Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?


Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?

“Bunda …”
“Yes?”
“I left my lunch box and bottle at home.”
“So?”
“Can you send it to me?”
“No, I can’t.”
“But I’m hungry,
Bunda.”

Begitulah pesan singkat yang saya terima dari putri sulung saya. Ketika sedang menikmati secangkir kopi hangat pagi itu. Kotak makan, dan botol minumnya memang tertinggal di rumah. Saya menemukannya tergeletak di depan pintu. setelah ia pamit berangkat sekolah.

Ia memang nampak terburu-buru hari itu. Ada tugas Student Council, katanya. Semacam OSIS di sekolah Indonesia. Dengan singkat saya membalas pesannya, “Learn from this lesson.”

Kejam kah saya? Bagaimana dengan Anda para ibu? Jika anda menjadi saya, apakah anda akan mengambil langkah yang sama dengan saya yaitu menolak mengantar barang yang tertinggal sebagai pembelajaran? Atau justru tergopoh-gopoh pergi ke sekolah untuk mengantar barang mereka karena kasihan?

I might sound mean to many. Ibu yang kejam. Sekolah sebelah rumah saja tidak mau mengeluarkan sedikit effort untuk mengantar keperluan bocah yang tertinggal.

Ya. Begitulah cara saya mendidik anak-anak di rumah. Disiplin dan tanggung jawab adalah hal yang utama di keluarga kami. Jangan heran jika berkunjung ke rumah saya, anda akan melihat saya tidak segan memerintahkan anak-anak untuk melakukan banyak hal, bahkan sejak usia mereka masih sangat muda.

Memasak, membersihkan rumah, membereskan kamar, membuang sampah, pendeknya semua harus mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Semua. Tanpa kecuali.

Bahkan putra bungsu saya yang baru berusia 9 tahun, sudah terampil mempersiapkan menu sahur sederhananya sendiri, lho. Apalagi kedua kakaknya. Merekalah yang sekarang ini bertanggung jawab atas banyak hal di rumah kami.

Bagaimana saya melakukan semuanya?

It takes two to tango.

Kami melakukannya bersama-sama. Berproses sedari kecil, dan belajar dari semua kesalahan selama proses berlangsung. Seperti yang saya ceritakan dalam buku antologi Tips Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Anak Jilid 1 https://curhatanaksekarang.com/tips-mengoptimalkan-kemampuan-belajar-anak/

Belajar bukan hanya di ruang kelas dan membuka buku. Belajar hidup disiplin dan mengenal arti tanggung jawab, juga termasuk ilmu tentang kehidupan yang akan berguna seumur hidup. Ini yang tanpa lelah saya tanamkan di diri putra dan kedua putri saya.

Untuk siapa semua life skills ini? Untuk mereka. Agar kelak mereka bertiga tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang disiplin, berani bertanggung jawab, dan tidak pernah menyusahkan orang lain.

Mau membaca tulisan kami semua dan menyerap manfaatnya? Mari belajar bersama.

Love, Reyn.

Forgotten


Forgotten

Hari ini saya menonton sebuah film Korea bergenre thriller. Dari judulnya saya sempat berpikir ini adalah film horror. Tema yang sungguh saya hindari karena saya tidak tahan mendengar suara musik atau misteri di dalamnya. Rasanya jantung saya mau copot.

Seperempat awal cerita saya sudah hampir give up karena mulai agak menakutkan. Ternyata saya salah. Film ini memang menakutkan namun in a different way.

Jin Seok adalah seorang pemuda berusia 21 tahun yang memiliki seorang abang bernama Yoo Seok. Ia diceritakan memiliki masalah psikis yaitu anxiety disorder, atau kecemasan yang berlebihan. Untuk itu ia harus selalu meminum obat penenang.

Pada suatu malam ia melihat sang abang diculik di depan mata kepalanya sendiri. Hal ini sangat mengguncang perasaannya. Ia juga kerap mengalami mimpi buruk apalagi sejak pindah ke sebuah rumah baru bersama kedua orangtuanya.

Dahi saya berkerut ketika di pertengahan cerita, ada keanehan terjadi. Yoo Seok dan orang tua nya seperti komplotan orang asing yang sedang merencanakan sesuatu pada sang adik. Hmm … menarik. Despite kemunculan sesosok hantu perempuan yang membuat saya makjegagig kaget, cerita ini makin membuat saya penasaran.

Betul saja, segala hal menjadi terang benderang hampir di akhir cerita. Jin Seok ternyata bukan berusia 21 tahun. Keluarganya juga ternyata …

Ah! Saya ingin sekali membocorkan ceritanya dari A sampai Z. Tapi saya tidak tega jadi spoiler. Pokoknya, film yang dirilis pada 2017 ini keren abis! A must watch movie untuk para penikmat genre thriller.

Siap-siap mengatur nafas dan menghelanya panjang ketika akhir cerita tiba. Sedih, sesak, prihatin, itu kesan yang saya dapat. Betapa cinta mampu membuat seseorang gelap mata dan unexpected things do happen! Jika saja tidak ada yang “salah”, pasti tidak begini jadinya.

Seperti hidup yang kerap kali menghadapi sesuatu yang buruk di tengah perjalanan. It’s real and we can’t avoid it. Tonton saja sampai habis dan resapi setiap adegannya. Lalu jangan lupa bersyukur dengan apa yang ada di hidupmu hari ini.

It is forgiven but not forgotten.

Sumber foto: Google

Love, R

Parasite


Parasite

Hhhh … biar saya menghela nafas dulu.

Tenang, saya bukan mau jadi spoiler buat yang belum nonton. Saya cuma mau bilang, dada saya masih berdetak kencang, sedih, emosi, setelah selesai menonton film pemenang 4 Academy Award 2019 ini.

Kesan lucu yang saya tangkap di awal film, seketika berubah dengan plot twist tidak terduga di tengah bagiannya. Dark, gloomy, kumuh, terasing, terisolir, sedih.

Hhhh … sebentar, saya ingin menghela nafas lagi mengingat detail demi detail kejadian yang dialami keluarga Kim.

Si sulung Ki Woo dan adiknya Ki Joong yang cerdas namun jurang kemiskinan menghalangi mereka meraih mimpi untuk sekolah tinggi. Chung Sook sang ibu yang bekerja melipat kotak pizza bersama Ki Taek sang ayah, berusaha sekuat tenaga to make ends meet.

Segalanya berubah ketika sebuah rencana menghadiahi mereka semua kenyamanan hidup, hingga ketika suatu hari kenyamanan itu melenakan. Kemudian segalanya berubah dan berakhir.

Ini adalah satu dari beberapa film yang saya berikan 5 bintang. Plot yang luar biasa, akting yang natural, dan kesan yang tersampaikan dengan baik.

Ingat jika jantung anda lemah, jangan tonton film ini. Ngeri nya menusuk hingga ke tulang lebih daripada film horror yang dengan takut saya tonton di balik punggung suami atau bantal. Mungkin karena saya terlalu dalam berusaha masuk untuk mencari pesan tersembunyi yang berusaha disampaikan sang sutradara.

Pesan bahwa everybody has their own battles we know nothing about so be kind, yang kerap saya tulis di beberapa kesempatan, mungkin pas untuk menggambarkan akhir dari film ini. Akhir yang membuat dada berdebar hingga tulisan ini saya unggah.

Sumprit!

(Photo credit: Google)

Love, R

LIFE – A Lifetime Learning


LIFE – A Lifetime Learning “Rayyan, have you fold your clothes yet?” “I’ve done the underpants but I don’t know how to fold my shirts, Bunda.” “Kakak, could you teach him, please? I need to cook.” “But I can’t fold my shirt only, Bunda.” “That’s why you have to learn and Kakak will teach you.” […]

re-reynilda-foto

The Value Of Life


The Value Of Life “I’m very angry at one of my friend, Bunda!” “Eh? What’s wrong, Adik?” — Hari itu, Lana pulang sekolah dengan muka bersungut-sungut, dan kelihatan seperti baru menangis. Sebagai Ibunya, saya tentu tahu segala perubahan yang terjadi pada anak-anak. Walau saya mencoba untuk tidak mengambil kesimpulan sendiri. “What’s wrong, Sayang? Come here, […]