To My Children


To My Children

Happy Children’s Day, Nak!

Bertumbuh lah dengan riang dan bahagia
Bersahabat lah dengan dunia serta isinya
Mencintai sesama tanpa sekat
Mengulurkan tangan tanpa melihat

Belajar lah tentang kehidupan
Punyai setumpuk rasa penasaran
Agar kelak tak salah jalan
Agar kelak tak sekedar ikut haluan

Buka mata dan jangan tutup telinga
Semua hal butuh ilmu dan luasnya pengetahuan
Jangan menyerah jika kelak tak sejalan impian
Karena hidup sejatinya tentang perjuangan

Disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian
Bawa selalu dalam ingatan
Hanya itu bekalku untukmu ke depan
Karena kelak akan kau temui banyak tantangan

Jadi lah pemimpin bukan pemimpi
Berdiri lah di depan bukan mengekor dari belakang
Banyak lah memberi bukan semata memikirkan diri
Ingat lah untuk selalu mengasihi bukan rajin mencaci

I will always be around
Stalking you
Flipping out on you
Lecturing you
Driving you insane
Being your worst nightmare
Even hunting you down like a bloodhound

To make you a responsible adult
Who will always stay humble and kind
Who will always say what you know and know what you say

Love, Bunda

The Future – Secangkir Kopi Hangat Emak


The Future – Secangkir Kopi Hangat Emak

Bunda, is it okay if I choose Design And Technology over Art?”
“Well I’m super okay if you think that’s the best for you.”
“My friends were like surprised, thinking that art is always be my passion.”
“Now tell me, why did you choose design over your passion of art?”
“I’m thinking about the future. I’ll let my passion become a hobby.”
“Good one,
Kak! Now, why do you need to think about the future?”
“I have to work, right?”
“Yes, and by working means you have to be independent. You can always pursue your dream and passion, it’ll come along with it. But your future depends on you decision now.”
“Thank you,
Bunda.”
“I know I can count on you to choose wisely.”

Berbicara tentang kegemaran, Lara adalah seorang seniman kecil. Ia pandai menulis lirik lagu, menulis cerita, memainkan instrumen musik, menggambar? Oh, ini sih sudah tidak diragukan.

Dulu ketika ditanya apa cita-citanya, ia akan dengan cepat bilang ingin jadi seniman, voice actress, animator, dan lain-lain. Kami menghargai keinginannya, sekaligus juga mengajaknya berdiskusi tentang masa depan.

Masa depan yang pastinya akan jauh lebih menantang dihadapi generasinya kelak. Masa depan yang tentunya harus dilalui dengan banyak bekal terutama of being independent.

Mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, mengurus diri sendiri, bertanggung jawab pada kehidupan sendiri, dan tentu saja tidak membebani orang lain. Malah kalau bisa menjadi berguna untuk membantu sesama. Mengajarkan orang lain untuk membuat kail tentunya, bukan hanya menyediakan seember penuh ikan.

Bangga saya padanya, ketika di usia 14 sudah mulai memikirkan tentang masa depan. Tanpa perlu saya berikan ketakutan lebih tentang hal itu, pada akhirnya ia sendiri yang paham bahwa passion berada di urutan setelah tanggung jawab.

“I can always do my hobby after I have a proper job in the future. I’m thinking of being an architect maybe?”

My baby.

… and I’m smiling from ear to ear,
Rere

Si Kaset Rusak (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Si Kaset Rusak
(Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Lara, sudah sholat belum?”
“Lana, sapu rumah, Nak.”
“Rayyan, make up your bed!”
“Ayo, cepat makan. It’s 6.30 already!”
“Don’t forget your masks”
“Botol, lunch box dah bawa?”
“Your keys, don’t forget!”
“Go home straight away.”

Bla … bla … bla.

Begitulah setiap pagi keramaian di rumah kami. Asalnya hanya dari satu suara, sih. Saya. Sementara suara lain hanya berbunyi, “yes, Bunda,” atau “sudah, Bunda.” Hahaha!

Awalnya saya berpikir keributan ini hanya terjadi di rumah kami. Ternyata setelah berbincang dengan beberapa sahabat, sama juga hebohnya. Phew! Berarti saya tidak sendiri. Lega.

Bukan tidak pernah saya mengajukan keberatan karena harus berubah bak sebuah kaset rusak setiap pagi. Ya, setiap pagi. Beberapa cara pun pernah saya lakukan. Membuat jadwal harian mulai dari yang sederhana hingga berbagai bentuk dan gaya agar menarik. Tentu saja setiap saat harus berubah demi menyesuaikan jadwal dan usia anak-anak.

Kadang saya juga harus menahan diri setengah mati dengan tujuan untuk mendidik. Saya biarkan mereka gedubrakan karena terlambat bangun, hingga beberapa keperluan sekolahnya tertinggal. Ya, saya pun pernah juga begitu. Walaupun sebagai ibu dengan didikan disiplin tingkat tinggi di masa sekolah, ini adalah satu hal yang sangat menyiksa. Iya, tersiksa rasanya melihat ketidakaturan dan ketidaksiapan di depan mata.

Namun anak-anak harus belajar dari kesalahan. Sementara saya harus belajar untuk sedikit menutup mata dan mengurangi kebiasaan “serba harus dan tidak boleh salah”.

Saya tahu, mereka sebenarnya paham apa yang harus dilakukan. Mungkin mereka hanya terlalu suka dan selalu rindu mendengar suara nyanyian sang ibu yang berulang seumur hidup. Hingga melambatkan diri setiap pagi adalah salah satu cara untuk tetap menghidupkan bunyi sang kaset rusak.

Meski tiap pagi “bernyanyi” saya tidak marah. Saya tahu suatu hari nanti mereka akan rindu, seperti saya yang kerap merindukan kebawelan mama saat ini. Oleh karena itu setelah puas merepet bak petasan banting, saya tetap memeluk dan selalu mencium mereka dengan penuh cinta di depan pintu. Sambil mendoakan dalam hati agar Yang Kuasa melindungi mereka selama di luar rumah.

Toh setelah semua pergi, rumah jadi sepi. Saya bisa dengan tenang menyeruput secangkir kopi hangat sambil menonton acara televisi.

“Abaaang! Dah sholat belum? Cepat lah! Dah almost shuruk!”

Lamat saya dengar tetangga sebelah rumah yang dapurnya bersebelahan, sedang “bernyanyi” merdu pada sang putra yang berusia 40. Hahaha!

Motherhood … where silence is no longer golden.

Love, Rere.

FOKUS


FOKUS

Pagi tadi Rayyan memberikan hasil ujian pelajaran Bahasa Melayunya pada saya dengan sedikit ragu. Saya tahu, pasti ada sesuatu.

Minggu lalu memang anak-anak Sekolah Dasar di Singapura baru melaksanakan ujian tengah semester. Rayyan dengan percaya dirinya selalu bilang, “so easy. I can do it, Bunda,” setiap kali saya bertanya bagaimana ujiannya, sepulangnya dari sekolah.

Benar saja. Nilai ujian Bahasa Melayunya rendah sekali bahkan berbuah catatan dari sang guru yang menegurnya agar lebih fokus mengerjakan soal. Saya pun mengajaknya bicara pagi tadi.

“Do you understand this note from your teacher?’
“No I don’t,
Bunda.”
Lah? Read please.”
“But …”
“Just read. We will discuss about it.”

Dengan terbata-bata Rayyan membaca tulisan bertinta merah yang tertera di kertas ujiannya itu.

“What’s menggencewakhan, Bunda?”
“Mengecewakan. Meaning your cikgu is dissapointed at you because you took this exam lightly and didn’t focus on your paper.”
“But I didn’t take this lightly. I just don’t understand,
Bunda. I’m sorry.”
“I understand that you struggle hard for this subject. It’s part of my mistakes too. But when you don’t understand something, you must work harder to understand more and we will work this thing out together, okay? But I want you to try harder too.”
“Okay,
Bunda. I’m sorry. But some of my friends got low marks too.”
Rayyan, please focus on yourself for now and don’t think about others. Understand?”
“Sorry,
Bunda.”

Saya dapat melihat penyesalan di wajahnya karena saya tahu ia memang bekerja keras untuk menyelesaikan semua ujiannya minggu lalu. Nilai matematikanya bahkan naik dan menjadi 3 besar peraih nilai tertinggi di kelasnya. Saya merasa ikut bersalah karena tidak membiasakannya lebih sering berbicara dalam bahasa Melayu di rumah.

Lha saya sendiri bahkan sang ayah yang asli Melayu juga bingung, kok.

Saya menekankan padanya untuk fokus memperbaiki diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Anggap saja catatan dari sang guru adalah teguran pada kami berdua untuk lebih giat dan tekun belajar sesuatu yang tidak kami kuasai dengan baik.

Setelah berdiskusi dengan mata berkaca-kaca ia memeluk saya lalu meminta maaf karena merasa mengecewakan saya dan gurunya di sekolah. Saya memeluknya sekaligus mengatakan betapa bangga melihatnya banyak berubah. Ia sekarang lebih rajin, lebih teratur hingga isi tasnya pun tersusun rapi tidak lagi amburadul seperti sebelumnya. Saya juga senang ia bahagia pergi ke sekolah bahkan menganggap pelajaran matematika sebagai sesuatu yang menyenangkan. Yayy!

Ingat ya, Nak. Fokus saja sama dirimu sendiri dulu, tak perlu sibuk dengan apa adanya orang lain. Habiskan saja waktu untuk selalu memperbaiki diri sendiri. Ini saja seharusnya sudah cukup menyita waktu kita hingga akhir masa nanti.

Diskusi pagi kami pun ditutup dengan pelukan hangat dan kata cinta seperti biasa. Saya tahu ia sangat menyesal. Saya memintanya menemui sang guru untuk mengatakan penyesalannya sekaligus berjanji untuk memperbaiki diri dan lebih berkonsentrasi di kelas.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Rayyan.”

Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.

Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, are you packing us food or do we buy at the canteen?”

Pagi tadi Lana menemui saya di dapur ketika sedang membungkuskan bekal untuknya dan sang kakak. Seharusnya Kamis adalah hari jatah mereka jajan di kantin sekolah. Namun kemarin ternyata mereka harus pulang lebih awal karena kakak-kakak kelasnya akan menghadapi ujian tengah semester. Karena itu mereka jadi tidak bisa jajan di kantin sekolah.

“You can buy food Nak, but I will still pack you some. Okay?”
“Okay,
Bunda. Thank you.”

Seharusnya saya bisa saja menyuruh mereka jajan hingga tidak perlu sibuk menyiapkan ini itu di pagi buta. Belum lagi harus berpikir akan membuat apa.

Saya bukan hanya sedang mengajarkan anak-anak untuk berhemat dan menabung uang jajan mingguannya. Saya sedang mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang di setiap lembar roti atau apapun yang saya buat untuk mereka.

Meski kadang hanya berbentuk bekal sederhana, saya ingin mereka mengingat sang bunda di setiap detik kehidupan yang terlewati.

Beruntung kami dikaruniai putra putri yang manis dan hampir tidak pernah mengeluh. Semua bekal makanan yang saya buat untuk mereka selalu dihabiskan dengan gembira.

Tentu saja selain berusaha menyajikan makanan yang sehat, saya juga harus memahami apa saja yang mereka suka maupun tidak. Saya tidak pernah memaksa mereka makan apapun yang tidak disukai. Encouraging ya, tapi pemaksaan tidak. Saya ingin mereka makan dengan bahagia bukan terpaksa.

Sambil duduk menikmati pagi yang indah bersama secangkir kopi hangat, saya membuka deretan gambar bekal makanan yang pernah saya sajikan untuk suami dan anak-anak. Penuh cinta dan rasa sayang yang luar biasa besarnya.

Pesan saya untukmu para bunda, penuhi dan isi setiap detik kehidupan pasangan dan buah hati dengan sentuhan tanganmu sendiri. Percayalah, you will always gain by giving love. Mereka akan membawa cinta itu kemana pun mereka berada. Dengan namamu tersemat indah di dalamnya. Love is You … Bunda.

Love, Rere.

Belajar Dari Rayyan


Belajar Dari Rayyan

Ting Tong!

He? Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah? Waduh! Saya belum lagi mandi, dan baru saja menyeduh secangkir kopi. Bergegas saya menuju pintu rumah dan melihat dari lubang intip.

Lah! Si Rayyan?

“What’s wrong, Rayyan? Did you forget something?”
Bundaaa! I forgot my mask! I was almost reached the school gate when I realized I didn’t put on my mask.”
“Oalah! Hold on, I take your mask.”
“Thank you,
Bunda.”
“There you go. Be careful. Just go down by the lift,
Nak.”
“I’ll go down by the stairs,
Bunda. So sorry for this.”
“No problem. Take care!”
“I love you,
Bunda. Assalamualaikum.”
“Love you more!
Waalaikumussalaam.”

Lamat saya masih mendengarnya berteriak menyatakan penyesalan dan cintanya, sambil menuruni anak tangga, sesaat setelah saya menutup pintu.

Apartemen kami berada di lantai 5, dan anak-anak selalu turun naik menggunakan tangga tanpa pernah mau naik lift yang letaknya persis di samping rumah. Kami memang mengajarkan mereka untuk rajin menggunakan tangga di mana pun berada. Anggap saja olahraga.

Saya pun mengawasi Rayyan dari jendela rumah sampai ia selamat menyeberang lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke gerbang sekolah. Beruntungnya kami, sekolah dasar anak-anak hanya terpisah 1 blok saja dari bangunan apartemen rumah.

Ah Rayyan … seandainya semua orang belajar disiplin darimu. Si bungsu yang baru berusia 9 tahun. Demi menjaga diri dan lingkungannya, ia sampai rela harus turun naik tangga dari lantai 1 ke lantai 5 mengambil masker penutup mulutnya yang tertinggal di rumah. Padahal di sekolah ia juga harus turun naik dari lantai 3 ruang kelasnya ke lantai 1, atau lantai 2 untuk mengikuti serangkaian kelas.

Semoga tetap semangat dan bahagia ya Nak. Tidak perlu meminta maaf karena sudah menerapkan disiplin dengan baik, dan melakukan sesuatu yang benar. Padahal bisa saja ia tidak peduli dan tinggal bilang lupa. I’m so proud of you big boy!

Semoga banyak manusia ikut belajar dari Rayyan.

Love, R

Selamat Berjuang, Nak!


Selamat Berjuang, Nak!

“How’s school, Lana?”
“It was okay,
Bunda.”
“Are you okay wearing face mask during lesson?”
“I’m okay.”
“Can you breathe easily?”
“Kinda dizzy a bit but no problem.”
“Huh? You must inform your teacher if you feel uncomfortable,
Nak.”
“It’s okay,
Bunda. It’s only for a while. After that I’m fine.”

Hhhh … sesak dada rasanya melihat ketiga anak saya dan seluruh murid di Singapura kembali ke sekolah. Ya, sejak mulai diberlakukannya Fase 2 di awal Juni kemarin, mereka memang mulai bergantian kembali belajar di dalam kelas. Tentu saja dengan sederet aturan yang harus dipatuhi tanpa kecuali.

Setelah minggu kemarin dua putri saya masuk sekolah sementara si bungsu mengerjakan tugas di rumah, minggu ini giliran Rayyan yang masuk sekolah dan sang kakak mengerjakan tugas sekolah dari rumah.

Saya sedikit khawatir memang pada kondisi Lana yang pernah menderita asma. Ia juga mudah sekali mimisan ketika suhu tubuhnya naik. Namun saya hanya mengingatkannya untuk berkomunikasi dengan sang guru ketika ia mulai merasa tidak enak badan. Bangganya saya ketika melihatnya begitu tabah dan tanpa keluh kesah menuruti peraturan sekolah.

Begitu pula dengan si bungsu Rayyan, yang begitu bersemangat mengawali pagi. Tak nampak raut wajah khawatir atau segan setelah sekian lama hanya di rumah saja. Sejak hari Senin kemarin, ia harus kembali ke sekolah dan memulai segala sesuatu dengan hal baru.

Ia juga harus belajar beradaptasi dengan masker yang terpakai sepanjang hari, serta berjuang untuk melalui semuanya tanpa kecuali.

“How’s school, Rayyan?”
“Oh my! It was so hot with my mask on,
Bunda.”
“But are you okay?”
“Yea, I’m fine. Teacher asked us to wear PE attire to school so we don’t sweat too much.”
“I know you can do it and able to adapt to the new normal. Right?”
“Yea. I’m fine. I look cool with my mask on anyway.”
“Ish! So vain!”

Hahaha! Mungkin hanya Rayyan yang kegirangan memakai masker wajah karena menurutnya ia tampak keren.

Alhamdulillah mendengar mereka tetap semangat, tidak banyak mengeluh, dan cepat beradaptasi dengan keadaan yang baru ini. So proud of you, kids!

Semoga perjuangan kalian di bangku sekolah dalam situasi tidak mengenakkan tahun ini, akan membentuk pribadi yang kuat dan tidak mudah mengeluh ketika dewasa kelak. Masih banyak tantangan di depan sana yang harus kalian perjuangkan bukan? Ini hanya sebagian kecil dari proses belajar hidup, Nak.

Welcome back to school and welcoming the new normal!

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda #Perjuangan

Welcoming The New Normal. Hang in there, Kids!

Getem-Getem


Getem-Getem

Getem-getem dalam bahasa Jawa adalah ekspresi menahan emosi sambil membeliakkan mata, serta mengatupkan gigi dan bibir. Biasanya paling sering dilakukan para ibu di pagi hari sejak anak-anak bangun pagi. Betul tidak?

Well, seperti biasa di rumah kami, semua anak wajib membereskan tempat tidur masing-masing, termasuk melipat selimut dengan rapi. Catat … dengan rapi. Saya mengajarkan mereka melipat sejak kecil. Awalnya dengan saling membantu kemudian belajar untuk mandiri, mengerjakannya sendiri.

Kisah ini terjadi ketika putra bungsu saya berusia 7 tahun. Pagi itu ia, yang memang agak dramatis, sambil menangis mengatakan 1 kata kunci yang really triggering my getem-getem.

“How to do this? I’m not good at this!”

Oh no! False alarm. Salah besar kalo membuat saya mendengar kalimat itu di pagi hari, hingga membuat saya getem-getem selama beberapa detik.

“What’s wrong, Rayyan?”

“I can’t fold the big blanket myself, Bunda. Can you help me? Because I’m not good at this.”

“Listen. Why do you think Allah gave us brain?”

“To think?”

“Yes. To think. To figure out things. To find a way to do things. I taught you on how to fold this. But since you told yourself that you are not good in this then your brain will do what your mouth is telling you, and forever you will not be good in anything. Is that what you want?”

“No, Bunda.”

“Try, be patient and don’t give up easily. Keep trying, whatever the result will be. At least you try before you cry. Tell yourself let me try before assuming that you are not good in anything. Say it!”

“Let me try.”

“Again. 3 times.”

“Let me try. Let me try. Let me try.”

“Now try.”

“Okay.”

After a while, “Bundaaaa, look!” ujarnya sambil menunjukkan selimut hasil lipatannya.


“Smart boy. You see? I know you can do it!”

“Yeah. I was very cranky before but then I told myself that I can do it and that I have to try and try. So there it goes. Is it neat and tidy, Bunda?”


“Yes it is. It’s super neat! You see? You just have to try. Be patient, and don’t give up easily. You know you can do it and whatever the result is, be proud because you do it yourself. That’s the most important thing. Understand?”


Yes Bunda. Thank you for teaching me everything. I love you.”


“I love you more Sayang.”

Ia pun memeluk saya seraya mengucapkan terima kasih karena suntikan semangat yang saya beri, walau diawali dengan getem-getem tadi.


By the way, selimut yang dipakai Rayyan berukuran besar yaitu queen size. Bukan selimut kecil yang bisa dengan mudah dilipat oleh bocah 7 tahun setinggi 120 cm ya. Jadi saya sangat bangga padanya.

Moms, mengajarkan positive attitude kepada anak-anak memang bukan hal yang mudah. Apalagi ketika sekeliling mereka penuh dengan orang-orang dewasa dengan negativities. Tapi kita lah ibunya. Kita yang pegang peranan bagaimana menentukan tumbuh kembang mereka. Tinggal masalah berdamai dengan emosi saja yang kadang muncul karena beberapa sebab. Ya, seperti getem-getem itu, yang bagi saya adalah salah satu cara menahan emosi.

It’s not easy yet nothing is impossible. Have a great day ahead!

Love, R

#RumahMediaGrup #ChallengeMenulis #WCR #SecangkirKopiHangatEmak #ReReynilda

Movie Night


Movie Night

Ayah, can we have a movie night today and everybody sleep together in the living room?”
“Okay
Rayyan. Guys, we’re gonna sleep outside tonight.”
“Nooooo! I don’t want
Ayah.”
“Why?”
“I just don’t want.”
Bundaaaaaaaa! The girls don’t want to sleep outside tonight!”


Satu hari dalam seminggu biasanya kami sekeluarga memiliki jatah movie night. Memutar film di ruang tamu hingga dini hari, dan menggelar alas untuk tidur berlima di lantai. Ya, di lantai ruang tamu dengan alas seadanya.

Setelah beberapa lama, kegiatan ini tidak kami lakukan, hingga kemarin Rayyan si bungsu pun mengajak sang ayah dan kedua kakaknya untuk menggelar movie night lagi.

Sayangnya ide ini serta merta ditolak oleh kedua putri saya, hingga sang ayah mengadu dan mengatakan idenya dihempas tanpa ampun. Kemudian saya memanggil Lana dan Lara bergantian.

Adik, do you want to have a movie night tonight?”
“Okay,
Bunda.”
“We sleep together in the living room okay?”
“Okay!”
Kakaakkk, how about you?”
“Okay
Bunda.”

“Haaaaa? Why so easy? Why you give her different answer? You said you didn’t want to sleep outside just now?” Tanya sang ayah yang idenya ditolak mentah-mentah beberapa menit sebelumnya.

Ayah, that’s the importance of communicating effectively.” Jawab saya dengan senyum sumringah tanda kemenangan.

Kalau saja saya mengajak mereka untuk sekedar tidur bersama di lantai ruang tamu yang tidak nyaman, pasti ide ini juga akan ditolak mentah-mentah. Jadi, saya menggunakan ajakan persuasif yang seru seperti menggelar movie night untuk mengajak mereka, dan langsung diterima tanpa banyak protes. Padahal intinya sama-sama ajakan untuk tidur berlima di lantai ruang tamu.

Well, what can I say? Motheeerrrr knows best!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak