THE POWER OF IGNORANCE


THE POWER OF IGNORANCE

“Lho, kok bantalnya cuma dibungkus satu? Satu lagi mana?”

Kalian gemes liat itu bedsheet kiri kanan beda? Makin gemes melihat bantal yang tak bersarung di atasnya? Toss! Kita sama.

Tapi itu dulu.

Setelah bertahun-tahun melihat mereka sengaja memasang bedsheet berbeda untuk menandakan entah apa, sang ibu OCD memutuskan buat, “Yawes … karepmu, lah!”

Semudah itu?

Eits! Kalian pikir mudah menjalani hari sebagai seorang OCD? Jangankan cuma bedsheet yang tak sewarna dan tersusun rapi, gantungan baju tak searah pun bisa bikin mood jungkir balik.

Tapi itu dulu.

Sekarang, semua ketidakteraturan ini kuanggap terapi. Biar tak terlalu membebani diri, dengan harus begitu dan begini. Lemari bajuku pun kubiarkan tumpang tindih, meski hasrat untuk membuat rapi masih sering menghantui.

Bedsheet kedua gadis kecil itu kubiarkan saja berbeda warna. Meski dua bantal yang tak bersarung tetap kubungkus juga, setelah ngomel dari Sabang sampai Merauke di pagi buta.

Hidup harus seimbang, bukan?

Secangkir kopi and the power of ignorance jadi penyelamat melewati detik demi detik ke depan. Aku masih ingin wajah tanpa keriput berlebihan, akibat otak yang terlalu diperas habis-habisan karena OCD yang kerap membutakan.

Kamu juga, kan? 😆

Love, Rere

Thank You, Self!


Thank You, Self!

Hi, Ladies!

Sudah bilang terima kasih sama dirimu belum?
Sudah bilang cinta sama jiwamu?
Sudah menepuk bahu dan bilang, you are doing great, hatiku?

Meski masalah datang silih berganti, air mata jatuh tanpa bisa dibendung lagi, kecewa datang menghampiri, percayalah itu tanda kita masih punya hati.
Meski terkadang “being numb” cukup membantu melewati hari.
Jangan sering-sering, nanti rasamu jadi makin mati.

Turunkan saja ekspektasimu pada sesuatu atau seseorang itu.
Belajarlah untuk lebih banyak berdialog hanya dengan dirimu.
Nyatakan kesukaan dan ketidaksukaanmu pada banyak hal.
Jangan khawatir, tak ada yang bisa menghakimi apapun yang ada di akal.

Tak perlu banyak mengaduh atau mengadu.
Anggap saja semua masalahmu adalah cara-Nya menunjukkan kekuatanmu.
Kekuatan yang tak kau tahu hingga saatnya perlu.

Belajar juga untuk memaafkan diri sendiri, kita masih manusia ini.
Tempatnya salah dan kerap mengulangi.
Namanya juga proses mengenali diri.
Asal berani dan ingat untuk selalu mengapresiasi.
Tak perlu berharap setengah mati didapat dari orang lain.
Cukup seduh secangkir kopi seraya berbisik, “Terima kasih, DIRI!”

Love, Rere

Tentang Cinta


Tentang Cinta

“Adek, ayo cepat! Ambil bag Bunda yang Miu Miu biru sana, atau MJ juga ada warna biru. Pake baju biru, kan?”
“Iyaaa, Maam.”
“Udah? Pake bag apa?”
“Bag yang Bunda buat.”
“Ohhh. Why?”
“Because this is your handmade. I like it. Even all of my friends liked it. They said, you’re so cool. You can make everything. Even the foods that you made, they loved it! I’m so proud of you, Bunda. I love you.”

Oh life. So beautiful, indeed.

Tas berbahan denim itu adalah hasil dedhel dhuwel dari celana jeans suami yang sudah tidak dipakai lagi. Ternyata jahitan tangan saya yang acakadut tak sempurna, bahkan tanpa pola itu, lebih dipilihnya. Ketimbang tas-tas saya yang bermerk lainnya.

Thanks, Lana. I know I raise you right.

Love, Rere

V A L U E (Sebuah Perjalanan Hidup)


V A L U E (Sebuah Perjalanan Hidup)

“Urip iku mung mampir ngombe.”

Pernah denger ungkapan dalam bahasa Jawa ini, yang artinya hidup itu cuma mampir minum saja?

Ya, bener juga. Menjalani hari hingga saat ini kadang terasa lama sekali. Namun melihat anak-anak tumbuh dewasa, rasanya waktu berlalu begitu saja. Semudah menghabiskan segelas minuman pelepas dahaga.

Sebentar lagi, tanpa terasa mereka akan lulus sekolah. Lalu kemudian bekerja, membeli rumah lantas menikah, membangun keluarga kecil hingga beranak pinak. Begitu saja sih sebenarnya hidup kita. Benar-benar ibarat segelas air yang hilang dalam setegukan. Hanya perjalanan masing-masing saja yang membedakan. Ada yang bak garis lurus, ada yang berkelok bak zig-zag, ada yang kusut di awal lalu lurus di belakang, atau sebaliknya.

Alur itu terangkum dalam sederet foto ini. Ketika seorang keponakan melepas masa lajang, saya menghadiahinya dekorasi mobil pengantin berwarna terang. Kemudian tiba giliran keponakan yang lain naik pelaminan, sebuah kotak ang paw berbentuk sepasang pengantin berbaju khas Melayu dan berkain songket jadi pilihan.

Berbulan setelah hari itu, saya kembali menghadiahi mereka dengan sebuah bingkisan berbentuk cake bertingkat. Bedanya yang ini tidak untuk dikonsumsi, karena terbuat dari susunan diaper untuk bayi. Yep, saya sudah punya cucu meskipun bukan lahir dari tiga buah hati sendiri. Belum. 😁

Jalan kehidupan kemudian akan kembali berulang, kelak saat para cucu beranjak dewasa. Ketika tiba giliran mereka naik pelaminan, mungkin saya yang akan kembali menghias mobil pengantin meski dengan tangan gemetaran. Lalu sambil membetulkan kacamata yang melorot, mungkin saya juga akan membuatkan kotak ang paw dengan hiasan yang hits nan kekinian.

Semoga … karena saya ingin hidup ini tidak cuma sekedar numpang minum tapi juga berguna, meski tak mampu muluk-muluk menawarkan bantu. Semata hanya karena ingin hidup memiliki value. Meski harus melalui jalan panjang yang berkelok, bahkan berdebu.

Life’s too short, make the most of it.

Love, Rere.

MACRAME ON SANDAL


MACRAME ON SANDAL

Leigh Wedges dari brand Crocs ini adalah sahabat saya ke sana kemari. Sandal berbahan plastik dengan hak model wedges ini sudah cocok dengan kaki. Saking cintanya, sampai punya beberapa pasang dengan warna berbeda sesuai tas yang dipakai sehari-hari. Gitu itu kalau sudah ketemu alas kaki yang nyaman, tak pernah ingin berganti model, kan?

Kalian sama enggak?

Nah, bayangkan ketika salah satu sandal kesayangan itu, kecemplung kubangan air berisi lumpur. Eh, bukan itu saja yang bikin hancur. Strapnya pun ikutan lepas! Ajur!

Kalau di Depok pasti saya sudah keplok-keplok memanggil bapak sol sepatu yang selalu mangkal depan rumah ibu. Di sini? Biayanya, tinggal ditambah sedikit saja, bisa buat beli sandal baru. Huhuhu!

Akhirnya, mengutak-atiknya jadi pilihan. Memakai tehnik macrame dengan tali kur berukuran kecil berwarna khaki, jadi tujuan.

Tadaaa … sandal buluk akhirnya jadi seperti baru. Lumayan daripada lumanyun. Ayok, kita halan-halan, Cuy!

Love, Rere

SI KASET RUSAK


SI KASET RUSAK

“Lara, sudah sholat belum?”
“Lana, sapu rumah.”
“Rayyan, make up your bed!”
“Ayo, cepat makan. It’s 6.30 already!”
“Don’t forget your masks!”
“Botol, lunch box dah bawa?”
“Your keys, don’t forget!”
“Go home straight away.”

Bla … bla … bla.

Begitulah setiap pagi keramaian di rumah kami. Asalnya hanya dari satu suara, sih. Ya, suara SAYA pasti. Sementara suara lain hanya berbunyi, “yes, Bunda,” atau “sudah, Bunda.” atau … “apasal pagi-pagi pekik macam Tarzan?” Hahaha!

Awalnya saya berpikir keributan ini hanya terjadi di rumah kami. Ternyata setelah berbincang dengan beberapa sahabat, sama juga hebohnya, sih. Lega … berarti saya tidak sendiri.

Bukan tidak pernah saya mengajukan keberatan, karena harus berubah bak sebuah kaset rusak setiap pagi. Ya, setiap pagi. Beberapa cara pun pernah saya lakukan. Membuat jadwal harian mulai dari yang sederhana hingga berbagai bentuk dan gaya agar menarik. Tentu saja setiap saat harus berubah, menyesuaikan jadwal dan usia ketiga anak.

Kadang saya juga harus menahan diri setengah mati dengan tujuan untuk mendidik. Saya biarkan mereka gedubrakan karena terlambat bangun, hingga beberapa keperluan sekolahnya tertinggal. Ya, saya pun pernah juga begitu. Walaupun sebagai ibu dengan didikan disiplin tingkat tinggi di masa sekolah, ini adalah satu hal yang sangat menyiksa. Iya, tersiksa rasanya melihat ketidakaturan atau ketidaksiapan di depan mata.

Namun anak-anak harus belajar dari kesalahan. Sementara saya harus belajar untuk sedikit menutup mata. Saya juga terpaksa harus banyak mengurangi kebiasaan “serba harus, tidak boleh salah, mesti tersusun rapi dan sempurna”.

Saya tahu, mereka sebenarnya paham apa yang harus dilakukan. Mungkin mereka hanya terlalu suka dan selalu rindu mendengar suara nyanyian sang ibu yang berulang seumur hidup. Hingga melambatkan diri setiap pagi, adalah salah satu cara untuk tetap menghidupkan bunyi si kaset rusak itu.

Meski tiap pagi “bernyanyi”, saya tidak marah. Saya tahu suatu hari nanti mereka akan rindu, seperti saya yang kerap merindukan kebawelan mama saat ini. Oleh karena itu, setelah selesai merepet bak petasan banting, saya tetap memeluk dan selalu mencium mereka dengan penuh cinta di depan pintu. Sambil mendoakan dalam hati agar Yang Kuasa melindungi mereka selama di luar rumah menuntut ilmu.

Toh, setelah semua pergi, rumah jadi sepi. Saya bisa dengan tenang menyeruput secangkir kopi hangat, sambil menonton acara televisi.

“Abaaang! Dah sholat belum? Cepatlah! Dah almost shuruk!”

Lamat saya dengar tetangga sebelah rumah yang dapurnya bersebelahan, sedang “bernyanyi” merdu pada sang putra yang berusia 40. Hahaha! Cik, I feel you!

Motherhood … where silence is no longer golden.

Love, Rere.

Pic: Suryatmaning Hany

MERDEKA (Sebuah Refleksi)


MERDEKA (Sebuah Refleksi)

Astagfirullah!”

Terpekik pagi itu kuraih ponsel yang terletak di atas meja kecil dalam kamar. Pukul enam! Astaga! Lamat tadi sebenarnya sudah kudengar alarm berbunyi seperti biasa di pukul lima pagi, namun bukannya beranjak bangun malah kutidur lagi. Padahal harusnya waktuku membangunkan ketiga buah hati, untuk bersiap di pagi hari.

Sialan! Rasanya tadi aku sedang memaki seseorang dan gerombolannya yang menyebalkan dalam mimpi. Mereka yang hingga kini masih memiliki urusan yang belum selesai kuhadapi. Begini ternyata rasanya mempunyai unfinished bussiness. Sampai terbawa-bawa dalam mimpi, Ses!

Sambil memerintah anak-anak untuk bergerak cepat bak seorang komandan di tengah latihan perang, hatiku sepertinya masih meradang. Hingga siraman air dingin memadamkan api yang masih setengah berkobar. Segar!

Sambil meneguk segelas kopi panas, otakku mulai berpikir keras. Berarti selama ini hatiku belum ikhlas. Pikiranku belum merdeka jelas. Mengingat masih tersisa banyak hal di masa lalu, yang membuat amarahku muncul ke permukaan selalu. Memang, bukan sifatku untuk memendam dan mendendam. Apa daya, aku tak punya hati seluas samudra dan kesabaran yang tak ada batas.

Tapi tak apa, berarti aku masih manusia. Dengan segala keterbatasan serta kegilaan.

Sambil menghela nafas panjang, kubuang segala pikiran rungsing tentang mereka yang pernah membuatku pusing. Takkan kubiarkan mereka menjadikanku sinting, dengan mengambil alih kemerdekaan dan kebahagiaanku yang penting.

Kubuang saja segala pikiran tentang unfinished bussiness tadi. Paling tidak, untuk hari ini. Kalau esok muncul lagi, tinggal kuseruput kopi lalu beranjak pergi. Seperti pagi ini, meski berjalan menerjang hujan dan dingin, keinginan untuk menyatakan cintaku pada Indonesia tercapai, Cin!

Rasanya sih tak ada lagi sisa pikiran yang bisa kubagi, untuk memasukkan masalah yang tak penting dalam otakku yang masih suka miring. Paling tidak, untuk hari ini, Cing!

Dirgahayu Republik Indonesia, semoga semangat merdeka yang kubawa pagi tadi di tengah guyuran hujan, terbawa hingga ke dalam jiwa serta pikiran. Supaya merdeka itu bisa kurasa dalam setiap tarikan nafas yang masih tersisa.

Merdeka!

Pic: Suryatmaning Hany & Dee

LOML


LOML

“Rayyan, will you still love me and take care of me when you’re growing older?”
“Of course, Bunda.”
“Even when you have a wife and your own family? Will you still love me?”
“Yes, Bunda. I will always love you … forever.”
“Are you willing to take care of me if, let’s say, I got so weak and couldn’t get off of bed?”
“I will. I will carry you everywhere.”
“Change my diaper and wash my butt?”
“Eewww! But yes, Bunda. I will do it.”
“What if your wife didn’t allow you to take care of me or ayah?”
“Bunda, I don’t care. I will still take care of you.”
“Really? Why? Why don’t you listen to her?”
“I will tell her that if it’s not because of you, I will not be here in this world. What’s the point of me living if I can’t take care of my parents when they need me the most?”
“What if she insisted and angry at you for not listening to her?”
“Bunda, even if the love of my life asked me to ignore you, I will never listen to her.”
“What? The love of your life? Like Chayenne? Hahaha!”
“Bunda, stop.”
“The love of my life … sekolah dulu, Tooonggg!” 🙄

Dialog ini terjadi ketika saya mendapati kenyataan tentang banyak orang tua yang disia-siakan anak-anaknya di masa tua. Sedih rasanya membayangkan itu semua.

Membesarkan seorang atau lebih anak, itu bukan perkara mudah. Mempersiapkan mereka menghadapi masa depan dan mengajarkan semua hal baik tentang kehidupan, rasanya lebih tidak mudah lagi. Apalagi mempersiapkan mereka untuk menghadapi kenyataan, bahwa suatu hari nanti orang tuanya akan mengalami siklus “kembali menjadi bayi” hingga butuh kesabaran tingkat tinggi.

Begitulah kehidupan. Bersiap saja para orang tua. Cepat atau lambat, anak-anak butuh memahami dan mengerti. Belum terlambat untuk mengajak mereka bicara dari hati ke hati, dan menanamkan afirmasi positif tentang masa tua nanti.

Semoga kelak, diri ini tak jadi orang tua yang menyusahkan hati.

Love, Rere

MAUDY YANG AYU


MAUDY YANG AYU

Bolak balik kutonton video, saat sang artis muda nan Ayu naik ke podium untuk menerima gelar Masternya. Bukan tempat belajar sembarangan, namun dari sebuah universitas bergengsi di luar negeri.

Bermunculan kemudian suntingan berita dan tampilan foto miliknya, yang nampak sumringah berkebaya warna merah.

Sebagai ibu, aku pun ikut bangga. Sama seperti ribuan orang tua lain, yang mungkin akhirnya menunjukkan pencapaian akademik sang artis muda sambil berujar.

“Tuh lihat Maudy yang Ayu ini. Cantik, cerdas, terkenal, mementingkan pendidikan, sekolah di tempat yang membanggakan. Kamu harus seperti dia, ya.”

Moms, aku pun kagum pada si gadis Ayu. Namun menyuruh putri-putri kecilku untuk jadi sepertinya? Hmm … rasanya akan jadi hal yang paling terakhir sekali, bahkan tidak mungkin akan kulakukan.

Justru yang terjadi kemudian adalah, aku berkaca pada diri sendiri sambil berpikir, bagaimana orang tua si gadis Ayu mendidiknya di rumah. Itu yang terlintas, bukan keinginan untuk menunjukkan pencapaian sang gadis muda pada anak-anak saja.

Hmm … Pasti ayah si gadis ayu telah bekerja begitu keras, hingga mampu memberikan kedua putri cantiknya pendidikan dasar yang sangat baik, dengan biaya yang tentu tak sedikit. Puluhan tahun yang lalu, Jerman adalah tujuanku melanjutkan sekolah dengan mimpi meraih gelar master di sana. Mengapa Jerman? Karena Bahasa Jerman adalah salah satu mata pelajaran yang dengan baik kukuasai selama sekolah.

Apa daya. Mendapati biaya yang harus ditanggung papa, sebelum menemukan pekerjaan sambilan sembari kuliah, menghentikan semua mimpi yang telah tertanam sejak belia.

Aku kan, bukan artis terkenal, yang sudah punya uang jajan, dan sejumlah tabungan.

Bagaimana mungkin tega meminta sejumlah uang dari orang tua untuk modal berangkat kuliah ke lain negara, ketika biaya study tour ke Jogja jaman SMA saja tak sanggup kuminta. Padahal jumlahnya hanya ratusan ribu saja. Hingga akhirnya, aku jadi satu-satunya murid yang tidak berangkat study tour dari sekolah. Meski Jogja lalu menjadi bagian hidupku tanpa diduga, beberapa tahun lamanya.

Sejurus kemudian terdengar suara cekikikan kedua putriku dari kamar sebelah, dan suara si bungsu, menirukan bunyi yang didengarnya dari televisi di ruang tengah. Ahh, selama mereka tumbuh sehat dan bahagia, rasanya tak perlu menanamkan keinginan terlalu dalam, untuk melihat sosok sang gadis ayu menjelma dalam diri ketiganya.

Kunikmati saja alur hidup yang saat ini ada di hadapanku. Kekonyolan si sulung yang kadang bikin malu, perjuangan setengah mati si tengah menghadapi kelas akselerasi, dan ributnya suara si bungsu yang bermimpi jadi Youtuber terkenal seperti Comodo Gaming. Hahahaha!

I will always support you, guys! Me and your dad. Ayah yang tanpa lelah berjuang memberikan kehidupan yang baik untukmu semua. Meski usianya beranjak tua, ia tak pernah mengeluh dirinya lelah.

Tugas kami berdua, hanya membimbing serta mengawasi saja. Tumbuhlah dengan ceria dan nikmati semua prosesnya. Jatuh bangun, gagal berhasil, gagal lagi lalu bangkit, dan belajar darinya.

Tak perlu menjadi orang lain, dan berharap nasibmu sama seperti si gadis Ayu, atau public figure lainnya. Just be you, dengan banyak perbaikan tentu, serta keinginan untuk maju. Untukmu, dan masa depanmu.

Selamat ya, gadis Ayu! Salam hormat untuk ayah ibumu.

Love,
Rere

TURUN MESIN


TURUN MESIN

Menarik memperhatikan berita yang belakangan ini ramai diperbincangkan.

Sambil membaca dan menggali dalam, kubayangkan lelaki muda itu adalah Rayyan. Ia yang bahkan tidur pun masih masuk ketiakku, yang kadang bau belacan. Ia, yang ketika melihat sang ayah bercanda dengan pura-pura meninju lengan, akan melindungiku dengan tangan kecilnya penuh kekuatan. Ia juga akan balik memukul sang ayah, meski tertawa lepas setelahnya.

Itu … hanya bercanda.

Bukan ia saja, lelaki kecil yang sejak dini paham bahwa dirinya adalah penjaga keluarga. Kedua putri kecilku pun sama juga. Mereka yang selalu memeluk manakala melihat sang ayah berakting memukul lengan sang ibu.

Itu … hanya akting padahal.

Tak terbayang apa yang akan benar-benar mereka lakukan, manakala melihat sang bunda disakiti hatinya. Jiwa dan raga. Tak kira kecilnya badan, mereka pasti akan maju membela tanpa perhitungan.

Beruntung, tak salah kupilih pendamping hidup. Ia, yang mendampingiku “turun mesin” sampai kali ke tiga. Ia yang selalu mengingatkan ketiga buah hatinya untuk tak lepas memperhatikan keberadaan, kesehatan, bahkan kebahagiaan sang bunda.

“Remind her to drink water, from time to time.”
“Listen to bunda, and don’t make her angry.”
“Massage her back and remind her to rest.”
“Apply lotion on her back, when I’m not around.”

Tentu saja ini hanya sebagian. Belum lagi rentetan pengingat bahwa bunda harus dihormati dan disayangi, juga dibantu mencari kaus kaki yang selalu lupa ia letakkan di mana. Padahal tidak ada satu pun barang di rumah yang hilang, kecuali tak ia temukan. Hanya kaus kaki miliknya sendiri saja, yang bolak-balik raib tak tentu rimbanya. Aku … perempuan yang sudah turun mesin itu, memang hampir tak merasa perlu mengingat segala hal tentang diriku melulu.

Mengetahui sang belahan hati turun mesin berkali-kali, lelaki beruban itu toh tak lantas pergi. Malah menjagaku yang makin renta kini. Kursi pemijat ini salah satu bukti. Betapa ia tak ingin melihat sang pendamping yang sudah tua dan performanya turun ini, semakin berkarat sebelum benar-benar harus pergi.

Meski pijatan mesin ini bagiku tak senyaman tangan kekarnya, yang selalu memijat punggung lemahku dengan cinta. Tapi caranya menjaga serta tak menganggapku bak sebuah mesin yang sudah aus, membuatku yakin, putra kecil kami tak akan perlu berkeluh kesah seperti lelaki muda itu.

Hey, you … lelaki muda yang kini banyak dianggap durhaka, pada mereka yang mengagumi dengan gelap mata. Kurasakan cintamu yang tulus dan penuh untuk sang ibu. Kuyakin kelak pada istri dan anakmu, kau paham caranya mencintai dengan sungguh-sungguh. Tak menganggap belahan jiwamu mesin yang akan turun, hingga perlu diganti dengan yang baru. Kuyakin itu. Doaku untukmu, dan juga ibu cantikmu.

Love, Rere