MAUDY YANG AYU


MAUDY YANG AYU

Bolak balik kutonton video, saat sang artis muda nan Ayu naik ke podium untuk menerima gelar Masternya. Bukan tempat belajar sembarangan, namun dari sebuah universitas bergengsi di luar negeri.

Bermunculan kemudian suntingan berita dan tampilan foto miliknya, yang nampak sumringah berkebaya warna merah.

Sebagai ibu, aku pun ikut bangga. Sama seperti ribuan orang tua lain, yang mungkin akhirnya menunjukkan pencapaian akademik sang artis muda sambil berujar.

“Tuh lihat Maudy yang Ayu ini. Cantik, cerdas, terkenal, mementingkan pendidikan, sekolah di tempat yang membanggakan. Kamu harus seperti dia, ya.”

Moms, aku pun kagum pada si gadis Ayu. Namun menyuruh putri-putri kecilku untuk jadi sepertinya? Hmm … rasanya akan jadi hal yang paling terakhir sekali, bahkan tidak mungkin akan kulakukan.

Justru yang terjadi kemudian adalah, aku berkaca pada diri sendiri sambil berpikir, bagaimana orang tua si gadis Ayu mendidiknya di rumah. Itu yang terlintas, bukan keinginan untuk menunjukkan pencapaian sang gadis muda pada anak-anak saja.

Hmm … Pasti ayah si gadis ayu telah bekerja begitu keras, hingga mampu memberikan kedua putri cantiknya pendidikan dasar yang sangat baik, dengan biaya yang tentu tak sedikit. Puluhan tahun yang lalu, Jerman adalah tujuanku melanjutkan sekolah dengan mimpi meraih gelar master di sana. Mengapa Jerman? Karena Bahasa Jerman adalah salah satu mata pelajaran yang dengan baik kukuasai selama sekolah.

Apa daya. Mendapati biaya yang harus ditanggung papa, sebelum menemukan pekerjaan sambilan sembari kuliah, menghentikan semua mimpi yang telah tertanam sejak belia.

Aku kan, bukan artis terkenal, yang sudah punya uang jajan, dan sejumlah tabungan.

Bagaimana mungkin tega meminta sejumlah uang dari orang tua untuk modal berangkat kuliah ke lain negara, ketika biaya study tour ke Jogja jaman SMA saja tak sanggup kuminta. Padahal jumlahnya hanya ratusan ribu saja. Hingga akhirnya, aku jadi satu-satunya murid yang tidak berangkat study tour dari sekolah. Meski Jogja lalu menjadi bagian hidupku tanpa diduga, beberapa tahun lamanya.

Sejurus kemudian terdengar suara cekikikan kedua putriku dari kamar sebelah, dan suara si bungsu, menirukan bunyi yang didengarnya dari televisi di ruang tengah. Ahh, selama mereka tumbuh sehat dan bahagia, rasanya tak perlu menanamkan keinginan terlalu dalam, untuk melihat sosok sang gadis ayu menjelma dalam diri ketiganya.

Kunikmati saja alur hidup yang saat ini ada di hadapanku. Kekonyolan si sulung yang kadang bikin malu, perjuangan setengah mati si tengah menghadapi kelas akselerasi, dan ributnya suara si bungsu yang bermimpi jadi Youtuber terkenal seperti Comodo Gaming. Hahahaha!

I will always support you, guys! Me and your dad. Ayah yang tanpa lelah berjuang memberikan kehidupan yang baik untukmu semua. Meski usianya beranjak tua, ia tak pernah mengeluh dirinya lelah.

Tugas kami berdua, hanya membimbing serta mengawasi saja. Tumbuhlah dengan ceria dan nikmati semua prosesnya. Jatuh bangun, gagal berhasil, gagal lagi lalu bangkit, dan belajar darinya.

Tak perlu menjadi orang lain, dan berharap nasibmu sama seperti si gadis Ayu, atau public figure lainnya. Just be you, dengan banyak perbaikan tentu, serta keinginan untuk maju. Untukmu, dan masa depanmu.

Selamat ya, gadis Ayu! Salam hormat untuk ayah ibumu.

Love,
Rere

TURUN MESIN


TURUN MESIN

Menarik memperhatikan berita yang belakangan ini ramai diperbincangkan.

Sambil membaca dan menggali dalam, kubayangkan lelaki muda itu adalah Rayyan. Ia yang bahkan tidur pun masih masuk ketiakku, yang kadang bau belacan. Ia, yang ketika melihat sang ayah bercanda dengan pura-pura meninju lengan, akan melindungiku dengan tangan kecilnya penuh kekuatan. Ia juga akan balik memukul sang ayah, meski tertawa lepas setelahnya.

Itu … hanya bercanda.

Bukan ia saja, lelaki kecil yang sejak dini paham bahwa dirinya adalah penjaga keluarga. Kedua putri kecilku pun sama juga. Mereka yang selalu memeluk manakala melihat sang ayah berakting memukul lengan sang ibu.

Itu … hanya akting padahal.

Tak terbayang apa yang akan benar-benar mereka lakukan, manakala melihat sang bunda disakiti hatinya. Jiwa dan raga. Tak kira kecilnya badan, mereka pasti akan maju membela tanpa perhitungan.

Beruntung, tak salah kupilih pendamping hidup. Ia, yang mendampingiku “turun mesin” sampai kali ke tiga. Ia yang selalu mengingatkan ketiga buah hatinya untuk tak lepas memperhatikan keberadaan, kesehatan, bahkan kebahagiaan sang bunda.

“Remind her to drink water, from time to time.”
“Listen to bunda, and don’t make her angry.”
“Massage her back and remind her to rest.”
“Apply lotion on her back, when I’m not around.”

Tentu saja ini hanya sebagian. Belum lagi rentetan pengingat bahwa bunda harus dihormati dan disayangi, juga dibantu mencari kaus kaki yang selalu lupa ia letakkan di mana. Padahal tidak ada satu pun barang di rumah yang hilang, kecuali tak ia temukan. Hanya kaus kaki miliknya sendiri saja, yang bolak-balik raib tak tentu rimbanya. Aku … perempuan yang sudah turun mesin itu, memang hampir tak merasa perlu mengingat segala hal tentang diriku melulu.

Mengetahui sang belahan hati turun mesin berkali-kali, lelaki beruban itu toh tak lantas pergi. Malah menjagaku yang makin renta kini. Kursi pemijat ini salah satu bukti. Betapa ia tak ingin melihat sang pendamping yang sudah tua dan performanya turun ini, semakin berkarat sebelum benar-benar harus pergi.

Meski pijatan mesin ini bagiku tak senyaman tangan kekarnya, yang selalu memijat punggung lemahku dengan cinta. Tapi caranya menjaga serta tak menganggapku bak sebuah mesin yang sudah aus, membuatku yakin, putra kecil kami tak akan perlu berkeluh kesah seperti lelaki muda itu.

Hey, you … lelaki muda yang kini banyak dianggap durhaka, pada mereka yang mengagumi dengan gelap mata. Kurasakan cintamu yang tulus dan penuh untuk sang ibu. Kuyakin kelak pada istri dan anakmu, kau paham caranya mencintai dengan sungguh-sungguh. Tak menganggap belahan jiwamu mesin yang akan turun, hingga perlu diganti dengan yang baru. Kuyakin itu. Doaku untukmu, dan juga ibu cantikmu.

Love, Rere

CHANGE … FOR YOU


CHANGE … FOR YOU

“Kek mo mati gue!”

Begitu ekspresi saya pagi tadi, setelah sekian lama berhenti dari olahraga.

Ya, setelah jatuh sakit berkali-kali bahkan sejak sebelum bulan puasa kemarin, saya memang membatasi diri dan tak mau terlalu petakilan seperti biasa lagi. Namun rupanya saya jadi semakin malas berolahraga. Asli. Malas luar biasa. Akibatnya, justru badan rasanya makin tak karuan.

Love yourself, love yourself, love yourself.

Saya lalu ingat kalimat ini, yang berulang kali saya katakan pada diri sendiri.

Akhirnya, hari Minggu kemarin saya kembali beryoga, dan hari ini menyeret kaki untuk piloxing barre lagi. Meski rasanya setengah mati hingga kerap berhenti. Peace, Leti! 🤣

Ladies, jangan segan dan malas untuk berubah, yuk! Jangan dengarkan omongan kiri kanan yang mungkin akan bilang, “Elu olahraga mulu, kok enggak kurus-kurus?”

Oyy!

Olahraga itu bukan nyari kurus, Cuy! Olahraga biar badan segar, otot enggak kaku, pikiran juga relaks plus enggak kusut. Olahraga itu buat elu … bukan buat mereka yang pingin lihat elu kurus.

Berubah, yuk. Buat diri sendiri aja dulu. Berubah, cuma buat kamu.

Bunda, can we go jogging tomorrow?”
“Okay, Boss!”

I’m ready now. Are you ready to change, dearies?

Love,
Rere

CAMPING FAIL


CAMPING FAIL

“We’re dead! We’re gonna die! Oh my God!”

Teriak putra bungsu kami yang waktu itu baru berusia enam tahun. Inilah sekelumit kisahnya, pada suatu hari di tahun 2017, yang lumayan traumatis dan penuh drama.

Cuaca awalnya sangat bersahabat ketika kami berlima tiba di lokasi pada Sabtu pagi. Sebuah tempat khusus untuk berkemah, di salah satu sudut East Coast Beach yang indah. Pagi harinya memang berselimut mendung dengan guyuran hujan. Untungnya, ketika kami tiba untuk mendirikan tenda, matahari muncul dengan malu-malu. Hembusan angin segar juga menyambut kedatangan kami semua. Hanya butuh sekitar 30 menit saja, untukku dan suami mendirikan tenda yang ukurannya lumayan besar.

Perkemahan pun berjalan lancar, anak-anak sangat menikmati keseruannya hingga malam datang. Ini adalah pengalaman pertama mereka, tidur beralas rumput, berhiaskan bintang-bintang. Aku yang sudah melengkapi diri dengan banyak “peralatan perang” pun mulai membuat masakan. Instant noodle, Milo sachet, lengkap dengan sayuran, telur, bakso, dan sausages.

Feels like home!

Agenda kami selama dua hari itu, memang hanya berenang, main pasir, tiduran, dan makan saja. Kebetulan hari itu adalah jadwal libur sekolah anak-anak. Tenda yang kami bawa itu pun masih terhitung baru, karena hanya sekali saja kami pakai untuk berkemah tanpa menginap. Hanya nampak beberapa lubang kecil akibat penyimpanan di gudang. Tak masalah, toh, cuaca terlihat cerah.

Hari Minggu, seharusnya kami berencana pulang selepas Asar. Tapi karena ketiga bocah yang kelihatan happy dan enggan untuk pulang, maka saya putuskan untuk berkemas selepas Magrib saja. Meskipun suami sudah mengajak untuk beres-beres sejak siang.

Apa daya, manusia punya rencana, Allah sang penentu segala.

Sekitar pukul lima petang, hujan rintik-rintik mulai datang. Awalnya kami anggap hanya sebentar, seperti yang terjadi pada Sabtu sore sebelumnya. Ternyata hujan rintik itu seketika menjadi besar.Bukan sekedar hujan biasa tapi hujan angin, persis seperti badai.

Tenda kesayangan yang meskipun baru kali kedua dipakai, usianya memang sudah lumayan lanjut, dan melapuk seiring waktu. Apalagi, sekian lama hanya nongkrong di sudut gudang. Lubang-lubang kecil yang awalnya tak saya hiraukan, ternyata membuat semuanya berantakan.

Tenda yang dibeli suami di Amerika itu pun nyaris melayang terbang, padahal aku sedang memasak mie instan. Ketiga anak kami pun berteriak histeris, karena air sudah mulai masuk dengan cepat ke dalam tenda. Angin yang berputar kencang juga hampir merobohkan semua tenda yang ada di lokasi perkemahan.

Rasanya campur aduk ketika itu. Antara panik memikirkan mie yang sedang dimasak, melihat semua tas sudah terendam air, plus harus saling membantu menahan pondasi tenda, yang hampir terbang tertiup derasnya hujan dan angin. Suasana betul-betul mencekam karena kami seperti terjebak di tengah hujan badai. Waktu itu Lara masih berusia 11, Lana 10 tahun, dan Rayyan baru saja enam tahun. Ia menangis ketakutan.

“We’re gonna die!” katanya dengan wajah pucat dan tubuh menggigil kedinginan.

Akhirnya dengan gagah perkasa, di antara tatapan iba para campers lain yang berteduh di bawah gazebo sekitar tenda, aku berjuang menembus angin dan hujan. Bergantian mondar-mandir membawa ketiga anak, beserta beberapa backpack besar untuk berteduh, di dalam toilet dan changing room terdekat. Sementara sang ayah berjuang menahan pondasi tenda supaya tak keburu terbang.

Untung saja kupilih suami bertubuh gagah dan kuat. Sendirian, ia menahan pondasi tenda yang sudah siap melayang.

Phew! It was a very tense moment for us, especially the kids. Layaknya adegan dalam film laga yang penuh dengan ketegangan, pengalaman kemah pertama anak-anak berakhir dengan sangat dramatis. Di tengah ketakutan dan tangis mereka, aku harus nampak kuat, meski tubuh sudah menggigil kedinginan akibat menembus hujan.

“Guys, listen. It’s an emergency situation. You have to be strong because we gotta help each other. Can we do that and support each other?”

Beruntung kedua putri saya sangat luar biasa. Mereka saling berpelukan untuk menguatkan, juga menenangkan adik bungsunya yang begitu histeris ketakutan.

Setelah anak-anak dan semua barang aman, aku kembali membantu suami. Kami putuskan untuk membuang tenda kesayangan beserta beberapa bantal, selimut, dan semua peralatan masak. Tak sunggup rasanya harus membawa semua barang itu kembali. Tubuhku sudah lemas, rasanya stress luar biasa menghadapi perubahan ekstrim yang terjadi.

Akhirnya, farewell tenda kesayangan. Jasamu akan selalu kami kenang. Selamat memasuki peraduanmu yang abadi. Di dalam tong sampah kau harus pergi.

Lesson learnt, jangan pernah mengabaikan peringatan alam, dan jangan pernah ngeyel sama suami tersayang. Hahaha! Kapok!

Pasir Ris, 22 May 2017

Love, Rere

TAKE A BREAK


TAKE A BREAK

Bunda! Are you okay? Guys! Come help!”

Begitu pekik putri saya yang sulung kemarin pagi, melihat sang bunda mendadak tak bisa berdiri.

Ya, sudah seminggu ini kondisi saya memang sedang tidak baik. Sakit pada perut, pinggang dan punggung sebelah kanan ini sangat menyiksa. Mencoba untuk menghindari rumah sakit di Phase Two Heightened Alert kali ini, menjadi alasan saya bertahan. Hanya minum obat penahan sakit yang bisa saya lakukan. Beruntung suami sedang bekerja dari rumah hingga bisa membantu mengurut badan si istri yang melemah.

Bagaimana ini semua terjadi? Semua kesalahan saya sendiri, yang menganggap bahwa tubuh ini sama kuat seperti ketika usia masih 20-an.

Dengan sombongnya saya mengangkat sebuah lemari buku yang beratnya minta ampun. Setelah itu rasa tidak nyaman saya alami di bagian groin sebelah kiri. Seperti ada rasa kesetrum ketika berjalan atau pada posisi tertentu.

Alarm itu saya acuhkan.

Kemudian saya sibuk mempersiapkan hantaran Lebaran untuk beberapa teman dan saudara. Duduk seharian mengerjakan jelly cake rupanya membuat tubuh semakin tak karuan. Selesai dengan belasan kotak, saya tak lagi bisa berdiri tanpa berpegangan. Kali ini sakit mulai datang di bagian kanan.

Alarm kedua tetap saya acuhkan.

Menjelang lebaran saya kembali sibuk memasak, untuk rumah dan beberapa bingkisan. Kembali seharian saya berdiri mengerjakan segala hal sendiri, dengan kondisi sakit yang makin menjadi. Sehari sebelum lebaran, saya masih mengantarkan semua bingkisan keliling Singapura bersama keluarga.

Rasa sakit yang terus menyerang tetap saya acuhkan, hingga bisa berkunjung ke rumah kerabat dan menerima tamu di hari raya. Sampai akhirnya kemarin pagi, saya benar-benar tak mampu berdiri lagi.

Panik, suami hampir memanggil ambulance untuk membawa saya ke rumah sakit. Waktu itu saya sedang sibuk membuat prakarya dari bahan clay. I know, saya memang tak tahu diri. Sudah tahu sakit, bukannya banyak berehat malah cari sibuk sendiri.

Saya bosan hanya bisa tiduran selama dua harian. Padahal banyak pekerjaan harus saya selesaikan. Tapi apa daya saya tak bisa berdiri atau duduk terlalu lama, karena beberapa pekerjaan mengharuskan begitu adanya.

Namun saya menyerah, dan pergi ke rumah sakit diantar seorang sahabat suami. Saya menolak diangkut ambulance seperti usul suami sebelumnya. Rasanya takut, malah nanti khawatir sendiri.

Tiba di rumah sakit saya segera menjalani tes urin yang hasilnya normal. Alhamdulillah. Hanya tekanan darah yang meninggi, akibat anxiety dan upaya menahan rasa sakit yang kadang membuat tubuh menggigil.

Diagnosa dokter ternyata saya mengalami lower back pain. Phew! Bayangan saya awalnya adalah HNP, hernia atau usus buntu. Alhamdulillah, saya tak perlu dirawat hari itu. Dalam lima hari saya akan diobservasi dengan beberapa jenis obat. Kalau sakitnya datang lagi, saya harus menemui seorang orthopedis.

Saya merasa frustasi, karena tidak mengira di usia 45 harus mulai bisa menahan diri. Tak lagi sok kuat dan berusaha melakukan semua hal sendiri. Saya juga harus berusaha bergerak lebih lambat, tidak gedubrakan seperti hari-hari kemarin. Tentu tidak lagi bisa petakilan seperti biasanya. My oh my. Saya ini bahkan jalan pun tak bisa pelan, Cinta! Bayangkan saja.

Hari ini kondisi saya mulai membaik, bisa berjalan tegak meski harus melangkah super pelan. Beberapa posisi membuat sakit pada bagian belakang itu datang lagi. Sigh.

Teman-teman perempuan, jaga diri kalian. Tak perlu menunggu semaput untuk paham bahwa tubuh butuh perhatian. Kita adalah prioritas utama, karena sakit itu sungguh tidak menyenangkan. Jangan segan untuk mengatakan pada suami dan anak-anak apapun yang kita rasakan. Mereka adalah support system terbesar yang kita miliki. Mereka harus tahu apapun yang sedang terjadi, serta harus saling menguatkan satu sama lain. Mereka juga harus saling membantu dan mampu mengambil alih semua pekerjaan sang ibu.

Saya adalah ibu dan istri yang sangat beruntung. Anak-anak dan suami begitu sigap memberikan bantuan sepenuh cinta, setiap kali kondisi saya menurun, dan tidak pernah menganggap saya lebay atau mengada-ada. I’m blessed.

Salam penuh cinta dan semoga semua selalu sehat jiwa raga.

Loosen up, Ladies. Sometimes giving ourselves a break, is the very thing we need.

Love, Rere

KEBAYA


KEBAYA

Hari Kartini selalu membawa ingatanku di masa SD dulu, kelas empat kalau tak salah waktu itu.

Si itik buruk rupa, yang meskipun prestasi akademisnya membanggakan, namun selalu kalah karena rupa dan penampilan. Penampilan fisik waktu itu memang membuatku kerap jadi korban perundungan.

Hari Kartini di tahun 80-an itu, adalah kali pertamaku berani maju ke depan. Mama yang “memaksa” putri kecilnya yang gak punya kepercayaan diri ini, buat tampil berani.

“Aku enggak bisa lenggak-lenggok depan orang, Ma. Aku kan enggak cakep.”
“Kata siapa anak Mama enggak cakep? Yang penting nanti jalan saja seperti biasa. Senyum lebar seperti kalau kamu ketawa di rumah.”
“Tapi kan, gigiku gede-gede, jarang lagi, trus warnanya juga enggak putih. Malu, Ma.”
“Ayo ah, berani. Anak Mama pasti bisa.”

Akhirnya dengan terpaksa kuturuti keinginan mama buat mengikuti sebuah lomba keluwesan. Sebenarnya di kelas satu aku pernah ikut berkebaya juga, namun hanya pawai bukan lomba. Pengalaman pertama yang traumatis, karena semua orang tertawa melihat sanggul di kepalaku, yang bak helm kebesaran abis.

Pagi itu, hari Kartini sekitar tahun 1985. Kupakai sanggul yang dibuat mama di salon kecil miliknya, dan baju kebaya warna merah warisan mama di masa muda, yang dikecilkan malam sebelumnya. Dengan wajah kemerahan menahan gugup, kupasang senyum lebar meski jantung kencang berdegup. Dari sudut mata kulihat wajah-wajah sinis yang menertawakan. Pasti mereka berpikir, tak mungkinlah si itik buruk rupa ini yang menang.

Upacara bendera hari Senin berikutnya, rupanya ada pengumuman. Takjub, namaku yang terpilih jadi pemenang lomba keluwesan. Kubenamkan wajah di balik topi merah putih dalam-dalam, ketika maju menerima hadiah kemenangan. Lagi-lagi beberapa mata memandang sinis dan berbisik tidak senang. Bagaimana mungkin si itik buruk rupa yang jadi pemenang.

Hari Kartini mungkin hanya nampak soal kebaya dan kebaya saja bagi sebagian. Tak banyak yang paham apa artinya bagi beberapa orang. Termasuk diri ini yang dulu selalu merasa jadi korban. Hari Kartini bikin perempuan kecil itu sadar, dia bukan sekedar itik buruk rupa yang tak pernah akan jadi orang.

Kartinian bukan sekedar kebayaan. Kartinian membuat para perempuan berpikir dengan sadar, “Gue harus merasa nyaman.” Mau kebayaan atau dasteran, yang penting punya kebisaan dan prestasi membanggakan. Jadi ibu Kartini tak perlu melihat kebaya sebagai sebuah penderitaan. Nantilah suatu saat di alam lain, asumsi ini akan kutanyakan. Tapi mohon, jangan cepat-cepat didoakan.

Love,
Ibunya Rayyan (Bukan Ibu Kartini)

Then And Now


Then And Now

“Do you have a boyfriend, Kak?”

Begitu tanya suami saya semalam, ketika kami berlima sedang berbuka puasa.

Pertanyaan ringan yang membuat kedua putri saya makjegagig, njenggirat. Sambil saling memandang, mereka berdua tertawa girang.

“Apelah Ayah ni,” jawab si tengah menjadi juru bicara sang kakak yang tak mampu berkata-kata.

Saya tersenyum simpul. Rasanya baru saja kemarin, mereka berdua memakai tas punggung bertali yang terkait pada kedua lengan saya, supaya kedua balita pecicilan itu tak bisa berlarian. Rasanya baru kemarin saya menggendong Rayyan, mendorong Lana dalam keretanya, dan menggandeng tangan mungil Lara, turun naik kendaraan umum ke mana-mana.

Sekarang saya harus siap jika suatu hari nanti, ada lelaki muda mengantar mereka berdua pulang ke rumah. Meski tak ingin membayangkan, namun cepat atau lambat saat itu pasti akan datang.

Sang ayah hanya tidak ingin putri-putri kecilnya nanti terkaget-kaget manakala mendapat surat cinta dari seseorang. Walaupun saya tahu, ia akan menjaga mereka berdua sekuat tenaganya.

“Bunda, do you know the feeling of being neglected by your crush?”

Hadeh! Kalau yang satu ini, tak perlu ditanya tentang urusan cinta. Rasanya ia cuma butuh dijitak dan dijewer saja.

Love, Rere

Bukan KARTINI


Bukan KARTINI

“Mbak, kerja di mana?”
“Hmm … how do I put it in one word?”

I’m a wife and a mother.

Now let me elaborate that.

Sebagai seorang istri, tugasku adalah menjaga suami. Membuatnya sehat, sehingga jauh dari penyakit. Membuatnya nyaman, hingga ia betah berada di rumah yang bersih dan terawat. Menjaga asupan makanan, supaya sehat pencernaan. Memastikan semua pengeluaran, agar titik peluhnya tak melayang entah ke mana. Paling utama adalah menjaga martabat dan nama baiknya, dengan tidak berlaku sembarangan.

Sebagai seorang ibu, tugasku banyak bukan cuma itu. Aku adalah seorang juru rawat, yang harus sigap menangani segala penyakit yang datang menyerang. Aku adalah sang juru masak, yang harus memastikan semua isi perut kenyang. Aku adalah si ahli gizi, yang harus selalu menjaga kesehatan semua penghuni. Untuk itu aku harus menjadi seorang stockist, yang memantau ketersediaan bahan makanan, dari yang gurih hingga manis.

Aku juga menjadi tempat laudry, yang harus menjaga semua pakaian bersih dan wangi. Aku pastinya adalah seorang cleaning service, yang harus memastikan semua ruangan bersih tanpa kotoran atau bau amis.

Aku pun adalah seorang psikolog, yang bahunya harus siap menjadi tempat bersandar dari sebuah kekecewaan atau tangisan. Kadang aku juga jadi seorang plumber, yang berbekal peralatan sederhana, harus membetulkan pipa atau apa pun yang mampet. Oh, tempo-tempo aku juga harus siap menjadi sebuah ensiklopedia. Tempat semua orang bertanya di mana letak pakaian, siapa itu Tuhan, bagaimana bentuk gorgonian, atau bagaimana cara membetulkan mainan.

Kadang aku lupa rasanya menjadi seorang perempuan, yang lemah lembut dan selalu butuh perhatian. Hari-hariku sudah terlalu penuh untuk sekedar memikirkan. Sampai di hari spesial, aku justru sibuk dengan segunung cucian.

Jadi, bagaimana aku harus menjawab pertanyaan tentang pekerjaan, dalam satu kalimat sederhana? Jika setiap harinya, tugasku berubah tergantung keadaan. Padahal aku bukan perempuan hebat, tanpa deret gelar pendidikan, tanpa kartu nama dengan profesi menggiurkan, dan juga bukan sosok ternama. Seperti Kartini yang namanya harum, hingga selalu dikenang sepanjang kehidupan.

Namaku … hanya Bunda. Bunda saja.

Love,
Rere

Kantong Doraemon


Kantong Doraemon

“Mama kok mumet liat isi tas dan kopermu. Penuh sama kantong Doraemon. Opo ae iku isine?”
“Ih, aku yang mumet liat isi tas Mama. Semua campur aduk. Ini lho pake kantong-kantong jadi rapi.”

Begitulah mama, setiap kali melihat saya packing sewaktu masih bekerja dulu.

Beberapa kantong mungil dengan motif senada, menjadi isi koper serta tas tangan yang selalu saya bawa.

Dalam koper, kantong-kantong itu berisi baju bersih, baju kotor, jeroan alias daleman, juga sepatu ganti. Kantong lainnya berisi make up lengkap, pembersih muka dengan kapas dan segala peralatan perempuan, toiletries, obat-obatan, tissue baik kering, basah maupun untuk toilet. Ada lagi kantong untuk segala rupa kabel beserta charger juga power bank, plus assesoris dengan kantong-kantong kecil dalam sebuah kantong berukuran sedang. Kantong dalam kantong, alias kantong beranak. Oh, tak lupa kantong berisi minuman sachet, lalu kantong terpisah untuk cemilan.

Bayangkan, ada berapa banyak kantong dalam satu koper?

Bagaimana dengan isi tas tangan? Ya, sama juga walaupun lebih simple.

Ada kantong kecil berisi make up untuk touch up, kantong untuk tissue, dompet kecil untuk kartu, key pouch, dan kantong obat. Oh, satu lagi untuk printilan seperti minyak oles, sanitizer, dan lain-lain.

Buat saya, seperti ini lebih memudahkan untuk mencari barang yang diperlukan. Namun tidak begitu bagi sebagian, misalnya mama. Menurutnya, saya adalah manusia yang ribet. Hahahaha! Berbeda dengan saya si kantong Doraemon, isi tas mama hanya sebuah dompet, dan segala rupa barang bercampur aduk menjadi satu.

Biasanya, kalau saya yang disuruh mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan tidak kunjung menemukan, akan saya jungkir balikkan saja seluruh isinya. Kok, mumet melihat segala macam barang bercampur amburadul. Setelah itu saya akan menata dengan rapi, lalu memasukkan beberapa kantong kecil di dalamnya. Tentu saja tak bertahan lama, karena esok hari, isinya kembali seperti semula.

“Pusing ah, Mama, liat banyak kantong. Malah kesuwen mbukak satu per satu.”

Ya, salam!

Kalau kamu, geng kantong Doraemon apa geng Mama?

Much Love,
Rere

D.I.Y FASHION


D.I.Y FASHION

Hmm … D.I.Y?

Yes! Do It Yourself.

Siapa bilang untuk jadi fashionable butuh modal besar?
Siapa bilang untuk jadi fashionista butuh branded stuffs atau designer clothes?

Be your own design artist, Gengs!

Buka lemari, cari baju yang sudah kekecilan, atau malah kebesaran, atau yang sudah tidak terpakai karena sesuatu hal.

Cari inspirasi dari internet yang bejibun dibagi, buka Pinterest untuk ide seru, dan cari video tutorial yang kamu mau.

Saya memang bukan penjahit betulan, karena hanya belajar secara otodidak. Menjahit baju baru nyatanya memang kurang menarik hati saya. Mendhedeldhuwel baju lama yang dijadikan baru rasanya lebih menarik kalbu. Caelah!

Apa saja D.I.Y Fashion yang pernah saya buat? Semoga menjadi inspirasi ya, Gengs!

Yuk, buka lemarimu dan bikin sesuatu yang lama jadi baru!

Love,
Rere & SewAdorableYou!

PS: Ini hanya sebagian kecil hasil oprekan tangan saya mendhedeldhuwel baju lama. Ada beberapa baju yang kemudian berubah bentuk menjadi tas bertali, atau lunch bag tempat anak-anak menyimpan kotak makan.