Jenang Grendul Mama


Jenang Grendul Mama

Ma, kangen deh makan jenang grendul tiap buka puasa dulu.
Aku mau bikin tapi hasilnya tidak sama dengan bikinanmu.
Tadinya sangat berharap bisa melewati Ramadhan ini bersamamu.
Apa daya kita terpaksa melaluinya berjauhan dulu.

Dua Ramadhan yang lalu beruntung sekali bisa kita lewati sebagai sebuah keluarga yang utuh.
Aku tahu sejak di bangku kuliah putri kecilmu ini sudah melesat pergi jauh.
Apalagi ketika pilihannya untuk bekerja membawanya ratusan mil jauhnya darimu.
Menikah pun dipilihnya lelaki dari negara seberang pulaumu.

Ma, aku rindu.

Rindu menikmati penganan buka puasa hasil tanganmu.
Takjil yang manis bak senyummu.
Nasi dan lauk pauk sederhana yang mengenyangkan dahagaku.
Tawa candamu yang selalu membuat perutku kaku.
Obrolan seru tentang ini itu.
Kadang hal-hal receh yang enggak puguh.

Aku rindu.

Ma, jika wabah ini kelak berlalu, tunggu aku pulang ke rumahmu.
Membawa sejuta rindu tentang dirimu.
Membawa perut kosong yang rindu masakan khas Ramadhan mu.
Membawa tenggorokan yang clegak-cleguk membayangkan jenang grendulmu.

Sehat selalu ya Ma.
Kita bisa melalui ini semua dengan selamat bersama.
Walau aku di sini dan kau di sana.
Langit yang kita pandang toh tetap sama. Kenangan akan jenang grendulmu bahkan tetap terasa di ujung lidah.

Selamat berpuasa Ma, semoga 30 hari yang indah terlalui dengan sukacita.
Walau kita tidak bertatap muka dan bertukar pandang.

Untukmu semua, cintai keluarga dan sekitar yang utama.
Karena terpisah jarak dan waktu itu sedih rasanya.
Bumi ini, biar ia membersihkan diri seutuhnya. Sudah terlalu lama ia menderita karena tangan-tangan manusia yang tinggal di dalamnya.

Love, Reyn

reynsdrain

#TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Ramadhan #Rereynilda