VINI – Hitam Putih Perempuan


VINI – Hitam Putih Perempuan

“Sayang, ngapain Raka telepon kamu? Ada hubungan apa kalian?”
“Raka? Rakanya Dena? Hubungan apa maksudmu, Mas?”
“Kamu jangan coba-coba selingkuh ya, Vin.”
“Mas, ngomong apa sih? Coba kembalikan gawaiku. Aku mau coba telepon Raka.”
“Heh! Kamu istriku! Ngapain kamu telepon laki-laki lain?”

PLAK!

Pipi mulus Vini kini berhias bayangan tangan sang suami. Gawainya pun pecah berhamburan setelah dibanting Attar, suami yang baru saja menikahinya selama 2 tahun ini.

Attar, dikenal Vini sejak muda belia. Mereka dulu bersahabat baik namun tanpa Vini sadari, Attar telah mencintainya sejak mereka masih sama-sama main di rumah pohon dulu. Tempat mereka bercengkrama bersama beberapa teman.

Mereka berpisah ketika Vini memutuskan untuk melanjutkan sekolah di kota lain. Sementara Attar yang harus menjaga sang mama memutuskan untuk bekerja di kota tempat mereka berdua dilahirkan. Namun tanpa jeda, ia selalu mengirimkan sepucuk surat pada Vini … yang tidak pernah menerima selembar pun berita dari sang sahabat.

Attar, tinggal bersama sang mama dan Atilla sang adik. Anita, sendirian membesarkan kedua anaknya sepeninggal sang suami. Attar adalah anak yang sangat penurut karena merasa sang mama telah berjuang tanpa bantuan siapapun. Ia tidak ingin semakin menyusahkan hidup sang mama. Tanpa ia ketahui, Anita selalu mengambil semua surat yang ia kirim pada Vini.

“Belum saatnya Attar. Kau harus berhasil dan tumbuh menjadi lelaki sukses yang mengangkat derajat kami semua. Perempuan ini hanya akan menghalangi cita-citamu,” desis Anita sambil memasukkan semua surat Attar ke dalam sebuah kotak besar. Bersamaan dengan beberapa lembar foto Vini yang ditemuinya di dalam kamar sang putra.

Setelah tamat bersekolah, Vini lalu bekerja di sebuah perusahan besar di ibukota. Pekerjaan yang mempertemukannya dengan Alfan sang tunangan. Rencana pernikahan yang tinggal hitungan bulan lalu buyar karena Vini mendapati Alfan telah berkeluarga.

Meski Vini telah berulang kali menolak rencana Alfan yang ingin menikahinya setelah ia menceraikan sang istri, Alfan terus mengejarnya. Hingga Vini terpaksa berhenti dari pekerjaannya dan pindah ke kota lain. Kepindahan yang lalu mempertemukannya dengan Attar tanpa sengaja.

Sakit hati dibohongi Alfan, Vini menutup pintu hatinya dari siapapun, termasuk Attar yang datang dengan sebuah cincin berlian. Tak kenal menyerah, Attar mendekati Vini dengan berbagai cara, termasuk mendekati sang ibu.

“Apa lagi yang kau cari, Vin? Attar sangat mencintaimu. Ia baik, tampan, soleh, sayang keluarga, pemilik beberapa usaha dan hotel terbesar di kota kita. Eh, kau tahu tidak apa nama hotel mewah bintang 5 milik Attar? Vinitta Hotel, kependekan dari Vini Attar.”

Tergelak Vini mendengar cerita sang ibu di ujung telepon. Mana mungkin Attar menamakan hotel mewahnya seperti itu. Lebay.

Kegigihan serta kelembutan Attar menghadapi sikap keras Vini lantas membuatnya luluh. Ia menerima pinangan Attar dan pesta pernikahan mewah mereka menjadi buah bibir semua orang.

Beberapa bulan berlalu, Vini mulai melihat perubahan pada diri Attar. Ia memang mencintai sang istri dengan sepenuh hati, besar sekali. Cinta yang lambat laun membuat Vini merasa terkekang bahkan ketakutan. Ia tak lagi boleh bekerja atau sekedar ke luar rumah sendirian. Meski harta benda dicukupi Attar, Vini merasa bak berada di dalam sebuah sangkar emas.

Pagi itu ia merasa sangat terkejut karena Attar menamparnya dan membanting gawai tanpa mau mendengar penjelasannya. Ia merasa tidak ada hubungan apa-apa dengan Raka. Perasaannya tidak enak memikirkan Dena, sang sahabat.

Ting tong!

Vini terbangun dari tempat tidurnya dan melangkah ke luar kamar untuk melihat siapa yang datang. Lamat didengarnya sang suami berbicara dengan seseorang.

“Vini sedang sakit. Ada apa, Dir?”
“Ee Dena Tar. Aku butuh ketemu Vini sekarang. Dena … Dena masuk rumah sakit. Aku enggak bisa menghubungi Vini dari tadi. Gawainya rusak ya?”
“Gue udah bilang istri gue lagi sakit! Nanti biar dia pergi sama gue ke rumah sakit. Oh dan bilang Raka, enggak usah telepon Vini terus.”
“Ehh tapi Tar.”
“Gue capek. Bye, Dir!”

Bulir bening membasahi pipi Vini. Dipandangnya ruang kamar tidur luas berhias perabotan mewah yang baginya bak sebuah sangkar emas. Tersekat. Terpenjara.

“Maafkan aku, Dena.”

(Bersambung)

ReReynilda

Masjid Sultan – Singapore Out And About


Masjid Sultan – Singapore Out And About

Siapa tak kenal dengan bangunan bersejarah satu ini?

Sultan Mosque atau Masjid Sultan. Dipakai sebagai tempat peribadatan secara resmi pada tahun 1929. Mengambil nama Sultan Hussain yang mendirikan masjid ini sekitar tahun 1824, di samping istananya yang berlokasi di daerah Kampong Gelam. Bangunan ini lalu diabadikan sebagai monumen nasional pada tahun 1975. (Wikipedia)

Terdiri dari 2 lantai, yang bagian atasnya adalah tempat khusus beribadah kaum perempuan. Sementara tempat berwudhu dan kamar kecil ada di sisi sebelah kanannya.

Oh ya, jangan harap bisa melangkah masuk ke dalamnya jika anda tidak memakai pakaian yang rapi dan sopan. Namun jangan khawatir, para penjaga yang duduk di tangga masuk masjid telah menyediakan sarung atau abaya yang bisa anda pinjam dan kenakan jika ingin mengunjungi bagian dalam masjid.

Untuk memanjakan perut, terdapat banyak sekali restoran dan cafe di bagian luar bangunan megah ini. Mulai dari kuliner khas warga Melayu, Lebanesse, Arabs, Moroccans, India, hingga rumah makan Padang pun juga tersebar di sekitarnya. Tak ketinggalan toko-toko roti yang wanginya semerbak pun sangat menggoda untuk didatangi. Ingin membawa buah tangan untuk keluarga di rumah? Para penjaja suvenir khas negara ini pun bisa disambangi di bagian luar masjid.

Jangan lupa, segala perlengkapan umrah dan haji juga bisa didapat di sekitar bangunan ini. Harganya? Lumayan masih terjangkau lah.

Oh, jangan lupa berfoto ya. Ini adalah salah satu tempat dengan spot foto terbaik di negara ini. Pokoknya Instagrammable deh! Caelah!

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Secangkir Kopi Hangat Emak (The Promise)


Secangkir Kopi Hangat Emak
(The Promise)

“Can we make a promise before we sleep?”
“Okay,
Bunda.”
“I promise to be more patient while assisting you with your school assignments.”
“Yay!”
“But you have to promise me to be obedient and focus more on your school works.”
“Okay,
Bunda. I promise.”
“I’m not getting any younger,
Rayyan. I’m getting older and when I lose my temper, I suddenly got headache.”
“Come I massage you head.”
“Can you promise me first?”
“I promise,
Bunda. I’ll concentrate more on my works tomorrow so you will not get headache. Come I massage you now.”
“Thank you,
Nak. I love you.”
“I love you too,
Bunda. Please don’t get sick.”
“Then keep your promise.”
“Okay.”

Malam ini saya mengajarkan Rayyan artinya bertenggang rasa. Tepo seliro pada ibunya, yang sekarang harus mendampinginya belajar setiap hari.

Saya juga menunjukkan padanya bagaimana saya berusaha untuk berdamai dengan keadaan akhir-akhir ini. Pagi saya yang biasanya tenang, sekarang terpaksa harus menerima pekerjaan tambahan sebagai seorang guru. Ia memang belum bisa dilepas sendiri ketika mengerjakan tugas sekolahnya secara online, dan ini yang membuat saya sering hilang kesabaran. Terutama ketika melihatnya terlalu santai dan bermalas-malasan.

Saya berjanji padanya untuk lebih sabar dan pada saat yang bersamaan saya ingin ia juga berjanji untuk tidak memancing emosi saya. Ia harus tahu, it takes two to tango. Saya tidak bisa melalui semuanya sendiri. Ia harus ikut serta menjaga kesehatan psikis ibunya.

Moms, berhenti menganggap diri harus berkorban demi apapun. Belajar untuk melibatkan mereka yang tercinta demi menjaga kesehatan mentalmu. Lakukan apapun yang tidak membuatmu kehilangan kebahagiaan. Pengorbanan tidak harus berarti perampasan kebahagiaan.

Happy mom, happy home. Remember that.

Love, R

#challengemenulis #rumahmediagrup #rereynilda

SALAH (The Bride)


SALAH (The Bride)

“Kamu serakah! Kamu ingin menguasai harta Papi kan? Tega kamu! Selama ini Papi membiarkan kalian semua tinggal di sini, sekarang kalian ingin menjual rumahnya dan mengincar hartanya, kan?”

“Kak …”

“Ah sudah! Aku tak mau mendengar apa-apa lagi! Kamu bukan adikku lagi!”

Brak!

Sambungan telepon itu pun terputus. Aku tergugu di hadapan istriku, yang matanya merah karena marah. Perempuan lembut yang kunikahi 10 tahun lalu itu tak kuasa menahan emosinya. Ia tidak pernah menunjukkan kemarahannya sedemikian rupa.

“Jahat sekali dia!”

Penuh getar sambil menahan tangis, hanya itu yang terucap dari bibirnya dengan suaranya pelan. Ia pun beringsut dan mengajak ku pergi setelah meminta ijin dari ayah mertua yang sedari tadi hanya terdiam tanpa sepatah kata. Bahkan untuk membela. Ayahku, entah apa yang ada di benaknya.

September, 2005

“Selamat ya, semoga cinta kalian abadi, langgeng hingga tua nanti, beranak cicit dan setia hingga akhir.” Freya, kakak tertua yang membesarkanku sepeninggal Mami memelukku erat kemudian mengecup kening istriku, Acitya. Di belakangnya mengantri kakak kedua Franda, adikku Friska, dan abangku Ferdi. Hari yang sempurna.

Acitya cantik sekali dengan paes dan busana pengantin khas Jawa yang menghiasi tubuh langsing dan moleknya. Ia adalah pramugari salah satu maskapai asing yang kutemui ketika sedang melakukan perjalanan dinas. Mataku lekat melihat sosoknya yang mondar-mandir mengantarkan makanan dan keperluan penumpang. Suaranya yang tegas namun senyum tetap mengembang membuatku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama.

Ingin rasanya meminta nomor yang bisa kuhubungi kelak setelah kami berpisah. Namun lidah ini kelu. Aku merasa ini adalah cinta. Hingga pesawat mendarat, tak sepatah kata pun terucap dari bibirku untuknya. Pasrah.

Mencuri-curi pandang, dan mencari keberadaannya di bandar udara, hanya itu yang bisa kulakukan. Sungguh ingin kumaki diri ini yang tidak berani bersuara dan sekedar mengucapkan “Hai.” You are not You, Fajar! Seharusnya kau seberani mentari yang menyinari fajar di ufuk barat. Bukankah karena itu Papi dan Mami memberimu nama Fajar! Menghadapi seorang perempuan saja kau menciut.

Fajar Rahadian, tampan, sukses, dandy, siapa yang tak kenal lelaki playboy ini? Rasanya setengah perempuan ibukota pernah menjadi kekasihnya, paling tidak TTM lah. Teman Tapi Mesra. Ia bukan sukses tanpa usaha. Tekadnya yang kuat, otaknya yang cerdas, dan kemampuannya menjaring bisnis pun lawan jenis, membuatnya meraih kesuksesan hingga saat ini.

Namun semua itu sirna, di hadapan seorang pramugari yang nampak sederhana namun manis, dan kini hilang dari pandangan. “Sial!”

(Bersambung)

Reyn

DENDAM (11)


DENDAM (11) DORRRRRR!!! Nyalak pistol itu menggema seiring dengan terkulainya lelaki paruh baya bertubuh gagah itu dalam pelukan sang calon menantu. Senyumnya yang mengembang bahagia kala menyambut lelaki tampan bertuksedo itu dalam pelukannya, seketika luruh. Tubuhnya mengejang dan pelukannya melemah. Bhisma tercengang, kaget dan tidak percaya. Matanya bersirobok dengan tatapan teduh penuh kilat dendam dari […]

DENDAM (10)


DENDAM (10) “Mampus kau, perempuan sial! Aku tidak pernah mencintaimu! Aku hanya ingin menjadi bagian dari keluargamu yang kaya raya sekaligus membalaskan dendam ibuku. Hahahaha! Puassssss! Arini. Arini. Mati, kamu!” Sambil terkekeh, Indra memandang ke dalam sebuah sumur tua, di sudut taman rumah megah itu. Tangannya melemparkan sebuah palu berlumuran darah ke dalamnya. Indra melepas […]

DENDAM – Bhisma (9)


DENDAM – Bhisma (9) “Papi kenapa tidak pernah membela diri ketika disakiti? Papi kan lelaki, perawakan tinggi, dan kuat, mengapa tidak pernah melawan Mami? Kiara takut melihat pertengkaran kalian setiap hari. Kiara mau ikut Oma saja!” Tangis gadis kecil itu pecah. Ia memeluk sang Ayah yang menunduk sambil menahan perihnya darah yang mengalir dari sudut […]

DENDAM – Selamat Tinggal, Aryan (8)


DENDAM – Selamat Tinggal, Aryan (8) “Selamat sore, Om. Saya Indra. Indra Dewabrata.” Lelaki paruh baya, yang mulutnya berbau alkohol itu, hanya bergumam tak jelas dan membalas genggaman tangan Indra seadanya. Lelaki bermata teduh yang memacari putri semata wayangnya dan sedang menatapnya tajam. “Aku bukan tak tau siapa dirimu, lelaki keparat. Akan kubuat hidupmu menderita […]

DENDAM – Marini (7)


DENDAM – Marini (7) “Mas, rasanya anak kita akan segera lahir. Aku sudah dalam perjalanan ke rumah sakit. Tolong datang secepatnya, Mas.” Sent. Marini berjalan tertatih menuju mobil yang membawanya ke rumah sakit. Sebentar lagi, bayi mungil yang selama 9 bulan menemaninya akan lahir. Airmata tak henti mengalir di pipi tirus Marini. Bukan airmata bahagia, […]

DENDAM – Letnan Wisnu (6)


DENDAM – Letnan Wisnu (6) “Siang, Letnan. Ini bocah lelaki yang Bapak lihat kemarin.” “Terima kasih, Sersan Yudi. Kemari, Nak. Indra Dewabrata, betul namamu?” Bocah lelaki tampan bertubuh tinggi kurus itu hanya menunduk. Sekilas Wisnu melihat kilat di matanya. Mata yang teduh namun penuh dengan kebencian dan cerita duka. Bocah yang dilihatnya duduk di sudut […]