Si Susah Sebut – Road To The Crystal Year


Si Susah Sebut – Road To The Crystal Year

Desember 2003

“Nama kamu gimana sih bacanya? Siyed? Said?”
“Bukan. Spelled as Saeed.”
“Susah banget, sih.”
“Panggil Bull saja. Tak susah, kan?”
“Kok, Bull? Kenapa kamu dipanggil, Bull?”
“Kata teman-teman, dulu sewaktu saya main sepakbola, saya hantam orang macam bulldozer.”
“Ha? Serem amat! Ya udah, Bull aja. Nggak susah sebut.”
“Kalau full name kamu?”
“Beuh. Full banget. Kamu nggak bakal inget, deh!”
“Siapa coba?”
“Susah pasti buat kamu.”
“Try me.”

Dengan pelan, kueja nama panjangku, yang dulu kerap ditertawakan teman-teman, saking panjangnya. Bahkan setiap kali mengisi formulir pengisian data diri dengan kotak-kotak per huruf itu, namaku nggak pernah cukup. Belum kalau harus ditambah Binti nama bapakku.

Apes betul laki-laki yang kelak menikahiku. Terbayang sulitnya mereka mengucapkan akad nikah dengan menyebut nama panjangku, ditambah binti nama bapakku. Ya, namanya sendiri tak kalah panjang bak deretan gerbong kereta api. Hahahaha!

Sayangnya, sambungan telepon Singapura – Jeddah itu tidak mampu merekam ekspresi wajah lelaki si susah sebut itu. Ah, belum tentu juga ia ingat namaku yang lebih susah sebut ini.

September 2005

Sembilan September 2005, di dalam sebuah kamar hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Lelaki bernama susah sebut itu, mondar mandir dengan muka tegang. Mulutnya terlihat komat kamit menghafalkan sesuatu.

Ia tidak memejamkan mata semalaman. Tegang, katanya. Ia juga mendadak kehilangan selera makan.

“Semoga esok lancar, dan semoga aku bisa mengingat nama panjang si kurus … yang susah sebut ini.”

Love, Rere

Keliling Dunia


Keliling Dunia

Ujung tahun 2000 waktu itu, ketika airmata saya menetes di atas pesawat yang bertolak dari Jakarta menuju Jeddah. Ada rasa yang mendadak hilang hingga membuat lutut saya terasa lemas. Jantung saya berdebar membayangkan sebuah tempat nun jauh di belahan bumi lain, ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahiran.

Memang pergi ke luar negeri adalah cita-cita saya sedari kecil. Meski tidak banyak anak seusia saya yang berpikir untuk menjadikannya sebuah keinginan. Kebanyakan dari mereka menjadikan sebuah profesi sebagai mimpi masa depannya. Namun tidak bagi saya.

Nyatanya menjadi seorang awak kabin adalah jalan saya mewujudkan mimpi itu. Kalau tahu, dulu saya bercita-cita saja menjadi seorang pramugari, hingga tidak ada orang yang tertawa geli mendengar seorang bocah SD menjadikan pergi dan tinggal di luar negeri sebagai mimpinya.

Meskipun belum seluruh belahan bumi yang begitu luas ini saya datangi, namun banyak pengalaman batin membuat saya merasa kaya. Ya, kaya pengalaman yang menjadi bekal saya memandang banyak hal saat ini.

Pernah mendengar sebuah tempat bernama Khartoum? Mungkin tidak banyak yang tahu atau sadar bahwa ada sebuah kota bernama Khartoum yang menjadi ibukota negara Sudan. Dalam penerbangan menuju tempat itu, pesawat kami penuh berisi deportees, atau mereka yang diusir dari negara lain karena sebab tertentu. Jangan bayangkan perjalanan ini fancy ya. Hampir seluruh penumpang tidak memakai alas kaki, bahkan ada yang sudah berhari-hari tidak mandi.

Pesawat berhenti di sebuah tempat yang sejauh mata memandang hanya berupa deretan gurun yang kering dan tandus. Kami bahkan harus membuka seluruh pintu pesawat karena aroma menyengat yang ditinggalkan para penumpang. Miris melihatnya, sambil mengingat sejarah tertindasnya bangsa mereka sejak jaman dahulu kala.

Perbedaan warna kulit … gumam saya pelan.

Khartoum bukan satu-satunya pengalaman menakjubkan yang pernah saya lalui. Banyak sekali cerita penuh warna saya temui. Pekerjaan ini memang membawa saya berinteraksi dengan banyak budaya, ras, bahkan hingga akhirnya bertemu sang belahan jiwa. Bahwa hidup adalah sebuah pilihan, terjadi setelahnya. Meski dengan sedikit berat hati, saya berhenti dari pekerjaan yang saya cintai karena banyak memperkaya batin itu.

Beruntung saya tidak dibesarkan untuk melihat perbedaan. Maka berada di mana pun bagi saya tetap menyenangkan. Meski berkali-kali tergagap mengikuti alur sekitar, namun jiwa petualang membuat saya mampu bertahan. Apalagi kali ini saya harus hidup berdampingan dengan beberapa ras sekaligus. Cina, India, Melayu, dan etnis lain menjadi pengalaman baru yang semakin memperkaya kehidupan di tahun ke-14 saya tinggal di negara multikultural ini.

Beruntungnya saya. Setelah pernah keliling Indonesia https://reynsdrain.com/2020/08/18/keliling-indonesia/ lalu keliling dunia, sekarang membesarkan anak-anak di tengah banyak perbedaan https://reynsdrain.com/2020/08/07/rumah-ke-2/

Tidak banyak harta ayah dan bunda kelak tinggalkan, Nak. Namun pengalaman serta terbukanya wawasan akan menjadi bekalmu memandang indahnya kehidupan. Indah karena beda. Beda yang harus dihargai keberadaannya sebagai anugerah dari Sang Pencipta.

It’s not about being all the same. It’s about respecting differences.

Love, Rere

Tujuh Puluh Lima


Tujuh Puluh Lima

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang

Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Tercekat dan bergetar rasa hati setiap kali mendengar lagu ini bergema. Bukan hanya karena indahnya kata dan syahdunya nada, namun semata karena rindu yang begitu kuat merebak.

Berada jauh dari sanak saudara dan tanah air tercinta, tidak pernah menyurutkan rasa cinta kami semua pada Indonesia. Ibu pertiwi tempat kami pertama kali merasakan segarnya udara dan indahnya warna warni dunia.

Bersama kami menyatakan cinta dan rasa untukmu negeri tercinta, yang hari ini semakin menua. Tujuh puluh lima tahun sudah, semoga tetap jaya dan bersama kita bersatu, merajut asa dalam perbedaan … dengan penuh cinta.

Salam persatuan dari kami, para ibu perantau, asal Indonesia.

Merdeka! 🇲🇨

Tanah Air – Ibu Sud

Rumah Ke-2


Rumah Ke-2

Empat belas tahun sudah saya turut merasakan gegap gempitanya warna merah putih berkibar di negara ini. Merah putih yang berhias bulan dan bintang.

Empat belas tahun yang tanpa terasa saya lalui di negara sejuta denda ini dengan segala pasang surutnya yang bak roller coaster nya kehidupan. Seru dan selalu menantang.

Jika ditanya apakah saya menikmati setiap detik yang saya lewati selama ini, jawaban saya tentu saja ya. Singapura adalah rumah kedua saya. Tempat dimana saya membangun keluarga kecil dan mengajarkan anak-anak segala hal tentang kebaikan, kepekaan sosial, keberagaman, kesetaraan, tanggung jawab, dan tentu saja disiplin.

Singapura memang menyenangkan. Bersih, teratur, tertib, patuh, tenang, nyaman, aman. Walau aman bukan berarti tanpa kewaspadaan. Low crime doesn’t mean no crime, begitu ujar suami saya yang kerap mengingatkan kami semua untuk tidak terlena dan lengah.

Beragam budaya, bahasa, ras hingga agama, tumbuh bersama dan saling berdampingan di negara ini. Tanpa saling caci, hujat, maupun mengecilkan satu sama lain.

“We, the citizens of Singapore, pledge ourselves as one united people regardless of race, language or religion, to build a democratic society based on justice and equality so as to achieve happiness, prosperity and progress for our nation.”

Pledge yang setiap pagi wajib dibaca semua murid di sekolah ini benar-benar menunjukkan, betapa semua warganya harus hidup rukun dan saling menghargai. Jika ingin ketenangan dan kenyamanan hidup betul-betul tercapai.

Meski hanya sebuah titik kecil di peta dunia, Singapura memang luar biasa. Hingga tenang rasanya hati menjadikannya rumah kedua.

Selamat 55 tahun Singapura! Semoga makin luar biasa dan menjadi satu titik kecil yang terus bersinar terang di peta dunia.

Love, Rere

Singapore National Day 9 August 1965 – 9 August 2020

Kenalan, yuk!


Kenalan, yuk!

“Suka baking ya, Bun?”

Melihat beberapa postingan saya tentang baking, seorang sahabat bertanya apakah saya memang hobi membuat kue atau roti.

“Sama sekali enggak,” demikian jawab saya padanya. Hahaha!

Jika dibandingan dengan membuat kue, memanggang roti, atau membuat makanan sejenis, saya lebih memilih untuk memasak. Tidak telaten rasanya jika harus mengaduk adonan lama-lama, atau menguleni hingga lengan pegal-pegal, atau membentuk satu demi satu penganan. Beda sekali dengan masakan. Satu kali masak, saya bisa menyediakan sekian banyak porsi tanpa harus lama-lama berdiri di dapur.

Namun tak suka bukan berarti saya menolak untuk mencoba. Justru karena keengganan itu saya jadi tertarik untuk belajar. Ya, pilihan saya jatuh untuk belajar di sebuah studio.

“Apa bedanya dengan belajar sendiri lewat internet? Malah gratis.”

Betul banget. Banyak sekali mereka yang dengan sukarela berbagi resep bahkan video tutorial langkah demi langkah membuat beragam masakan. Kadang saya juga dengan rajin mencari postingan seperti ini, lho. Mencatatnya, kemudian beberapa kali mencoba sendiri. Sebagian berhasil, meskipun banyak yang gagal dengan sukses. Hahaha!

Memutuskan untuk mengikuti kelas membuat kue dan roti di sebuah tempat tentu saja dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah tips dan trik dari mereka yang ahli di bidang ini. Satu hal yang tidak mudah saya dapat dari internet, karena beberapa tutorial hanya menyajikan hasil akhir yang cantik. Padahal sebelumnya mereka melakukan banyak trial and error di balik layar tanpa kita sadari.

Pertimbangan selanjutnya adalah keseruan memasak bersama para sahabat. Meskipun saya bukan orang yang terlalu suka bepergian, tapi bertemu mereka lalu memasak hingga tertawa bersama, adalah salah satu cara melepas penat dan rutinitas harian di rumah. Beda lho rasanya memasak sendiri dengan bersama teman. Seru!

Lambat laun saya makin cinta dengan perbakingan. Pupus sudah keyakinan bahwa saya dikutuk oleh semua oven di dunia ini. Ternyata saya hanya belum kenal, makanya belum cinta.

Jadi, keluar dari zona nyaman memasak itu ternyata seru juga, lho. Seseru hasil baking saya beberapa hari ini dengan mencoba beberapa resep kekinian dengan hasil yang kece berat. Burnt Cheese Cake, Volcano Garlic Bread, dan Camembert Noix it is, guys!

Wow! Your cake and breads are awesome, Bunda! So yummy!” dan ini yang membuat saya makin bersemangat mencoba banyak hal baru.

Jadi … masih mau bilang enggak suka bikin ini itu? Cobaaaa kenalan duluuu.

Love, Rere

Kue Keria Bikin Ceria


Kue Keria Bikin Ceria

“Pingin deh makan kue keria. Bunda bisa buat?”
“Hmmm … belum pernah buat sih, tapi boleh coba.”

Apa sih kue keria itu?

Kue keria adalah sejenis donat ala Melayu. Berbeda dengan donat biasa yang berbahan tepung dan ragi, bahan dasar penganan ini adalah ubi, dengan campuran tepung, dan berlapis karamel gula merah.

Yummy!

Berikut ini resep dan cara membuatnya yang sangat mudah.

Bahan:

  • 4 buah ubi/sweet potato
  • 1 cup tepung terigu
  • 1 sdm tepung beras
  • ½ sdt baking powder
  • ½ cup air
  • 1 sdm gula pasir
  • Gula merah

Cara membuat:

  1. Kukus ubi hingga empuk
  2. Haluskan bersama 1 sdm gula putih
  3. Masukkan tepung terigu, tepung beras, dan baking powder yang sudah diayak
  4. Tambahkan air lalu uleni hingga kalis
  5. Siapkan sebuah piring yang telah ditaburi tepung
  6. Cetak adonan berbentuk cincin/donat kemudian goreng dalam api yang sudah panas.
  7. Masak gula merah dan sedikit air hingga terbentuk karamel
  8. Siramkan karamel sambil disaring ke dalam wadah kue yang sudah digoreng
  9. Tiriskan kue hingga karamel yang sudah melekat menjadi kering
  10. Kue keria siap dihidangkan

“Wah! Sudah jadi? Cepat sekali!”

“Gampang kok bikinnya. Enak enggak?”

“Enak banget! Kuenya lembut dan manisnya pas. Thank you, Bunda.”

Bikin yuk, donat kampung ala Melayu. Kue keria yang bikin semua jadi ceria.

Love, Rere

Kue Keria Easy Recipe

Try. Try Hard. Try Harder


Try. Try Hard. Try Harder

Kalau dipikir-pikir, universe beserta Sang Pencipta kadang bercandanya seru, ya?

Beberapa bulan lepas kita masih pergi ke mana pun kaki melangkah dengan bebas. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat dan membuat seluruh penghuni bumi dimasukkan dalam “sangkar” emas.

Berbulan-bulan hanya berdiam di rumah saja tentunya membawa banyak perubahan pada fisik dan mental. Biasanya aktif di luar rumah, sekarang harus menikmati detik demi detik kehidupan di dalam rumah saja. Bosan, jenuh, bete, hingga enggak tahu mau melakukan apa lagi.

Nah, apa yang bisa kita lakukan selama di rumah saja? Banyak! Salah satu contohnya adalah melakukan kegiatan yang disukai dan mencoba hobi baru setiap hari.

Bukankah a hobby a day will keep the boredom away? Jadi kenapa kita tidak berusaha mencoba banyak keahlian dan hobi?

“Ah, gue kan enggak berbakat kayak elu.”
“Elu mah megang apa aja jadi, Mak. Gue mah enggak bisa.”

Ih! Kalian tahu tak kalimat “tak kenal maka bisa utang … eh … maksudnya tak sayang”? Bagaimana sih kalian bisa tahu kalau tidak berbakat jika mencoba saja belum pernah. Padahal kegagalan itu masih lebih baik daripada keengganan. Mending gagal tapi pernah mencoba, daripada belum coba tapi sudah menyerah kalah.

Untuk itu, kalau kalian pikir saya bisa ini itu dari lahir, kalian salah. Sesungguhnya saya hanya punya semangat dan ketekunan. Semangat untuk selalu belajar hal baru, tekun mencari ilmu, serta rajin mencoba keahlian baru.

Tahukah kalian semua, jika semakin banyak hal saya temui dalam proses belajar ini, semakin saya paham bahwa sejatinya saya tidak tahu apa-apa. Untuk itu saya belajar membuka diri dan juga hati agar semua ilmu bisa saya pelajari tanpa ruangnya pernah saya batasi.

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk melihat video cara pembuatan beragam kerajinan tangan di internet. Kemudian saya mulai mencoba dan melakukan eksperimen sendiri. Kadang gagal, tapi saya tidak menyerah. Terus mencoba, itulah prinsip hidup saya.

Jadi, apa yang kalian lihat postingannya selama ini di beranda pribadi saya, adalah hasil dari sebuah proses belajar, proses mencoba, dan juga proses melakukan banyak kesalahan.

Begitulah cara saya belajar. Hingga tercipta beberapa hasil karya berupa macrame, wire weaving, resin, dan juga beberapa tulisan yang menunggu untuk dibukukan. Percayalah, memakai hasil karya sendiri itu sensasinya beda teman.

Jadi, masih mau bilang enggak bisa dan enggak berbakat? Think again.

Making mistakes simply means you are trying harder than anyone else.

Love, R

Dirawat VS Diedit


Dirawat VS Diedit

“Cantik banget siiiihh kamu!”
“Hahaha! Editan itu. Filter maksimal, Cint.”
“Ah, gak diedit juga udah cantik.”
“Kata siapa? Cantik itu kudu dirawat Cint. Perawatan mahal jadi … edit aja. Gratis dan bikin bahagia!”

Hahaha!

Ini adalah kalimat yang biasa saya ucapkan ketika menerima pujian dari beberapa sahabat setelah mengunggah hasil swafoto di media sosial.

Ya, saya memang kadang menggunakan aplikasi untuk mendapat hasil foto yang bagus. Paling tidak membuat saya bahagia. Walaupun saya berusaha untuk tidak terlihat terlalu mulus dan flawless. Nanti yang bertemu langsung dengan saya bisa makjegagig kaget, karena ternyata aslinya tidak seindah tampilan di layar gawai.

Berbicara soal perawatan, siapa sih yang tidak ingin merawat tubuh dan kulitnya secara paripurna? Tahukah kalian semua, betapa kami para perempuan ini sebenarnya khawatir? Semakin menua, kulit kami tidak menjadi semakin mulus dan glowy. Semakin bertambah usia, yang tadinya kencang menjadi serba melorot. Mata yang tadinya berbinar indah, menjadi berkantung tebal dan kehilangan sinar.

Belum lagi bertambahnya babat dan timbunan lemak di banyak tempat. Padahal kami sudah berusaha menjaga pola makan dan menghindari beberapa jenis makanan. Tetap saja kami tidak bisa selangsing Sophia Latjuba dan secantik Putri Marino. Mereka sih rasanya tidak perlu repot melakukan diet ketat atau perawatan maksimal, bahkan rasanya mereka tidak pernah menggunakan aplikasi untuk mempercantik tampilan.

Uhari pernikahan saja pipi mereka tidak diteploki bedak dan shading setebal 2 mm kok. Coba kalau kita yang tidak full make up di hari pernikahan. Sudah pasti tampilan kita akan seperti orang yang baru bangun tidur. Bengkak dan kusam.

Perawatan yang saya lakukan di rumah juga terbilang lengkap. Tentu saja, bila mengingat mahalnya melakukan perawatan ke salon kecantikan di negara ini. Awalnya saya berpikir, daripada ke salon mendingan saya rawat sendiri di rumah. Karena jika dihitung akan jauh lebih murah dan hemat.

Bagaimana dengan suami saya? Apakah ia mendukung cara saya melakukan perawatan ini? Ya tentu saja jika ingin melihat saya tampil mendekati seperti 15 tahun yang lalu ketika ia pertama kali terpana melihat saya. Eeeaaaaaa!

Para suami tentu saja harus memberikan dukungan penuh jika menghendaki sang istri tampil menawan bak polesan aplikasi peluntur kekusaman. Jangan hanya menuntut kami ini bekerja di rumah seperti kuli dengan tampilan wajib bak gadis muda kinyis-kinyis, yang bahkan menyalakan kompor saja masih meringis.

Namun sebagai perempuan yang sudah menjadi ibu juga harus paham, bahwa ada banyak hal yang butuh perhatian lebih sekarang. Skala prioritas hidup harus sedikit diatur walau tidak melupakan kebutuhan pribadi.

Lihat kan regime perawatan muka saya? Semua ini tidak berharga murah memang. Tapi saya membelinya dari menyisihkan uang jatah jajan saya sendiri. Ya, saya menghadiahi diri sendiri uang jajan setiap bulan yang bisa dengan bebas saya pergunakan.

Nah, daripada saya menghabiskannya untuk nongkrong cantik atau arisan di resto mewah, saya menyisihkannya untuk membeli beberapa alat perawatan kulit dan wajah. Semacam investasi kecantikan.

Lantas, dipakai tidak? Yaaaaa kebanyakan sih setelah berakhirnya uforia, mereka akan teronggok di sudut lemari kaca. Lantas butuh suntikan semangat untuk menggunakannya kembali. Saya sih masih pakai kok sesekali. Sayang juga sudah mahal-mahal dibeli.

Segitu amat ya perawatannya? Sementara kebanyakan dari kita merasa, “Ah sudahlah. Begini juga sudah laku dan beranak pinak.” Betul tidaakkk? Padahal pikiran seperti itu yang sebenarnya lambat laun akan membuat kita makin malas merawat tubuh hingga kehilangan rasa cinta pada diri sendiri.

Saya sih juga seringnya malas melakukan perawatan sendiri. Namun biasanya dengan beberapa sahabat kami saling menyuntikkan semangat untuk rajin merawat diri. Kadang juga janjian menyeberang pulau untuk pergi ke salon kecantikan dengan harga yang jauh lebih murah daripada di sini.

Jadi, perlu kah kita merawat diri hingga tak lagi butuh sekedar mengedit dengan aplikasi? Jika dengan aplikasi saja kita sudah bahagia, ya lakukan saja. Bebas. Yang penting mencintai dan menyayangi diri sendiri itu juga wajib.

Eyow para suami, bantu istri-istrimu di rumah. Jika tidak menghendaki mereka menghabiskan uang untuk melakukan perawatan, setidaknya berikan dukungan secara verbal bukan melulu perundungan.

“Gendut amat sih, Ma?”
“Kusem amat tu muka, Bun!”
“Lihat deh ini Yuni Shara umur 50 tahun masih kinclong enggak kayak kamu, Mi!”

Oy! Percayalah, ini semua dilakukan para perempuan untuk membahagiakan anda semua. Jadi berikan dukungan, modali istrimu untuk sesekali pergi ke salon kecantikan, dan berikan waktu untuk menghibur diri sejenak dari rutinitas harian. Above all, watch your words! Karena tajamnya bisa menusuk lebih daripada pedang.

Trust me, being a woman is never easy. We have to think like a man, work like a horse, and look like a young girl.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

LEBARAN 2020


LEBARAN 2020

Lebaran kali ini memang beda
Tak ada mudik dan sungkem pada orang tua
Hanya bisa berjabat tangan di dunia maya
Namun banyak cinta bisa saya rasa
Datang dari banyak arah dan cara

Ada tetangga yang tak henti memberi bingkisan
Saudara tercinta yang berbagi masakan
Teman-teman yang mengirim ucapan
Dengan doa yang tulus dipanjatkan
Padahal mereka lintas keyakinan

Buat saya inilah namanya rejeki
Tersebar dari berbagai arah dan juga pribadi
Teman, sahabat, saudara, dan orang terkasih
Rasanya syukur ini tak habis-habis saya bagi
Terima kasih untukmu semua yang baik hati

Walau pintu rumah tak penuh terbuka
Tangan ini juga tak mampu berjabat erat
Lewat teknologi, ikatan kita bisa merekat
Menyebarkan cinta walau jarak tersekat
Anugerah apa lagi yang hendak kita minta?

Lebaran 2020 ini memang berbeda
Tak bisa bersua dan berbagi bahagia
Namun semangat harus tetap membara
Mau berjumpa, kita pakai zoom saja
Ujung Indonesia hingga dunia bisa dijangkau dalam sekejap saja

Lebaran kali ini mengajarkan banyak hal. Tentang arti kesabaran dan juga belajar. Para ibu harus semakin sabar mengurus rumah tangga, anak, serta suami tanpa jeda. Para ayah harus belajar menjadi imam ibadah tarawih hingga sholat Eid. Siapa pernah mengira.

Akhir pandemi ini tak ada seorang pun tahu. Mungkin ia tidak akan pernah berlalu. Tinggal kita yang harus memutuskan apakah akan terus terpuruk atau bergerak maju. Semoga kesedihan tak membuatmu lemah dan lesu.

Selamat hari raya untuk kita semua. Semoga sehat senantiasa dan tetap berbahagia.

Love, Rere

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynila

MOTHER


MOTHER

Identik dengan pengorbanan. Berkorban bentuk badan, berkorban kesenangan pribadi, berkorban prioritas, berkorban jati diri.

Badan yang langsing bak gitar Spanyol, kulit tangan yang halus dan perut mulus, rambut indah yang bak mayang terurai, semua berubah di hari ia dipanggil Ibu.

Kesenangan pribadi sekedar nongkrong di kedai kopi dengan teman sejati, harus berhenti sejak kemana-mana ia harus menggendong sang buah hati.

Prioritas diri yang kadang hanya ingin belanja keperluan pribadi, harus berganti dengan tumpukan buku pelajaran, atau belanjaan dapur pengisi perut para bocah kecil dan sang suami.

Jati diri yang di masa kinyis-kinyis terkenal manis penuh senyum tersungging, berganti menjadi sosok pemarah, tukang ngomel, hanya karena lantai toilet yang dirty.

Ahhh … Ibu, Emak, Mommy, Mother, Mom, Mama, Mamak, Bunda, Simbok, Umi, percayalah.

Segala pengorbanan itu terbayar tuntas ketika kelak anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bebas, dan cerdas. Berani berkata lugas, namun juga cergas.

Mereka, yang bagimu adalah pelajaran tanpa akhir dan kelas. Mereka yang akan mendoakanmu ketika mulai meranggas, hingga tiba saat tinggal landas.

Happy Mother’s Day untukmu semua perempuan hebat di seluruh dunia. Terima kasih pada para suami yang siap sedia mendukung sang istri pada setiap detik perjalanan hidupnya … menjadi sosok lain bernama IBU.

Mothers, love yourself! It’s not selfish.

Love, R