Try. Try Hard. Try Harder


Try. Try Hard. Try Harder

Kalau dipikir-pikir, universe beserta Sang Pencipta kadang bercandanya seru, ya?

Beberapa bulan lepas kita masih pergi ke mana pun kaki melangkah dengan bebas. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat dan membuat seluruh penghuni bumi dimasukkan dalam “sangkar” emas.

Berbulan-bulan hanya berdiam di rumah saja tentunya membawa banyak perubahan pada fisik dan mental. Biasanya aktif di luar rumah, sekarang harus menikmati detik demi detik kehidupan di dalam rumah saja. Bosan, jenuh, bete, hingga enggak tahu mau melakukan apa lagi.

Nah, apa yang bisa kita lakukan selama di rumah saja? Banyak! Salah satu contohnya adalah melakukan kegiatan yang disukai dan mencoba hobi baru setiap hari.

Bukankah a hobby a day will keep the boredom away? Jadi kenapa kita tidak berusaha mencoba banyak keahlian dan hobi?

“Ah, gue kan enggak berbakat kayak elu.”
“Elu mah megang apa aja jadi, Mak. Gue mah enggak bisa.”

Ih! Kalian tahu tak kalimat “tak kenal maka bisa utang … eh … maksudnya tak sayang”? Bagaimana sih kalian bisa tahu kalau tidak berbakat jika mencoba saja belum pernah. Padahal kegagalan itu masih lebih baik daripada keengganan. Mending gagal tapi pernah mencoba, daripada belum coba tapi sudah menyerah kalah.

Untuk itu, kalau kalian pikir saya bisa ini itu dari lahir, kalian salah. Sesungguhnya saya hanya punya semangat dan ketekunan. Semangat untuk selalu belajar hal baru, tekun mencari ilmu, serta rajin mencoba keahlian baru.

Tahukah kalian semua, jika semakin banyak hal saya temui dalam proses belajar ini, semakin saya paham bahwa sejatinya saya tidak tahu apa-apa. Untuk itu saya belajar membuka diri dan juga hati agar semua ilmu bisa saya pelajari tanpa ruangnya pernah saya batasi.

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk melihat video cara pembuatan beragam kerajinan tangan di internet. Kemudian saya mulai mencoba dan melakukan eksperimen sendiri. Kadang gagal, tapi saya tidak menyerah. Terus mencoba, itulah prinsip hidup saya.

Jadi, apa yang kalian lihat postingannya selama ini di beranda pribadi saya, adalah hasil dari sebuah proses belajar, proses mencoba, dan juga proses melakukan banyak kesalahan.

Begitulah cara saya belajar. Hingga tercipta beberapa hasil karya berupa macrame, wire weaving, resin, dan juga beberapa tulisan yang menunggu untuk dibukukan. Percayalah, memakai hasil karya sendiri itu sensasinya beda teman.

Jadi, masih mau bilang enggak bisa dan enggak berbakat? Think again.

Making mistakes simply means you are trying harder than anyone else.

Love, R

Surat Cinta


Surat Cinta

Adakah di antara emak semua yang masih menyimpan lembaran surat cinta? Surat-surat sederhana yang kadang hanya ditulis di selembar kertas nota kecil, kadang sudah lusuh bahkan mungkin robek di sana-sini? Eits! Saya tidak sedang berbicara tentang masa lalu ya. Ihik!

Ini tentang surat cinta yang saya dapat dari ketiga anak saya, yang tersimpan dan saya rawat dengan baik.

Dulu, waktu kedua putri saya masih kecil dan baru belajar menulis, mereka sering menghadiahi saya surat sebagai tanda cintanya. Walaupun tulisannya masih bak cakar ayam atau dengan gambar yang meleyot sana sini. Banyak lho yang masih saya simpan walau sebagian besar raib, mungkin terbuang waktu kami pindah rumah dulu.

Sekarang, surat cinta itu saya dapatkan kebanyakan dari si bungsu yang memang luar biasa romantis. Ia begitu perhatian dan sangat ekspresif. Rajin sekali memeluk, mencium, dan mengungkapkan isi hatinya dengan bahasa yang lucu.

Ya, ia akan tiba-tiba datang dan menyerahkan sobekan kertas yang berisi kata-kata manis untuk saya.

“I will write down something for you every single day Bunda, because I love you so so so much,” begitu ujarnya.

Ah … meleleh!

Sebagian surat cinta itu sengaja saya letakkan di tempat khusus supaya saya bisa selalu melihat dan membaca. Sebagai pengingat juga untuk tidak selalu marah dan bermuka tegang di rumah. Sebagai tanda juga bahwa ada orang-orang di sekitar yang menyayangi saya dengan tulus hati. Unconditionally.

Thank you, Nak! Rasanya tidak ada hal yang begitu membahagiakan dibanding menjadi seorang ibu. Surat-surat cintamu membuat hidup bunda begitu indah dan bahagia.

Life has never been so good!

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda

TERSERAH!


TERSERAH!

"Yah, pingin banget makan Thosai di restoran itu deh. Duh! Udah kemecer di ujung lidah nih. Enak banget thosainya di sana."
"Bunda mau?"
"Iya. Sarapan di sana, yuk. Pingin minum Lassi juga.'
"Okay. Ayo ke sana."

Pagi itu saya, yang akan mengantar suami berangkat ke kantor, tiba-tiba ingin sarapan di sebuah restoran yang menyajikan masakan India. Kami pun bergegas mempersiapkan diri, dan saya sibuk memilih baju serta bersolek di depan kaca.

"Yah, pakai baju apa ya? Pilihin dong yang merah atau hitam?
"Mana saja bagus, kok. Terserah Bunda saja."
"Ih! Bantuin mikir dong! Bingung nih."
"Ya sudah merah saja bagus."
"Memangnya yang hitam kenapa? Enggak bagus ya?"
"Lah! Katanya tadi saya disuruh milih?"
"Hmm ... ya sudah nanti saya pikir dulu. Merah ya?"

Beberapa saat kemudian,

"Bunda, sudah siap?"
"Sudah, Yah. Ayo berangkat."
"Lah? Ayah pikir mau pakai baju merah tadi?"
"Enggak, ah. Pakai pink saja."
"Ish! Tadi buat apa tanya?"
"Ya, pingin tahu saja pilihanmu."
"Terus yang dipilih malah beda. Dasar! Terserah deh!"

Hahaha! “Sabar ya, Sayang,” ujar saya sembari nyengir dan menggandeng tangannya menuju tempat parkir. Sebelum saya melajukan kendaraan, kembali sebuah pertanyaan saya ajukan.

"Yah, kita mau lewat jalur A atau B?"
"Terserah Bunda."
"Ih! Jangan terserah-terserah terus lah!"
"Hhhh ... Ya sudah lewat jalur A saja mungkin enggak macet."
"Eee ... tapi kan jalur itu lebih jauh terus macet lagi nanti."
"Ish! Terserah deh!"

Saya pun berbelok melalui jalur C … yang macet! Hahaha! Sambil melirik ke arah sang suami yang merengut, saya tertawa lepas sambil berusaha mengusir rasa bersalah karena tidak menuruti kata-katanya.

Akhirnya kami pun tiba di restoran yang sedari pagi thosainya saya inginkan bak sedang mengidam berat. Thosai adalah sejenis makanan khas India yang bentuknya seperti pancake dengan isian kentang yang gurih dengan beragam cocolan sambal yang nikmat. Sementara lassi adalah minuman dari buah segar yang dicampur dengan sejenis yoghurt yang segar. Enak pokoknya!

"Pesan ya? Ayah mau prata telur bawang dan teh tarik. Bunda mau thosai dan lassi, kan?"
"Iya. Eh sebentar, mau lihat menu dulu."

Suami pun memanggil pelayan untuk memesan, berpikir bahwa saya akan membeli makanan yang sebelumnya saya inginkan.

"Hi. Can I have 1 telur bawang prata, 1 thosai masala, and ..."
"Eh, wait wait. Sebentar, Yah. Bunda pesan cheese prata dan teh panas saja, deh."
"Lah? Bukannya jauh-jauh kemari mau makan thosai dan minum lassi? Kenapa jadi cheese prata dan teh panas?"
"Thosai sudah pernah, ah. Mau coba cheese prata. Hehe."

Penuh keheranan suami saya pun merubah pesanan sebelumnya sambil menggerutu, “Gimana sih? Tadi katanya mau apa, terakhir jadi apa. Terserah deh!”

Hahaha! Begitu lah saya, yang seringkali membuat suami mengelus dada atau membeliakkan mata tanda takjub. Ya, ia sering dibuat takjub dengan cepatnya saya merubah keputusan, mengingat sang istri adalah orang yang menghendaki banyak hal terorganisir dengan baik, rapi, disiplin, serba harus, dan tepat.

Yah, saya memang justru sering konsisten untuk tidak konsisten dalam hal mengambil keputusan yang sepele dan remeh. Hahaha! Tapi jangan main-main dengan saya dalam urusan serius seperti sekolah. Saya tidak perlu berpikir dua kali dan ragu-ragu untuk urusan disiplin pengajaran anak dan pendidikan.

Well, anggap saja ini bentuk terapi saya melawan OCD alias Obsessive Compulsory Disorder yang selama ini lumayan membuat stress mereka yang ada di sekeliling saya. Walaupun terapi ala saya ini harus sering membuat kesal suami hingga membuatnya mengernyitkan dahi sambil berkata, “Terserah!”

"Yah, Bunda gendut ya?"
"Enggak."
"Ah, bohong!"
"Beneran! Enggak gendut kok."
"Tapi enggak langsing juga kan?"
"Langsing!"
"Bohong!"
"Ya udaaahhh gendut!"
"Ih! Tega bener!"
"Hadeh! Terseraaaaahh!"

Marriage lets you annoy one special person for the rest of your life. (Anonymous)

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Terserah #ReReynilda

Dirawat VS Diedit


Dirawat VS Diedit

“Cantik banget siiiihh kamu!”
“Hahaha! Editan itu. Filter maksimal, Cint.”
“Ah, gak diedit juga udah cantik.”
“Kata siapa? Cantik itu kudu dirawat Cint. Perawatan mahal jadi … edit aja. Gratis dan bikin bahagia!”

Hahaha!

Ini adalah kalimat yang biasa saya ucapkan ketika menerima pujian dari beberapa sahabat setelah mengunggah hasil swafoto di media sosial.

Ya, saya memang kadang menggunakan aplikasi untuk mendapat hasil foto yang bagus. Paling tidak membuat saya bahagia. Walaupun saya berusaha untuk tidak terlihat terlalu mulus dan flawless. Nanti yang bertemu langsung dengan saya bisa makjegagig kaget, karena ternyata aslinya tidak seindah tampilan di layar gawai.

Berbicara soal perawatan, siapa sih yang tidak ingin merawat tubuh dan kulitnya secara paripurna? Tahukah kalian semua, betapa kami para perempuan ini sebenarnya khawatir? Semakin menua, kulit kami tidak menjadi semakin mulus dan glowy. Semakin bertambah usia, yang tadinya kencang menjadi serba melorot. Mata yang tadinya berbinar indah, menjadi berkantung tebal dan kehilangan sinar.

Belum lagi bertambahnya babat dan timbunan lemak di banyak tempat. Padahal kami sudah berusaha menjaga pola makan dan menghindari beberapa jenis makanan. Tetap saja kami tidak bisa selangsing Sophia Latjuba dan secantik Putri Marino. Mereka sih rasanya tidak perlu repot melakukan diet ketat atau perawatan maksimal, bahkan rasanya mereka tidak pernah menggunakan aplikasi untuk mempercantik tampilan.

Uhari pernikahan saja pipi mereka tidak diteploki bedak dan shading setebal 2 mm kok. Coba kalau kita yang tidak full make up di hari pernikahan. Sudah pasti tampilan kita akan seperti orang yang baru bangun tidur. Bengkak dan kusam.

Perawatan yang saya lakukan di rumah juga terbilang lengkap. Tentu saja, bila mengingat mahalnya melakukan perawatan ke salon kecantikan di negara ini. Awalnya saya berpikir, daripada ke salon mendingan saya rawat sendiri di rumah. Karena jika dihitung akan jauh lebih murah dan hemat.

Bagaimana dengan suami saya? Apakah ia mendukung cara saya melakukan perawatan ini? Ya tentu saja jika ingin melihat saya tampil mendekati seperti 15 tahun yang lalu ketika ia pertama kali terpana melihat saya. Eeeaaaaaa!

Para suami tentu saja harus memberikan dukungan penuh jika menghendaki sang istri tampil menawan bak polesan aplikasi peluntur kekusaman. Jangan hanya menuntut kami ini bekerja di rumah seperti kuli dengan tampilan wajib bak gadis muda kinyis-kinyis, yang bahkan menyalakan kompor saja masih meringis.

Namun sebagai perempuan yang sudah menjadi ibu juga harus paham, bahwa ada banyak hal yang butuh perhatian lebih sekarang. Skala prioritas hidup harus sedikit diatur walau tidak melupakan kebutuhan pribadi.

Lihat kan regime perawatan muka saya? Semua ini tidak berharga murah memang. Tapi saya membelinya dari menyisihkan uang jatah jajan saya sendiri. Ya, saya menghadiahi diri sendiri uang jajan setiap bulan yang bisa dengan bebas saya pergunakan.

Nah, daripada saya menghabiskannya untuk nongkrong cantik atau arisan di resto mewah, saya menyisihkannya untuk membeli beberapa alat perawatan kulit dan wajah. Semacam investasi kecantikan.

Lantas, dipakai tidak? Yaaaaa kebanyakan sih setelah berakhirnya uforia, mereka akan teronggok di sudut lemari kaca. Lantas butuh suntikan semangat untuk menggunakannya kembali. Saya sih masih pakai kok sesekali. Sayang juga sudah mahal-mahal dibeli.

Segitu amat ya perawatannya? Sementara kebanyakan dari kita merasa, “Ah sudahlah. Begini juga sudah laku dan beranak pinak.” Betul tidaakkk? Padahal pikiran seperti itu yang sebenarnya lambat laun akan membuat kita makin malas merawat tubuh hingga kehilangan rasa cinta pada diri sendiri.

Saya sih juga seringnya malas melakukan perawatan sendiri. Namun biasanya dengan beberapa sahabat kami saling menyuntikkan semangat untuk rajin merawat diri. Kadang juga janjian menyeberang pulau untuk pergi ke salon kecantikan dengan harga yang jauh lebih murah daripada di sini.

Jadi, perlu kah kita merawat diri hingga tak lagi butuh sekedar mengedit dengan aplikasi? Jika dengan aplikasi saja kita sudah bahagia, ya lakukan saja. Bebas. Yang penting mencintai dan menyayangi diri sendiri itu juga wajib.

Eyow para suami, bantu istri-istrimu di rumah. Jika tidak menghendaki mereka menghabiskan uang untuk melakukan perawatan, setidaknya berikan dukungan secara verbal bukan melulu perundungan.

“Gendut amat sih, Ma?”
“Kusem amat tu muka, Bun!”
“Lihat deh ini Yuni Shara umur 50 tahun masih kinclong enggak kayak kamu, Mi!”

Oy! Percayalah, ini semua dilakukan para perempuan untuk membahagiakan anda semua. Jadi berikan dukungan, modali istrimu untuk sesekali pergi ke salon kecantikan, dan berikan waktu untuk menghibur diri sejenak dari rutinitas harian. Above all, watch your words! Karena tajamnya bisa menusuk lebih daripada pedang.

Trust me, being a woman is never easy. We have to think like a man, work like a horse, and look like a young girl.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

Hey C, kapan kau pergi?


Hey C, kapan kau pergi?

GAC nyanyi bertiga
Saya dong ber-sembilan saja
Jangan sedih dan gundah gulana
Tetep semangat dan harus bahagia

Daripada pusing di rumah melulu
Mending bikin sesuatu
Mungkin coba resep masakan baru
Kalau sudah jadi, saya dikirimin juga mau

Hey C ... oh ... Si Corona
Kapankah dirimu berakhir dan perginya?
Rasanya hidup ini hampa
Mengetahui Lebaran akan berlalu tanpa anjangsana

Namun darimu kami semua belajar
Apa artinya kekuatan dan bertahan 
Darimu pula kami tahu
Bagaimana harus baik berlaku

Karenamu juga kami jadi tahu
Bahwa Sang Pencipta itu letaknya di kalbu
Bukan di dalam gedung
Atau di atas hamparan sesuatu

Bumi pun sementara beristirahat tenang
Membersihkan diri yang selama ini teraniaya
Karena ulah manusia yang tinggal di atasnya
Bahkan langit kini berwarna biru terang

Kini kita hanya mampu berdamai dengan keadaan
Merubah kebiasaan yang tidak sepadan
Lalu membawanya senantiasa dalam kehidupan
Untuk ingat bersih, hidup sehat, dan menyebarkan kebaikan

Jangan gundah dan terjebak lama dalam kesedihan
Semua pasti bertemu jalan
Seperti janji-Nya dalam kitab pegangan
IA hanya merubah nasib jika ada usaha dan keyakinan

Bahagia selalu
Jaga diri dan kesehatanmu
Jangan putus asa
Jika pintumu tertutup, ada pintu lain terbuka

Love, R
#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda
Bahagia – Cover

H I D U P


H I D U P

Memang tak selalu lurus apalagi mulus
Kadang di tengah jalan bertemu kerikil dan batu
Mungkin juga berhadapan dengan jalan berliku
Namanya juga hidup, bisa bertahan kah kamu?

Pernah punya duit cuma sepuluh dollar
Dengan sebiji telur penahan lapar
Untung bayi kecil gak ikut nangis menggelegar
Namanya juga hidup, tak selamanya bak bunga mekar

Pernah juga tertimpa masalah besar
Sampai harus kabur-kaburan
Bahkan mobil sampai tabrakan
Namanya hidup, kadang ada ujian sabar

Ujian terus, kapan lulusnya?
Masak hidup enggak lurus terus jalannya?
Kan sabar ada batasnya?
Namanya juga hidup, kita tak pernah tahu ujungnya

Merasakan roller coasternya kehidupan
Membuat saya punya pertahanan
Walau kadang ada pasang surutnya
Tapi saya sadar, banyak orang lebih susah hidupnya

Dari itu semua, apa yang saya dapat?
Selain keyakinan untuk bisa menjalani dengan selamat?
Saya belajar artinya kekuatan
Yang tidak pernah saya tahu adanya di badan

Sekarang jalan saya terasa lebih lapang
Lupakan yang lewat dan maafkan segala kesalahan
Tugas saya sekarang berbagi pelajaran
Bahwa setelah gelap pasti ada terang

Life’s short, spend it wisely.

Change the way you look at things.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis

Tentang Hati (Sebuah Elegi)


Tentang Hati (Sebuah Elegi) Ketika hatimu mati Karena prasangka dan dengki Ingat-ingatlah mati Yang setiap saat menghampiri Aku tak akan bergeming Karena lisanku toh tak kau percayai Semoga Allah mengampuni Segala fitnah yang terlontar dengan keji Betapapun hati ini ingin balas menyakiti Namun ku tetap menahan diri Kan kubalas indah hanya dengan puisi Karena hanya […]

Movie Night


Movie Night

Ayah, can we have a movie night today and everybody sleep together in the living room?”
“Okay
Rayyan. Guys, we’re gonna sleep outside tonight.”
“Nooooo! I don’t want
Ayah.”
“Why?”
“I just don’t want.”
Bundaaaaaaaa! The girls don’t want to sleep outside tonight!”


Satu hari dalam seminggu biasanya kami sekeluarga memiliki jatah movie night. Memutar film di ruang tamu hingga dini hari, dan menggelar alas untuk tidur berlima di lantai. Ya, di lantai ruang tamu dengan alas seadanya.

Setelah beberapa lama, kegiatan ini tidak kami lakukan, hingga kemarin Rayyan si bungsu pun mengajak sang ayah dan kedua kakaknya untuk menggelar movie night lagi.

Sayangnya ide ini serta merta ditolak oleh kedua putri saya, hingga sang ayah mengadu dan mengatakan idenya dihempas tanpa ampun. Kemudian saya memanggil Lana dan Lara bergantian.

Adik, do you want to have a movie night tonight?”
“Okay,
Bunda.”
“We sleep together in the living room okay?”
“Okay!”
Kakaakkk, how about you?”
“Okay
Bunda.”

“Haaaaa? Why so easy? Why you give her different answer? You said you didn’t want to sleep outside just now?” Tanya sang ayah yang idenya ditolak mentah-mentah beberapa menit sebelumnya.

Ayah, that’s the importance of communicating effectively.” Jawab saya dengan senyum sumringah tanda kemenangan.

Kalau saja saya mengajak mereka untuk sekedar tidur bersama di lantai ruang tamu yang tidak nyaman, pasti ide ini juga akan ditolak mentah-mentah. Jadi, saya menggunakan ajakan persuasif yang seru seperti menggelar movie night untuk mengajak mereka, dan langsung diterima tanpa banyak protes. Padahal intinya sama-sama ajakan untuk tidur berlima di lantai ruang tamu.

Well, what can I say? Motheeerrrr knows best!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

Secangkir Kopi Hangat Emak – Belajar Hidup. Hidup Belajar


Secangkir Kopi Hangat Emak – Belajar Hidup. Hidup Belajar

Rayyan, I need to talk to you.”
“Yes,
Bunda?”
“I’ve tried my best to teach you good manners. On the dining table, while talking to others, etc … but you didn’t seem to bother. Everything is a joke to you.”

Bocah 9 tahun itu tertawa dan berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengajak saya menonton film kesukaannya.

“Listen! It’s time for you to listen! You are so playful! Do you know why I teach all of you manners every single day?”
“Mmm … to make me a well-behaved kid?”
“Exactly. You knew it, yet you like to test my patience everyday. You will not stay in this house with me forever you know that? You will go out and might stay with other families one day. How are you going to be a well-behaved person if you don’t start here now. In your own house?”

Bungsu dari 3 bersaudara ini mulai menundukkan kepala dan berusaha memeluk saya. Mungkin wujud penyesalannya.

“You said you want to see me healthy until I grow older and can no longer take care of you? You said you don’t like to hear me nagging every single day? Yet, you keep making me angry.”

Kemudian saya mulai membuka gawai dan mencari sesuatu melalui internet.

Boy’s boarding school.

Mata bocah pecicilan itu pun terbeliak dan saya merasakan jantungnya berdegup kencang. Saya memang sengaja membuatnya melihat apa yang saya cari di internet.

“Why are you searching for boy’s boarding school?”
“I’m thinking of sending you to a boarding school. You will learn how to interact with other people and take care of yourself here. You will be placed in a dormitory, in a single room or a shared one. You will learn how to behave and communicate with others without me around. I think you will like it. You are going for National Service too soon. So this is good for you. Maybe you will listen to the teachers there better than me.”

Mata bulat bocah lelaki itu berkaca-kaca, kemudian ia membalikkan badannya dan saya melihat bahunya berguncang tanda ia sedang menangis.

“Aahhhh. I found one. I think this is perfect. Mazowe Boys Boarding School in Zimbabwe. Do you know where Zimbabwe is? Rayyan?”
“I don’t know! And I don’t want to know!”

Ia menjerit dari balik selimut yang menutupi sekujur tubuhnya sambil menangis.

“It’s in Africa. It’s just perfect for you. I’m going to call the school tomorrow. Good night.”


“Aahhh good,
Bunda. I agree with your choice. Zimbabwe is perfect for him.” Sang ayah pun turut andil menambahkan bumbu hingga bocah lelaki itu pun semakin menangis.

Saya setengah mati menahan tawa.

“Please don’t send me to a boarding school. I promise I will practice good behaviour, I will listen to you bunda, ayah, and kakak. I promise I will help around the house. I promise I will study more and be a well-behaved student at school. I want to be with you Bunda. I don’t want to go to Africa.”
“Promise? I just want to raise you right,
Rayyan. I want people to see you as a kind boy, not a naughty one that people refuse to be around. So, you promise me? If you break your promise what should I do?”

“Send him to Zimbabwe,” ujar sang ayah.

Tersedu-sedu ia menangis sambil memeluk saya semalam. Ya ya, saya tahu. Saya dan ayahnya adalah naughty parents. Hahaha! Saya suka sekali bermain drama dengan anak-anak. Kadang juga sedikit membumbui dengan ancaman secara halus. Pokoknya bukan ilmu parenting yang baik deh. Hahaha! Tak perlu ditiru.

Rayyan sebenarnya anak yang manis. Ia terhitung penurut, namun sangat playful. Semua hal adalah humor konyol, dan lucu untuknya. Ia kadang tidak bisa memilah dan bertindak semaunya di sembarang tempat. Kami sedang mengajarkannya untuk pandai menempatkan diri. Di mana ia bisa bergurau dengan bebas, dan di mana ia harus diam dan bertingkah laku baik.

Ini adalah salah satu cara saya mendidiknya karena saya tidak ingin terlalu sering membentak bahkan melayangkan tangan ketika kesal. Saya ingin menanamkan kata-kata baik dan positif di dalam benaknya. Hal yang akan ia bawa hingga dewasa.

Lantas, bagaimana hasil sang drama mama semalam?

Pagi tadi, bocah lelaki itu bangun sahur dengan tersenyum. Mempersiapkan makanannya sendiri dengan cekatan, membuang sampah tanpa banyak alasan, dan duduk dengan manis di meja makan. Selesai makan, ia membawa piring makannya kemudian mencuci dengan tertib, dan kembali ke meja makan untuk membersihkan sisa makanannya.

Setelah itu ia mandi, meletakkan baju kotornya dalam mesin tanpa diperintah, kemudian menawarkan sang kakak untuk menyapu rumah. Setelah selesai ia pergi tidur tanpa beliakan mata saya, namun meminta ijin menggunakan gawai nya nanti untuk menonton film kesukaannya.

Good boy. Semoga bukan hanya hari ini janji itu dipenuhinya. Ingat, Zimbabwe menantimu di sana.

Love, R

#WCR #ChallengeMenulis #RumahMediaGrup #ReRe

Ikat. Sana. Ikat. Sini


Ikat. Sana. Ikat. Sini

Lebaran kali ini mungkin tidak akan sama seperti tahun kemarin.

Mungkin tidak akan terlihat pemandangan serombongan orang hilir mudik mengenakan baju berwarna seragam, berkunjung ke rumah sanak saudara. Mungkin tidak akan ada deretan toples kaca berisi kue manis khas lebaran yang menggugah selera. Mungkin. Tapi mungkin juga tidak.

Di tengah suasana yang serba tidak pasti ini semangat ber hari raya saya tetap membara di hati. Berharap bumi ini sesegera mungkin sehat kembali. Anggap saja ia sedang melakukan pembersihan diri seperti puasa kami.

Semangat itu yang membuat saya melirik gulungan temali di atas meja putih. Tempat saya banyak menelurkan kreasi. Kreatifitas yang tidak pernah saya biarkan mati. Malah semakin dipupuk dengan banyak belajar lagi. Saya ingin membuat sesuatu untuk menyambut lebaran nanti.

Ikat sana, ikat sini, tali temali berputar hingga jadi lah beberapa coaster cantik berwarna putih susu, sebagai hiasan meja kaca di ruang tamu. Beberapa untuk gelas minum atau toples cemilan, dan sebuah yang besar untuk entah apapun itu. Nanti saya pikir dulu, kalau lebaran jadi menerima tamu.

Jangan murung karena tebaran virus yang menganggu. Wajah yang merengut hanya akan membuat hilang manismu. Buatlah sesuatu untuk mengisi hari-harimu. Karena hidup harus tetap maju meskipun hanya di rumah melulu. Semangat dan tetap berkarya selalu. Buka mata dan cari tahu apa yang bisa dijadikan sesuatu yang baru.

Saya belum akan berhenti membuat ini dan itu. Bagaimana dengan kamu?

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda