Thank You, Self!


Thank You, Self!

Hi, Ladies!

Sudah bilang terima kasih sama dirimu belum?
Sudah bilang cinta sama jiwamu?
Sudah menepuk bahu dan bilang, you are doing great, hatiku?

Meski masalah datang silih berganti, air mata jatuh tanpa bisa dibendung lagi, kecewa datang menghampiri, percayalah itu tanda kita masih punya hati.
Meski terkadang “being numb” cukup membantu melewati hari.
Jangan sering-sering, nanti rasamu jadi makin mati.

Turunkan saja ekspektasimu pada sesuatu atau seseorang itu.
Belajarlah untuk lebih banyak berdialog hanya dengan dirimu.
Nyatakan kesukaan dan ketidaksukaanmu pada banyak hal.
Jangan khawatir, tak ada yang bisa menghakimi apapun yang ada di akal.

Tak perlu banyak mengaduh atau mengadu.
Anggap saja semua masalahmu adalah cara-Nya menunjukkan kekuatanmu.
Kekuatan yang tak kau tahu hingga saatnya perlu.

Belajar juga untuk memaafkan diri sendiri, kita masih manusia ini.
Tempatnya salah dan kerap mengulangi.
Namanya juga proses mengenali diri.
Asal berani dan ingat untuk selalu mengapresiasi.
Tak perlu berharap setengah mati didapat dari orang lain.
Cukup seduh secangkir kopi seraya berbisik, “Terima kasih, DIRI!”

Love, Rere

Tentang Cinta


Tentang Cinta

“Adek, ayo cepat! Ambil bag Bunda yang Miu Miu biru sana, atau MJ juga ada warna biru. Pake baju biru, kan?”
“Iyaaa, Maam.”
“Udah? Pake bag apa?”
“Bag yang Bunda buat.”
“Ohhh. Why?”
“Because this is your handmade. I like it. Even all of my friends liked it. They said, you’re so cool. You can make everything. Even the foods that you made, they loved it! I’m so proud of you, Bunda. I love you.”

Oh life. So beautiful, indeed.

Tas berbahan denim itu adalah hasil dedhel dhuwel dari celana jeans suami yang sudah tidak dipakai lagi. Ternyata jahitan tangan saya yang acakadut tak sempurna, bahkan tanpa pola itu, lebih dipilihnya. Ketimbang tas-tas saya yang bermerk lainnya.

Thanks, Lana. I know I raise you right.

Love, Rere

V A L U E (Sebuah Perjalanan Hidup)


V A L U E (Sebuah Perjalanan Hidup)

“Urip iku mung mampir ngombe.”

Pernah denger ungkapan dalam bahasa Jawa ini, yang artinya hidup itu cuma mampir minum saja?

Ya, bener juga. Menjalani hari hingga saat ini kadang terasa lama sekali. Namun melihat anak-anak tumbuh dewasa, rasanya waktu berlalu begitu saja. Semudah menghabiskan segelas minuman pelepas dahaga.

Sebentar lagi, tanpa terasa mereka akan lulus sekolah. Lalu kemudian bekerja, membeli rumah lantas menikah, membangun keluarga kecil hingga beranak pinak. Begitu saja sih sebenarnya hidup kita. Benar-benar ibarat segelas air yang hilang dalam setegukan. Hanya perjalanan masing-masing saja yang membedakan. Ada yang bak garis lurus, ada yang berkelok bak zig-zag, ada yang kusut di awal lalu lurus di belakang, atau sebaliknya.

Alur itu terangkum dalam sederet foto ini. Ketika seorang keponakan melepas masa lajang, saya menghadiahinya dekorasi mobil pengantin berwarna terang. Kemudian tiba giliran keponakan yang lain naik pelaminan, sebuah kotak ang paw berbentuk sepasang pengantin berbaju khas Melayu dan berkain songket jadi pilihan.

Berbulan setelah hari itu, saya kembali menghadiahi mereka dengan sebuah bingkisan berbentuk cake bertingkat. Bedanya yang ini tidak untuk dikonsumsi, karena terbuat dari susunan diaper untuk bayi. Yep, saya sudah punya cucu meskipun bukan lahir dari tiga buah hati sendiri. Belum. 😁

Jalan kehidupan kemudian akan kembali berulang, kelak saat para cucu beranjak dewasa. Ketika tiba giliran mereka naik pelaminan, mungkin saya yang akan kembali menghias mobil pengantin meski dengan tangan gemetaran. Lalu sambil membetulkan kacamata yang melorot, mungkin saya juga akan membuatkan kotak ang paw dengan hiasan yang hits nan kekinian.

Semoga … karena saya ingin hidup ini tidak cuma sekedar numpang minum tapi juga berguna, meski tak mampu muluk-muluk menawarkan bantu. Semata hanya karena ingin hidup memiliki value. Meski harus melalui jalan panjang yang berkelok, bahkan berdebu.

Life’s too short, make the most of it.

Love, Rere.

SI KASET RUSAK


SI KASET RUSAK

“Lara, sudah sholat belum?”
“Lana, sapu rumah.”
“Rayyan, make up your bed!”
“Ayo, cepat makan. It’s 6.30 already!”
“Don’t forget your masks!”
“Botol, lunch box dah bawa?”
“Your keys, don’t forget!”
“Go home straight away.”

Bla … bla … bla.

Begitulah setiap pagi keramaian di rumah kami. Asalnya hanya dari satu suara, sih. Ya, suara SAYA pasti. Sementara suara lain hanya berbunyi, “yes, Bunda,” atau “sudah, Bunda.” atau … “apasal pagi-pagi pekik macam Tarzan?” Hahaha!

Awalnya saya berpikir keributan ini hanya terjadi di rumah kami. Ternyata setelah berbincang dengan beberapa sahabat, sama juga hebohnya, sih. Lega … berarti saya tidak sendiri.

Bukan tidak pernah saya mengajukan keberatan, karena harus berubah bak sebuah kaset rusak setiap pagi. Ya, setiap pagi. Beberapa cara pun pernah saya lakukan. Membuat jadwal harian mulai dari yang sederhana hingga berbagai bentuk dan gaya agar menarik. Tentu saja setiap saat harus berubah, menyesuaikan jadwal dan usia ketiga anak.

Kadang saya juga harus menahan diri setengah mati dengan tujuan untuk mendidik. Saya biarkan mereka gedubrakan karena terlambat bangun, hingga beberapa keperluan sekolahnya tertinggal. Ya, saya pun pernah juga begitu. Walaupun sebagai ibu dengan didikan disiplin tingkat tinggi di masa sekolah, ini adalah satu hal yang sangat menyiksa. Iya, tersiksa rasanya melihat ketidakaturan atau ketidaksiapan di depan mata.

Namun anak-anak harus belajar dari kesalahan. Sementara saya harus belajar untuk sedikit menutup mata. Saya juga terpaksa harus banyak mengurangi kebiasaan “serba harus, tidak boleh salah, mesti tersusun rapi dan sempurna”.

Saya tahu, mereka sebenarnya paham apa yang harus dilakukan. Mungkin mereka hanya terlalu suka dan selalu rindu mendengar suara nyanyian sang ibu yang berulang seumur hidup. Hingga melambatkan diri setiap pagi, adalah salah satu cara untuk tetap menghidupkan bunyi si kaset rusak itu.

Meski tiap pagi “bernyanyi”, saya tidak marah. Saya tahu suatu hari nanti mereka akan rindu, seperti saya yang kerap merindukan kebawelan mama saat ini. Oleh karena itu, setelah selesai merepet bak petasan banting, saya tetap memeluk dan selalu mencium mereka dengan penuh cinta di depan pintu. Sambil mendoakan dalam hati agar Yang Kuasa melindungi mereka selama di luar rumah menuntut ilmu.

Toh, setelah semua pergi, rumah jadi sepi. Saya bisa dengan tenang menyeruput secangkir kopi hangat, sambil menonton acara televisi.

“Abaaang! Dah sholat belum? Cepatlah! Dah almost shuruk!”

Lamat saya dengar tetangga sebelah rumah yang dapurnya bersebelahan, sedang “bernyanyi” merdu pada sang putra yang berusia 40. Hahaha! Cik, I feel you!

Motherhood … where silence is no longer golden.

Love, Rere.

Pic: Suryatmaning Hany

MERDEKA (Sebuah Refleksi)


MERDEKA (Sebuah Refleksi)

Astagfirullah!”

Terpekik pagi itu kuraih ponsel yang terletak di atas meja kecil dalam kamar. Pukul enam! Astaga! Lamat tadi sebenarnya sudah kudengar alarm berbunyi seperti biasa di pukul lima pagi, namun bukannya beranjak bangun malah kutidur lagi. Padahal harusnya waktuku membangunkan ketiga buah hati, untuk bersiap di pagi hari.

Sialan! Rasanya tadi aku sedang memaki seseorang dan gerombolannya yang menyebalkan dalam mimpi. Mereka yang hingga kini masih memiliki urusan yang belum selesai kuhadapi. Begini ternyata rasanya mempunyai unfinished bussiness. Sampai terbawa-bawa dalam mimpi, Ses!

Sambil memerintah anak-anak untuk bergerak cepat bak seorang komandan di tengah latihan perang, hatiku sepertinya masih meradang. Hingga siraman air dingin memadamkan api yang masih setengah berkobar. Segar!

Sambil meneguk segelas kopi panas, otakku mulai berpikir keras. Berarti selama ini hatiku belum ikhlas. Pikiranku belum merdeka jelas. Mengingat masih tersisa banyak hal di masa lalu, yang membuat amarahku muncul ke permukaan selalu. Memang, bukan sifatku untuk memendam dan mendendam. Apa daya, aku tak punya hati seluas samudra dan kesabaran yang tak ada batas.

Tapi tak apa, berarti aku masih manusia. Dengan segala keterbatasan serta kegilaan.

Sambil menghela nafas panjang, kubuang segala pikiran rungsing tentang mereka yang pernah membuatku pusing. Takkan kubiarkan mereka menjadikanku sinting, dengan mengambil alih kemerdekaan dan kebahagiaanku yang penting.

Kubuang saja segala pikiran tentang unfinished bussiness tadi. Paling tidak, untuk hari ini. Kalau esok muncul lagi, tinggal kuseruput kopi lalu beranjak pergi. Seperti pagi ini, meski berjalan menerjang hujan dan dingin, keinginan untuk menyatakan cintaku pada Indonesia tercapai, Cin!

Rasanya sih tak ada lagi sisa pikiran yang bisa kubagi, untuk memasukkan masalah yang tak penting dalam otakku yang masih suka miring. Paling tidak, untuk hari ini, Cing!

Dirgahayu Republik Indonesia, semoga semangat merdeka yang kubawa pagi tadi di tengah guyuran hujan, terbawa hingga ke dalam jiwa serta pikiran. Supaya merdeka itu bisa kurasa dalam setiap tarikan nafas yang masih tersisa.

Merdeka!

Pic: Suryatmaning Hany & Dee

KEMANUSIAAN


KEMANUSIAAN

“Bapak Sani, ini kami dengan jemaat gereja, ada mengumpulkan sedikit bekal untuk katong pu tim sepakbola berangkat ke ibukota.”
“Alhamdulillah. Terima kasih bapak Pendeta.”
“Sama-sama Bapak Sani. Saya doakan semoga semua lancar dan sukses. Amen.”
“Amin.”

Menetes air mata ini karena secuil adegan di Wave of Cinema: Surat Dari Timur. Sebuah film yang didedikasikan untuk alm. Glenn Fredly. Seorang musisi yang dikenal begitu peduli dengan persoalan bangsa.

Singkat cerita, tim sepakbola yang dipimpin oleh pelatih bernama Sani, akan berangkat bertanding ke ibukota. Tanpa disangka-sangka, seorang pendeta, dan beberapa orang warga desa muncul, lalu memberikan sumbangan berupa uang hasil “saweran” untuk mendukung Sani dan anak asuhnya.

Indah sekali melihat dialog singkat di atas, bagi saya. Pendeta. Alhamdulillah. Amen. Amin.

Percaya kok, di dunia ini masih banyak yang menyuarakan kemanusiaan di atas segala perbedaan. Mau bilang Amen maupun Amiin.

Kamu juga, kan?

Love, Rere

LOML


LOML

“Rayyan, will you still love me and take care of me when you’re growing older?”
“Of course, Bunda.”
“Even when you have a wife and your own family? Will you still love me?”
“Yes, Bunda. I will always love you … forever.”
“Are you willing to take care of me if, let’s say, I got so weak and couldn’t get off of bed?”
“I will. I will carry you everywhere.”
“Change my diaper and wash my butt?”
“Eewww! But yes, Bunda. I will do it.”
“What if your wife didn’t allow you to take care of me or ayah?”
“Bunda, I don’t care. I will still take care of you.”
“Really? Why? Why don’t you listen to her?”
“I will tell her that if it’s not because of you, I will not be here in this world. What’s the point of me living if I can’t take care of my parents when they need me the most?”
“What if she insisted and angry at you for not listening to her?”
“Bunda, even if the love of my life asked me to ignore you, I will never listen to her.”
“What? The love of your life? Like Chayenne? Hahaha!”
“Bunda, stop.”
“The love of my life … sekolah dulu, Tooonggg!” 🙄

Dialog ini terjadi ketika saya mendapati kenyataan tentang banyak orang tua yang disia-siakan anak-anaknya di masa tua. Sedih rasanya membayangkan itu semua.

Membesarkan seorang atau lebih anak, itu bukan perkara mudah. Mempersiapkan mereka menghadapi masa depan dan mengajarkan semua hal baik tentang kehidupan, rasanya lebih tidak mudah lagi. Apalagi mempersiapkan mereka untuk menghadapi kenyataan, bahwa suatu hari nanti orang tuanya akan mengalami siklus “kembali menjadi bayi” hingga butuh kesabaran tingkat tinggi.

Begitulah kehidupan. Bersiap saja para orang tua. Cepat atau lambat, anak-anak butuh memahami dan mengerti. Belum terlambat untuk mengajak mereka bicara dari hati ke hati, dan menanamkan afirmasi positif tentang masa tua nanti.

Semoga kelak, diri ini tak jadi orang tua yang menyusahkan hati.

Love, Rere

RINDU


RINDU

“Nak, kamu kapan pulang? Mama udah kangen sama anak, mantu, dan cucu-cucu.”
“Sabar ya, Ma. Yang penting Mama, Papa, semua sehat. Nurut sama aturan pemerintah, jangan keluar rumah dulu. Insya Allah semua sehat, vaksin lengkap, biar kita bisa ketemuan cepat. Yang di sini semua juga udah kangen.”

Sesak dada saya menulis dialog di atas. Ungkapan kerinduan seorang ibu, pada anak perempuannya, yang selalu berada jauh sejak di bangku kuliah. Juga kerinduan seorang eyang pada tiga cucu, yang ketika bayi, semua merasakan sentuhan serta hangat gendongannya.

Tak pernah rasanya saya ikut melebur dengan euphoria pandemi ini, dengan menulis status dari A sampai Z. Seliweran berita yang muncul, tak juga membuat saya tergerak untuk menuliskannya. Sudahlah, cukup rasanya, melihat banyak pakar menulis bahkan membahas hingga ke akar. Hanya doa tulus untuk semua korban yang telah berpulang, agar mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Pandemi ini, biar kami hadapi.

Video TokTok yang viral, copasan berita dari sebuah media dengan narasi seenak perut sendiri dari malam tadi, memang akhirnya membuat pertahanan saya jebol sendiri.

Teman-teman, terhitung sejak awal merebaknya di tahun lalu, saya sudah tidak bisa pulang ke rumah bertemu keluarga. Bagaimana mau ke Jakarta, hanya berkendara ke Johor Bahru, Malaysia, yang berjarak satu jam saja dari rumah, sudah tidak bisa.

Lantas bagaimana situasi di Singapura hari ini? Saya akan merunutkannya satu per satu, sependek yang saya tahu.

1. Hari ini, 28 Juni 2021, murid upper primary (SD kelas 4, 5, 6) dan upper secondary (SMP kelas 3 ke atas) mulai masuk sekolah seperti biasa. Sementara lower primary dan secondary akan masuk sekolah di awal Juli, namun mereka tetap melakukan pembelajaran dari rumah. Home Based Learning namanya.

Why? Pastinya untuk membatasi kerumunan murid di awal semester. Tentu saja sekolah menerapkan prokes super ketat yang harus dipatuhi semua.

  • Masker harus dipakai setiap saat
  • Termometer harus dibawa masing² murid
  • Trace Together Token juga wajib dibawa

2. Apa itu Trace Together Token?
Seluruh warga yang tinggal di Singapura, diharuskan memiliki aplikasi Trace Together di ponsel, atau sebentuk token, yang bisa diambil secara gratis di Community Centre terdekat. Aplikasi ini berguna untuk mengecek keberadaan setiap warganya. Sehingga jika ada kasus baru, bisa langsung ditelusuri dengan cepat, untuk mengetahui siapa saja yang mungkin terdampak. Selanjutnya? Ya, isolasi dengan anjuran melakukan test dalam kurun waktu 14 hari, bagi mereka yang pernah berada di area yang sama, atau dekat dengan penderita.

Percayakah teman-teman semua, bahkan sebuah toko kecil di sini pun harus masuk dengan memindai QR code untuk Trace Together? Saya bukannya tidak pernah coba untuk “mbludus” dan main masuk saja. Malas sekali harus scan menggunakan ponsel. Tapi inilah wujud tanggung jawab, yang muncul bukan karena ada siapa yang ditakuti, tapi karena harus menjaga sekitar dan diri sendiri.

3. Singapura memasuki phase II Heightened Alert pada 4 Mei 2021 ketika ditemukan beberapa kasus baru yang lumayan tinggi, meski tak sampai berjumlah ratusan. Pemerintah bergerak cepat dengan menutup semua restoran, sekolah, perkantoran, bahkan beberapa shopping mall besar.

Namun terhitung sejak beberapa hari yang lalu, kami diperbolehkan untuk berkumpul maksimal 5 orang saja. Sementara kunjungan ke rumah dibatasi hanya sekali setiap hari (max. 5 orang). Sementara dine-in hanya diperbolehkan 2 orang saja dalam satu meja.

Bolehkah kami bargain alias minta keringanan alias cincay pada petugas? Kami serumah berlima, masak harus duduk berjauhan ketika makan di restoran? GAK BISA! Peraturan ada untuk ditegakkan, bukan demi dilanggar, hingga dianggap bisa main mata.

4. Terakhir ada peraturan baru lagi muncul, mengenai dining in di tempat makan. Be it restoran atau hawker centre. Kami tidak boleh meninggalkan meja makan dengan tumpukan piring di atasnya, termasuk kotoran seperti tissue, atau sisa makanan. Semua harus dikembalikan ke rak khusus untuk piring kotor, dan kami sudah harus membersihkan meja sebelum dipakai pengunjung selanjutnya. Kalau di restoran, para staff akan berkeliling dan dengan cepat membersihkan meja. Memastikan bahwa tidak ada kotoran menggunung di sana.

Kenapa begitu, ya? Resikonya … Denda.

5. Jangan tanya tentang pemakaian masker. Ratusan petugas berseragam merah akan keliling di banyak tempat untuk menegur siapa saja yang tidak memakai masker. Mau ndableg? Siap saja merogoh kocek dalam untuk membayar denda, atau berani masuk penjara. Tentu saja, ketika sedang berolahraga di tempat terbuka, kami diperbolehkan membuka masker “sebentar” saja.

6. Bagaimana dengan info harian dari pemerintah tentang jumlah kasus per hari? Pemerintah setempat menyediakan link Whatsapp resmi yang bisa dibaca setiap hari.

Apakah untuk menakuti? TENTU TIDAK! Pemerintah ingin kami semua paham dengan segala pembatasan yang diberlakukan. Bukan untuk menurunkan immunity, tapi agar kami semua waspada dan berhati-hati. Pesan terakhir saya dapatkan pukul 4 sore kemarin, 27 Juni 2021.

PM Lee memang pernah mengatakan pada pidatonya 31 Mei yang lalu, bahwa pandemic ini akan menjadi endemic. Tapi eh tapiii … tidak dalam waktu dekat ini. Suatu hari nanti, kita memang harus hidup berdampingan dengan Covid-19. SUATU HARI NANTI. BUKAN SEKARANG. Ketika masih banyak korban berjatuhan.

Teman-teman, percayalah. Singapura masih melewati banyak sekali pembatasan super duper ketat. Dengan peraturan yang tidak main-main, dan bisa dianggap ringan. Ancaman denda, penjara, pencabutan paspor, hingga deportasi, menghantui kami semua.

Saat ini vaksinasi masih terus dilakukan. Kali ini giliran semua yang berusia 12 tahun ke atas, bisa menerima vaksin secara percuma. Untuk mereka yang sudah divaksin, akan menerima sertifikat, lengkap dengan info nomor paspor jika NANTINYA sudah diperbolehkan melakukan perjalanan ke luar negeri. Keterangan tentang vaksinasi juga otomatis tercatat di aplikasi Trace Together masing-masing.

Terakhir, apakah masih ada karantina untuk mereka yang dengan alasan khusus harus pergi ke negara lain? MASIH.

Siap saja merogoh kocek $2000 atau $3000 per orang untuk menjalani karantina selama 14 hari hingga 30 hari, tergantung ketentuan dari ICA atau pihak imigrasi. Info ini saya dapatkan dari beberapa teman yang pernah melewati, plus dari sumber resmi pemerintah. Bukan comot sana sini dari media entahlah.

Jadi, jangan ribut lagi masalah endemi di Singapura sini. Tak perlu menambah kesedihan kami yang belum bisa berkumpul dengan orang tua, bahkan anak, suami, atau istri. Tentu saja tak bisa “nekat” pulang bukan karena tak rindu family. Tapi kami ingin menjagamu, menjaga mereka, dan juga diri sendiri. Karena itu wujud tanggung jawab sebagai manusia yang berakal, dan punya nurani. Jangan ketakutan berlebih, namun jangan juga abai, dan menganggap semua ini semata konspirasi.

Know what you say, say what you know. Don’t say what you don’t know.

Salam sehat,
Rere

*UPDATED* untuk tambahan info. Silahkan membagi informasi ini dengan utuh. Tanpa ada bagian yang dihilangkan. (Rere)

MAUDY YANG AYU


MAUDY YANG AYU

Bolak balik kutonton video, saat sang artis muda nan Ayu naik ke podium untuk menerima gelar Masternya. Bukan tempat belajar sembarangan, namun dari sebuah universitas bergengsi di luar negeri.

Bermunculan kemudian suntingan berita dan tampilan foto miliknya, yang nampak sumringah berkebaya warna merah.

Sebagai ibu, aku pun ikut bangga. Sama seperti ribuan orang tua lain, yang mungkin akhirnya menunjukkan pencapaian akademik sang artis muda sambil berujar.

“Tuh lihat Maudy yang Ayu ini. Cantik, cerdas, terkenal, mementingkan pendidikan, sekolah di tempat yang membanggakan. Kamu harus seperti dia, ya.”

Moms, aku pun kagum pada si gadis Ayu. Namun menyuruh putri-putri kecilku untuk jadi sepertinya? Hmm … rasanya akan jadi hal yang paling terakhir sekali, bahkan tidak mungkin akan kulakukan.

Justru yang terjadi kemudian adalah, aku berkaca pada diri sendiri sambil berpikir, bagaimana orang tua si gadis Ayu mendidiknya di rumah. Itu yang terlintas, bukan keinginan untuk menunjukkan pencapaian sang gadis muda pada anak-anak saja.

Hmm … Pasti ayah si gadis ayu telah bekerja begitu keras, hingga mampu memberikan kedua putri cantiknya pendidikan dasar yang sangat baik, dengan biaya yang tentu tak sedikit. Puluhan tahun yang lalu, Jerman adalah tujuanku melanjutkan sekolah dengan mimpi meraih gelar master di sana. Mengapa Jerman? Karena Bahasa Jerman adalah salah satu mata pelajaran yang dengan baik kukuasai selama sekolah.

Apa daya. Mendapati biaya yang harus ditanggung papa, sebelum menemukan pekerjaan sambilan sembari kuliah, menghentikan semua mimpi yang telah tertanam sejak belia.

Aku kan, bukan artis terkenal, yang sudah punya uang jajan, dan sejumlah tabungan.

Bagaimana mungkin tega meminta sejumlah uang dari orang tua untuk modal berangkat kuliah ke lain negara, ketika biaya study tour ke Jogja jaman SMA saja tak sanggup kuminta. Padahal jumlahnya hanya ratusan ribu saja. Hingga akhirnya, aku jadi satu-satunya murid yang tidak berangkat study tour dari sekolah. Meski Jogja lalu menjadi bagian hidupku tanpa diduga, beberapa tahun lamanya.

Sejurus kemudian terdengar suara cekikikan kedua putriku dari kamar sebelah, dan suara si bungsu, menirukan bunyi yang didengarnya dari televisi di ruang tengah. Ahh, selama mereka tumbuh sehat dan bahagia, rasanya tak perlu menanamkan keinginan terlalu dalam, untuk melihat sosok sang gadis ayu menjelma dalam diri ketiganya.

Kunikmati saja alur hidup yang saat ini ada di hadapanku. Kekonyolan si sulung yang kadang bikin malu, perjuangan setengah mati si tengah menghadapi kelas akselerasi, dan ributnya suara si bungsu yang bermimpi jadi Youtuber terkenal seperti Comodo Gaming. Hahahaha!

I will always support you, guys! Me and your dad. Ayah yang tanpa lelah berjuang memberikan kehidupan yang baik untukmu semua. Meski usianya beranjak tua, ia tak pernah mengeluh dirinya lelah.

Tugas kami berdua, hanya membimbing serta mengawasi saja. Tumbuhlah dengan ceria dan nikmati semua prosesnya. Jatuh bangun, gagal berhasil, gagal lagi lalu bangkit, dan belajar darinya.

Tak perlu menjadi orang lain, dan berharap nasibmu sama seperti si gadis Ayu, atau public figure lainnya. Just be you, dengan banyak perbaikan tentu, serta keinginan untuk maju. Untukmu, dan masa depanmu.

Selamat ya, gadis Ayu! Salam hormat untuk ayah ibumu.

Love,
Rere

TURUN MESIN


TURUN MESIN

Menarik memperhatikan berita yang belakangan ini ramai diperbincangkan.

Sambil membaca dan menggali dalam, kubayangkan lelaki muda itu adalah Rayyan. Ia yang bahkan tidur pun masih masuk ketiakku, yang kadang bau belacan. Ia, yang ketika melihat sang ayah bercanda dengan pura-pura meninju lengan, akan melindungiku dengan tangan kecilnya penuh kekuatan. Ia juga akan balik memukul sang ayah, meski tertawa lepas setelahnya.

Itu … hanya bercanda.

Bukan ia saja, lelaki kecil yang sejak dini paham bahwa dirinya adalah penjaga keluarga. Kedua putri kecilku pun sama juga. Mereka yang selalu memeluk manakala melihat sang ayah berakting memukul lengan sang ibu.

Itu … hanya akting padahal.

Tak terbayang apa yang akan benar-benar mereka lakukan, manakala melihat sang bunda disakiti hatinya. Jiwa dan raga. Tak kira kecilnya badan, mereka pasti akan maju membela tanpa perhitungan.

Beruntung, tak salah kupilih pendamping hidup. Ia, yang mendampingiku “turun mesin” sampai kali ke tiga. Ia yang selalu mengingatkan ketiga buah hatinya untuk tak lepas memperhatikan keberadaan, kesehatan, bahkan kebahagiaan sang bunda.

“Remind her to drink water, from time to time.”
“Listen to bunda, and don’t make her angry.”
“Massage her back and remind her to rest.”
“Apply lotion on her back, when I’m not around.”

Tentu saja ini hanya sebagian. Belum lagi rentetan pengingat bahwa bunda harus dihormati dan disayangi, juga dibantu mencari kaus kaki yang selalu lupa ia letakkan di mana. Padahal tidak ada satu pun barang di rumah yang hilang, kecuali tak ia temukan. Hanya kaus kaki miliknya sendiri saja, yang bolak-balik raib tak tentu rimbanya. Aku … perempuan yang sudah turun mesin itu, memang hampir tak merasa perlu mengingat segala hal tentang diriku melulu.

Mengetahui sang belahan hati turun mesin berkali-kali, lelaki beruban itu toh tak lantas pergi. Malah menjagaku yang makin renta kini. Kursi pemijat ini salah satu bukti. Betapa ia tak ingin melihat sang pendamping yang sudah tua dan performanya turun ini, semakin berkarat sebelum benar-benar harus pergi.

Meski pijatan mesin ini bagiku tak senyaman tangan kekarnya, yang selalu memijat punggung lemahku dengan cinta. Tapi caranya menjaga serta tak menganggapku bak sebuah mesin yang sudah aus, membuatku yakin, putra kecil kami tak akan perlu berkeluh kesah seperti lelaki muda itu.

Hey, you … lelaki muda yang kini banyak dianggap durhaka, pada mereka yang mengagumi dengan gelap mata. Kurasakan cintamu yang tulus dan penuh untuk sang ibu. Kuyakin kelak pada istri dan anakmu, kau paham caranya mencintai dengan sungguh-sungguh. Tak menganggap belahan jiwamu mesin yang akan turun, hingga perlu diganti dengan yang baru. Kuyakin itu. Doaku untukmu, dan juga ibu cantikmu.

Love, Rere