FOKUS


FOKUS

Pagi tadi Rayyan memberikan hasil ujian pelajaran Bahasa Melayunya pada saya dengan sedikit ragu. Saya tahu, pasti ada sesuatu.

Minggu lalu memang anak-anak Sekolah Dasar di Singapura baru melaksanakan ujian tengah semester. Rayyan dengan percaya dirinya selalu bilang, “so easy. I can do it, Bunda,” setiap kali saya bertanya bagaimana ujiannya, sepulangnya dari sekolah.

Benar saja. Nilai ujian Bahasa Melayunya rendah sekali bahkan berbuah catatan dari sang guru yang menegurnya agar lebih fokus mengerjakan soal. Saya pun mengajaknya bicara pagi tadi.

“Do you understand this note from your teacher?’
“No I don’t,
Bunda.”
Lah? Read please.”
“But …”
“Just read. We will discuss about it.”

Dengan terbata-bata Rayyan membaca tulisan bertinta merah yang tertera di kertas ujiannya itu.

“What’s menggencewakhan, Bunda?”
“Mengecewakan. Meaning your cikgu is dissapointed at you because you took this exam lightly and didn’t focus on your paper.”
“But I didn’t take this lightly. I just don’t understand,
Bunda. I’m sorry.”
“I understand that you struggle hard for this subject. It’s part of my mistakes too. But when you don’t understand something, you must work harder to understand more and we will work this thing out together, okay? But I want you to try harder too.”
“Okay,
Bunda. I’m sorry. But some of my friends got low marks too.”
Rayyan, please focus on yourself for now and don’t think about others. Understand?”
“Sorry,
Bunda.”

Saya dapat melihat penyesalan di wajahnya karena saya tahu ia memang bekerja keras untuk menyelesaikan semua ujiannya minggu lalu. Nilai matematikanya bahkan naik dan menjadi 3 besar peraih nilai tertinggi di kelasnya. Saya merasa ikut bersalah karena tidak membiasakannya lebih sering berbicara dalam bahasa Melayu di rumah.

Lha saya sendiri bahkan sang ayah yang asli Melayu juga bingung, kok.

Saya menekankan padanya untuk fokus memperbaiki diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Anggap saja catatan dari sang guru adalah teguran pada kami berdua untuk lebih giat dan tekun belajar sesuatu yang tidak kami kuasai dengan baik.

Setelah berdiskusi dengan mata berkaca-kaca ia memeluk saya lalu meminta maaf karena merasa mengecewakan saya dan gurunya di sekolah. Saya memeluknya sekaligus mengatakan betapa bangga melihatnya banyak berubah. Ia sekarang lebih rajin, lebih teratur hingga isi tasnya pun tersusun rapi tidak lagi amburadul seperti sebelumnya. Saya juga senang ia bahagia pergi ke sekolah bahkan menganggap pelajaran matematika sebagai sesuatu yang menyenangkan. Yayy!

Ingat ya, Nak. Fokus saja sama dirimu sendiri dulu, tak perlu sibuk dengan apa adanya orang lain. Habiskan saja waktu untuk selalu memperbaiki diri sendiri. Ini saja seharusnya sudah cukup menyita waktu kita hingga akhir masa nanti.

Diskusi pagi kami pun ditutup dengan pelukan hangat dan kata cinta seperti biasa. Saya tahu ia sangat menyesal. Saya memintanya menemui sang guru untuk mengatakan penyesalannya sekaligus berjanji untuk memperbaiki diri dan lebih berkonsentrasi di kelas.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Rayyan.”

Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.

Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, are you packing us food or do we buy at the canteen?”

Pagi tadi Lana menemui saya di dapur ketika sedang membungkuskan bekal untuknya dan sang kakak. Seharusnya Kamis adalah hari jatah mereka jajan di kantin sekolah. Namun kemarin ternyata mereka harus pulang lebih awal karena kakak-kakak kelasnya akan menghadapi ujian tengah semester. Karena itu mereka jadi tidak bisa jajan di kantin sekolah.

“You can buy food Nak, but I will still pack you some. Okay?”
“Okay,
Bunda. Thank you.”

Seharusnya saya bisa saja menyuruh mereka jajan hingga tidak perlu sibuk menyiapkan ini itu di pagi buta. Belum lagi harus berpikir akan membuat apa.

Saya bukan hanya sedang mengajarkan anak-anak untuk berhemat dan menabung uang jajan mingguannya. Saya sedang mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang di setiap lembar roti atau apapun yang saya buat untuk mereka.

Meski kadang hanya berbentuk bekal sederhana, saya ingin mereka mengingat sang bunda di setiap detik kehidupan yang terlewati.

Beruntung kami dikaruniai putra putri yang manis dan hampir tidak pernah mengeluh. Semua bekal makanan yang saya buat untuk mereka selalu dihabiskan dengan gembira.

Tentu saja selain berusaha menyajikan makanan yang sehat, saya juga harus memahami apa saja yang mereka suka maupun tidak. Saya tidak pernah memaksa mereka makan apapun yang tidak disukai. Encouraging ya, tapi pemaksaan tidak. Saya ingin mereka makan dengan bahagia bukan terpaksa.

Sambil duduk menikmati pagi yang indah bersama secangkir kopi hangat, saya membuka deretan gambar bekal makanan yang pernah saya sajikan untuk suami dan anak-anak. Penuh cinta dan rasa sayang yang luar biasa besarnya.

Pesan saya untukmu para bunda, penuhi dan isi setiap detik kehidupan pasangan dan buah hati dengan sentuhan tanganmu sendiri. Percayalah, you will always gain by giving love. Mereka akan membawa cinta itu kemana pun mereka berada. Dengan namamu tersemat indah di dalamnya. Love is You … Bunda.

Love, Rere.

Belajar Dari Rayyan


Belajar Dari Rayyan

Ting Tong!

He? Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah? Waduh! Saya belum lagi mandi, dan baru saja menyeduh secangkir kopi. Bergegas saya menuju pintu rumah dan melihat dari lubang intip.

Lah! Si Rayyan?

“What’s wrong, Rayyan? Did you forget something?”
Bundaaa! I forgot my mask! I was almost reached the school gate when I realized I didn’t put on my mask.”
“Oalah! Hold on, I take your mask.”
“Thank you,
Bunda.”
“There you go. Be careful. Just go down by the lift,
Nak.”
“I’ll go down by the stairs,
Bunda. So sorry for this.”
“No problem. Take care!”
“I love you,
Bunda. Assalamualaikum.”
“Love you more!
Waalaikumussalaam.”

Lamat saya masih mendengarnya berteriak menyatakan penyesalan dan cintanya, sambil menuruni anak tangga, sesaat setelah saya menutup pintu.

Apartemen kami berada di lantai 5, dan anak-anak selalu turun naik menggunakan tangga tanpa pernah mau naik lift yang letaknya persis di samping rumah. Kami memang mengajarkan mereka untuk rajin menggunakan tangga di mana pun berada. Anggap saja olahraga.

Saya pun mengawasi Rayyan dari jendela rumah sampai ia selamat menyeberang lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke gerbang sekolah. Beruntungnya kami, sekolah dasar anak-anak hanya terpisah 1 blok saja dari bangunan apartemen rumah.

Ah Rayyan … seandainya semua orang belajar disiplin darimu. Si bungsu yang baru berusia 9 tahun. Demi menjaga diri dan lingkungannya, ia sampai rela harus turun naik tangga dari lantai 1 ke lantai 5 mengambil masker penutup mulutnya yang tertinggal di rumah. Padahal di sekolah ia juga harus turun naik dari lantai 3 ruang kelasnya ke lantai 1, atau lantai 2 untuk mengikuti serangkaian kelas.

Semoga tetap semangat dan bahagia ya Nak. Tidak perlu meminta maaf karena sudah menerapkan disiplin dengan baik, dan melakukan sesuatu yang benar. Padahal bisa saja ia tidak peduli dan tinggal bilang lupa. I’m so proud of you big boy!

Semoga banyak manusia ikut belajar dari Rayyan.

Love, R

Selamat Berjuang, Nak!


Selamat Berjuang, Nak!

“How’s school, Lana?”
“It was okay,
Bunda.”
“Are you okay wearing face mask during lesson?”
“I’m okay.”
“Can you breathe easily?”
“Kinda dizzy a bit but no problem.”
“Huh? You must inform your teacher if you feel uncomfortable,
Nak.”
“It’s okay,
Bunda. It’s only for a while. After that I’m fine.”

Hhhh … sesak dada rasanya melihat ketiga anak saya dan seluruh murid di Singapura kembali ke sekolah. Ya, sejak mulai diberlakukannya Fase 2 di awal Juni kemarin, mereka memang mulai bergantian kembali belajar di dalam kelas. Tentu saja dengan sederet aturan yang harus dipatuhi tanpa kecuali.

Setelah minggu kemarin dua putri saya masuk sekolah sementara si bungsu mengerjakan tugas di rumah, minggu ini giliran Rayyan yang masuk sekolah dan sang kakak mengerjakan tugas sekolah dari rumah.

Saya sedikit khawatir memang pada kondisi Lana yang pernah menderita asma. Ia juga mudah sekali mimisan ketika suhu tubuhnya naik. Namun saya hanya mengingatkannya untuk berkomunikasi dengan sang guru ketika ia mulai merasa tidak enak badan. Bangganya saya ketika melihatnya begitu tabah dan tanpa keluh kesah menuruti peraturan sekolah.

Begitu pula dengan si bungsu Rayyan, yang begitu bersemangat mengawali pagi. Tak nampak raut wajah khawatir atau segan setelah sekian lama hanya di rumah saja. Sejak hari Senin kemarin, ia harus kembali ke sekolah dan memulai segala sesuatu dengan hal baru.

Ia juga harus belajar beradaptasi dengan masker yang terpakai sepanjang hari, serta berjuang untuk melalui semuanya tanpa kecuali.

“How’s school, Rayyan?”
“Oh my! It was so hot with my mask on,
Bunda.”
“But are you okay?”
“Yea, I’m fine. Teacher asked us to wear PE attire to school so we don’t sweat too much.”
“I know you can do it and able to adapt to the new normal. Right?”
“Yea. I’m fine. I look cool with my mask on anyway.”
“Ish! So vain!”

Hahaha! Mungkin hanya Rayyan yang kegirangan memakai masker wajah karena menurutnya ia tampak keren.

Alhamdulillah mendengar mereka tetap semangat, tidak banyak mengeluh, dan cepat beradaptasi dengan keadaan yang baru ini. So proud of you, kids!

Semoga perjuangan kalian di bangku sekolah dalam situasi tidak mengenakkan tahun ini, akan membentuk pribadi yang kuat dan tidak mudah mengeluh ketika dewasa kelak. Masih banyak tantangan di depan sana yang harus kalian perjuangkan bukan? Ini hanya sebagian kecil dari proses belajar hidup, Nak.

Welcome back to school and welcoming the new normal!

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda #Perjuangan

Welcoming The New Normal. Hang in there, Kids!

Getem-Getem


Getem-Getem

Getem-getem dalam bahasa Jawa adalah ekspresi menahan emosi sambil membeliakkan mata, serta mengatupkan gigi dan bibir. Biasanya paling sering dilakukan para ibu di pagi hari sejak anak-anak bangun pagi. Betul tidak?

Well, seperti biasa di rumah kami, semua anak wajib membereskan tempat tidur masing-masing, termasuk melipat selimut dengan rapi. Catat … dengan rapi. Saya mengajarkan mereka melipat sejak kecil. Awalnya dengan saling membantu kemudian belajar untuk mandiri, mengerjakannya sendiri.

Kisah ini terjadi ketika putra bungsu saya berusia 7 tahun. Pagi itu ia, yang memang agak dramatis, sambil menangis mengatakan 1 kata kunci yang really triggering my getem-getem.

“How to do this? I’m not good at this!”

Oh no! False alarm. Salah besar kalo membuat saya mendengar kalimat itu di pagi hari, hingga membuat saya getem-getem selama beberapa detik.

“What’s wrong, Rayyan?”

“I can’t fold the big blanket myself, Bunda. Can you help me? Because I’m not good at this.”

“Listen. Why do you think Allah gave us brain?”

“To think?”

“Yes. To think. To figure out things. To find a way to do things. I taught you on how to fold this. But since you told yourself that you are not good in this then your brain will do what your mouth is telling you, and forever you will not be good in anything. Is that what you want?”

“No, Bunda.”

“Try, be patient and don’t give up easily. Keep trying, whatever the result will be. At least you try before you cry. Tell yourself let me try before assuming that you are not good in anything. Say it!”

“Let me try.”

“Again. 3 times.”

“Let me try. Let me try. Let me try.”

“Now try.”

“Okay.”

After a while, “Bundaaaa, look!” ujarnya sambil menunjukkan selimut hasil lipatannya.


“Smart boy. You see? I know you can do it!”

“Yeah. I was very cranky before but then I told myself that I can do it and that I have to try and try. So there it goes. Is it neat and tidy, Bunda?”


“Yes it is. It’s super neat! You see? You just have to try. Be patient, and don’t give up easily. You know you can do it and whatever the result is, be proud because you do it yourself. That’s the most important thing. Understand?”


Yes Bunda. Thank you for teaching me everything. I love you.”


“I love you more Sayang.”

Ia pun memeluk saya seraya mengucapkan terima kasih karena suntikan semangat yang saya beri, walau diawali dengan getem-getem tadi.


By the way, selimut yang dipakai Rayyan berukuran besar yaitu queen size. Bukan selimut kecil yang bisa dengan mudah dilipat oleh bocah 7 tahun setinggi 120 cm ya. Jadi saya sangat bangga padanya.

Moms, mengajarkan positive attitude kepada anak-anak memang bukan hal yang mudah. Apalagi ketika sekeliling mereka penuh dengan orang-orang dewasa dengan negativities. Tapi kita lah ibunya. Kita yang pegang peranan bagaimana menentukan tumbuh kembang mereka. Tinggal masalah berdamai dengan emosi saja yang kadang muncul karena beberapa sebab. Ya, seperti getem-getem itu, yang bagi saya adalah salah satu cara menahan emosi.

It’s not easy yet nothing is impossible. Have a great day ahead!

Love, R

#RumahMediaGrup #ChallengeMenulis #WCR #SecangkirKopiHangatEmak #ReReynilda

Movie Night


Movie Night

Ayah, can we have a movie night today and everybody sleep together in the living room?”
“Okay
Rayyan. Guys, we’re gonna sleep outside tonight.”
“Nooooo! I don’t want
Ayah.”
“Why?”
“I just don’t want.”
Bundaaaaaaaa! The girls don’t want to sleep outside tonight!”


Satu hari dalam seminggu biasanya kami sekeluarga memiliki jatah movie night. Memutar film di ruang tamu hingga dini hari, dan menggelar alas untuk tidur berlima di lantai. Ya, di lantai ruang tamu dengan alas seadanya.

Setelah beberapa lama, kegiatan ini tidak kami lakukan, hingga kemarin Rayyan si bungsu pun mengajak sang ayah dan kedua kakaknya untuk menggelar movie night lagi.

Sayangnya ide ini serta merta ditolak oleh kedua putri saya, hingga sang ayah mengadu dan mengatakan idenya dihempas tanpa ampun. Kemudian saya memanggil Lana dan Lara bergantian.

Adik, do you want to have a movie night tonight?”
“Okay,
Bunda.”
“We sleep together in the living room okay?”
“Okay!”
Kakaakkk, how about you?”
“Okay
Bunda.”

“Haaaaa? Why so easy? Why you give her different answer? You said you didn’t want to sleep outside just now?” Tanya sang ayah yang idenya ditolak mentah-mentah beberapa menit sebelumnya.

Ayah, that’s the importance of communicating effectively.” Jawab saya dengan senyum sumringah tanda kemenangan.

Kalau saja saya mengajak mereka untuk sekedar tidur bersama di lantai ruang tamu yang tidak nyaman, pasti ide ini juga akan ditolak mentah-mentah. Jadi, saya menggunakan ajakan persuasif yang seru seperti menggelar movie night untuk mengajak mereka, dan langsung diterima tanpa banyak protes. Padahal intinya sama-sama ajakan untuk tidur berlima di lantai ruang tamu.

Well, what can I say? Motheeerrrr knows best!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

MOTHER


MOTHER

Identik dengan pengorbanan. Berkorban bentuk badan, berkorban kesenangan pribadi, berkorban prioritas, berkorban jati diri.

Badan yang langsing bak gitar Spanyol, kulit tangan yang halus dan perut mulus, rambut indah yang bak mayang terurai, semua berubah di hari ia dipanggil Ibu.

Kesenangan pribadi sekedar nongkrong di kedai kopi dengan teman sejati, harus berhenti sejak kemana-mana ia harus menggendong sang buah hati.

Prioritas diri yang kadang hanya ingin belanja keperluan pribadi, harus berganti dengan tumpukan buku pelajaran, atau belanjaan dapur pengisi perut para bocah kecil dan sang suami.

Jati diri yang di masa kinyis-kinyis terkenal manis penuh senyum tersungging, berganti menjadi sosok pemarah, tukang ngomel, hanya karena lantai toilet yang dirty.

Ahhh … Ibu, Emak, Mommy, Mother, Mom, Mama, Mamak, Bunda, Simbok, Umi, percayalah.

Segala pengorbanan itu terbayar tuntas ketika kelak anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bebas, dan cerdas. Berani berkata lugas, namun juga cergas.

Mereka, yang bagimu adalah pelajaran tanpa akhir dan kelas. Mereka yang akan mendoakanmu ketika mulai meranggas, hingga tiba saat tinggal landas.

Happy Mother’s Day untukmu semua perempuan hebat di seluruh dunia. Terima kasih pada para suami yang siap sedia mendukung sang istri pada setiap detik perjalanan hidupnya … menjadi sosok lain bernama IBU.

Mothers, love yourself! It’s not selfish.

Love, R

Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?


Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?

“Bunda …”
“Yes?”
“I left my lunch box and bottle at home.”
“So?”
“Can you send it to me?”
“No, I can’t.”
“But I’m hungry,
Bunda.”

Begitulah pesan singkat yang saya terima dari putri sulung saya. Ketika sedang menikmati secangkir kopi hangat pagi itu. Kotak makan, dan botol minumnya memang tertinggal di rumah. Saya menemukannya tergeletak di depan pintu. setelah ia pamit berangkat sekolah.

Ia memang nampak terburu-buru hari itu. Ada tugas Student Council, katanya. Semacam OSIS di sekolah Indonesia. Dengan singkat saya membalas pesannya, “Learn from this lesson.”

Kejam kah saya? Bagaimana dengan Anda para ibu? Jika anda menjadi saya, apakah anda akan mengambil langkah yang sama dengan saya yaitu menolak mengantar barang yang tertinggal sebagai pembelajaran? Atau justru tergopoh-gopoh pergi ke sekolah untuk mengantar barang mereka karena kasihan?

I might sound mean to many. Ibu yang kejam. Sekolah sebelah rumah saja tidak mau mengeluarkan sedikit effort untuk mengantar keperluan bocah yang tertinggal.

Ya. Begitulah cara saya mendidik anak-anak di rumah. Disiplin dan tanggung jawab adalah hal yang utama di keluarga kami. Jangan heran jika berkunjung ke rumah saya, anda akan melihat saya tidak segan memerintahkan anak-anak untuk melakukan banyak hal, bahkan sejak usia mereka masih sangat muda.

Memasak, membersihkan rumah, membereskan kamar, membuang sampah, pendeknya semua harus mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Semua. Tanpa kecuali.

Bahkan putra bungsu saya yang baru berusia 9 tahun, sudah terampil mempersiapkan menu sahur sederhananya sendiri, lho. Apalagi kedua kakaknya. Merekalah yang sekarang ini bertanggung jawab atas banyak hal di rumah kami.

Bagaimana saya melakukan semuanya?

It takes two to tango.

Kami melakukannya bersama-sama. Berproses sedari kecil, dan belajar dari semua kesalahan selama proses berlangsung. Seperti yang saya ceritakan dalam buku antologi Tips Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Anak Jilid 1 https://curhatanaksekarang.com/tips-mengoptimalkan-kemampuan-belajar-anak/

Belajar bukan hanya di ruang kelas dan membuka buku. Belajar hidup disiplin dan mengenal arti tanggung jawab, juga termasuk ilmu tentang kehidupan yang akan berguna seumur hidup. Ini yang tanpa lelah saya tanamkan di diri putra dan kedua putri saya.

Untuk siapa semua life skills ini? Untuk mereka. Agar kelak mereka bertiga tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang disiplin, berani bertanggung jawab, dan tidak pernah menyusahkan orang lain.

Mau membaca tulisan kami semua dan menyerap manfaatnya? Mari belajar bersama.

Love, Reyn.

Secangkir Kopi Hangat Emak – Belajar Hidup. Hidup Belajar


Secangkir Kopi Hangat Emak – Belajar Hidup. Hidup Belajar

Rayyan, I need to talk to you.”
“Yes,
Bunda?”
“I’ve tried my best to teach you good manners. On the dining table, while talking to others, etc … but you didn’t seem to bother. Everything is a joke to you.”

Bocah 9 tahun itu tertawa dan berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengajak saya menonton film kesukaannya.

“Listen! It’s time for you to listen! You are so playful! Do you know why I teach all of you manners every single day?”
“Mmm … to make me a well-behaved kid?”
“Exactly. You knew it, yet you like to test my patience everyday. You will not stay in this house with me forever you know that? You will go out and might stay with other families one day. How are you going to be a well-behaved person if you don’t start here now. In your own house?”

Bungsu dari 3 bersaudara ini mulai menundukkan kepala dan berusaha memeluk saya. Mungkin wujud penyesalannya.

“You said you want to see me healthy until I grow older and can no longer take care of you? You said you don’t like to hear me nagging every single day? Yet, you keep making me angry.”

Kemudian saya mulai membuka gawai dan mencari sesuatu melalui internet.

Boy’s boarding school.

Mata bocah pecicilan itu pun terbeliak dan saya merasakan jantungnya berdegup kencang. Saya memang sengaja membuatnya melihat apa yang saya cari di internet.

“Why are you searching for boy’s boarding school?”
“I’m thinking of sending you to a boarding school. You will learn how to interact with other people and take care of yourself here. You will be placed in a dormitory, in a single room or a shared one. You will learn how to behave and communicate with others without me around. I think you will like it. You are going for National Service too soon. So this is good for you. Maybe you will listen to the teachers there better than me.”

Mata bulat bocah lelaki itu berkaca-kaca, kemudian ia membalikkan badannya dan saya melihat bahunya berguncang tanda ia sedang menangis.

“Aahhhh. I found one. I think this is perfect. Mazowe Boys Boarding School in Zimbabwe. Do you know where Zimbabwe is? Rayyan?”
“I don’t know! And I don’t want to know!”

Ia menjerit dari balik selimut yang menutupi sekujur tubuhnya sambil menangis.

“It’s in Africa. It’s just perfect for you. I’m going to call the school tomorrow. Good night.”


“Aahhh good,
Bunda. I agree with your choice. Zimbabwe is perfect for him.” Sang ayah pun turut andil menambahkan bumbu hingga bocah lelaki itu pun semakin menangis.

Saya setengah mati menahan tawa.

“Please don’t send me to a boarding school. I promise I will practice good behaviour, I will listen to you bunda, ayah, and kakak. I promise I will help around the house. I promise I will study more and be a well-behaved student at school. I want to be with you Bunda. I don’t want to go to Africa.”
“Promise? I just want to raise you right,
Rayyan. I want people to see you as a kind boy, not a naughty one that people refuse to be around. So, you promise me? If you break your promise what should I do?”

“Send him to Zimbabwe,” ujar sang ayah.

Tersedu-sedu ia menangis sambil memeluk saya semalam. Ya ya, saya tahu. Saya dan ayahnya adalah naughty parents. Hahaha! Saya suka sekali bermain drama dengan anak-anak. Kadang juga sedikit membumbui dengan ancaman secara halus. Pokoknya bukan ilmu parenting yang baik deh. Hahaha! Tak perlu ditiru.

Rayyan sebenarnya anak yang manis. Ia terhitung penurut, namun sangat playful. Semua hal adalah humor konyol, dan lucu untuknya. Ia kadang tidak bisa memilah dan bertindak semaunya di sembarang tempat. Kami sedang mengajarkannya untuk pandai menempatkan diri. Di mana ia bisa bergurau dengan bebas, dan di mana ia harus diam dan bertingkah laku baik.

Ini adalah salah satu cara saya mendidiknya karena saya tidak ingin terlalu sering membentak bahkan melayangkan tangan ketika kesal. Saya ingin menanamkan kata-kata baik dan positif di dalam benaknya. Hal yang akan ia bawa hingga dewasa.

Lantas, bagaimana hasil sang drama mama semalam?

Pagi tadi, bocah lelaki itu bangun sahur dengan tersenyum. Mempersiapkan makanannya sendiri dengan cekatan, membuang sampah tanpa banyak alasan, dan duduk dengan manis di meja makan. Selesai makan, ia membawa piring makannya kemudian mencuci dengan tertib, dan kembali ke meja makan untuk membersihkan sisa makanannya.

Setelah itu ia mandi, meletakkan baju kotornya dalam mesin tanpa diperintah, kemudian menawarkan sang kakak untuk menyapu rumah. Setelah selesai ia pergi tidur tanpa beliakan mata saya, namun meminta ijin menggunakan gawai nya nanti untuk menonton film kesukaannya.

Good boy. Semoga bukan hanya hari ini janji itu dipenuhinya. Ingat, Zimbabwe menantimu di sana.

Love, R

#WCR #ChallengeMenulis #RumahMediaGrup #ReRe