Maleficent … Well, Well


Maleficent … Well, Well

Siapa tak kenal dengan tokoh “evil” satu ini?

Maleficent.

Karakter jahat dalam sebuah film besutan sutradara Robert Stromberg. Dimainkan dengan sangat apik oleh Angelina Jolie.

Saya tidak selalu menyukai karakter antagonis dalam sebuah cerita. Seringnya gemas dan mengutuk betapa jahatnya seseorang can become. Walau karakter-karakter ini adalah kekuatan dari sebuah cerita.

Sang peri jahat yang bertanduk dan bersayap ini mungkin pengecualian. Saya menyukai karakternya. Ia jahat tapi karena ada sebab. Ia bisa menghancurkan segalanya tapi jika ia lebih dulu diserang. Di luar itu semua, hatinya ternyata lembut dan penyayang. “Kelemahan” yang berusaha ditutupinya dengan menjadi simbol kejahatan dan kekuatan.

Ia bahkan juga bisa sangat lucu dan konyol seperti ketika sedang menggoda Diaval, sang gagak yang disihirnya menjadi seorang manusia untuk mengawasi gerak gerik Aurora.

Aurora adalah cinta sejati Maleficent yang ditampilkan di cerita ini. Semua terungkap ketika true love kiss nya lah yang ternyata 2 kali menyelamatkan nyawa Aurora, bukan kecupan seorang raja atau pangeran mahkota, seperti di banyak cerita. Aurora adalah putri seorang raja yang dulu membuat Maleficent menderita. Sang raja ini lah yang mengubahnya menjadi seorang yang jahat dengan memotong sayap yang menjadi sumber kekuatannya.

Saya kemudian merenung. Betapa kita kadang ikut andil membentuk karakter seseorang tanpa sadar. Membunuh sifat asli orang lain dan membuatnya tampak jahat di mata semua, atas nama apapun. Mungkin kekuasaan, mungkin persahabatan, atau bahkan atas nama harta.

Menceritakan hal buruk tentang seseorang demi mendapat simpati yang dituju. Atau menyakiti seseorang yang tidak bersalah, bahkan selalu baik pada dirinya, demi mendapat dukungan untuk tujuan tertentu.

Ah … Maleficent. Ternyata kebaikan hatimu berusaha kau tutupi untuk menjadi pagar pembatas luka yang pernah kau alami. Luka dalam atas kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup hingga begitu menyiksa diri namun setengah mati kau hindari. Sampai tiba masanya hatimu terbuka untuk menerima kenyataan dan tetap mampu berdiri tegak sebagai seorang yang kuat.

Well well … biarkan cap jahat itu tetap tersemat untuk kesenangan mereka. Namun kebaikan hati adalah sesuatu yang datang sejak lahir dan akan tetap ada, meski ombak kuat menerjang dan kerikil tajam menghadang.

Maleficent … she is not a villain. She’s a strong character who refuse to give up on her miserable life. Ia adalah wujud kekuatan seorang perempuan yang menolak untuk menyerah pada kesakitan dan penderitaan.

Untukmu para perempuan, anyone can take away your wings, but never your power and heart. So keep standing tall and being strong no matter what.

Love, Rere

Bangkit! Sweat Now, Shine Later


Bangkit! Sweat Now, Shine Later

Pagi tadi saya bangun tidur dengan sedikit sakit di bagian kepala. Saya memang penderita sinus dan migraine. Sudah seperti makanan sehari-hari kedua penyakit itu.

But, hey! You won’t stop me!

Saya tidak akan kalah darimu! Bergegas saya memakai sepatu olahraga dan menyalakan laptop untuk mengikuti kelas daring Zumba.

Sambil menunggu sang pelatih membuka kelas, ingatan saya melayang di hari saya merasakan sakit yang luar biasa hebat di bagian kepala beberapa tahun ke belakang. Sakit yang sempat membuat saya takut mengingat gejala yang sama pernah membawa suami saya menjalani operasi pembedahan kepala.

Ya, sewaktu ia terkena brain aneurysm. Seperti yang saya ceritakan di sini,

https://reynsdrain.com/2020/06/15/piece-by-piece/

Hari itu, setahun setelah suami saya dinyatakan sembuh, giliran sakit kepala hebat menghampiri saya. Gejalanya sama seperti apa yang dialaminya dulu. Throbbing headache, rasanya seperti ada orang yang memukul kepala dari dalam.

Begitu hebatnya rasa sakit itu saya sampai tidak bisa membuka mata sama sekali. Kepala dan tengkuk terasa sangat berat, perut saya pun mual. Kali ini giliran suami memaksa saya pergi ke rumah sakit. Saya sungguh enggan karena berpikir itu adalah sakit kepala biasa. Saya juga tidak ingin meninggalkan anak-anak di rumah jika ternyata saya harus dirawat. Namun dengan berat hati sambil menahan sakit, saya tetap menuruti permintaan suami.

Sesampainya di rumah sakit ternyata kami bertemu lagi dengan dokter yang setahun lepas memeriksa suami saya. Dengan wajah khawatir ia menyuruh saya segera menjalani pemeriksaan CT Scan.

Sepanjang perjalanan menuju ruang periksa, mulut saya bergumam meminta Sang Pencipta memberi saya kesembuhan dan kesehatan. Terbayang wajah ketiga anak saya yang masih kecil. Saya masih ingin membesarkan mereka, Ya Rabb.

Beruntung hasil pemeriksaan dengan cepat kami ketahui dan ternyata saya terkena muscle spasm. Suatu keadaan dimana saya mengalami serangan fatigue secara tiba-tiba. Mungkin karena stress, terlalu lelah, atau kurang olahraga.

“You need to do exercise.”
“But I’m a mother of 3 kids, Doc. I moved a lot as I don’t have a maid.”
“That one is tiring. Exercise will make you fresh and more healthy. That’s the only cure to your muscle spasm.”

Dokter hanya memberi saya beberapa butir muscle relaxant dan menyarankan saya untuk berolahraga. Sejak menjadi ibu saya memang tidak pernah lagi berolahraga seperti ketika muda dulu. Rasanya tidak pernah ada waktu luang karena begitu sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus ketiga buah hati tanpa bantuan seorang asisten pun. Ternyata saya mengalami kelelahan luar biasa.

Thanks, Doc! Sejak hari itu saya bertekad akan bergerak untuk menjaga kesehatan. Saya akan bangkit dari keengganan dan mulai memperhatikan kesehatan, karena anak-anak di rumah butuh ibu yang sehat jasmani dan rohaninya.

Di sini lah saya sekarang dengan sejumlah kegiatan olahraga yang semakin padat justru sejak pandemi terjadi. Meskipun hanya dilakukan secara daring in the comfort of our own home, Senin hingga Minggu saya sempatkan untuk berolahraga bersama teman-teman.

Terbukti tubuh saya sekarang sehat dan muscle spasm pun tidak pernah lagi saya alami. Hadha Min Fadli Rabb. Semua karena kuasa-Nya.

Ayo teman, bangkit dari sofa empukmu dan mulai memperhatikan kesehatan ragamu. Olahraga bukan hanya akan merubah fisik namun juga menyehatkan mental di hari-hari sulit seperti sekarang ini. Terlebih lagi kita butuh untuk menjaga imunitas agar tidak mudah terkena virus. Mari ubah kebiasaan diri dan … bangkit, yuk!

Get up! It’s a good day to turn your life around.

Love, Rere.

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini


Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Film yang diangkat dari novel karya Marcela FP ini sukses membuat saya menangis (lagi). Iyaaaa saya memang gembeng kelas berat.

Ceritanya adalah tentang keluarga dan arti kebahagiaan. Kebahagiaan yang nyatanya semu bagi semua. Kebahagiaan yang dipaksakan karena sang ayah tidak ingin ada airmata di dalam keluarganya. Sang ayah yang tumbuh dewasa sebatang kara dan ketika dirinya mulai merasakan bahagia, ia takut untuk kehilangan sang rasa.

Rasa takut yang ditutupinya dengan berbohong mengenai kematian salah satu anak kembarnya. Kebohongan yang ditutupi selama puluhan tahun sehingga memaksa sang istri untuk berusaha tegar dan tidak mengeluarkan airmata. Kenyataan yang juga disembunyikan dari anak-anaknya agar mereka tidak tahu apa arti kesedihan.

Sang ayah kemudian menjadi kepala rumah tangga yang over protective. Ia tidak ingin anak-anak dan istrinya mengalami kesakitan. Hingga mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak mampu mengungkapkan isi hati, perasaan, karena tidak pernah mengalami rasa sakit atau kekecewaan. Rasa yang terus dianggap tidak ada ketika muncul. Seperti robot dengan tombol on dan off untuk mengendalikan semua bentuk rasa.

Angkasa, si sulung, yang sejak kecil dipaksa menerima beban tanggung jawab menjaga kedua adiknya justru tumbuh menjadi lelaki yang plin plan. Karena baginya bahagia itu adalah ketika ia mampu menjaga seisi rumah dengan seksama. Hingga memutuskan untuk membahagiakan dirinya sendiri pun ia tak bisa.

Aurora si anak tengah, tumbuh menjadi wanita yang merasa dirinya tidak pernah dianggap. Karena melihat sang ayah dan seisi rumah hanya peduli pada sang adik bungsu. Perhatian berlebihan dari sang ayah yang ternyata berlatar belakang cerita penuh duka.

Awan, si bungsu, yang tumbuh dewasa tanpa pernah merasakan kesulitan dalam hidup. Semua serba ada dan sudah diatur. Sudut pandangnya berubah ketika ia bertemu Kale kemudian merasakan kekecewaan.

Ajeng, sang ibu, yang mengalami kesedihan luar biasa karena tidak pernah sempat melihat bayi kembarnya yang meninggal dunia. Ia bahkan juga mengalami trauma sehingga tidak mampu membawa kendaraan setelah melihat kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Awan.

Banyak pergulatan emosi terjadi kemudian, yang menyebabkan mereka harus mengakui bahwa sebenarnya mereka rapuh. Mereka sedih. Komunikasi memang menjadi inti masalah dalam cerita ini. They look okay, but they’re not dan tidak ada yang mau mengakui karena berpikir bahwa ada kebahagiaan orang lain yang ditentukan dan menjadi tanggung jawab mereka. Hingga mereka lupa untuk mencari kebahagiaan mereka sendiri.

Menonton film ini membuat saya ingin memeluk erat ketiga anak dan suami di rumah. Bersyukur selama ini saya membiasakan anak-anak untuk mengungkapkan isi hati dengan bebas. Jika merasa marah, marahlah dengan sewajarnya. Jika bersedih, menangislah sepuasnya. Tidak perlu menutupi apa yang ada di dalam hati.

Be true to yourself.

Saya juga membiarkan anak-anak mengalami kekecewaan dan rasa sakit. Untuk kemudian mengambil pelajaran dan kekuatan di balik semua kegagalan.

It’s okay not to be okay.

Tidak perlu bersembunyi dari rasa sakit dan kecewa itu. Hadapi saja, ungkapkan, lalu nikmati dengan segenap rasa. Karena itu semua yang akan menjadikan kita bisa berdiri tegak hingga di akhir masa.

Well, parenthood is never easy. Pada akhirnya bahagia itu adalah kemampuan untuk menerima kenyataan, kemampuan untuk mengungkapkan perasaan, dan itu yang akan mempererat hubungan antar individu dalam keluarga.

Love, R

Sumber foto: Wikipedia

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #ReReynilda

H I D U P


H I D U P

Memang tak selalu lurus apalagi mulus
Kadang di tengah jalan bertemu kerikil dan batu
Mungkin juga berhadapan dengan jalan berliku
Namanya juga hidup, bisa bertahan kah kamu?

Pernah punya duit cuma sepuluh dollar
Dengan sebiji telur penahan lapar
Untung bayi kecil gak ikut nangis menggelegar
Namanya juga hidup, tak selamanya bak bunga mekar

Pernah juga tertimpa masalah besar
Sampai harus kabur-kaburan
Bahkan mobil sampai tabrakan
Namanya hidup, kadang ada ujian sabar

Ujian terus, kapan lulusnya?
Masak hidup enggak lurus terus jalannya?
Kan sabar ada batasnya?
Namanya juga hidup, kita tak pernah tahu ujungnya

Merasakan roller coasternya kehidupan
Membuat saya punya pertahanan
Walau kadang ada pasang surutnya
Tapi saya sadar, banyak orang lebih susah hidupnya

Dari itu semua, apa yang saya dapat?
Selain keyakinan untuk bisa menjalani dengan selamat?
Saya belajar artinya kekuatan
Yang tidak pernah saya tahu adanya di badan

Sekarang jalan saya terasa lebih lapang
Lupakan yang lewat dan maafkan segala kesalahan
Tugas saya sekarang berbagi pelajaran
Bahwa setelah gelap pasti ada terang

Life’s short, spend it wisely.

Change the way you look at things.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis

Tentang Hati (Sebuah Elegi)


Tentang Hati (Sebuah Elegi) Ketika hatimu mati Karena prasangka dan dengki Ingat-ingatlah mati Yang setiap saat menghampiri Aku tak akan bergeming Karena lisanku toh tak kau percayai Semoga Allah mengampuni Segala fitnah yang terlontar dengan keji Betapapun hati ini ingin balas menyakiti Namun ku tetap menahan diri Kan kubalas indah hanya dengan puisi Karena hanya […]

The Earth Of Mankind


The Earth Of Mankind

Wah! Ada film baru di Netflix. Judulnya berbahasa asing tapi aktornya tampak familiar.

Penasaran, saya pun memutarnya.

Bumi Manusia!

Film yang saya tunggu-tunggu sejak awal dirilis dulu. Bukan karena pemerannya Iqbal di Dilan yang lucu, tapi karena film ini adaptasi sebuah novel yang seru. Eeee … saya belum selesai sih membaca e-book nya. Mata tua saya menolak untuk menatap deretan katanya terlalu lama. Maklum, orang jaman baheula, yang lebih kuat membaca lembar demi lembar dibanding deretan kata pada layar.

Tidak biasanya lho, saya yang lebih tertarik dengan tampilan visual dibanding membaca baris demi baris kata, kali ini langsung mencari e-book novel aslinya. Karena film berdurasi 3 jam ini masih membuat saya kehausan akan cerita para tokoh di dalamnya.

Di dalam novel yang ditulis setahun sebelum saya lahir ini, Pramudya Ananta Toer menggambarkan suasana ketika Hindia Belanda menguasai tanah Jawa. Geram, sebal, marah, dan ikut merasakan pedihnya nasib Nyai Ontosoroh dan Minke yang kehilangan banyak hal hanya karena identitas mereka sebagai pribumi yang tertindas di tanah mereka sendiri.

Nyai Ontosoroh, mungkin salah satu karakter yang membuat saya berdecak kagum melihat sosoknya yang diperankan dengan sangat cerdas oleh Ine Febriyanti. Perempuan kampung bernama asli Sanikem, yang dijual sang ayah ketika berusia sangat muda kepada seorang lelaki Belanda pemilik perusahaan susu kaya di Wonokromo. Sanikem pun kemudian bergelar Nyai Ontosoroh. Julukan nyai diberikan kepada perempuan yang menjadi selir atau simpanan pada masa itu. Seperti Sanikem yang dibeli Herman Mellema sebagai selir, tanpa ikatan pernikahan resmi.

Sanikem muda yang tidak berpendidikan menjelma menjadi sosok perempuan kuat, tegas, pandai, dan menguasai banyak hal yang bagi saya justru adalah magnet di film ini. Lebih kuat dari sosok Minke yang buah pemikirannya tidak banyak diceritakan di film. Kerumitan jalan pikirannya secara detail tertuang di dalam novel aslinya. Tentu saja jika diceritakan semua, 3 jam tidak akan cukup mengadaptasinya dalam film.

Walau film ini berakhir sedih dengan kehilangan, perpisahan, bahkan kematian, banyak kesan saya dapatkan di akhir cerita. Jadi perempuan itu mesti kuat, harus rajin belajar untuk menguasai banyak hal. Perempuan juga harus berani menyatakan pendapat, dan punya pendirian. Walau Nyai Ontosoroh akhirnya gagal mempertahankan hak nya sebagai ibu. Ia tetap menunjukkan perjuangan membela harga dirinya hingga akhir, ketika akhirnya harus melepas sang putri pergi.

Hhhh … rasa syukur yang teramat besar terucap di sela isak tangis. Bersyukur saya berada di jaman yang sangat berbeda saat ini. Tidak terbayang jika saya hidup di masa itu sebagai seorang pribumi.

Maka di tengah pandemi yang mengharuskan saya stuck di rumah saja ini, saya tetap bersyukur. Karena masih terasa perihnya hati melihat Annelies dipaksa pergi meninggalkan sang mama yang menyayanginya sepenuh hati, hanya karena identitas diri. Tak apa lah saya menikmati hari-hari belakangan seperti ini, asal anak-anak tetap di sisi.

A must watch movie and a must read book it is!

Sumber foto: Wikipedia

Love, R

#WCR #ChallengeMenulis #RumahMediaGrup

Rayyan The Strongest


Rayyan The Strongest “Madam, we have to make blood test to check whether your son got dengue.” — Saya tertegun lama sekali …. Bagaimana saya harus membuat Rayyan tidak meronta kala lengannya harus ditusuk jarum. Lantas, diambil darahnya … dalam kondisinya yang lemah karena demam tinggi yang tak juga turun. Bahkan setelah saya berikan obat […]

Being Strong


Being Strong Nak, jadi perempuan itu mesti kuat. Jadi perempuan itu nggak bisa cuma sekedar cantik dan manis seperti boneka Barbie. Yang seperti itu sudah bejibun, Nak. Banyaaakkk dan mudah sekali ditemui. Jadi perempuan itu tidak mudah, Nak. Karena kelak harus menjadi sekolah dan madrasah awal untuk semua buah hatinya kelak. Mengajarkan anak-anak mereka tata […]