The Journey (Gua Hira)


The Journey (Gua Hira)

“Mama berhasil lho naik ke puncak, Nak. Padahal kan tahu sendiri kalau lutut Mama selalu sakit dan enggak kuat jalan jauh. Alhamdulillah gunung setinggi itu Mama bisa daki. Allah Maha Besar.”

Mama, sudah berusia 60 tahun lebih ketika melakukan perjalanan umrah yang membawanya hingga ke puncak Jabal Nur. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam benaknya, mengingat kondisi lutut yang tidak sekuat ketika muda dulu. Tak terhitung berapa kali ia terjatuh ketika sedang melakukan sesuatu atau mengendarai motor. Lututnya begitu lemah dan tidak mampu menopang berat tubuhnya.

Niat yang kuat dalam hati, kemudian membawanya menuju Gua Hira. Semangatnya juga yang membawa saya menaiki puncak Jabal Nur, dengan ketinggian 640 Meter dan kemiringan hingga 60 derajat. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk mencapai puncaknya.

Dengan semangat 45, saya menaiki satu demi satu anak tangga yang dibentuk dari bebatuan gunung itu. Takut ketinggian yang kerap saya alami pun hilang seketika. Berganti dengan rasa haru membayangkan bagaimana Rasulullah mendaki gunung ini untuk menyepi dan menenangkan diri. Lebih sedih dan terharu rasanya ketika membayangkan istri Beliau turun naik mengantarkan makanan tanpa keluh dan lelah.

Jika saya ada di posisi beliau mungkin sudah menyerah melihat sulit dan terjalnya medan yang harus ditempuh setiap harinya. Malu rasanya mengingat diri yang kerap mengeluh padahal situasi jauh berbeda dengan yang dihadapi beliau dulu. Subhanallah.

Satu jam tiga puluh menit kemudian saya tiba di puncak. Gua Hira, I’m coming! Ternyata perjuangan saya belum usai. Saya masih harus melewati sisi yang begitu sempit bahkan harus memiringkan tubuh untuk melewatinya.

Lolos dari tempat ini, ternyata saya masih harus berjibaku memasuki Gua dan berdesakan dengan banyak jemaah lintas negara, yang juga ingin melihat tempat itu secara langsung. Pesan saya untuk anda yang ingin berkunjung ke sana, sabar, tahan emosi, dan tidak perlu melakukan ritual khusus. Perbanyak istighfar dan sholawat pada Baginda Nabi, jauh lebih baik.

Akhirnya dengan perjuangan saya berhasil masuk ke Gua Hira. Sempit, gelap, dan membayangkan di jaman Rasulullah, keadaan sekitar pasti lebih gelap lagi. Paling tidak, banyak cahaya berpendar dari sekelilingnya saat ini. Sesak rasanya dada ini melihat dengan mata kepala sendiri, tempat Rasulullah menerima wahyu untuk pertama kali.

He was there. Beliau ada di tempat yang sama dimana saya menginjakkan kaki saat ini. Lelah dan penatnya mendaki rasanya hilang seketika berganti dengan keharuan yang menyesakkan dada.

Pelan, saya sentuh semua bagian dinding gua berukuran lebar sekitar 50 cm, tinggi hanya 190 cm, dan kedalaman 2 m itu, sambil berusaha merasakan kehadiran Rasulullah di sana. He was here. He was here. Airmata saya mengalir tanpa terbendung.

Jabal Nur, memberikan saya sudut pandang baru tentang arti sabar, pasrah, pengabdian, dan ketabahan. Saya tentu saja belum seujung jari pun mampu menerapkannya dalam hidup. Bahkan menghadapi sesama Muslim yang berdesakan saja saya sudah kehilangan kesabaran. Padahal itu lah intisari kehidupan yang diajarkan Rasulullah dan sang Istri di sini.

Gunung Bercahaya yang kerap saya rindukan hingga hari ini.

(Bersambung)

Much Love,

Reyn

Jabal Nur, Maret 2019

The Journey (Jabal Rahmah)


The Journey (Jabal Rahmah) Pertama kali mendengar bahwa kami akan menaiki Jabal Rahmah, saya sudah membayangkan akan menulis nama kami berdua di sana. Di sebuah monumen batu yang konon merupakan simbol bertemunya Adam dan Hawa setelah terpisah ratusan tahun. Apa daya, keinginan untuk mengabadikan nama kami berdua itu ternyata tidak tercapai. Pemerintah setempat jelas-jelas melarang […]

The Journey (Makkah Al Mukaromah)


The Journey (Makkah Al Mukaromah) Satu jam perjalanan dari kota Jeddah menuju Mekkah plus 8 jam perjalanan dari Singapura ke Jeddah ternyata tak cukup membuat semangat saya menurun. Kerinduan pada kota ini, begitu menguasai jiwa dan pikiran saya. Sesak, bahagia, haru, bersyukur, amazed … ahhh bercampur aduk menjadi satu. Sesampainya di hotel, saya dan suami […]

The Journey (The Calling)


The Journey (The Calling) “Yah, umroh yuk.” “Nanti lah. Bukan sekarang.” “When?” “Tunggu panggilan.” “Okay. Tapi panggilan juga mesti dijemput sepertinya.” Kataku dalam hati. Sedih, merana, karena begitu rindu melihat rumahNya kembali. Kapan Kau akan memanggil kami ke rumahMu lagi, Ya Rabb? Tempat yang dulu begitu dekat denganku karena bisa setiap saat kudatangi tanpa berpikir […]

The Journey (Reminiscing)


The Journey (Reminiscing) Menginjakkan kaki di bandar udara Jeddah, mengembalikan seluruh memori saya ketika datang pertama kali ke kota ini di awal tahun 2001. Airmata mengalir dari pelupuk mata tanpa bisa terbendung. Rindu itu begitu membuncah rasanya. Saya tidak mampu berkata-kata. Berkelebatan segala kenangan tentang kota ini yang begitu mengharu biru perasaan. Tidak pernah terbayang […]

Xiamen – The Journey (5)


Xiamen – The Journey (5) Hari ke lima perjalanan Lana ke Xiamen, dan akhirnya ia akan kembali ke Singapura keesokan hari. Seperti janji saya padanya, malam hari sebelum kepulangannya, saya akan meneleponnya lagi. Kali ini tanpa banyak drama. Mungkin staff hotel sudah siap-siap menerima telepon seorang emak yang kesal dan mengamuk beberapa hari sebelumnya karena […]

Xiamen – The Journey (4)


Xiamen – The Journey (4) “Semoga lidah Lana bersahabat dengan makanan di sana.” Ya, selain karakter keras dan moody nya Lana, saya sebenarnya khawatir dengan makanan yang akan disajikan selama di sana. Karena saya tahu, ia adalah anak yang lumayan susah beradaptasi dengan rasa makanan. Pernah pada suatu hari dulu, saya mengajak anak-anak makan di […]

Xiamen – The Journey (3)


Xiamen – The Journey (3) Hari ketiga Lana berada di Xiamen, akhirnya saya berhasil mendapat nomor kamarnya dari seorang guru. Malam harinya, dengan semangat 45 saya menghubungi hotel tempat mereka menginap di negara itu. Yay! Langsung tersambung. Dengan sopan saya pun bertanya, “Hello. Could you connect me to room number 8325, please? I would like […]

Xiamen – The Journey (2)


Xiamen – The Journey (2) Hari kedua Lana berada di Xiamen dan saya tidak tahu bagaimana harus menghubunginya. Karena gawai milik sang guru pendamping, sebagai satu-satunya alat komunikasi kami dengan anak-anak pun, kelihatannya belum berfungsi dengan normal. Pesan singkat yang saya kirim belum juga terlihat dibaca. Padahal saya sudah berjanji akan menghubungi Lana di malam […]

Xiamen – The Journey (1)


Xiamen – The Journey (1) Suatu hari di awal Oktober 2018, Lana pulang dengan membawa sepucuk surat rekomendasi untuk sebuah tes wawancara. Jika lulus, ia akan menjadi salah satu peserta Immersion Programme ke Xiamen, China. Ini adalah program pertukaran budaya antar dua negara yang pesertanya adalah murid-murid Sekolah Dasar pilihan dari masing-masing Co-Curricular Activities. Lana […]