D.I.Y FASHION


D.I.Y FASHION

Hmm … D.I.Y?

Yes! Do It Yourself.

Siapa bilang untuk jadi fashionable butuh modal besar?
Siapa bilang untuk jadi fashionista butuh branded stuffs atau designer clothes?

Be your own design artist, Gengs!

Buka lemari, cari baju yang sudah kekecilan, atau malah kebesaran, atau yang sudah tidak terpakai karena sesuatu hal.

Cari inspirasi dari internet yang bejibun dibagi, buka Pinterest untuk ide seru, dan cari video tutorial yang kamu mau.

Saya memang bukan penjahit betulan, karena hanya belajar secara otodidak. Menjahit baju baru nyatanya memang kurang menarik hati saya. Mendhedeldhuwel baju lama yang dijadikan baru rasanya lebih menarik kalbu. Caelah!

Apa saja D.I.Y Fashion yang pernah saya buat? Semoga menjadi inspirasi ya, Gengs!

Yuk, buka lemarimu dan bikin sesuatu yang lama jadi baru!

Love,
Rere & SewAdorableYou!

PS: Ini hanya sebagian kecil hasil oprekan tangan saya mendhedeldhuwel baju lama. Ada beberapa baju yang kemudian berubah bentuk menjadi tas bertali, atau lunch bag tempat anak-anak menyimpan kotak makan.

LISTEN TO UNDERSTAND


LISTEN TO UNDERSTAND

OOPSSS!

Rayyan! How many times Bunda told you to crack the egg in a bowl? Can you be very careful and stop acting smart? The bowl is just there!”

Meledak amarah saya melihat sebutir telur pecah dan meluncur jatuh ke atas selembar karpet yang saya letakkan di dapur. Ini bukan kejadian pertama kali.

Minggu lalu saya pun harus mencuci karpet karena Rayyan juga menjatuhkan sebutir telur ke atasnya. Kejadian ini tidak saya lihat sendiri, karena waktu itu sedang pergi. Begitu sampai di rumah, saya sudah membaui sesuatu yang amis. Ini pasti ada sesuatu yang tidak manis. Benar saja, saya melihat karpet di dapur basah. Meski awalnya tidak mengaku, lewat tatapan tajam Emak Suzana, akhirnya ia mengaku juga.

Pagi ini, baru saja saya mengajaknya bicara sebelum berangkat sekolah. Saya meminta maaf sudah membentaknya tadi pagi karena marah luar biasa. Ia juga saya ajak berdiskusi tentang “jatuh ke lubang yang sama” dan bagaimana cara menghindarinya.

Nak, ibarat hidup. Jika di ujung jalanmu ada sebuah lubang, kemungkinan untuk terperosok ke dalamnya sangat besar. Mungkin saat itu, pandanganmu tertutup rerumputan. Namun selanjutnya, apakah akan merelakan diri terperosok hingga kedua kalinya? Jangan ya, Nak. Itu fungsinya Yang Kuasa menganugerahi kita dengan susunan otak yang luar biasa.

Putar arahmu, ambil jalan lain, atau tutup lubang itu dengan sesuatu yang bisa kau gunakan untuk melangkah maju. Be smart don’t act smart.

“I’m sorry, Bunda.”
“Is it so hard for you to get a bowl? Is it so difficult for you to memorize what I’ve been telling you? I’m telling you things because I’m older than you. I was you age, too. So I know how careless you can be. Do you understand?”
“Understand,
Bunda. I’m sorry. I won’t do it again. I promise.”

Belajar dari kesalahan, Nak. Lalu ingat untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan menganggap diri terlalu pintar hingga mengabaikan sekitar. Bertindak dengan cerdas dan hati-hati, bukan merasa diri terlalu cerdas hingga menutup telinga dan mata sampai hati mati.

Love,
Rere

Sincerity


Sincerity

“Don’t be someone many people avoid to be with.”

Selain mengajarkan tentang disiplin dan tanggung jawab, saya selalu mengingatkan anak-anak untuk bersikap baik pada siapapun.

Jangan jadi pribadi yang keberadaannya tidak disukai. Bukan berarti harus berubah menjadi seseorang yang bukan diri sendiri. Bukan juga berarti harus bersikap manis di depan namun bengis di belakang.

Tumbuhlah besar jadi manusia yang tulus dan baik pada sesama. Bagaimana caranya? Mudah namun tak mudah. Dengan menahan lisan maupun tulisan.

Mengapa saya dan suami menitikberatkan persoalan ini?

Kami tidak sedang mengajarkan anak-anak untuk bermuka dua. Kami mengenal masing-masing dari mereka, sehingga mengajarkan untuk merubah segala prilaku yang tak semestinya.

Si sulung, adalah anak yang manis. Meski ketika kecil tak bisa dipegang, ketika besar ia tumbuh pendiam. Saking pendiamnya, ia terbiasa menjawab dengan singkat.

“Kak, have you had your lunch yet?”
“No.”
“Where are you now?”
“Home.”

Jawaban singkat seperti ini bisa memunculkan anggapan tak sopan, meski ia tak bermaksud demikian. Mungkin saja suatu hari nanti ia menjadi seseorang yang tak disukai keberadaannya karena masalah attitude dan kesopanan.

“Ih, males gue kalo ada dia. Gak enak diajak ngomong, suka enggak sopan.”

Si tengah, ia mewarisi banyak sifat saya yang jutek, judes, pemikir, kadang terlalu lugas mengutarakan isi kepala. Padanya saya selalu ingatkan untuk berfikir dan berhati-hati sebelum bicara.

Pernah pada suatu hari saya menasihatinya ketika ia saya ajak bertemu dengan seseorang yang saya hormati sejak bangku sekolah. Mencoba untuk bersikap ramah, sang tamu mengajak si tengah bicara dan bertanya tentang bagaimana saya, ibunya, di rumah. Hanya bergurau saja, tak ada maksud untuk kepo atau apapun, karena ia sedang bercerita bagaimana saya ketika sekolah dulu. Si judes lalu berbisik dengan suara yang lumayan keras hingga bisa didengar banyak orang.

“Why does she need to know?”

Ya, salam! Dia berfikir orang lain tak memahami perkataannya itu. Sepulang dari pertemuan, saya mengajaknya bicara dan mengatakan bahwa ekpresi yang ia ungkapkan itu, sangat tidak saya sukai. Saya tak ingin kelak ia menjadi pribadi yang dihindari.

“Ah! Males gue kalo ada dia. Ngomongnya suka kasar.”

Atau,

“Ih! Males gue kalo ada dia. Ngomongnya nyinyir mulu!”

Si bungsu, yang kerap terlihat sok tau. Ia memang cerdas dan ingatannya sangat kuat. Hingga tiap kali ada pembicaraan, ia akan masuk dan berbagi pengetahuan. Saya paham maksudnya baik, hanya ingin berbagi saja. Namun lelaki kecil ini harus juga mengerti, bahwa seringkali apa yang kita pahami ternyata hanya seujung kuku jari dari orang lain. So don’t act smart. Bersikap rendah hati dan tidak boleh membanggakan diri, hingga kelak tak ada orang yang tidak menyukai.

“Ih! Males gue kalo ada dia. Suka sotoy dan sok iye!”

Jadilah lelaki yang tak banyak bicara, Nak. Seperti ayahmu. Namun penuh dedikasi, bertanggung jawab, dan baik hati. Itu baru lelaki sejati.

Putri-putri kecilku, kalian justru harus bicara. Berani speak up dan tidak boleh diam ketika tidak dihargai. Namun ingat, respect is earned. NOT given. Bersikap baik, penuh sopan santun, dan hormat pada sesama. Itu baru namanya perempuan yang bisa menjaga martabatnya.

Be kind and sincere.

Be so positive, that negative people don’t want to be around you.

Love, Rere

Grounded For Life


Grounded For Life

Pergi dari satu negara ke negara lain. Mengunjungi satu kota ke kota lain. Begitulah kami di masa muda menghabiskan hari.

Berpindah tempat tidur dari satu hotel ke hotel lain. Menghabiskan waktu di udara hampir setiap hari. Menikmati hidup tanpa perlu banyak berpikir hingga dahi berkerut.

Ketika tiba masanya harus berhenti dan menjejakkan kaki di daratan lagi, kami pun melakukannya dengan sepenuh hati.

Meski segala kemewahan serta kesenangan, berganti menjadi teriakan yang tanpa henti. Bak sebuah kaset rusak yang terdengar berulang kali. Begitulah kini kehidupan kami.

Hilang sudah segala hal tentang diri dan keinginan sendiri. Semua berganti menjadi harapan juga impian indah demi masa depan cerah, bersama anak-anak dan suami.

Meski begitu kami tak pernah berdiam diri. Menjalani hari dengan melakukan apa saja demi aktualisasi diri. Menjadi home baker, home caterer, meski harus pontang-panting mengurusi segala hal di rumah, kami tak pernah mengeluh apalagi menunduk pasrah.

Hidup harus terus berjalan, bukan? Inilah petualangan kami setelah tak lagi menaklukkan langit yang luas. Dari pramugari jadi babugari. Hahaha! Always be happy, Girls!

Love, Rere

UMPTN


UMPTN

Eits! Jamanku dulu memang namanya UMPTN, bukan susah sebut dan panjang bak kereta api seperti sekarang.

Silih berganti memandang cerita menyenangkan dari beberapa sahabat tentang berita kelulusan, membuat memoriku sedikit tertarik ke belakang.
Aku memang bukan lulusan UMPTN, karena masuk ke universitas impian dulu, melalui jalur PBUD. Jalur yang sudah sedemikian rupa dibentuk oleh papaku.

“Nanti SMA kamu ambil saja jurusan bahasa. Bakatmu di sana, bukan ilmu pasti dan matematika. Setelah itu jadilah juara di kelas, nanti bisa ikut PMDK. Siapa tahu bisa kuliah di UGM, fakultas sastra. Papa ingin sekali liat anak-anak kuliah di sana.”

Papaku memang luar biasa. Ia paham putri kecilnya tidak menyukai matematika. Padahal dulu, dirimya kerap menjadi sumber contekan ulangan semasa di bangku sekolah, saking pintarnya. Namun ia tidak memaksaku menjadi sepertinya.

Papaku memang sangat pengertian. Ia paham, putri kecilnya hanya tertarik dengan bahasa dan sastra, karena kerap melihatku menulis sebuah karya, dengan mesin tik tua miliknya. Karena itu ia tak pernah memaksaku belajar fisika dan kimia.

Papa … ia inspirasiku. Darinya aku tahu, masa depan harus direncanakan dan ditulis dengan tinta berwarna cetar. Namun ingat, tulislah dengan pintar. Memahami kemampuan, agar bisa maju tanpa gentar. Bukan mundur di tengah jalan karena bingung hingga gemetar.

Selamat untukmu semua! Nikmati masa muda dengan banyak menuntut ilmu. Buah manisnya kelak akan kalian nikmati selalu. Terima kasih jangan lupa, pada ayah dan ibu. Mereka yang membantu menuliskan tinta masa depanmu.

Selamat jadi mahasiswa baru!
Dariku, mahasiswi lama … tapi masih nampak seperti mahasiswi baru. 🤣

Love,
Rere

FAITH


FAITH

Semalam saya bermimpi membuka jendela di pagi hari.
Lalu melihat pemandangan gunung yang tinggi.
Udara yang segar, dengan hembus angin yang membuat tubuh bergetar.
Aroma pinus memanjakan hidung, membuat hati sendu menjadi hidup.

Apa daya ketika sadar, hanya nampak bangunan apartemen berjajar.
Bukan tak bersyukur meski jadi tepekur.
Hidup toh harus terus meluncur jika tak ingin jiwa menjadi hancur.

Be happy, Self. This shall pass.

Love,
Rere

PEREMPUAN


PEREMPUAN

Belum tuntas proses pencetakan antologi Hitam Putih Perempuan selesai, jilid keduanya sudah full quota saja.

Ya. Perempuan … memang kompleks dan penuh cerita. Isi kepalanya ibarat gulungan kabel yang tak beraturan. Mbulet, pating kruwel. Itulah mengapa tema tentangnya, selalu menarik untuk saya abadikan.

Semua naskah dari kontributor cantik yang masuk, saya baca dengan penuh perasaan. Saya edit dengan penuh kehati-hatian, agar pesannya sampai dengan baik pada para pemesan.

Wahai, teman-teman perempuan. Mari kita saling mendukung dan mengingatkan dalam kebaikan. Jika jarimu memang tak sanggup kau tahan, mari sini tuliskan. Akan kubaca ceritamu dan kujadikan sebuah buku, bukan hanya menjadi buku harian.

Kelak, semua anak cucu akan mampu mengambil pelajaran hidup darimu. Hingga memori yang nanti muncul tentangmu, akan berisi kisah indah meski kadang sendu.

Mari berhenti saling menjatuhkan antara sesamamu. Jika tidak saling mendukung dan berbagi ilmu, bagaimana kelak anak-anak akan mengambil contoh darimu?

Being a woman is never easy, but together we’ll make it easier.

Love,
Rere

Photo Courtesy: Sahabat-sahabat perempuan yang saya percaya dengan sepenuh jiwa.

LOVE YOURSELF


LOVE YOURSELF

Hai, Cantik!

Hari ini saya ingin berbagi tentang apa yang saya alami dalam enam tahun belakangan ini.

Haid saya berhenti enam tahun lalu, ketika menghadapi sebuah masalah yang lumayan melelahkan. Lahir dan batin.

Hidup sendiri sudah saya jalani sejak menginjak bangku kuliah di kampus biru tercinta. Kemudian bekerja di Jeddah, dan sekarang beranak 3 di Singapura. Jalan berliku tentu ada dan banyak sekali saya lalui. Namun persoalan dengan sebagian orang beberapa tahun silam, akibat salah persepsi, menjadi puncak kesabaran.

Saya depresi dan stress berat, apalagi hanya punya suami sebagai orang terdekat. I’m alone. Sendiri menghadapi semua hal dengan sisa kekuatan. Berusaha menyelesaikan secara langsung dengan menghadapi orang per orang, nyatanya blood is thicker than water. Cul de sac. Jalan saya buntu.

Lelah batin membawa saya pada perubahan tubuh. Saya berhenti menstruasi, padahal secara tanda pada badan, tidak ada symptom menopause dini. Awalnya saya makin stress, karena takut ada sesuatu yang serius terjadi. Kemudian saya menemui seorang gynae untuk memeriksakan diri.

Alhamdulillah. Tubuh saya hanya bereaksi karena terlalu depresi. Hingga dinding rahim menipis dan berakibat berhentinya menstruasi. Meski awalnya tak menerima kenyataan dan takut, namun saya bertekad harus terus maju menghadapi. Senyum lebar akhirnya terkembang dan berucap, terima kasih, Gusti. Saya jadi tak perlu repot pakai kontrasepsi lagi.

Apa yang bisa dipelajari dari cerita ini? Bagaimana saya bisa terlihat tenang? Di mata kebanyakan, bahkan nampak tak menyimpan dendam atau pernah melewati masalah berat. 😉

Cintai dirimu sendiri. Loving yourself is not selfish. Jauhi segala hal yang membuat nyeri. Jika harus berkonflik, hadapi dengan berani dan langsung melakukan komunikasi. Tak perlu sekuat tenaga menghindari, karena ia yang sejatinya memunculkan kekuatan diri.

Lalu accept then let go. Setelah menerima, biarkan ia pergi. Cukup disimpan di sudut hati untuk dilihat jika butuh kekuatan diri lagi. Pat yourself in the back dan bilang, “You did a great job, Self!”

Jangan lupa untuk selalu membuka hati pada segala nasihat atau pengingat yang datang dari sekitar. Legowo dan sumarah. Jalanmu pasti indah.

Have a great weekend, and always love yourself!

Love,
Rere

TALENAN HITAM


TALENAN HITAM

“Hitamnya chopping boardmu, Bunda.”
“Ih, iya. Ya, ampun! Baru sadar.”

***

Melengos wajah suami saya, kala melihat ulang tayangan video live yang biasa saya buat setiap pagi menjelang.

Hampir setiap hari, saya memang menayangkan video pembuatan camilan untuk anak-anak. Pagi itu saya tidak melihat lagi ulangannya seperti biasa, karena terlalu sibuk menyiapkan banyak hal di rumah. Sampai suami dan beberapa teman tertawa, melihat betapa hitamnya chopping board alias talenan yang saya pakai.

Saya benar-benar tidak menyadari noda hitam yang sudah bertanda, di talenan yang selama ini sudah berjasa. Ia yang menemani saya menyajikan masakan untuk semua kesayangan di rumah. Meski nampak hitam tapi saya selalu mencucinya bersih dengan air panas, lho. Ia menghitam entah karena apa, saya pun lupa.

Video itu lalu lumayan membuat saya merenung, dan berpikir dalam tentang kehidupan.

Begitu ya ternyata, kala melihat sesuatu dari sisi yang lainnya. Mungkin selama ini kita sendiri tak pernah melihat cacat cela pada diri sendiri, karena selalu sibuk mengomentari. Bereaksi pada segala hal yang bukan urusan pribadi. Mencibir bahkan bergunjing secara terbuka, tentang masalah orang lain. Masalah yang kita tak pernah tahu kebenarannya, bahkan kadang berasumsi semaunya. Tanpa kita sadari, mungkin diri ini juga menjadi bahan gunjingan, meski tak nampak di permukaan.

Talenan hitam yang baru saya lihat penampakannya melalui tayangan video di dinding hari itu, ibarat sebuah pengingat. Bahwa ada noda, cacat cela, atau kesalahan, yang baru nampak ketika pandangan berubah arah serta haluan.

Hmm … memang kadang butuh merubah pandangan atau mendengar komentar orang tentang diri kita, sebelum akhirnya sadar. Kamu, saya, kita … sama berdosanya. Sama bersalahnya, dan sama-sama punya noda dalam kehidupan.

Terima kasih, talenan hitam. Kalau bukan karenamu, mungkin diri ini tak pernah tahu betapa fokus pada perbaikan diri sendiri itu, yang paling penting dan perlu.

Namun maaf, dirimu terpaksa berakhir di bak sampah setelah cukup mengabdi sekian tahun di rumah. Ibarat noda pada perilaku yang harus diperbaiki setiap waktu, bahkan diubah dan dihilangkan bila perlu.

Maaf, talenan hitam, kedudukanmu di dapur berubah dengan dia yang baru. Seperti halnya attitude yang harus melewati jalan berliku sebelum akhirnya tahu, bahwa refleksi atas diri sendiri itu sangat perlu. Jangan sampai jari ini banyak menunjuk, tapi lupa untuk memperbaiki tingkah laku.

Don’t judge. You might know the names, but never the stories.

Love,
Rere

💔


💔

Bunda, do you know that my teacher talked about broken heart a few days ago?”
“Okay, what is it about?”
“It’s about how we deal with it. I mean, why? What’s the importance of talking about broken heart? So funny.”
“Well, in my opinion it’s as important as the talks about sex. Let me tell you something …”


Sambil tertawa geli, si sulung pernah bertanya pada saya, apa pentingnya pembicaraan tentang patah hati yang diterimanya di sekolah. Usianya memang sudah menjelang 15 tahun, tapi tingkahnya seringkali masih kekanak-kanakan. Sehingga pembicaraan tentang asmara, masih nampak lucu bahkan memalukan di matanya.

Saya lalu bercerita padanya tentang rasa sakit karena patah hati. Tak melulu rasa sakit akibat ulah lawan jenis, tapi mungkin terjadi antara dua sahabat dekat, bahkan anggota keluarga. Rasa sakit yang terasa sangat pedih, ketika harapan sudah terlanjur membumbung tinggi, pada seseorang yang sangat dekat di hati.

Tanpa disadari, luka karena patah hati bisa berdampak buruk pada diri. Seorang yang tadinya cemerlang di sekolah, bisa terpuruk bahkan mungkin gagal karena menolak sumarah. Menolak kenyataan bahwa ia telah gagal mempertahankan hubungan, padahal hati sudah diberikan.

Itu sebabnya pembicaraan tentang patah hati menjadi penting, Nak. Bagaimana hati mempersiapkan diri untuk disakiti. Rasa sakit itulah, yang membuat seseorang berdiri tegak menghadapi hari. Rasa yang tidak perlu ditolak kehadirannya, hanya butuh dinikmati. Menikmati sakit untuk tahu bagaimana mengatakan pada diri sendiri, “I respect me. I respect my feeling and I will deal with it myself.”

Ada banyak hal di dunia ini yang masih terbuka untuk kita pelajari. Tak ada satu jalan pun yang tak berkerikil atau berkelok. Pilihanmu hanya berhenti atau terus. Jika berhenti maka hidupmu berakhir di sini, jika terus, meski sakit, hidupmu akan terus maju.

***

Untukmu Young Girl, life must go on. Jika ia menghilang pergi, biarkan saja. Tak perlu lama meratap dan berharap. Raih semua cita, maju demi masa depan. Cinta milikmu akan datang pada saat yang menurut-Nya tepat, meski mungkin bukan tepat di mata manusia biasa.

Untukmu Mommy … saya memahami. Bahwa ketika anak-anak kita tersakiti, hasrat hati untuk melempar sebuah batu ulekan bekas mengulek sambel belacan, begitu membara. Saya paham rasanya. Tapi putrimu butuh ibu yang kuat dan bijaksana, bukan penuh angkara. Peluk saja ia dan katakan betapa dirimu mencintainya. Soal asmara akan datang pada saatnya. Menangislah sebentar, lalu bangkit dengan senyum mengembang. Hidup ini terlalu berharga hanya untuk memikirkan mereka yang telah menyakiti. Have a self respect and dignity, especially for your daughter. Dia yang pergi, biarkan saja tak perlu menahan atau memintanya kembali. Percayalah, ia tak cukup berharga untuk dipertahankan.

Untukmu sang Lelaki, tak semua orang paham apa maksud di hati. Berani memulai harus berani mengakhiri. Jangan berpikir segan, demi menghindari konflik dan air mata. Air mata pasti kering, namun hati yang bertanya-tanya akan meninggalkan lubang menganga. Berani mengambil hati, harus berani menjaganya agar tak pecah berkeping. Bertanggung jawablah sebagai lelaki yang menghargai kaum perempuan, karena kelak kau akan punya anak-anak perempuan. Mereka yang mungkin akan menangis di pangkuan, ketika sang kekasih pergi meninggalkan.

***

Wahai gadis muda, para perempuan. Tahanlah hasrat untuk terlalu berharap, kecuali siap dengan hati yang mungkin patah. Be strong, bangun dari tidurmu lalu melangkah maju. Hingga kelak bisa kau ajarkan putra putrimu, bagaimana menyikapi rasa sakit itu. Bagaimana ia dihadapi, bukan dihindari.

Stop seeking for happiness, in the heart of others. Happy International Women’s Day!

Love,
Rere