Teman Bahagia


Teman Bahagia

“Takkan pernah terlintas ‘tuk tinggalkan kamu, jauh darimu … kasihku.”

Sebaris awal lagu milik Jaz ini membuat saya sedikit merenungi acara mudik yang kerap saya lewati hanya dengan anak-anak saja selama ini. Liburan keluarga (tidak sekeluarga) yang jarang sekali saya lalui bersama suami karena sibuk dengan pekerjaannya.

Saya berusaha memaklumi. Sebagaimana ia yang juga berusaha memaklumi ketika terpaksa harus rela berpisah dengan anak-anak dan istrinya untuk waktu yang biasanya lumayan lama.

Perjalanan mudik saya dulu kerap kali mengundang kernyitan dahi beberapa orang. Menurut mereka, saya tidak seharusnya meninggalkan suami begitu lama. Saya seharusnya 24 jam, 7 hari dalam seminggu berada di sampingnya. Saya tidak seharusnya pergi tanpa didampingi olehnya.

Mereka mungkin lupa, saya juga manusia biasa.

Manusia yang butuh waktu untuk sekedar menikmati do nothing days. Manusia yang sesekali butuh merawat diri from head to toe ke sebuah tempat perawatan kecantikan. Manusia yang juga butuh bersosialisasi dengan orang lain, terutama para sahabat untuk sekedar bertukar cerita dan berbagi rasa.

Suami saya sebenarnya yang justru meminta saya untuk pergi berlibur dengan anak-anak. Ia tahu, saya juga butuh membahagiakan diri sendiri.

Apakah artinya selama ini saya tidak bahagia?

Saya sangat bahagia. Bahagia yang datang dari rasa syukur atas apa yang telah saya lalui dan miliki hingga hari ini. Namun ibarat sebuah gawai, saya juga butuh charging. Butuh sekedar keluar sebentar dari rutinitas, dan menikmati hidup sebagai seorang individu.

Saya butuh ruang.

Memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai seorang ibu dan istri, pastinya kehidupan saya berubah 180 derajat dari sebelumnya. Namun saya juga tidak ingin merampas hak sebagai seorang manusia. Saya juga berhak menikmati hari tanpa kerutan di dahi. Caranya? Pergi berlibur selama beberapa hari, bertemu orang tua dan sahabat baik, sudah cukup melegakan hati.

Terima kasih suamiku, karena sudah menempatkan istrimu di sisi bukan di belakang. Terima kasih karena sudah mengingatku sebagai seorang yang masih memiliki hak untuk bahagia. Terima kasih karena menyetujui pemahamanku, bahwa happy wife bermakna happy home. Terima kasih karena bersedia menjalani hari bersama sebagai sepasang “teman” bahagia.

“Percaya aku takkan kemana mana, setia akan ku jaga. Kita teman bahagia.”

Dedicated to my soulmate.

Soulmate aren’t just lovers. They are happy team mates!

Love, Rere

LUKA


LUKA

Aku tak tahu mengapa umak memberiku nama Luka.

Luka saja, tanpa awal atau akhir kata.

Menurut orang-orang kampung sini, aku dilahirkan tanpa bapak sewaktu umak pergi bekerja ke luar negeri. Usia umak baru 17 tahun ketika itu. Sedang mekar-mekarnya anak gadis, kata mereka.

Umak yang cantik dan pintar terpaksa berhenti sekolah dan harus bekerja keras, demi membayar hutang kedua orangtuanya. Kakek dan nenek yang tak pernah kutahu sosoknya.

“Terbakar dalam rumah sewaktu perampok menyatroni mereka di pagi buta,” kata Pak Saman tetangga desa.

Waktu itu umak sudah berangkat ke luar negeri, dan menjadi buah bibir di kampung. Bagaimana tidak … baru beberapa bulan umak pergi, rumah kakek dan nenek sudah naik tinggi. Keramik cantik menghiasi lantai, mengganti alas tanah yang sebelumnya tiap pagi berhias tai. Ya, kotoran ayam milik tetangga, yang kandangnya ada di sebelah rumah.

Umak juga mengirim sebuah kendaraan mewah, sebagai pengganti becak yang selalu dikayuh kakek keliling desa sebelah. Dibangunkannya sebuah toko megah, untuk nenek yang biasanya berjualan tempe di pasar basah. Tentu saja, semua tetangga memandang gerah. Termasuk komplotan pencuri yang sudah terkenal namanya di pusat kota, geng bramacorah.

Kebakaran rumah umak di desa menjadi akhir kisah hidup dan ceritanya di sana. Umak yang anak tunggal, mengubur semua mimpi dan harapannya bersamaan dengan terkuburnya jasad kakek dan nenek menjadi abu, di rumah kebanggaan mereka yang berujung pilu.

Tak ada seorang pun tahu apa yang terjadi pada umak setelah itu. Hanya kabar burung beredar di kampung, umak bukan hanya bekerja sebagai pembantu. Ia adalah simpanan seorang tauke berharta menggunung. Banyak yang kagum, lebih banyak yang mencibir dengan sinis, biasa lah sesama kaum. Mungkin mereka iri dan dalam hati kecil ingin berjaya seperti umak, yang diam-diam mereka kagumi.

Semua berubah di hari umak kembali. Dengan tubuh kurus kering, umak kembali ke kampung membawa seorang bayi dalam bengkung. Seisi kampung gempar, bisik-bisik semakin tak terbendung liar.

Dengan sisa gemerincing koin di saku, umak menepi di sebuah rumah berpagar bambu. Entah rumah siapa, umak pun tak tahu. Gubuk berhantu, kata Pak Saman dulu.

Umakku tak takut hantu. Ia lebih takut melihat mulut-mulut yang menggerutu. Istri-istri yang takut suaminya jatuh hati, gadis-gadis yang takut kekasihnya berpaling pergi. Padahal umak kembali tanpa penampilan bak gadis ting-ting. Umak kembali membawa sakit, di hati dan diri. Karena di gendongannya ada bayi lelaki yang harus diurus sendiri.

Umak … umak.

Malang sekali nasibmu berakhir. Kataku sambil menatap hembusan asap rokok beraroma tajam … sembari membetulkan gincu berwarna merah terang. Untuk pelanggan lain yang segera datang.

(Tamat)

Love, Rere

Harus Bahagia


Harus Bahagia

Rasanya enggak akan bosan saya menggaungkan kata ini.

Bahagia.

Bagaimana cara menemukannya? Gampang. Banyak bersyukur, dan jangan sombong.

Bener deh, hidup kita tu bisa dengan mudah dibolak balik macem tahu walik oleh Sang Empunya Hidup. Sedetik kita ketawa, detik berikutnya kita mungkin menangis tersedu.

Jadi rasanya kita ini gak punya alasan buat sombong pada orang lain. Harta, tahta, jabatan, bahkan yang tercinta bisa dengan mudah diambil tanpa banyak kata.

So be kind and don’t hold grudges.

Setelah itu baru esensi bahagia kita dapat dengan mudah. Melihat orang lain bahagia, kita ikut bahagia. Melihat teman tanpa airmata, kita ikut bersuka. Melihat hal sekecil apapun, kita pasti senang dan makin menghargai hidup.

Jika hidupmu kelabu
Jika hatimu sendu
Coba tersenyum dan bilang I love you

I love you, self
I love you, life
I love you, people
I love you, universe

Yuk, mulai berbagi hal-hal baik yang kelak kita syukuri ketika memorinya muncul kembali.

Yuk, mulai biasakan berbahasa dengan santun, yang kelak kita syukuri impact-nya pada lingkungan.

Yuk, beri contoh anak-anak di rumah cara menyebar kebaikan dan kebahagiaan, yang kelak kita rasakan di damainya dunia.

Harus bahagia, ya!

Share love not hate,
Rere

Harus Bahagia – Yura Yunita (Cover)

DIRA – Hitam Putih Perempuan


DIRA – Hitam Putih Perempuan

“Dir, eee … Dena, Dena Dir.”
“Raka? Dena kenapa?”
“Dibawa ambulance ke rumah sakit. Tolong Dir. Aku bingung harus gimana.”
“Ah! Dasar lu! Sama aja laki di mana-mana! Tunggu gue dateng sebentar lagi. Gue coba hubungi Liana, Vini, dan Tari dulu.”

Menyeret langkah, Dira bangun dari atas tempat tidur sambil menahan sakit di kepalanya.

“Tsk! Masih berdarah lagi!” bisiknya sambil berjalan perlahan menuju toilet lalu membasuh wajahnya dengan air keran. Bercak merah pun memercik ke dalam wastafel berwarna putih di dalam kamar mandi luas itu.

Dira meringis kesakitan. Airmatanya pun tumpah tanpa tertahan. “Diam, Dira! Hapus airmatamu!” Hardiknya pada sosok di cermin dengan mata lebam dan kening berhias luka menganga itu. “Ini toh bukan yang pertama kali! Diam!”

Alam, sang suami, sebenarnya lelaki baik dan sangat penyayang. Ia begitu memuja Dira yang ditatapnya pertama kali di ruang kantor mewah tampatnya duduk menjadi pimpinan sebuah perusahaan. Dira masih sangat muda ketika datang untung memenuhi panggilan wawancara kerja di kantornya. Cantik, langsing, cerdas, dan sangat memikat. Alam langsung jatuh hati dan menjadikan perempuan muda itu sekretaris pribadinya.

Dibawanya Dira kemana pun ia berdinas bahkan hingga ke luar negeri. Kedekatan yang kemudian menjadikan mereka berdua bak sepasang kekasih. Sudah bukan rahasia lagi di kantor ketika itu. Karena siapapun bisa melihat dengan jelas bagaimana hubungan terlarang yang terjalin antara sang pimpina dengan sekretaris cantiknya.

Hubungan terlarang yang kemudian tercium istri sah Alam yang datang melabrak Dira hingga keributan besar pun terjadi. Alam lalu memberhentikan kekasih gelapnya itu dari pekerjaannya dan menikahinya secara siri, tanpa diketahui sang istri.

Sebuah rumah mewah, beberapa kendaraan berharga fantastis diberikan Alam pada Dira yang kemudian mendadak hidup senang. Dira memang tumbuh dalam keadaan serba kekurangan. Ibunya hanyalah seorang pemilik toko kelontong kecil di kampung tempatnya dibesarkan. Ia membesarkan Dira seorang diri karena tidak tahu siapa lelaki yang dengan keji telah merenggut masa depannya dulu. Ia hanya ingat sepasang lengan yang kuat membekap dan menutup wajahnya dengan sebuah kain. Hanya deru mobil yang didengarnya terakhir kali sebelum ia lemas tak sadarkan diri, dan ketika sadar ia sudah berada di sebuah rumah tua dalam keadaan mengenaskan.

Sekuat tenaga ia membesarkan Dira yang tumbuh menjadi seorang gadis cantik berambut kemerahan dan kulit putih bersih. Keberuntungan lah yang lalu membawa Dira hingga ia mampu menapakkan kaki di ibukota yang terkenal kejam. Sampai di hari ia bertemu dengan Alam yang begitu tampan dan membuatnya jatuh cinta.

Dira sang anak kampung menjelma menjadi sosialita dengan pergaulan luas. Berlibur ke luar negeri, bergelimang kemewahan, begitulah ia sekarang. Walau tak banyak orang tahu bahwa Alam kerap menyiksa Dira bahkan melarangnya memiliki keturunan. Siksaan yang diterima Dira bertahun-tahun hingga ia merasa kebal dan tak lagi menangis.

Dalam pikirannya hanyalah bertahan hidup demi sang ibu yang sudah sakit-sakitan karena usia lanjut. Dira menahan semua sakit dan selalu menceritakan betapa sempurna hidupnya pada teman-temannya. Kesempurnaan semu namun cukup membuatnya terhibur dan melupakan kesepian hati terutama kekejaman sang suami. Suami yang dicintainya dengan sepenuh hati meski sadar tak akan pernah utuh dimiliki.

Segala cara telah dilakukan untuk memaksa Alam meninggalkan istri sahnya seperti janjinya pada Dira dulu. Alam bergeming, “Aku masih mencintai istriku namun aku tak bisa melepaskanmu.”

Setelah membasuh mukanya dan membubuhkan riasan tipis, Dira membuka sebuah laci yang selalu dikunci. Tangannya mengelus perlahan sebuah kotak berwarna hitam sambil menghela nafas panjang. “Belum lagi, Dira. Belum waktunya,” desisnya sambil menatap cermin.

“Dir, mata lu kenapa? Kenapa Dir?”
“Eh, eee … enggak apa-apa Li. Tadi pagi gue terantuk pintu tanpa sengaja. Sudah enggak apa-apa. Sini deh. Dena pernah cerita apa sama lu? Rasanya dia baik-baik saja kemarin.”
“Dir, lu jawab dulu pertanyaan gue. Kenapa mata lu? Jangan bohong! Lu pikir gue percaya lebam begitu karena pintu? Astaga! Dahi lu Dir! Berdarah!”
“Gue, gue enggak apa-apa Li. Bener deh.”

… kemudian pandangan Dira menghitam. Ia jatuh pingsan.

(Bersambung)

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Tanya Hati – Pasto (Cover)

DENA – Hitam Putih Perempuan


DENA – Hitam Putih Perempuan

“Maaaa, mana jaketku? Udah telat nih!”
“Maaaa, tadi aku taro kacamata di meja kok hilang?”
“Maaaa, tolong setrika baju Papa yg ini dulu dong. Enggak mau ah pakai yang udah disetrika itu.”

Dena, sedari pagi sudah bangun. Dengan gerakan super cepat ia menyiapkan sarapan, bekal ke sekolah kedua anak kembarnya, serta bekal suami ke kantor. Ya, mereka semua malas pergi ke kantin hingga meminta Dena menyiapkan bekal untuk makan di siang hari.

Dena melakukan semuanya dengan tulus hati. Walau hidupnya berubah 360 derajat sejak memutuskan berhenti dari pekerjaan terdahulunya. Di masa muda, Dena adalah seorang awak kabin sebuah maskapai internasional. Penampilannya selalu glamour dan memikat. Sepatu berhak tinggi, tas tangan bermerk mahal, make up cantik, serta keluar masuk pusat perbelanjaan terkenal adalah kesehariannya.

Bertemu dengan Raka, yang kemudian menjadi suaminya, benar-benar merubah sudut pandang Dena tentang kehidupan. Ia rela berhenti dari pekerjaan yang membawanya keliling dunia dan bergelimang harta. Tak lagi dipedulikannya semua harta dunia. Apalagi selepas menikah, ia mengandung anak kembar lelaki dan perempuan. Tora dan Tiara, semakin melengkapi hidupnya.

Hidup yang kemudian ternyata membuatnya berubah. Dena tidak lagi mempedulikan dirinya sendiri. Hidupnya adalah melulu tentang Raka, Tora, dan Tiara saja.

Raka bukanlah lelaki yang romantis. Ia tidak pernah mengingat hari lahir Dena yang dulu selalu dirayakan dengan meriah. Jangankan hadiah, seikat bunga pun rasanya hanya diterima Dena di tahun pertama pernikahan mereka. Dena berusaha memahami dan tidak ingin merusak janjinya untuk tulus mengabdi pada keluarga. Ia ingin menjadi ibu dan istri yang terbaik bagi keluarga.

Kemarin ia bertemu dengan 4 sahabatnya, Dira, Tari, Vini, dan Liana. Berbeda dengan Dena, mereka ber 4 adalah para pengusaha terkenal dan sosialita cantik yang kerap menghabiskan waktu di sebuah kafe. Dena yang paling sering menolak acara kumpul-kumpul itu. Ia kehilangan rasa percaya diri yang dulu begitu penuh ia miliki.

“Dena! Bajumu enggak banget sih! Emang si Raka enggak pernah beliin kamu baju baru? Tiap ketemu itu saja yang kamu pakai!”

Dira, memang selalu outspoken karena menganggap Dena sudah seperti saudara sendiri. Tanpa sadar ia menorehkan luka di hati Dena. Gaji Raka memang tidak akan cukup memenuhi gaya hidup seorang istri pengusaha terkenal seperti Dira. Namun ia adalah teman yang baik. Dira hanya khawatir melihat perubahan pada diri Dena, sang sahabat.

Pagi itu perasaan Dena memang sedang tidak karuan. Ia merasa semakin tidak dianggap di rumahnya sendiri. Kedua anak kembarnya hanya mencari ketika mereka butuh bantuan sang mama untuk mencari barang yang hilang. Sementara Raka hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak dipedulikannya Dena yang kerepotan membersihkan rumah sendiri atau ketika ia harus mondar-mandir mengantar kedua anaknya ke tempat belajar yang berbeda. Padahal ia masih harus pulang lalu memasak makanan untuk semua.

Dena terlalu lelah. Ia menolak berpikir bahwa ia tidak bahagia. Ia takut mengungkapkan isi hatinya karena tidak ingin ada keributan di rumah. Ia tidak ingin dianggap istri yang tak tahu bersyukur. Ia tak ingin menjadi contoh ibu yang banyak mengeluh. Ia ingin terlihat sebagai perempuan yang kuat dan mampu menyelesaikan segala hal sendiri. Ia lupa, dirinya juga seorang manusia, bukan robot yang tanpa rasa.

Berbicara dengan 4 sahabatnya tidak juga mengisi ruang kosong di hatinya. Dira selalu sibuk menceritakan tentang hidupnya yang sempurna. Suami tampan yang kaya raya dan putri tunggalnya yang manis dan pintar. Tari, juga sibuk bercerita tentang bisnisnya yang tersebar di mana-mana dan keluarganya yang sangat harmonis. Vini, adalah sahabatnya yang selalu penuh keberuntungan sejak dulu. Ia juga tidak lagi bekerja sama seperti Dena. Namun suaminya sangat baik dan romantis hingga sang istri selalu diajak berlibur ke luar negeri dan dilimpahi banyak materi. Liana? Sang pengusaha terkenal, yang meskipun hidup sendirian namun tidak nampak kesepian karena kesibukan yang sangat padat.

Dena memandang kedua anak kembarnya yang sedang sarapan, lalu melihat ke arah Raka yang tampak necis dalam balutan pakaian kerja. Ia sedang menyesap kopinya sambil membaca koran. Dena lalu melangkah ke dalam kamar dan melihat pantulannya sendiri ke arah cermin. Rambutnya yang penuh uban, berantakan, wajah pucat dan penuh garis halus, serta sebuah daster lusuh melengkapi penampilannya setiap hari. Tak seorang pun menyadari perubahan sikap Dena yang semakin diam tanpa suara di rumah.

Bulir bening mengalir di pipinya. “Apa yang terjadi padaku?” bisik Dena pelan.

“Maaaa, kita berangkat ya.”
“Iya Nak. Pa, Mama mau mandi ya.”
“Bye, Ma.”

Dena memandang ke lantai bawah sambil melihat mobil Raka meninggalkan rumah. “Mereka tidak membutuhkanku lagi, tidak mencintaiku,” gumam Dena pelan.

“Mamaaaa aku ada tugas sekolah ya. Jangan diganggu.”
“Ma, Tora belajar bareng temen di kafe Cinta ya.”
“Ma, Papa ada rapat. Pulang lambat. Enggak usah ditungguin.”

Dena menenggak butir pil terakhirnya lalu tubuhnya mengejang, dan mulutnya merintih pelan sambil mengeluarkan busa. Matanya terpejam perlahan, ia merasa tenang.

(Bersambung)

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Human – Christina Perri (Cover)