LOML


LOML

“Rayyan, will you still love me and take care of me when you’re growing older?”
“Of course, Bunda.”
“Even when you have a wife and your own family? Will you still love me?”
“Yes, Bunda. I will always love you … forever.”
“Are you willing to take care of me if, let’s say, I got so weak and couldn’t get off of bed?”
“I will. I will carry you everywhere.”
“Change my diaper and wash my butt?”
“Eewww! But yes, Bunda. I will do it.”
“What if your wife didn’t allow you to take care of me or ayah?”
“Bunda, I don’t care. I will still take care of you.”
“Really? Why? Why don’t you listen to her?”
“I will tell her that if it’s not because of you, I will not be here in this world. What’s the point of me living if I can’t take care of my parents when they need me the most?”
“What if she insisted and angry at you for not listening to her?”
“Bunda, even if the love of my life asked me to ignore you, I will never listen to her.”
“What? The love of your life? Like Chayenne? Hahaha!”
“Bunda, stop.”
“The love of my life … sekolah dulu, Tooonggg!” 🙄

Dialog ini terjadi ketika saya mendapati kenyataan tentang banyak orang tua yang disia-siakan anak-anaknya di masa tua. Sedih rasanya membayangkan itu semua.

Membesarkan seorang atau lebih anak, itu bukan perkara mudah. Mempersiapkan mereka menghadapi masa depan dan mengajarkan semua hal baik tentang kehidupan, rasanya lebih tidak mudah lagi. Apalagi mempersiapkan mereka untuk menghadapi kenyataan, bahwa suatu hari nanti orang tuanya akan mengalami siklus “kembali menjadi bayi” hingga butuh kesabaran tingkat tinggi.

Begitulah kehidupan. Bersiap saja para orang tua. Cepat atau lambat, anak-anak butuh memahami dan mengerti. Belum terlambat untuk mengajak mereka bicara dari hati ke hati, dan menanamkan afirmasi positif tentang masa tua nanti.

Semoga kelak, diri ini tak jadi orang tua yang menyusahkan hati.

Love, Rere

HITAM PUTIH PEREMPUAN II


HITAM PUTIH PEREMPUAN II

Bukan mudah bagi saya untuk memilih. Apalagi ketika semua pilihan menghadirkan rasa yang berbeda, dari bahagia hingga perih.

Hitam Putih Perempuan Jilid II ini, sama seperti jilid I yang mengharu biru. Membaca semua kisah tentang perempuan, nyatanya membuat lidah saya kelu.

Ratih Prasodjo masih terpaku pada surat Tum, dalam hati berjanji memegang teguh amanat almarhumah. Ia melipat surat itu, menciumnya dengan takzim.Kenangan akan Tum membanjiri benaknya, menyisakan haru dan duka mendalam. Matanya basah. Selamat jalan, Tum.

Rahasia Dua Wanita, milik Maria Vela ini ternyata paling membuat saya berderai airmata. Membayangkan kesedihan sang tokoh yang harus menahan rindu, demi masa depan sang buah hati. Buah hati yang dikandungnya karena sebuah peristiwa pahit. Romansa kehidupan yang harus dilalui seorang perempuan bernama Tum.

Selamat, Mbak Maria Vela! Naskah yang manis, tak butuh banyak editing karena tersusun rapi nan klimis. Kisah yang akan membuat semua menangis, lalu mengucap syukur karena tak bernasib sekelam Tum.

Congrats!

Ingin menulis dan meraih piala untuk naskah terbaik seperti Mbak Maria Vela? Mari bergabung bersama saya dan teman-teman penulis lainnya, di Nubar RUMEDIA Area Luar Negeri, Sumatera, Jabar, dan Jatim.

There’s no right or wrong, just write!

Love, Rere

Hair Cut DIY


Hair Cut DIY

Dulu … saya paling rajin pergi ke salon.

Luluran, creambath, meni pedi, gunting rambut bahkan hampir tiap bulan. Rambut saya memang cepat sekali panjang, dan saya bosenan. Gonta ganti model, warna, begitu saja.

Sejak memutuskan berhijab, dan tinggal di negara “mahal” ini, saya jadi malas masuk ke salon. Bayangkan saja, saya … (eh suami ding) pernah merogoh kocek hingga $400 hanya karena ingin melihat sang istri dirawat rambutnya. Ya, saya memang mengalami kerontokan parah setelah melahirkan si bungsu.

Empat jeti lebih buat treatment dan gunting rambut itu, sudah cukup membuat saya makjegagig, lalu kapok masuk salon di pusat perbelanjaan besar.

Pernah juga saya masuk salon biasa, yang sekali gunting rambut cuma butuh $10-$12 tergantung panjangnya rambut. Tapi, keesokan harinya, setelah keramas lalu tidak diblow, saya terlihat seperti Dora The Explorer ukuran XL. Bangbayik!

Setelah itu saya memutuskan untuk menggunting rambut sendiri. Termasuk rambut anak-anak, dan suami. Hanya saja sekarang mulai malas, dan memasrahkan urusan gunting rambut Rayyan pada sebuah salon Korea. Cepet, murah, saya juga tak perlu encok karena harus bongkok-bongkok. Sementara dua gadis sedang suka memanjangkan rambut dan menolak ke salon, karena takut saya memangkas habis rambut mereka.

Nah, apa saja yang harus disiapkan untuk proses DIY gunting rambut?

  1. Hair clipper. Sebenarnya saya membeli alat ini untuk mencukur rambut suami. Tapi untuk potongan pendek seperti pixie cut, alat ini sangat membantu menggunting bagian belakang. Saya memakai nomor 12mm biar tidak jadi botak. Pastikan alat sudah charged supaya tidak berhenti di tengah jalan, dan rambut jadi seperti terasering persawahan.
  2. Gunting. Pakailah gunting yang khusus untuk rambut, bukan gunting kain atau kertas. Investasi juga dengan membeli gunting zig zag khusus rambut. Fungsinya, untuk membuat potongan terlihat alami, enggak kaku seperti dicetak dengan sebuah mangkok bakso.
  3. Lokasi. Saya lebih suka mengeksekusi rambut di dalam toilet. Kenapa? Karena ada cermin besar di sana. Biasanya juga minta bantuan suami untuk memegang sebuah cermin berukuran sedang, agar saya bisa melihat bentuk bagian belakang. Kalau enggak juga bisa, asal pakai hair clipper dengan ukuran blade tertentu yang sudah dipasang. Jangan lupa untuk meletakkan beberapa lembar koran sebagai alas, biar lebih mudah membersihkan sisa guntingan.

Nah, sekarang bagaimana caranya?

  1. Belah rambut jadi tiga bagian. Bawah, tengah, atas hingga ke poni.
  2. Gunting bagian bawah dengan hair clipper ukuran terbesar. Selalu mulai dengan blade ukuran besar, ya. Biar tidak menyesal kalau terlanjur pitak sebagian.
  3. Kemudian lanjut bagian tengah. Pakai sisir saja, mengikuti panjang rambut yang sudah dicukur tadi. Tarik ke arah atas lalu gunting biar terbentuk layer.
  4. Ikat bagian atas hingga poni ke arah depan hidung, lalu gunting. Potongan akan langsung terbentuk menjadi bob nungging.
  5. Cek lagi dan betulkan dengan gunting zig zag, bagian-bagian yang tidak rata. Kemudian keramas, keringkan dengan hair dryer, lalu cek panjang pendek rambut. Biasanya bagian yang masih terlalu panjang akan kelihatan, hingga bisa diperbaiki lagi.

Voila! Gunting rambut DIY beres! Beruntung suami juga tidak melarang saya gunting rambut pendek, meski ia suka melihat sang istri dengan rambut panjang. Ia lebih kasihan melihat rambut saya yang rontok hingga bertebaran di mana-mana.

Satu saja tips dari saya. Gunting rambut hanya ketika mood sedang dalam keadaan bagus dan punya cukup waktu. Jika tidak, lebih baik datang ke salon saja. Daripada nanti nangis bombay melihat rambut pitak sana-sini, atau bak terasering di Panyaweuyan. Jangan juga berharap potongan rambut akan sesempurna hasil guntingan para kapster di salon, ya.

… but beauty lies in the imperfections.

Selamat mencoba!
Love, Rere

(Photo credit: hadviser.com)

RINDU


RINDU

“Nak, kamu kapan pulang? Mama udah kangen sama anak, mantu, dan cucu-cucu.”
“Sabar ya, Ma. Yang penting Mama, Papa, semua sehat. Nurut sama aturan pemerintah, jangan keluar rumah dulu. Insya Allah semua sehat, vaksin lengkap, biar kita bisa ketemuan cepat. Yang di sini semua juga udah kangen.”

Sesak dada saya menulis dialog di atas. Ungkapan kerinduan seorang ibu, pada anak perempuannya, yang selalu berada jauh sejak di bangku kuliah. Juga kerinduan seorang eyang pada tiga cucu, yang ketika bayi, semua merasakan sentuhan serta hangat gendongannya.

Tak pernah rasanya saya ikut melebur dengan euphoria pandemi ini, dengan menulis status dari A sampai Z. Seliweran berita yang muncul, tak juga membuat saya tergerak untuk menuliskannya. Sudahlah, cukup rasanya, melihat banyak pakar menulis bahkan membahas hingga ke akar. Hanya doa tulus untuk semua korban yang telah berpulang, agar mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Pandemi ini, biar kami hadapi.

Video TokTok yang viral, copasan berita dari sebuah media dengan narasi seenak perut sendiri dari malam tadi, memang akhirnya membuat pertahanan saya jebol sendiri.

Teman-teman, terhitung sejak awal merebaknya di tahun lalu, saya sudah tidak bisa pulang ke rumah bertemu keluarga. Bagaimana mau ke Jakarta, hanya berkendara ke Johor Bahru, Malaysia, yang berjarak satu jam saja dari rumah, sudah tidak bisa.

Lantas bagaimana situasi di Singapura hari ini? Saya akan merunutkannya satu per satu, sependek yang saya tahu.

1. Hari ini, 28 Juni 2021, murid upper primary (SD kelas 4, 5, 6) dan upper secondary (SMP kelas 3 ke atas) mulai masuk sekolah seperti biasa. Sementara lower primary dan secondary akan masuk sekolah di awal Juli, namun mereka tetap melakukan pembelajaran dari rumah. Home Based Learning namanya.

Why? Pastinya untuk membatasi kerumunan murid di awal semester. Tentu saja sekolah menerapkan prokes super ketat yang harus dipatuhi semua.

  • Masker harus dipakai setiap saat
  • Termometer harus dibawa masing² murid
  • Trace Together Token juga wajib dibawa

2. Apa itu Trace Together Token?
Seluruh warga yang tinggal di Singapura, diharuskan memiliki aplikasi Trace Together di ponsel, atau sebentuk token, yang bisa diambil secara gratis di Community Centre terdekat. Aplikasi ini berguna untuk mengecek keberadaan setiap warganya. Sehingga jika ada kasus baru, bisa langsung ditelusuri dengan cepat, untuk mengetahui siapa saja yang mungkin terdampak. Selanjutnya? Ya, isolasi dengan anjuran melakukan test dalam kurun waktu 14 hari, bagi mereka yang pernah berada di area yang sama, atau dekat dengan penderita.

Percayakah teman-teman semua, bahkan sebuah toko kecil di sini pun harus masuk dengan memindai QR code untuk Trace Together? Saya bukannya tidak pernah coba untuk “mbludus” dan main masuk saja. Malas sekali harus scan menggunakan ponsel. Tapi inilah wujud tanggung jawab, yang muncul bukan karena ada siapa yang ditakuti, tapi karena harus menjaga sekitar dan diri sendiri.

3. Singapura memasuki phase II Heightened Alert pada 4 Mei 2021 ketika ditemukan beberapa kasus baru yang lumayan tinggi, meski tak sampai berjumlah ratusan. Pemerintah bergerak cepat dengan menutup semua restoran, sekolah, perkantoran, bahkan beberapa shopping mall besar.

Namun terhitung sejak beberapa hari yang lalu, kami diperbolehkan untuk berkumpul maksimal 5 orang saja. Sementara kunjungan ke rumah dibatasi hanya sekali setiap hari (max. 5 orang). Sementara dine-in hanya diperbolehkan 2 orang saja dalam satu meja.

Bolehkah kami bargain alias minta keringanan alias cincay pada petugas? Kami serumah berlima, masak harus duduk berjauhan ketika makan di restoran? GAK BISA! Peraturan ada untuk ditegakkan, bukan demi dilanggar, hingga dianggap bisa main mata.

4. Terakhir ada peraturan baru lagi muncul, mengenai dining in di tempat makan. Be it restoran atau hawker centre. Kami tidak boleh meninggalkan meja makan dengan tumpukan piring di atasnya, termasuk kotoran seperti tissue, atau sisa makanan. Semua harus dikembalikan ke rak khusus untuk piring kotor, dan kami sudah harus membersihkan meja sebelum dipakai pengunjung selanjutnya. Kalau di restoran, para staff akan berkeliling dan dengan cepat membersihkan meja. Memastikan bahwa tidak ada kotoran menggunung di sana.

Kenapa begitu, ya? Resikonya … Denda.

5. Jangan tanya tentang pemakaian masker. Ratusan petugas berseragam merah akan keliling di banyak tempat untuk menegur siapa saja yang tidak memakai masker. Mau ndableg? Siap saja merogoh kocek dalam untuk membayar denda, atau berani masuk penjara. Tentu saja, ketika sedang berolahraga di tempat terbuka, kami diperbolehkan membuka masker “sebentar” saja.

6. Bagaimana dengan info harian dari pemerintah tentang jumlah kasus per hari? Pemerintah setempat menyediakan link Whatsapp resmi yang bisa dibaca setiap hari.

Apakah untuk menakuti? TENTU TIDAK! Pemerintah ingin kami semua paham dengan segala pembatasan yang diberlakukan. Bukan untuk menurunkan immunity, tapi agar kami semua waspada dan berhati-hati. Pesan terakhir saya dapatkan pukul 4 sore kemarin, 27 Juni 2021.

PM Lee memang pernah mengatakan pada pidatonya 31 Mei yang lalu, bahwa pandemic ini akan menjadi endemic. Tapi eh tapiii … tidak dalam waktu dekat ini. Suatu hari nanti, kita memang harus hidup berdampingan dengan Covid-19. SUATU HARI NANTI. BUKAN SEKARANG. Ketika masih banyak korban berjatuhan.

Teman-teman, percayalah. Singapura masih melewati banyak sekali pembatasan super duper ketat. Dengan peraturan yang tidak main-main, dan bisa dianggap ringan. Ancaman denda, penjara, pencabutan paspor, hingga deportasi, menghantui kami semua.

Saat ini vaksinasi masih terus dilakukan. Kali ini giliran semua yang berusia 12 tahun ke atas, bisa menerima vaksin secara percuma. Untuk mereka yang sudah divaksin, akan menerima sertifikat, lengkap dengan info nomor paspor jika NANTINYA sudah diperbolehkan melakukan perjalanan ke luar negeri. Keterangan tentang vaksinasi juga otomatis tercatat di aplikasi Trace Together masing-masing.

Terakhir, apakah masih ada karantina untuk mereka yang dengan alasan khusus harus pergi ke negara lain? MASIH.

Siap saja merogoh kocek $2000 atau $3000 per orang untuk menjalani karantina selama 14 hari hingga 30 hari, tergantung ketentuan dari ICA atau pihak imigrasi. Info ini saya dapatkan dari beberapa teman yang pernah melewati, plus dari sumber resmi pemerintah. Bukan comot sana sini dari media entahlah.

Jadi, jangan ribut lagi masalah endemi di Singapura sini. Tak perlu menambah kesedihan kami yang belum bisa berkumpul dengan orang tua, bahkan anak, suami, atau istri. Tentu saja tak bisa “nekat” pulang bukan karena tak rindu family. Tapi kami ingin menjagamu, menjaga mereka, dan juga diri sendiri. Karena itu wujud tanggung jawab sebagai manusia yang berakal, dan punya nurani. Jangan ketakutan berlebih, namun jangan juga abai, dan menganggap semua ini semata konspirasi.

Know what you say, say what you know. Don’t say what you don’t know.

Salam sehat,
Rere

*UPDATED* untuk tambahan info. Silahkan membagi informasi ini dengan utuh. Tanpa ada bagian yang dihilangkan. (Rere)

TUNANGAN


TUNANGAN

Mengerjakan pesanan 3D jelly cake bertema tunangan kali ini, membawa ingatan pada hari saya “nembak” suami. Hahaha!

Ya, di usia yang sudah 29 waktu itu, sebenarnya saya sudah malas membina hubungan yang hanya begitu-begitu. Tanpa tujuan, tanpa arah, tanpa ujung yang jelas.

Untung saja, begitu saya tanya apa tujuannya mendekati saya, juga rencananya ke depan, lelaki itu tidak lari menjauh karena ketakutan. Mimpi apa rupanya dia, ditembak seorang perempuan judes untuk menikah. Sungguh kasihan.

Jadi, selamat bertunang untukmu berdua. Semoga lancar hingga ke hari pernikahan, dan saling mencinta hingga akhir dunia.

Terima kasih, sudah memberi saya kesempatan untuk ikut berbahagia sambil mengingat masa lampau yang penuh kejutan.

Pssttt! Mau pesan untuk hari spesialmu juga? Hubungi saya, ya!

Love, Rere

MAUDY YANG AYU


MAUDY YANG AYU

Bolak balik kutonton video, saat sang artis muda nan Ayu naik ke podium untuk menerima gelar Masternya. Bukan tempat belajar sembarangan, namun dari sebuah universitas bergengsi di luar negeri.

Bermunculan kemudian suntingan berita dan tampilan foto miliknya, yang nampak sumringah berkebaya warna merah.

Sebagai ibu, aku pun ikut bangga. Sama seperti ribuan orang tua lain, yang mungkin akhirnya menunjukkan pencapaian akademik sang artis muda sambil berujar.

“Tuh lihat Maudy yang Ayu ini. Cantik, cerdas, terkenal, mementingkan pendidikan, sekolah di tempat yang membanggakan. Kamu harus seperti dia, ya.”

Moms, aku pun kagum pada si gadis Ayu. Namun menyuruh putri-putri kecilku untuk jadi sepertinya? Hmm … rasanya akan jadi hal yang paling terakhir sekali, bahkan tidak mungkin akan kulakukan.

Justru yang terjadi kemudian adalah, aku berkaca pada diri sendiri sambil berpikir, bagaimana orang tua si gadis Ayu mendidiknya di rumah. Itu yang terlintas, bukan keinginan untuk menunjukkan pencapaian sang gadis muda pada anak-anak saja.

Hmm … Pasti ayah si gadis ayu telah bekerja begitu keras, hingga mampu memberikan kedua putri cantiknya pendidikan dasar yang sangat baik, dengan biaya yang tentu tak sedikit. Puluhan tahun yang lalu, Jerman adalah tujuanku melanjutkan sekolah dengan mimpi meraih gelar master di sana. Mengapa Jerman? Karena Bahasa Jerman adalah salah satu mata pelajaran yang dengan baik kukuasai selama sekolah.

Apa daya. Mendapati biaya yang harus ditanggung papa, sebelum menemukan pekerjaan sambilan sembari kuliah, menghentikan semua mimpi yang telah tertanam sejak belia.

Aku kan, bukan artis terkenal, yang sudah punya uang jajan, dan sejumlah tabungan.

Bagaimana mungkin tega meminta sejumlah uang dari orang tua untuk modal berangkat kuliah ke lain negara, ketika biaya study tour ke Jogja jaman SMA saja tak sanggup kuminta. Padahal jumlahnya hanya ratusan ribu saja. Hingga akhirnya, aku jadi satu-satunya murid yang tidak berangkat study tour dari sekolah. Meski Jogja lalu menjadi bagian hidupku tanpa diduga, beberapa tahun lamanya.

Sejurus kemudian terdengar suara cekikikan kedua putriku dari kamar sebelah, dan suara si bungsu, menirukan bunyi yang didengarnya dari televisi di ruang tengah. Ahh, selama mereka tumbuh sehat dan bahagia, rasanya tak perlu menanamkan keinginan terlalu dalam, untuk melihat sosok sang gadis ayu menjelma dalam diri ketiganya.

Kunikmati saja alur hidup yang saat ini ada di hadapanku. Kekonyolan si sulung yang kadang bikin malu, perjuangan setengah mati si tengah menghadapi kelas akselerasi, dan ributnya suara si bungsu yang bermimpi jadi Youtuber terkenal seperti Comodo Gaming. Hahahaha!

I will always support you, guys! Me and your dad. Ayah yang tanpa lelah berjuang memberikan kehidupan yang baik untukmu semua. Meski usianya beranjak tua, ia tak pernah mengeluh dirinya lelah.

Tugas kami berdua, hanya membimbing serta mengawasi saja. Tumbuhlah dengan ceria dan nikmati semua prosesnya. Jatuh bangun, gagal berhasil, gagal lagi lalu bangkit, dan belajar darinya.

Tak perlu menjadi orang lain, dan berharap nasibmu sama seperti si gadis Ayu, atau public figure lainnya. Just be you, dengan banyak perbaikan tentu, serta keinginan untuk maju. Untukmu, dan masa depanmu.

Selamat ya, gadis Ayu! Salam hormat untuk ayah ibumu.

Love,
Rere

TURUN MESIN


TURUN MESIN

Menarik memperhatikan berita yang belakangan ini ramai diperbincangkan.

Sambil membaca dan menggali dalam, kubayangkan lelaki muda itu adalah Rayyan. Ia yang bahkan tidur pun masih masuk ketiakku, yang kadang bau belacan. Ia, yang ketika melihat sang ayah bercanda dengan pura-pura meninju lengan, akan melindungiku dengan tangan kecilnya penuh kekuatan. Ia juga akan balik memukul sang ayah, meski tertawa lepas setelahnya.

Itu … hanya bercanda.

Bukan ia saja, lelaki kecil yang sejak dini paham bahwa dirinya adalah penjaga keluarga. Kedua putri kecilku pun sama juga. Mereka yang selalu memeluk manakala melihat sang ayah berakting memukul lengan sang ibu.

Itu … hanya akting padahal.

Tak terbayang apa yang akan benar-benar mereka lakukan, manakala melihat sang bunda disakiti hatinya. Jiwa dan raga. Tak kira kecilnya badan, mereka pasti akan maju membela tanpa perhitungan.

Beruntung, tak salah kupilih pendamping hidup. Ia, yang mendampingiku “turun mesin” sampai kali ke tiga. Ia yang selalu mengingatkan ketiga buah hatinya untuk tak lepas memperhatikan keberadaan, kesehatan, bahkan kebahagiaan sang bunda.

“Remind her to drink water, from time to time.”
“Listen to bunda, and don’t make her angry.”
“Massage her back and remind her to rest.”
“Apply lotion on her back, when I’m not around.”

Tentu saja ini hanya sebagian. Belum lagi rentetan pengingat bahwa bunda harus dihormati dan disayangi, juga dibantu mencari kaus kaki yang selalu lupa ia letakkan di mana. Padahal tidak ada satu pun barang di rumah yang hilang, kecuali tak ia temukan. Hanya kaus kaki miliknya sendiri saja, yang bolak-balik raib tak tentu rimbanya. Aku … perempuan yang sudah turun mesin itu, memang hampir tak merasa perlu mengingat segala hal tentang diriku melulu.

Mengetahui sang belahan hati turun mesin berkali-kali, lelaki beruban itu toh tak lantas pergi. Malah menjagaku yang makin renta kini. Kursi pemijat ini salah satu bukti. Betapa ia tak ingin melihat sang pendamping yang sudah tua dan performanya turun ini, semakin berkarat sebelum benar-benar harus pergi.

Meski pijatan mesin ini bagiku tak senyaman tangan kekarnya, yang selalu memijat punggung lemahku dengan cinta. Tapi caranya menjaga serta tak menganggapku bak sebuah mesin yang sudah aus, membuatku yakin, putra kecil kami tak akan perlu berkeluh kesah seperti lelaki muda itu.

Hey, you … lelaki muda yang kini banyak dianggap durhaka, pada mereka yang mengagumi dengan gelap mata. Kurasakan cintamu yang tulus dan penuh untuk sang ibu. Kuyakin kelak pada istri dan anakmu, kau paham caranya mencintai dengan sungguh-sungguh. Tak menganggap belahan jiwamu mesin yang akan turun, hingga perlu diganti dengan yang baru. Kuyakin itu. Doaku untukmu, dan juga ibu cantikmu.

Love, Rere

CHANGE … FOR YOU


CHANGE … FOR YOU

“Kek mo mati gue!”

Begitu ekspresi saya pagi tadi, setelah sekian lama berhenti dari olahraga.

Ya, setelah jatuh sakit berkali-kali bahkan sejak sebelum bulan puasa kemarin, saya memang membatasi diri dan tak mau terlalu petakilan seperti biasa lagi. Namun rupanya saya jadi semakin malas berolahraga. Asli. Malas luar biasa. Akibatnya, justru badan rasanya makin tak karuan.

Love yourself, love yourself, love yourself.

Saya lalu ingat kalimat ini, yang berulang kali saya katakan pada diri sendiri.

Akhirnya, hari Minggu kemarin saya kembali beryoga, dan hari ini menyeret kaki untuk piloxing barre lagi. Meski rasanya setengah mati hingga kerap berhenti. Peace, Leti! 🤣

Ladies, jangan segan dan malas untuk berubah, yuk! Jangan dengarkan omongan kiri kanan yang mungkin akan bilang, “Elu olahraga mulu, kok enggak kurus-kurus?”

Oyy!

Olahraga itu bukan nyari kurus, Cuy! Olahraga biar badan segar, otot enggak kaku, pikiran juga relaks plus enggak kusut. Olahraga itu buat elu … bukan buat mereka yang pingin lihat elu kurus.

Berubah, yuk. Buat diri sendiri aja dulu. Berubah, cuma buat kamu.

Bunda, can we go jogging tomorrow?”
“Okay, Boss!”

I’m ready now. Are you ready to change, dearies?

Love,
Rere

Cantik.Perempuan.Perempuan.Cantik


Cantik.Perempuan.Perempuan.Cantik

Topik yang paling saya suka.

Bicara perempuan, perempuan bicara. Bicara tentang cantik, ya pastinya milik perempuan.

Sampai tak sadar, setelah memutar lagi tayangannya, ternyata ekspresi saya begitu berwarna. Hahaha! Pantas saja, saya pernah dikira mengidap satu penyakit oleh seorang dokter, yang melihat mata saya seperti mau keluar ketika bicara.

Begitulah ekspresi yang muncul tanpa bisa saya bendung, terutama ketika bicara tentang keberadaan perempuan, sesama kaum.

Cantik Yang Otentik. Begitu bahasan yang saya bagi hari ini.

Authentic artinya punya gaya sesuai kepribadian sendiri. Bukan ikutan ala dia, dia, atau influencer ternama lainnya. Namun, tetap harus membuka ruang untuk segala masukan. Masukan yang baik akan membawa perubahan yang baik juga pastinya. Itu kalau kita bersedia membuka diri dan hati, untuk segala perbaikan di banyak sisi yang masih kurang.

Hidup ini singkat, teman. Mari mengisinya dengan senyuman dan sejuta kebaikan. Hingga cantik didapat tanpa butuh banyak pengeluaran.

For beauty captures the eye, but personality captures the heart. (Unknown)

Terima kasih sudah bersedia menyimak, serta ngobrol cantik bersama saya dan kami semua, meski saya lebih milih nulis ketimbang bicara. Maafkan bunyi kemresek yang muncul tanpa diundang. Sejujurnya saya ndredeg hingga ke tulang.

Salam hangat dari Singapura.
Love, Rere

CAMPING FAIL


CAMPING FAIL

“We’re dead! We’re gonna die! Oh my God!”

Teriak putra bungsu kami yang waktu itu baru berusia enam tahun. Inilah sekelumit kisahnya, pada suatu hari di tahun 2017, yang lumayan traumatis dan penuh drama.

Cuaca awalnya sangat bersahabat ketika kami berlima tiba di lokasi pada Sabtu pagi. Sebuah tempat khusus untuk berkemah, di salah satu sudut East Coast Beach yang indah. Pagi harinya memang berselimut mendung dengan guyuran hujan. Untungnya, ketika kami tiba untuk mendirikan tenda, matahari muncul dengan malu-malu. Hembusan angin segar juga menyambut kedatangan kami semua. Hanya butuh sekitar 30 menit saja, untukku dan suami mendirikan tenda yang ukurannya lumayan besar.

Perkemahan pun berjalan lancar, anak-anak sangat menikmati keseruannya hingga malam datang. Ini adalah pengalaman pertama mereka, tidur beralas rumput, berhiaskan bintang-bintang. Aku yang sudah melengkapi diri dengan banyak “peralatan perang” pun mulai membuat masakan. Instant noodle, Milo sachet, lengkap dengan sayuran, telur, bakso, dan sausages.

Feels like home!

Agenda kami selama dua hari itu, memang hanya berenang, main pasir, tiduran, dan makan saja. Kebetulan hari itu adalah jadwal libur sekolah anak-anak. Tenda yang kami bawa itu pun masih terhitung baru, karena hanya sekali saja kami pakai untuk berkemah tanpa menginap. Hanya nampak beberapa lubang kecil akibat penyimpanan di gudang. Tak masalah, toh, cuaca terlihat cerah.

Hari Minggu, seharusnya kami berencana pulang selepas Asar. Tapi karena ketiga bocah yang kelihatan happy dan enggan untuk pulang, maka saya putuskan untuk berkemas selepas Magrib saja. Meskipun suami sudah mengajak untuk beres-beres sejak siang.

Apa daya, manusia punya rencana, Allah sang penentu segala.

Sekitar pukul lima petang, hujan rintik-rintik mulai datang. Awalnya kami anggap hanya sebentar, seperti yang terjadi pada Sabtu sore sebelumnya. Ternyata hujan rintik itu seketika menjadi besar.Bukan sekedar hujan biasa tapi hujan angin, persis seperti badai.

Tenda kesayangan yang meskipun baru kali kedua dipakai, usianya memang sudah lumayan lanjut, dan melapuk seiring waktu. Apalagi, sekian lama hanya nongkrong di sudut gudang. Lubang-lubang kecil yang awalnya tak saya hiraukan, ternyata membuat semuanya berantakan.

Tenda yang dibeli suami di Amerika itu pun nyaris melayang terbang, padahal aku sedang memasak mie instan. Ketiga anak kami pun berteriak histeris, karena air sudah mulai masuk dengan cepat ke dalam tenda. Angin yang berputar kencang juga hampir merobohkan semua tenda yang ada di lokasi perkemahan.

Rasanya campur aduk ketika itu. Antara panik memikirkan mie yang sedang dimasak, melihat semua tas sudah terendam air, plus harus saling membantu menahan pondasi tenda, yang hampir terbang tertiup derasnya hujan dan angin. Suasana betul-betul mencekam karena kami seperti terjebak di tengah hujan badai. Waktu itu Lara masih berusia 11, Lana 10 tahun, dan Rayyan baru saja enam tahun. Ia menangis ketakutan.

“We’re gonna die!” katanya dengan wajah pucat dan tubuh menggigil kedinginan.

Akhirnya dengan gagah perkasa, di antara tatapan iba para campers lain yang berteduh di bawah gazebo sekitar tenda, aku berjuang menembus angin dan hujan. Bergantian mondar-mandir membawa ketiga anak, beserta beberapa backpack besar untuk berteduh, di dalam toilet dan changing room terdekat. Sementara sang ayah berjuang menahan pondasi tenda supaya tak keburu terbang.

Untung saja kupilih suami bertubuh gagah dan kuat. Sendirian, ia menahan pondasi tenda yang sudah siap melayang.

Phew! It was a very tense moment for us, especially the kids. Layaknya adegan dalam film laga yang penuh dengan ketegangan, pengalaman kemah pertama anak-anak berakhir dengan sangat dramatis. Di tengah ketakutan dan tangis mereka, aku harus nampak kuat, meski tubuh sudah menggigil kedinginan akibat menembus hujan.

“Guys, listen. It’s an emergency situation. You have to be strong because we gotta help each other. Can we do that and support each other?”

Beruntung kedua putri saya sangat luar biasa. Mereka saling berpelukan untuk menguatkan, juga menenangkan adik bungsunya yang begitu histeris ketakutan.

Setelah anak-anak dan semua barang aman, aku kembali membantu suami. Kami putuskan untuk membuang tenda kesayangan beserta beberapa bantal, selimut, dan semua peralatan masak. Tak sunggup rasanya harus membawa semua barang itu kembali. Tubuhku sudah lemas, rasanya stress luar biasa menghadapi perubahan ekstrim yang terjadi.

Akhirnya, farewell tenda kesayangan. Jasamu akan selalu kami kenang. Selamat memasuki peraduanmu yang abadi. Di dalam tong sampah kau harus pergi.

Lesson learnt, jangan pernah mengabaikan peringatan alam, dan jangan pernah ngeyel sama suami tersayang. Hahaha! Kapok!

Pasir Ris, 22 May 2017

Love, Rere