Rantang Plastik Mama … Sebuah Kenangan


Rantang Plastik Mama … Sebuah Kenangan

“Do you like the food that I packed yesterday?”
“I do
Bunda. So yummy.”
“Does any of your friends bring food to school too?”
“Nope. Only me.”
“Are you okay with it? Are you not ashamed of bringing lunch box to school?”
“Nooo. I’m okay
Bunda. Infact, some of my friends kinda wait and curious about what food I bring everyday. They said, whoa Lara’s mom can cook anything delicious! Thank you for preparing foods every single day, Bunda.

Senyum saya terkembang lebar sekali pagi tadi. Kemudian kami berdiskusi tentang mengapa saya rela harus bangun lebih pagi dan sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah, dengan menu yang selalu berbeda setiap hari.

Sambil bercerita, ingatan saya melayang ke puluhan tahun silam dengan segala kenangan tentang sebuah rantang plastik berwarna putih. Ya, rantang plastik milik mama, yang kerap saya bawa untuk bekal sarapan dan makan siang, di sebuah kantor tempat saya bekerja dulu.

Meskipun rumah makan bertebaran di sana, saya tetap membawa bekal yang sedari pagi buta disiapkan mama. Walau hanya berupa menu sederhana namun rantang plastik itu berisi ungkapan penuh cinta dari seorang ibunda. Cinta yang kemudian begitu saya rindukan ketika harus melanglang buana meninggalkan tanah air hingga hari ini.

Kebiasaan dan kebisaan itu yang lalu terbawa hingga saya menikmati setiap proses menyiapkan bekal pagi. Meskipun saya memberikan anak-anak sedikit uang jajan untuk keperluan di sekolah, saya tetap membungkuskan mereka makanan yang saya buat sendiri dan letakkan dalam 3 buah kotak makan plastik berwarna-warni.

Kotak makan yang selalu mengingatkan saya akan kenangan rantang plastik berwarna putih milik mama. Cinta dan kasih sayangnya tetap terasa hingga saat ini, dan tidak pernah usang.

Terima kasih, Ma.

Semoga ketiga cucumu di sini kelak juga memiliki kenangan tentang kotak makan plastik berisi sentuhan cinta dariku. Cinta yang tak mengenal syarat dan tanpa batas hingga kelak akhir waktuku.

Love, Rere

Thank You, Me


Thank You, Me

Hai, Moms!

Sudah membereskan rumah?
Sudah selesai melipat segunung baju?
Sudah memasukkan cucian kotor ke dalam mesin cuci?
Sudah masak untuk makan siang dan malam sekeluarga?

Mmm … dan untukmu sendiri bagaimana?

Sudah minum kopi pagi ini?
Sudah menyempatkan diri untuk menikmati me time?
Sudah melakukan olah tubuh dan berkeringat dengan gembira?
Sudah mengatakan cinta pada raga yang kerap kau buat bak kerja rodi seharian?

Kasihannya tubuh ini, yang kadang tanpa sadar terdzalimi.
Meski kadang begitu sakit hingga tak satu obat kimiawi menjadi remedy.

Lebih kasihan lagi jiwa ini, yang setengah mati mencoba untuk selalu tegak berdiri.
Bahkan ketika butiran bening jatuh pun, dengan segera terhapus tanpa menunggu siapapun datang dan berusaha mengusap.

Well Moms,
Ragamu yang semakin melemah tergerus usia, juga butuh perhatian.
Jiwamu yang selalu berusaha tegar juga butuh secangkir kopi untuk menghangatkan.
Cintai dirimu sama besarnya dengan cintamu pada sekitar.

Thank You, Me.
Thank you for standing tall and strong even on my weakest point in life.
Thank You, Me!
Thank you to never let anyone bring me down.
Thank You!

Hey, You! Love yourself and write down your own story!
-Rere

Singapore’s Phase Two – New Normal Be Like …


Singapore’s Phase Two – New Normal Be Like …

Sejak merebaknya pandemi di seluruh belahan dunia, pemerintah Singapura memberlakukan Circuit Breaker bagi semua warganya. Segala pembatasan pun mulai diterapkan. Praktis sejak saat itu, kami sekeluarga hanya tinggal di rumah saja. Suami bekerja dari rumah, dan anak-anak bersekolah dari rumah serta mengerjakan semua tugas secara daring. Saya, hanya pergi berbelanja kebutuhan pokok sekali dalam 2 minggu.

Hingga memasuki awal bulan Juni kemarin, Singapura mulai memberlakukan pelonggaran circuit breaker bagi warganya. Kami mulai diperbolehkan keluar rumah dengan lebih bebas, walaupun tetap harus mengikuti aturan yang ditetapkan.

Sampai tiba masanya pemerintah memberlakukan pembukaan fase ke-2 sejak 15 Juni 2020. Ditandai dengan dibukanya beberapa tempat yang sebelumnya ditutup, dan kelonggaran bagi warganya untuk melakukan aktifitas secara normal. Tentu saja dengan beberapa protokol kesehatan yang harus dipatuhi.

Meski pemerintah setempat memandang bahwa keadaan relatif stabil dan tidak ada kenaikan grafik penderita virus, kami semua dihimbau untuk tidak memandang pembebasan ini sebagai kehebohan baru. Kami tetap harus memakai masker di mana pun berada, menjaga jarak satu sama lain, dan tetap menjaga kebersihan dengan rajin mencuci tangan.

Well, paling tidak kami semua berharap roda perekonomian kembali normal, dan anak-anak bisa kembali bersekolah walau harus menggunakan masker atau face shield seharian. Para pekerja juga bisa kembali ke kantor dan melakukan tugas seperti sebelumnya.

Sementara saya, kembali bisa bertemu dengan beberapa sahabat untuk sekedar duduk bercengkrama di kedai kopi favorit. Walau hanya terbatas 5 orang dalam 1 meja yang harus tetap berjarak. Tentu saja pemakaian masker juga tidak ketinggalan. Karena pemerintah tidak segan menjatuhkan denda dan hukuman bagi para pelanggar aturan.

Jadi begini lah kehidupan baru yang harus kami jalani saat ini. Tetap bersyukur dan selalu mematuhi peraturan adalah kunci. Jaga diri dan sekitar itu tentu lebih baik.

Semoga pandemi segera berlalu, namun jika tidak, pandang lah ini sebagai sebuah bentuk kehidupan baru. Berdamai lah dengannya dan jadikan ini sebuah kebiasaan yang baik untukmu.

Love, Rere.

There’s Always The First Time


There’s Always The First Time

Saya pernah berpikir punya tangan yang enggak dingin. Karena semua tanaman yang saya pegang pasti mati. Lantas, setelah beberapa pot tanaman berusaha saya limpahi dengan kasih sayang namun tetap mati, apakah saya berhenti?

Meski harus sedikit bertegang urat dengan suami, saya yang sangat mencintai tumbuhan hidup, berusaha mencoba lagi. Berbekal tanya sana sini dan menimba ilmu melalui banyak tutorial di internet, akhirnya saya berhasil.

Hingga hari ini sudah ada setidaknya 5 pot tumbuhan mungil yang saya tanam sendiri dari mulai berbentuk biji dan batang. Yay! Akhirnya untuk pertama kalinya tangan saya ternyata tidak kurang dingin.

Saya pun pernah berpikir dimusuhi oven dan ulenan roti. Karena beberapa kali mencoba membuat cake cantik seperti yang selalu saya lihat di televisi, berhasil akhir jauh sekali. Expectation vs reality yang bikin nyengir.

Roti, ahhhh … ribet sekali! Harus nguleni, harus tunggu mengembang lagi, susah Cint! Sampai ibu saya membawakan mesin pembuat roti yang juga hanya teronggok manis di tepi. Saya mending masak untuk 100 orang saja, sih.

Sampai semalam, seorang sahabat memberi saya sebuah resep yang simple dan anti ribet. Penuh keengganan saya beranjak ke dapur dan mulai mempersiapkan semua bahan. Ya, saya sudah punya semua, hanya kekurangan semangat akibat terlalu malas dan takut bayangan. Jangan-jangan nanti roti saya bantat.

Penuh kesungguhan saya ikuti setiap langkah yang biasanya dengan seenaknya saya modifikasi sesuai keinginan sendiri. Ya ya, saya memang sering sok tahu padahal kurang ilmu. Hiks!

Well, there’s always the first time to everything. Roti yang saya buat perdana semalam, akhirnya mengembang dengan cantik dan indah. Menurut para pemakan segala di rumah, rasanya luar biasa.

Aaahhh … senyum saya pun mengembang sumringah. Ternyata saya tidak lagi dimusuhi oven di rumah. Patah sudah stigma negatif tentang ketidakmampuan diri. Ketakutan nyatanya membuat saya membatasi setiap gerak dan langkah. Takut gagal, yang sejatinya adalah sebuah tanda baik tentang percobaan dan bertambahnya pengetahuan.

Jadi, masih takut melangkah dan mencoba? Tenang … saya temani yuk, sambil makan garlic bread buatan perdana dan minum secangkir kopi hangat.

“Hey! There’s always the first time … semangat!”

Love, Rere.

Kue Keria Bikin Ceria


Kue Keria Bikin Ceria

“Pingin deh makan kue keria. Bunda bisa buat?”
“Hmmm … belum pernah buat sih, tapi boleh coba.”

Apa sih kue keria itu?

Kue keria adalah sejenis donat ala Melayu. Berbeda dengan donat biasa yang berbahan tepung dan ragi, bahan dasar penganan ini adalah ubi, dengan campuran tepung, dan berlapis karamel gula merah.

Yummy!

Berikut ini resep dan cara membuatnya yang sangat mudah.

Bahan:

  • 4 buah ubi/sweet potato
  • 1 cup tepung terigu
  • 1 sdm tepung beras
  • ½ sdt baking powder
  • ½ cup air
  • 1 sdm gula pasir
  • Gula merah

Cara membuat:

  1. Kukus ubi hingga empuk
  2. Haluskan bersama 1 sdm gula putih
  3. Masukkan tepung terigu, tepung beras, dan baking powder yang sudah diayak
  4. Tambahkan air lalu uleni hingga kalis
  5. Siapkan sebuah piring yang telah ditaburi tepung
  6. Cetak adonan berbentuk cincin/donat kemudian goreng dalam api yang sudah panas.
  7. Masak gula merah dan sedikit air hingga terbentuk karamel
  8. Siramkan karamel sambil disaring ke dalam wadah kue yang sudah digoreng
  9. Tiriskan kue hingga karamel yang sudah melekat menjadi kering
  10. Kue keria siap dihidangkan

“Wah! Sudah jadi? Cepat sekali!”

“Gampang kok bikinnya. Enak enggak?”

“Enak banget! Kuenya lembut dan manisnya pas. Thank you, Bunda.”

Bikin yuk, donat kampung ala Melayu. Kue keria yang bikin semua jadi ceria.

Love, Rere

Kue Keria Easy Recipe

Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, are you packing us food or do we buy at the canteen?”

Pagi tadi Lana menemui saya di dapur ketika sedang membungkuskan bekal untuknya dan sang kakak. Seharusnya Kamis adalah hari jatah mereka jajan di kantin sekolah. Namun kemarin ternyata mereka harus pulang lebih awal karena kakak-kakak kelasnya akan menghadapi ujian tengah semester. Karena itu mereka jadi tidak bisa jajan di kantin sekolah.

“You can buy food Nak, but I will still pack you some. Okay?”
“Okay,
Bunda. Thank you.”

Seharusnya saya bisa saja menyuruh mereka jajan hingga tidak perlu sibuk menyiapkan ini itu di pagi buta. Belum lagi harus berpikir akan membuat apa.

Saya bukan hanya sedang mengajarkan anak-anak untuk berhemat dan menabung uang jajan mingguannya. Saya sedang mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang di setiap lembar roti atau apapun yang saya buat untuk mereka.

Meski kadang hanya berbentuk bekal sederhana, saya ingin mereka mengingat sang bunda di setiap detik kehidupan yang terlewati.

Beruntung kami dikaruniai putra putri yang manis dan hampir tidak pernah mengeluh. Semua bekal makanan yang saya buat untuk mereka selalu dihabiskan dengan gembira.

Tentu saja selain berusaha menyajikan makanan yang sehat, saya juga harus memahami apa saja yang mereka suka maupun tidak. Saya tidak pernah memaksa mereka makan apapun yang tidak disukai. Encouraging ya, tapi pemaksaan tidak. Saya ingin mereka makan dengan bahagia bukan terpaksa.

Sambil duduk menikmati pagi yang indah bersama secangkir kopi hangat, saya membuka deretan gambar bekal makanan yang pernah saya sajikan untuk suami dan anak-anak. Penuh cinta dan rasa sayang yang luar biasa besarnya.

Pesan saya untukmu para bunda, penuhi dan isi setiap detik kehidupan pasangan dan buah hati dengan sentuhan tanganmu sendiri. Percayalah, you will always gain by giving love. Mereka akan membawa cinta itu kemana pun mereka berada. Dengan namamu tersemat indah di dalamnya. Love is You … Bunda.

Love, Rere.

Bangkit! Sweat Now, Shine Later


Bangkit! Sweat Now, Shine Later

Pagi tadi saya bangun tidur dengan sedikit sakit di bagian kepala. Saya memang penderita sinus dan migraine. Sudah seperti makanan sehari-hari kedua penyakit itu.

But, hey! You won’t stop me!

Saya tidak akan kalah darimu! Bergegas saya memakai sepatu olahraga dan menyalakan laptop untuk mengikuti kelas daring Zumba.

Sambil menunggu sang pelatih membuka kelas, ingatan saya melayang di hari saya merasakan sakit yang luar biasa hebat di bagian kepala beberapa tahun ke belakang. Sakit yang sempat membuat saya takut mengingat gejala yang sama pernah membawa suami saya menjalani operasi pembedahan kepala.

Ya, sewaktu ia terkena brain aneurysm. Seperti yang saya ceritakan di sini,

https://reynsdrain.com/2020/06/15/piece-by-piece/

Hari itu, setahun setelah suami saya dinyatakan sembuh, giliran sakit kepala hebat menghampiri saya. Gejalanya sama seperti apa yang dialaminya dulu. Throbbing headache, rasanya seperti ada orang yang memukul kepala dari dalam.

Begitu hebatnya rasa sakit itu saya sampai tidak bisa membuka mata sama sekali. Kepala dan tengkuk terasa sangat berat, perut saya pun mual. Kali ini giliran suami memaksa saya pergi ke rumah sakit. Saya sungguh enggan karena berpikir itu adalah sakit kepala biasa. Saya juga tidak ingin meninggalkan anak-anak di rumah jika ternyata saya harus dirawat. Namun dengan berat hati sambil menahan sakit, saya tetap menuruti permintaan suami.

Sesampainya di rumah sakit ternyata kami bertemu lagi dengan dokter yang setahun lepas memeriksa suami saya. Dengan wajah khawatir ia menyuruh saya segera menjalani pemeriksaan CT Scan.

Sepanjang perjalanan menuju ruang periksa, mulut saya bergumam meminta Sang Pencipta memberi saya kesembuhan dan kesehatan. Terbayang wajah ketiga anak saya yang masih kecil. Saya masih ingin membesarkan mereka, Ya Rabb.

Beruntung hasil pemeriksaan dengan cepat kami ketahui dan ternyata saya terkena muscle spasm. Suatu keadaan dimana saya mengalami serangan fatigue secara tiba-tiba. Mungkin karena stress, terlalu lelah, atau kurang olahraga.

“You need to do exercise.”
“But I’m a mother of 3 kids, Doc. I moved a lot as I don’t have a maid.”
“That one is tiring. Exercise will make you fresh and more healthy. That’s the only cure to your muscle spasm.”

Dokter hanya memberi saya beberapa butir muscle relaxant dan menyarankan saya untuk berolahraga. Sejak menjadi ibu saya memang tidak pernah lagi berolahraga seperti ketika muda dulu. Rasanya tidak pernah ada waktu luang karena begitu sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus ketiga buah hati tanpa bantuan seorang asisten pun. Ternyata saya mengalami kelelahan luar biasa.

Thanks, Doc! Sejak hari itu saya bertekad akan bergerak untuk menjaga kesehatan. Saya akan bangkit dari keengganan dan mulai memperhatikan kesehatan, karena anak-anak di rumah butuh ibu yang sehat jasmani dan rohaninya.

Di sini lah saya sekarang dengan sejumlah kegiatan olahraga yang semakin padat justru sejak pandemi terjadi. Meskipun hanya dilakukan secara daring in the comfort of our own home, Senin hingga Minggu saya sempatkan untuk berolahraga bersama teman-teman.

Terbukti tubuh saya sekarang sehat dan muscle spasm pun tidak pernah lagi saya alami. Hadha Min Fadli Rabb. Semua karena kuasa-Nya.

Ayo teman, bangkit dari sofa empukmu dan mulai memperhatikan kesehatan ragamu. Olahraga bukan hanya akan merubah fisik namun juga menyehatkan mental di hari-hari sulit seperti sekarang ini. Terlebih lagi kita butuh untuk menjaga imunitas agar tidak mudah terkena virus. Mari ubah kebiasaan diri dan … bangkit, yuk!

Get up! It’s a good day to turn your life around.

Love, Rere.

Piece By Piece


Piece By Piece

“Ayo Yah ke hospital.”

“Enggak usah lah, ke klinik seberang rumah saja.”

“Kalau berobat ke klinik itu, paling juga dikasihnya paracetamol, Yah. Sudah 2 hari sakit kepala gitu memang enggak mau check? Udah cepet siap-siap, kita pergi ke hospital!”

“Malas lah.”

Puasa hari ke 2 di tahun 2013 itu nyatanya menjadi hari terberat dalam hidup kami.

Jika saja saya tidak memaksanya pergi ke rumah sakit untuk MRI hari itu … entahlah. Salah satu dari sekian banyak keputusan terbaik dalam hidup yang pernah saya buat. Sekaligus hari dimana saya berada di titik nadir. Hari dimana dunia saya tumbling down. Sang belahan jiwa terdiagnosa menderita Brain Aneurysm. Pembuluh darah di kepalanya pecah hingga tekanan darahnya kala itu mencapai 198/98. Tinggi sekali.

Dalam keadaan bingung dan shock berat, saya harus membuat banyak keputusan cepat. Membagi isi kepala antara ia dan anak-anak. Saya pun memacu kendaraan menjemput si sulung dan adiknya yang sekolah berjauhan sambil terus berpikir bagaimana besok mereka berangkat sekolah.

Dengan ragu saya menghubungi supir bis sekolah putri kedua saya, yang ternyata bersedia membantu mengantar dan menjemput Lana dengan senang hati. Alhamdulillah. Kakak ipar yang sedang bekerja pun untuk sementara menolong saya mengurus si bungsu yang baru berusia 2 tahun. Secepatnya saya juga menghubungi orang tua di Jakarta untuk datang membantu mengurus ketiga anak kami.

Terbata-bata dengan nafas sesak saya sampai di sekolah dan menemui kepala sekolah untuk meminta ijin menjemput anak-anak sebelum waktunya pulang karena kondisi sang ayah yang di luar perkiraan. Beruntung mereka memahami keadaan saya dan mengijinkan anak-anak untuk tinggal di rumah hingga segala urusan bisa saya tangani dengan baik.

Sesampainya di rumah, saya menyiapkan segala perlengkapan untuk suami selama ia dirawat di rumah sakit nanti. Juga memastikan bahwa persediaan makan serta segala kebutuhan anak-anak selama di rumah cukup, dan entah apalagi. Sampai lupa bahwa saya juga butuh baju ganti selama di rumah sakit. Ah … rasanya itu tak lagi penting.

Berlinang airmata, saya meninggalkan rumah dan memacu kendaraan menuju rumah sakit Mount Elizabeth yang letaknya di mana pun saya tak pernah tahu. Mengandalkan jasa GPS yang kerap hilang sinyalnya hingga saya harus kesasar dan beberapa kali hilang arah. Seperti pikiran dan hati saya yang juga sedang hilang, melayang entah kemana.

Setelah sampai di rumah sakit dalam keadaan tidak mampu berpikir logis, saya kembali dihadapkan pada keputusan penting menyangkut pembayaran serta bentuk tindakan operasi. Pilihan yang sama-sama berat apalagi harus saya putuskan sendiri. Padahal selama ini, segala keputusan dalam hidup selalu saya bicarakan berdua dengan suami.

Saya merasa tidak berdaya dan ingin menangis, namun saya harus bangkit. Saya harus kuat. Saya tidak boleh lemah dan terpuruk. Saya harus bangkit. Harus!

Di tengah kebingungan yang melanda, saya bersyukur Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa baik dan sangat membantu hari itu. Mulai dari supir bis sekolah Lana hingga akhirnya saya berjumpa dengan Dr. Ernest Wang. Ia yang dengan lembut menghampiri saya dan mengajak saya berdiskusi mengenai besaran biaya yang kelak harus saya hadapi jika tetap memilih rumah sakit ternama itu. Semua berurusan dengan asuransi kesehatan suami yang … ah nanti saja saya ceritakan detilnya sebagai pelajaran untuk semua.

Dokter Wang akhirnya membantu saya mengurus perpindahan dari Mount Elizabeth ke Rumah Sakit Tan Tock Seng yang hanya berjarak dekat namun berbeda jauh dalam masalah biaya.

Suami pun segera dimasukkan ke ruang ICCU dan bersiap menghadapi open surgery, yang menjadi pilihan saya dari 2 pilihan yang sama-sama berat. Dua pilihan yang semua hanya memberikannya kesempatan hidup 10% saja, karena 90% nya adalah kemungkinan koma, hilang ingatan, atau lumpuh seumur hidup.

Pilihan yang sangat berat hingga saya bersikeras menemaninya dalam ruang ICCU walau dengan resiko harus tidur di lantai tanpa alas dalam ruangan yang begitu dingin. Karena peraturan melarang pasien ICCU ditemani dalam ruangan. Tak peduli. Saya akan terus berada di sisinya dan tidak akan pernah meninggalkannya sedetik pun.

Tidak lagi saya pedulikan dinginnya lantai yang hanya beralas sajadah tipis tanpa selimut hangat bahkan bantal empuk. Dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang dan membuat saya menggigil kedinginan. Saya sudah tidak peduli.

Keesokan harinya, operasi pembedahan kepala pun dimulai dan berlangsung sekitar 5 jam. Beruntung hari itu orang tua saya sudah datang dan menjadi support system terbesar yang saya butuhkan. Mama dengan cekatan mengambil alih semua urusan rumah dan anak-anak. Papa juga bersedia mengantar dan menjemput kedua cucunya dari sekolah. Terima kasih Ma, Pa.

Lima jam operasi, detik demi detiknya terasa begitu lambat. Hingga operasi selesai dan sesaat setelahnya, ia pun sadar dan mulai memberontak. Kepalan tangannya mulai meninju kiri dan kanan sambil mengeluh tangannya sakit. Ia heran kenapa kepalanya penuh dengan selang. Ketakutan akan kondisi pasca operasi yang beresiko hilang ingatan pun muncul dalam benak saya. Ia mulai berubah.

Kekasih hati yang biasanya begitu sabar, menjadi sangat pemarah. Ia yang juga selalu menciumku kemudian menjauhi, karena bau yang katanya asing. Ini lah 90% itu. Ingatannya hilang, Tuhan.

Sepuluh hari menjalani perawatan di rumah sakit benar-benar menguras tenaga dan jiwa. Setiap pagi setelah mengantar anak-anak sekolah, saya bergegas menuju ke rumah sakit dan mengurusinya hingga hampir tengah malam. Dalam keadaan lelah saya harus memacu kendaraan kembali ke rumah. Rasanya diri ini sudah berada di ujung lelah hingga ingin berteriak. Saya rindu pada anak-anak setelah berhari-hari tidak bisa bercengkrama seperti biasa.

Belum lagi lelah hati menghadapi kemarahannya setiap saat. Ia memang sudah berubah. Saya pun hampir menyerah, jika tidak ingat ia dan anak-anak butuh saya yang kuat. Saya harus bangkit dan berdiri tegak. Saya harus sabar. Harus.

Tahun demi tahun berlalu dan semua pun kembali normal. Sujud syukurku pada Sang Maha Pemilik Hidup dan Mati. Sang belahan hati kini sembuh total dan hanya menyisakan bekas operasi panjang di dahi kanan serta sebuah klip di dalam kepalanya untuk menutup pembuluh darah yang pecah. Namun ia kini telah kembali seperti dulu. Lelaki baik hati yang sabar dan penyayang seperti ketika pertama kali saya mengenalnya.

“Kenapa ya saya bisa selamat hari itu? Sampai dokter pun heran dan bilang betapa beruntungnya saya bisa selamat dari lubang kematian.”

“Mungkin bekalmu belum cukup untuk menghadapNya, Sayang. Allah memberikanmu kesempatan lagi untuk memperbaikinya sampai tiba saatnya nanti.”

Apa yang bisa diambil dari cerita saya ini?

1. Jangan abaikan sekecil apapun alarm tubuh. Cepat periksa ke dokter dan minta pemeriksaan melalui MRI atau CT Scan terutama yang berhubungan dengan sakit di bagian kepala. Bergerak cepat sebelum terlambat. Jangan abai, jangan lalai. Jangan juga berusaha menyembuhkan dengan pengobatan alternatif. Cari informasi secepatnya mengenai dokter bedah syaraf yang terbaik.

2. Asuransi yang begitu penuh dengan polemik terbukti sangat membantu. Ingat. Choose the best insurance untuk sang kepala rumah tangga. Suami saya yang begitu baik, memilihkan asuransi terbaik hanya untuk anak dan istrinya saja, bukan untuknya sendiri. Ia lupa bahwa ia lah sang pencari nafkah tunggal dalam keluarga. Jika ada suatu hal terjadi padanya, maka masalah biaya akan menjadi begitu runyam untuk saya istrinya. So, choose the best one. I mean it.

3. Buang jauh segala kebiasaan buruk demi kesehatan. Jauhi stress, beban pekerjaan yang menumpuk, kurang olahraga, dan makanan yang tidak terjaga. Kurangi juga konsumsi makanan yang mengandung pengawet.

4. Untukmu para istri jika hal seperti ini terjadi, tetap tenang dan berfikir sistematis akan sangat membantu dalam memutuskan sesuatu. Ingat selalu untuk banyak bersabar. Sabar manakala pasca operasi, pasangan akan banyak berubah. Selalu berdoa dan banyak berserah diri akan sangat membantu kesehatan juga hati.

Piece by Piece by Kelly Clarkson yang saya nyanyikan ini ditulis berdasarkan kesedihannya ditinggalkan sang ayah kala berusia 6 tahun. Sama halnya dengan usia si sulung yang baru menginjak 7 tahun, sementara sang adik berusia 6, dan 2 tahun, ketika sang ayah harus berjuang di meja operasi. Saya membayangkan kesedihan yang mungkin juga dirasakan anak-anak hari itu jika sang ayah tidak berhasil melalui operasinya, dan jika sang bunda memilih untuk menyerah.

Dalam lagu sendu ini, Kelly Clarkson akhirnya menemukan kembali semua yang hilang dalam hidupnya setelah bertemu sang suami dan memiliki anak. Seperti cerita saya 7 tahun yang lalu. Tentang asa yang masih ada di titik nadir perjalanan, dan tentang keberanian untuk akhirnya bangkit dari keterpurukan.

Be strong now because things will get better. It might start with stormy weather but it can’t rain forever.

Love, Reyn

Try. Try Hard. Try Harder


Try. Try Hard. Try Harder

Kalau dipikir-pikir, universe beserta Sang Pencipta kadang bercandanya seru, ya?

Beberapa bulan lepas kita masih pergi ke mana pun kaki melangkah dengan bebas. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat dan membuat seluruh penghuni bumi dimasukkan dalam “sangkar” emas.

Berbulan-bulan hanya berdiam di rumah saja tentunya membawa banyak perubahan pada fisik dan mental. Biasanya aktif di luar rumah, sekarang harus menikmati detik demi detik kehidupan di dalam rumah saja. Bosan, jenuh, bete, hingga enggak tahu mau melakukan apa lagi.

Nah, apa yang bisa kita lakukan selama di rumah saja? Banyak! Salah satu contohnya adalah melakukan kegiatan yang disukai dan mencoba hobi baru setiap hari.

Bukankah a hobby a day will keep the boredom away? Jadi kenapa kita tidak berusaha mencoba banyak keahlian dan hobi?

“Ah, gue kan enggak berbakat kayak elu.”
“Elu mah megang apa aja jadi, Mak. Gue mah enggak bisa.”

Ih! Kalian tahu tak kalimat “tak kenal maka bisa utang … eh … maksudnya tak sayang”? Bagaimana sih kalian bisa tahu kalau tidak berbakat jika mencoba saja belum pernah. Padahal kegagalan itu masih lebih baik daripada keengganan. Mending gagal tapi pernah mencoba, daripada belum coba tapi sudah menyerah kalah.

Untuk itu, kalau kalian pikir saya bisa ini itu dari lahir, kalian salah. Sesungguhnya saya hanya punya semangat dan ketekunan. Semangat untuk selalu belajar hal baru, tekun mencari ilmu, serta rajin mencoba keahlian baru.

Tahukah kalian semua, jika semakin banyak hal saya temui dalam proses belajar ini, semakin saya paham bahwa sejatinya saya tidak tahu apa-apa. Untuk itu saya belajar membuka diri dan juga hati agar semua ilmu bisa saya pelajari tanpa ruangnya pernah saya batasi.

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk melihat video cara pembuatan beragam kerajinan tangan di internet. Kemudian saya mulai mencoba dan melakukan eksperimen sendiri. Kadang gagal, tapi saya tidak menyerah. Terus mencoba, itulah prinsip hidup saya.

Jadi, apa yang kalian lihat postingannya selama ini di beranda pribadi saya, adalah hasil dari sebuah proses belajar, proses mencoba, dan juga proses melakukan banyak kesalahan.

Begitulah cara saya belajar. Hingga tercipta beberapa hasil karya berupa macrame, wire weaving, resin, dan juga beberapa tulisan yang menunggu untuk dibukukan. Percayalah, memakai hasil karya sendiri itu sensasinya beda teman.

Jadi, masih mau bilang enggak bisa dan enggak berbakat? Think again.

Making mistakes simply means you are trying harder than anyone else.

Love, R

Belajar Dari Rayyan


Belajar Dari Rayyan

Ting Tong!

He? Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah? Waduh! Saya belum lagi mandi, dan baru saja menyeduh secangkir kopi. Bergegas saya menuju pintu rumah dan melihat dari lubang intip.

Lah! Si Rayyan?

“What’s wrong, Rayyan? Did you forget something?”
Bundaaa! I forgot my mask! I was almost reached the school gate when I realized I didn’t put on my mask.”
“Oalah! Hold on, I take your mask.”
“Thank you,
Bunda.”
“There you go. Be careful. Just go down by the lift,
Nak.”
“I’ll go down by the stairs,
Bunda. So sorry for this.”
“No problem. Take care!”
“I love you,
Bunda. Assalamualaikum.”
“Love you more!
Waalaikumussalaam.”

Lamat saya masih mendengarnya berteriak menyatakan penyesalan dan cintanya, sambil menuruni anak tangga, sesaat setelah saya menutup pintu.

Apartemen kami berada di lantai 5, dan anak-anak selalu turun naik menggunakan tangga tanpa pernah mau naik lift yang letaknya persis di samping rumah. Kami memang mengajarkan mereka untuk rajin menggunakan tangga di mana pun berada. Anggap saja olahraga.

Saya pun mengawasi Rayyan dari jendela rumah sampai ia selamat menyeberang lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke gerbang sekolah. Beruntungnya kami, sekolah dasar anak-anak hanya terpisah 1 blok saja dari bangunan apartemen rumah.

Ah Rayyan … seandainya semua orang belajar disiplin darimu. Si bungsu yang baru berusia 9 tahun. Demi menjaga diri dan lingkungannya, ia sampai rela harus turun naik tangga dari lantai 1 ke lantai 5 mengambil masker penutup mulutnya yang tertinggal di rumah. Padahal di sekolah ia juga harus turun naik dari lantai 3 ruang kelasnya ke lantai 1, atau lantai 2 untuk mengikuti serangkaian kelas.

Semoga tetap semangat dan bahagia ya Nak. Tidak perlu meminta maaf karena sudah menerapkan disiplin dengan baik, dan melakukan sesuatu yang benar. Padahal bisa saja ia tidak peduli dan tinggal bilang lupa. I’m so proud of you big boy!

Semoga banyak manusia ikut belajar dari Rayyan.

Love, R