Mawar Untuk Ibu


Mawar Untuk Ibu

“Bapakmu mana, Nduk?”
“Bapak di rumah sakit Tentara, Bu. Di sana peralatannya lebih lengkap.”
“Ibu mau ketemu Bapak, Nduk.”

Lirih, ibu memintaku mengantarnya ke rumah sakit tempat bapak dirawat. Ibu, juga sedang dirawat di sebuah rumah sakit khusus penderita jantung. Mereka terpaksa dirawat berjauhan karena kondisi bapak yang semakin menurun, setelah terserang penyakit liver. Pagi itu, ibu bersikeras bangun dari tempat tidurnya dan ingin menemui bapak.

Ya, ia memaksa kami untuk mengajaknya pergi dan menjenguk sang suami. Suami yang selama 40 tahun lebih didampinginya keluar masuk hutan, berpindah tempat penugasan. Hingga 9 anaknya lahir di daerah yang berbeda-beda.

Bapak adalah sosok suami ideal di mataku. Berperawakan tinggi besar dan kulit kecoklatan, sekilas ia tampak garang. Namun, belum pernah sekalipun ia marah atau bersikap kasar pada 9 putrinya. Tutur katanya begitu santun, lembut, dan penuh cinta.

Kharismanya begitu luar biasa, hingga pada suatu hari, muncul seorang wanita sambil menggendong seorang bayi lelaki, yang tangannya juga menuntun seorang bocah lelaki mungil. Ia mengaku istri Bapak.

Ibu begitu terkejut, dan sempat pingsan tak sadarkan diri. Ia tak pernah mengira, lelaki yang sangat dicintainya dan nampak begitu sempurna sebagai seorang suami dan ayah itu, tega mengkhianatinya.

Ibu begitu terluka. Sejak hari itu, ia menolak tidur sekamar dengan bapak. “Aku jijik,” katanya. Kami semua begitu marah pada bapak, tapi segala kebencian dan amarah luluh kala ia memohon maaf atas kesalahannya sambil berurai airmata.

Meskipun begitu, ibu tidak pernah mengucapkan keinginan untuk berpisah. Tidak satu kata pun. Sementara bapak juga tidak mengurangi rasa sayang, cinta, dan tanggung jawabnya pada kami semua. Ibu bertahan dalam pernikahan semu demi kami, 9 putrinya yang tengah beranjak dewasa.

Pagi itu, kondisi ibu semakin melemah. Ia memang menderita penyakit jantung, dan sedang dirawat secara intensif. Bapak menempatkan ibu di sebuah rumah sakit khusus dengan pengawasan penuh. Sementara ia sendiri yang keadaannya juga semakin melemah, segera dilarikan ke rumah sakit tentara keesokan harinya. Keadaannya yang semakin mengkhawatirkan, membuat kami harus berbagi tugas. Kakak sulung hingga ke-4 bertugas menjaga bapak secara bergantian.

Aku, si bungsu dan kakak ke-5 dan 6, bertugas menjaga Ibu. Kakak ke-7 dan 8 ku berada di luar negeri, dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah kami.

“Dira, cepat datang. Kondisi Bapak semakin parah. Dokter bilang, tidak ada lagi harapan.”

Vira kakak sulungku, baru saja menghubungi sambil menangis. Ia memintaku segera datang menemui bapak. Dengan suara parau karena sekuat tenaga menahan tangis, aku meminta ijin pada ibu untuk keluar sebentar.

“Bu, Dira mau pulang dan mandi dulu, ya? Lapar juga, nih.”
“Kamu mau menemui bapakmu ya, Nak?”
“Ha? Oh, eh, bukan, Bu. Dira mau pulang sebentar saja. Belum mandi dari semalam, dan perut Dira keroncongan. Ibu nanti ditemani Suster Ani dulu, ya?”
“Bawa Ibu menemui bapak, Nak.”
“Tunggu Ibu kuat dulu, ya. Dira pamit, Bu.”

Ibu menggenggam erat tanganku. Ia bersikeras untuk ikut tak seperti biasanya. Sejak hari ia mengetahui pengkhianatan bapak, ibu memang bersikap dingin karena luka hati yang begitu dalam. Namun hari itu, ia terus menangis karena ingin bertemu bapak. Hatiku tak karuan rasanya. Perasaanku tidak enak.

“Maaf, saya dan tim sudah berusaha semampu kami. Tapi bapak sudah tidak tertolong. Maafkan, kami. Kami turut berduka cita.”

Duniaku seketika gelap dan runtuh. Bapak pergi meninggalkan kami, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata perpisahan, maupun cinta. Tanpa sempat bertemu ibu, istri yang mendampinginya dengan setia, meski sudah diduakan hatinya.

Bingung dan kalut kami semua, tak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar ini pada ibu. Sakit jantung yang dideritanya, membuat kami sepakat untuk menyembunyikan kabar duka ini darinya.

“Bapakmu sudah pergi ya, Nak?”

Aku menemui ibu sedang menangis tergugu sambil menggenggam secarik kertas berwarna biru. Di sampingnya, nampak seikat bunga mawar merah, kesukaannya sejak muda dulu. Gemetar, aku mengusap lembut tangan kurus ibu, seraya mengambil kertas itu dari genggamannya.

Noora, Istriku.
Maafkan segala salah dan khilafku padamu.
Aku benar-benar menyesal telah mengkhianatimu.
Cinta suci dan pengorbananmu telah kusia-siakan tanpa ragu.
Sembilan putri cantik hadiah darimu, tak juga membuat lengkap hidupku.
Aku ingin memiliki seorang putra sebagai penerus.
Namun ternyata kebahagiaan yang kuharap itu semu.
Aku kehilanganmu … cahaya hidupku.
Meski cintaku padamu tak sedikitpun berkurang karena itu.
Cinta yang akan kubawa hingga ujung waktuku.
Cinta yang ada di setiap merah kelopak mawar kesukaanmu.
Maafkan aku, Istriku.
Aku mencintaimu.
Aku hanya mencintaimu.

Bapak.

(Tamat)

Love, Rere

Mencari Ilham


Mencari Ilham

Menulis cerpen butuh mood dan bakat? Ah, itu hanya mitos belaka. Menulis itu butuh ilham.

Ya, seperti sebuah ilham yang kami dapat ketika pelatihan kemarin. Bahwa menulis cerpen adalah semudah makan semangkuk bakso pedas yang panas nan menggemaskan. Ilham yang ini adalah sang founder Rumah Media Grup. Entah karena beliau begitu hobi makan bakso atau memang semudah itu kah menulis sebuah cerita pendek?

Bagi para pemula, 3 cara mudah ini bisa diterapkan untuk awal menulis sebuah cerita pendek.

1. Sisihkan waktu

Sebuah cerita pendek bermuatan antara 1000 hingga 2000 kata saja. Maka menyisihkan 10-20 jam waktu kita untuk mencari ilham rasanya cukup.

2. Mencari ide

Kadang sebuah ilham muncul di mana saja dan kapan saja. Jangan sia-siakan ide yang muncul tiba-tiba itu. Sesegera mungkin catat di dalam sebuah buku saku, sebelum ia melayang dan pergi jauh.

3. Tentukan gaya

Mulailah dengan bersikap jujur sejak awal menulis. Tidak perlu berusaha meniru gaya seseorang dan berusaha keras menjadi orang lain. Be true to yourself.

Setelah 3 tahap awal ini berhasil dilakukan, pelatihan bersama Pak Ilham kemarin juga memberikan pencerahan berupa tips menulis cerpen. Apa saja tips yang sangat berguna itu?

1. Tema

Pilihlah tema yang memang dikuasai oleh penulis dan dirasa nyaman dengan diri sendiri. Karena dengan menguasai sebuah tema berarti penulis telah memiliki pengalaman dan tentunya telah mengumpulkan banyak informasi. Hal ini akan membuat cerita mudah diolah agar pembaca dapat memetik hikmah atau pelajaran di dalamnya.

2. Penokohan

Menentukan tokoh selanjutnya menjadi hal utama setelah tema. Hendaknya fokus hanya pada 1 hingga 3 tokoh saja dalam setiap cerita. Penokohan ini juga harus mempertimbangkan nama, sifat atau karakter masing-masing tokoh, serta perannya di dalam cerita.

3. Alur

Sebuah cerita tentu saja membutuhkan alur atau dinamika yang membuatnya hidup. Beberapa jenis alur bisa menjadi pilihan. Misalnya alur maju, yang berarti cerita tentang hari ini hingga esok atau lusa, atau alur mundur yang bercerita tentang hal yang lampau atau sebuah kilas balik. Alur campuran juga bisa dijadikan pilihan yang merupakan kombinasi antara alur maju dan kilas balik, biasanya ditemui pada sebuah novel.

4. Sudut pandang

Penentuan sudut pandang juga memegang peranan penting dalam sebuah cerita. Jika ingin menceritakan tentang aku, maka sudut pandang orang pertama bisa menjadi pilihan. Namun jika penulis ingin menjadi tokoh utama sekaligus pencerita, maka bisa memilih sudut pandang orang kedua. Menjadi pengamat atau sutradara dalam cerita, berarti penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.

5. Susastra

Susastra berarti semua hal yang berkaitan dengan karya sastra. Dalam hal ini berupa permainan bunyi atau rima, pengulangan kata menggunakan padanannya, atau dialog cantik antar tokoh di dalamnya. Penulis juga bisa menggunakan bahasa asing, kata-kata yang jarang dipakai, atau puisi untuk membuat jalan cerita lebih menarik. Penggunaan simbol sebagai penggambaran karakter juga bisa dijadikan salah satu bentuk susastra.

6. Judul

Setelah semua kerangka cerita didapat, pemilihan judul menjadi hal terpenting selanjutnya. Beberapa hal berikut ini bisa dijadikan cara penentuan. Pertama, judul harus menarik perhatian pembaca. Bisa dengan menggunakan kata-kata yang unik atau jarang digunakan. Nama tokoh utama dalam cerita juga bisa dijadikan alternatif. Kedua, judul tidak perlu terlalu panjang. Cukup satu kata asal mempesona, rasanya sudah membuat sebuah cerita menjadi magnet bagi pembaca.

Setelah semua hal tersebut didapat maka bagaimana cara penulis mengawali sebuah cerita pendek?

  1. Mulai dengan narasi atau deskripsi tokoh
  2. Mulai dengan percakapan

Setiap awal tentunya harus ada akhir, bukan? Setelah alur cerita selesai, bagaimana cara menentukan akhirnya? Berikut adalah 2 cara untuk menamatkan sebuah cerita, yaitu;

  1. Ending tertutup, berarti cerita berakhir dengan kebahagiaan atau kesedihan yang jelas.
  2. Ending terbuka, biasanya dipilih untuk sebuah cerita yang panjang karena penulis belum bisa menentukan akhirnya. Ending seperti ini membebaskan pembacanya untuk menentukan sendiri akhir konflik atau kisah di dalamnya. Keuntungan bagi penulis jika menggunakan ending ini adalah terbukanya kemungkinan untuk memunculkan cerita baru yang makin seru.

Jadi, masih berpikir bahwa menulis cerpen butuh mood dan bakat? Cobalah mulai mencari ilham tulisanmu. Jika tidak juga bertemu, silahkan mencarinya di pelatihan menulis yang lain bersama Ilham Alfafa, sang founder Rumedia Grup.

Sumber: Pelatihan Menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” bersama Ilham Alfafa

Love, Rere