Hmmm ….


Hmmm ….

Semakin banyak melihat
Semakin banyak kelucuan tersemat
Rasanya kumerindu banyak saat
Ketika semua begitu sederhana tanpa sekat

Dunia ini panggung sandiwara memang
Tempat beragam topeng terpampang
Bahkan senyuman ternyata tak melulu riang
Kegundahan pun tak selalu bak airmata tergenang

Susahnya karena terlalu banyak melihat
Rasanya ingin sekali terbang bak kilat
Tak perlu nampak meski hanya sekelebat
Ahhh … mata sudah terpejam, telinga berdesing cepat

Bosanku sudah di ujung hari
Meski pergi bukan kehendak diri
Lucu yang manis masih jadi penghibur hati
Meski kadang terlalu manis bikin sakit gigi

Mungkin harus berhenti pakai hati
Hingga berlalu tak sulit lagi
Hanya ingin menghargai hari
Yang makin cepat berganti


Entah bila semua akan berhenti detaknya … di panggung ini.

Love Life,
Rere

Hitam Putih


Hitam Putih

Hitam Putih
Karena hidup tak selalu berwarna bak pelangi
Kadang membosankan bahkan terlalu sepi
Menunggu bahagia, ia tak selalu datang sendiri

Wahai raga yang sedang tak berwarna
Sampai kapan jiwamu akan terpuruk merana?
Padahal banyak jalan mungkin terbuka
Jika netra berani melawan rasa

Duhai sukma yang sedang dirundung duka
Tataplah masa depan di hadapan
Tak perlu lagi menengok ke belakang
Jika hanya luka yang akan kau hirup aromanya

Beranikan diri menghadapi hari
Sampai hitam putihnya buana kau jalani
Hidup penuh warna pasti di ujung menanti
Tanpa perlu menunggu siapapun mengiringi

Bahagia itu adanya di hati
Bahagia itu tentang mencintai diri
Airmata segera sudahi
Bangkit dan segera maju sebelum mati

Mencintai diri sendiri itu butuh nyali
Berani melangkah itu bak pemantik api
Cintai jiwamu dengan sepenuh hati
Sirami dengan kasih agar ia senantiasa berseri

Life won’t sparkle unless you do!


Love, Rere

Maleficent … Well, Well


Maleficent … Well, Well

Siapa tak kenal dengan tokoh “evil” satu ini?

Maleficent.

Karakter jahat dalam sebuah film besutan sutradara Robert Stromberg. Dimainkan dengan sangat apik oleh Angelina Jolie.

Saya tidak selalu menyukai karakter antagonis dalam sebuah cerita. Seringnya gemas dan mengutuk betapa jahatnya seseorang can become. Walau karakter-karakter ini adalah kekuatan dari sebuah cerita.

Sang peri jahat yang bertanduk dan bersayap ini mungkin pengecualian. Saya menyukai karakternya. Ia jahat tapi karena ada sebab. Ia bisa menghancurkan segalanya tapi jika ia lebih dulu diserang. Di luar itu semua, hatinya ternyata lembut dan penyayang. “Kelemahan” yang berusaha ditutupinya dengan menjadi simbol kejahatan dan kekuatan.

Ia bahkan juga bisa sangat lucu dan konyol seperti ketika sedang menggoda Diaval, sang gagak yang disihirnya menjadi seorang manusia untuk mengawasi gerak gerik Aurora.

Aurora adalah cinta sejati Maleficent yang ditampilkan di cerita ini. Semua terungkap ketika true love kiss nya lah yang ternyata 2 kali menyelamatkan nyawa Aurora, bukan kecupan seorang raja atau pangeran mahkota, seperti di banyak cerita. Aurora adalah putri seorang raja yang dulu membuat Maleficent menderita. Sang raja ini lah yang mengubahnya menjadi seorang yang jahat dengan memotong sayap yang menjadi sumber kekuatannya.

Saya kemudian merenung. Betapa kita kadang ikut andil membentuk karakter seseorang tanpa sadar. Membunuh sifat asli orang lain dan membuatnya tampak jahat di mata semua, atas nama apapun. Mungkin kekuasaan, mungkin persahabatan, atau bahkan atas nama harta.

Menceritakan hal buruk tentang seseorang demi mendapat simpati yang dituju. Atau menyakiti seseorang yang tidak bersalah, bahkan selalu baik pada dirinya, demi mendapat dukungan untuk tujuan tertentu.

Ah … Maleficent. Ternyata kebaikan hatimu berusaha kau tutupi untuk menjadi pagar pembatas luka yang pernah kau alami. Luka dalam atas kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup hingga begitu menyiksa diri namun setengah mati kau hindari. Sampai tiba masanya hatimu terbuka untuk menerima kenyataan dan tetap mampu berdiri tegak sebagai seorang yang kuat.

Well well … biarkan cap jahat itu tetap tersemat untuk kesenangan mereka. Namun kebaikan hati adalah sesuatu yang datang sejak lahir dan akan tetap ada, meski ombak kuat menerjang dan kerikil tajam menghadang.

Maleficent … she is not a villain. She’s a strong character who refuse to give up on her miserable life. Ia adalah wujud kekuatan seorang perempuan yang menolak untuk menyerah pada kesakitan dan penderitaan.

Untukmu para perempuan, anyone can take away your wings, but never your power and heart. So keep standing tall and being strong no matter what.

Love, Rere

Thank You, Me


Thank You, Me

Hai, Moms!

Sudah membereskan rumah?
Sudah selesai melipat segunung baju?
Sudah memasukkan cucian kotor ke dalam mesin cuci?
Sudah masak untuk makan siang dan malam sekeluarga?

Mmm … dan untukmu sendiri bagaimana?

Sudah minum kopi pagi ini?
Sudah menyempatkan diri untuk menikmati me time?
Sudah melakukan olah tubuh dan berkeringat dengan gembira?
Sudah mengatakan cinta pada raga yang kerap kau buat bak kerja rodi seharian?

Kasihannya tubuh ini, yang kadang tanpa sadar terdzalimi.
Meski kadang begitu sakit hingga tak satu obat kimiawi menjadi remedy.

Lebih kasihan lagi jiwa ini, yang setengah mati mencoba untuk selalu tegak berdiri.
Bahkan ketika butiran bening jatuh pun, dengan segera terhapus tanpa menunggu siapapun datang dan berusaha mengusap.

Well Moms,
Ragamu yang semakin melemah tergerus usia, juga butuh perhatian.
Jiwamu yang selalu berusaha tegar juga butuh secangkir kopi untuk menghangatkan.
Cintai dirimu sama besarnya dengan cintamu pada sekitar.

Thank You, Me.
Thank you for standing tall and strong even on my weakest point in life.
Thank You, Me!
Thank you to never let anyone bring me down.
Thank You!

Hey, You! Love yourself and write down your own story!
-Rere

Fitri, Sebuah Refleksi


Fitri, Sebuah Refleksi

“Aji ning rogo menungso iku soko busono, Nak,” ujar mama pada suatu hari. Ia menerima wejangan ini dari almarhumah ibunya, nenek saya, kemudian meneruskannya pada saya.

Harga diri seorang manusia itu dilihat dari bagaimana caranya berpakaian. Secara harfiah maksudnya adalah bagaimana seseorang membungkus tubuh sekaligus mematut diri. Metafora atau makna yang terkandung di dalamnya adalah bagaimana manusia itu mampu menempatkan diri dengan baik, pantas, dan sewajarnya, bak pepatah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Hingga seharusnya setiap kita berhati-hati dengan nilai dan kepantasan, karena dari situ lah manusia bisa dihargai keberadaannya.

Respect is earned, not given y’all.

“Aji ning diri soko lathi,” adalah kalimat baru, meski tidak terbaru, yang saya dengar dari lagu Lathi unggahan kemarin.

Harga diri seorang manusia itu dilihat dari lidahnya. Menarik melihat bagaimana tutur bahasa seseorang mampu menunjukkan karakter serta caranya memandang sesuatu hal.

Ada yang terbiasa bergurau hingga setiap kata yang terlontar membuat banyak orang terpingkal. Ada pula mereka yang seringkali sinis hingga lidah terbiasa mencaci atau berbicara tentang keburukan atas banyak hal. Ada lagi yang lebih memilih diam dan membatasi setiap ucapan.

Menarik kan?

Menjadi menarik justru karena membuat saya kepo dan ingin tahu latar belakang kehidupan yang membentuk karakter seseorang. Banyak yang dalam hidupnya nampak bahagia ternyata terbentuk dari gempuran kerikil tajam yang dengan kuat dihadapinya. Sebaliknya, banyak yang seringkali terlihat marah ternyata karena ada sesuatu hal yang tidak mampu diselesaikan atau dihadapi. Sehingga melontarkan kekesalan adalah salah satu jalan menghadapi perasaan kecewa yang menghantui.

Saya lalu merenung, jika Lebaran adalah hari yang fitri dimana seseorang dianggap bak selembar kertas putih dengan istilah ‘kembali suci’, seharusnya masa lalu adalah sebuah refleksi. Tentang bagaimana menjaga raga agar tidak salah menempatkan diri, dan bagaimana menjaga hati agar tidak tergelincir karena lidah yang seringkali berucap tanpa berpikir.

Berat sekali ternyata makna Eidl Fitr. Padahal manusia adalah tempatnya salah dan alpa, namun kertas putih itu harus tetap terjaga. Siapa tahu tahun depan tidak bisa kembali menjadi selembar kertas putih lagi, dan justru menghadapi ujung hari dengan kertas penuh noda berhias tinta hitam pekat, pertanda gelapnya hati.

Naudzubillah.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #TemaLebaran #Lebaran #RumahMediaGrup #Rereynilda

LATHI


LATHI

Dalam bahasa Jawa berarti lidah, atau bisa juga bermaksud ucapan.

Lagu yang menggabungkan bahasa Inggris dengan bahasa Jawa ini buat saya kok sarat dengan kesakitan.

Ada rasa perih, sedih, penderitaan, yang disebabkan oleh cinta.

Love’s a bless and curse.

Cinta itu anugerah sekaligus kutukan. Menjadi indah ketika ia tiba pada saat dan sasaran yang tepat. Namun menjadi sebuah kesalahan ketika cinta menimbulkan kesakitan dan airmata.

Dalem banget. Sedalam yang digambarkan dalam video clip lagu ini.

Never wanted this kind of pain, turned myself so cold and heartless.

Segala penderitaan yang disebabkan oleh cinta bahkan mampu membuat seseorang yang penuh cinta menjadi dingin dan mati rasa.

Saya mencoba memahami apa arti kalimat dalam bahasa Jawa yang ada di lagu ini.

Kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi.

Kamu tidak bisa lari dari kesalahan, harga diri seseorang ada pada lidahnya (perkataannya).

Hmmm … karena lidah juga, cinta yang indah bisa jadi menyakitkan bahkan berujung penderitaan.

Sambil menghirup wangi kopi di hadapan saya sore ini, saya jadi berpikir tentang kehidupan dan cinta. Apa yang kita pikir baik kadang belum tentu baik juga. Apa yang kita rasa cinta ternyata seringkali membutakan mata. Hingga segala hal yang nyata nampak bak ilusi yang ingin kita lihat saja padahal ia menyakitkan.

Lathi – Weird Genius Feat Sara Fajira (Cover)

Love, R

Lirik:

I was born a fool
Broken all the rules
Seeing all null
Denying all of the truth

Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for

Never wanted this kind of pain
Turned myself so cold and heartless
But one thing you should know

‘Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi’

Pushing through the countless pain
And all I know that this love’s a bless and curse

Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for

Never wanted this kind of pain
Turned myself so cold and heartless
But one thing you should know

‘Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi’

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda

Hey C, kapan kau pergi?


Hey C, kapan kau pergi?

GAC nyanyi bertiga
Saya dong ber-sembilan saja
Jangan sedih dan gundah gulana
Tetep semangat dan harus bahagia

Daripada pusing di rumah melulu
Mending bikin sesuatu
Mungkin coba resep masakan baru
Kalau sudah jadi, saya dikirimin juga mau

Hey C ... oh ... Si Corona
Kapankah dirimu berakhir dan perginya?
Rasanya hidup ini hampa
Mengetahui Lebaran akan berlalu tanpa anjangsana

Namun darimu kami semua belajar
Apa artinya kekuatan dan bertahan 
Darimu pula kami tahu
Bagaimana harus baik berlaku

Karenamu juga kami jadi tahu
Bahwa Sang Pencipta itu letaknya di kalbu
Bukan di dalam gedung
Atau di atas hamparan sesuatu

Bumi pun sementara beristirahat tenang
Membersihkan diri yang selama ini teraniaya
Karena ulah manusia yang tinggal di atasnya
Bahkan langit kini berwarna biru terang

Kini kita hanya mampu berdamai dengan keadaan
Merubah kebiasaan yang tidak sepadan
Lalu membawanya senantiasa dalam kehidupan
Untuk ingat bersih, hidup sehat, dan menyebarkan kebaikan

Jangan gundah dan terjebak lama dalam kesedihan
Semua pasti bertemu jalan
Seperti janji-Nya dalam kitab pegangan
IA hanya merubah nasib jika ada usaha dan keyakinan

Bahagia selalu
Jaga diri dan kesehatanmu
Jangan putus asa
Jika pintumu tertutup, ada pintu lain terbuka

Love, R
#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda
Bahagia – Cover

Di Rumah Saja? Gak Masalah.


Di Rumah Saja? Gak Masalah.

Corona oh corona
Karenamu dunia jungkir balik tak berdaya
Padahal wujudmu tak terlihat adanya
Kita bisa apa?

Kerja dan sekolah dari rumah
Puasa dan ibadah pun di rumah saja
Mungkin lebaran nanti demikian juga
Kita bisa apa?

Banyak jiwa melangut karena keuangan mengkerut
Banyak raga terpuruk karena kondisi tak menentu
Akankah kita ikut cemberut meratapi nasib buruk?
Kita bisa apa?

Kita bisa!

Kita bisa menyebarkan kebaikan dengan apa saja yang kita punya. Semampunya dengan sepenuh hati. Seperti kami yang bersatu di bait indah ciptaan tangan dingin Erros Djarot ini.

Ulurkan tangan kita semua. Karena berpangku tangan tak ada manfaatnya. Bersama kita bantu semua yang sedang murung. Itu pun bagian dari ibadahmu juga.

Bersama kita saling menghibur dan meneguhkan hati, bahwa ibadah tetap bisa berjalan, walau hanya di rumah sendiri. Itu pun bagian dari ibadahmu yang bersumber dari hati.

Ibadahmu dengan Sang Khalik tidak perlu ditentukan dari lantai mana sujudmu datang, atau dari arah mana doamu terlafazkan. Semua sumbernya ada dalam hati dan kedalaman relung jiwa.

IA toh serba tahu dan serba merasa, apapun yang tersemat dalam lubuk terdalam masing-masing rongga. Tanpa kecuali dan tanpa pernah salah alamat. IA hanya butuh kepasrahan kala bermunajat dengan tulus tanpa minta banyak harapan.

Mengadulah padaNya kala diri terpuruk dan merasa terpasung di rumah sendiri. Ingat juga padaNya ketika berada di puncak bahagia dan berkalung kebebasan dunia. Berharaplah IA tetap mengingat mu di setiap detik kehidupan yang fana ini.

Di rumah saja, beribadah lah seperti biasa. IA menghitung tanpa jeda. Baik atau kurang adanya.

Jadi … di rumah saja? Gak masalah. Ibadah tetap lancar lah!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #Rere #IbadahStayAtHome

Lagu & Lirik: Erros Djarot
Singer: Kagama Bersenandung

Hidup (Sebuah Elegi)


Hidup (Sebuah Elegi)

Hidup memang tak selamanya mulus
Kadang melesat kadang terpuruk
Bak air laut ketika datang surut
Namun hati tak boleh larut
Yakinkan diri untuk satu janji
Bahwa Ia selalu menguji
Siapapun yang Ia kehendaki
Juga sanggup menghadapi
Walau kadang letih menghampiri
Hingga lisan tergerak ikut mencaci
Ingat dan munajat pada Sang Pemilik hati
Semoga badai ini segera pergi
Hingga kebenaran membuka kunci
Terkuak akhir segala dengki
Semoga Allah selalu mengampuni
Segala dosa yang ada di hati

October 2017

Love, R

Tentang Hati (Sebuah Elegi)


Tentang Hati (Sebuah Elegi) Ketika hatimu mati Karena prasangka dan dengki Ingat-ingatlah mati Yang setiap saat menghampiri Aku tak akan bergeming Karena lisanku toh tak kau percayai Semoga Allah mengampuni Segala fitnah yang terlontar dengan keji Betapapun hati ini ingin balas menyakiti Namun ku tetap menahan diri Kan kubalas indah hanya dengan puisi Karena hanya […]