Tumpeng Bikin Seneng


Tumpeng Bikin Seneng

Masih ingat tumpeng mini yang waktu itu saya buat?

Padahal setelah hari itu, saya tobat bikin tumpeng, lho. Makannya 5 menit, menghiasnya bikin pinggang sakit.

Ternyata tobat saya tobat sambel. Cuma sesaat. Hahaha!

Pagi ini bukan lagi tumpeng mini saya buat, tapi tumpeng gede. Hahaha! Meski sudah mengatakan pada mamak pemesan yang kece berat, bahwa karena short notice, saya akan membuat tumpeng sederhana saja. Ternyata … saya tak tahan juga melihatnya terlalu biasa. Padahal hanya punya 1 hari persiapan saja.

Meski tak memberikan deretan pagar cantik, atau bentuk basket seperti sebelumnya, kali ini tumpeng saya penuh dengan bunga. Bak sebuah taman mini di sudut rumah yang asri. Penuh warna-warni, yang memikat hati. Semoga menu yang tersaji memikat lidah juga ya, ibu-ibu baik hati.

Terima kasih sudah memaksa saya membuat tumpeng lagi. Hahaha!

Love, Rere

Serpihan Hati


Serpihan Hati

Hai, apa kabar semua?

Awal tahun ini lumayan kelabu untuk saya pribadi. Semoga tidak untukmu semua di sini.

Dimulai dengan berita masuknya papa ke rumah sakit karena terkena Covid 19. Sesuatu yang kami semua sebenarnya heran, karena beliau adalah seorang kakek berusia 70 yang sangat bugar. Olahraga tak pernah ditinggalkan dan sangat menjaga asupan makanan. Meski terbilang bandel karena kebiasaan sholat di masjid tak bisa ia tinggalkan. Meski disiplin pada protokol kesehatan.

Ala kulli haal. Semua sudah menjadi ketentuan Sang Empunya Dunia.

Kabar duka selanjutnya, datang dari seorang kakak ipar, yang buat saya, sudah seperti pengganti mama yang jauh di Jakarta. Sang putra sulung, kebanggaan kami semua, berpulang di usia yang sangat muda. Padahal almarhum baru saja merilis sebuah single bertajuk “Fly High”. Rasanya tidak percaya meski kami semua harus ikhlas menerima. Hanya doa selalu terpanjat untuknya, semoga Allah menerangi kubur dan jalannya menuju surga.

Dua berita ini membuat pertahanan saya lumayan jebol, hingga segala hal buruk yang pernah terjadi beberapa tahun belakangan, muncul tanpa bisa dicegah.

Perseteruan, fitnah keji, dan segala hal tidak menyenangkan yang selama ini saya buang serta hindari, muncul tanpa basa basi. Basi!

Meskipun cuek, berusaha memahami dan tidak mengingkari, saya tetap sakit hati. Tumbuh menjadi seorang perempuan yang belajar untuk tidak menyimpan segala hal dalam hati, dan membuat tangan yang terkepal ini harus tersembunyi, membuat saya bingung sendiri. Tidak bisa dengan lugas semua saya habisi, demi tidak menyimpan dendam dalam hati, rupanya butuh lebih dari sekedar berdamai dengan diri sendiri.

Ternyata, proses berdamai itu butuh latihan setiap hari, tanpa jeda sama sekali. Tidak mengingkari rupanya kurang cukup membuat saya memahami perlakuan beberapa orang dari masa lalu, yang sangat membuat kesal dan keki.

Pelajaran hidup yang saya dapat dari suami untuk ikhlas dan sabar, rupanya tidak cukup terpatri dalam hati. Tapi saya belajar satu hal penting, untuk tidak melayani mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Semoga mereka tidak memancing kepalan yang setengah mati saya sembunyikan ini.

As for me, saya akan mulai tahun yang sendu ini dengan lembaran demi lembaran buku yang baru lagi. Semua hal buruk yang pernah dan masih berlangsung hingga saat ini, akan jadi salah satu cerita yang ada di sudut perpustakaan hati. Tidak perlu saya robek dan bakar habis serpihannya, hanya butuh disimpan untuk menjadi senjata menghadapi esok hari.

“Oy! Gue masih berdiri dengan tegak di sini! Ape lo ape lo!”

Have a great day ahead!
Love, Rere.

DUA BEDA


DUA BEDA

Pagi tadi saya tertarik menyimak postingan seorang sahabat perempuan, yang sering saya baca insightnya seputar dunia perempuan.

Saya bertemu suami di usia yang sudah tidak muda lagi. Terhitung telat untuk ukuran kerabat dekat. Karena di saat saya masih sibuk keluyuran, ugal-ugalan, dan seneng-seneng sendiri, beberapa teman perempuan sudah menyenandungkan nina bobo buat sang buah hati.

Saya bahkan sempat tidak tertarik sama sekali buat menjadi seorang istri. Justru lebih tertarik menjadi ibu tanpa perlu terikat dalam sebuah lembaga pernikahan yang rumit. Sampai akhirnya saya bertemu seorang lelaki.

Laki-laki bertinggi 182cm (lumayan buat perbaikan keturunan) yang berjarak ribuan mil jauhnya waktu itu. Ia tak pernah surut langkah untuk membina komunikasi dengan saya. Perempuan mungil yang hanya dilihat fotonya dari sebuah sosial media. Meski harus terbelalak setiap kali tagihan ponsel sampai ke tangannya.

Psstttt! Jaman dulu belom ada kamera jahanam, ye. Tapi eh tapi … si perempuan juga belom ketemu panci, pampers, apalagi pakek ngosrek toilet. Jadi memang aslik kinclong dan kecenya. Duluuuu. Hahaha!

Anyways, sembilan bulan berkomunikasi tanpa jeda sampai saya dijuluki Miss Ring-Ring, saking enggak pernah lepas ponsel dari telinga. Apa saja yang kami bicarakan, sih? Banyak. Saya kerap memunculkan sebuah contoh kasus yang umum, sambil mencari tahu bagaimana sikapnya akan hal tersebut.

Tentu saja belum sampai pada pembicaraan yang terlalu mendalam, seperti pemilihan alat kontrasepsi. Hahaha! Saya sendiri juga masih bloon, kepikiran buat bertanya pun tidak. Lagipula, kami baru saja saling mengenal. Bisa makjegagig dia kalau tiba-tiba diajak diskusi seputar KB.

Anyways, dalam masa sembilan bulan itu hanya 5 kali saja kami bertemu secara langsung. Lima kali yang membawa saya pada sebuah ketetapan hati, setelah “memaksanya” memilih. Mau berhubungan serius, atau sekedar iseng tanpa tujuan hidup.

Ya, saya emang tukang maksa. 🤣

September kemarin, lima belas tahun sudah perjalanan kami, dan pastinya sangat tidak mudah. Beda budaya, beda latar belakang, beda didikan, beda kebiasaan, bahkan beda bahasa juga sering jadi kendala.

Beruntung saya bukan perempuan yang “diam”. Jika ada masalah mengganjal, saya akan bertanya meski kadang berujung diem-dieman. Biar saja, yang penting tidak ada masalah disembunyikan karena berhasil menemukan satu titik yang sama.

Meski saya terhitung keras kepala dan enggak bisa dilarang, saya tetap meminta ijinnya setiap kali ingin melakukan sesuatu. Be it menimba ilmu, sekedar nongkrong tak tentu, atau jalan dengan temen yang itu-itu. Saya mengharuskan diri untuk minta ijin selalu.

Beruntung, laki-laki itu bukan tipe ribet. Tak selalu mengangguk setuju, kadang ia juga melarang meski saya harus paham alasannya dulu. Di awal tahun pernikahan, sih, saya masih ndableg. Dilarang enggak bakal mempan. Sekarang saya lebih manutan, karena merasa larangannya memang untuk menjaga saya … yang sudah vintage nan langka ini. Susah nemunya lagi.

Jadi, enggak ada patokan untukmu tahu apakah ia lelaki yang tepat atau bukan, untuk menjadi pasangan seumur hidup. Hanya pengalaman. Pengalaman mengenal banyak lawan jenis disertai rangkaian “interogasi” terselubung. Selanjutnya, percaya lah pada instinct dan gut feeling.

Untukmu yang sedang gundah, jangan takut membuat pilihan dengan membuka seluruh panca indra. Don’t be blinded, karena waktu tidak bisa diputar ulang.

Kalau terlanjur sayang meski ternyata tak menemukan kecocokan, gimana? Selama tidak ada kekerasan, verbally maupun physically, banyak-banyak lah komunikasi. Sounds clichè tapi sangat penting dilakoni.

Jangan jadi perempuan yang “pendiam”. Stand up, speak out. Karena hanya dengan “tidak diam”, YOU can change anything.

Love Life,
ReRe

Kamu Dan Kenangan – Maudy Ayunda (Cover)

Berani Terima Rantangan?


Berani Terima Rantangan?

“Have you decide on what to draw?”
“Eeenggg …”

Dasar paling enggak bisa ditenteng eh ditantang!

Melihat sahabat di hadapan saya mengeluarkan sebuah gambar cantik berbentuk batik, saya pun latah. Pola mandala yang sudah saya gadang-gadang untuk dilukis di atas rantang putih nan imut ini pun berubah haluan.

Motif Parang yang selalu saya kagumi menjadi pilihan. Entah kenapa, saya yang sebenarnya tidak terlalu suka batik, begitu jatuh cinta pada motif ini. Berbentuk bak huruf S yang sederhana, dengan garis tegas namun tidak putus, seperti bagaimana saya memandang hidup.

Tidak perlu gumunan, namun pantang menjadi lemah apalagi mudah menyerah. No way, Cinta!

Meskipun saya jadi harus bekerja 2 kali untuk merubahnya dari motif awal yang saya buat pada goresan pertama. Enggak apa-apa. Rasa cinta pada bentuk dan filosofi yang terkandung pada motif ini membuat saya kembali mencoba melukisnya dengan harap-harap cemas. Takut hasil akhirnya tidak sesuai harapan seperti sebelumnya.

Hmmm seperti hidup ya, yang kadang tidak seindah bayangan. Namun akan selalu terbentang jalan untuk merubah, meski butuh perjuangan.

Kalau ingin menambah sedikit bumbu di tengah perjalanan itu, please do. Seperti saya yang akhirnya membuat 2 sisi rantang dengan motif berbeda. Batik parang dan motif bunga. Sebagai tanda cinta saya pada keindahan dan segala hal tentang perempuan.

Jadi perempuan harus kuat namun tetap nampak indah. Keindahan yang didapat dari rasa bahagia yang muncul dari dalam jiwa. Jiwa yang sehat tentunya.

Jadi, berani terima rantangan … eh tantangan? Berani, dong! Ingat, jangan ragu membuat perubahan. Karena berubah itu seru dan bikin hidup berani maju!

Love, Rere

KERJA


KERJA

“Besok Senin mulai kerja ya. Ikut saja arahan teman-teman senior.”

Yayyyy! Gue jadi reporter!

Hari itu, 20 tahun yang lalu. Dengan sumringah saya pulang ke rumah di Depok. Meski harus menempuh jarak panjang karena lokasi tempat wawancara yang berada di tengah kota Jakarta.

Sejak hari itu, setiap hari tak kenal ujung Minggu, dengan penuh semangat saya melakukan liputan, wawancara, menulis naskah, dan sederet aktifitas lainnya. Bangga rasanya bisa mengecap pengalaman bekerja sebagai seorang awak media. Meski hanya untuk sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar waktu itu.

Saya bahkan tidak peduli, ongkos transportasi yang lebih besar dari gaji yang saya dapat. Sudah bekerja bahkan sebelum wisuda saja, rasanya bikin kegirangan luar biasa. Belum lagi kesempatan mendapat pengalaman baru, bertemu tokoh-tokoh terkenal, berbincang dengan mereka, menulis artikel … ahhhh semua itu tak tergantikan dengan besaran apapun.

Sayangnya, kesempatan bagus itu terpaksa harus putus karena konflik di dalam perusahaan. Belum setahun menikmati pekerjaan seru itu, saya diberhentikan mendadak. Sedih, mangkel, gemes, dengan gigi gemerutuk menahan marah, saya menyodorkan sejumlah pekerjaan yang telah saya selesaikan sebelum batas waktu.

“Jangan patah semangat ya, Re. Di depan masih banyak peluang untuk perempuan pintar dan tangguh sepertimu. Kamu pasti lebih berhasil setelah ini,” ujar Pemred baik hati, dengan suara tercekat.

Di bawah tetesan hujan sambil berurai airmata, saya berjalan pulang.

“Jangan cengeng, ini baru awal. Sana lihat ke depan! Jalanmu masih panjang!”

(Bersambung)

Never give up, you are stronger than you think ~ Rere

IGNORE. BE HAPPY


IGNORE. BE HAPPY

“Hmmm … I’ll ignore school to be intelligent.”
“Don’t you dare!”

Hahaha! Begitulah tanggapan krucil melihat saya mengunggah status tentang IGNORANCE kemarin.

Berani-berani ignore school bisa kena jitak nanti!

Status kemarin muncul setelah saya menonton podcast seorang public figure yang sebenarnya bukan idola saya karena orangnya cenderung tengil dan sengak. Tapi saya tonton juga sih karena materinya lumayan lebih berbobot dibanding podcast seleb yang lain.

Nah, kemarin saya full nonton talk shownya dengan seorang pemuka agama yang baru saja mengalami musibah, ditusuk seseorang. Kata demi kata saya dengarkan, tak seperti biasanya. Kali ini saya benar-benar in awe. Ternganga. Kok bisa ya?

Bagaimana bisa seseorang memiliki sifat welas asih, sabar, dan gak suka ribut seperti itu? Sifat yang saya tahu hanya dimiliki seorang “manusia pilihan” Sang Pencipta.

Dari ucapan demi ucapan sang pemuka agama, saya belajar banyak sekali. Salah satunya tentang ignorance, dalam arti positif.

“Apa yang Syekh pikirkan ketika melihat si penusuk?”
“Enggak ada pikir apa-apa. Ya sudah saja, gak saya pikir lagi. Ndak pikir siapa, apa motifnya, apa alasannya, saya pikir ini takdir dari Allah. Alhamdulillah. Saya tidak mau dikaitkan dengan apapun.”

Jangankan sang host, saya saja yang mendengar sampe jaw dropped. Tak percaya. Padahal di luar sana, lisan dan tulisan, ribut tak terkendali, saling menyalahkan serta menyindir padahal belum juga paham cerita sebenarnya. Menggelikan.

Kalian belum nonton? Tonton deh. Wajib. Ini linknya https://youtu.be/6OTBeW-SIh8

Dari beliau saya akhirnya benar-benar paham, kapan kita harus bersikap acuh pada sesuatu. Terutama yang bukan menjadi urusan dan keahlian kita untuk berkomentar. Termasuk menanggapi segala jenis keributan remeh yang bisa diselesaikan dengan tanpa membesar-besarkan.

Masalah besar, kecilkan. Masalah kecil, hilangkan. Tak ada masalah? Jangan ikutan orang mengipasi masalah.

Walau rasanya masih jauh panggang dari api, paling tidak podcast sang Syekh memberi saya sudut pandang baru tentang ignorance.

Tak semua hal butuh campur tangan dan komentar kita, karena tak semua hal kita pahami dengan benar. Jadi, diam dan mengamati untuk belajar, masih jauh lebih berguna. Percayalah, banyak ribut itu tak ada gunanya kecuali ini menjadi katalisator kurangnya sesuatu dalam hidupmu. Kurang bahagia mungkin? Hingga senang melihat orang lain ribut dan ribut melihat orang lain senang menjadi pelampiasan.

Be happy … not because everything is good, but because you can see the good side of everything.

Love, Rere.

Olahraga Olahjiwa


Olahraga Olahjiwa

“Olahraga melulu enggak kurus-kurus.”
“Olahraga melulu ngapain, sih? Bikin capek saja.”

Bukan sekali dua saya menerima afirmasi seperti itu karena hobi saya berolahraga. Be it yoga, piloxing, zumba, saya “memaksa” diri untuk mengikuti semuanya. Lebih menggila setelah sekarang dimudahkan untuk melakukannya secara online.

Tidak ada yang pernah menyadari bahwa saya tidak hanya sedang mengolah raga namun juga berusaha mengolah jiwa.

Olahraga mengajarkan saya cara untuk berhadapan dengan rasa sakit. Bahkan mencarinya hingga ke batas yang tidak tertahan, lalu belajar menghadapi, dan menikmati setiap nyeri yang muncul kemudian.

Sama persis bak sebuah denyut kehidupan.

Kehidupan yang tidak bisa selalu senikmat dan semudah keinginan. Hidup yang lengkap dengan rasa sakit, kecewa, duka, dendam, perjuangan … hari demi hari di dalamnya. Semua rasa yang harus dihadapi dan dinikmati tanpa bisa lari atau mencari jalan lain demi menghindari.

Hidup yang memang tidak selalu sejalan dengan keinginan diri namun seringkali butuh banyak melihat dari banyak sisi. Mempertimbangkan banyak hati dan pasrah mengindahkan kemauan sendiri. Kemauan yang justru kadang berangkat dari mimpi untuk memberikan hanya yang terbaik.

Keinginan yang kadang mesti pasrah menghadapi penolakan hingga muncul kecewa dan sakit. Rasa yang harus dihadapi dengan berani, bukan memilih lari untuk menghindari. Meski sulit namun begitulah hidup ini.

Olahraga mengajarkan saya untuk mengolah semua itu. Menghadapi kecewa dan sakit tanpa perlu setengah mati berusaha untuk menolak. Mengubah rasa tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang berguna bukan sekedar keluh kesah hampa. Menyembuhkan hati dan jiwa sendiri tanpa berharap bantuan siapa.

Percayalah, harapan yang terlalu tinggi akan seseorang atau sesuatu, seringkali menjadi sumber kecewa yang menghajar tanpa ampun. Maka mencari afirmasi positif melalui kegiatan yang juga positif akan memunculkan sisi diri yang jauh dari negatif.

Jadi, masih butuh tahu kenapa saya suka sekali berolahraga padahal tubuh tidak juga mencapai bobot dan bentuk bak puluhan tahun ke belakang?

Ini lah cara saya mencintai diri dan raga yang sudah tidak lagi muda. Mengolah raga sekaligus mengolah jiwa.

Being strong is never easy, but inner strength teaches us how to deal with pain and go on despite fear.

Love, Rere.

PS:
Bakasana atau Crow Pose, adalah salah satu pose yang bagi saya pernah begitu sulit. Mengajarkan saya bagaimana menyeimbangkan raga dengan jiwa. Menggabungkan kekuatan dan keberanian.

Benefits of Crow Pose

  • Tones the abdominal wall
  • Strengthens abdominal organs to aide in lower back pain and indigestion
  • Strengthens arms
  • Stretches and strengthens the back
  • Stretches and strengthens inner thighs
  • Opens the groin
  • Strengthens the wrists
  • Builds endurance and focus – mental focus and calm

(Source: https://yogawithadriene.com/crow-pose/)

V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan


V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan

“Urip iku mung mampir ngombe.”

Pernah denger ungkapan dalam bahasa Jawa ini, yang artinya hidup itu cuma mampir minum saja?

Ya, benar juga. Menjalani hari hingga usia saat ini itu kadang terasa lama, tapi melihat anak-anak tumbuh dewasa rasanya waktu begitu cepat berlalu. Semudah menghabiskan segelas minuman.

Sebentar lagi, tanpa terasa mereka akan lulus sekolah. Lalu kemudian bekerja, membeli rumah terus menikah, membangun keluarga kecil, beranak, hingga bercucu. Begitu saja sih sebenarnya hidup ini. Benar-benar ibarat seteguk air.

Hanya perjalanan masing-masing saja yang membedakan. Ada yang bak garis lurus, ada yang berkelok bak jahitan berbentuk zig-zag. Bahkan ada yang begitu kusut di awal lalu lurus di belakang, atau sebaliknya.

Hmmm … saya merangkum semuanya dalam sederet foto ini. Ketika seorang keponakan melepas masa lajang dan saya menghadiahinya dekorasi mobil pengantin. Kemudian tiba giliran keponakan yang lain naik pelaminan, saya membuatkannya sebuah kotak ang paw berbentuk sepasang pengantin berbaju khas Melayu.

Berbulan setelah hari itu, saya kembali menghadiahi mereka dengan sebuah bingkisan berbentuk cake bertingkat. Bedanya yang ini tidak untuk dikonsumsi karena terbuat dari susunan diaper atau popok sekali pakai. Yep, saya sudah punya cucu meskipun bukan lahir dari 3 anak yang masih sekolah. Suatu hari nanti akan tiba giliran mereka.

Jalan kehidupan kemudian kembali berulang, kelak ketika para cucu beranjak dewasa. Setelah tiba giliran mereka naik pelaminan, mungkin saya masih kuat menghias mobil pengantin masing-masing. Lalu sambil membetulkan kacamata yang melorot, mungkin saya juga masih membuat kotak ang paw tentunya dengan hiasan yang hits pada tahun itu.

Semoga … karena saya ingin hidup ini tidak cuma sekedar numpang minum tapi juga berguna untukmu. Meski tidak lagi mampu muluk-muluk menawarkan bantu. Semata hanya karena ingin hidup memiliki value. Meski harus melalui jalan panjang yang berkelok bahkan berdebu.

Life’s too short, make the most of it.

Love, Rere.

Menulis Ala Sang DJ


Menulis Ala Sang DJ

Menulis kok ala DJ? DJ itu kan …

Ini DJ bukan sembarang DJ, ini DJ keren bernama lengkap DeeJay Supriyanto. Saya pun tidak tahu pasti asal muasal nama salah satu dari duo founder Rumah Media Grup ini. Yang saya tahu hanya paparan beliau yang sangat membuat mata saya terbuka lebar selama 2 hari kemarin.

Dari beliau saya baru paham betul apa perbedaan fiksi, non fiksi, dan faksi. Maklum, saya hanyalah anak bawang yang sedang berjuang. Berjuang menuangkan ide dan gagasan, demi masa depan cemerlang. Caelah! Sebenarnya sih alasan utamanya semata ingin meninggalkan sederet catatan bersejarah yang bermanfaat dan berguna bagi semua. Hingga kelak bisa menjadi warisan bagi anak cucu ketika saya sudah tidak mampu lagi menuangkan isi kepala ke dalam tulisan.

Pelatihan di hari pertama sudah memberikan saya afirmasi positif, bahwa menulis adalah hobi yang mengasyikkan. Memang, menulis bagi saya sudah ibarat candu. Jika tidak menulis rasanya hidup ini makin miris. Hahaha!

Sedikit saya akan berbagi bagaimana langkah mudah membuat How Tips seperti yang dipaparkan pada pelatihan di hari pertama.

1. Menemukan ide

Caranya bisa dengan membuat daftar keahlian, menulis minat dan hal yang disukai, melakukan survey, atau dengan berselancar di dunia maya untuk mencari inspirasi.

2. Mengumpulkan data dan fakta

Kita bisa melakukan riset kecil sebelum membuat judul besar atau tentative outline. Kemudian menentukan bab atau sub bab, sebelum akhirnya menuangkan ide berupa paparan.

3. Membuat konsep tulisan

Keberadaan konsep sangat diperlukan karena berisi poin-poin penting untuk tulisan, termasuk rencana penyusunan bab dan sub bab, melalui beberapa pertanyaan.

4. Gaya bahasa

Penggunaan setiap kata harus lah mengalir, mudah dipahami dan tentunya mengandung informasi yang jelas serta akurat. Maka silahkan menentukan bagaimana gaya bahasa tulisanmu.

5. Sertakan data pendukung

Sebagai pendukung tulisan, bisa juga menyertakan visualisasi dalam bentuk foto, gambar, atau contoh kejadian.

6. Tuliskan bagian naskah dengan lengkap

Penyusunan kerangka atau outline memegang peranan penting dalam sebuah tulisan. Misalnya, urutan bab, sub bab, indeks atau daftar isi, catatan kaki, glosarium atau kamus singkat, serta profil penulis. Perlu diingat bahwa penyusunan daftar isi harus dibuat sesederhana mungkin. Jika menyertakan tabel hendaknya dibuat berurutan agar tidak membingungkan pembaca.

7. Menentukan judul

Penentuan judul ini masih bersifat tentatif atau sementara, karena pihak penerbit menjadi salah satu penentu hasil akhir judul sebuah tulisan atau buku. Tentu saja semua bergantung pada sisi komersil yang harus dihadirkan demi kepuasan pembaca.

Pelatihan di hari kedua memberikan ilmu baru tentang kinerja otak yang dibutuhkan oleh seorang penulis. Melalui sebuah tehnik sederhana yang 99% akurat, yaitu menempelkan 2 ibu jari dengan posisi satu di atas dan yang lain di bawah, akan nampak sisi otak sebelah mana yang lebih dominan pada diri seseorang.

Selain mengandalkan kinerja otak, yang tentunya bisa diasah untuk mengaktifkan ke dua belah sisi, ada 5 modal utama yang harus dimiliki oleh seorang penulis.

1. Referensi

Hal ini bisa didapat dengan banyak membaca, sehingga segala ilmu yang terdapat dari setiap bacaan itu mampu mengisi ruang kosong di dalam memori otak. Segala informasi ini akan sangat berguna untuk mengatasi kebuntuan ide yang mungkin tiba-tiba datang.

2. Silaturahmi

Siapa mengira bahwa selain memperpanjang usia dan merekatkan hubungan, silaturahmi juga mampu memperkaya pengalaman. Maka rajinlah bersilaturahmi, jangan membatasi diri dari lingkungan pertemanan, lalu serap sebanyak mungkin ilmu yang muncul.

3. Traveling

Perjalanan wisata dan penjelajahan tempat-tempat baru rupanya juga bisa membuat seseorang memiliki referensi dan memori untuk dituangkan dalam tulisan. Maka “jangan kurang piknik” rasanya tepat disematkan jika ingin memiliki banyak referensi.

4. Mengikat ide

Terkadang ide bisa muncul di mana saja dan kapanpun ketika ia ingin muncul. Untuk mengatasi berhamburannya ide sehingga lenyap sebelum sempat disantap, mulailah memiliki sebuah buku kecil sebagai tempat menambatkannya.

5. Sudut pandang

Mengidolakan seorang penulis kadang membuat kita tanpa sadar mengikuti gaya mereka. Hingga sudut pandang yang disajikan akan nampak serupa. Padahal berbeda kan seru pastinya. Maka, ubahlah arah sudut pandang dengan menyajikan ide atau tulisan yang berbeda.

Lima modal utama ini tentunya tidak akan berhasil ditampilkan ketika seorang penulis mempercayai mitos. Apa saja mitos yang harus dihindari seorang penulis?

1. Penulis butuh mood

Mood seharusnya tidak berperan dalam proses penulisan. Ketika kebuntuan datang, seorang penulis seharusnya mampu menyegarkan otak dengan cara membuka wawasan.

2. Tidak ada ide

Di dunia yang penuh warna ini seharusnya bisa memunculkan beragam ide, jika seorang penulis mampu membuka diri dan pikiran. Bergaul, membaca buku, atau sekedar piknik tipis bisa menjadi jalan menemukan ide, lho.

3. Bahasa harus indah

Jika anda adalah seorang penyair maka hasil karya anda memang butuh tulisan yang merdu, merayu nan indah. Namun untuk menuliskan sebuah ide, penggunaan bahasa yang indah tidak terlalu diperlukan. Yang utama adalah cerita yang disajikan harus mengalir dan saling berkesinambungan.

4. Memiliki bakat

Sering saya mendengar seseorang mengatakan ia tidak berbakat pada satu hal, misalnya menulis. Ketahuilah bahwa siapapun bisa menulis dan yang dibutuhkan hanya proses. Maka menulis, menulis, dan menulis lah tanpa henti untuk semakin memperhalus narasi dan diksi.

Yang Maha Kuasa menganugerahkan ciptaanNya dengan otak yang harus terus dijaga dengan diberikan nutrisi terbaik untuk membuatnya tetap hidup. Maka kewajiban kita adalah memanfaatkannya dengan terus membuka wawasan dan tidak membatasi diri.

The sky is not the limit. Your mind is. So open up your mind and enjoy the colourful life!

Menulis bukan lah semata tentang hobi atau bakat. Menulis adalah sarana latihan tanpa jeda dalam usaha untuk menuangkan gagasan dan ide, yang sumbernya banyak sekali bertebaran di muka bumi ini. Melalui tulisan dan gaya bahasa, dapat tercermin gaya kehidupan seseorang. Maka dengan apakah kita ingin diingat sebagai pribadi?

Saya pilih menulis. Kalau kamu?

Sumber: Pelatihan Menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” oleh DeeJay Supriyanto

Love, Rere

Menulis … Mulai Dari?


Menulis … Mulai Dari?

Banyak hal menarik saya dapat dari sesi pertama pelatihan menulis kemarin. Pelatihan? Ya. Saya memang anak bawang yang masih tertatih mengenal diri sendiri dan berusaha menuangkan isi kepala dalam deretan kata. Maka mengikuti pelatihan adalah cara saya menajamkan pena.

Pelatihan dimulai dengan mengenali beberapa karakter manusia dalam hubungannya dengan motivasi untuk menulis.

  1. Tipe yang membuat sesuatu terjadi.
  2. Tipe yang biasa melihat saja.
  3. Tipe yang hanya terkesima ketika melihat sesuatu.

Jika anda tipe yang terbiasa hanya melihat dan terkesima, cobalah untuk membuatnya menjadi sesuatu. Bagaimana cara mewujudkannya? Dengan menumbuhkan kepercayaan diri, asal jangan kelewat percaya diri. Hahaha!

If you think you can, then you will. If you think you can not, then you won’t.

Apakah dalam proses mewujudkan itu tidak akan ada rintangan? Tentu saja ada. Cara menghadapinya adalah dengan mencoba, dan terus mencoba tanpa kenal menyerah. Namun ada 2 hal yang perlu diingat seseorang ketika ingin mulai menajamkan pena menjadi seorang penulis.

Branding

Pilihlah sebuah nama yang akan menjadi ciri khas. Stick to it dan jangan melakukan banyak perubahan, sehingga gaungnya akan dengan mudah diingat oleh pembaca.

Spirit

Tidak ada siapa pun yang bisa menumbuhkan semangat dalam diri kecuali diri sendiri. Caranya dengan menguatkan tekad, menggelorakan semangat, serta fokus pada apa yang ada di hadapan. Membuka mata juga telinga adalah wajib, karena ilmu serta keahlian itu sangat luas. Percayalah, mempelajari sesuatu yang baru itu akan membuat hidup menjadi lebih indah.

Try, try again, try harder, try your best, and never give up!

Saya juga menemukan 5 resep menarik yang sangat berguna untuk mulai menulis, baik sebagai pemula atau juga menjadi pegangan seumur hidup untuk para penulis profesional.

1. Abaikan teori, and just start. Mulai lah menulis dari apa pun yang terlintas di benak, dan bagaimana pun jenis tulisanmu.

2. Terus berlatih, and never stop learning. Buka mata dan pikiran untuk menambah kosa kata serta wawasan, dan berlatih untuk terus mengasah ide yang muncul. Beberapa cara bisa dilakukan seperti mengikuti tantangan menulis atau bergabung dengan komunitas menulis. Jangan terlalu khawatir dengan hasil akhir karena semua butuh proses. Life is a never ending journey of learning and relearning, isn’t it?

3. Jika mendadak buntu, berhenti saja lah. Memaksa diri untuk menulis ketika otak sedang menolak diajak berpikir adalah hal yang harus dihindari. Istirahatkan ia untuk sementara dan benahi pikiran serta emosi agar bisa kembali konsentrasi. Memiliki bank naskah adalah salah satu solusi. Bagaimana caranya? Biasakan untuk menulis apapun yang terlintas di benak, kapan pun, di mana pun. Kemudian simpan naskah-naskah ini di sebuah folder yang sewaktu-waktu bisa kita edit lalu publish ketika otak sedang beku.

4. Mulai lah menulis hal yang begitu dekat dengan kehidupan kita dan tentunya dikuasai dengan baik. Saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk be true to yourself. Jujurlah pada semua hal, termasuk dalam tulisan. Tidak perlu muluk-muluk berangan ingin menulis tentang hal yang kekinian atau sedang bombastis dibicarakan. Tulis saja hal-hal sederhana yang menarik untuk dibaca sebagai permulaan.

5. Abaikan gaya menulis, tampilkan jati diri sebagai penulis. Membaca tulisan orang lain memang seringkali membuat ternganga atau terkagum bingung. Kok bisa ya dia menulis sekeren itu? Menjadikan seseorang sebagai obyek belajar adalah sesuatu yang baik. Namun berusaha keras menjadi seperti orang lain adalah hal yang harus dihindari ketika mulai menulis. Be yourself, you are you, you are unique. Karena menjadi berbeda itu seru!

Jadi, jika ingin menjadi penulis maka mulailah menulis. Nikmati segala prosesnya dengan menjadi diri sendiri dan bersikap jujur pada setiap goresan yang bersumber dari hati.

So, let’s start and just write!

Sumber: Pelatihan Menulis “Mencetak Generasi Berliterasi” Bersama Ilham Alfafa, Founder Rumah Media Grup