Minggu Untuk Kawatku Dan Kawatmu


Minggu Untuk Kawatku Dan Kawatmu “Kak, ajarin wire weaving, dong.” “Ayok!” Tanpa berpikir dua kali, saya mengiyakan ajakan seorang teman untuk membuat sebuah workshop semasa saya mudik. Saya memang ingin setiap mudik saya berarti. Bukan sekedar liburan dan bersantai tanpa arti. Kalau bisa sih, inginnya selalu berbagi. Wire weaving atau tehnik menenun kawat ini baru […]

Mudik – Day 5 (Learn Relearn)


Mudik – Day 5 (Learn Relearn)

Mudik, menjadi kesempatan saya untuk charging tubuh dan kepala. Ibarat gawai yang sudah low batt dan butuh diisi kembali untuk bisa beroperasi dengan baik. Begitulah rasanya diri ini yang butuh sekali shutting down sebentar untuk kemudian terisi kembali dan keluar dengan kesegaran lebih.

Saya bahkan sempat mengalami kesulitan untuk menulis ketika berada di rumah Eyang selama mudik ini. Rasanya begitu sulit menuangkan ide maupun rasa ke dalam deretan aksara. Butuh extra effort dan sruputan secangkir kopi hitam buatan Eyang Mama. Kopi hitam berampas khas adukan Eyang Mama yang tidak pernah berhasil saya duplikasi. Mungkin cinta dalam setiap adukannya yang tidak pernah berhasil saya tuangkan.

Anyways, saya juga tidak mau totally mengistirahatkan kepala selama mudik. Saya tetap butuh melakukan sesuatu, dan tetap butuh menuangkan ide di antara kesibukan saya bertemu para sahabat serta menikmati libur panjang. Pilihan saya jatuh pada mengenalkan hobi untuk keponakan perempuan yang paling besar.

Saya mengenalkannya pada tehnik wire weaving dan uv resin yang akhir-akhir ini menjadi hobi saya di rumah dan akan menjadi kegiatan baru saya.

“Nanti kalau Caca sudah pintar, bisa bikin sendiri dan jadi sumber penghasilan. Jual saja pada teman-temanmu di sekolah. Seru, kan?” ujar saya padanya.

Akhirnya saya mengajarkan beberapa tehnik dasar memintal kawat, membuat gantungan kunci dari resin, dan membuat gelang persahabatan yang sedang hits. Ia menyerap semua pelajaran dengan baik dan cepat.

Binar matanya begitu membahagiakan. Mungkin ia juga butuh constructive outlets sebagai penyeimbang kesibukannya di sekolah menjelang ujian akhir semester. Sementara saya, butuh kegiatan untuk melemaskan jemari dan lengan yang sudah mulai terlena kemalasan sebagai efek mudik.

Bagaimana tidak malas, jika setiap pagi dan belum lagi gosok gigi, sudah ada seorang Ibu yang sibuk di dapur kemudian menghampiri seraya berkata, “Kopimu, Nak.”

How I love mudik!

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda