Menulis Ala Sang DJ


Menulis Ala Sang DJ

Menulis kok ala DJ? DJ itu kan …

Ini DJ bukan sembarang DJ, ini DJ keren bernama lengkap DeeJay Supriyanto. Saya pun tidak tahu pasti asal muasal nama salah satu dari duo founder Rumah Media Grup ini. Yang saya tahu hanya paparan beliau yang sangat membuat mata saya terbuka lebar selama 2 hari kemarin.

Dari beliau saya baru paham betul apa perbedaan fiksi, non fiksi, dan faksi. Maklum, saya hanyalah anak bawang yang sedang berjuang. Berjuang menuangkan ide dan gagasan, demi masa depan cemerlang. Caelah! Sebenarnya sih alasan utamanya semata ingin meninggalkan sederet catatan bersejarah yang bermanfaat dan berguna bagi semua. Hingga kelak bisa menjadi warisan bagi anak cucu ketika saya sudah tidak mampu lagi menuangkan isi kepala ke dalam tulisan.

Pelatihan di hari pertama sudah memberikan saya afirmasi positif, bahwa menulis adalah hobi yang mengasyikkan. Memang, menulis bagi saya sudah ibarat candu. Jika tidak menulis rasanya hidup ini makin miris. Hahaha!

Sedikit saya akan berbagi bagaimana langkah mudah membuat How Tips seperti yang dipaparkan pada pelatihan di hari pertama.

1. Menemukan ide

Caranya bisa dengan membuat daftar keahlian, menulis minat dan hal yang disukai, melakukan survey, atau dengan berselancar di dunia maya untuk mencari inspirasi.

2. Mengumpulkan data dan fakta

Kita bisa melakukan riset kecil sebelum membuat judul besar atau tentative outline. Kemudian menentukan bab atau sub bab, sebelum akhirnya menuangkan ide berupa paparan.

3. Membuat konsep tulisan

Keberadaan konsep sangat diperlukan karena berisi poin-poin penting untuk tulisan, termasuk rencana penyusunan bab dan sub bab, melalui beberapa pertanyaan.

4. Gaya bahasa

Penggunaan setiap kata harus lah mengalir, mudah dipahami dan tentunya mengandung informasi yang jelas serta akurat. Maka silahkan menentukan bagaimana gaya bahasa tulisanmu.

5. Sertakan data pendukung

Sebagai pendukung tulisan, bisa juga menyertakan visualisasi dalam bentuk foto, gambar, atau contoh kejadian.

6. Tuliskan bagian naskah dengan lengkap

Penyusunan kerangka atau outline memegang peranan penting dalam sebuah tulisan. Misalnya, urutan bab, sub bab, indeks atau daftar isi, catatan kaki, glosarium atau kamus singkat, serta profil penulis. Perlu diingat bahwa penyusunan daftar isi harus dibuat sesederhana mungkin. Jika menyertakan tabel hendaknya dibuat berurutan agar tidak membingungkan pembaca.

7. Menentukan judul

Penentuan judul ini masih bersifat tentatif atau sementara, karena pihak penerbit menjadi salah satu penentu hasil akhir judul sebuah tulisan atau buku. Tentu saja semua bergantung pada sisi komersil yang harus dihadirkan demi kepuasan pembaca.

Pelatihan di hari kedua memberikan ilmu baru tentang kinerja otak yang dibutuhkan oleh seorang penulis. Melalui sebuah tehnik sederhana yang 99% akurat, yaitu menempelkan 2 ibu jari dengan posisi satu di atas dan yang lain di bawah, akan nampak sisi otak sebelah mana yang lebih dominan pada diri seseorang.

Selain mengandalkan kinerja otak, yang tentunya bisa diasah untuk mengaktifkan ke dua belah sisi, ada 5 modal utama yang harus dimiliki oleh seorang penulis.

1. Referensi

Hal ini bisa didapat dengan banyak membaca, sehingga segala ilmu yang terdapat dari setiap bacaan itu mampu mengisi ruang kosong di dalam memori otak. Segala informasi ini akan sangat berguna untuk mengatasi kebuntuan ide yang mungkin tiba-tiba datang.

2. Silaturahmi

Siapa mengira bahwa selain memperpanjang usia dan merekatkan hubungan, silaturahmi juga mampu memperkaya pengalaman. Maka rajinlah bersilaturahmi, jangan membatasi diri dari lingkungan pertemanan, lalu serap sebanyak mungkin ilmu yang muncul.

3. Traveling

Perjalanan wisata dan penjelajahan tempat-tempat baru rupanya juga bisa membuat seseorang memiliki referensi dan memori untuk dituangkan dalam tulisan. Maka “jangan kurang piknik” rasanya tepat disematkan jika ingin memiliki banyak referensi.

4. Mengikat ide

Terkadang ide bisa muncul di mana saja dan kapanpun ketika ia ingin muncul. Untuk mengatasi berhamburannya ide sehingga lenyap sebelum sempat disantap, mulailah memiliki sebuah buku kecil sebagai tempat menambatkannya.

5. Sudut pandang

Mengidolakan seorang penulis kadang membuat kita tanpa sadar mengikuti gaya mereka. Hingga sudut pandang yang disajikan akan nampak serupa. Padahal berbeda kan seru pastinya. Maka, ubahlah arah sudut pandang dengan menyajikan ide atau tulisan yang berbeda.

Lima modal utama ini tentunya tidak akan berhasil ditampilkan ketika seorang penulis mempercayai mitos. Apa saja mitos yang harus dihindari seorang penulis?

1. Penulis butuh mood

Mood seharusnya tidak berperan dalam proses penulisan. Ketika kebuntuan datang, seorang penulis seharusnya mampu menyegarkan otak dengan cara membuka wawasan.

2. Tidak ada ide

Di dunia yang penuh warna ini seharusnya bisa memunculkan beragam ide, jika seorang penulis mampu membuka diri dan pikiran. Bergaul, membaca buku, atau sekedar piknik tipis bisa menjadi jalan menemukan ide, lho.

3. Bahasa harus indah

Jika anda adalah seorang penyair maka hasil karya anda memang butuh tulisan yang merdu, merayu nan indah. Namun untuk menuliskan sebuah ide, penggunaan bahasa yang indah tidak terlalu diperlukan. Yang utama adalah cerita yang disajikan harus mengalir dan saling berkesinambungan.

4. Memiliki bakat

Sering saya mendengar seseorang mengatakan ia tidak berbakat pada satu hal, misalnya menulis. Ketahuilah bahwa siapapun bisa menulis dan yang dibutuhkan hanya proses. Maka menulis, menulis, dan menulis lah tanpa henti untuk semakin memperhalus narasi dan diksi.

Yang Maha Kuasa menganugerahkan ciptaanNya dengan otak yang harus terus dijaga dengan diberikan nutrisi terbaik untuk membuatnya tetap hidup. Maka kewajiban kita adalah memanfaatkannya dengan terus membuka wawasan dan tidak membatasi diri.

The sky is not the limit. Your mind is. So open up your mind and enjoy the colourful life!

Menulis bukan lah semata tentang hobi atau bakat. Menulis adalah sarana latihan tanpa jeda dalam usaha untuk menuangkan gagasan dan ide, yang sumbernya banyak sekali bertebaran di muka bumi ini. Melalui tulisan dan gaya bahasa, dapat tercermin gaya kehidupan seseorang. Maka dengan apakah kita ingin diingat sebagai pribadi?

Saya pilih menulis. Kalau kamu?

Sumber: Pelatihan Menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” oleh DeeJay Supriyanto

Love, Rere

Menulis … Mulai Dari?


Menulis … Mulai Dari?

Banyak hal menarik saya dapat dari sesi pertama pelatihan menulis kemarin. Pelatihan? Ya. Saya memang anak bawang yang masih tertatih mengenal diri sendiri dan berusaha menuangkan isi kepala dalam deretan kata. Maka mengikuti pelatihan adalah cara saya menajamkan pena.

Pelatihan dimulai dengan mengenali beberapa karakter manusia dalam hubungannya dengan motivasi untuk menulis.

  1. Tipe yang membuat sesuatu terjadi.
  2. Tipe yang biasa melihat saja.
  3. Tipe yang hanya terkesima ketika melihat sesuatu.

Jika anda tipe yang terbiasa hanya melihat dan terkesima, cobalah untuk membuatnya menjadi sesuatu. Bagaimana cara mewujudkannya? Dengan menumbuhkan kepercayaan diri, asal jangan kelewat percaya diri. Hahaha!

If you think you can, then you will. If you think you can not, then you won’t.

Apakah dalam proses mewujudkan itu tidak akan ada rintangan? Tentu saja ada. Cara menghadapinya adalah dengan mencoba, dan terus mencoba tanpa kenal menyerah. Namun ada 2 hal yang perlu diingat seseorang ketika ingin mulai menajamkan pena menjadi seorang penulis.

Branding

Pilihlah sebuah nama yang akan menjadi ciri khas. Stick to it dan jangan melakukan banyak perubahan, sehingga gaungnya akan dengan mudah diingat oleh pembaca.

Spirit

Tidak ada siapa pun yang bisa menumbuhkan semangat dalam diri kecuali diri sendiri. Caranya dengan menguatkan tekad, menggelorakan semangat, serta fokus pada apa yang ada di hadapan. Membuka mata juga telinga adalah wajib, karena ilmu serta keahlian itu sangat luas. Percayalah, mempelajari sesuatu yang baru itu akan membuat hidup menjadi lebih indah.

Try, try again, try harder, try your best, and never give up!

Saya juga menemukan 5 resep menarik yang sangat berguna untuk mulai menulis, baik sebagai pemula atau juga menjadi pegangan seumur hidup untuk para penulis profesional.

1. Abaikan teori, and just start. Mulai lah menulis dari apa pun yang terlintas di benak, dan bagaimana pun jenis tulisanmu.

2. Terus berlatih, and never stop learning. Buka mata dan pikiran untuk menambah kosa kata serta wawasan, dan berlatih untuk terus mengasah ide yang muncul. Beberapa cara bisa dilakukan seperti mengikuti tantangan menulis atau bergabung dengan komunitas menulis. Jangan terlalu khawatir dengan hasil akhir karena semua butuh proses. Life is a never ending journey of learning and relearning, isn’t it?

3. Jika mendadak buntu, berhenti saja lah. Memaksa diri untuk menulis ketika otak sedang menolak diajak berpikir adalah hal yang harus dihindari. Istirahatkan ia untuk sementara dan benahi pikiran serta emosi agar bisa kembali konsentrasi. Memiliki bank naskah adalah salah satu solusi. Bagaimana caranya? Biasakan untuk menulis apapun yang terlintas di benak, kapan pun, di mana pun. Kemudian simpan naskah-naskah ini di sebuah folder yang sewaktu-waktu bisa kita edit lalu publish ketika otak sedang beku.

4. Mulai lah menulis hal yang begitu dekat dengan kehidupan kita dan tentunya dikuasai dengan baik. Saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk be true to yourself. Jujurlah pada semua hal, termasuk dalam tulisan. Tidak perlu muluk-muluk berangan ingin menulis tentang hal yang kekinian atau sedang bombastis dibicarakan. Tulis saja hal-hal sederhana yang menarik untuk dibaca sebagai permulaan.

5. Abaikan gaya menulis, tampilkan jati diri sebagai penulis. Membaca tulisan orang lain memang seringkali membuat ternganga atau terkagum bingung. Kok bisa ya dia menulis sekeren itu? Menjadikan seseorang sebagai obyek belajar adalah sesuatu yang baik. Namun berusaha keras menjadi seperti orang lain adalah hal yang harus dihindari ketika mulai menulis. Be yourself, you are you, you are unique. Karena menjadi berbeda itu seru!

Jadi, jika ingin menjadi penulis maka mulailah menulis. Nikmati segala prosesnya dengan menjadi diri sendiri dan bersikap jujur pada setiap goresan yang bersumber dari hati.

So, let’s start and just write!

Sumber: Pelatihan Menulis “Mencetak Generasi Berliterasi” Bersama Ilham Alfafa, Founder Rumah Media Grup

MasakMasak. MpekMpek


MasakMasak. MpekMpek

Makanan favorit yang sama sekali tak pernah terbayang buat membuatnya sendiri.

Ribet!

Belum lagi bau amisnya ikan memenuhi dapur, harus nguleni, masukin telur yang entah gimana caranya lalu dibentuk, ah malas!

Eh tapi kan, ada di grup yang semua suka mencoba masakan itu bikin semangat ternyata. Setelah minggu lalu kami membuat pizza from scratch, hari ini kami membuat mpek-mpek plus cukonya juga from scratch.

Ternyata eh ternyata, tak sesulit bayangan saya selama ini. I apparently enjoy membentuk kapal selam walau beberapa kali adonannya bochooorr dengan sukses!

Finally, mpek-mpek juga bisa saya taklukkan dengan beberapa catatan untuk pelajaran.

Tekstur yang crunchy di luar namun lembut di dalam, infact rasa garamnya kurang. Next time harus kasih lebih banyak garam! Catat!

Kuah cuko … not bad. Wangi bawang putih dengan sedikit kaldu dari tumisan ebi yang bergabung dengan rasa asam dan manis, just nice lah buat saya. Cumaaaa ternyata saya terlalu banyak menuang air hingga rasa sedap cuko ini harus saya koreksi beberapa kali.

Pokoknya saya sudah bisa membuat mpek-mpek! Yayyy!

Note for myself: jangan suka menuduh diri sendiri tak mampu membuat sesuatu sebelum mencoba, dan jangan malas! Berikut resepnya.

Bahan dasar mpek-mpek:

  • 600 gr daging tengiri / makarel (seperti yang saya pakai)
  • 2 siung bawang putih
  • 220 ml air
  • 400 gr tepung sagu/tapioca starch
  • 30 gr tepung terigu
  • 2 sdm garam & sedikit penyedap
  • Sepanci air untuk merebus

Cara membuat:

  • Haluskan daging ikan dengan 2 siung bawang putih
  • Pindahkan dalam tempat untuk menguleni, tambahkan air sedikit demi sedikit
  • Masukkan terigu dan tepung sagu
  • Tambahkan garam dan penyedap
  • Taburkan tepung ke atas piring sebelum mulai membentuk mpek-mpek
  • Bentuk panjang untuk lenjer, masukkan telur yang sudah dikocok untuk kapal selam
  • Masukkan ke dalam panci berisi rebusan air
  • Tunggu hingga mengambang sebagai tanda sudah matang

Cara membuat cuko:

  • Campur 1 kg gula aren, 10 siung bawang putih, 250 gr cabe rawit, ebi yang sudah disangray, 40 gr garam, 5 sdm cuka, 200 gr asam jawa ke dalam 1,5 lt air.
  • Masak hingga mendidih dan koreksi rasa.
  • Saring sebelum disajikan

Tips:

  • Ikan harus benar-benar halus sebelum digunakan
  • Tekstur adonan memang lengket dan agak lembek agar hasil akhir tidak keras
  • Ketika mengaduk adonan dengan tepung, jangan terlalu lama. Sebentar saja asal tercampur rata
  • Sebelum meletakkan adonan yang sudah dibentuk, taburi piring dengan tepung agar adonan tidak menempel dan rusak ketika akan digoreng

Happy cooking!

Rere

Kue Keria Bikin Ceria


Kue Keria Bikin Ceria

“Pingin deh makan kue keria. Bunda bisa buat?”
“Hmmm … belum pernah buat sih, tapi boleh coba.”

Apa sih kue keria itu?

Kue keria adalah sejenis donat ala Melayu. Berbeda dengan donat biasa yang berbahan tepung dan ragi, bahan dasar penganan ini adalah ubi, dengan campuran tepung, dan berlapis karamel gula merah.

Yummy!

Berikut ini resep dan cara membuatnya yang sangat mudah.

Bahan:

  • 4 buah ubi/sweet potato
  • 1 cup tepung terigu
  • 1 sdm tepung beras
  • ½ sdt baking powder
  • ½ cup air
  • 1 sdm gula pasir
  • Gula merah

Cara membuat:

  1. Kukus ubi hingga empuk
  2. Haluskan bersama 1 sdm gula putih
  3. Masukkan tepung terigu, tepung beras, dan baking powder yang sudah diayak
  4. Tambahkan air lalu uleni hingga kalis
  5. Siapkan sebuah piring yang telah ditaburi tepung
  6. Cetak adonan berbentuk cincin/donat kemudian goreng dalam api yang sudah panas.
  7. Masak gula merah dan sedikit air hingga terbentuk karamel
  8. Siramkan karamel sambil disaring ke dalam wadah kue yang sudah digoreng
  9. Tiriskan kue hingga karamel yang sudah melekat menjadi kering
  10. Kue keria siap dihidangkan

“Wah! Sudah jadi? Cepat sekali!”

“Gampang kok bikinnya. Enak enggak?”

“Enak banget! Kuenya lembut dan manisnya pas. Thank you, Bunda.”

Bikin yuk, donat kampung ala Melayu. Kue keria yang bikin semua jadi ceria.

Love, Rere

Kue Keria Easy Recipe

Belajar Bahagia. Bahagia Belajar


Belajar Bahagia. Bahagia Belajar Punya anak lelaki yang kelebihan energi seperti Rayyan memang lumayan membuat kepala pening. Sayangnya peraturan di rumah kami adalah membatasi penggunaan gawai pada anak-anak. Karena itu mereka butuh penyaluran energi. Padahal kalau ada gawai atau televisi kan gampang ya menyuruh anak-anak duduk diam? Well, sayangnya kami harus mengajarkan mereka untuk disiplin […]

Minggu Untuk Kawatku Dan Kawatmu


Minggu Untuk Kawatku Dan Kawatmu “Kak, ajarin wire weaving, dong.” “Ayok!” Tanpa berpikir dua kali, saya mengiyakan ajakan seorang teman untuk membuat sebuah workshop semasa saya mudik. Saya memang ingin setiap mudik saya berarti. Bukan sekedar liburan dan bersantai tanpa arti. Kalau bisa sih, inginnya selalu berbagi. Wire weaving atau tehnik menenun kawat ini baru […]

Mudik – Day 5 (Learn Relearn)


Mudik – Day 5 (Learn Relearn)

Mudik, menjadi kesempatan saya untuk charging tubuh dan kepala. Ibarat gawai yang sudah low batt dan butuh diisi kembali untuk bisa beroperasi dengan baik. Begitulah rasanya diri ini yang butuh sekali shutting down sebentar untuk kemudian terisi kembali dan keluar dengan kesegaran lebih.

Saya bahkan sempat mengalami kesulitan untuk menulis ketika berada di rumah Eyang selama mudik ini. Rasanya begitu sulit menuangkan ide maupun rasa ke dalam deretan aksara. Butuh extra effort dan sruputan secangkir kopi hitam buatan Eyang Mama. Kopi hitam berampas khas adukan Eyang Mama yang tidak pernah berhasil saya duplikasi. Mungkin cinta dalam setiap adukannya yang tidak pernah berhasil saya tuangkan.

Anyways, saya juga tidak mau totally mengistirahatkan kepala selama mudik. Saya tetap butuh melakukan sesuatu, dan tetap butuh menuangkan ide di antara kesibukan saya bertemu para sahabat serta menikmati libur panjang. Pilihan saya jatuh pada mengenalkan hobi untuk keponakan perempuan yang paling besar.

Saya mengenalkannya pada tehnik wire weaving dan uv resin yang akhir-akhir ini menjadi hobi saya di rumah dan akan menjadi kegiatan baru saya.

“Nanti kalau Caca sudah pintar, bisa bikin sendiri dan jadi sumber penghasilan. Jual saja pada teman-temanmu di sekolah. Seru, kan?” ujar saya padanya.

Akhirnya saya mengajarkan beberapa tehnik dasar memintal kawat, membuat gantungan kunci dari resin, dan membuat gelang persahabatan yang sedang hits. Ia menyerap semua pelajaran dengan baik dan cepat.

Binar matanya begitu membahagiakan. Mungkin ia juga butuh constructive outlets sebagai penyeimbang kesibukannya di sekolah menjelang ujian akhir semester. Sementara saya, butuh kegiatan untuk melemaskan jemari dan lengan yang sudah mulai terlena kemalasan sebagai efek mudik.

Bagaimana tidak malas, jika setiap pagi dan belum lagi gosok gigi, sudah ada seorang Ibu yang sibuk di dapur kemudian menghampiri seraya berkata, “Kopimu, Nak.”

How I love mudik!

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda