Daster … oh … daster


Daster … oh … daster

Bahasan yang menarik karena menyangkut hajat hidup para perempuan. Hahaha!

Saya akhirnya paham dari mana asal usul pembahasan tentang daster yang seliweran di beranda kemarin.

Si Embak Quinn enggak sepenuhnya salah. Buat saya, ia hanya menghimbau para perempuan supaya memiliki self love. Self love bukan selfish ya, teman-teman perempuan terkasih.

Self love itu mencintai diri sendiri, bukan lantas menjadi egosentris, tapi merawat dan bertanggung jawab akan keberadaannya di dunia ini.

Embak Quinn hanya punya 1 kesalahan kecil, yaitu menyinggung soal daster. Baju sejuta umat perempuan, kebanggaan mereka semua. Pokoknya urusan daster, jangan coba-coba nyolek, deh. Tak kurang seorang selebritis cantik sekelas Sarwendah pun kerap menjadi contoh, karena sering terlihat mondar mandir berdaster ria. Tapi … sini ekeh bilangin. Doi mulus, Cint! Putih, mancung, langsing, rambut terawat. Jadi mau pake daster bolong pun enggak ada yang ilfil. Hahaha!

Saya pernah ada di fase males mengurusi diri sendiri, waktu hamil anak 1. Berpikiran bahwa, “ah gue udah laku ini,” menjadi pembenaran saya tampil kumut-kumut. Sampai suatu hari suami saya yang menegur dan minta saya kembali memperhatikan diri sendiri, seperti ketika ia pertama kali bertemu saya berseragam pramugari. Menurutnya saya nampak pucat sekali.

Saya termenung, dan lalu berpikir. Iya, sih. Jika bukan saya yang menghargai diri sendiri, lalu siapa lagi? Bukankah respect is earned, and not given? 😉

Saya pribadi memang bukan pemakai daster, bukan karena merasa diri elegan nan menawan. Eeeaaa. Saya memang bukan pemakai dress panjang juga. Buat saya, ribet. Tidak leluasa bergerak, padahal saya harus petakilan bak tarsan perempuan sehari-harinya. Alasan ke 2 adalah, saya menjadi abai dengan bentuk badan karena sudah nyaman berbaju gombrong bahkan bolong di banyak tempat.

Percayalah, baju-baju besar akan membuat kita tidak menyadari, betapa banyak lemak sudah tertimbun di sana-sini. Saya tidak mengatakan big is not beautiful. Buat saya yang petakilan ini, bobot tubuh yang berat akan membuat saya makin malas bergerak dan cenderung melambat. Sementara saya tak suka bergerak lelet jumelet.

Jadi, ambil bagian baik dari kata si Embak Quinn itu untuk perbaikan diri saja. Walaupun tidak perlu lantas berubah artificial, seperti berusaha keras agar nampak elegan tapi malah berujung menggelikan. Tetap lah menjadi diri sendiri dengan beberapa perbaikan untuk menunjukkan betapa kita mencintai tubuh dan jiwa yang sekian tahun bersama kita. Tanpa sadar bahkan kita dzolimi dan lupa bahwa ia juga butuh dirawat setiap hari.

Merawat dengan tujuan untuk menunjukkan respect pada diri sendiri, dan mengubah beberapa hal menjadi baik agar orang lain juga respect melihat kita. Meskipun 24/7 hanya di rumah saja, seperti saya.

Jangan alergi mendengar perempuan lain mengatakan hal-hal baik untuk perbaikan. Ambil yang baik, buang yang buruk. Jangan kelamaan menyimpan hal buruk, karena akan nampak di raut wajah kita, juga perilaku.

Jadi, mari berubah lebih baik dan semakin menghargai diri sendiri. Pakai lah dastermu lagi, asal ingat untuk selalu terbuka pada hal apapun yang membawa perbaikan diri.

Up up away! For a better me … and you!

Love, Rere