Olahraga Olahjiwa


Olahraga Olahjiwa

“Olahraga melulu enggak kurus-kurus.”
“Olahraga melulu ngapain, sih? Bikin capek saja.”

Bukan sekali dua saya menerima afirmasi seperti itu karena hobi saya berolahraga. Be it yoga, piloxing, zumba, saya “memaksa” diri untuk mengikuti semuanya. Lebih menggila setelah sekarang dimudahkan untuk melakukannya secara online.

Tidak ada yang pernah menyadari bahwa saya tidak hanya sedang mengolah raga namun juga berusaha mengolah jiwa.

Olahraga mengajarkan saya cara untuk berhadapan dengan rasa sakit. Bahkan mencarinya hingga ke batas yang tidak tertahan, lalu belajar menghadapi, dan menikmati setiap nyeri yang muncul kemudian.

Sama persis bak sebuah denyut kehidupan.

Kehidupan yang tidak bisa selalu senikmat dan semudah keinginan. Hidup yang lengkap dengan rasa sakit, kecewa, duka, dendam, perjuangan … hari demi hari di dalamnya. Semua rasa yang harus dihadapi dan dinikmati tanpa bisa lari atau mencari jalan lain demi menghindari.

Hidup yang memang tidak selalu sejalan dengan keinginan diri namun seringkali butuh banyak melihat dari banyak sisi. Mempertimbangkan banyak hati dan pasrah mengindahkan kemauan sendiri. Kemauan yang justru kadang berangkat dari mimpi untuk memberikan hanya yang terbaik.

Keinginan yang kadang mesti pasrah menghadapi penolakan hingga muncul kecewa dan sakit. Rasa yang harus dihadapi dengan berani, bukan memilih lari untuk menghindari. Meski sulit namun begitulah hidup ini.

Olahraga mengajarkan saya untuk mengolah semua itu. Menghadapi kecewa dan sakit tanpa perlu setengah mati berusaha untuk menolak. Mengubah rasa tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang berguna bukan sekedar keluh kesah hampa. Menyembuhkan hati dan jiwa sendiri tanpa berharap bantuan siapa.

Percayalah, harapan yang terlalu tinggi akan seseorang atau sesuatu, seringkali menjadi sumber kecewa yang menghajar tanpa ampun. Maka mencari afirmasi positif melalui kegiatan yang juga positif akan memunculkan sisi diri yang jauh dari negatif.

Jadi, masih butuh tahu kenapa saya suka sekali berolahraga padahal tubuh tidak juga mencapai bobot dan bentuk bak puluhan tahun ke belakang?

Ini lah cara saya mencintai diri dan raga yang sudah tidak lagi muda. Mengolah raga sekaligus mengolah jiwa.

Being strong is never easy, but inner strength teaches us how to deal with pain and go on despite fear.

Love, Rere.

PS:
Bakasana atau Crow Pose, adalah salah satu pose yang bagi saya pernah begitu sulit. Mengajarkan saya bagaimana menyeimbangkan raga dengan jiwa. Menggabungkan kekuatan dan keberanian.

Benefits of Crow Pose

  • Tones the abdominal wall
  • Strengthens abdominal organs to aide in lower back pain and indigestion
  • Strengthens arms
  • Stretches and strengthens the back
  • Stretches and strengthens inner thighs
  • Opens the groin
  • Strengthens the wrists
  • Builds endurance and focus – mental focus and calm

(Source: https://yogawithadriene.com/crow-pose/)

Keliling Dunia


Keliling Dunia

Ujung tahun 2000 waktu itu, ketika airmata saya menetes di atas pesawat yang bertolak dari Jakarta menuju Jeddah. Ada rasa yang mendadak hilang hingga membuat lutut saya terasa lemas. Jantung saya berdebar membayangkan sebuah tempat nun jauh di belahan bumi lain, ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahiran.

Memang pergi ke luar negeri adalah cita-cita saya sedari kecil. Meski tidak banyak anak seusia saya yang berpikir untuk menjadikannya sebuah keinginan. Kebanyakan dari mereka menjadikan sebuah profesi sebagai mimpi masa depannya. Namun tidak bagi saya.

Nyatanya menjadi seorang awak kabin adalah jalan saya mewujudkan mimpi itu. Kalau tahu, dulu saya bercita-cita saja menjadi seorang pramugari, hingga tidak ada orang yang tertawa geli mendengar seorang bocah SD menjadikan pergi dan tinggal di luar negeri sebagai mimpinya.

Meskipun belum seluruh belahan bumi yang begitu luas ini saya datangi, namun banyak pengalaman batin membuat saya merasa kaya. Ya, kaya pengalaman yang menjadi bekal saya memandang banyak hal saat ini.

Pernah mendengar sebuah tempat bernama Khartoum? Mungkin tidak banyak yang tahu atau sadar bahwa ada sebuah kota bernama Khartoum yang menjadi ibukota negara Sudan. Dalam penerbangan menuju tempat itu, pesawat kami penuh berisi deportees, atau mereka yang diusir dari negara lain karena sebab tertentu. Jangan bayangkan perjalanan ini fancy ya. Hampir seluruh penumpang tidak memakai alas kaki, bahkan ada yang sudah berhari-hari tidak mandi.

Pesawat berhenti di sebuah tempat yang sejauh mata memandang hanya berupa deretan gurun yang kering dan tandus. Kami bahkan harus membuka seluruh pintu pesawat karena aroma menyengat yang ditinggalkan para penumpang. Miris melihatnya, sambil mengingat sejarah tertindasnya bangsa mereka sejak jaman dahulu kala.

Perbedaan warna kulit … gumam saya pelan.

Khartoum bukan satu-satunya pengalaman menakjubkan yang pernah saya lalui. Banyak sekali cerita penuh warna saya temui. Pekerjaan ini memang membawa saya berinteraksi dengan banyak budaya, ras, bahkan hingga akhirnya bertemu sang belahan jiwa. Bahwa hidup adalah sebuah pilihan, terjadi setelahnya. Meski dengan sedikit berat hati, saya berhenti dari pekerjaan yang saya cintai karena banyak memperkaya batin itu.

Beruntung saya tidak dibesarkan untuk melihat perbedaan. Maka berada di mana pun bagi saya tetap menyenangkan. Meski berkali-kali tergagap mengikuti alur sekitar, namun jiwa petualang membuat saya mampu bertahan. Apalagi kali ini saya harus hidup berdampingan dengan beberapa ras sekaligus. Cina, India, Melayu, dan etnis lain menjadi pengalaman baru yang semakin memperkaya kehidupan di tahun ke-14 saya tinggal di negara multikultural ini.

Beruntungnya saya. Setelah pernah keliling Indonesia https://reynsdrain.com/2020/08/18/keliling-indonesia/ lalu keliling dunia, sekarang membesarkan anak-anak di tengah banyak perbedaan https://reynsdrain.com/2020/08/07/rumah-ke-2/

Tidak banyak harta ayah dan bunda kelak tinggalkan, Nak. Namun pengalaman serta terbukanya wawasan akan menjadi bekalmu memandang indahnya kehidupan. Indah karena beda. Beda yang harus dihargai keberadaannya sebagai anugerah dari Sang Pencipta.

It’s not about being all the same. It’s about respecting differences.

Love, Rere

The Journey (Gua Hira)


The Journey (Gua Hira)

“Mama berhasil lho naik ke puncak, Nak. Padahal kan tahu sendiri kalau lutut Mama selalu sakit dan enggak kuat jalan jauh. Alhamdulillah gunung setinggi itu Mama bisa daki. Allah Maha Besar.”

Mama, sudah berusia 60 tahun lebih ketika melakukan perjalanan umrah yang membawanya hingga ke puncak Jabal Nur. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam benaknya, mengingat kondisi lutut yang tidak sekuat ketika muda dulu. Tak terhitung berapa kali ia terjatuh ketika sedang melakukan sesuatu atau mengendarai motor. Lututnya begitu lemah dan tidak mampu menopang berat tubuhnya.

Niat yang kuat dalam hati, kemudian membawanya menuju Gua Hira. Semangatnya juga yang membawa saya menaiki puncak Jabal Nur, dengan ketinggian 640 Meter dan kemiringan hingga 60 derajat. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk mencapai puncaknya.

Dengan semangat 45, saya menaiki satu demi satu anak tangga yang dibentuk dari bebatuan gunung itu. Takut ketinggian yang kerap saya alami pun hilang seketika. Berganti dengan rasa haru membayangkan bagaimana Rasulullah mendaki gunung ini untuk menyepi dan menenangkan diri. Lebih sedih dan terharu rasanya ketika membayangkan istri Beliau turun naik mengantarkan makanan tanpa keluh dan lelah.

Jika saya ada di posisi beliau mungkin sudah menyerah melihat sulit dan terjalnya medan yang harus ditempuh setiap harinya. Malu rasanya mengingat diri yang kerap mengeluh padahal situasi jauh berbeda dengan yang dihadapi beliau dulu. Subhanallah.

Satu jam tiga puluh menit kemudian saya tiba di puncak. Gua Hira, I’m coming! Ternyata perjuangan saya belum usai. Saya masih harus melewati sisi yang begitu sempit bahkan harus memiringkan tubuh untuk melewatinya.

Lolos dari tempat ini, ternyata saya masih harus berjibaku memasuki Gua dan berdesakan dengan banyak jemaah lintas negara, yang juga ingin melihat tempat itu secara langsung. Pesan saya untuk anda yang ingin berkunjung ke sana, sabar, tahan emosi, dan tidak perlu melakukan ritual khusus. Perbanyak istighfar dan sholawat pada Baginda Nabi, jauh lebih baik.

Akhirnya dengan perjuangan saya berhasil masuk ke Gua Hira. Sempit, gelap, dan membayangkan di jaman Rasulullah, keadaan sekitar pasti lebih gelap lagi. Paling tidak, banyak cahaya berpendar dari sekelilingnya saat ini. Sesak rasanya dada ini melihat dengan mata kepala sendiri, tempat Rasulullah menerima wahyu untuk pertama kali.

He was there. Beliau ada di tempat yang sama dimana saya menginjakkan kaki saat ini. Lelah dan penatnya mendaki rasanya hilang seketika berganti dengan keharuan yang menyesakkan dada.

Pelan, saya sentuh semua bagian dinding gua berukuran lebar sekitar 50 cm, tinggi hanya 190 cm, dan kedalaman 2 m itu, sambil berusaha merasakan kehadiran Rasulullah di sana. He was here. He was here. Airmata saya mengalir tanpa terbendung.

Jabal Nur, memberikan saya sudut pandang baru tentang arti sabar, pasrah, pengabdian, dan ketabahan. Saya tentu saja belum seujung jari pun mampu menerapkannya dalam hidup. Bahkan menghadapi sesama Muslim yang berdesakan saja saya sudah kehilangan kesabaran. Padahal itu lah intisari kehidupan yang diajarkan Rasulullah dan sang Istri di sini.

Gunung Bercahaya yang kerap saya rindukan hingga hari ini.

(Bersambung)

Much Love,

Reyn

Jabal Nur, Maret 2019

The Journey (Jabal Rahmah)


The Journey (Jabal Rahmah) Pertama kali mendengar bahwa kami akan menaiki Jabal Rahmah, saya sudah membayangkan akan menulis nama kami berdua di sana. Di sebuah monumen batu yang konon merupakan simbol bertemunya Adam dan Hawa setelah terpisah ratusan tahun. Apa daya, keinginan untuk mengabadikan nama kami berdua itu ternyata tidak tercapai. Pemerintah setempat jelas-jelas melarang […]

The Journey (Makkah Al Mukaromah)


The Journey (Makkah Al Mukaromah) Satu jam perjalanan dari kota Jeddah menuju Mekkah plus 8 jam perjalanan dari Singapura ke Jeddah ternyata tak cukup membuat semangat saya menurun. Kerinduan pada kota ini, begitu menguasai jiwa dan pikiran saya. Sesak, bahagia, haru, bersyukur, amazed … ahhh bercampur aduk menjadi satu. Sesampainya di hotel, saya dan suami […]

The Journey (The Calling)


The Journey (The Calling) “Yah, umroh yuk.” “Nanti lah. Bukan sekarang.” “When?” “Tunggu panggilan.” “Okay. Tapi panggilan juga mesti dijemput sepertinya.” Kataku dalam hati. Sedih, merana, karena begitu rindu melihat rumahNya kembali. Kapan Kau akan memanggil kami ke rumahMu lagi, Ya Rabb? Tempat yang dulu begitu dekat denganku karena bisa setiap saat kudatangi tanpa berpikir […]

The Journey (Reminiscing)


The Journey (Reminiscing) Menginjakkan kaki di bandar udara Jeddah, mengembalikan seluruh memori saya ketika datang pertama kali ke kota ini di awal tahun 2001. Airmata mengalir dari pelupuk mata tanpa bisa terbendung. Rindu itu begitu membuncah rasanya. Saya tidak mampu berkata-kata. Berkelebatan segala kenangan tentang kota ini yang begitu mengharu biru perasaan. Tidak pernah terbayang […]

Xiamen – The Journey (5)


Xiamen – The Journey (5) Hari ke lima perjalanan Lana ke Xiamen, dan akhirnya ia akan kembali ke Singapura keesokan hari. Seperti janji saya padanya, malam hari sebelum kepulangannya, saya akan meneleponnya lagi. Kali ini tanpa banyak drama. Mungkin staff hotel sudah siap-siap menerima telepon seorang emak yang kesal dan mengamuk beberapa hari sebelumnya karena […]

Xiamen – The Journey (4)


Xiamen – The Journey (4) “Semoga lidah Lana bersahabat dengan makanan di sana.” Ya, selain karakter keras dan moody nya Lana, saya sebenarnya khawatir dengan makanan yang akan disajikan selama di sana. Karena saya tahu, ia adalah anak yang lumayan susah beradaptasi dengan rasa makanan. Pernah pada suatu hari dulu, saya mengajak anak-anak makan di […]

Xiamen – The Journey (3)


Xiamen – The Journey (3) Hari ketiga Lana berada di Xiamen, akhirnya saya berhasil mendapat nomor kamarnya dari seorang guru. Malam harinya, dengan semangat 45 saya menghubungi hotel tempat mereka menginap di negara itu. Yay! Langsung tersambung. Dengan sopan saya pun bertanya, “Hello. Could you connect me to room number 8325, please? I would like […]