Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?


Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?

Perantau seperti saya dan beberapa teman, memang harus rela berkorban. Dengan atau tanpa adanya pandemi, kami kadang harus rela berjauhan diri. Dengan keluarga dan kampung sendiri.

Menjalani puasa dengan keterbatasan, bahkan lebaran kali ini tidak bisa mudik seperti biasa. Yah, apa mau dikata? Lebih baik menurut aturan saja.

Lebaran yang dinanti-nanti karena ingin saling mengucap maaf atas khilaf diri. Setahun hanya sekali. Itupun tidak bisa juga kali ini.

Jangan sedih ya, Eyang. Kita masih bisa bertatap muka melalui layar untuk mengatakan sayang. Nanti kalau situasi sudah reda, kami siap berlayar. Untuk mencium tanganmu dan meminta restu demi menjalani kehidupan dengan tegar.

Susah, Eyang.

Susah hati berjauhan seperti ini. Begitu lama rasanya menanti, untuk bisa berkumpul kembali. Karena sejak kuliah sudah memilih pergi, hingga berkeluarga kita tetap tak bisa berdekatan setiap hari.

Duhai ayah bunda, ampunkan ananda tak dapat beraya bersama. Jauh dari mata dekat dalam jiwa, teduh kasihku tidak berubah.

Berbahagia jika kalian selalu bisa berdekatan. Dengan orang tua di kampung halaman. Karena rasanya sangat berbeda kala berjauhan.

Sayangi mereka, hormati senantiasa. Karena padanya ada keberkahan yang akan selalu terbawa. Percayalah, hidup ini akan hampa tanpa doa dan restu mereka.

Sayu, hati ini makin sayu. Rindu, padamu dan rumah sederhanamu … selalu.

Taqobalallahu minna wa minkum.
Selamat merayakan kebahagiaan bersama keluarga tercinta … di rumah saja.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #ReReynilda

Negosiasi


Negosiasi

Bulan suci ramadan sudah memasuki hari ke tujuh belas. Para perantau dibuat galau oleh pemerintah, karena dilarang mudik. Aku merasakannya.

Rasa galau juga menghampiri hati asisten rumah tangga yang bekerja denganku. Dia kekeh ingin mudik. Aku menyayangkan atas kegigihannya ingin mudik ditengah pandemi. Segala bujuk rayu serta info-info tentang berita terupdate juga tak menyurutkan niatnya.

Bukan hanya aku yang membujuk Sela. Suamiku pun ikut membujuk dia agar tak mudik. Karena kalau dia nekat mudik dan di tengah jalan disuruh kembali ke asal, kami tak dapat menerimanya kembali. Dia sudah keluar dari rumah ini, dan kita tak tahu apa dia membawa virus atau tidak.

“Jadi gimana, La?” tanyaku.

Dia membisu tak menjawab pertanyaanku. Hanya menunduk sambil memilin ujung jilbab. Aku menengok ke arah suamiku yang sedang bermain dengan kembar, lalu mengembuskan napas pelan.

“Begini aja, La. Jangan mudik dulu selama masih pandemi, dan sebagai gantinya … Ibu kasih bonus, THR dan gaji dikasih double. Biar kamu bisa transfer ke keluarga, jadi kamu tenang dan keluargamu juga tenang.”

“Nggeh, Bu. Aku mau. Emak sama Bapak di kampung juga melarang aku pulang kamping. Karena pintu desa ditutup semua,” tuturnya masih dengan wajah sedih serta mata berkaca-kaca.

Alhamdulillah. Negosiasi berjalan dengan lancar. Aku bisa bernapas lega. Sedih jika harus kehilangan asisten yang begitu bagus kinerjanya. Disamping itu, si kembar juga lengket banget sama Sela. Terima kasih Sela karena sudah mengikuti anjuran pemerintah.

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #deesarahma #wcr #mudik

“Assalamualaikum, Eyang!”


“Assalamualaikum, Eyang!”

8 Juni 2018

“Jadi pulang enggak, Nak?”
“Mmmm … belum cari tiket Ma. Nanti dikabari ya.”
“Sekolah anak-anak sudah libur kan?”
“Iya. Tapi … mmmm … tiket mahal-mahal nih.”
“Ya sudah nanti kasih tau ya.”
“Okay Ma.”

12 Juni 2018

“Enggak jadi mudik ya Nak?”
“Doain ya Pa. Mmmm … masih liat tiket.”
“Ya sudah, nanti Papa jemput kalo jadi mudik.”
“Okay Boss!”

13 Juni 2018

“Yah, enggak jadi dateng ya Nak?”
“Nanti dikabari Ma. Doain ya. Lagi liat tiket.”
“Iya Nak. Sudah lama enggak mudik kan Lebaran ya.”
“Sepuluh tahun Ma.”
“Makanya. Semoga dapat ya tiketnya.”
“Mmmm … iya Ma. Doain lancar ya.”

14 Juni 2018 (Pagi)

“Ma, nanti malam ada paket datang. Tungguin ya.”
“Paket apa Nak?”
“Buat buka puasa.”
“Okay Nak. Terima kasih. Tiket gimana?”
“Masih liat-liat nih.”
Yawes.”

14 Juni 2018 (Waktu Magrib)

“Nak, paketnya sudah datang. Alhamdulillah. Enak banget! Terima kasih ya Nak. Kamu lagi apa?”


“Assalamualaikuuummmm! Eyaaaangggg!”

“Eh, Qishan kok kayak denger suara Abang Rayyan ya Eyang?”
“Bukan lah! Abang Rayyan kan di Singapura. Itu ada tamu, Pah coba liat itu siapa?”

Di depan pintu rumah, papa berdiri mematung dengan mulut terbuka dan wajah pucat pasi. Airmata mengalir dari kedua matanya yang mulai berkeriput.

“Ya Allah! Maaaaa! Sini cepat!”

“Assalamualaikum Eyang. Paket ke-dua nya dataaang!” Teriak saya dari gerbang rumah.

Tergopoh-gopoh mama saya keluar dari dalam rumah kemudian menangis bahagia. Sementara papa saya berdiri dengan gemetar.

“Lutut papa kayak mau copot! Dasar anak ini!”

Hahaha! Peace, Pa! Saya memeluknya sambil meminta maaf karena sudah berbohong dan tidak memberitahu seisi rumah bahwa saya dan anak-anak akan mudik di malam lebaran. Tapi kan saya jujur lho waktu bilang sedang lihat-lihat tiket. Saya memang sedang melihat tiket keberangkatan di tangan saya. Jadi enggak bohong kan? Hahaha!

Mudik Lebaran 2 tahun yang lalu membawa kesan bahagia hingga hari ini. Saya memang suka memberi kejutan kepada orangtua tercinta. Ini bukan yang pertama kali. Hahaha. Saya memang putri mereka yang nakal.

Sepuluh kali lebaran berlalu sebelum malam itu, saya lewati tanpa kesempatan bersimpuh di kaki mereka berdua. Hampa rasanya hidup. Terlebih lagi di awal masa saya menetap di negara ini. Sedih rasanya waktu itu, karena seringkali Lebaran bahkan saya lalui sendiri ketika suami harus bekerja. Sedihnya tahun ini kembali kami harus berjauhan karena wabah yang menyerang. Apa daya situasi mengharuskan kami hanya mampu saling melihat layar untuk mengucap sayang.

Sepuluh kali yang rasanya hampa itu akhirnya terobati ketika malam lebaran di tahun 2018 lalu, kami berhasil memberikan kejutan manis untuk para eyang di rumah.

“Ma … Pa! Paket makanannya datang nih plus serombongan pemudik dari negeri seberang!”

You don’t miss you water until the well runs dry. Cherish every moments and every person in your life. (Rere)

Love, R

#WCR #rumahmediagrup #tantanganmenulis #mudik

Mudik (End)


Mudik (End) “Ayah, did you clean the house? Did you sweep the floor everyday?” “Mmmm … I mop the floor this morning, you know.” “Yea. After 4 weeks.” “Oh my God, Bunda … we need to work hard.” Demikian Lana membelalakkan mata dan menepuk dahinya, ketika semalam kembali bertemu sang Ayah. Setelah mudik selama hampir […]

Mudik – Packing And Unpacking


Mudik – Packing And Unpacking Libur telah usai. Hore … hore … hore! Not. Waktunya kami kembali ke aktifitas harian masing-masing. Para bocah akan kembali menjadi murid sekolah dasar dan menengah. Saya, kembali melaksanakan fungsi sebagai ibu rumah tangga, setelah hampir 4 minggu absen dan hanya menghabiskan hari dengan bersenang-senang. Melakukan perjalanan lintas negara sudah […]

Jatiluhur Tempat Libur


Jatiluhur Tempat Libur I love the blue and green of Indonesia. Melihat lokasi ini waktu menyusuri sekitar waduk Jatiluhur menggunakan boat kemarin, dan saya tertegun. This is so beautiful! Serasa berada di sebuah tempat indah di Eropa ketika musim dingin datang. Ini Indonesia, lho. Tepatnya di Purwakarta, Jawa Barat. Saya juga jadi ingat keluarga para […]

Mudik – Day 5 (Learn Relearn)


Mudik – Day 5 (Learn Relearn)

Mudik, menjadi kesempatan saya untuk charging tubuh dan kepala. Ibarat gawai yang sudah low batt dan butuh diisi kembali untuk bisa beroperasi dengan baik. Begitulah rasanya diri ini yang butuh sekali shutting down sebentar untuk kemudian terisi kembali dan keluar dengan kesegaran lebih.

Saya bahkan sempat mengalami kesulitan untuk menulis ketika berada di rumah Eyang selama mudik ini. Rasanya begitu sulit menuangkan ide maupun rasa ke dalam deretan aksara. Butuh extra effort dan sruputan secangkir kopi hitam buatan Eyang Mama. Kopi hitam berampas khas adukan Eyang Mama yang tidak pernah berhasil saya duplikasi. Mungkin cinta dalam setiap adukannya yang tidak pernah berhasil saya tuangkan.

Anyways, saya juga tidak mau totally mengistirahatkan kepala selama mudik. Saya tetap butuh melakukan sesuatu, dan tetap butuh menuangkan ide di antara kesibukan saya bertemu para sahabat serta menikmati libur panjang. Pilihan saya jatuh pada mengenalkan hobi untuk keponakan perempuan yang paling besar.

Saya mengenalkannya pada tehnik wire weaving dan uv resin yang akhir-akhir ini menjadi hobi saya di rumah dan akan menjadi kegiatan baru saya.

“Nanti kalau Caca sudah pintar, bisa bikin sendiri dan jadi sumber penghasilan. Jual saja pada teman-temanmu di sekolah. Seru, kan?” ujar saya padanya.

Akhirnya saya mengajarkan beberapa tehnik dasar memintal kawat, membuat gantungan kunci dari resin, dan membuat gelang persahabatan yang sedang hits. Ia menyerap semua pelajaran dengan baik dan cepat.

Binar matanya begitu membahagiakan. Mungkin ia juga butuh constructive outlets sebagai penyeimbang kesibukannya di sekolah menjelang ujian akhir semester. Sementara saya, butuh kegiatan untuk melemaskan jemari dan lengan yang sudah mulai terlena kemalasan sebagai efek mudik.

Bagaimana tidak malas, jika setiap pagi dan belum lagi gosok gigi, sudah ada seorang Ibu yang sibuk di dapur kemudian menghampiri seraya berkata, “Kopimu, Nak.”

How I love mudik!

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

Mudik – Day 2


Mudik – Day 2 “Anterin gue ke Asemka, yuk.” “Asemka aja?” “Iya.” “Okay.” Hari kedua kedatangan saya di Jakarta dan seorang sahabat bersedia membawa saya mengunjungi sentra bahan baku asesoris yang cukup terkenal. Asemka. Rencananya saya hanya akan mengunjungi satu toko saja di sana. Kelihatannya toko itu sangat lengkap dan saya bisa menemukan semua yang […]

Mudik – Day 1


Mudik – Day 1 “Nak, kamu mau makan apa? Mama mau masak, nih.” “Nggak usah, Ma. Aku mau jajan.” — Sate Padang menjadi kuliner awal mudik yang saya nikmati di rumah. Makanan kesukaan saya yang dibelikan Papa di gerobak dorong abang-abang dekat rumah. Jangan tanya rasanya. Maknyusss! Apalagi setelah lebih dari 4 jam saya berada […]

Mudik – Selamat Makan, Suami! (1)


Mudik – Selamat Makan, Suami! (1) Libur telah tiba … libur telah tiba … hore … hore … hore! Akhir tahun jadwal libur sekolah berarti jadwal saya mudik ke rumah Eyang. Berarti jadwal saya juga beristirahat dari rutinitas rumah tangga. Rutinitas yang sebenarnya sudah tidak terlalu menghabiskan waktu karena anak-anak yang beranjak besar dan sangat […]