Maleficent … Well, Well


Maleficent … Well, Well

Siapa tak kenal dengan tokoh “evil” satu ini?

Maleficent.

Karakter jahat dalam sebuah film besutan sutradara Robert Stromberg. Dimainkan dengan sangat apik oleh Angelina Jolie.

Saya tidak selalu menyukai karakter antagonis dalam sebuah cerita. Seringnya gemas dan mengutuk betapa jahatnya seseorang can become. Walau karakter-karakter ini adalah kekuatan dari sebuah cerita.

Sang peri jahat yang bertanduk dan bersayap ini mungkin pengecualian. Saya menyukai karakternya. Ia jahat tapi karena ada sebab. Ia bisa menghancurkan segalanya tapi jika ia lebih dulu diserang. Di luar itu semua, hatinya ternyata lembut dan penyayang. “Kelemahan” yang berusaha ditutupinya dengan menjadi simbol kejahatan dan kekuatan.

Ia bahkan juga bisa sangat lucu dan konyol seperti ketika sedang menggoda Diaval, sang gagak yang disihirnya menjadi seorang manusia untuk mengawasi gerak gerik Aurora.

Aurora adalah cinta sejati Maleficent yang ditampilkan di cerita ini. Semua terungkap ketika true love kiss nya lah yang ternyata 2 kali menyelamatkan nyawa Aurora, bukan kecupan seorang raja atau pangeran mahkota, seperti di banyak cerita. Aurora adalah putri seorang raja yang dulu membuat Maleficent menderita. Sang raja ini lah yang mengubahnya menjadi seorang yang jahat dengan memotong sayap yang menjadi sumber kekuatannya.

Saya kemudian merenung. Betapa kita kadang ikut andil membentuk karakter seseorang tanpa sadar. Membunuh sifat asli orang lain dan membuatnya tampak jahat di mata semua, atas nama apapun. Mungkin kekuasaan, mungkin persahabatan, atau bahkan atas nama harta.

Menceritakan hal buruk tentang seseorang demi mendapat simpati yang dituju. Atau menyakiti seseorang yang tidak bersalah, bahkan selalu baik pada dirinya, demi mendapat dukungan untuk tujuan tertentu.

Ah … Maleficent. Ternyata kebaikan hatimu berusaha kau tutupi untuk menjadi pagar pembatas luka yang pernah kau alami. Luka dalam atas kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup hingga begitu menyiksa diri namun setengah mati kau hindari. Sampai tiba masanya hatimu terbuka untuk menerima kenyataan dan tetap mampu berdiri tegak sebagai seorang yang kuat.

Well well … biarkan cap jahat itu tetap tersemat untuk kesenangan mereka. Namun kebaikan hati adalah sesuatu yang datang sejak lahir dan akan tetap ada, meski ombak kuat menerjang dan kerikil tajam menghadang.

Maleficent … she is not a villain. She’s a strong character who refuse to give up on her miserable life. Ia adalah wujud kekuatan seorang perempuan yang menolak untuk menyerah pada kesakitan dan penderitaan.

Untukmu para perempuan, anyone can take away your wings, but never your power and heart. So keep standing tall and being strong no matter what.

Love, Rere

Thank You, Me


Thank You, Me

Hai, Moms!

Sudah membereskan rumah?
Sudah selesai melipat segunung baju?
Sudah memasukkan cucian kotor ke dalam mesin cuci?
Sudah masak untuk makan siang dan malam sekeluarga?

Mmm … dan untukmu sendiri bagaimana?

Sudah minum kopi pagi ini?
Sudah menyempatkan diri untuk menikmati me time?
Sudah melakukan olah tubuh dan berkeringat dengan gembira?
Sudah mengatakan cinta pada raga yang kerap kau buat bak kerja rodi seharian?

Kasihannya tubuh ini, yang kadang tanpa sadar terdzalimi.
Meski kadang begitu sakit hingga tak satu obat kimiawi menjadi remedy.

Lebih kasihan lagi jiwa ini, yang setengah mati mencoba untuk selalu tegak berdiri.
Bahkan ketika butiran bening jatuh pun, dengan segera terhapus tanpa menunggu siapapun datang dan berusaha mengusap.

Well Moms,
Ragamu yang semakin melemah tergerus usia, juga butuh perhatian.
Jiwamu yang selalu berusaha tegar juga butuh secangkir kopi untuk menghangatkan.
Cintai dirimu sama besarnya dengan cintamu pada sekitar.

Thank You, Me.
Thank you for standing tall and strong even on my weakest point in life.
Thank You, Me!
Thank you to never let anyone bring me down.
Thank You!

Hey, You! Love yourself and write down your own story!
-Rere

Bangkit! Sweat Now, Shine Later


Bangkit! Sweat Now, Shine Later

Pagi tadi saya bangun tidur dengan sedikit sakit di bagian kepala. Saya memang penderita sinus dan migraine. Sudah seperti makanan sehari-hari kedua penyakit itu.

But, hey! You won’t stop me!

Saya tidak akan kalah darimu! Bergegas saya memakai sepatu olahraga dan menyalakan laptop untuk mengikuti kelas daring Zumba.

Sambil menunggu sang pelatih membuka kelas, ingatan saya melayang di hari saya merasakan sakit yang luar biasa hebat di bagian kepala beberapa tahun ke belakang. Sakit yang sempat membuat saya takut mengingat gejala yang sama pernah membawa suami saya menjalani operasi pembedahan kepala.

Ya, sewaktu ia terkena brain aneurysm. Seperti yang saya ceritakan di sini,

https://reynsdrain.com/2020/06/15/piece-by-piece/

Hari itu, setahun setelah suami saya dinyatakan sembuh, giliran sakit kepala hebat menghampiri saya. Gejalanya sama seperti apa yang dialaminya dulu. Throbbing headache, rasanya seperti ada orang yang memukul kepala dari dalam.

Begitu hebatnya rasa sakit itu saya sampai tidak bisa membuka mata sama sekali. Kepala dan tengkuk terasa sangat berat, perut saya pun mual. Kali ini giliran suami memaksa saya pergi ke rumah sakit. Saya sungguh enggan karena berpikir itu adalah sakit kepala biasa. Saya juga tidak ingin meninggalkan anak-anak di rumah jika ternyata saya harus dirawat. Namun dengan berat hati sambil menahan sakit, saya tetap menuruti permintaan suami.

Sesampainya di rumah sakit ternyata kami bertemu lagi dengan dokter yang setahun lepas memeriksa suami saya. Dengan wajah khawatir ia menyuruh saya segera menjalani pemeriksaan CT Scan.

Sepanjang perjalanan menuju ruang periksa, mulut saya bergumam meminta Sang Pencipta memberi saya kesembuhan dan kesehatan. Terbayang wajah ketiga anak saya yang masih kecil. Saya masih ingin membesarkan mereka, Ya Rabb.

Beruntung hasil pemeriksaan dengan cepat kami ketahui dan ternyata saya terkena muscle spasm. Suatu keadaan dimana saya mengalami serangan fatigue secara tiba-tiba. Mungkin karena stress, terlalu lelah, atau kurang olahraga.

“You need to do exercise.”
“But I’m a mother of 3 kids, Doc. I moved a lot as I don’t have a maid.”
“That one is tiring. Exercise will make you fresh and more healthy. That’s the only cure to your muscle spasm.”

Dokter hanya memberi saya beberapa butir muscle relaxant dan menyarankan saya untuk berolahraga. Sejak menjadi ibu saya memang tidak pernah lagi berolahraga seperti ketika muda dulu. Rasanya tidak pernah ada waktu luang karena begitu sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus ketiga buah hati tanpa bantuan seorang asisten pun. Ternyata saya mengalami kelelahan luar biasa.

Thanks, Doc! Sejak hari itu saya bertekad akan bergerak untuk menjaga kesehatan. Saya akan bangkit dari keengganan dan mulai memperhatikan kesehatan, karena anak-anak di rumah butuh ibu yang sehat jasmani dan rohaninya.

Di sini lah saya sekarang dengan sejumlah kegiatan olahraga yang semakin padat justru sejak pandemi terjadi. Meskipun hanya dilakukan secara daring in the comfort of our own home, Senin hingga Minggu saya sempatkan untuk berolahraga bersama teman-teman.

Terbukti tubuh saya sekarang sehat dan muscle spasm pun tidak pernah lagi saya alami. Hadha Min Fadli Rabb. Semua karena kuasa-Nya.

Ayo teman, bangkit dari sofa empukmu dan mulai memperhatikan kesehatan ragamu. Olahraga bukan hanya akan merubah fisik namun juga menyehatkan mental di hari-hari sulit seperti sekarang ini. Terlebih lagi kita butuh untuk menjaga imunitas agar tidak mudah terkena virus. Mari ubah kebiasaan diri dan … bangkit, yuk!

Get up! It’s a good day to turn your life around.

Love, Rere.

Try. Try Hard. Try Harder


Try. Try Hard. Try Harder

Kalau dipikir-pikir, universe beserta Sang Pencipta kadang bercandanya seru, ya?

Beberapa bulan lepas kita masih pergi ke mana pun kaki melangkah dengan bebas. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat dan membuat seluruh penghuni bumi dimasukkan dalam “sangkar” emas.

Berbulan-bulan hanya berdiam di rumah saja tentunya membawa banyak perubahan pada fisik dan mental. Biasanya aktif di luar rumah, sekarang harus menikmati detik demi detik kehidupan di dalam rumah saja. Bosan, jenuh, bete, hingga enggak tahu mau melakukan apa lagi.

Nah, apa yang bisa kita lakukan selama di rumah saja? Banyak! Salah satu contohnya adalah melakukan kegiatan yang disukai dan mencoba hobi baru setiap hari.

Bukankah a hobby a day will keep the boredom away? Jadi kenapa kita tidak berusaha mencoba banyak keahlian dan hobi?

“Ah, gue kan enggak berbakat kayak elu.”
“Elu mah megang apa aja jadi, Mak. Gue mah enggak bisa.”

Ih! Kalian tahu tak kalimat “tak kenal maka bisa utang … eh … maksudnya tak sayang”? Bagaimana sih kalian bisa tahu kalau tidak berbakat jika mencoba saja belum pernah. Padahal kegagalan itu masih lebih baik daripada keengganan. Mending gagal tapi pernah mencoba, daripada belum coba tapi sudah menyerah kalah.

Untuk itu, kalau kalian pikir saya bisa ini itu dari lahir, kalian salah. Sesungguhnya saya hanya punya semangat dan ketekunan. Semangat untuk selalu belajar hal baru, tekun mencari ilmu, serta rajin mencoba keahlian baru.

Tahukah kalian semua, jika semakin banyak hal saya temui dalam proses belajar ini, semakin saya paham bahwa sejatinya saya tidak tahu apa-apa. Untuk itu saya belajar membuka diri dan juga hati agar semua ilmu bisa saya pelajari tanpa ruangnya pernah saya batasi.

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk melihat video cara pembuatan beragam kerajinan tangan di internet. Kemudian saya mulai mencoba dan melakukan eksperimen sendiri. Kadang gagal, tapi saya tidak menyerah. Terus mencoba, itulah prinsip hidup saya.

Jadi, apa yang kalian lihat postingannya selama ini di beranda pribadi saya, adalah hasil dari sebuah proses belajar, proses mencoba, dan juga proses melakukan banyak kesalahan.

Begitulah cara saya belajar. Hingga tercipta beberapa hasil karya berupa macrame, wire weaving, resin, dan juga beberapa tulisan yang menunggu untuk dibukukan. Percayalah, memakai hasil karya sendiri itu sensasinya beda teman.

Jadi, masih mau bilang enggak bisa dan enggak berbakat? Think again.

Making mistakes simply means you are trying harder than anyone else.

Love, R

Dirawat VS Diedit


Dirawat VS Diedit

“Cantik banget siiiihh kamu!”
“Hahaha! Editan itu. Filter maksimal, Cint.”
“Ah, gak diedit juga udah cantik.”
“Kata siapa? Cantik itu kudu dirawat Cint. Perawatan mahal jadi … edit aja. Gratis dan bikin bahagia!”

Hahaha!

Ini adalah kalimat yang biasa saya ucapkan ketika menerima pujian dari beberapa sahabat setelah mengunggah hasil swafoto di media sosial.

Ya, saya memang kadang menggunakan aplikasi untuk mendapat hasil foto yang bagus. Paling tidak membuat saya bahagia. Walaupun saya berusaha untuk tidak terlihat terlalu mulus dan flawless. Nanti yang bertemu langsung dengan saya bisa makjegagig kaget, karena ternyata aslinya tidak seindah tampilan di layar gawai.

Berbicara soal perawatan, siapa sih yang tidak ingin merawat tubuh dan kulitnya secara paripurna? Tahukah kalian semua, betapa kami para perempuan ini sebenarnya khawatir? Semakin menua, kulit kami tidak menjadi semakin mulus dan glowy. Semakin bertambah usia, yang tadinya kencang menjadi serba melorot. Mata yang tadinya berbinar indah, menjadi berkantung tebal dan kehilangan sinar.

Belum lagi bertambahnya babat dan timbunan lemak di banyak tempat. Padahal kami sudah berusaha menjaga pola makan dan menghindari beberapa jenis makanan. Tetap saja kami tidak bisa selangsing Sophia Latjuba dan secantik Putri Marino. Mereka sih rasanya tidak perlu repot melakukan diet ketat atau perawatan maksimal, bahkan rasanya mereka tidak pernah menggunakan aplikasi untuk mempercantik tampilan.

Uhari pernikahan saja pipi mereka tidak diteploki bedak dan shading setebal 2 mm kok. Coba kalau kita yang tidak full make up di hari pernikahan. Sudah pasti tampilan kita akan seperti orang yang baru bangun tidur. Bengkak dan kusam.

Perawatan yang saya lakukan di rumah juga terbilang lengkap. Tentu saja, bila mengingat mahalnya melakukan perawatan ke salon kecantikan di negara ini. Awalnya saya berpikir, daripada ke salon mendingan saya rawat sendiri di rumah. Karena jika dihitung akan jauh lebih murah dan hemat.

Bagaimana dengan suami saya? Apakah ia mendukung cara saya melakukan perawatan ini? Ya tentu saja jika ingin melihat saya tampil mendekati seperti 15 tahun yang lalu ketika ia pertama kali terpana melihat saya. Eeeaaaaaa!

Para suami tentu saja harus memberikan dukungan penuh jika menghendaki sang istri tampil menawan bak polesan aplikasi peluntur kekusaman. Jangan hanya menuntut kami ini bekerja di rumah seperti kuli dengan tampilan wajib bak gadis muda kinyis-kinyis, yang bahkan menyalakan kompor saja masih meringis.

Namun sebagai perempuan yang sudah menjadi ibu juga harus paham, bahwa ada banyak hal yang butuh perhatian lebih sekarang. Skala prioritas hidup harus sedikit diatur walau tidak melupakan kebutuhan pribadi.

Lihat kan regime perawatan muka saya? Semua ini tidak berharga murah memang. Tapi saya membelinya dari menyisihkan uang jatah jajan saya sendiri. Ya, saya menghadiahi diri sendiri uang jajan setiap bulan yang bisa dengan bebas saya pergunakan.

Nah, daripada saya menghabiskannya untuk nongkrong cantik atau arisan di resto mewah, saya menyisihkannya untuk membeli beberapa alat perawatan kulit dan wajah. Semacam investasi kecantikan.

Lantas, dipakai tidak? Yaaaaa kebanyakan sih setelah berakhirnya uforia, mereka akan teronggok di sudut lemari kaca. Lantas butuh suntikan semangat untuk menggunakannya kembali. Saya sih masih pakai kok sesekali. Sayang juga sudah mahal-mahal dibeli.

Segitu amat ya perawatannya? Sementara kebanyakan dari kita merasa, “Ah sudahlah. Begini juga sudah laku dan beranak pinak.” Betul tidaakkk? Padahal pikiran seperti itu yang sebenarnya lambat laun akan membuat kita makin malas merawat tubuh hingga kehilangan rasa cinta pada diri sendiri.

Saya sih juga seringnya malas melakukan perawatan sendiri. Namun biasanya dengan beberapa sahabat kami saling menyuntikkan semangat untuk rajin merawat diri. Kadang juga janjian menyeberang pulau untuk pergi ke salon kecantikan dengan harga yang jauh lebih murah daripada di sini.

Jadi, perlu kah kita merawat diri hingga tak lagi butuh sekedar mengedit dengan aplikasi? Jika dengan aplikasi saja kita sudah bahagia, ya lakukan saja. Bebas. Yang penting mencintai dan menyayangi diri sendiri itu juga wajib.

Eyow para suami, bantu istri-istrimu di rumah. Jika tidak menghendaki mereka menghabiskan uang untuk melakukan perawatan, setidaknya berikan dukungan secara verbal bukan melulu perundungan.

“Gendut amat sih, Ma?”
“Kusem amat tu muka, Bun!”
“Lihat deh ini Yuni Shara umur 50 tahun masih kinclong enggak kayak kamu, Mi!”

Oy! Percayalah, ini semua dilakukan para perempuan untuk membahagiakan anda semua. Jadi berikan dukungan, modali istrimu untuk sesekali pergi ke salon kecantikan, dan berikan waktu untuk menghibur diri sejenak dari rutinitas harian. Above all, watch your words! Karena tajamnya bisa menusuk lebih daripada pedang.

Trust me, being a woman is never easy. We have to think like a man, work like a horse, and look like a young girl.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

LEBARAN 2020


LEBARAN 2020

Lebaran kali ini memang beda
Tak ada mudik dan sungkem pada orang tua
Hanya bisa berjabat tangan di dunia maya
Namun banyak cinta bisa saya rasa
Datang dari banyak arah dan cara

Ada tetangga yang tak henti memberi bingkisan
Saudara tercinta yang berbagi masakan
Teman-teman yang mengirim ucapan
Dengan doa yang tulus dipanjatkan
Padahal mereka lintas keyakinan

Buat saya inilah namanya rejeki
Tersebar dari berbagai arah dan juga pribadi
Teman, sahabat, saudara, dan orang terkasih
Rasanya syukur ini tak habis-habis saya bagi
Terima kasih untukmu semua yang baik hati

Walau pintu rumah tak penuh terbuka
Tangan ini juga tak mampu berjabat erat
Lewat teknologi, ikatan kita bisa merekat
Menyebarkan cinta walau jarak tersekat
Anugerah apa lagi yang hendak kita minta?

Lebaran 2020 ini memang berbeda
Tak bisa bersua dan berbagi bahagia
Namun semangat harus tetap membara
Mau berjumpa, kita pakai zoom saja
Ujung Indonesia hingga dunia bisa dijangkau dalam sekejap saja

Lebaran kali ini mengajarkan banyak hal. Tentang arti kesabaran dan juga belajar. Para ibu harus semakin sabar mengurus rumah tangga, anak, serta suami tanpa jeda. Para ayah harus belajar menjadi imam ibadah tarawih hingga sholat Eid. Siapa pernah mengira.

Akhir pandemi ini tak ada seorang pun tahu. Mungkin ia tidak akan pernah berlalu. Tinggal kita yang harus memutuskan apakah akan terus terpuruk atau bergerak maju. Semoga kesedihan tak membuatmu lemah dan lesu.

Selamat hari raya untuk kita semua. Semoga sehat senantiasa dan tetap berbahagia.

Love, Rere

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynila

Hey C, kapan kau pergi?


Hey C, kapan kau pergi?

GAC nyanyi bertiga
Saya dong ber-sembilan saja
Jangan sedih dan gundah gulana
Tetep semangat dan harus bahagia

Daripada pusing di rumah melulu
Mending bikin sesuatu
Mungkin coba resep masakan baru
Kalau sudah jadi, saya dikirimin juga mau

Hey C ... oh ... Si Corona
Kapankah dirimu berakhir dan perginya?
Rasanya hidup ini hampa
Mengetahui Lebaran akan berlalu tanpa anjangsana

Namun darimu kami semua belajar
Apa artinya kekuatan dan bertahan 
Darimu pula kami tahu
Bagaimana harus baik berlaku

Karenamu juga kami jadi tahu
Bahwa Sang Pencipta itu letaknya di kalbu
Bukan di dalam gedung
Atau di atas hamparan sesuatu

Bumi pun sementara beristirahat tenang
Membersihkan diri yang selama ini teraniaya
Karena ulah manusia yang tinggal di atasnya
Bahkan langit kini berwarna biru terang

Kini kita hanya mampu berdamai dengan keadaan
Merubah kebiasaan yang tidak sepadan
Lalu membawanya senantiasa dalam kehidupan
Untuk ingat bersih, hidup sehat, dan menyebarkan kebaikan

Jangan gundah dan terjebak lama dalam kesedihan
Semua pasti bertemu jalan
Seperti janji-Nya dalam kitab pegangan
IA hanya merubah nasib jika ada usaha dan keyakinan

Bahagia selalu
Jaga diri dan kesehatanmu
Jangan putus asa
Jika pintumu tertutup, ada pintu lain terbuka

Love, R
#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda
Bahagia – Cover

Getem-Getem


Getem-Getem

Getem-getem dalam bahasa Jawa adalah ekspresi menahan emosi sambil membeliakkan mata, serta mengatupkan gigi dan bibir. Biasanya paling sering dilakukan para ibu di pagi hari sejak anak-anak bangun pagi. Betul tidak?

Well, seperti biasa di rumah kami, semua anak wajib membereskan tempat tidur masing-masing, termasuk melipat selimut dengan rapi. Catat … dengan rapi. Saya mengajarkan mereka melipat sejak kecil. Awalnya dengan saling membantu kemudian belajar untuk mandiri, mengerjakannya sendiri.

Kisah ini terjadi ketika putra bungsu saya berusia 7 tahun. Pagi itu ia, yang memang agak dramatis, sambil menangis mengatakan 1 kata kunci yang really triggering my getem-getem.

“How to do this? I’m not good at this!”

Oh no! False alarm. Salah besar kalo membuat saya mendengar kalimat itu di pagi hari, hingga membuat saya getem-getem selama beberapa detik.

“What’s wrong, Rayyan?”

“I can’t fold the big blanket myself, Bunda. Can you help me? Because I’m not good at this.”

“Listen. Why do you think Allah gave us brain?”

“To think?”

“Yes. To think. To figure out things. To find a way to do things. I taught you on how to fold this. But since you told yourself that you are not good in this then your brain will do what your mouth is telling you, and forever you will not be good in anything. Is that what you want?”

“No, Bunda.”

“Try, be patient and don’t give up easily. Keep trying, whatever the result will be. At least you try before you cry. Tell yourself let me try before assuming that you are not good in anything. Say it!”

“Let me try.”

“Again. 3 times.”

“Let me try. Let me try. Let me try.”

“Now try.”

“Okay.”

After a while, “Bundaaaa, look!” ujarnya sambil menunjukkan selimut hasil lipatannya.


“Smart boy. You see? I know you can do it!”

“Yeah. I was very cranky before but then I told myself that I can do it and that I have to try and try. So there it goes. Is it neat and tidy, Bunda?”


“Yes it is. It’s super neat! You see? You just have to try. Be patient, and don’t give up easily. You know you can do it and whatever the result is, be proud because you do it yourself. That’s the most important thing. Understand?”


Yes Bunda. Thank you for teaching me everything. I love you.”


“I love you more Sayang.”

Ia pun memeluk saya seraya mengucapkan terima kasih karena suntikan semangat yang saya beri, walau diawali dengan getem-getem tadi.


By the way, selimut yang dipakai Rayyan berukuran besar yaitu queen size. Bukan selimut kecil yang bisa dengan mudah dilipat oleh bocah 7 tahun setinggi 120 cm ya. Jadi saya sangat bangga padanya.

Moms, mengajarkan positive attitude kepada anak-anak memang bukan hal yang mudah. Apalagi ketika sekeliling mereka penuh dengan orang-orang dewasa dengan negativities. Tapi kita lah ibunya. Kita yang pegang peranan bagaimana menentukan tumbuh kembang mereka. Tinggal masalah berdamai dengan emosi saja yang kadang muncul karena beberapa sebab. Ya, seperti getem-getem itu, yang bagi saya adalah salah satu cara menahan emosi.

It’s not easy yet nothing is impossible. Have a great day ahead!

Love, R

#RumahMediaGrup #ChallengeMenulis #WCR #SecangkirKopiHangatEmak #ReReynilda

Feeling Good Like I Should


Feeling Good Like I Should

“Where are you going, Bunda?”
“I’m going out with
ayah to buy groceries. You stay at home, okay?”
“Okay. Why are you wearing make up?”
“Why do you want to know?”
Bunda, you’re wearing a mask. Why do you need make up? Nobody will recognize you anyway.”
“I’m not wearing make up for people to see me.”
“Then?”
“I’m wearing it for myself.”
“Why?”
“Why are you so kepo?”
Bundaaaaa. Tell me why.”

Ish! Punya anak kepo banget!

Saya memang terbiasa ber make up walaupun hanya pergi ke pasar. Bukan make up tebal macam lenong dengan teplokan warna warni di jidat jenong. Hanya make up tipis yang penting manis. Ihik!

Buat apa ya?

Hmmmm … kekepoan Rayyan sangat menggelitik, karena mungkin ini juga yang ada di benak beberapa orang yang sama herannya dan punya pertanyaan yang sama tapi takut bertanya. Ngeri ya liat mata saya terbeliak macam Suzzana?

Lagian aneh. Lha wong pake masker, ketutup, enggak ada yang mengenali, ngapain juga dandan?

Oy! Saya dandan bukan dengan harapan dilihat orang. Saya memulas make up tipis di wajah yang semakin menua ini hanya semata ingin terlihat segar. Tidak kumut-kumut dan busuk karena sudah terlalu lama ngerem di rumah. Itu pun saya hanya memulas bagian mata dan lip tint tipis karena di dalam kendaraan pribadi toh saya tidak perlu mengenakan masker.

Lagipula saya pergi dengan suami yang harus saya jaga maruahnya. Mana tau di tempat belanja, saya bertemu dengan koleganya. Nanti disangka saya tuyul dengan mata panda yang lepas kandang, karena keluar rumah tanpa menebalkan alis dan membentuk bingkai mata dengan eyeliner agar tak terlihat pucat.

Selebihnya saya hanya ingin tampak segar walau hanya mata yang terlihat berbinar. Saya pun masih tetap mematut pakaian dengan pantas walaupun harus mendorong trolley berisi penuh belanjaan pasar.

Percayalah Moms. You’ll feel good when you look good and you’ll feel good when you smell good.

So, jangan segan memakai make up dan wewangian. Karena ketika kita nampak segar, hati akan riang, dan seisi rumah pun menjadi tenang. Melihat sang ibu tidak kumut-kumut, bermuka cemberut, seperti dompet akhir bulan yang mengkerut.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis

Di Rumah Saja? Gak Masalah.


Di Rumah Saja? Gak Masalah.

Corona oh corona
Karenamu dunia jungkir balik tak berdaya
Padahal wujudmu tak terlihat adanya
Kita bisa apa?

Kerja dan sekolah dari rumah
Puasa dan ibadah pun di rumah saja
Mungkin lebaran nanti demikian juga
Kita bisa apa?

Banyak jiwa melangut karena keuangan mengkerut
Banyak raga terpuruk karena kondisi tak menentu
Akankah kita ikut cemberut meratapi nasib buruk?
Kita bisa apa?

Kita bisa!

Kita bisa menyebarkan kebaikan dengan apa saja yang kita punya. Semampunya dengan sepenuh hati. Seperti kami yang bersatu di bait indah ciptaan tangan dingin Erros Djarot ini.

Ulurkan tangan kita semua. Karena berpangku tangan tak ada manfaatnya. Bersama kita bantu semua yang sedang murung. Itu pun bagian dari ibadahmu juga.

Bersama kita saling menghibur dan meneguhkan hati, bahwa ibadah tetap bisa berjalan, walau hanya di rumah sendiri. Itu pun bagian dari ibadahmu yang bersumber dari hati.

Ibadahmu dengan Sang Khalik tidak perlu ditentukan dari lantai mana sujudmu datang, atau dari arah mana doamu terlafazkan. Semua sumbernya ada dalam hati dan kedalaman relung jiwa.

IA toh serba tahu dan serba merasa, apapun yang tersemat dalam lubuk terdalam masing-masing rongga. Tanpa kecuali dan tanpa pernah salah alamat. IA hanya butuh kepasrahan kala bermunajat dengan tulus tanpa minta banyak harapan.

Mengadulah padaNya kala diri terpuruk dan merasa terpasung di rumah sendiri. Ingat juga padaNya ketika berada di puncak bahagia dan berkalung kebebasan dunia. Berharaplah IA tetap mengingat mu di setiap detik kehidupan yang fana ini.

Di rumah saja, beribadah lah seperti biasa. IA menghitung tanpa jeda. Baik atau kurang adanya.

Jadi … di rumah saja? Gak masalah. Ibadah tetap lancar lah!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #Rere #IbadahStayAtHome

Lagu & Lirik: Erros Djarot
Singer: Kagama Bersenandung