram, sebal, marah, dan ikut merasakan pedihnya nasib Nyai Ontosoroh dan Minke yang kehilangan banyak hal hanya karena identitas mereka sebagai pribumi yang tertindas di tanah mereka sendiri.

Nyai Ontosoroh, mungkin salah satu karakter yang membuat saya berdecak kagum melihat sosoknya yang diperankan dengan sangat cerdas oleh Ine Febriyanti. Perempuan kampung bernama asli Sanikem, yang dijual sang ayah ketika berusia sangat muda kepada seorang lelaki Belanda pemilik perusahaan susu kaya di Wonokromo. Sanikem pun kemudian bergelar Nyai Ontosoroh. Julukan nyai diberikan kepada perempuan yang menjadi selir atau simpanan pada masa itu. Seperti Sanikem yang dibeli Herman Mellema sebagai selir, tanpa ikatan pernikahan resmi.

Sanikem muda yang tidak berpendidikan menjelma menjadi sosok perempuan kuat, tegas, pandai, dan menguasai banyak hal yang bagi saya justru adalah magnet di film ini. Lebih kuat dari sosok Minke yang buah pemikirannya tidak banyak diceritakan di film. Kerumitan jalan pikirannya secara detail tertuang di dalam novel aslinya. Tentu saja jika diceritakan semua, 3 jam tidak akan cukup mengadaptasinya dalam film.

Walau film ini berakhir sedih dengan kehilangan, perpisahan, bahkan kematian, banyak kesan saya dapatkan di akhir cerita. Jadi perempuan itu mesti kuat, harus rajin belajar untuk menguasai banyak hal. Perempuan juga harus berani menyatakan pendapat, dan punya pendirian. Walau Nyai Ontosoroh akhirnya gagal mempertahankan hak nya sebagai ibu. Ia tetap menunjukkan perjuangan membela harga dirinya hingga akhir, ketika akhirnya harus melepas sang putri pergi.

Hhhh … rasa syukur yang teramat besar terucap di sela isak tangis. Bersyukur saya berada di jaman yang sangat berbeda saat ini. Tidak terbayang jika saya hidup di masa itu sebagai seorang pribumi.

Maka di tengah pandemi yang mengharuskan saya stuck di rumah saja ini, saya tetap bersyukur. Karena masih terasa perihnya hati melihat Annelies dipaksa pergi meninggalkan sang mama yang menyayanginya sepenuh hati, hanya karena identitas diri. Tak apa lah saya menikmati hari-hari belakangan seperti ini, asal anak-anak tetap di sisi.

A must watch movie and a must read book it is!

Sumber foto: Wikipedia

Love, R

#WCR #ChallengeMenulis #RumahMediaGrup

re-reynilda-foto

The Value Of Life


The Value Of Life “I’m very angry at one of my friend, Bunda!” “Eh? What’s wrong, Adik?” — Hari itu, Lana pulang sekolah dengan muka bersungut-sungut, dan kelihatan seperti baru menangis. Sebagai Ibunya, saya tentu tahu segala perubahan yang terjadi pada anak-anak. Walau saya mencoba untuk tidak mengambil kesimpulan sendiri. “What’s wrong, Sayang? Come here, […]