Recycle. Reuse. Remake


Recycle. Reuse. Remake

Punya hobby itu asyik lho. Apalagi ketika dari hobby itu jadi bisa menciptakan sesuatu yang baru baik dari limbah di rumah, atau barang bekas jaman dulu.

Tadi pagi saya beberes dapur, lalu melihat tampah berukuran kecil yang sudah agak rusak jalinan rotannya.

Dibuang? Sayang, ah.

Bikin baru, dong!

Akhirnya, iket sana iket sini, voila! Tampah rusak saya pun jadi sesuatu yang baru. Bisa digantung sebagai hiasan dinding, tempat bunga kering, atau bisa juga jadi tempat surat yang biasanya menumpuk di meja.

Jadi, masih mau buang barang lama? Bikin sesuatu, gih. Atau kalian mau pesan wall deco lucu ini? Ihik!

Love,
Rere

Kue Keria Bikin Ceria


Kue Keria Bikin Ceria

“Pingin deh makan kue keria. Bunda bisa buat?”
“Hmmm … belum pernah buat sih, tapi boleh coba.”

Apa sih kue keria itu?

Kue keria adalah sejenis donat ala Melayu. Berbeda dengan donat biasa yang berbahan tepung dan ragi, bahan dasar penganan ini adalah ubi, dengan campuran tepung, dan berlapis karamel gula merah.

Yummy!

Berikut ini resep dan cara membuatnya yang sangat mudah.

Bahan:

  • 4 buah ubi/sweet potato
  • 1 cup tepung terigu
  • 1 sdm tepung beras
  • ½ sdt baking powder
  • ½ cup air
  • 1 sdm gula pasir
  • Gula merah

Cara membuat:

  1. Kukus ubi hingga empuk
  2. Haluskan bersama 1 sdm gula putih
  3. Masukkan tepung terigu, tepung beras, dan baking powder yang sudah diayak
  4. Tambahkan air lalu uleni hingga kalis
  5. Siapkan sebuah piring yang telah ditaburi tepung
  6. Cetak adonan berbentuk cincin/donat kemudian goreng dalam api yang sudah panas.
  7. Masak gula merah dan sedikit air hingga terbentuk karamel
  8. Siramkan karamel sambil disaring ke dalam wadah kue yang sudah digoreng
  9. Tiriskan kue hingga karamel yang sudah melekat menjadi kering
  10. Kue keria siap dihidangkan

“Wah! Sudah jadi? Cepat sekali!”

“Gampang kok bikinnya. Enak enggak?”

“Enak banget! Kuenya lembut dan manisnya pas. Thank you, Bunda.”

Bikin yuk, donat kampung ala Melayu. Kue keria yang bikin semua jadi ceria.

Love, Rere

Kue Keria Easy Recipe

Try. Try Hard. Try Harder


Try. Try Hard. Try Harder

Kalau dipikir-pikir, universe beserta Sang Pencipta kadang bercandanya seru, ya?

Beberapa bulan lepas kita masih pergi ke mana pun kaki melangkah dengan bebas. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat dan membuat seluruh penghuni bumi dimasukkan dalam “sangkar” emas.

Berbulan-bulan hanya berdiam di rumah saja tentunya membawa banyak perubahan pada fisik dan mental. Biasanya aktif di luar rumah, sekarang harus menikmati detik demi detik kehidupan di dalam rumah saja. Bosan, jenuh, bete, hingga enggak tahu mau melakukan apa lagi.

Nah, apa yang bisa kita lakukan selama di rumah saja? Banyak! Salah satu contohnya adalah melakukan kegiatan yang disukai dan mencoba hobi baru setiap hari.

Bukankah a hobby a day will keep the boredom away? Jadi kenapa kita tidak berusaha mencoba banyak keahlian dan hobi?

“Ah, gue kan enggak berbakat kayak elu.”
“Elu mah megang apa aja jadi, Mak. Gue mah enggak bisa.”

Ih! Kalian tahu tak kalimat “tak kenal maka bisa utang … eh … maksudnya tak sayang”? Bagaimana sih kalian bisa tahu kalau tidak berbakat jika mencoba saja belum pernah. Padahal kegagalan itu masih lebih baik daripada keengganan. Mending gagal tapi pernah mencoba, daripada belum coba tapi sudah menyerah kalah.

Untuk itu, kalau kalian pikir saya bisa ini itu dari lahir, kalian salah. Sesungguhnya saya hanya punya semangat dan ketekunan. Semangat untuk selalu belajar hal baru, tekun mencari ilmu, serta rajin mencoba keahlian baru.

Tahukah kalian semua, jika semakin banyak hal saya temui dalam proses belajar ini, semakin saya paham bahwa sejatinya saya tidak tahu apa-apa. Untuk itu saya belajar membuka diri dan juga hati agar semua ilmu bisa saya pelajari tanpa ruangnya pernah saya batasi.

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk melihat video cara pembuatan beragam kerajinan tangan di internet. Kemudian saya mulai mencoba dan melakukan eksperimen sendiri. Kadang gagal, tapi saya tidak menyerah. Terus mencoba, itulah prinsip hidup saya.

Jadi, apa yang kalian lihat postingannya selama ini di beranda pribadi saya, adalah hasil dari sebuah proses belajar, proses mencoba, dan juga proses melakukan banyak kesalahan.

Begitulah cara saya belajar. Hingga tercipta beberapa hasil karya berupa macrame, wire weaving, resin, dan juga beberapa tulisan yang menunggu untuk dibukukan. Percayalah, memakai hasil karya sendiri itu sensasinya beda teman.

Jadi, masih mau bilang enggak bisa dan enggak berbakat? Think again.

Making mistakes simply means you are trying harder than anyone else.

Love, R

Recycle. Reuse


Recycle. Reuse

“Yah, bunda ambil kaos buluknya ya.”
“Hmmm.”
“Yang ini ya?”
“Itu kan bunda yang beli dari Amsterdam.”
“Nggak apa. Udah buluk. Kan tetep ada memorinya tapi lain bentuk.”

Cekres-cekres … si kaos buluk yang saya beli untuk sang “pacar” dulu waktu masih melanglang buana dan jajan terus, berubah menjadi sesuatu yang baru.

The memory will remain, hanya dalam bentuk yang lain. Kalau dulu kaosnya dipakai sebagai baju, sekarang sang kaos berubah menjadi tatakan gelas untuknya.

Gak punya tali macrame tapi punya kaos lama? Atau bedsheet bekas? Atau sarung yang sudah kekecilan? Bikin coaster alias tatakan gelas yuk. Bisa juga dijadikan hiasan dinding seperti Dream Catcher.

Bahan:
• Tali macrame yang sudah digunting 200cm 12 buah.
• Atau kain bekas (pilih bahan kaos) yang digunting 3cm sampai habis.
• Gunting, klip, meja kecil atau papan, crochet hook (optional), lem bening & kuas untuk merapikan (optional)
• Plus senyum bahagia.

Cara membuatnya ada di video yang saya bagikan di bawah ya.

Jadi, punya baju bekas jangan dibuang ya. Daur ulang jadi sesuatu yang baru dan bermanfaat. Lumayan kan?

Love, R.

Leyeh-Leyeh? Apaan Tu?


Leyeh-Leyeh? Apaan Tu?

“Elu gak pernah tidur ya, Bun?”

Hahaha! Ya tidur lah! Walau mungkin tidak terbiasa leyeh-leyeh and do nothing dalam sehari. Saya hanya tidur di malam hari.Matahari yang bersinar cerah rasanya tidak pernah bisa membuat saya mengantuk.

Susah mau liat saya duduk diam tidak melakukan sesuatu. Kecuali memang saya sedang tidak enak badan … eeee … walau biasanya makin sakit saya makin petakilan. Malas rasanya “melayani” rasa sakit. Lawan saja!

Mmm … atau mungkin saya bisa diam dalam keadaan puasa begini dan mendadak lemas seharian? Ya enggak juga. Selesai sahur dan Subuh, saya tidak pernah tidur dan berbaring lagi. Ada sih 1 hari kemarin saya menderita migraine parah dan terpaksa harus berbaring karena membuka mata saja sakit rasanya.

Selebihnya, saya lebih suka mengisi waktu dengan membuat sesuatu. Pokoknya setiap hari saya harus klutekan bebikinan. Apapun itu.

A hobby a day keeps the drama away, doesn’t it?

Seperti hari ini, saya membuat sebuah wall deco, hiasan dinding bertema daun, yang kemudian saya letakkan bersama dengan beberapa coaster yang sebelumnya sudah saya buat. Lalu saya tempel di sebuah sudut tempat ruang TV kami berada.

Lumayan kan?

Love, R.

Mandala


Mandala

Mandala dalam bahasa sansekerta berarti lingkaran. Konon merupakan simbol dari hidup yang tidak pernah berhenti berputar dan saling berhubungan satu dengan yang lain.

Kali ini saya mencoba membuat sebuah bentuk sederhana dari mandala, menggunakan tali yang saya punya saja. Cantik juga membuat macrame dengan banyak warna seperti ini, ya. Selama ini macrame saya hanya monotone, satu warna saja.

Macrame buatan saya kali ini bisa dipakai untuk hiasan bando anak-anak, atau digantung sebagai anting, bahkan bros cantik. Untuk headpiece juga keren lho jika dibuat dalam jumlah banyak dan digabungkan. Pasti kece berat.

Bagian depan dan belakangnya sama-sama cantik dan bisa digunakan sesuka hati. Seterahhh.

Kalian sudah bikin apa hari ini?

Love, R

When life gives you hands, make handmades.

Bosan? Recycle & Reuse, Yuk!


Bosan? Recycle & Reuse, Yuk!

Kalian kalau bosan ngapain, sih?

Kalo saya biasanya ngerjain yang gak puguh. Hahaha!

Sepagian ini saya memandangi hiasan dinding yang dibuat sewaktu awal belajar membuat macrame dulu. Hmmm … masih berantakan, simpulnya banyak yang salah, dan pattern nya acakadut. Tapi itu lah macrame pertama yang saya buat dengan modal nekat.

Saya punya kebiasaan menyimpan memorabilia benda-benda yang saya buat pertama kali. Sewaktu masih proses belajar, dan sedang belajar dari kesalahan. Wire weaving yang petat-petot, simpul macrame yang miring ke sana kemari, resin yang tak rapi permukaannya, dan banyak lagi. Semua saya simpan dan pakai kalau berbentuk accessories.

Beberapa saya ubah bentuk untuk menjadikannya lebih sedap dipandang, dan tentu saja karena saya bosan dan ingin melihatnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Iseng banget ya.

Nah, itu lah yang terjadi pagi ini. Hiasan dinding pertama saya tinggal kenangan. Bukan dibuang, namun diubah bentuknya menjadi coaster berbentuk unik yang bisa saya pakai sebagai alas untuk meletakkan piring, toples, atau vas bunga. Lebih gampang juga sih, saya letakkan di mana-mana daripada harus nuthuki paku ke tembok yang kerasnya ngaujubilleh ini.

Lumayan kan?

Love, R

Siap-Siap. Bikin-bikin


Siap-Siap. Bikin-bikin

Setelah selesai dengan coaster atau tatakan macrame, hari ini mata saya melirik sebuah botol kosong bekas tempat mayonaise.

Botolnya yang berbentuk bulat lucu memang tidak pernah saya buang. Biasanya saya pakai untuk meletakkan money plants yang sudah beranak hingga 5 botol. Coba duit beneran ya. Bisa lah saya beli kapal pesiar mewah.

Ah, yang ini saya bungkus saja lah dengan macrame. Anggap saja toples lebaran baru, lalu nanti saya letakkan di atas coaster yang kemarin saya buat juga. Cakep deh.

Ikat sana ikat sini, putar sana putar sini, plus salah ikatan, salah jumlah tali, saya lewatt seharian kemarin, karena design kali ini dibuat tanpa pattern sama sekali. Saya hanya mengikuti kemana tangan berputar. Hihihi!

Hingga ahirnya … voila!

Botol bekas jadi baru dan berbaju cantik, hasil bikin-bikin untuk persiapan lebaran nanti.

Mau coba? Gampang kok, asal sabar. Eeeaaa!

Love, R

Ikat. Sana. Ikat. Sini


Ikat. Sana. Ikat. Sini

Lebaran kali ini mungkin tidak akan sama seperti tahun kemarin.

Mungkin tidak akan terlihat pemandangan serombongan orang hilir mudik mengenakan baju berwarna seragam, berkunjung ke rumah sanak saudara. Mungkin tidak akan ada deretan toples kaca berisi kue manis khas lebaran yang menggugah selera. Mungkin. Tapi mungkin juga tidak.

Di tengah suasana yang serba tidak pasti ini semangat ber hari raya saya tetap membara di hati. Berharap bumi ini sesegera mungkin sehat kembali. Anggap saja ia sedang melakukan pembersihan diri seperti puasa kami.

Semangat itu yang membuat saya melirik gulungan temali di atas meja putih. Tempat saya banyak menelurkan kreasi. Kreatifitas yang tidak pernah saya biarkan mati. Malah semakin dipupuk dengan banyak belajar lagi. Saya ingin membuat sesuatu untuk menyambut lebaran nanti.

Ikat sana, ikat sini, tali temali berputar hingga jadi lah beberapa coaster cantik berwarna putih susu, sebagai hiasan meja kaca di ruang tamu. Beberapa untuk gelas minum atau toples cemilan, dan sebuah yang besar untuk entah apapun itu. Nanti saya pikir dulu, kalau lebaran jadi menerima tamu.

Jangan murung karena tebaran virus yang menganggu. Wajah yang merengut hanya akan membuat hilang manismu. Buatlah sesuatu untuk mengisi hari-harimu. Karena hidup harus tetap maju meskipun hanya di rumah melulu. Semangat dan tetap berkarya selalu. Buka mata dan cari tahu apa yang bisa dijadikan sesuatu yang baru.

Saya belum akan berhenti membuat ini dan itu. Bagaimana dengan kamu?

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda

Resep Lontong Goreng


Resep Lontong Goreng

Punya lontong atau ketupat sisa masakan sebelumnya? Mau diapakan ya?

Dia hari yang lalu saya membuat soto ayam, dan pagi tadi saya lihat kuahnya sudah kering namun pelengkap seperti ayam suwir, lontong, dan sayuran masih tersisa lumayan banyak. Hmmm … dibuang? Enggak lah yaw! Mubazir! Bikin lontong goreng saja, yuk. Apa saja bahan dan bagaimana cara membuatnya?

Bahan:

  • Lontong/ketupat
  • Bawang bombay
  • Cabe rawit
  • Terasi
  • Ayam suwir
  • Telur
  • Sayuran (sawi, tauge)
  • Teri medan/teri biasa
  • Fish sauce
  • Garam, penyedap.

Cara membuat:

  1. Iris tipis bawang bombay dan cabe rawit, tumis bersama terasi, teri medan, beri sedikit fish sauce, garam dan penyedap (optional).
  2. Masukkan 2 biji telur, orak arik. Kemudian masukkan ketupat yang sudah dipotong dadu, sayuran dan ayam suwir.
  3. Koreksi rasa.

Tips:

  • Bisa menambahkan sosis atau daging giling jika tidak ada ayam suwir.
  • Jangan terlalu kecil memotong ketupat karena bisa hancur selama pemasakan. Itu sebabnya lontong dimasukkan terakhir bersama dengan sayuran seperti tauge.
  • Sayuran seperti sawi atau kailan dimasukkan lebih dahulu supaya empuk.
  • Cabe bisa ditinggalkan kalau ingin memasak lontong goreng yang tidak pedas.

Nah, bisa jadi alternatif masakan baru tanpa membuang apapun, kan?

Happy cooking!

Reyn