IGNORE. BE HAPPY


IGNORE. BE HAPPY

“Hmmm … I’ll ignore school to be intelligent.”
“Don’t you dare!”

Hahaha! Begitulah tanggapan krucil melihat saya mengunggah status tentang IGNORANCE kemarin.

Berani-berani ignore school bisa kena jitak nanti!

Status kemarin muncul setelah saya menonton podcast seorang public figure yang sebenarnya bukan idola saya karena orangnya cenderung tengil dan sengak. Tapi saya tonton juga sih karena materinya lumayan lebih berbobot dibanding podcast seleb yang lain.

Nah, kemarin saya full nonton talk shownya dengan seorang pemuka agama yang baru saja mengalami musibah, ditusuk seseorang. Kata demi kata saya dengarkan, tak seperti biasanya. Kali ini saya benar-benar in awe. Ternganga. Kok bisa ya?

Bagaimana bisa seseorang memiliki sifat welas asih, sabar, dan gak suka ribut seperti itu? Sifat yang saya tahu hanya dimiliki seorang “manusia pilihan” Sang Pencipta.

Dari ucapan demi ucapan sang pemuka agama, saya belajar banyak sekali. Salah satunya tentang ignorance, dalam arti positif.

“Apa yang Syekh pikirkan ketika melihat si penusuk?”
“Enggak ada pikir apa-apa. Ya sudah saja, gak saya pikir lagi. Ndak pikir siapa, apa motifnya, apa alasannya, saya pikir ini takdir dari Allah. Alhamdulillah. Saya tidak mau dikaitkan dengan apapun.”

Jangankan sang host, saya saja yang mendengar sampe jaw dropped. Tak percaya. Padahal di luar sana, lisan dan tulisan, ribut tak terkendali, saling menyalahkan serta menyindir padahal belum juga paham cerita sebenarnya. Menggelikan.

Kalian belum nonton? Tonton deh. Wajib. Ini linknya https://youtu.be/6OTBeW-SIh8

Dari beliau saya akhirnya benar-benar paham, kapan kita harus bersikap acuh pada sesuatu. Terutama yang bukan menjadi urusan dan keahlian kita untuk berkomentar. Termasuk menanggapi segala jenis keributan remeh yang bisa diselesaikan dengan tanpa membesar-besarkan.

Masalah besar, kecilkan. Masalah kecil, hilangkan. Tak ada masalah? Jangan ikutan orang mengipasi masalah.

Walau rasanya masih jauh panggang dari api, paling tidak podcast sang Syekh memberi saya sudut pandang baru tentang ignorance.

Tak semua hal butuh campur tangan dan komentar kita, karena tak semua hal kita pahami dengan benar. Jadi, diam dan mengamati untuk belajar, masih jauh lebih berguna. Percayalah, banyak ribut itu tak ada gunanya kecuali ini menjadi katalisator kurangnya sesuatu dalam hidupmu. Kurang bahagia mungkin? Hingga senang melihat orang lain ribut dan ribut melihat orang lain senang menjadi pelampiasan.

Be happy … not because everything is good, but because you can see the good side of everything.

Love, Rere.

Olahraga Olahjiwa


Olahraga Olahjiwa

“Olahraga melulu enggak kurus-kurus.”
“Olahraga melulu ngapain, sih? Bikin capek saja.”

Bukan sekali dua saya menerima afirmasi seperti itu karena hobi saya berolahraga. Be it yoga, piloxing, zumba, saya “memaksa” diri untuk mengikuti semuanya. Lebih menggila setelah sekarang dimudahkan untuk melakukannya secara online.

Tidak ada yang pernah menyadari bahwa saya tidak hanya sedang mengolah raga namun juga berusaha mengolah jiwa.

Olahraga mengajarkan saya cara untuk berhadapan dengan rasa sakit. Bahkan mencarinya hingga ke batas yang tidak tertahan, lalu belajar menghadapi, dan menikmati setiap nyeri yang muncul kemudian.

Sama persis bak sebuah denyut kehidupan.

Kehidupan yang tidak bisa selalu senikmat dan semudah keinginan. Hidup yang lengkap dengan rasa sakit, kecewa, duka, dendam, perjuangan … hari demi hari di dalamnya. Semua rasa yang harus dihadapi dan dinikmati tanpa bisa lari atau mencari jalan lain demi menghindari.

Hidup yang memang tidak selalu sejalan dengan keinginan diri namun seringkali butuh banyak melihat dari banyak sisi. Mempertimbangkan banyak hati dan pasrah mengindahkan kemauan sendiri. Kemauan yang justru kadang berangkat dari mimpi untuk memberikan hanya yang terbaik.

Keinginan yang kadang mesti pasrah menghadapi penolakan hingga muncul kecewa dan sakit. Rasa yang harus dihadapi dengan berani, bukan memilih lari untuk menghindari. Meski sulit namun begitulah hidup ini.

Olahraga mengajarkan saya untuk mengolah semua itu. Menghadapi kecewa dan sakit tanpa perlu setengah mati berusaha untuk menolak. Mengubah rasa tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang berguna bukan sekedar keluh kesah hampa. Menyembuhkan hati dan jiwa sendiri tanpa berharap bantuan siapa.

Percayalah, harapan yang terlalu tinggi akan seseorang atau sesuatu, seringkali menjadi sumber kecewa yang menghajar tanpa ampun. Maka mencari afirmasi positif melalui kegiatan yang juga positif akan memunculkan sisi diri yang jauh dari negatif.

Jadi, masih butuh tahu kenapa saya suka sekali berolahraga padahal tubuh tidak juga mencapai bobot dan bentuk bak puluhan tahun ke belakang?

Ini lah cara saya mencintai diri dan raga yang sudah tidak lagi muda. Mengolah raga sekaligus mengolah jiwa.

Being strong is never easy, but inner strength teaches us how to deal with pain and go on despite fear.

Love, Rere.

PS:
Bakasana atau Crow Pose, adalah salah satu pose yang bagi saya pernah begitu sulit. Mengajarkan saya bagaimana menyeimbangkan raga dengan jiwa. Menggabungkan kekuatan dan keberanian.

Benefits of Crow Pose

  • Tones the abdominal wall
  • Strengthens abdominal organs to aide in lower back pain and indigestion
  • Strengthens arms
  • Stretches and strengthens the back
  • Stretches and strengthens inner thighs
  • Opens the groin
  • Strengthens the wrists
  • Builds endurance and focus – mental focus and calm

(Source: https://yogawithadriene.com/crow-pose/)

V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan


V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan

“Urip iku mung mampir ngombe.”

Pernah denger ungkapan dalam bahasa Jawa ini, yang artinya hidup itu cuma mampir minum saja?

Ya, benar juga. Menjalani hari hingga usia saat ini itu kadang terasa lama, tapi melihat anak-anak tumbuh dewasa rasanya waktu begitu cepat berlalu. Semudah menghabiskan segelas minuman.

Sebentar lagi, tanpa terasa mereka akan lulus sekolah. Lalu kemudian bekerja, membeli rumah terus menikah, membangun keluarga kecil, beranak, hingga bercucu. Begitu saja sih sebenarnya hidup ini. Benar-benar ibarat seteguk air.

Hanya perjalanan masing-masing saja yang membedakan. Ada yang bak garis lurus, ada yang berkelok bak jahitan berbentuk zig-zag. Bahkan ada yang begitu kusut di awal lalu lurus di belakang, atau sebaliknya.

Hmmm … saya merangkum semuanya dalam sederet foto ini. Ketika seorang keponakan melepas masa lajang dan saya menghadiahinya dekorasi mobil pengantin. Kemudian tiba giliran keponakan yang lain naik pelaminan, saya membuatkannya sebuah kotak ang paw berbentuk sepasang pengantin berbaju khas Melayu.

Berbulan setelah hari itu, saya kembali menghadiahi mereka dengan sebuah bingkisan berbentuk cake bertingkat. Bedanya yang ini tidak untuk dikonsumsi karena terbuat dari susunan diaper atau popok sekali pakai. Yep, saya sudah punya cucu meskipun bukan lahir dari 3 anak yang masih sekolah. Suatu hari nanti akan tiba giliran mereka.

Jalan kehidupan kemudian kembali berulang, kelak ketika para cucu beranjak dewasa. Setelah tiba giliran mereka naik pelaminan, mungkin saya masih kuat menghias mobil pengantin masing-masing. Lalu sambil membetulkan kacamata yang melorot, mungkin saya juga masih membuat kotak ang paw tentunya dengan hiasan yang hits pada tahun itu.

Semoga … karena saya ingin hidup ini tidak cuma sekedar numpang minum tapi juga berguna untukmu. Meski tidak lagi mampu muluk-muluk menawarkan bantu. Semata hanya karena ingin hidup memiliki value. Meski harus melalui jalan panjang yang berkelok bahkan berdebu.

Life’s too short, make the most of it.

Love, Rere.

Menulis Ala Sang DJ


Menulis Ala Sang DJ

Menulis kok ala DJ? DJ itu kan …

Ini DJ bukan sembarang DJ, ini DJ keren bernama lengkap DeeJay Supriyanto. Saya pun tidak tahu pasti asal muasal nama salah satu dari duo founder Rumah Media Grup ini. Yang saya tahu hanya paparan beliau yang sangat membuat mata saya terbuka lebar selama 2 hari kemarin.

Dari beliau saya baru paham betul apa perbedaan fiksi, non fiksi, dan faksi. Maklum, saya hanyalah anak bawang yang sedang berjuang. Berjuang menuangkan ide dan gagasan, demi masa depan cemerlang. Caelah! Sebenarnya sih alasan utamanya semata ingin meninggalkan sederet catatan bersejarah yang bermanfaat dan berguna bagi semua. Hingga kelak bisa menjadi warisan bagi anak cucu ketika saya sudah tidak mampu lagi menuangkan isi kepala ke dalam tulisan.

Pelatihan di hari pertama sudah memberikan saya afirmasi positif, bahwa menulis adalah hobi yang mengasyikkan. Memang, menulis bagi saya sudah ibarat candu. Jika tidak menulis rasanya hidup ini makin miris. Hahaha!

Sedikit saya akan berbagi bagaimana langkah mudah membuat How Tips seperti yang dipaparkan pada pelatihan di hari pertama.

1. Menemukan ide

Caranya bisa dengan membuat daftar keahlian, menulis minat dan hal yang disukai, melakukan survey, atau dengan berselancar di dunia maya untuk mencari inspirasi.

2. Mengumpulkan data dan fakta

Kita bisa melakukan riset kecil sebelum membuat judul besar atau tentative outline. Kemudian menentukan bab atau sub bab, sebelum akhirnya menuangkan ide berupa paparan.

3. Membuat konsep tulisan

Keberadaan konsep sangat diperlukan karena berisi poin-poin penting untuk tulisan, termasuk rencana penyusunan bab dan sub bab, melalui beberapa pertanyaan.

4. Gaya bahasa

Penggunaan setiap kata harus lah mengalir, mudah dipahami dan tentunya mengandung informasi yang jelas serta akurat. Maka silahkan menentukan bagaimana gaya bahasa tulisanmu.

5. Sertakan data pendukung

Sebagai pendukung tulisan, bisa juga menyertakan visualisasi dalam bentuk foto, gambar, atau contoh kejadian.

6. Tuliskan bagian naskah dengan lengkap

Penyusunan kerangka atau outline memegang peranan penting dalam sebuah tulisan. Misalnya, urutan bab, sub bab, indeks atau daftar isi, catatan kaki, glosarium atau kamus singkat, serta profil penulis. Perlu diingat bahwa penyusunan daftar isi harus dibuat sesederhana mungkin. Jika menyertakan tabel hendaknya dibuat berurutan agar tidak membingungkan pembaca.

7. Menentukan judul

Penentuan judul ini masih bersifat tentatif atau sementara, karena pihak penerbit menjadi salah satu penentu hasil akhir judul sebuah tulisan atau buku. Tentu saja semua bergantung pada sisi komersil yang harus dihadirkan demi kepuasan pembaca.

Pelatihan di hari kedua memberikan ilmu baru tentang kinerja otak yang dibutuhkan oleh seorang penulis. Melalui sebuah tehnik sederhana yang 99% akurat, yaitu menempelkan 2 ibu jari dengan posisi satu di atas dan yang lain di bawah, akan nampak sisi otak sebelah mana yang lebih dominan pada diri seseorang.

Selain mengandalkan kinerja otak, yang tentunya bisa diasah untuk mengaktifkan ke dua belah sisi, ada 5 modal utama yang harus dimiliki oleh seorang penulis.

1. Referensi

Hal ini bisa didapat dengan banyak membaca, sehingga segala ilmu yang terdapat dari setiap bacaan itu mampu mengisi ruang kosong di dalam memori otak. Segala informasi ini akan sangat berguna untuk mengatasi kebuntuan ide yang mungkin tiba-tiba datang.

2. Silaturahmi

Siapa mengira bahwa selain memperpanjang usia dan merekatkan hubungan, silaturahmi juga mampu memperkaya pengalaman. Maka rajinlah bersilaturahmi, jangan membatasi diri dari lingkungan pertemanan, lalu serap sebanyak mungkin ilmu yang muncul.

3. Traveling

Perjalanan wisata dan penjelajahan tempat-tempat baru rupanya juga bisa membuat seseorang memiliki referensi dan memori untuk dituangkan dalam tulisan. Maka “jangan kurang piknik” rasanya tepat disematkan jika ingin memiliki banyak referensi.

4. Mengikat ide

Terkadang ide bisa muncul di mana saja dan kapanpun ketika ia ingin muncul. Untuk mengatasi berhamburannya ide sehingga lenyap sebelum sempat disantap, mulailah memiliki sebuah buku kecil sebagai tempat menambatkannya.

5. Sudut pandang

Mengidolakan seorang penulis kadang membuat kita tanpa sadar mengikuti gaya mereka. Hingga sudut pandang yang disajikan akan nampak serupa. Padahal berbeda kan seru pastinya. Maka, ubahlah arah sudut pandang dengan menyajikan ide atau tulisan yang berbeda.

Lima modal utama ini tentunya tidak akan berhasil ditampilkan ketika seorang penulis mempercayai mitos. Apa saja mitos yang harus dihindari seorang penulis?

1. Penulis butuh mood

Mood seharusnya tidak berperan dalam proses penulisan. Ketika kebuntuan datang, seorang penulis seharusnya mampu menyegarkan otak dengan cara membuka wawasan.

2. Tidak ada ide

Di dunia yang penuh warna ini seharusnya bisa memunculkan beragam ide, jika seorang penulis mampu membuka diri dan pikiran. Bergaul, membaca buku, atau sekedar piknik tipis bisa menjadi jalan menemukan ide, lho.

3. Bahasa harus indah

Jika anda adalah seorang penyair maka hasil karya anda memang butuh tulisan yang merdu, merayu nan indah. Namun untuk menuliskan sebuah ide, penggunaan bahasa yang indah tidak terlalu diperlukan. Yang utama adalah cerita yang disajikan harus mengalir dan saling berkesinambungan.

4. Memiliki bakat

Sering saya mendengar seseorang mengatakan ia tidak berbakat pada satu hal, misalnya menulis. Ketahuilah bahwa siapapun bisa menulis dan yang dibutuhkan hanya proses. Maka menulis, menulis, dan menulis lah tanpa henti untuk semakin memperhalus narasi dan diksi.

Yang Maha Kuasa menganugerahkan ciptaanNya dengan otak yang harus terus dijaga dengan diberikan nutrisi terbaik untuk membuatnya tetap hidup. Maka kewajiban kita adalah memanfaatkannya dengan terus membuka wawasan dan tidak membatasi diri.

The sky is not the limit. Your mind is. So open up your mind and enjoy the colourful life!

Menulis bukan lah semata tentang hobi atau bakat. Menulis adalah sarana latihan tanpa jeda dalam usaha untuk menuangkan gagasan dan ide, yang sumbernya banyak sekali bertebaran di muka bumi ini. Melalui tulisan dan gaya bahasa, dapat tercermin gaya kehidupan seseorang. Maka dengan apakah kita ingin diingat sebagai pribadi?

Saya pilih menulis. Kalau kamu?

Sumber: Pelatihan Menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” oleh DeeJay Supriyanto

Love, Rere

Menulis … Mulai Dari?


Menulis … Mulai Dari?

Banyak hal menarik saya dapat dari sesi pertama pelatihan menulis kemarin. Pelatihan? Ya. Saya memang anak bawang yang masih tertatih mengenal diri sendiri dan berusaha menuangkan isi kepala dalam deretan kata. Maka mengikuti pelatihan adalah cara saya menajamkan pena.

Pelatihan dimulai dengan mengenali beberapa karakter manusia dalam hubungannya dengan motivasi untuk menulis.

  1. Tipe yang membuat sesuatu terjadi.
  2. Tipe yang biasa melihat saja.
  3. Tipe yang hanya terkesima ketika melihat sesuatu.

Jika anda tipe yang terbiasa hanya melihat dan terkesima, cobalah untuk membuatnya menjadi sesuatu. Bagaimana cara mewujudkannya? Dengan menumbuhkan kepercayaan diri, asal jangan kelewat percaya diri. Hahaha!

If you think you can, then you will. If you think you can not, then you won’t.

Apakah dalam proses mewujudkan itu tidak akan ada rintangan? Tentu saja ada. Cara menghadapinya adalah dengan mencoba, dan terus mencoba tanpa kenal menyerah. Namun ada 2 hal yang perlu diingat seseorang ketika ingin mulai menajamkan pena menjadi seorang penulis.

Branding

Pilihlah sebuah nama yang akan menjadi ciri khas. Stick to it dan jangan melakukan banyak perubahan, sehingga gaungnya akan dengan mudah diingat oleh pembaca.

Spirit

Tidak ada siapa pun yang bisa menumbuhkan semangat dalam diri kecuali diri sendiri. Caranya dengan menguatkan tekad, menggelorakan semangat, serta fokus pada apa yang ada di hadapan. Membuka mata juga telinga adalah wajib, karena ilmu serta keahlian itu sangat luas. Percayalah, mempelajari sesuatu yang baru itu akan membuat hidup menjadi lebih indah.

Try, try again, try harder, try your best, and never give up!

Saya juga menemukan 5 resep menarik yang sangat berguna untuk mulai menulis, baik sebagai pemula atau juga menjadi pegangan seumur hidup untuk para penulis profesional.

1. Abaikan teori, and just start. Mulai lah menulis dari apa pun yang terlintas di benak, dan bagaimana pun jenis tulisanmu.

2. Terus berlatih, and never stop learning. Buka mata dan pikiran untuk menambah kosa kata serta wawasan, dan berlatih untuk terus mengasah ide yang muncul. Beberapa cara bisa dilakukan seperti mengikuti tantangan menulis atau bergabung dengan komunitas menulis. Jangan terlalu khawatir dengan hasil akhir karena semua butuh proses. Life is a never ending journey of learning and relearning, isn’t it?

3. Jika mendadak buntu, berhenti saja lah. Memaksa diri untuk menulis ketika otak sedang menolak diajak berpikir adalah hal yang harus dihindari. Istirahatkan ia untuk sementara dan benahi pikiran serta emosi agar bisa kembali konsentrasi. Memiliki bank naskah adalah salah satu solusi. Bagaimana caranya? Biasakan untuk menulis apapun yang terlintas di benak, kapan pun, di mana pun. Kemudian simpan naskah-naskah ini di sebuah folder yang sewaktu-waktu bisa kita edit lalu publish ketika otak sedang beku.

4. Mulai lah menulis hal yang begitu dekat dengan kehidupan kita dan tentunya dikuasai dengan baik. Saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk be true to yourself. Jujurlah pada semua hal, termasuk dalam tulisan. Tidak perlu muluk-muluk berangan ingin menulis tentang hal yang kekinian atau sedang bombastis dibicarakan. Tulis saja hal-hal sederhana yang menarik untuk dibaca sebagai permulaan.

5. Abaikan gaya menulis, tampilkan jati diri sebagai penulis. Membaca tulisan orang lain memang seringkali membuat ternganga atau terkagum bingung. Kok bisa ya dia menulis sekeren itu? Menjadikan seseorang sebagai obyek belajar adalah sesuatu yang baik. Namun berusaha keras menjadi seperti orang lain adalah hal yang harus dihindari ketika mulai menulis. Be yourself, you are you, you are unique. Karena menjadi berbeda itu seru!

Jadi, jika ingin menjadi penulis maka mulailah menulis. Nikmati segala prosesnya dengan menjadi diri sendiri dan bersikap jujur pada setiap goresan yang bersumber dari hati.

So, let’s start and just write!

Sumber: Pelatihan Menulis “Mencetak Generasi Berliterasi” Bersama Ilham Alfafa, Founder Rumah Media Grup

Rumah Ke-2


Rumah Ke-2

Empat belas tahun sudah saya turut merasakan gegap gempitanya warna merah putih berkibar di negara ini. Merah putih yang berhias bulan dan bintang.

Empat belas tahun yang tanpa terasa saya lalui di negara sejuta denda ini dengan segala pasang surutnya yang bak roller coaster nya kehidupan. Seru dan selalu menantang.

Jika ditanya apakah saya menikmati setiap detik yang saya lewati selama ini, jawaban saya tentu saja ya. Singapura adalah rumah kedua saya. Tempat dimana saya membangun keluarga kecil dan mengajarkan anak-anak segala hal tentang kebaikan, kepekaan sosial, keberagaman, kesetaraan, tanggung jawab, dan tentu saja disiplin.

Singapura memang menyenangkan. Bersih, teratur, tertib, patuh, tenang, nyaman, aman. Walau aman bukan berarti tanpa kewaspadaan. Low crime doesn’t mean no crime, begitu ujar suami saya yang kerap mengingatkan kami semua untuk tidak terlena dan lengah.

Beragam budaya, bahasa, ras hingga agama, tumbuh bersama dan saling berdampingan di negara ini. Tanpa saling caci, hujat, maupun mengecilkan satu sama lain.

“We, the citizens of Singapore, pledge ourselves as one united people regardless of race, language or religion, to build a democratic society based on justice and equality so as to achieve happiness, prosperity and progress for our nation.”

Pledge yang setiap pagi wajib dibaca semua murid di sekolah ini benar-benar menunjukkan, betapa semua warganya harus hidup rukun dan saling menghargai. Jika ingin ketenangan dan kenyamanan hidup betul-betul tercapai.

Meski hanya sebuah titik kecil di peta dunia, Singapura memang luar biasa. Hingga tenang rasanya hati menjadikannya rumah kedua.

Selamat 55 tahun Singapura! Semoga makin luar biasa dan menjadi satu titik kecil yang terus bersinar terang di peta dunia.

Love, Rere

Singapore National Day 9 August 1965 – 9 August 2020

Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Being a woman is never easy
Melalui banyak fase yang berakibat perubahan pada diri
Belum lagi siklus hormonal yang kadang bikin pusing sendiri
Mending jauh-jauh daripada kena usir

Being a woman is never easy
Masa muda harus benar-benar jaga diri
Kalau tak ingin masa itu terenggut dini

Being a woman is never easy
Setelah berbuntut dan menimang buah hati
Kesenangan pribadi harus rela tersisih

Being a woman is never easy
Menjaga yang tersayang kadang butuh otot besi
Namun penampilan tetap harus manis tak boleh basi

Ladies, mari saling mendukung
Berbagi cinta dan cerita untuk yang terkungkung
Tak perlu drama dan kelamaan merenung
Segera bangkit dan tegakkan punggung
Hitam putihnya dunia mari hadapi dengan senyum

Hitam putih challenge ini sungguh menarik. Melihat bagaimana kaum perempuan saling memdukung dan berbagi kekuatan satu sama lain. Melalui berbagi foto tanpa warna-warni.

Hanya hitam dan putih.

Ibarat hidup yang penuh dengan pasang surut. Kadang berpikir ia bahagia, ternyata hidupnya carut marut. Kadang menganggap ia menyebalkan, ternyata justru darinya didapat ilmu tentang kehidupan. Ahhh … sawang sinawangnya hidup.

The least we can do adalah berhenti memberi terlalu banyak komentar, terutama berbagi negativity. Karena terkadang di mata kita tampak hitam, ternyata ada putih di sana, pun sebaliknya. Berhati-hati dengan setiap ucapan, karena sejatinya pergumulan hidup setiap orang berbeda. We never know.

Pelukku untukmu semua yang sedang berjuang menghadapi kehidupan, dan berpacu menghadapi waktu. Berbahagialah menghadapi hiruk pikuknya. Karena ketika kita bahagia, tak akan ada waktu terbuang untuk membuat orang lain tidak bahagia.

Ladies, sisihkan waktu untuk menikmati hidupmu. Seruput hangat kopi di hadapan, agar senyum kembali terkembang di wajahmu.

Love, Rere

Hitam Putih


Hitam Putih

Hitam Putih
Karena hidup tak selalu berwarna bak pelangi
Kadang membosankan bahkan terlalu sepi
Menunggu bahagia, ia tak selalu datang sendiri

Wahai raga yang sedang tak berwarna
Sampai kapan jiwamu akan terpuruk merana?
Padahal banyak jalan mungkin terbuka
Jika netra berani melawan rasa

Duhai sukma yang sedang dirundung duka
Tataplah masa depan di hadapan
Tak perlu lagi menengok ke belakang
Jika hanya luka yang akan kau hirup aromanya

Beranikan diri menghadapi hari
Sampai hitam putihnya buana kau jalani
Hidup penuh warna pasti di ujung menanti
Tanpa perlu menunggu siapapun mengiringi

Bahagia itu adanya di hati
Bahagia itu tentang mencintai diri
Airmata segera sudahi
Bangkit dan segera maju sebelum mati

Mencintai diri sendiri itu butuh nyali
Berani melangkah itu bak pemantik api
Cintai jiwamu dengan sepenuh hati
Sirami dengan kasih agar ia senantiasa berseri

Life won’t sparkle unless you do!


Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.

Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Pagi tadi saya melihat sebuah status yang isinya kurang lebih menanyakan kenapa para lelaki harus mencari istri yang pandai memasak. Bukankah mereka sedang membangun rumah tangga, bukan rumah makan?

Hahaha! Saya ketawa sih membacanya. Kemudian berpikir sambil menghirup wanginya kopi hangat di hadapan saya.

Pernah kah saya berpikir bahwa saya dijadikan bak rumah makan di rumah? Hmm … sependek ingatan saya sih belum pernah. Selama ini saya menyukai seluruh kegiatan di dapur, bahkan sempat rajin menerima pesanan masakan dari beberapa pelanggan.

Terpaksa kah saya melakukan kegiatan masak memasak di rumah selama ini? Jawabannya adalah sama sekali tidak. Saya melakukannya dengan senang hati dan gembira, tanpa paksaan atau keterpaksaan. Bahkan dengan penuh semangat belajar banyak menu baru untuk disajikan di rumah.

Wahai para remaja putri atau teman-teman perempuan yang belum menikah. Percaya lah, kalian akan sangat bahagia ketika mendengar sang suami memuji masakan anda semua bahkan lebih memilih untuk makan di rumah, sesederhana apapun masakan anda. Bahkan dengan bangga membawanya ke tempat kerja, dalam sebuah kotak makan unyu, tanpa ragu dan malu.

Itu belum seberapa. Senyum anda juga pasti mengembang selebar-lebarnya ketika mendengar anak-anak mengatakan dengan bangga bahwa teman-teman sekolahnya menganggap anda “cool”. Hanya karena mereka mengagumi hasil buatan tangan anda di dalam kotak makan, yang selalu berbeda tiap hari hingga mereka selalu penasaran dengan isinya.

“Your Mom so cool! The food looks delicious and always nice to look at.”

Belum lagi pujian dari sahabat, teman, teman suami, atau keluarga yang berkesempatan makan di rumah anda dan dengan tulus mengatakan betapa lezatnya rasa masakan anda. Bahagianya mungkin lebih dari rasa lelah yang muncul setelah selesai memasak, dan melihat dapur bak kapal pecah.

Tapi eh tapi, ada nilai edukasi juga di rumah kami lho. Meski dengan suka hati saya memasak beragam menu, anak-anak juga harus belajar untuk tidak cerewet dan menjadi picky eater. Saya membiasakan mereka untuk being grateful, sesederhana apapun masakan yang saya buat. Mereka harus paham bahwa ada banyak sekali anak seusia mereka di luar sana yang tidak bisa menikmati makanan seperti mereka di rumah. Jadi, mereka tidak boleh banyak protes dan harus banyak bersyukur. Makan apapun yang ibunya masak, dan selalu berterima kasih atas segala anugerah yang didapat dari Sang Pencipta.

Saya juga mengajarkan mereka untuk terbiasa dan mengenal isi dapur. Ini adalah salah satu dari sekian banyak life skills yang saya wariskan untuk hidup mereka kelak. Jadi mereka tetap bisa survive di mana pun mereka tumbuh dewasa nanti. Saya toh tidak bisa selamanya memasak untuk mereka, kan?

Suatu hari nanti anak-anak harus hidup mandiri dan mampu bertahan sendiri. Jika memasak hal yang paling sederhana saja tidak mampu, bisa dibayangkan betapa tipisnya kantong mereka kelak, karena harus jajan setiap hari.

Jadi, masih mau menganggap kemampuan memasak ini sepele? Think again, ladies.

Jangan merendahkan diri dan menganggap bahwa kegiatan memasak akan menjadikan anda bak rumah makan di rumah sendiri. Tersenyum lah dengan bangga hati karena bisa berkata, “Gue dong, masak sendiri buat anak-anak dan suami.”

Love, Rere