SEX Education


SEX Education

Bunda, can you sign this consent paper?”
“Okay. Let me see.”

Di hadapan saya terpampang 2 lembar kertas permohonan ijin untuk anak-anak mengikuti kelas pendidikan seks.

Sebelum membubuhkan tanda tangan, saya baca kata demi kata dengan seksama. Ini persoalan penting bagi saya. Sekolah pun tidak memaksa, karenanya memberikan 2 lembar surat ijin berisi pernyataan ya atau tidak.

Di lembar tidak memberikan ijin, saya membaca beberapa alasan yang harus diberikan para orang tua. Di antaranya ada religious reason. Keren. Berarti concern beberapa orang tua benar-benar diperhatikan. Tidak dipaksa, tidak perlu anjuran, semua betul-betul terserah orang tua.

Anak-anak sudah pernah mendapat pendidikan ini ketika di Sekolah Dasar dulu. Meskipun saya yakin, bagi mereka hanya angin lalu. Belum mengerti juga pasti tentang ini itu.

Sambil memegang sebuah pena, saya bertanya pada kedua putri saya yang sudah beranjak dewasa. Tentang bagaimana pandangan mereka soal pendidikan seks ini. Mata mereka terbelalak lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengatakan, mereka tidak tahu. Mungkin malu atau segan mendengar hal itu.

“Let me tell you something about being an adult …”

Lalu mulai lah saya bercerita kenapa seorang perempuan memiliki anugrah yang datang setiap bulan. Saya mengajak mereka ber-flashback, mengenang masa-masa ketika mereka kecil dulu. Saya, si pramugari yang tadinya hanya tahu shopping, having fun, dan jalan-jalan saja, mendadak harus berjibaku ketika memutuskan menjadi seorang ibu.

Mereka masih ingat bagaimana saya mengurus sendiri 3 buah hati di rumah, mengelola rumah tangga hanya berdua sang ayah, bahkan masih sempat menerima order makanan. Saya menceritakan pada mereka segala mimpi yang saya punya ketika remaja, dan mengapa baru di usia hampir 30 saya memutuskan untuk menikah. Tentu saja dengan resiko, harus mengakhiri karir saya yang begitu fancy dan menyenangkan.

Saya mengajak mereka membayangkan ketika harus mengandung dan mengurusi anak di usia belasan karena suatu “kecelakaan”. Saya juga memberitahu mereka bagaimana jalan pintas yang terpaksa ditempuh seorang remaja demi menghilangkan “benih” yang muncul karena sebuah kebodohan.

Kemudian saya bertanya tentang mimpi-mimpi mereka di masa depan, dan bagaimana mereka harus memiliki pengetahuan yang memadai demi mencapainya. Setelah yakin bahwa mereka mengerti jika masalah seks bukan lah sesuatu yang lucu jika salah pengertian, saya baru membubuhkan tanda tangan.

Di kolom bertuliskan setuju, dan memberi ijin pada mereka berdua untuk mengikuti kelas itu. Belajar dan kenal tanggung jawab ya, Nak. Tanggung jawab pada diri sendiri yang utama.

“In order to grow, you have to give it a go.”

Love, Rere

Compassion & Self Reflection


Compassion & Self Reflection

“You know what, Bunda? One day I will go up to our neighbour and tell them that they are very noisy.”
“You mean the neighbour upstairs?”
“Yes. They always make annoying sounds. Children running everywhere, footsteps, very noisy! I can’t sleep you know!”
“Halah! Before you do that, make sure you didn’t make our neighbour downstairs feel the same way, too. You are very annoying most of the time, you know? When you watch TV, you always jump around and stomp your feet. Don’t you think they feel the same way, too?”

Makcep!

Rayyan … Rayyan.

Inget ya, Nak. Kita ini memang paling mudah melihat cacat, cela, dan segala kekurangan orang lain.

Bak kuman yang begitu kecilnya di seberang lautan, namun bisa nampak … padahal ada gajah segede gaban di depan mata yang tak nampak.

Protes sesekali memang perlu, tak salah. Tapi sebelum melayangkannya pada orang lain, “dheloken jithokmu dhewe sek, cah bagus.” Lihat kekurangan diri sendiri dulu. Kita begitu enggak sama orang lain? Kalau iya, ya jangan protes ketika mendapat perlakuan yang sama dari orang lainnya.

Lha wong kamu sendiri yo gedubrakan tur pencilakan di rumah, sampai harus selalu diingetin buat duduk anteng, kok ndadak protes² barang.

“You have anything to say?”
“Mmm … no,
Bunda. I promise I won’t do that again … but I can still talk to our neighbour upstairs, right?”
“Hilih! Gayamu!”

If your compassion does not include yourself, buy a new mirror. (Rere)

Love Life, Rere

Being Brave


Being Brave

“Maaf, Cik, tengah cuci bilik toilet, kah? Baju saya jemur jadi basah semua.”

Kemarin seorang tetangga, dari lantai 3 bangunan apartemen kami, mengetuk pintu rumah. Ia ingin tahu apakah kami sedang membersihkan toilet sampai airnya keluar jendela, hingga membasahi deretan baju yang sedang dijemurnya.

Kami tinggal di lantai 5, dan jendela toilet menghadap tepat ke arah tempat kami semua biasa menggantung galah jemuran. Herannya, hari itu saya tidak sedang ngosrek toilet. Lagian saya tidak pernah membersihkan jendela dengan menyemprotkan banyak air. Biasanya hanya saya lap saja.

Setelah suami saya selidiki ternyata jendela toilet memang terbuka dan … basah! Jadi benar lah ada orang yang menyemprotkan air lewat jendela.

Hmmm … siapa pelakunya, ya?

Ya, siapa lagi kalau bukan Rayyan.

Rayyan … memang tak selalu manis. Ia kadang “teramat manis” sampai membuat kami semua kesal dan meringis. Menurut pengakuannya, ia iseng saja menyemprotkan air melalui jendela toilet ketika sedang BAB. Gustiiiii! 🤦🏻‍♀️ Ia tidak mengerti bahwa di luar sana ada deretan baju sedang dijemur.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, ia akhirnya turun ke lantai 3, dan menemui sang pemilik baju itu. Didampingi kedua kakaknya, ia meminta maaf karena tanpa sadar melakukan hal yang merugikan orang lain.

“I’m so sorry, it was ME who sprayed the water through our toilet window. I didn’t realize that I’d wet your clothes. I’m so sorry.”
“Well, though I have to wash my clothes again, but it’s okay. Thanks for telling me this.”
“I won’t do it again. I’m sorry.”

Kami sedang mengajarkan Rayyan artinya berani. Bukan sekedar berani menghadapi kesulitan, namun juga berani mengakui kesalahan, dan berani meminta maaf. Hal mendasar dalam pendidikan di rumah, yang saya dan suami tekankan sejak mereka kecil.

Jangan segan meminta maaf dan mengakui kesalahan. Be humble and have courage.

Well, begini lah romantikanya tinggal di rumah susun. Meskipun saya tidak mengenal tetangga atas maupun bawah, saya bahkan selalu mengingatkan anak-anak untuk menjaga sikap. Misalnya dengan tidak berjalan kaki di dalam rumah bak gajah dengan bobot yang berat, atau terlalu ribut hingga membuat tetangga di sekitar pusing kepala.

Apalagi jika membuat mereka harus mencuci ulang baju yang basah kuyup karena ulah iseng Rayyan ini, contohnya.

“I’m sorry, Bunda. I’m sorry, Ayah.”
“Do 10 times push up!”
“Haaa? But … but ….”
“No buts!”

Love Life,
Rere

To My Children


To My Children

Happy Children’s Day, Nak!

Bertumbuh lah dengan riang dan bahagia
Bersahabat lah dengan dunia serta isinya
Mencintai sesama tanpa sekat
Mengulurkan tangan tanpa melihat

Belajar lah tentang kehidupan
Punyai setumpuk rasa penasaran
Agar kelak tak salah jalan
Agar kelak tak sekedar ikut haluan

Buka mata dan jangan tutup telinga
Semua hal butuh ilmu dan luasnya pengetahuan
Jangan menyerah jika kelak tak sejalan impian
Karena hidup sejatinya tentang perjuangan

Disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian
Bawa selalu dalam ingatan
Hanya itu bekalku untukmu ke depan
Karena kelak akan kau temui banyak tantangan

Jadi lah pemimpin bukan pemimpi
Berdiri lah di depan bukan mengekor dari belakang
Banyak lah memberi bukan semata memikirkan diri
Ingat lah untuk selalu mengasihi bukan rajin mencaci

I will always be around
Stalking you
Flipping out on you
Lecturing you
Driving you insane
Being your worst nightmare
Even hunting you down like a bloodhound

To make you a responsible adult
Who will always stay humble and kind
Who will always say what you know and know what you say

Love, Bunda

The Future – Secangkir Kopi Hangat Emak


The Future – Secangkir Kopi Hangat Emak

Bunda, is it okay if I choose Design And Technology over Art?”
“Well I’m super okay if you think that’s the best for you.”
“My friends were like surprised, thinking that art is always be my passion.”
“Now tell me, why did you choose design over your passion of art?”
“I’m thinking about the future. I’ll let my passion become a hobby.”
“Good one,
Kak! Now, why do you need to think about the future?”
“I have to work, right?”
“Yes, and by working means you have to be independent. You can always pursue your dream and passion, it’ll come along with it. But your future depends on you decision now.”
“Thank you,
Bunda.”
“I know I can count on you to choose wisely.”

Berbicara tentang kegemaran, Lara adalah seorang seniman kecil. Ia pandai menulis lirik lagu, menulis cerita, memainkan instrumen musik, menggambar? Oh, ini sih sudah tidak diragukan.

Dulu ketika ditanya apa cita-citanya, ia akan dengan cepat bilang ingin jadi seniman, voice actress, animator, dan lain-lain. Kami menghargai keinginannya, sekaligus juga mengajaknya berdiskusi tentang masa depan.

Masa depan yang pastinya akan jauh lebih menantang dihadapi generasinya kelak. Masa depan yang tentunya harus dilalui dengan banyak bekal terutama of being independent.

Mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, mengurus diri sendiri, bertanggung jawab pada kehidupan sendiri, dan tentu saja tidak membebani orang lain. Malah kalau bisa menjadi berguna untuk membantu sesama. Mengajarkan orang lain untuk membuat kail tentunya, bukan hanya menyediakan seember penuh ikan.

Bangga saya padanya, ketika di usia 14 sudah mulai memikirkan tentang masa depan. Tanpa perlu saya berikan ketakutan lebih tentang hal itu, pada akhirnya ia sendiri yang paham bahwa passion berada di urutan setelah tanggung jawab.

“I can always do my hobby after I have a proper job in the future. I’m thinking of being an architect maybe?”

My baby.

… and I’m smiling from ear to ear,
Rere

Si Kaset Rusak (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Si Kaset Rusak
(Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Lara, sudah sholat belum?”
“Lana, sapu rumah, Nak.”
“Rayyan, make up your bed!”
“Ayo, cepat makan. It’s 6.30 already!”
“Don’t forget your masks”
“Botol, lunch box dah bawa?”
“Your keys, don’t forget!”
“Go home straight away.”

Bla … bla … bla.

Begitulah setiap pagi keramaian di rumah kami. Asalnya hanya dari satu suara, sih. Saya. Sementara suara lain hanya berbunyi, “yes, Bunda,” atau “sudah, Bunda.” Hahaha!

Awalnya saya berpikir keributan ini hanya terjadi di rumah kami. Ternyata setelah berbincang dengan beberapa sahabat, sama juga hebohnya. Phew! Berarti saya tidak sendiri. Lega.

Bukan tidak pernah saya mengajukan keberatan karena harus berubah bak sebuah kaset rusak setiap pagi. Ya, setiap pagi. Beberapa cara pun pernah saya lakukan. Membuat jadwal harian mulai dari yang sederhana hingga berbagai bentuk dan gaya agar menarik. Tentu saja setiap saat harus berubah demi menyesuaikan jadwal dan usia anak-anak.

Kadang saya juga harus menahan diri setengah mati dengan tujuan untuk mendidik. Saya biarkan mereka gedubrakan karena terlambat bangun, hingga beberapa keperluan sekolahnya tertinggal. Ya, saya pun pernah juga begitu. Walaupun sebagai ibu dengan didikan disiplin tingkat tinggi di masa sekolah, ini adalah satu hal yang sangat menyiksa. Iya, tersiksa rasanya melihat ketidakaturan dan ketidaksiapan di depan mata.

Namun anak-anak harus belajar dari kesalahan. Sementara saya harus belajar untuk sedikit menutup mata dan mengurangi kebiasaan “serba harus dan tidak boleh salah”.

Saya tahu, mereka sebenarnya paham apa yang harus dilakukan. Mungkin mereka hanya terlalu suka dan selalu rindu mendengar suara nyanyian sang ibu yang berulang seumur hidup. Hingga melambatkan diri setiap pagi adalah salah satu cara untuk tetap menghidupkan bunyi sang kaset rusak.

Meski tiap pagi “bernyanyi” saya tidak marah. Saya tahu suatu hari nanti mereka akan rindu, seperti saya yang kerap merindukan kebawelan mama saat ini. Oleh karena itu setelah puas merepet bak petasan banting, saya tetap memeluk dan selalu mencium mereka dengan penuh cinta di depan pintu. Sambil mendoakan dalam hati agar Yang Kuasa melindungi mereka selama di luar rumah.

Toh setelah semua pergi, rumah jadi sepi. Saya bisa dengan tenang menyeruput secangkir kopi hangat sambil menonton acara televisi.

“Abaaang! Dah sholat belum? Cepat lah! Dah almost shuruk!”

Lamat saya dengar tetangga sebelah rumah yang dapurnya bersebelahan, sedang “bernyanyi” merdu pada sang putra yang berusia 40. Hahaha!

Motherhood … where silence is no longer golden.

Love, Rere.

FOKUS


FOKUS

Pagi tadi Rayyan memberikan hasil ujian pelajaran Bahasa Melayunya pada saya dengan sedikit ragu. Saya tahu, pasti ada sesuatu.

Minggu lalu memang anak-anak Sekolah Dasar di Singapura baru melaksanakan ujian tengah semester. Rayyan dengan percaya dirinya selalu bilang, “so easy. I can do it, Bunda,” setiap kali saya bertanya bagaimana ujiannya, sepulangnya dari sekolah.

Benar saja. Nilai ujian Bahasa Melayunya rendah sekali bahkan berbuah catatan dari sang guru yang menegurnya agar lebih fokus mengerjakan soal. Saya pun mengajaknya bicara pagi tadi.

“Do you understand this note from your teacher?’
“No I don’t,
Bunda.”
Lah? Read please.”
“But …”
“Just read. We will discuss about it.”

Dengan terbata-bata Rayyan membaca tulisan bertinta merah yang tertera di kertas ujiannya itu.

“What’s menggencewakhan, Bunda?”
“Mengecewakan. Meaning your cikgu is dissapointed at you because you took this exam lightly and didn’t focus on your paper.”
“But I didn’t take this lightly. I just don’t understand,
Bunda. I’m sorry.”
“I understand that you struggle hard for this subject. It’s part of my mistakes too. But when you don’t understand something, you must work harder to understand more and we will work this thing out together, okay? But I want you to try harder too.”
“Okay,
Bunda. I’m sorry. But some of my friends got low marks too.”
Rayyan, please focus on yourself for now and don’t think about others. Understand?”
“Sorry,
Bunda.”

Saya dapat melihat penyesalan di wajahnya karena saya tahu ia memang bekerja keras untuk menyelesaikan semua ujiannya minggu lalu. Nilai matematikanya bahkan naik dan menjadi 3 besar peraih nilai tertinggi di kelasnya. Saya merasa ikut bersalah karena tidak membiasakannya lebih sering berbicara dalam bahasa Melayu di rumah.

Lha saya sendiri bahkan sang ayah yang asli Melayu juga bingung, kok.

Saya menekankan padanya untuk fokus memperbaiki diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Anggap saja catatan dari sang guru adalah teguran pada kami berdua untuk lebih giat dan tekun belajar sesuatu yang tidak kami kuasai dengan baik.

Setelah berdiskusi dengan mata berkaca-kaca ia memeluk saya lalu meminta maaf karena merasa mengecewakan saya dan gurunya di sekolah. Saya memeluknya sekaligus mengatakan betapa bangga melihatnya banyak berubah. Ia sekarang lebih rajin, lebih teratur hingga isi tasnya pun tersusun rapi tidak lagi amburadul seperti sebelumnya. Saya juga senang ia bahagia pergi ke sekolah bahkan menganggap pelajaran matematika sebagai sesuatu yang menyenangkan. Yayy!

Ingat ya, Nak. Fokus saja sama dirimu sendiri dulu, tak perlu sibuk dengan apa adanya orang lain. Habiskan saja waktu untuk selalu memperbaiki diri sendiri. Ini saja seharusnya sudah cukup menyita waktu kita hingga akhir masa nanti.

Diskusi pagi kami pun ditutup dengan pelukan hangat dan kata cinta seperti biasa. Saya tahu ia sangat menyesal. Saya memintanya menemui sang guru untuk mengatakan penyesalannya sekaligus berjanji untuk memperbaiki diri dan lebih berkonsentrasi di kelas.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Rayyan.”

Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.

Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, are you packing us food or do we buy at the canteen?”

Pagi tadi Lana menemui saya di dapur ketika sedang membungkuskan bekal untuknya dan sang kakak. Seharusnya Kamis adalah hari jatah mereka jajan di kantin sekolah. Namun kemarin ternyata mereka harus pulang lebih awal karena kakak-kakak kelasnya akan menghadapi ujian tengah semester. Karena itu mereka jadi tidak bisa jajan di kantin sekolah.

“You can buy food Nak, but I will still pack you some. Okay?”
“Okay,
Bunda. Thank you.”

Seharusnya saya bisa saja menyuruh mereka jajan hingga tidak perlu sibuk menyiapkan ini itu di pagi buta. Belum lagi harus berpikir akan membuat apa.

Saya bukan hanya sedang mengajarkan anak-anak untuk berhemat dan menabung uang jajan mingguannya. Saya sedang mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang di setiap lembar roti atau apapun yang saya buat untuk mereka.

Meski kadang hanya berbentuk bekal sederhana, saya ingin mereka mengingat sang bunda di setiap detik kehidupan yang terlewati.

Beruntung kami dikaruniai putra putri yang manis dan hampir tidak pernah mengeluh. Semua bekal makanan yang saya buat untuk mereka selalu dihabiskan dengan gembira.

Tentu saja selain berusaha menyajikan makanan yang sehat, saya juga harus memahami apa saja yang mereka suka maupun tidak. Saya tidak pernah memaksa mereka makan apapun yang tidak disukai. Encouraging ya, tapi pemaksaan tidak. Saya ingin mereka makan dengan bahagia bukan terpaksa.

Sambil duduk menikmati pagi yang indah bersama secangkir kopi hangat, saya membuka deretan gambar bekal makanan yang pernah saya sajikan untuk suami dan anak-anak. Penuh cinta dan rasa sayang yang luar biasa besarnya.

Pesan saya untukmu para bunda, penuhi dan isi setiap detik kehidupan pasangan dan buah hati dengan sentuhan tanganmu sendiri. Percayalah, you will always gain by giving love. Mereka akan membawa cinta itu kemana pun mereka berada. Dengan namamu tersemat indah di dalamnya. Love is You … Bunda.

Love, Rere.

Belajar Dari Rayyan


Belajar Dari Rayyan

Ting Tong!

He? Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah? Waduh! Saya belum lagi mandi, dan baru saja menyeduh secangkir kopi. Bergegas saya menuju pintu rumah dan melihat dari lubang intip.

Lah! Si Rayyan?

“What’s wrong, Rayyan? Did you forget something?”
Bundaaa! I forgot my mask! I was almost reached the school gate when I realized I didn’t put on my mask.”
“Oalah! Hold on, I take your mask.”
“Thank you,
Bunda.”
“There you go. Be careful. Just go down by the lift,
Nak.”
“I’ll go down by the stairs,
Bunda. So sorry for this.”
“No problem. Take care!”
“I love you,
Bunda. Assalamualaikum.”
“Love you more!
Waalaikumussalaam.”

Lamat saya masih mendengarnya berteriak menyatakan penyesalan dan cintanya, sambil menuruni anak tangga, sesaat setelah saya menutup pintu.

Apartemen kami berada di lantai 5, dan anak-anak selalu turun naik menggunakan tangga tanpa pernah mau naik lift yang letaknya persis di samping rumah. Kami memang mengajarkan mereka untuk rajin menggunakan tangga di mana pun berada. Anggap saja olahraga.

Saya pun mengawasi Rayyan dari jendela rumah sampai ia selamat menyeberang lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke gerbang sekolah. Beruntungnya kami, sekolah dasar anak-anak hanya terpisah 1 blok saja dari bangunan apartemen rumah.

Ah Rayyan … seandainya semua orang belajar disiplin darimu. Si bungsu yang baru berusia 9 tahun. Demi menjaga diri dan lingkungannya, ia sampai rela harus turun naik tangga dari lantai 1 ke lantai 5 mengambil masker penutup mulutnya yang tertinggal di rumah. Padahal di sekolah ia juga harus turun naik dari lantai 3 ruang kelasnya ke lantai 1, atau lantai 2 untuk mengikuti serangkaian kelas.

Semoga tetap semangat dan bahagia ya Nak. Tidak perlu meminta maaf karena sudah menerapkan disiplin dengan baik, dan melakukan sesuatu yang benar. Padahal bisa saja ia tidak peduli dan tinggal bilang lupa. I’m so proud of you big boy!

Semoga banyak manusia ikut belajar dari Rayyan.

Love, R