Teror – Part 3


Teror – Part 3

Ini mimpi, kan? Aku harap yang kulihat ini hanya mimpi. Kukerjapkan mata berkali-kali, lalu menguceknya. Namun tak ada yang berubah. Aku mencoba mencubit pipiku dengan kencang. Sakit.

“Astagfirullah … siapa kamu? Pergi! Pergi!” Aku terjungkal ke belakang dan berteriak ketika melihat kaki wanita di depanku tak menapak pada lantai. Posisiku terduduk di lantai dengan mata terpejam dan mulut meracau.

“Hei! Hei! Kamu kenapa?”

Aku tersentak ketika bahu kiriku ditepuk-tepuk oleh seseorang. Kalau dari suaranya, bukan suara wanita. Lalu aku memberanikan diri untuk membuka mata, kemudian mendongak untuk melihat siapa yang menepuk bahuku.

Laki-laki.

“Mampus gue! Bisa diusir sama Ibu kos,” gumamku. “Siapa kamu? Kenapa bisa masuk kos-kosan ini? Pergi! Nanti gue diusir sama Ibu kos.”

“Saya pemilik kos-kosan ini. Kamu penghuni baru? Pantes!”

Dih! Ketus amat itu ucapan. Aku tak ingin mencari masalah, jadi aku tinggal lelaki itu masuk ke kamar. Daripada ibu kos lihat dan berakhir diusir dari sini.

Kubuka koper yang tadi kubawa. Memindahkan seluruh pakaian ke dalam lemari yang telah tersedia. Ada laci kecil di dalam lemari itu. Bisa digunakan untuk meletakkan barang berharga. Iseng kutarik laci tersebut. Ada sebuah foto di sana. Aku amati dua insan yang ada di foto itu.

Melihat wajahnya, aku merasa tak asing lagi. Eh, tunggu! Laki-laki dan wanita ini kan ….

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #deesarahma #wcr #teror

Teror – Part 2


Teror

Sepeninggalan ibu kos, aku bergegas memasukkan kunci di lubang pintu. Belum sepenuhnya terbuka, kurasakan tepukan tepat di bahu kananku. Aku tengok ke arah tepukan, kosong. Tak ada siapa-siapa. Lalu, aku lanjutkan lagi memutar kunci tersebut. Setelah itu, kubuka pintu perlahan dan baru setengah terbuka, kurasakan sentuhan dingin di bahu kiriku.

Tiba-tiba badanku menegang. Takut-takut kutengok ke arah kiri. Aku menahan napasku dan memejamkan mata saat menengok ke asal sentuhan. Semoga yang di belakang orang benaran.

“Hai!” Suara perempuan menyapa yang merambat ke pendengaranku. Kucoba membuka mata untuk melihatnya. Alhamdulillah. Kuembuskan napas dengan pelan.

“Penghuni baru?” tanyanya lagi dengan ramah. Aku hanya mengangguk sambil mengamati perempuan dihadapanku ini. Dari pakaian yang dipakai, dia seorang perawat sepertiku.

“Gue Leni. Kamar gue di kamar nomer 15, masih satu baris sama lu. Semoga betah ya di kamar ini. Oke salam kenal ya ….”

“Sasa.”

“Salam kenal Sasa. Kasih tau gue kalo pas lu bangun tidur ada yang nemenin disamping.”

Hah? Tadi dia bilang apa? Ah, paling dia hanya menakutiku saja. Sebelum kuberucap, Leni sudah berjalan ke arah kamar kosnya.

“Kamar yang lu tempatin horor, Sa.” Suara Leni lagi saat sedang membuka kunci.

Aku tak menghiraukan perkataan Leni. Berusaha acuh. Seberapa horornya sih kamar ini? Kunyalakan saklar lampu yang di dekat pintu, lalu kugeret koper besar yang kubawa.

“Jangan didengerin.” Aku terlonjak kaget saat ada suara tepat di belakangku. Kutengok, ada seorang wanita dengan pakaian putih lusuh dan rambut panjang yang … berantakan.

“Bikin kaget aja!” sentakku. Dia hanya terkikik geli. Ketawanya bikin semua bulu kudukku meremang. “Ka-kamu penghuni sini juga?” lanjutku terbata.

Dia masih terdiam, tak menjawab pertanyaanku. Kupandangi wajahnya yang muram, manik mata yang ….

Wait! Manusia normal tak seperti itu iris matanya. Kugeleng-gelengkan kepalaku untuk mengusir pemikiran yang tak masuk akal. Dia hanya mengangguk dan menunjuk ke dalam kamarku.

Keningku mengernyit dan tak sadar telah menjatuhkan ponsel dari genggaman. Getaran dari benda pipih yang terjatuh, mengembalikanku dari keterkejutan. Buru-buru kuambil. Saat berjongkok, kedua netraku tertumbuk pada ….

Bersambung.

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #deesarahma #wrc #Teror

Teror part 1 Oleh Deesa Rahma


Teror
Part 1
Deesa Rahma

Khusus kos putri. Tulisan itu tercetak jelas di gerbang rumah berlantai dua. Terlihat sedikit seram. Dengan halaman besar dan taman kecil yang ditumbuhi pohon mangga beserta bunga rumput warna warni.

Sore ini aku pindah kos. Kerena esok hari pertama aku mulai bekerja di rumah sakit baru. Jarak kosku yang lama jauh dari tempat kerja baruku. Jadi, dengan sangat terpaksa, aku mencari tempat kos baru.

“Ini kunci kamar kosmu. Sudah bisa ditempati, karena sudah dibersihkan oleh Bibi. Kalo mau dipel lagi, silakan. Maaf mungkin agak lembab, karena sudah dua tahun tak berpenghuni,” ujar Ibu kos panjang lebar. Aku hanya mengangguk sambil menerima kunci yang disodorkannya.

“Oh, iya, peraturan di sini sangat ketat. Setiap penghuni kos, wajib jaga kebersihan kamar kos dan lingkungan kos. Pulang malam paling telat jam sepuluh. Jika memang harus pulang larut, beritahu saya atau Bibi. Tidak boleh bawa laki-laki ke kos ini, kalo diantar cukup sampai depan gerbang aja. Ketahuan bawa laki-laki masuk, saya usir kamu,” lanjutnya.

“Baik, Bu.”

“Oke saya pergi. Oh ya, untuk uang kos, kamu bayar nanti aja setelah kamu menempati kamarnya selama seminggu. Dirasa betah silakan lanjut, kalau gak betah silakan pergi dan tak usah bayar.”

Aku sedikit terkejut. Karena baru kali ini ada kos-kosan yang bisa uji coba dulu. Di sini ada 20 kamar, hampir semua terisi. Tersisa kamar yang akan aku tempati. Kamar nomer tiga belas.

Ada apa dengan kamar ini, sampai tak ada yang ingin menempati?

Bersambung ….

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #deesarahma #wcr