Masjid Sultan – Singapore Out And About


Masjid Sultan – Singapore Out And About

Siapa tak kenal dengan bangunan bersejarah satu ini?

Sultan Mosque atau Masjid Sultan. Dipakai sebagai tempat peribadatan secara resmi pada tahun 1929. Mengambil nama Sultan Hussain yang mendirikan masjid ini sekitar tahun 1824, di samping istananya yang berlokasi di daerah Kampong Gelam. Bangunan ini lalu diabadikan sebagai monumen nasional pada tahun 1975. (Wikipedia)

Terdiri dari 2 lantai, yang bagian atasnya adalah tempat khusus beribadah kaum perempuan. Sementara tempat berwudhu dan kamar kecil ada di sisi sebelah kanannya.

Oh ya, jangan harap bisa melangkah masuk ke dalamnya jika anda tidak memakai pakaian yang rapi dan sopan. Namun jangan khawatir, para penjaga yang duduk di tangga masuk masjid telah menyediakan sarung atau abaya yang bisa anda pinjam dan kenakan jika ingin mengunjungi bagian dalam masjid.

Untuk memanjakan perut, terdapat banyak sekali restoran dan cafe di bagian luar bangunan megah ini. Mulai dari kuliner khas warga Melayu, Lebanesse, Arabs, Moroccans, India, hingga rumah makan Padang pun juga tersebar di sekitarnya. Tak ketinggalan toko-toko roti yang wanginya semerbak pun sangat menggoda untuk didatangi. Ingin membawa buah tangan untuk keluarga di rumah? Para penjaja suvenir khas negara ini pun bisa disambangi di bagian luar masjid.

Jangan lupa, segala perlengkapan umrah dan haji juga bisa didapat di sekitar bangunan ini. Harganya? Lumayan masih terjangkau lah.

Oh, jangan lupa berfoto ya. Ini adalah salah satu tempat dengan spot foto terbaik di negara ini. Pokoknya Instagrammable deh! Caelah!

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Haji Lane – Singapore Out & About


Haji Lane – Singapore Out & About

Terletak di antara gang sempit, kawasan ini memang terkenal sebagai salah satu spot foto yang instagrammable. Caelah!

Siapa mengira, bahwa di antara tahun 1800-1960an, toko-toko yang berjejer di kiri kanan itu adalah pondok tempat para jemaah haji menginap, dalam perjalanan menuju Mekkah. Demi menghemat uang saku, mereka akan berjualan apa saja yang penting laku. Dari sini lah nama Haji Lane didapat kawasan ini.

Kurun waktu 1960-1970an, tempat ini kemudian terkenal sebagai tempat belanja penduduk Melayu yang hidup kekurangan. Mereka bisa mendapat banyak barang berharga murah di sini.

Beda sekali dengan sekarang ya. Setelah menjadi salah satu spot berfoto para turis, sebuah henna sederhana yang dilukis di atas tangan bisa berharga $15-$25. Padahal cuma gambar setangkai bunga sederhana. Oh, well.

Di tempat ini bisa ditemukan banyak sekali cafe, tempat makan termasuk rumah makan Padang. Tidak ketinggalan tempat belanja barang-barang khas Turki seperti lampu-lampu cantik dan karpet indah. Pastinya beragam kain-kain cantik dengan harga yang lumayan bikin dompet mlipir cantik. Mencari wewangian atau oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah? Juga ada di sini.

Oh ya, selain Sari Ratu sebagai tujuan mengisi perut dengan cita rasa khas Indonesia, Kampung Gelam Cafe adalah salah satu tempat yang bisa dijadikan alternatif untuk menyicipi kuliner khas Melayu. Menu seperti lontong, mee siam, mee rebusnya maknyussss! Harganya pun ramah di kantong. Ada pula kuliner khas Swedia seperti Fika Cafe, atau masakan khas timur tengah. Semua berjejer rapi demi memanjakan lidah.

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Movie Night


Movie Night

Ayah, can we have a movie night today and everybody sleep together in the living room?”
“Okay
Rayyan. Guys, we’re gonna sleep outside tonight.”
“Nooooo! I don’t want
Ayah.”
“Why?”
“I just don’t want.”
Bundaaaaaaaa! The girls don’t want to sleep outside tonight!”


Satu hari dalam seminggu biasanya kami sekeluarga memiliki jatah movie night. Memutar film di ruang tamu hingga dini hari, dan menggelar alas untuk tidur berlima di lantai. Ya, di lantai ruang tamu dengan alas seadanya.

Setelah beberapa lama, kegiatan ini tidak kami lakukan, hingga kemarin Rayyan si bungsu pun mengajak sang ayah dan kedua kakaknya untuk menggelar movie night lagi.

Sayangnya ide ini serta merta ditolak oleh kedua putri saya, hingga sang ayah mengadu dan mengatakan idenya dihempas tanpa ampun. Kemudian saya memanggil Lana dan Lara bergantian.

Adik, do you want to have a movie night tonight?”
“Okay,
Bunda.”
“We sleep together in the living room okay?”
“Okay!”
Kakaakkk, how about you?”
“Okay
Bunda.”

“Haaaaa? Why so easy? Why you give her different answer? You said you didn’t want to sleep outside just now?” Tanya sang ayah yang idenya ditolak mentah-mentah beberapa menit sebelumnya.

Ayah, that’s the importance of communicating effectively.” Jawab saya dengan senyum sumringah tanda kemenangan.

Kalau saja saya mengajak mereka untuk sekedar tidur bersama di lantai ruang tamu yang tidak nyaman, pasti ide ini juga akan ditolak mentah-mentah. Jadi, saya menggunakan ajakan persuasif yang seru seperti menggelar movie night untuk mengajak mereka, dan langsung diterima tanpa banyak protes. Padahal intinya sama-sama ajakan untuk tidur berlima di lantai ruang tamu.

Well, what can I say? Motheeerrrr knows best!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

Susah? Senengin Aja!


Susah? Senengin Aja!

Cerita tentang sang mantan … teman sekamar kemarin memunculkan beberapa opini dari banyak sisi. Terima kasih ya teman-teman. Jangan khawatir, saya tidak berteman dengannya di sosial media. Rasanya juga ia tidak memiliki aktifitas apapun di dunia maya.

Amaaan. Eh!

Mungkin salah satu yang membuat gemas adalah cerita tentang kontradiktifnya ia, ketika marah mendengar suara derit pintu tapi memutar musik dengan keras, ketika saya sedang melaksanakan ibadah, tanpa ragu. Kenapa saya bisa sesabar itu? Kalau orang lain mungkin sudah marah karena merasa terganggu. Mungkin juga beberapa merasa saya terlalu mengalah dan lugu. Ah … senangnya punya teman yang begitu peduli, aylapyu!

Waktu itu saya tidak marah padanya, tidak juga menegurnya. Kenapa? Saya merasa, sholat saya seharusnya bisa khusyuk bagaimanapun keadaan di sekitar saya. Be it musik yang berdentum keras, orang yang mondar-mandir di hadapan, atau mungkin suara mereka yang sedang bercakap-cakap dengan volume tinggi.

Ya, memang sesederhana itu saja alasan saya.

Sama hal nya ketika sedang berpuasa, saya juga tidak lebay meminta orang lain paham dan bertenggang rasa. Yang puasa saya, kenapa orang lain harus ikut menanggungnya? Ini juga yang saya ajarkan pada anak-anak yang pernah bercerita tentang bagaimana mereka melihat teman lain, yang tidak berpuasa, meneguk minuman dingin di hadapan mereka yang sedang berpuasa.

Saya sedang mengajarkan anak-anak untuk tidak jadi manusia yang rese, mengharap orang lain selalu memahami situasi mereka, dan menjadi marah ketika sekitar tidak menunjukkan dukungan.

Hidup itu jadi sulit ketika kita memperlakukannya dengan sulit.
Hidup akan menjadi susah ketika kita menyusahkan sekitar, atau susah ketika melihat orang lain tidak susah.

Bersamaan dengan cara saya membuang semua hal yang negatif, saya juga belajar buat lebih mendengar dari banyak sisi. Seperti bagaimana saya mendengar segala keluh kesah Salwa tentang roomate nya dulu. Saya bahkan juga membuka diri dan telinga dengan segala aturan darinya sebagai pemilik kamar terdahulu. Tanpa perlu menyusahkan diri untuk berdebat, saya mengambil percakapan itu untuk kemudian menganalisa dan mengambil kesimpulan, bagaimana harus menghadapi seseorang yang lumayan ajaib sepertinya.

Susah? Senengin aja!

Saya hanya ingin kehidupan yang damai, demi kesehatan mental saya sendiri. Pekerjaan saya dulu yang mengharuskan interaksi dengan banyak pribadi ajaib bahkan menyebalkan, rasanya sudah cukup membuat saya banyak emosi.

Percayalah, hidup akan jauh lebih menyenangkan ketika kita fokus pada perbaikan diri, dengan membuka telinga lebar agar hati tak sampai mati. Bayangkan susahnya hidup mereka yang berpikir semua orang salah, cuma gue yang bener dan baik hati. Capek, ih!

Love, R

#WCR #tantanganmenulis #rumahmediagrup #rereynilda

The Journey (Gua Hira)


The Journey (Gua Hira)

“Mama berhasil lho naik ke puncak, Nak. Padahal kan tahu sendiri kalau lutut Mama selalu sakit dan enggak kuat jalan jauh. Alhamdulillah gunung setinggi itu Mama bisa daki. Allah Maha Besar.”

Mama, sudah berusia 60 tahun lebih ketika melakukan perjalanan umrah yang membawanya hingga ke puncak Jabal Nur. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam benaknya, mengingat kondisi lutut yang tidak sekuat ketika muda dulu. Tak terhitung berapa kali ia terjatuh ketika sedang melakukan sesuatu atau mengendarai motor. Lututnya begitu lemah dan tidak mampu menopang berat tubuhnya.

Niat yang kuat dalam hati, kemudian membawanya menuju Gua Hira. Semangatnya juga yang membawa saya menaiki puncak Jabal Nur, dengan ketinggian 640 Meter dan kemiringan hingga 60 derajat. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk mencapai puncaknya.

Dengan semangat 45, saya menaiki satu demi satu anak tangga yang dibentuk dari bebatuan gunung itu. Takut ketinggian yang kerap saya alami pun hilang seketika. Berganti dengan rasa haru membayangkan bagaimana Rasulullah mendaki gunung ini untuk menyepi dan menenangkan diri. Lebih sedih dan terharu rasanya ketika membayangkan istri Beliau turun naik mengantarkan makanan tanpa keluh dan lelah.

Jika saya ada di posisi beliau mungkin sudah menyerah melihat sulit dan terjalnya medan yang harus ditempuh setiap harinya. Malu rasanya mengingat diri yang kerap mengeluh padahal situasi jauh berbeda dengan yang dihadapi beliau dulu. Subhanallah.

Satu jam tiga puluh menit kemudian saya tiba di puncak. Gua Hira, I’m coming! Ternyata perjuangan saya belum usai. Saya masih harus melewati sisi yang begitu sempit bahkan harus memiringkan tubuh untuk melewatinya.

Lolos dari tempat ini, ternyata saya masih harus berjibaku memasuki Gua dan berdesakan dengan banyak jemaah lintas negara, yang juga ingin melihat tempat itu secara langsung. Pesan saya untuk anda yang ingin berkunjung ke sana, sabar, tahan emosi, dan tidak perlu melakukan ritual khusus. Perbanyak istighfar dan sholawat pada Baginda Nabi, jauh lebih baik.

Akhirnya dengan perjuangan saya berhasil masuk ke Gua Hira. Sempit, gelap, dan membayangkan di jaman Rasulullah, keadaan sekitar pasti lebih gelap lagi. Paling tidak, banyak cahaya berpendar dari sekelilingnya saat ini. Sesak rasanya dada ini melihat dengan mata kepala sendiri, tempat Rasulullah menerima wahyu untuk pertama kali.

He was there. Beliau ada di tempat yang sama dimana saya menginjakkan kaki saat ini. Lelah dan penatnya mendaki rasanya hilang seketika berganti dengan keharuan yang menyesakkan dada.

Pelan, saya sentuh semua bagian dinding gua berukuran lebar sekitar 50 cm, tinggi hanya 190 cm, dan kedalaman 2 m itu, sambil berusaha merasakan kehadiran Rasulullah di sana. He was here. He was here. Airmata saya mengalir tanpa terbendung.

Jabal Nur, memberikan saya sudut pandang baru tentang arti sabar, pasrah, pengabdian, dan ketabahan. Saya tentu saja belum seujung jari pun mampu menerapkannya dalam hidup. Bahkan menghadapi sesama Muslim yang berdesakan saja saya sudah kehilangan kesabaran. Padahal itu lah intisari kehidupan yang diajarkan Rasulullah dan sang Istri di sini.

Gunung Bercahaya yang kerap saya rindukan hingga hari ini.

(Bersambung)

Much Love,

Reyn

Jabal Nur, Maret 2019

The Journey (Jabal Rahmah)


The Journey (Jabal Rahmah) Pertama kali mendengar bahwa kami akan menaiki Jabal Rahmah, saya sudah membayangkan akan menulis nama kami berdua di sana. Di sebuah monumen batu yang konon merupakan simbol bertemunya Adam dan Hawa setelah terpisah ratusan tahun. Apa daya, keinginan untuk mengabadikan nama kami berdua itu ternyata tidak tercapai. Pemerintah setempat jelas-jelas melarang […]

The Journey (Makkah Al Mukaromah)


The Journey (Makkah Al Mukaromah) Satu jam perjalanan dari kota Jeddah menuju Mekkah plus 8 jam perjalanan dari Singapura ke Jeddah ternyata tak cukup membuat semangat saya menurun. Kerinduan pada kota ini, begitu menguasai jiwa dan pikiran saya. Sesak, bahagia, haru, bersyukur, amazed … ahhh bercampur aduk menjadi satu. Sesampainya di hotel, saya dan suami […]

The Journey (The Calling)


The Journey (The Calling) “Yah, umroh yuk.” “Nanti lah. Bukan sekarang.” “When?” “Tunggu panggilan.” “Okay. Tapi panggilan juga mesti dijemput sepertinya.” Kataku dalam hati. Sedih, merana, karena begitu rindu melihat rumahNya kembali. Kapan Kau akan memanggil kami ke rumahMu lagi, Ya Rabb? Tempat yang dulu begitu dekat denganku karena bisa setiap saat kudatangi tanpa berpikir […]

The Journey (Reminiscing)


The Journey (Reminiscing) Menginjakkan kaki di bandar udara Jeddah, mengembalikan seluruh memori saya ketika datang pertama kali ke kota ini di awal tahun 2001. Airmata mengalir dari pelupuk mata tanpa bisa terbendung. Rindu itu begitu membuncah rasanya. Saya tidak mampu berkata-kata. Berkelebatan segala kenangan tentang kota ini yang begitu mengharu biru perasaan. Tidak pernah terbayang […]