Hitam Putih


Hitam Putih

Pernikahan adalah bersatunya dua warna, dua watak, dua budaya, dua keluarga, dua yang kelak menjadi tiga, empat, lima, dan seterusnya. Pernikahan kelak harus bertimbang rasa, berbagi bahagia dan duka, serta meleburnya dua anak manusia dalam satu kapal. Kapal kehidupan. Berdua.

Melalui buatan tangan ini, tercurah banyak cinta diiringi doa, semoga dalam duka ada suka. Dalam suka ada cinta. Cinta yang tak akan lekang oleh waktu. Cinta yang hanya berakhir di ujung waktu. Selamat mengabadikan cinta, dan mengukirnya dengan caramu.

Kotak angpaw ini adalah buatan saya untuk pernikahan seorang ponakan, yang terbuat dari kardus-kardus bekas. Mengambil tema sepasang pengantin Melayu, saya membungkus bahan-bahan bekas ini dengan selembar kain songket.

The bride and the groom dalam hitam putih songket nan anggun. Cantik, kan?

Love, Rere

Three In One


Three In One

What a day today!

Tiga kegiatan berbeda dalam satu hari.

Pagi ngomongin buku, siang melukis botol, malam mendadak dangdut jadi MC.

Oh well, kalau tak begitu, penat rasanya terus menerus mendengar kabar kehilangan, yang begitu menguras emosi dan jiwa.

Being active makes me happy. Being happy makes me healthy.

… dan ini another recycled project for today’s event yang bikin happy.

Menggunakan acrylic paint, gold flakes sisa bebikinan uv resin, plus bunga manis dari clay yang dibuat beberapa minggu lalu.

Kamu, sudah bahagia belum hari ini? 😊

Love,
Rere

RECYCLED DECO


RECYCLED DECO

Recycled?

Yep! Semua media yang saya pakai ini adalah hasil daur ulang kanvas dan botol bekas.

Tiga kanvas yang saya pakai untuk membuat motif mandala ini adalah kanvas bekas. Satu milik saya yang hasil lukisnya kurang saya sukai karena agak berantakan, dua lainnya adalah milik Lara dan Rayyan yang setengah jadi. Merasa sayang melihat ketiganya teronggok tak berdaya di pojokan, saya pun mendaur ulang semuanya. Melapisi dengan acrylic paint warna hitam, membuat pola untuk bisa menyatukan tiga kanvas, lalu mulai menggunakan dotting tools untuk mewujudkan motif mandala bertema inner peace.

Tema yang cocok sekali untuk situasi saat ini yang serba tak menentu akibat pandemi. Tak bisa mudik, tak boleh berkunjung dengan bebas antar keluarga, juga menerima banyak berita duka yang mengiris jiwa.

Botol yang saya pakai itu hasil daur ulang juga dari YL Ningxia Red yang saya miliki banyak sekali di rumah. Seperti beberapa botol lain yang sudah saya lukis, kali ini saya membuat motif mandala bertema sama dengan lukisan pada di kanvas. Lumayan kan, untuk mengisi waktu selama berpuasa? Meski lebaran tak bisa saling mengunjungi dengan bebas, paling tidak saya punya home deco baru yang manis dan bikin gemas.

Mau belajar? Tunggu kelas offline “Craft Chain with Reyn” setelah Lebaran, ya. Sehat selalu semua!

Love,
Rere

Botol Bekas Jadi Vas


Botol Bekas Jadi Vas

“Banyak banget botol NXR.”

Saya memang peminum NingXia Red karena manfaatnya yang sangat baik untuk saya pribadi.

Saking seringnya beli, jadi botolnya pun menumpuk di gudang, karena bentuknya yang manis jadi dibuang sayang.

Sakit kepala yang hari ini menyerang, membuat saya butuh outlet yang harus bikin senang. Maka saya pun melihat sekililing rumah untuk mencari korban.

Voila! Botol-botol bekas, sudah berubah jadi deretan vas cantik, untuk deco di rumah.

Lumayan, kan?

Punya botol bekas? Recycle aja.

Love,
Rere

Recycle. Reuse. Remake


Recycle. Reuse. Remake

Punya hobby itu asyik lho. Apalagi ketika dari hobby itu jadi bisa menciptakan sesuatu yang baru baik dari limbah di rumah, atau barang bekas jaman dulu.

Tadi pagi saya beberes dapur, lalu melihat tampah berukuran kecil yang sudah agak rusak jalinan rotannya.

Dibuang? Sayang, ah.

Bikin baru, dong!

Akhirnya, iket sana iket sini, voila! Tampah rusak saya pun jadi sesuatu yang baru. Bisa digantung sebagai hiasan dinding, tempat bunga kering, atau bisa juga jadi tempat surat yang biasanya menumpuk di meja.

Jadi, masih mau buang barang lama? Bikin sesuatu, gih. Atau kalian mau pesan wall deco lucu ini? Ihik!

Love,
Rere

Recycle. Reuse


Recycle. Reuse

“Yah, bunda ambil kaos buluknya ya.”
“Hmmm.”
“Yang ini ya?”
“Itu kan bunda yang beli dari Amsterdam.”
“Nggak apa. Udah buluk. Kan tetep ada memorinya tapi lain bentuk.”

Cekres-cekres … si kaos buluk yang saya beli untuk sang “pacar” dulu waktu masih melanglang buana dan jajan terus, berubah menjadi sesuatu yang baru.

The memory will remain, hanya dalam bentuk yang lain. Kalau dulu kaosnya dipakai sebagai baju, sekarang sang kaos berubah menjadi tatakan gelas untuknya.

Gak punya tali macrame tapi punya kaos lama? Atau bedsheet bekas? Atau sarung yang sudah kekecilan? Bikin coaster alias tatakan gelas yuk. Bisa juga dijadikan hiasan dinding seperti Dream Catcher.

Bahan:
• Tali macrame yang sudah digunting 200cm 12 buah.
• Atau kain bekas (pilih bahan kaos) yang digunting 3cm sampai habis.
• Gunting, klip, meja kecil atau papan, crochet hook (optional), lem bening & kuas untuk merapikan (optional)
• Plus senyum bahagia.

Cara membuatnya ada di video yang saya bagikan di bawah ya.

Jadi, punya baju bekas jangan dibuang ya. Daur ulang jadi sesuatu yang baru dan bermanfaat. Lumayan kan?

Love, R.

Bosan? Recycle & Reuse, Yuk!


Bosan? Recycle & Reuse, Yuk!

Kalian kalau bosan ngapain, sih?

Kalo saya biasanya ngerjain yang gak puguh. Hahaha!

Sepagian ini saya memandangi hiasan dinding yang dibuat sewaktu awal belajar membuat macrame dulu. Hmmm … masih berantakan, simpulnya banyak yang salah, dan pattern nya acakadut. Tapi itu lah macrame pertama yang saya buat dengan modal nekat.

Saya punya kebiasaan menyimpan memorabilia benda-benda yang saya buat pertama kali. Sewaktu masih proses belajar, dan sedang belajar dari kesalahan. Wire weaving yang petat-petot, simpul macrame yang miring ke sana kemari, resin yang tak rapi permukaannya, dan banyak lagi. Semua saya simpan dan pakai kalau berbentuk accessories.

Beberapa saya ubah bentuk untuk menjadikannya lebih sedap dipandang, dan tentu saja karena saya bosan dan ingin melihatnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Iseng banget ya.

Nah, itu lah yang terjadi pagi ini. Hiasan dinding pertama saya tinggal kenangan. Bukan dibuang, namun diubah bentuknya menjadi coaster berbentuk unik yang bisa saya pakai sebagai alas untuk meletakkan piring, toples, atau vas bunga. Lebih gampang juga sih, saya letakkan di mana-mana daripada harus nuthuki paku ke tembok yang kerasnya ngaujubilleh ini.

Lumayan kan?

Love, R

Siap-Siap. Bikin-bikin


Siap-Siap. Bikin-bikin

Setelah selesai dengan coaster atau tatakan macrame, hari ini mata saya melirik sebuah botol kosong bekas tempat mayonaise.

Botolnya yang berbentuk bulat lucu memang tidak pernah saya buang. Biasanya saya pakai untuk meletakkan money plants yang sudah beranak hingga 5 botol. Coba duit beneran ya. Bisa lah saya beli kapal pesiar mewah.

Ah, yang ini saya bungkus saja lah dengan macrame. Anggap saja toples lebaran baru, lalu nanti saya letakkan di atas coaster yang kemarin saya buat juga. Cakep deh.

Ikat sana ikat sini, putar sana putar sini, plus salah ikatan, salah jumlah tali, saya lewatt seharian kemarin, karena design kali ini dibuat tanpa pattern sama sekali. Saya hanya mengikuti kemana tangan berputar. Hihihi!

Hingga ahirnya … voila!

Botol bekas jadi baru dan berbaju cantik, hasil bikin-bikin untuk persiapan lebaran nanti.

Mau coba? Gampang kok, asal sabar. Eeeaaa!

Love, R

Gagal? Apa Itu?


Gagal? Apa Itu? Hidup tanpa kegagalan, bagai tumis udang campur pete yang kurang garam. Hambar. Kurang greget, terlalu plain alias anyep. Kurang rantangan … eh! Kurang tantangan. Berkarya untuk membuat kerajinan tangan, kemudian langsung menghasilkan sesuatu yang cantik itu pasti keinginan setiap crafter. Bikin sekali, terus langsung jadi. Asik, ya? Apa daya, bagi crafter seperti […]

Old But New – New But Old


Old But New – New But Old Nah, setelah kemarin saya merubah bentuk overall lama dari celana menjadi rok terusan, inilah bentuknya setelah dipakai. Celana favorit saya jaman muda dulu ini, akhirnya bisa dipakai lagi. Hore!! Thanks to old denim pants milik suami saya yang rencananya mau dibuang karena ada beberapa bagian yang berlubang. Lagipula […]