Secangkir Kopi Hangat Emak (The Promise)


Secangkir Kopi Hangat Emak
(The Promise)

“Can we make a promise before we sleep?”
“Okay,
Bunda.”
“I promise to be more patient while assisting you with your school assignments.”
“Yay!”
“But you have to promise me to be obedient and focus more on your school works.”
“Okay,
Bunda. I promise.”
“I’m not getting any younger,
Rayyan. I’m getting older and when I lose my temper, I suddenly got headache.”
“Come I massage you head.”
“Can you promise me first?”
“I promise,
Bunda. I’ll concentrate more on my works tomorrow so you will not get headache. Come I massage you now.”
“Thank you,
Nak. I love you.”
“I love you too,
Bunda. Please don’t get sick.”
“Then keep your promise.”
“Okay.”

Malam ini saya mengajarkan Rayyan artinya bertenggang rasa. Tepo seliro pada ibunya, yang sekarang harus mendampinginya belajar setiap hari.

Saya juga menunjukkan padanya bagaimana saya berusaha untuk berdamai dengan keadaan akhir-akhir ini. Pagi saya yang biasanya tenang, sekarang terpaksa harus menerima pekerjaan tambahan sebagai seorang guru. Ia memang belum bisa dilepas sendiri ketika mengerjakan tugas sekolahnya secara online, dan ini yang membuat saya sering hilang kesabaran. Terutama ketika melihatnya terlalu santai dan bermalas-malasan.

Saya berjanji padanya untuk lebih sabar dan pada saat yang bersamaan saya ingin ia juga berjanji untuk tidak memancing emosi saya. Ia harus tahu, it takes two to tango. Saya tidak bisa melalui semuanya sendiri. Ia harus ikut serta menjaga kesehatan psikis ibunya.

Moms, berhenti menganggap diri harus berkorban demi apapun. Belajar untuk melibatkan mereka yang tercinta demi menjaga kesehatan mentalmu. Lakukan apapun yang tidak membuatmu kehilangan kebahagiaan. Pengorbanan tidak harus berarti perampasan kebahagiaan.

Happy mom, happy home. Remember that.

Love, R

#challengemenulis #rumahmediagrup #rereynilda

SALAH (The Bride)


SALAH (The Bride)

“Kamu serakah! Kamu ingin menguasai harta Papi kan? Tega kamu! Selama ini Papi membiarkan kalian semua tinggal di sini, sekarang kalian ingin menjual rumahnya dan mengincar hartanya, kan?”

“Kak …”

“Ah sudah! Aku tak mau mendengar apa-apa lagi! Kamu bukan adikku lagi!”

Brak!

Sambungan telepon itu pun terputus. Aku tergugu di hadapan istriku, yang matanya merah karena marah. Perempuan lembut yang kunikahi 10 tahun lalu itu tak kuasa menahan emosinya. Ia tidak pernah menunjukkan kemarahannya sedemikian rupa.

“Jahat sekali dia!”

Penuh getar sambil menahan tangis, hanya itu yang terucap dari bibirnya dengan suaranya pelan. Ia pun beringsut dan mengajak ku pergi setelah meminta ijin dari ayah mertua yang sedari tadi hanya terdiam tanpa sepatah kata. Bahkan untuk membela. Ayahku, entah apa yang ada di benaknya.

September, 2005

“Selamat ya, semoga cinta kalian abadi, langgeng hingga tua nanti, beranak cicit dan setia hingga akhir.” Freya, kakak tertua yang membesarkanku sepeninggal Mami memelukku erat kemudian mengecup kening istriku, Acitya. Di belakangnya mengantri kakak kedua Franda, adikku Friska, dan abangku Ferdi. Hari yang sempurna.

Acitya cantik sekali dengan paes dan busana pengantin khas Jawa yang menghiasi tubuh langsing dan moleknya. Ia adalah pramugari salah satu maskapai asing yang kutemui ketika sedang melakukan perjalanan dinas. Mataku lekat melihat sosoknya yang mondar-mandir mengantarkan makanan dan keperluan penumpang. Suaranya yang tegas namun senyum tetap mengembang membuatku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama.

Ingin rasanya meminta nomor yang bisa kuhubungi kelak setelah kami berpisah. Namun lidah ini kelu. Aku merasa ini adalah cinta. Hingga pesawat mendarat, tak sepatah kata pun terucap dari bibirku untuknya. Pasrah.

Mencuri-curi pandang, dan mencari keberadaannya di bandar udara, hanya itu yang bisa kulakukan. Sungguh ingin kumaki diri ini yang tidak berani bersuara dan sekedar mengucapkan “Hai.” You are not You, Fajar! Seharusnya kau seberani mentari yang menyinari fajar di ufuk barat. Bukankah karena itu Papi dan Mami memberimu nama Fajar! Menghadapi seorang perempuan saja kau menciut.

Fajar Rahadian, tampan, sukses, dandy, siapa yang tak kenal lelaki playboy ini? Rasanya setengah perempuan ibukota pernah menjadi kekasihnya, paling tidak TTM lah. Teman Tapi Mesra. Ia bukan sukses tanpa usaha. Tekadnya yang kuat, otaknya yang cerdas, dan kemampuannya menjaring bisnis pun lawan jenis, membuatnya meraih kesuksesan hingga saat ini.

Namun semua itu sirna, di hadapan seorang pramugari yang nampak sederhana namun manis, dan kini hilang dari pandangan. “Sial!”

(Bersambung)

Reyn

DENDAM (11)


DENDAM (11) DORRRRRR!!! Nyalak pistol itu menggema seiring dengan terkulainya lelaki paruh baya bertubuh gagah itu dalam pelukan sang calon menantu. Senyumnya yang mengembang bahagia kala menyambut lelaki tampan bertuksedo itu dalam pelukannya, seketika luruh. Tubuhnya mengejang dan pelukannya melemah. Bhisma tercengang, kaget dan tidak percaya. Matanya bersirobok dengan tatapan teduh penuh kilat dendam dari […]

DENDAM (10)


DENDAM (10) “Mampus kau, perempuan sial! Aku tidak pernah mencintaimu! Aku hanya ingin menjadi bagian dari keluargamu yang kaya raya sekaligus membalaskan dendam ibuku. Hahahaha! Puassssss! Arini. Arini. Mati, kamu!” Sambil terkekeh, Indra memandang ke dalam sebuah sumur tua, di sudut taman rumah megah itu. Tangannya melemparkan sebuah palu berlumuran darah ke dalamnya. Indra melepas […]

DENDAM – Bhisma (9)


DENDAM – Bhisma (9) “Papi kenapa tidak pernah membela diri ketika disakiti? Papi kan lelaki, perawakan tinggi, dan kuat, mengapa tidak pernah melawan Mami? Kiara takut melihat pertengkaran kalian setiap hari. Kiara mau ikut Oma saja!” Tangis gadis kecil itu pecah. Ia memeluk sang Ayah yang menunduk sambil menahan perihnya darah yang mengalir dari sudut […]

DENDAM – Selamat Tinggal, Aryan (8)


DENDAM – Selamat Tinggal, Aryan (8) “Selamat sore, Om. Saya Indra. Indra Dewabrata.” Lelaki paruh baya, yang mulutnya berbau alkohol itu, hanya bergumam tak jelas dan membalas genggaman tangan Indra seadanya. Lelaki bermata teduh yang memacari putri semata wayangnya dan sedang menatapnya tajam. “Aku bukan tak tau siapa dirimu, lelaki keparat. Akan kubuat hidupmu menderita […]

DENDAM – Marini (7)


DENDAM – Marini (7) “Mas, rasanya anak kita akan segera lahir. Aku sudah dalam perjalanan ke rumah sakit. Tolong datang secepatnya, Mas.” Sent. Marini berjalan tertatih menuju mobil yang membawanya ke rumah sakit. Sebentar lagi, bayi mungil yang selama 9 bulan menemaninya akan lahir. Airmata tak henti mengalir di pipi tirus Marini. Bukan airmata bahagia, […]

DENDAM – Letnan Wisnu (6)


DENDAM – Letnan Wisnu (6) “Siang, Letnan. Ini bocah lelaki yang Bapak lihat kemarin.” “Terima kasih, Sersan Yudi. Kemari, Nak. Indra Dewabrata, betul namamu?” Bocah lelaki tampan bertubuh tinggi kurus itu hanya menunduk. Sekilas Wisnu melihat kilat di matanya. Mata yang teduh namun penuh dengan kebencian dan cerita duka. Bocah yang dilihatnya duduk di sudut […]

DENDAM – Aryan (5)


DENDAM – Aryan (5) “Aku terima nikahnya Marini Binti Susilo dengan mas kawin yang tersebut tunai.” “Sah. Alhamdulillah.” — Marini memandang sang mempelai laki-laki yang hari itu resmi menjadi suaminya. Lelaki tampan bermata coklat terang yang baru saja dikenalnya dalam tiga bulan. Lelaki yang dengan mantap dan berani, meminangnya di hadapan sang Ayah. Hidup Marini […]

DENDAM – Kiara (4)


DENDAM – Kiara (4) “Pak Supir! Pak! Bangun! Tidur aja, nih!” “Eh! Ya ampun, maaf, Non. Maaf, Somat ketiduran. Ade ape, Non?” “Nih, kirimin suratnya lagi. Inget, lokasinya jangan sama kayak sebelumnya ya. Cari yang jauh, kalau perlu ke luar kota. Jangan ke kantor pos di ujung jalan juga!” “Emang kenapa sih, Neng? Depan situ […]