(Bukan) Orang Ketiga


PROLOG

Dimar Wisaka Brawijaya, nama yang terpatri begitu dalam di hatiku. Hidupku jadi lebih berwarna saat mengenal dia. Semua beban yang berada di pundakku seakan luruh ketika kami saling bercerita. Masalah keluargaku sangat pelik, tapi dia tetap memilih untuk bertahan disampingku. Dia yang selalu menghiburku ketika sedih. Dia juga yang selalu mengobati luka lebam yang ditorehkan oleh ayahku. Dia, hanya dia aku bisa bebas melepas semua beban yang terus menghimpit hatiku.

Hari ini tepat dua tahun kami—aku dan Dimar—menjalin hubungan. Lelakiku mengajak bertemu selepas jam kuliahku berakhir di sebuah Coffeeshop. Mungkin dia ingin merayakan hari jadi kami.

Harum Manis Coffeeshop merupakan tempat pilihannya sekaligus tempat bersejarah untuk kami. Di sini dia menyatakan isi hatinya. Aku datang sepuluh menit lebih cepat. Lalu aku memesan minuman kesukaannya dan minuman untukku. Selang lima menit kemudian, lelaki jangkung berbadan tegap itu datang dan langsung duduk di hadapanku. Tak lupa senyum manis dia sunggingkan di bibirnya.

Seperti orang kasmaran pada umumnya, kami saling pandang dan berpegangan tangan. Aksi saling pandang dan pegangan tangan kami terputus ketika seorang waiter mengantarkan pesananku. Dia berdeham untuk menghilangkan rasa malunya, sedangkan aku melempar pandangan ke sembarang tempat. Sepeninggal waiter itu, kami masih bungkam. Tak ada yang ingin membuka percakapan lebih dulu. Kulihat dia mulai menyesap coffee americano-nya dan aku hanya mengaduk-ngaduk minumanku dengan sedotan.

“Kita putus aja, ya,” ucapnya memecah kehingan di antara kami.

Aku menghentikkan kegiatan mengaduk-aduk minuman, lalu reflek mendongak. Aku menatap dalam kedua manik matanya. Daritadi tak ada perkataan apapun, tapi kenapa tiba-tiba yang keluar kata putus? Aneh. Rasanya aku ingin menangis, tapi air mata tak bisa keluar. Kurasa kedua mataku telah memerah.

“Putus?” tanyaku lirih untuk memastikan jika aku tak salah dengar.

Dimar mengangguk. “ Aku pikir ini yang terbaik untuk kita.”

Shit!

Aku hanya tersenyum sisnis menanggapi ucapannya. Tentu saja baik untuknya, tapi tidak untukku. Mungkin dia sudah muak dengan semua masalah pelikku, atau dia tak mau telibat lebih jauh dengan semua masalahku. Merasa tak ada yang harus dibahas lagi, aku mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan meletakkan di atas meja. Kemudian bangkir dari kursi

“Oke kita putus!” kataku sebelum meninggalkannya sendirian. Namun, baru beberapa langkah, aku berbalik kembali menghampirinya. “Dapet salam dari jari tengah,” bisikku di telinganya dengan penuh penekanan di setiap kata.

Selamat datang masalah baru. Selamat bergabung dengan masalah-masalah lamaku. Semoga kalian bisa bekerjasama untuk membunuhku pelan-pelan. Allah ... jika boleh meminta, aku ingin Kau ambil nyawaku.

Aku ... lelah.

Seven


PROLOG


Tujuh. Angka yang sangat aku sukai. Bukan hanya suka, melainkan aku sudah terobsesi dengan angka tujuh.

Teman kampus memanggilku Amel. Kepanjangan dari panggilanku adalah Amelia Oktavia Sasmita. Aku seorang mahasiswa kedokteran dan penderita OCD—Obsessive Compulsive Disorder. Sebuah gangguan mental yang membuatku harus melakukan sebuah tindakan berulang. Jika tidak melakukannya, maka diriku akan diliputi kecemasan dan ketakutan yang luar biasa. Pada kasusku, aku sangat terobsesi dengan angka tujuh.

Ketika mencuci tangan, aku akan membilas tanganku dengan air bersih sebanyak lima kali. Aku akan menghabiskan makanan yang kumakan dengan kelipatan tujuh. Mengecek jendela serta pintu harus sebanyak tujuh kali sebelum tidur atau bepergian. Semua itu kulakukan setiap hari.

Bagaimana jika aku tidak melakukan sebanyak tujuh kali atau kelipatannya? Maka … seharian penuh aku akan merasa gelisah dan ketakutan hebat. Bahkan rasa gelisah itu bisa bersemayam selama seminggu. Sungguh rasa gelisah yang sangat berlebihan.

Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.

Sialnya, di suatu hari aku mengalami kejadian buruk. Waktu itu aku sedang melewati jembatan penyebrangan dekat kampus, yang konon banyak yang bilang di jembatan itu sangat rawan. Desas desus itu menjadi nyata. Saat aku sedang berjalan di jembatan penyebrangan, ada seorang laki-laki berambut gondrong menghalangi jalanku.

Aku berjalan ke kanan, dia mengikuti ke kanan. Ketika berjalan ke kiri, dia mengikutinya. Aku diam sambil menatap manik matanya. Lalu aku berbalik badan dan lari sekencang mungkin. Namun, dia mengikutiku dari belakang. Dengan langkah besarnya, dia sangat mudah mencekal lengan kananku. Sontak aku berusaha menyentak cekalannya, tapi tak terlepas.

Sebuah ide terlintas begitu saja dalam otakku. Aku tendang tepat di selangkangannya dan dia pun mengaduh sambil memegang bagian sensitifnya. Ini kesempatanku untuk kabur, tapi sebelum kabur, aku mendorong tubuhnya hingga terjungkal dan menggelinding ke tangga. Lelaki itu terkapar tak berdaya di tanah setelah anak tangga paling bawah. Darah segar membasahi area kepalanya.

Kejadian ini sangat mengerikan. Tanganku sampai bergetar. Ini adalah pertama kalinya aku menyakiti seseorang hingga tewas. Namun bukan kejadiannya yang membuat mengerikan. Karena jika aku sudah memulai sesuatu, aku akan berhenti jika sudah melakukannya sebanyak tujuh kali.

Inilah awal ceritaku dimulai. Siap mengikuti jalan ceritaku sampai akhir?

Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh.

To be continue