Bishan – Lower Peirce – Newton


Bishan – Lower Peirce – Newton

Tiga nama. Tiga cerita.

Nyemplung kali dengan sekumpulan ikan ginuk-ginuk dan kura-kura lucu di Bishan Park, seperti berada di sebuah desa yang sangat dirindukan. Oh, bahkan sudah terkagum-kagum sepanjang perjalanan ke sana, ketika netra ini disuguhi begitu banyak warna, melalui deret bunga serta taman yang menggugah jiwa.

Lower Peirce Reservoir, kalau tak ingat denda, ingin rasanya nyemplung saja. Melihat oasis begitu segarnya, di tengah deru bisingnya kota. Silahkan memanjakan diri sejenak, wahai netra.

Thomson Nature Park, yang dulunya adalah sebuah perkampungan, kini hanya menyisakan cerita. Babi hutan, monyet, dan beragam unggas bergantian menunjukkan diri ditingkahi raut wajah yang menganga sedikit ngeri. Mungkin mereka ingin bilang, “Masih ada kehidupan di sini, wahai manusia. Meski kini hanya tersisa puing-puing masa jaya.”

Total perjalanan 15 kilometer.
Pic courtesy: Mbak Hany, Mdm. Liza.

Love,
Rere

https://vt.tiktok.com/ZSJGdeU6E/

Jalan-Jalan ke Bishan

Bukit Timah Summit – Singapore Out & About


Bukit Timah Summit – Singapore Out & About

Sudah menjelang siang hari itu, ketika saya dan seorang sahabat menaiki Bukit Timah Nature Reserve. Terletak di tengah kota Singapura, daerah ini merupakan hutan lindung luas yang tersisa di negara ini. Hingga ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya Asean. Nama Bukit Timah di daerah perbukitan yang tertinggi itu, konon diambil dari tambang granite atau timah yang dulu terletak di sana. (Wikipedia)

Perjalanan saya dimulai dari tempat saya memarkir kendaraan untuk mencapai The Summit, bukit tertinggi di Singapura dengan ketinggian mencapai 163.63m.

Terengah-engah saya mendaki jalanan yang begitu tinggi, lalu berlanjut dengan banyak anak tangga untuk menuju ke atas. Seperti kehabisan nafas rasanya, dan pandangan saya sedikit berkunang-kunang.

Anak tangga menuju The Summit

Setelah beberapa saat, akhirnya saya tiba tepat di bukit tertinggi negara ini. Lihat lah betapa lelahnya saya. Hahaha!

Belum habis lelah setelah mendaki, perjalanan rupanya terus berlanjut. Kami harus menyusuri jalan menurun yang sangat landai menuju sebuah tempat. Ini lah tempat dimana dulu sebuah tambang timah di masa perang dunia II berada.

Siapa menyangka, tempat seindah ini dulunya adalah sebuah tambang granite atau timah di masa perang. Pemandangannya benar-benar breathtaking dan sekilas tampak seperti berada di belahan dunia lain.

Perjalanan kami berlanjut dengan mengitari jalan setapak yang lain. Lihat lah betapa lelahnya saya di foto ini. Setelah sekian lama tidak pernah melakukan perjalanan ekstrim, bahkan sempat berhenti olahraga, track hari itu betul-betul membuat saya seperti mau pingsan.

Ijah lelah ….

Kemudian kami menyusuri sebuah tangga yang menjadi objek foto saya selanjutnya.

Hello, World!

Puas mengitari Bukit Timah, kami pun pindah ke spot menarik lainnya yaitu Chinese Garden di daerah Jurong East. Dibangun pada 1975, saat ini pemerintah sedang melakukan peremajaan. Hingga lokasi menuju ke taman itu pun ditutup untuk sementara waktu. Jadi, saya hanya bisa memandang dari kejauhan saja.

White rainbow bridge, sayangnya untuk sementara waktu ditutup.

Tangga cantik ini adalah penghubung antara Chinese Garden dan Japanese Garden. Sayangnya untuk sementara waktu tidak bisa dilewati karena sedang ada renovasi.

Perjalanan kami berakhir di sebuah Cafe berlabel halal, dengan design cantik bernama Fusion Spoon. Dua buah kelapa segar dan seloyang pizza hangat menjadi pengisi perut kami yang mulai keroncongan.

Begitu lah perjalanan saya dua hari yang lalu dari Bukit Merah hingga ke Jurong East. Ikuti trip saya yang lain, menyusuri sudut-sudut menarik di negara ini.

Photo courtesy of Liza Ariando.

Love, Rere

Mount Faber – Singapore Out And About


Mount Faber – Singapore Out And About

Hari ini perjalanan kami dimulai dari Harbour Front. Setelah memarkir kendaraan di tempat biasanya para pelancong datang dari Batam, kami menyusuri jalan menuju sebuah tempat parkir luas.

Siapa mengira di balik sebuah pohon besar yang ada di sana, ada jalur menuju ke hutan belantara.

Tempat pertama yang kami datangi adalah sebuah bunker. Iya, bunker yang kemungkinan menjadi tempat penyimpanan amunisi dan makanan selama Perang Dunia II. Meski agak spooky, namun seru sekali. Membayangkan berada di sana ketika desing peluru bersautan di atas kepala. Jangan lupa membawa sebuah senter atau torch light karena kondisi bunker yang gelap gulita.

Dengan tinggi hanya sekitar 1m dengan luas hanya 2,5m di bagian dalam, bunker ini cocok sih jadi setting cerita horor. Haha! Oh, jangan kaget jika di dalamnya nanti bertemu dengan bermacam hewan. Saya hampir pingsan ketika di depan saya melintas seekor kadal berukuran cukup besar. Hahaha!

In the bunker
Seah Im Bunker

Bak cerita dalam film petualangan, kami lalu melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan setapak yang kebanyakan naik dengan kemiringan hingga 60 derajat. Warbyasak!

Tiba di atas, kami menyusuri jalan utama yang lumayan besar hingga sampai di sebuah rumah bernomor 11 di Keppel Hill.

Tak banyak cerita bisa saya temukan tentang keberadaan rumah yang konon dibangun pada abad 19 selama masa kolonial. Sayangnya bangunan besar ini lalu tidak terawat dan ditutup untuk umum oleh pemerintah setempat.

Kemudian kami menuju sebuah tempat yang dulu digunakan sebagai tempat penampungan air hujan bernama Keppel Hill Reservoir. Selama masa pendudukan Jepang, konon tempat ini juga digunakan sebagai kolam renang. Hal itu ditandai dengan adanya sebuah tangga sebagai tanjakan untuk diving seperti yang biasa ada di kolam renang.

Undak-undakan di pinggir kolam

Ingat, jangan coba-coba untuk menceburkan diri ya. Konon di masa kolonialisme, di tempat ini pernah ada kejadian tenggelamnya 2 orang tentara Inggris dan seorang penduduk lokal,

Pemandangannya memang breathtaking. Hingga rasanya tak percaya, di tengah kota metropolitan seperti Singapura, ada sebuah hutan dengan kolam seperti ini.

Kemudian kami berjalan lagi dan menemukan sebuah monumen bertulisan Kanji yang dikenal bernama The Japanesse Tomb. Entah apa arti tulisan yang tertera pada monumen batu itu. Konon ini adalah tomb dari Ekasa Komoto, seorang naval engineer asal Jepang. (Sumber: Wikipedia)

Perjalanan kami menyusuri hutan kemudian berakhir di puncak Mount Faber. Bak berdiri di sebuah negeri yang berada di atas awan, kami disuguhkan pemandangan yang sangat menawan. Dengan Sentosa di sebelah kiri, dan sebuah bangunan unik berjuluk The Reflection di sisi kanan.

https://www.facebook.com/reynilda.hendryatie/videos/10224562176428951/?d=n

Kemudian saya menemukan sesuatu yang sangat menarik yaitu The Wishing Bell. Sekilas nampak seperti deretan padlocks yang ada di Pon Des Art, the lock bridge in Paris. Namun bukan kunci yang banyak tergantung di sana, melainkan deretan lonceng imut yang konon diibaratkan sebagai tanda cinta. Cinta yang diabadikan dalam sebuah lonceng, bertuliskan nama pasangan atau doa, yang diharapkan bisa langgeng bahkan setinggi Mount Faber. Awww, so sweet!

Loncengnya bisa dibeli di sana, berharga sekitar $4 lebih saja.

Kemudian kami menuruni bukit untuk menuju ke tempat lain. Oh, sangat mengerikan. Saya sudah berpikir akan meluncur dari atas bukit dan sukses “ngglundung” ke bawah. Hahaha!

Lihat lah betapa strugglingnya saya berusaha turun dengan sepatu yang tidak memadai untuk itu.

Perjalanan berlanjut hingga kami tiba di Kent Ridge Park. Sebagai bagian dari Southern Ridges yang menghubungkan 3 parks melalui jembatan dan jalan yang saling menyambung.

Sebuah pohon berumur ratusan tahun yang terdapat di Kent Ridge Park

Kemudian kami tiba di sebuah area yang dulunya berfungsi sebagai tempat pemakaman umat Muslim. Saat ini area itu sudah ditutup namun beberapa nisan masih bisa ditemukan di sana.

… daaan saya mulai lelah. Hahaha!

Enter at your own risk!

Akhirnya perjalanan kami hari ini berakhir. Meski kaki mulai terasa pegal akibat turun naik bukit terjal, namun saya merasa senang. Berjalan dan menyusuri banyak tempat seru seperti ini, benar-benar membuat hati ini semakin mensyukuri hidup. Indah sekali karunia Ilahi!

Hooray for today!

Saya pun pulang dengan perasaan riang. Tentu saja bukan dengan menaiki si sapu terbang. Hahaha!

Up up away … to 2022.

Begitu lah petualangan saya hari ini. Tunggu cerita saya menyusuri sisi lain dari Singapura selanjutnya, ya.

Photo courtesy of Mak Hany & Dya.

Love, Rere

Masjid Sultan – Singapore Out And About


Masjid Sultan – Singapore Out And About

Siapa tak kenal dengan bangunan bersejarah satu ini?

Sultan Mosque atau Masjid Sultan. Dipakai sebagai tempat peribadatan secara resmi pada tahun 1929. Mengambil nama Sultan Hussain yang mendirikan masjid ini sekitar tahun 1824, di samping istananya yang berlokasi di daerah Kampong Gelam. Bangunan ini lalu diabadikan sebagai monumen nasional pada tahun 1975. (Wikipedia)

Terdiri dari 2 lantai, yang bagian atasnya adalah tempat khusus beribadah kaum perempuan. Sementara tempat berwudhu dan kamar kecil ada di sisi sebelah kanannya.

Oh ya, jangan harap bisa melangkah masuk ke dalamnya jika anda tidak memakai pakaian yang rapi dan sopan. Namun jangan khawatir, para penjaga yang duduk di tangga masuk masjid telah menyediakan sarung atau abaya yang bisa anda pinjam dan kenakan jika ingin mengunjungi bagian dalam masjid.

Untuk memanjakan perut, terdapat banyak sekali restoran dan cafe di bagian luar bangunan megah ini. Mulai dari kuliner khas warga Melayu, Lebanesse, Arabs, Moroccans, India, hingga rumah makan Padang pun juga tersebar di sekitarnya. Tak ketinggalan toko-toko roti yang wanginya semerbak pun sangat menggoda untuk didatangi. Ingin membawa buah tangan untuk keluarga di rumah? Para penjaja suvenir khas negara ini pun bisa disambangi di bagian luar masjid.

Jangan lupa, segala perlengkapan umrah dan haji juga bisa didapat di sekitar bangunan ini. Harganya? Lumayan masih terjangkau lah.

Oh, jangan lupa berfoto ya. Ini adalah salah satu tempat dengan spot foto terbaik di negara ini. Pokoknya Instagrammable deh! Caelah!

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Haji Lane – Singapore Out & About


Haji Lane – Singapore Out & About

Terletak di antara gang sempit, kawasan ini memang terkenal sebagai salah satu spot foto yang instagrammable. Caelah!

Siapa mengira, bahwa di antara tahun 1800-1960an, toko-toko yang berjejer di kiri kanan itu adalah pondok tempat para jemaah haji menginap, dalam perjalanan menuju Mekkah. Demi menghemat uang saku, mereka akan berjualan apa saja yang penting laku. Dari sini lah nama Haji Lane didapat kawasan ini.

Kurun waktu 1960-1970an, tempat ini kemudian terkenal sebagai tempat belanja penduduk Melayu yang hidup kekurangan. Mereka bisa mendapat banyak barang berharga murah di sini.

Beda sekali dengan sekarang ya. Setelah menjadi salah satu spot berfoto para turis, sebuah henna sederhana yang dilukis di atas tangan bisa berharga $15-$25. Padahal cuma gambar setangkai bunga sederhana. Oh, well.

Di tempat ini bisa ditemukan banyak sekali cafe, tempat makan termasuk rumah makan Padang. Tidak ketinggalan tempat belanja barang-barang khas Turki seperti lampu-lampu cantik dan karpet indah. Pastinya beragam kain-kain cantik dengan harga yang lumayan bikin dompet mlipir cantik. Mencari wewangian atau oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah? Juga ada di sini.

Oh ya, selain Sari Ratu sebagai tujuan mengisi perut dengan cita rasa khas Indonesia, Kampung Gelam Cafe adalah salah satu tempat yang bisa dijadikan alternatif untuk menyicipi kuliner khas Melayu. Menu seperti lontong, mee siam, mee rebusnya maknyussss! Harganya pun ramah di kantong. Ada pula kuliner khas Swedia seperti Fika Cafe, atau masakan khas timur tengah. Semua berjejer rapi demi memanjakan lidah.

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Rumah Ke-2


Rumah Ke-2

Empat belas tahun sudah saya turut merasakan gegap gempitanya warna merah putih berkibar di negara ini. Merah putih yang berhias bulan dan bintang.

Empat belas tahun yang tanpa terasa saya lalui di negara sejuta denda ini dengan segala pasang surutnya yang bak roller coaster nya kehidupan. Seru dan selalu menantang.

Jika ditanya apakah saya menikmati setiap detik yang saya lewati selama ini, jawaban saya tentu saja ya. Singapura adalah rumah kedua saya. Tempat dimana saya membangun keluarga kecil dan mengajarkan anak-anak segala hal tentang kebaikan, kepekaan sosial, keberagaman, kesetaraan, tanggung jawab, dan tentu saja disiplin.

Singapura memang menyenangkan. Bersih, teratur, tertib, patuh, tenang, nyaman, aman. Walau aman bukan berarti tanpa kewaspadaan. Low crime doesn’t mean no crime, begitu ujar suami saya yang kerap mengingatkan kami semua untuk tidak terlena dan lengah.

Beragam budaya, bahasa, ras hingga agama, tumbuh bersama dan saling berdampingan di negara ini. Tanpa saling caci, hujat, maupun mengecilkan satu sama lain.

“We, the citizens of Singapore, pledge ourselves as one united people regardless of race, language or religion, to build a democratic society based on justice and equality so as to achieve happiness, prosperity and progress for our nation.”

Pledge yang setiap pagi wajib dibaca semua murid di sekolah ini benar-benar menunjukkan, betapa semua warganya harus hidup rukun dan saling menghargai. Jika ingin ketenangan dan kenyamanan hidup betul-betul tercapai.

Meski hanya sebuah titik kecil di peta dunia, Singapura memang luar biasa. Hingga tenang rasanya hati menjadikannya rumah kedua.

Selamat 55 tahun Singapura! Semoga makin luar biasa dan menjadi satu titik kecil yang terus bersinar terang di peta dunia.

Love, Rere

Singapore National Day 9 August 1965 – 9 August 2020

Singapore’s Phase Two – New Normal Be Like …


Singapore’s Phase Two – New Normal Be Like …

Sejak merebaknya pandemi di seluruh belahan dunia, pemerintah Singapura memberlakukan Circuit Breaker bagi semua warganya. Segala pembatasan pun mulai diterapkan. Praktis sejak saat itu, kami sekeluarga hanya tinggal di rumah saja. Suami bekerja dari rumah, dan anak-anak bersekolah dari rumah serta mengerjakan semua tugas secara daring. Saya, hanya pergi berbelanja kebutuhan pokok sekali dalam 2 minggu.

Hingga memasuki awal bulan Juni kemarin, Singapura mulai memberlakukan pelonggaran circuit breaker bagi warganya. Kami mulai diperbolehkan keluar rumah dengan lebih bebas, walaupun tetap harus mengikuti aturan yang ditetapkan.

Sampai tiba masanya pemerintah memberlakukan pembukaan fase ke-2 sejak 15 Juni 2020. Ditandai dengan dibukanya beberapa tempat yang sebelumnya ditutup, dan kelonggaran bagi warganya untuk melakukan aktifitas secara normal. Tentu saja dengan beberapa protokol kesehatan yang harus dipatuhi.

Meski pemerintah setempat memandang bahwa keadaan relatif stabil dan tidak ada kenaikan grafik penderita virus, kami semua dihimbau untuk tidak memandang pembebasan ini sebagai kehebohan baru. Kami tetap harus memakai masker di mana pun berada, menjaga jarak satu sama lain, dan tetap menjaga kebersihan dengan rajin mencuci tangan.

Well, paling tidak kami semua berharap roda perekonomian kembali normal, dan anak-anak bisa kembali bersekolah walau harus menggunakan masker atau face shield seharian. Para pekerja juga bisa kembali ke kantor dan melakukan tugas seperti sebelumnya.

Sementara saya, kembali bisa bertemu dengan beberapa sahabat untuk sekedar duduk bercengkrama di kedai kopi favorit. Walau hanya terbatas 5 orang dalam 1 meja yang harus tetap berjarak. Tentu saja pemakaian masker juga tidak ketinggalan. Karena pemerintah tidak segan menjatuhkan denda dan hukuman bagi para pelanggar aturan.

Jadi begini lah kehidupan baru yang harus kami jalani saat ini. Tetap bersyukur dan selalu mematuhi peraturan adalah kunci. Jaga diri dan sekitar itu tentu lebih baik.

Semoga pandemi segera berlalu, namun jika tidak, pandang lah ini sebagai sebuah bentuk kehidupan baru. Berdamai lah dengannya dan jadikan ini sebuah kebiasaan yang baik untukmu.

Love, Rere.