Bibi TitiTeliti


Bibi TitiTeliti

Bagi saya, tidak ada satu pun hal yang tidak penting. Semua penting, dan harus diperhatikan dengan teliti.

Memang saya jadi terkesan cerewet dan bawelnya “ndak lumrah“. Hanya karena menolak anggapan, ahhh … gitu aja serius amat.

Tak kurang satu dua sahabat atau keluarga yang bahkan segan membantu saya mengerjakan sesuatu. Takut saya marahi ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Tentu saja ekspektasi saya sendiri. Hihihi!

Bahkan ini juga yang menyebabkan saya tidak mau memakai jasa seorang part timer untuk membantu membersihkan rumah. Setelah dulu pernah kapok melihat hasil kerjanya yang akhirnya saya ulangi demi mendapat hasil yang saya maui.

Seremeh pekerjaan menjemur baju pun bisa jadi akan saya ulangi jika mata ini berbulu melihatnya tidak tertata rapi. Begitu akhirnya saya melatih anak-anak di rumah untuk melakukannya dengan teliti. Searah, sekelompok, dan tentunya tidak berkerut seperti wajah yang merengut.

Hal yang nampak sepele, seperti membungkus peralatan makan plastik untuk pesanan esok pun, saya lakukan dengan sepenuh hati. Berapa pun jumlahnya.

Mungkin karena saya orang yang melihat sesuatu dari pandangan pertama. First impression must be impressed. Bukan untuk menghakimi, hanya semata menikmati karunia penglihatan dari Sang Illahi.

Sendok garpunya jadi cakep kan, Cint? 😉

Namun apakah saya selalu seteliti ini? Enggak juga. Beberapa kali saya pernah melakukan kecerobohan, walau sangat jarang. Salah satu kisahnya akan saya ceritakan nanti di antologi terbaru, hingga kalian bisa tertawa melihat bibi tititeliti tak selalu teliti.

Love Life, Rere

N G A M U K


N G A M U K

Well, setelah marah kemarin, lantas apa yang saya kerjakan untuk meredamnya?

Gampang.

Saya membeli es krim kegemaran, yang biasanya saya tahan untuk membeli karena harganya yang bagi saya mahal. Biasanya saya berpikir, “sayang, ah. Mending buat beli fresh milk anak-anak.” Hari itu, saya memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan.

Kemudian, saya meninggalkan anak-anak di sebuah restoran fast food sebagai treat untuk mereka. Saya jarang sekali membawa anak-anak jajan di luar dan lebih suka memasakkan hidangan kegemaran mereka di rumah. Selagi meninggalkan mereka menikmati “jajan mevvahnya”, saya melangkah masuk ke sebuah gerai baju.

Sudah beberapa hari saya eyeing sehelai cardigan bermotif lucu. Tadinya saya hanya menghela nafas panjang melihat deretan angka di sana. Biasanya lagi-lagi saya berpikir, sayang, ah. Mending buat beli groceries.

Hari itu, saya memasukkan cardigan cantik itu dalam keranjang belanjaan. Sambil terus menikmati pemandangan baju-baju cantik di sekitarnya.

“Oh well, I’ll take this, too. Ah this one too, lah.”

Saya bertekad akan menghadiahi diri sendiri dengan sejumlah angka hari itu. Asikkkk! Baju baru!

“Wow! You went shopping, Bunda?”
“Yep. It’s a reward that I deserve, right?”
“I give you my salary later,
Bunda. So you can buy whatever you want.”
“Okay,
Rayyan. I’ll keep that in mind. Make sure you keep your promise.”

Kemudian kami pun mulai tertawa bahagia lagi.

Tentu saja ini bukan satu-satunya cara saya meluapkan amarah. Jika setiap kali marah saya belanja, mungkin tak akan ada beras dan makanan di rumah jadinya.

Kadang saya melampiaskannya dengan ngamuk dan mengubah interior rumah. Bak Supergirl setengah tua, saya mampu memindahkan sebuah tempat tidur berukuran besar dan berat … sendirian. Kemudian memanjat apapun untuk membereskan gudang. Setelah itu semua penghuni akan dengan terpaksa ikut membereskan rumah dan kamar masing-masing, sambil bersungut-sungut kesal.

Saya … tinggal berkacak pinggang dan memerintah ini itu bak seorang mandor bangunan.

Sweet revenge, ain’t it? *smirk*

Be happy, Moms.
Supaya tak ada lubang dalam hatimu, untuk membuat orang lain tidak bahagia sepertimu hari itu.

Happy Moms, Happy Homes, kan? *winks*

Love Life,
Rere

Photo Credit: Suryatmaning Hany

SuperBunda

M A R A H


M A R A H

“Did you bring pencil case, Rayyan?”
“Eeee … no,
Bunda. I forgot.”
“Astagfirullah!”

Sepagian ini saya sudah marah tentang banyak hal di rumah. Marah as in … marah. Bukan hanya pada Rayyan, namun semua penghuni rumah.

Ketika marah, saya memang akan meluapkan segala hal tanpa ragu. Begitu lah saya … and it’s humane, Moms.

Tak perlu berusaha keras menutupi segala perasaanmu demi menjadi contoh terbaik untuk anak-anak.

Just be you.

Well, saya memang bukan contoh ilmu parenting yang baik, karena ketika marah, saya akan menunjukkan bahwa saya sedang marah. Tentu saja marah karena suatu hal, bukan marah tanpa alasan. Setelah selesai meluapkan kemarahan, saya biasanya mengajak anak-anak untuk bicara. Bertukar pikiran mengenai sebab dan alasannya, lalu saling meminta maaf.

Mereka harus tahu bahwa ibunya sama seperti mereka semua … bukan robot. Ibunya juga seorang manusia dengan hati, dengan mood yang sesekali swing ke sana kemari. Dengan raga yang juga bisa merasa lelah sekali, kadang juga bisa bosan atas rutinitas sehari-hari.

Tidak perlu berusaha keras menutupi itu semua, Moms, Ladies. Karena semakin keras usaha kita menutupi kemarahan itu dan bersikap seolah ia tidak pernah ada, semakin banyak hal tanpa sadar akan kita hancurkan. Misalnya, dengan meluapkannya melalui deretan kata di sosial media instead of dealing with it. Percayalah, bukan solusi yang kalian dapat kecuali persoalan baru … atau mungkin bahan gosip terbaru. 🥴

So, deal with your anger. Face it, luapkan bukan tuliskan, lalu cari cara untuk membuatmu tersenyum kembali.

Shopping baju baru mungkin? 😉

Love Life,
Rere

Kerja – Now And Then


Kerja – Now And Then

Foto sebelah kanan yang ‘nyusruk’ itu, muncul di memori dinding saya pagi ini. Dengan tertawa saya menunjukkan pada anak-anak dan semua tergelak. Ketawa geli melihat kekonyolan sang Bunda yang memang sudah terkenal antik.

Setelah mereka berangkat sekolah dan rumah sepi, saya kembali melihat foto itu dan merenung. Foto yang diambil Lana ketika sedang musim Fallen Angel Challenge. Emak yang suka banget dikasih rantangan … eh tantangan ini, serta merta memintanya untuk mengambil gambar dengan pose ‘nyusruk‘. Sembari menggelengkan kepala ia terpaksa mengikuti arahan Emak. Pasrah. Daripada kena omelan panjang. Hahahaha.

Ingatan saya kemudian melayang di masa remaja dulu. Saya bukan anak yang selalu manis di rumah. Walaupun tidak pernah berani membentak atau marah pada orang tua. Pemberontakan saya dimulai di hari saya kabur dari rumah, karena merasa Mama tidak mengerti saya. Kaburnya sih juga ke rumah dinas Papa yang kosong di daerah Slipi. Hahaha. Jadi bukan kabur, ya. Cuma pindah rumah.

Kaburnya saya yang sebenarnya stress setelah diberhentikan secara mendadak dari sebuah kantor, ternyata membawa perubahan nasib.

Baca di sini https://reynsdrain.com/2020/10/09/kerja/

Berbekal selembar 20 ribuan di kantong, saya melamar kerja pada sebuah maskapai asing. Keberuntungan memang sedang berpihak pada saya. Saya diterima kerja setelah melalui serangkaian tes. Hingga tiba saatnya saya meninggalkan Indonesia tercinta.

Hari-hari saya kemudian, setelah bekerja dan menetap di luar negeri sebagai pramugari, hanya terpusat pada diri saya, dan saya saja. Me, myself, and I. Saya bahkan tidak pernah merasa perlu untuk memikirkan orang lain. Hidup saya hanya kerja atau bersenang-senang. Menghabiskan liburan dengan mengunjungi negara-negara di belahan bumi yang lain, atau sekedar membuang uang untuk belanja. Itu saja. Hal yang belakangan, lumayan saya sesali.

Ya. Seharusnya saya bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua dan mengajak mereka liburan bersama. Saya seharusnya juga bisa menyimpan uang untuk membeli sesuatu sebagai investasi. Apa daya semua itu tidak pernah ada dalam pikiran saya dulu. Live life to the fullest, begitulah saya dulu.

Mungkin juga karena saya membesar dalam situasi yang serba terbatas dan dibatasi. Termasuk dalam soal keuangan. Sampai-sampai ketika kuliah dulu, saya mengisi waktu luang di sela kegiatan sebagai mahasiswa dengan bekerja. Mulai dari pagi, sampai kadang dini hari. Hanya sekedar untuk membeli sepotong baju cantik yang terpampang di etalase sebuah toko. Saya memang tidak terbiasa membebani orang tua dengan segala keinginan pribadi. Seminim apapun uang jajan diberi, saya tidak pernah protes atau meminta lebih. Kebiasaan mandiri yang terbawa hingga kini termasuk dalam cara pengasuhan anak-anak saya sendiri.

Oh ya, beberapa teman kerap meminta saya berbagi pengalaman sebagai pramugari dulu. Saya hanya tersenyum. Karena bukan cerita indah yang banyak saya alami, kecuali bagian belanja dan jalan-jalannya tadi. Hahaha. Selebihnya hanya cerita tentang kenakalan dan kegilaan saya di masa muda, mungkin bisa dibilang fase terparah dalam hidup saya. Hehe.

Bersyukur sekali pada akhirnya, saya pernah mengalami beragam fase itu dalam hidup. Nakal, bandel, pemberontak, keras kepala, egois, egosentris, cuek, hingga yang paling parah menjadi seorang hedonis. Semua fase itu justru yang akhirnya membesarkan dan membentuk karakter saya hingga hari ini. Hingga hidup yang awalnya hanya me, myself, and I berubah menjadi family first.

Settling down atau duduk dengan tenang dan menikmati setiap detik keberadaan saya sebagai ibu rumah tangga sekarang, adalah hal yang sangat menyenangkan saat ini. Walau harus berjibaku mengurus rumah tangga dan membesarkan buah hati hanya dengan suami, saya bahagia sekali. Bahkan ketika tangan yang dulu lembut dan mulus berubah menjadi kasar dan berurat, saya tetap bangga.

Bangganya berperan sebagai ibu rumah tangga yang 24/7 di rumah, dan tidak pernah merasa membutuhkan kehadiran seorang asisten pribadi. Bahkan, ketika saya hampir setiap hari memasak untuk pesanan para pelanggan dulu, semua tetap saya kerjakan sendiri, di sela-sela waktu mengurus anak dan suami. Tawaran suami untuk memanggil pekerja paruh waktu ke rumah pun saya tolak. Saya merasa bisa mengatasi semua hal.

Ya. Saya bisa dan saya bahagia.

Jadi, tak perlu merasa terpuruk dan terkungkung di rumah sendiri ya, Moms. Percayalah, ketika suami bahagia dan anak-anak tumbuh sehat serta ceria, di situlah kepuasan pribadi melebihi segala keriaan di masa muda dulu. Namun ingat, yang terpenting adalah diri sendiri harus bahagia. Percayalah, seorang ibu yang bahagia akan membuat seisi rumah bahagia. Kalau saya, secangkir kopi hangat saja sudah cukuplah membuat bahagia di pagi hari.

Bagaimana cara saya menemukan bahagia? Baca di sini, yuk https://reynsdrain.com/2020/04/21/secangkir-kopi-hangat-emak-self-love-is-not-selfish/

Happy Mom, Happy Home.
Be that Happy Home, Moms.

Love Life, Rere

#worldmentalhealthday #harikesehatanmental #nubarsumatera

Be Happy!


Be Happy!

“Ih, ngapain sih pake bulu mata palsu? Kan alami lebih baik. Coba tanya suamimu. Iya kan, suamiku? Mending tampil apa adanya seperti aku gini kan ya?”

Saya pernah mendengar seorang perempuan mengatakan ini pada sang suami tentang perempuan yang lain. Kemudian saya jadi berpikir.

Susah betul jadi perempuan. Lebih susah lagi ternyata menghadapi sesama perempuan. Menghadapi cibiran, senyum sinis, insecurity sesama kaumnya.

Tahukah kalian betapa sulitnya menjadi seorang perempuan? Tak perlu lah saya membahas tentang proses melahirkan, bagaimana rasanya mengeluarkan seorang bayi melalui lubang kecil di kemaluan, atau robekan lapis demi lapis kulit di perut yang menjadi aduhai.

Menjadi perempuan, dituntut banyak hal. Sejak gadis dituntut untuk menjaga diri. Salah jaga? Sudah pasti disalahkan.

Ketika bergelar ibu, lebih susah lagi. Setengah mati mendidik anak-anak di rumah, dan ketika mereka ke luar rumah lalu melakukan kesalahan, yang akan menjadi cibiran adalah, “Ibunya pasti gak tau cara mendidik dengan baik.”

Setiap pagi bernyanyi merdu bak kaset rusak demi mengajarkan anak-anak keahlian ini itu, dan ketika mereka tumbuh dewasa menjadi manusia malas, lagi-lagi tentunya sang ibu yang menjadi sorotan. “Ibunya gak pernah ngajarin sih. Jadi bloon semua anaknya.”

Belum lagi ketika sang belahan hati berpaling, kalimat pertama yang mungkin muncul adalah, “istrinya gak tau jaga diri dan suami sih.”

Ya, salam susah sekali jadi kami.

Berdandan sedikit cantik, dituntut tampil sederhana dan natural. Tapi melihat jidat licin, mata pasangan melirik tanpa kedip.

Berdandan sedikit lebih cantik dibanding yang lain dikatain macem lenong. Padahal keluar rumah tanpa riasan pun dapat cibiran, “dandan dikit kek. Pucet amat! Duit banyak pake tu buat perawatan atau beli skinker mahal. Lipstikan kek!”

Ya Tuhan. Mau kelean apa sik?

Ada lagi nih. Mematut diri dengan rapi dikatain macem mau ke pesta. Padahal kalau tampil slebor dianggap tidak bisa menjaga diri dan maruah suami.

Onde mande, susah kali menuruti keinginan kalian.

Jika saja kalian tahu betapa sulitnya menutup mata melihat rumah yang berantakan, anak-anak yang malas, cucian yang menggunung dan melambai minta dibelai. Belum lagi jika tiba-tiba ada pipa bocor dan harus berubah peran menjadi plumber. Jika saja kalian paham susahnya hati ini melihat kompor yang bersih karena tidak ada masakan untuk disantap hari ini. Jika saja kalian paham beban mental yang kami sandang ketika mendengar segala kritik tentang penampilan. Jika saja kalian paham betapa sulitnya mencari pakaian setelah tubuh berkali-kali mengalami pelebaran jalan.

Jika saja kalian paham … jika saja kalian menjadi perempuan.

Being a woman is never easy.
You have to think like a man, look like a young girl, but work like a horse.

Buket bunga ini untuk kalian semua kaum perempuan, para ibu, semua single moms. Love yourself no matter what. I love you all just the way you are. Dandan, gak dandan, dandan macem lenong, pake baju pesta, whatever it is. Make yourself happy! Be happy!

Love, Rere.

Learn. Relearn


Learn. Relearn

“Guys, do you want to bring anything for Teacher’s Day? Just choose. I can bake, cook, or if you want to give my handmade stuffs just choose whatever is on the table. There are keychains made of resin and embroidery, mask extenders, wired stuffs, I can make embroidery pouch too, or maybe macrames?”

Ini lah saatnya saya bisa tersenyum manis memandang “meja kerja” saya yang bak kapal pecah.

Ini juga saatnya saya bisa menepuk punggung sendiri sambil berkata, “hey You, good job! Ayo belajar lagi sesuatu yang baru.”

Belajar buat saya seperti tak mengenal batas. Usia yang terus bertambah, tidak pernah menghalangi langkah. Sesuatu yang baru selalu membuat saya ingin maju. Keluar dari zona nyaman adalah usaha keras saya mengalahkan malas dan ragu. Tubuh ringkih yang dari luar nampak perkasa ini pun tak pernah membuat saya mundur teratur.

Hidup rasanya terlalu berharga jika dilalui tanpa sebuah karya. Meski tampak sederhana namun saya percaya, ini lah yang membuat hidup menjadi lebih berguna. A hobby a day keeps the doldrums away, rasanya bukan hanya sekedar deretan kalimat tanpa makna.

Jadi, masih mau melewati hari tanpa melakukan apa-apa? Never stop learning, because life never stops teaching.

Happy Teacher’s Day!

Love, Rere

MARAH – Secangkir Kopi Hangat Emak


MARAH – Secangkir Kopi Hangat Emak

Terserang sinus parah sejak hari Sabtu, sempat membatasi ruang gerak saya. Karena kepala dan bagian wajah saya rasanya seperti minta dilepas. Sakit luar biasa.

Akhirnya saya hanya bisa berbaring karena menghindari minum obat. Mencoba menyembuhkan diri sendiri dengan mengatur nafas dan relaksasi. Walau akhirnya terpaksa harus menyerah dengan tablet penahan rasa nyeri.

Hari berikutnya saya menolak menyerah pada sakit ini. Bangkit dan mencoba berdiri, walau kaki bak melayang di atas bumi. Tapi saya seorang ibu, dengan janji dan amanah yang harus ditepati. Sakit ini, semoga cepat pergi.

Apa daya, beratnya kepala membuat emosi membuncah. Saya marah sekali ketika melihat rumah dalam keadaan sedikit “meriah”. Cucian baju menumpuk belum dilipat, meja makan tak beraturan, dan “kemeriahan” lainnya.

Kesal sekali rasanya. Berjalan terhuyung-huyung keluar kamar, dan mendapati rumah bak kapal pecah. Well, tidak betul-betul tampak seperti kapal yang pecah sih. Hanya mungkin bak kapal yang sedikit oleng. Sehingga beberapa barang ngeloyor pergi ke tempat yang tidak seharusnya ia berada.

Amukan saya belum berhenti di situ saja. Akhirnya kami semua berdiskusi dan berbincang di meja makan. Semua tertunduk dengan muka tegang. Hahahaha!

Saya mengajukan keberatan, atas pemandangan indah yang saya temui pagi itu. Apalagi dalam keadaan kepala bak mendengar suara perkusi beradu. Berdentum di dalam tanpa bisa berhenti bertalu.

Semua menunduk dan meneteskan airmata, ketika saya mengingatkan diri ini yang semakin bertambah tua. Malas rasanya beradu tegang dan menambah kerutan di muka. Perawatan di salon mahal, Cinta.

Perbincangan kami pun berakhir manis. Walau diiringi derai airmata dan tangis. Yang penting semua masalah selesai dengan baik, tanpa perlu menjadi sinis. Biarlah sang emak tetap tampak kinyis-kinyis. Walau seharian berdaster dan bau amis. Ihir!

Hey, Moms! Sakit itu alami, tanda kita ini manusia dengan jiwa dan hati. Katakan saja apa yang kau rasa, jangan membatasi diri. Apalagi berpura-pura tegak berdiri. Sakit, marah, bahagia, katakan saja tanpa perlu membohongi diri.

Siang menjelang, matahari pun naik dengan terang. Setelah pagi bersitegang, semua lalu berubah menjadi riang. Rumah bersih dan benderang, Emak pun tersenyum girang.

Sinus yang menyerang sejak Sabtu siang pun, berubah menjadi tawa lebar. Ketika membuka gawai yang sedari Minggu pagi itu, terus bergetar. Pertanda pesan masuk dari seseorang. Dengan mata sedikit menyipit, karena tak kuat melihat pantulan cahaya, hati ini berubah senang. Karena membaca sebuah pesan tentang keberhasilan.

Apa sih isi pesannya?

Rahasia. Tunggu saja. Kopi hangat di depan mata saya ini, sedang menunggu untuk dihirup wanginya. Kamu tunggu ceritanya lagi, esok atau lusa, ya.

Love, Rere

Si Kaset Rusak (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Si Kaset Rusak
(Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Lara, sudah sholat belum?”
“Lana, sapu rumah, Nak.”
“Rayyan, make up your bed!”
“Ayo, cepat makan. It’s 6.30 already!”
“Don’t forget your masks”
“Botol, lunch box dah bawa?”
“Your keys, don’t forget!”
“Go home straight away.”

Bla … bla … bla.

Begitulah setiap pagi keramaian di rumah kami. Asalnya hanya dari satu suara, sih. Saya. Sementara suara lain hanya berbunyi, “yes, Bunda,” atau “sudah, Bunda.” Hahaha!

Awalnya saya berpikir keributan ini hanya terjadi di rumah kami. Ternyata setelah berbincang dengan beberapa sahabat, sama juga hebohnya. Phew! Berarti saya tidak sendiri. Lega.

Bukan tidak pernah saya mengajukan keberatan karena harus berubah bak sebuah kaset rusak setiap pagi. Ya, setiap pagi. Beberapa cara pun pernah saya lakukan. Membuat jadwal harian mulai dari yang sederhana hingga berbagai bentuk dan gaya agar menarik. Tentu saja setiap saat harus berubah demi menyesuaikan jadwal dan usia anak-anak.

Kadang saya juga harus menahan diri setengah mati dengan tujuan untuk mendidik. Saya biarkan mereka gedubrakan karena terlambat bangun, hingga beberapa keperluan sekolahnya tertinggal. Ya, saya pun pernah juga begitu. Walaupun sebagai ibu dengan didikan disiplin tingkat tinggi di masa sekolah, ini adalah satu hal yang sangat menyiksa. Iya, tersiksa rasanya melihat ketidakaturan dan ketidaksiapan di depan mata.

Namun anak-anak harus belajar dari kesalahan. Sementara saya harus belajar untuk sedikit menutup mata dan mengurangi kebiasaan “serba harus dan tidak boleh salah”.

Saya tahu, mereka sebenarnya paham apa yang harus dilakukan. Mungkin mereka hanya terlalu suka dan selalu rindu mendengar suara nyanyian sang ibu yang berulang seumur hidup. Hingga melambatkan diri setiap pagi adalah salah satu cara untuk tetap menghidupkan bunyi sang kaset rusak.

Meski tiap pagi “bernyanyi” saya tidak marah. Saya tahu suatu hari nanti mereka akan rindu, seperti saya yang kerap merindukan kebawelan mama saat ini. Oleh karena itu setelah puas merepet bak petasan banting, saya tetap memeluk dan selalu mencium mereka dengan penuh cinta di depan pintu. Sambil mendoakan dalam hati agar Yang Kuasa melindungi mereka selama di luar rumah.

Toh setelah semua pergi, rumah jadi sepi. Saya bisa dengan tenang menyeruput secangkir kopi hangat sambil menonton acara televisi.

“Abaaang! Dah sholat belum? Cepat lah! Dah almost shuruk!”

Lamat saya dengar tetangga sebelah rumah yang dapurnya bersebelahan, sedang “bernyanyi” merdu pada sang putra yang berusia 40. Hahaha!

Motherhood … where silence is no longer golden.

Love, Rere.

FOKUS


FOKUS

Pagi tadi Rayyan memberikan hasil ujian pelajaran Bahasa Melayunya pada saya dengan sedikit ragu. Saya tahu, pasti ada sesuatu.

Minggu lalu memang anak-anak Sekolah Dasar di Singapura baru melaksanakan ujian tengah semester. Rayyan dengan percaya dirinya selalu bilang, “so easy. I can do it, Bunda,” setiap kali saya bertanya bagaimana ujiannya, sepulangnya dari sekolah.

Benar saja. Nilai ujian Bahasa Melayunya rendah sekali bahkan berbuah catatan dari sang guru yang menegurnya agar lebih fokus mengerjakan soal. Saya pun mengajaknya bicara pagi tadi.

“Do you understand this note from your teacher?’
“No I don’t,
Bunda.”
Lah? Read please.”
“But …”
“Just read. We will discuss about it.”

Dengan terbata-bata Rayyan membaca tulisan bertinta merah yang tertera di kertas ujiannya itu.

“What’s menggencewakhan, Bunda?”
“Mengecewakan. Meaning your cikgu is dissapointed at you because you took this exam lightly and didn’t focus on your paper.”
“But I didn’t take this lightly. I just don’t understand,
Bunda. I’m sorry.”
“I understand that you struggle hard for this subject. It’s part of my mistakes too. But when you don’t understand something, you must work harder to understand more and we will work this thing out together, okay? But I want you to try harder too.”
“Okay,
Bunda. I’m sorry. But some of my friends got low marks too.”
Rayyan, please focus on yourself for now and don’t think about others. Understand?”
“Sorry,
Bunda.”

Saya dapat melihat penyesalan di wajahnya karena saya tahu ia memang bekerja keras untuk menyelesaikan semua ujiannya minggu lalu. Nilai matematikanya bahkan naik dan menjadi 3 besar peraih nilai tertinggi di kelasnya. Saya merasa ikut bersalah karena tidak membiasakannya lebih sering berbicara dalam bahasa Melayu di rumah.

Lha saya sendiri bahkan sang ayah yang asli Melayu juga bingung, kok.

Saya menekankan padanya untuk fokus memperbaiki diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Anggap saja catatan dari sang guru adalah teguran pada kami berdua untuk lebih giat dan tekun belajar sesuatu yang tidak kami kuasai dengan baik.

Setelah berdiskusi dengan mata berkaca-kaca ia memeluk saya lalu meminta maaf karena merasa mengecewakan saya dan gurunya di sekolah. Saya memeluknya sekaligus mengatakan betapa bangga melihatnya banyak berubah. Ia sekarang lebih rajin, lebih teratur hingga isi tasnya pun tersusun rapi tidak lagi amburadul seperti sebelumnya. Saya juga senang ia bahagia pergi ke sekolah bahkan menganggap pelajaran matematika sebagai sesuatu yang menyenangkan. Yayy!

Ingat ya, Nak. Fokus saja sama dirimu sendiri dulu, tak perlu sibuk dengan apa adanya orang lain. Habiskan saja waktu untuk selalu memperbaiki diri sendiri. Ini saja seharusnya sudah cukup menyita waktu kita hingga akhir masa nanti.

Diskusi pagi kami pun ditutup dengan pelukan hangat dan kata cinta seperti biasa. Saya tahu ia sangat menyesal. Saya memintanya menemui sang guru untuk mengatakan penyesalannya sekaligus berjanji untuk memperbaiki diri dan lebih berkonsentrasi di kelas.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Rayyan.”

Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.