SewAdorableYou


SewAdorableYou

S.A.Y adalah project remaking old clothes yang selalu saya buat setiap kali mood menjahit datang.

Sudah menumpuk jeans lama milik suami yang sudah tidak dipakai, dan sedang menanti sentuhan. Hari ini saya bertekad akan mulai satu demi project ini lagi. Kasihan “Si Abang” sampai berdebu tak pernah kena sentuh.

Semangat saya yang berkobar rupanya mendapat ujian. Si Abang ngadat. Benang yang harusnya melekat erat pada jarum mesin, kerap terlepas. Belum lagi lampu yang berkedip-kedip genit, kemudian byar pet mati tanpa permisi. Ah, Abang … ngambek rupanya.

Beruntung dua celana milik si dia berhasil saya selesaikan.

Celana hitam, saya padukan dengan rok plisket berwana maroon, milik saya jaman dahulu kala. Terinspirasi dari rok cantik milik Nagita Slavina yang berharga fantastis. Saya juga punya lho, Mbak Gigi. Sedangkan celana hijau, saya tambahkan hiasan ruffles di bagian depan sebagai pemanis. Lumayan, kan?

Jadi, punya baju atau celana yang sudah bosan dengan model yang itu-itu saja? Remake, yuk. Lumayan … ngirit. 😉

Love,
Rere

Hey, You!


Hey, You!

Kamu … sudah selesai belum dengan dirimu utuh?
Kamu … sudah selesai belum berdamai dengan kemarahan yang terpendam?
Kamu … sudah selesai belum dengan proses menerima segala kelemahan, tanpa berusaha sekuat tenaga untuk kelihatan kuat?

Kalau belum, berdamai dulu dengan dirimu, deh.
Hingga tak perlu selalu menanggapi banyak hal dengan amarah.
Hingga tak perlu menjadi “sour” seperti jeruk kecut atau kaku bak kanebo kering pada orang lain.
Hingga tak perlu melihat banyak hal dengan hati penuh prasangka.

Kamu … coba peluk dirimu sendiri dulu.
Kamu … coba bilang, “Aku mengerti kemarahan dan kesedihanku. Aku menerima dan akan menghadapi segala rasanya, tanpa harus repot berlari untuk menghindar.”

Kalau sudah, welcome back!

Love,
Rere

GIRL GUIDE


GIRL GUIDE

Adik, have you prepared your school stuffs?”
“I did,
Bunda. I’m sewing my Girl Guide uniform stuffs now.”
“Whoa! Can you do it?”
“Yea. It’s not perfect but yea, I can do it.”
Pinterr.”

Girl Guide, adalah kegiatan ekstra kurikuler yang dipilih putri saya nomor 2 ini.

Meski awalnya sang kakak meragukan kemampuannya beradaptasi dengan peraturan, sang adik mampu membuktikan. Walau penuh keengganan dan kerap “mecucu” menceritakan polah para senior, ia terbukti mampu menekan ego yang kerap ngeloyor.

Bangga sih, melihatnya semangat mempersiapkan seragam meski kembali mecucu ketika sang bunda hendak mengambil gambar. Hahaha! Ia tak tahu betapa setiap jepretan akan menjadi sisi manis sebuah kenangan.

Oh ya, Girl Guide adalah sebutan untuk Pramuka bagi murid tingkat sekolah menengah atau Secondary di Singapura. Untuk murid sekolah dasar sebutannya adalah Brownies. Mungkin karena mereka masih imut, manis, dan kinyis-kinyis.

Saya sendiri dulu adalah seorang Pramuka semasa bersekolah di SDN TUGU V. Dengan penuh semangat dulu saya belajar tali temali, baris berbaris, dan bermacam keahlian lainnya. I love being Pramuka.

“Then, what did you do yesterday?”
“We made Maggi.”
“Huh? Ah, you’re an expert already.”
“Yeah, but I didn’t eat. I just watched my juniors ate their noodles.”

Pelajaran penting bagi seorang GG: mampu menjahit dan memasak, minimal mie instan. Good job, Adik!

Love,
Rere

Pangeran (Ayam) Kodok


Pangeran (Ayam) Kodok

Rasa aslinya? Saya belum pernah coba sama sekali.

Tak terhitung berapa banyak video tutorialnya saya sudah tonton dan selalu berpikir, susah sekali membuat makanan satu ini.

Sudahlah namanya ajaib, tutorialnya susah setengah mati, hingga berpikir untuk membuatnya saja … saya sudah malas sekali.

Ulang tahun suami mengubah segala pandangan tentang si kodok. Memang setiap ada kemauan, di situ akan muncul jalan.

Memanfaatkan ketertarikan akan kerajinan tangan, saya mulai mengolah si kodok dengan penuh ketelatenan.

Bayangkan saja, hidangan satu ini tu seperti orang kurang kerjaan.

Si ayam calon kodok, dikuliti dengan hati-hati. Sesudah itu si kulit tanpa isi harus diisi kembali, bahkan dijahit hingga semua bersatu tak bisa kabur tanpa permisi. Hmm … kurang kerjaan, kan?

Dikuliti, diisi, dijahit.

Si kentang yang bukan potato couch pun begitu juga. Setelah direbus, isinya dikeruk hingga melompong. Sesudah itu, kerukan kosong itu diisi kembali seperti semula. Iseng banget, kan? Ngapain coba dari awal dikeruk-keruk. Emang kurang kerjaan betul!

Oh, tapi moto hidup saya kan, kalau ada jalan yang susah, kenapa ambil yang mudah? Hahaha!

Jadi, inilah produk baru Dapoer Ranayan dengan rasa yang mungkin tidak original. Berhubung sang bakul belum pernah mencobanya langsung. Namun, jangan bingung. Verdictnya saya dapat dari si dia yang awalnya meringis melihat si ayam berpose bak kodok nanggung.

Dibeli olesan bak foundation tebal.

“Ihhh ayam seekor? Kan tahu Ayah enggak suka.”
“Coba duluu!”
“Oh, lain ya isinya? Wah! Sedap! Enak banget ini!”

Senyum dan hidung sang bakul pun mengembang. Project perdana si kodok berhasil membuat si dia senang. Bahkan, meski deg-degan mengirimnya pada kakak tersayang, komentar yang datang pun nyatanya membuat girang. Ahh, ai laff you pangeran ayam … eh kodok sayang!

Kamu, kamu, enggak pingin nyoba?

Love,
Rere

STOP, THINK, REFLECT


STOP, THINK, REFLECT

“You know, Kak. When I attend zoom meeting with Rayyan’s form teacher, do you know what she said?”
“What is it,
Bunda?”
“She greeted me and
Rayyan only.”
“Hmm … you didn’t find it insulting?”
“Why should I think so?”
“I don’t know. Maybe she always picks on him because you know …
Rayyan can be very naughty at school.”
“I know. I talked to the teacher a lot, but I didn’t find it insulting though. Okay, explain how do you see an insult to me.”

***

Sabtu pagi itu, saya mengajak si sulung berkeliling mengantar pesanan buku pada beberapa pembeli. Tujuan saya ada dua, yaitu saya ingin ia melihat bagaimana ibunya tetap aktif melakukan banyak pekerjaan, mesti tak lagi bekerja kantoran. Kedua, saya ingin sepanjang perjalanan mengajaknya ngobrol tentang apa saja dalam kehidupan. Seperti biasanya.

Pembicaraan menjadi menarik ketika ia menganggap, sapaan yang diberikan sang wali kelas hanya pada saya dan Rayyan hari itu, berkategori penghinaan atau semacam sindiran halus. Ia bercerita bagaimana ia pernah melihat beberapa orang tua siswa yang datang ke sekolah untuk marah-marah karena merasa tersinggung, padahal kesalahan ada pada siswa tersebut.

Ia heran kenapa saya tidak marah, terutama jika sang guru menghubungi saya untuk menceritakan sesuatu hal tentang Rayyan. Ia juga heran mengapa saya justru seringkali menghukum Rayyan karena perbuatannya yang saya anggap keliru. Menurutnya, orang tua lain mungkin akan balik menyerang sang guru.

Saya tersenyum lalu bercerita bagaimana dulu saya selalu menanggapi kritik dan saran dengan kemarahan. Tanpa butuh mendengar dan memahami, saya akan bereaksi keras dan menjadi super defensive. Saya sangat mudah tersinggung, dan menganggap orang lain membenci saya melalui kritikannya.

Pengalaman-pengalaman itu yang membuat pemahaman saya tentang feedback kini berubah. Instead of being defensive dan mendengar hanya untuk mencari celah bantahan, saya justru kini memilih untuk melakukan banyak refleksi diri.

Berhenti dan menahan diri untuk berkomentar, berpikir untuk melihat dari sudut pandang lain, lalu mendengar untuk memahami lebih dalam. Feedback yang masuk pada saya, membuat saya menatap cermin dan melihat “kesalahan” atau “alpa” yang mungkin saya buat tanpa sadar. Dalam hal ini lewat kesalahan yang dilakukan Rayyan di sekolah.

Lalu, instead of menjawab untuk membela diri, saya diam dan berjanji akan berubah lebih baik lagi jika saya memang benar melakukan kesalahan. Saya kan tidak bisa melihat, bagaimana diri ini bertingkah laku, di mata orang lain. Jadi opini, saran, feedback, yang diberikan dengan cara baik dan santun, pasti akan saya dengar dengan baik.

Tentu saja yang disampaikan bukan dengan tujuan untuk menyerang di hadapan publik. Itu sih, anggap saja mereka baru datang dari hutan rimba dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik, layaknya manusia yang berakal sehat.

I stop and listen to understand, not reply. Pemahaman yang saya peroleh lalu menjadi bahan untuk berfleksi. Jika saya salah maka saya harus berubah. Begitu juga yang saya ajarkan di rumah. Tak perlu mengeraskan kepala demi sebuah ego diri. Embracing yourself, tak melulu berarti keras hati, kan? 😉

Love,
Rere

You Are Loved!


You Are Loved!

“Bunda, I don’t like my new class.

Tersentak, hati saya seperti tersayat-sayat membaca pesan singkatnya pagi itu.

Jika ia ada di hadapan saya, sudah pasti saya akan merengkuhnya dalam pelukan erat dan mengatakan betapa saya bangga padanya.

Gadis kecil ini memang tumbuh dalam situasi yang tidak mudah. Mengalami beberapa perundungan sejak di bangku sekolah dasar, hanya karena perbedaan warna kulit yang lebih gelap dari sang kakak. Kisahnya seperti cermin yang memantulkan bayangan serupa dengan yang saya alami ketika seusianya dulu.

Ia juga mewarisi sifat saya yang judes dan jutek, meski ia tumbuh lebih berani. Pengalaman membesar menjadi remaja putri bersifat introvert dan penakut, membuat saya banyak membesarkan hati ketiga anak di rumah. Saya mendidik mereka supaya berani menghadapi dunia. Meski kadang kejudesan putri saya ini agak mengkhawatirkan. Hahaha!

Jangan terkejut jika bertemu dan ia akan dengan lugas mengutarakan pendapatnya atas sesuatu. Maaf, kalau ia jadi terdengar terlalu jujur. Saya hanya ingin anak-anak terbiasa mengutarakan isi hati tanpa banyak memendam, tentu saja dengan beberapa syarat yang hingga hari ini mereka terus pelajari tanpa jeda. Termasuk saya.

Saya tidak ingin mereka tumbuh sebagai orang-orang dewasa yang penuh prasangka akibat banyak memendam rasa. Itu sebabnya kala pesan singkat ini terkirim, saya menyikapi dengan hati-hati, karena tidak ingin terjebak dalam situasi penuh melodramatik.

Seiring dengan nasihat untuk melihat situasi dengan tegar diri, saya juga ingin ia tahu bahwa ia dicintai. Saya anjurkan ia untuk bersabar dan memberi waktu pada teman-temannya untuk mengenal lebih dekat.

Yet, segala perubahan yang terjadi di awal tahun ini rupanya seiring dengan berita penuh berkah. Meski sempat merasa sendirian, tak membuatnya surut melangkah dan tetap berprestasi dengan sumringah. Alhamdulillah! Congrats, Adik!

Tetap lah menjadi dirimu, meski kadang harus melangkah pergi sendiri dari kerumun. Berjalan lah maju tanpa ragu, namun ingat untuk selalu merunduk. Menerima nasihat yang datang dari segala arah, dengan lapang dada. Menjadi kuat dan tidak banyak berprasangka.

You are loved, Sayang!

Love, Rere.

Daster … oh … daster


Daster … oh … daster

Bahasan yang menarik karena menyangkut hajat hidup para perempuan. Hahaha!

Saya akhirnya paham dari mana asal usul pembahasan tentang daster yang seliweran di beranda kemarin.

Si Embak Quinn enggak sepenuhnya salah. Buat saya, ia hanya menghimbau para perempuan supaya memiliki self love. Self love bukan selfish ya, teman-teman perempuan terkasih.

Self love itu mencintai diri sendiri, bukan lantas menjadi egosentris, tapi merawat dan bertanggung jawab akan keberadaannya di dunia ini.

Embak Quinn hanya punya 1 kesalahan kecil, yaitu menyinggung soal daster. Baju sejuta umat perempuan, kebanggaan mereka semua. Pokoknya urusan daster, jangan coba-coba nyolek, deh. Tak kurang seorang selebritis cantik sekelas Sarwendah pun kerap menjadi contoh, karena sering terlihat mondar mandir berdaster ria. Tapi … sini ekeh bilangin. Doi mulus, Cint! Putih, mancung, langsing, rambut terawat. Jadi mau pake daster bolong pun enggak ada yang ilfil. Hahaha!

Saya pernah ada di fase males mengurusi diri sendiri, waktu hamil anak 1. Berpikiran bahwa, “ah gue udah laku ini,” menjadi pembenaran saya tampil kumut-kumut. Sampai suatu hari suami saya yang menegur dan minta saya kembali memperhatikan diri sendiri, seperti ketika ia pertama kali bertemu saya berseragam pramugari. Menurutnya saya nampak pucat sekali.

Saya termenung, dan lalu berpikir. Iya, sih. Jika bukan saya yang menghargai diri sendiri, lalu siapa lagi? Bukankah respect is earned, and not given? 😉

Saya pribadi memang bukan pemakai daster, bukan karena merasa diri elegan nan menawan. Eeeaaa. Saya memang bukan pemakai dress panjang juga. Buat saya, ribet. Tidak leluasa bergerak, padahal saya harus petakilan bak tarsan perempuan sehari-harinya. Alasan ke 2 adalah, saya menjadi abai dengan bentuk badan karena sudah nyaman berbaju gombrong bahkan bolong di banyak tempat.

Percayalah, baju-baju besar akan membuat kita tidak menyadari, betapa banyak lemak sudah tertimbun di sana-sini. Saya tidak mengatakan big is not beautiful. Buat saya yang petakilan ini, bobot tubuh yang berat akan membuat saya makin malas bergerak dan cenderung melambat. Sementara saya tak suka bergerak lelet jumelet.

Jadi, ambil bagian baik dari kata si Embak Quinn itu untuk perbaikan diri saja. Walaupun tidak perlu lantas berubah artificial, seperti berusaha keras agar nampak elegan tapi malah berujung menggelikan. Tetap lah menjadi diri sendiri dengan beberapa perbaikan untuk menunjukkan betapa kita mencintai tubuh dan jiwa yang sekian tahun bersama kita. Tanpa sadar bahkan kita dzolimi dan lupa bahwa ia juga butuh dirawat setiap hari.

Merawat dengan tujuan untuk menunjukkan respect pada diri sendiri, dan mengubah beberapa hal menjadi baik agar orang lain juga respect melihat kita. Meskipun 24/7 hanya di rumah saja, seperti saya.

Jangan alergi mendengar perempuan lain mengatakan hal-hal baik untuk perbaikan. Ambil yang baik, buang yang buruk. Jangan kelamaan menyimpan hal buruk, karena akan nampak di raut wajah kita, juga perilaku.

Jadi, mari berubah lebih baik dan semakin menghargai diri sendiri. Pakai lah dastermu lagi, asal ingat untuk selalu terbuka pada hal apapun yang membawa perbaikan diri.

Up up away! For a better me … and you!

Love, Rere

Bukit Timah Summit – Singapore Out & About


Bukit Timah Summit – Singapore Out & About

Sudah menjelang siang hari itu, ketika saya dan seorang sahabat menaiki Bukit Timah Nature Reserve. Terletak di tengah kota Singapura, daerah ini merupakan hutan lindung luas yang tersisa di negara ini. Hingga ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya Asean. Nama Bukit Timah di daerah perbukitan yang tertinggi itu, konon diambil dari tambang granite atau timah yang dulu terletak di sana. (Wikipedia)

Perjalanan saya dimulai dari tempat saya memarkir kendaraan untuk mencapai The Summit, bukit tertinggi di Singapura dengan ketinggian mencapai 163.63m.

Terengah-engah saya mendaki jalanan yang begitu tinggi, lalu berlanjut dengan banyak anak tangga untuk menuju ke atas. Seperti kehabisan nafas rasanya, dan pandangan saya sedikit berkunang-kunang.

Anak tangga menuju The Summit

Setelah beberapa saat, akhirnya saya tiba tepat di bukit tertinggi negara ini. Lihat lah betapa lelahnya saya. Hahaha!

Belum habis lelah setelah mendaki, perjalanan rupanya terus berlanjut. Kami harus menyusuri jalan menurun yang sangat landai menuju sebuah tempat. Ini lah tempat dimana dulu sebuah tambang timah di masa perang dunia II berada.

Siapa menyangka, tempat seindah ini dulunya adalah sebuah tambang granite atau timah di masa perang. Pemandangannya benar-benar breathtaking dan sekilas tampak seperti berada di belahan dunia lain.

Perjalanan kami berlanjut dengan mengitari jalan setapak yang lain. Lihat lah betapa lelahnya saya di foto ini. Setelah sekian lama tidak pernah melakukan perjalanan ekstrim, bahkan sempat berhenti olahraga, track hari itu betul-betul membuat saya seperti mau pingsan.

Ijah lelah ….

Kemudian kami menyusuri sebuah tangga yang menjadi objek foto saya selanjutnya.

Hello, World!

Puas mengitari Bukit Timah, kami pun pindah ke spot menarik lainnya yaitu Chinese Garden di daerah Jurong East. Dibangun pada 1975, saat ini pemerintah sedang melakukan peremajaan. Hingga lokasi menuju ke taman itu pun ditutup untuk sementara waktu. Jadi, saya hanya bisa memandang dari kejauhan saja.

White rainbow bridge, sayangnya untuk sementara waktu ditutup.

Tangga cantik ini adalah penghubung antara Chinese Garden dan Japanese Garden. Sayangnya untuk sementara waktu tidak bisa dilewati karena sedang ada renovasi.

Perjalanan kami berakhir di sebuah Cafe berlabel halal, dengan design cantik bernama Fusion Spoon. Dua buah kelapa segar dan seloyang pizza hangat menjadi pengisi perut kami yang mulai keroncongan.

Begitu lah perjalanan saya dua hari yang lalu dari Bukit Merah hingga ke Jurong East. Ikuti trip saya yang lain, menyusuri sudut-sudut menarik di negara ini.

Photo courtesy of Liza Ariando.

Love, Rere

Mount Faber – Singapore Out And About


Mount Faber – Singapore Out And About

Hari ini perjalanan kami dimulai dari Harbour Front. Setelah memarkir kendaraan di tempat biasanya para pelancong datang dari Batam, kami menyusuri jalan menuju sebuah tempat parkir luas.

Siapa mengira di balik sebuah pohon besar yang ada di sana, ada jalur menuju ke hutan belantara.

Tempat pertama yang kami datangi adalah sebuah bunker. Iya, bunker yang kemungkinan menjadi tempat penyimpanan amunisi dan makanan selama Perang Dunia II. Meski agak spooky, namun seru sekali. Membayangkan berada di sana ketika desing peluru bersautan di atas kepala. Jangan lupa membawa sebuah senter atau torch light karena kondisi bunker yang gelap gulita.

Dengan tinggi hanya sekitar 1m dengan luas hanya 2,5m di bagian dalam, bunker ini cocok sih jadi setting cerita horor. Haha! Oh, jangan kaget jika di dalamnya nanti bertemu dengan bermacam hewan. Saya hampir pingsan ketika di depan saya melintas seekor kadal berukuran cukup besar. Hahaha!

In the bunker
Seah Im Bunker

Bak cerita dalam film petualangan, kami lalu melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan setapak yang kebanyakan naik dengan kemiringan hingga 60 derajat. Warbyasak!

Tiba di atas, kami menyusuri jalan utama yang lumayan besar hingga sampai di sebuah rumah bernomor 11 di Keppel Hill.

Tak banyak cerita bisa saya temukan tentang keberadaan rumah yang konon dibangun pada abad 19 selama masa kolonial. Sayangnya bangunan besar ini lalu tidak terawat dan ditutup untuk umum oleh pemerintah setempat.

Kemudian kami menuju sebuah tempat yang dulu digunakan sebagai tempat penampungan air hujan bernama Keppel Hill Reservoir. Selama masa pendudukan Jepang, konon tempat ini juga digunakan sebagai kolam renang. Hal itu ditandai dengan adanya sebuah tangga sebagai tanjakan untuk diving seperti yang biasa ada di kolam renang.

Undak-undakan di pinggir kolam

Ingat, jangan coba-coba untuk menceburkan diri ya. Konon di masa kolonialisme, di tempat ini pernah ada kejadian tenggelamnya 2 orang tentara Inggris dan seorang penduduk lokal,

Pemandangannya memang breathtaking. Hingga rasanya tak percaya, di tengah kota metropolitan seperti Singapura, ada sebuah hutan dengan kolam seperti ini.

Kemudian kami berjalan lagi dan menemukan sebuah monumen bertulisan Kanji yang dikenal bernama The Japanesse Tomb. Entah apa arti tulisan yang tertera pada monumen batu itu. Konon ini adalah tomb dari Ekasa Komoto, seorang naval engineer asal Jepang. (Sumber: Wikipedia)

Perjalanan kami menyusuri hutan kemudian berakhir di puncak Mount Faber. Bak berdiri di sebuah negeri yang berada di atas awan, kami disuguhkan pemandangan yang sangat menawan. Dengan Sentosa di sebelah kiri, dan sebuah bangunan unik berjuluk The Reflection di sisi kanan.

https://www.facebook.com/reynilda.hendryatie/videos/10224562176428951/?d=n

Kemudian saya menemukan sesuatu yang sangat menarik yaitu The Wishing Bell. Sekilas nampak seperti deretan padlocks yang ada di Pon Des Art, the lock bridge in Paris. Namun bukan kunci yang banyak tergantung di sana, melainkan deretan lonceng imut yang konon diibaratkan sebagai tanda cinta. Cinta yang diabadikan dalam sebuah lonceng, bertuliskan nama pasangan atau doa, yang diharapkan bisa langgeng bahkan setinggi Mount Faber. Awww, so sweet!

Loncengnya bisa dibeli di sana, berharga sekitar $4 lebih saja.

Kemudian kami menuruni bukit untuk menuju ke tempat lain. Oh, sangat mengerikan. Saya sudah berpikir akan meluncur dari atas bukit dan sukses “ngglundung” ke bawah. Hahaha!

Lihat lah betapa strugglingnya saya berusaha turun dengan sepatu yang tidak memadai untuk itu.

Perjalanan berlanjut hingga kami tiba di Kent Ridge Park. Sebagai bagian dari Southern Ridges yang menghubungkan 3 parks melalui jembatan dan jalan yang saling menyambung.

Sebuah pohon berumur ratusan tahun yang terdapat di Kent Ridge Park

Kemudian kami tiba di sebuah area yang dulunya berfungsi sebagai tempat pemakaman umat Muslim. Saat ini area itu sudah ditutup namun beberapa nisan masih bisa ditemukan di sana.

… daaan saya mulai lelah. Hahaha!

Enter at your own risk!

Akhirnya perjalanan kami hari ini berakhir. Meski kaki mulai terasa pegal akibat turun naik bukit terjal, namun saya merasa senang. Berjalan dan menyusuri banyak tempat seru seperti ini, benar-benar membuat hati ini semakin mensyukuri hidup. Indah sekali karunia Ilahi!

Hooray for today!

Saya pun pulang dengan perasaan riang. Tentu saja bukan dengan menaiki si sapu terbang. Hahaha!

Up up away … to 2022.

Begitu lah petualangan saya hari ini. Tunggu cerita saya menyusuri sisi lain dari Singapura selanjutnya, ya.

Photo courtesy of Mak Hany & Dya.

Love, Rere

The Little Thing ​


The Little Thing

“Bunda, why didn’t you wave at me from the window like always?”

Dengan suara parau seperti menahan tangis, bocah lelaki itu menghubungi saya lewat sambungan telepon sekolahnya pagi tadi.

Saya pun kaget, tidak mengira bahwa keterlambatan kami berdua membuka jendela untuk melambaikan tangan , begitu berarti untuknya. Sampai ia harus menghubungi saya melalui telepon sekolah.

Entah apa yang ia katakan pada penjaga counter kantor pusat, tempat telepon itu berada. Mungkin dengan bilang, ada sesuatu yang penting hingga ia harus menghubungi saya secepatnya. Hahaha! Padahal hanya gara-gara lambaian tangan ayah dan bundanya, yang tadi pagi terlambat membuka jendela.

Saya pun segera meminta maaf dan menjelaskan bahwa setelah ia keluar rumah, saya bergegas membuka catatan untuk membayar tagihan bulanan. Sementara sang ayah sedang kebingungan mencari dompetnya yang entah ia simpan di mana. Begitu sadar, ia segera membuka jendela namun sang putra tercinta sudah berjalan masuk ke gerbang sekolah. Hanya sekian detik saja mungkin kami terlambat melihatmu dari lantai atas.

Ahh … Rayyan. Lembut sekali hatimu, hingga sepasang lambaian tangan saja bisa membuatmu sendu. Jangan tanya bagaimana menyesalnya ayah karena terlambat membuka jendela untuk melihatmu. Bunda sih, seperti biasa, pikun dan lupa selalu.

Jadi inget eyang papa kalau urusan seperti ini. Papa yang selalu menitikkan airmata terhadap segala pencapaian putri kecilnya dalam hidup, even the very smallest thing. Hal manis yang membuat sang putri tumbuh percaya diri karena tahu ia dicintai.

Enjoy the little things in life. One day you will look back and realize they were BIG things … for it is the little thing that matter the most.

Love, Rere