💔


💔

Bunda, do you know that my teacher talked about broken heart a few days ago?”
“Okay, what is it about?”
“It’s about how we deal with it. I mean, why? What’s the importance of talking about broken heart? So funny.”
“Well, in my opinion it’s as important as the talks about sex. Let me tell you something …”


Sambil tertawa geli, si sulung pernah bertanya pada saya, apa pentingnya pembicaraan tentang patah hati yang diterimanya di sekolah. Usianya memang sudah menjelang 15 tahun, tapi tingkahnya seringkali masih kekanak-kanakan. Sehingga pembicaraan tentang asmara, masih nampak lucu bahkan memalukan di matanya.

Saya lalu bercerita padanya tentang rasa sakit karena patah hati. Tak melulu rasa sakit akibat ulah lawan jenis, tapi mungkin terjadi antara dua sahabat dekat, bahkan anggota keluarga. Rasa sakit yang terasa sangat pedih, ketika harapan sudah terlanjur membumbung tinggi, pada seseorang yang sangat dekat di hati.

Tanpa disadari, luka karena patah hati bisa berdampak buruk pada diri. Seorang yang tadinya cemerlang di sekolah, bisa terpuruk bahkan mungkin gagal karena menolak sumarah. Menolak kenyataan bahwa ia telah gagal mempertahankan hubungan, padahal hati sudah diberikan.

Itu sebabnya pembicaraan tentang patah hati menjadi penting, Nak. Bagaimana hati mempersiapkan diri untuk disakiti. Rasa sakit itulah, yang membuat seseorang berdiri tegak menghadapi hari. Rasa yang tidak perlu ditolak kehadirannya, hanya butuh dinikmati. Menikmati sakit untuk tahu bagaimana mengatakan pada diri sendiri, “I respect me. I respect my feeling and I will deal with it myself.”

Ada banyak hal di dunia ini yang masih terbuka untuk kita pelajari. Tak ada satu jalan pun yang tak berkerikil atau berkelok. Pilihanmu hanya berhenti atau terus. Jika berhenti maka hidupmu berakhir di sini, jika terus, meski sakit, hidupmu akan terus maju.

***

Untukmu Young Girl, life must go on. Jika ia menghilang pergi, biarkan saja. Tak perlu lama meratap dan berharap. Raih semua cita, maju demi masa depan. Cinta milikmu akan datang pada saat yang menurut-Nya tepat, meski mungkin bukan tepat di mata manusia biasa.

Untukmu Mommy … saya memahami. Bahwa ketika anak-anak kita tersakiti, hasrat hati untuk melempar sebuah batu ulekan bekas mengulek sambel belacan, begitu membara. Saya paham rasanya. Tapi putrimu butuh ibu yang kuat dan bijaksana, bukan penuh angkara. Peluk saja ia dan katakan betapa dirimu mencintainya. Soal asmara akan datang pada saatnya. Menangislah sebentar, lalu bangkit dengan senyum mengembang. Hidup ini terlalu berharga hanya untuk memikirkan mereka yang telah menyakiti. Have a self respect and dignity, especially for your daughter. Dia yang pergi, biarkan saja tak perlu menahan atau memintanya kembali. Percayalah, ia tak cukup berharga untuk dipertahankan.

Untukmu sang Lelaki, tak semua orang paham apa maksud di hati. Berani memulai harus berani mengakhiri. Jangan berpikir segan, demi menghindari konflik dan air mata. Air mata pasti kering, namun hati yang bertanya-tanya akan meninggalkan lubang menganga. Berani mengambil hati, harus berani menjaganya agar tak pecah berkeping. Bertanggung jawablah sebagai lelaki yang menghargai kaum perempuan, karena kelak kau akan punya anak-anak perempuan. Mereka yang mungkin akan menangis di pangkuan, ketika sang kekasih pergi meninggalkan.

***

Wahai gadis muda, para perempuan. Tahanlah hasrat untuk terlalu berharap, kecuali siap dengan hati yang mungkin patah. Be strong, bangun dari tidurmu lalu melangkah maju. Hingga kelak bisa kau ajarkan putra putrimu, bagaimana menyikapi rasa sakit itu. Bagaimana ia dihadapi, bukan dihindari.

Stop seeking for happiness, in the heart of others. Happy International Women’s Day!

Love,
Rere

BELIEVE


BELIEVE

“I feel really stressed out, Bunda. Express is hard. School is hard. I get headaches and I’m super sleepy even sometimes after sleeping around 10. I’m not sure how much longer I can cope with it … I’m sorry, Bunda. I’ll try harder.”

Begitu sebagian dari pesan singkat yang saya terima kemarin. Lana, putri kedua saya mengirimkannya di sela masa istirahat sebelum kegiatan ekskulnya dimulai. Pesan singkat tak singkat, yang cukup membuat saya mundur untuk berpikir.

Saya menelaah kata demi kata yang dikirimkannya itu. Berpikir ulang apakah tepat keputusan saya mendorongnya mengambil tawaran untuk masuk kelas akselerasi, atau express stream namanya di sini. Ia juga mengeluh bahwa pada saat yang bersamaan dengan musim ujian di sekolah, madrasah tempatnya belajar agama juga mengadakan ujian.

Saya merasa ia hanya takut menghadapinya. Ia takut gagal. Apalagi setelah 1 mata pelajarannya di sekolah, mendapat nilai yang tidak sesuai harapan. Padahal ia merasa mampu.

Ia lalu bertanya apakah ia bisa belajar pada saya saja tentang Islam, hingga tak perlu datang dan belajar di kelas madrasah. Hmm … ilmu saya sangat tak cukup untuk membekalinya dengan pengetahuan tentang agama. Saya pun masih terus belajar. Itu sebabnya saya mengirimnya belajar ke madrasah, dengan harapan ilmu yang mereka dapat bisa menjadi pegangan dalam hidup kelak.

Sepulangnya dari sekolah, kami mulai berbicara dari hati ke hati. Setelah mendapat banyak pencerahan dari sang ayah, tiba giliran saya berbicara padanya. Sebelum mulai, saya memeluknya dan berkata betapa bangganya kami semua pada segala pencapaiannya di sekolah selama ini.

Sambil mengusap lembut kepalanya, saya mengatakan bahwa saya paham ketakutannya menghadapi ujian. Ia takut karena memang tidak mempersiapkan diri dengan baik, hingga tak punya kepercayaan diri yang cukup. Namun hidup sejatinya berisi penuh ujian, Nak. Jika satu ujian saja membuatmu mundur bahkan sebelum mencoba, bagaimana kamu akan menjalani hidup kelak? Hidup yang pasti akan semakin tidak mudah.

Gagal itu biasa, yang tidak biasa adalah tidak pernah gagal … karena tidak pernah berani mencoba.

Saya mengajaknya untuk mengurai masalah dan mencoba fokus satu per satu untuk menyelesaikan dengan segala kemampuan. Ia saya ajarkan untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

If you think you can, you will. If you think you can’t, you won’t.

Ingat, Nak. Ujian itu harus ada, untuk melihat batas kemampuan kita. Kemampuan yang kita dapat melalui proses belajar yang tanpa henti, hingga kelak tiba di ujung hari. Belajar yang harus membuat kita semakin merunduk, bukan mendongak pongah. Bak ilmu padi yang kerap menjadi nasihat.

Jangan mundur menghadapi ujian yang ada di depanmu. Maju dengan berani, percaya pada diri sendiri. Bekali diri, dan jangan pernah menyerah meski hanya sekali.

Pembicaraan pun kami tutup dengan pelukan hangat serta janji, bahwa ia akan mencoba lebih keras menghadapi semua ujian di hadapan. Kerjakan satu per satu, jangan menumpuknya dan hanya pergi berlalu. Selesaikan tugasmu, manfaatkan setiap detik hidupmu.

If you believe in yourself, anything is possible.

Love,
Rere

GIRL GUIDE


GIRL GUIDE

Adik, have you prepared your school stuffs?”
“I did,
Bunda. I’m sewing my Girl Guide uniform stuffs now.”
“Whoa! Can you do it?”
“Yea. It’s not perfect but yea, I can do it.”
Pinterr.”

Girl Guide, adalah kegiatan ekstra kurikuler yang dipilih putri saya nomor 2 ini.

Meski awalnya sang kakak meragukan kemampuannya beradaptasi dengan peraturan, sang adik mampu membuktikan. Walau penuh keengganan dan kerap “mecucu” menceritakan polah para senior, ia terbukti mampu menekan ego yang kerap ngeloyor.

Bangga sih, melihatnya semangat mempersiapkan seragam meski kembali mecucu ketika sang bunda hendak mengambil gambar. Hahaha! Ia tak tahu betapa setiap jepretan akan menjadi sisi manis sebuah kenangan.

Oh ya, Girl Guide adalah sebutan untuk Pramuka bagi murid tingkat sekolah menengah atau Secondary di Singapura. Untuk murid sekolah dasar sebutannya adalah Brownies. Mungkin karena mereka masih imut, manis, dan kinyis-kinyis.

Saya sendiri dulu adalah seorang Pramuka semasa bersekolah di SDN TUGU V. Dengan penuh semangat dulu saya belajar tali temali, baris berbaris, dan bermacam keahlian lainnya. I love being Pramuka.

“Then, what did you do yesterday?”
“We made Maggi.”
“Huh? Ah, you’re an expert already.”
“Yeah, but I didn’t eat. I just watched my juniors ate their noodles.”

Pelajaran penting bagi seorang GG: mampu menjahit dan memasak, minimal mie instan. Good job, Adik!

Love,
Rere

Pangeran (Ayam) Kodok


Pangeran (Ayam) Kodok

Rasa aslinya? Saya belum pernah coba sama sekali.

Tak terhitung berapa banyak video tutorialnya saya sudah tonton dan selalu berpikir, susah sekali membuat makanan satu ini.

Sudahlah namanya ajaib, tutorialnya susah setengah mati, hingga berpikir untuk membuatnya saja … saya sudah malas sekali.

Ulang tahun suami mengubah segala pandangan tentang si kodok. Memang setiap ada kemauan, di situ akan muncul jalan.

Memanfaatkan ketertarikan akan kerajinan tangan, saya mulai mengolah si kodok dengan penuh ketelatenan.

Bayangkan saja, hidangan satu ini tu seperti orang kurang kerjaan.

Si ayam calon kodok, dikuliti dengan hati-hati. Sesudah itu si kulit tanpa isi harus diisi kembali, bahkan dijahit hingga semua bersatu tak bisa kabur tanpa permisi. Hmm … kurang kerjaan, kan?

Dikuliti, diisi, dijahit.

Si kentang yang bukan potato couch pun begitu juga. Setelah direbus, isinya dikeruk hingga melompong. Sesudah itu, kerukan kosong itu diisi kembali seperti semula. Iseng banget, kan? Ngapain coba dari awal dikeruk-keruk. Emang kurang kerjaan betul!

Oh, tapi moto hidup saya kan, kalau ada jalan yang susah, kenapa ambil yang mudah? Hahaha!

Jadi, inilah produk baru Dapoer Ranayan dengan rasa yang mungkin tidak original. Berhubung sang bakul belum pernah mencobanya langsung. Namun, jangan bingung. Verdictnya saya dapat dari si dia yang awalnya meringis melihat si ayam berpose bak kodok nanggung.

Dibeli olesan bak foundation tebal.

“Ihhh ayam seekor? Kan tahu Ayah enggak suka.”
“Coba duluu!”
“Oh, lain ya isinya? Wah! Sedap! Enak banget ini!”

Senyum dan hidung sang bakul pun mengembang. Project perdana si kodok berhasil membuat si dia senang. Bahkan, meski deg-degan mengirimnya pada kakak tersayang, komentar yang datang pun nyatanya membuat girang. Ahh, ai laff you pangeran ayam … eh kodok sayang!

Kamu, kamu, enggak pingin nyoba?

Love,
Rere

STOP, THINK, REFLECT


STOP, THINK, REFLECT

“You know, Kak. When I attend zoom meeting with Rayyan’s form teacher, do you know what she said?”
“What is it,
Bunda?”
“She greeted me and
Rayyan only.”
“Hmm … you didn’t find it insulting?”
“Why should I think so?”
“I don’t know. Maybe she always picks on him because you know …
Rayyan can be very naughty at school.”
“I know. I talked to the teacher a lot, but I didn’t find it insulting though. Okay, explain how do you see an insult to me.”

***

Sabtu pagi itu, saya mengajak si sulung berkeliling mengantar pesanan buku pada beberapa pembeli. Tujuan saya ada dua, yaitu saya ingin ia melihat bagaimana ibunya tetap aktif melakukan banyak pekerjaan, mesti tak lagi bekerja kantoran. Kedua, saya ingin sepanjang perjalanan mengajaknya ngobrol tentang apa saja dalam kehidupan. Seperti biasanya.

Pembicaraan menjadi menarik ketika ia menganggap, sapaan yang diberikan sang wali kelas hanya pada saya dan Rayyan hari itu, berkategori penghinaan atau semacam sindiran halus. Ia bercerita bagaimana ia pernah melihat beberapa orang tua siswa yang datang ke sekolah untuk marah-marah karena merasa tersinggung, padahal kesalahan ada pada siswa tersebut.

Ia heran kenapa saya tidak marah, terutama jika sang guru menghubungi saya untuk menceritakan sesuatu hal tentang Rayyan. Ia juga heran mengapa saya justru seringkali menghukum Rayyan karena perbuatannya yang saya anggap keliru. Menurutnya, orang tua lain mungkin akan balik menyerang sang guru.

Saya tersenyum lalu bercerita bagaimana dulu saya selalu menanggapi kritik dan saran dengan kemarahan. Tanpa butuh mendengar dan memahami, saya akan bereaksi keras dan menjadi super defensive. Saya sangat mudah tersinggung, dan menganggap orang lain membenci saya melalui kritikannya.

Pengalaman-pengalaman itu yang membuat pemahaman saya tentang feedback kini berubah. Instead of being defensive dan mendengar hanya untuk mencari celah bantahan, saya justru kini memilih untuk melakukan banyak refleksi diri.

Berhenti dan menahan diri untuk berkomentar, berpikir untuk melihat dari sudut pandang lain, lalu mendengar untuk memahami lebih dalam. Feedback yang masuk pada saya, membuat saya menatap cermin dan melihat “kesalahan” atau “alpa” yang mungkin saya buat tanpa sadar. Dalam hal ini lewat kesalahan yang dilakukan Rayyan di sekolah.

Lalu, instead of menjawab untuk membela diri, saya diam dan berjanji akan berubah lebih baik lagi jika saya memang benar melakukan kesalahan. Saya kan tidak bisa melihat, bagaimana diri ini bertingkah laku, di mata orang lain. Jadi opini, saran, feedback, yang diberikan dengan cara baik dan santun, pasti akan saya dengar dengan baik.

Tentu saja yang disampaikan bukan dengan tujuan untuk menyerang di hadapan publik. Itu sih, anggap saja mereka baru datang dari hutan rimba dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik, layaknya manusia yang berakal sehat.

I stop and listen to understand, not reply. Pemahaman yang saya peroleh lalu menjadi bahan untuk berfleksi. Jika saya salah maka saya harus berubah. Begitu juga yang saya ajarkan di rumah. Tak perlu mengeraskan kepala demi sebuah ego diri. Embracing yourself, tak melulu berarti keras hati, kan? 😉

Love,
Rere

You Are Loved!


You Are Loved!

“Bunda, I don’t like my new class.

Tersentak, hati saya seperti tersayat-sayat membaca pesan singkatnya pagi itu.

Jika ia ada di hadapan saya, sudah pasti saya akan merengkuhnya dalam pelukan erat dan mengatakan betapa saya bangga padanya.

Gadis kecil ini memang tumbuh dalam situasi yang tidak mudah. Mengalami beberapa perundungan sejak di bangku sekolah dasar, hanya karena perbedaan warna kulit yang lebih gelap dari sang kakak. Kisahnya seperti cermin yang memantulkan bayangan serupa dengan yang saya alami ketika seusianya dulu.

Ia juga mewarisi sifat saya yang judes dan jutek, meski ia tumbuh lebih berani. Pengalaman membesar menjadi remaja putri bersifat introvert dan penakut, membuat saya banyak membesarkan hati ketiga anak di rumah. Saya mendidik mereka supaya berani menghadapi dunia. Meski kadang kejudesan putri saya ini agak mengkhawatirkan. Hahaha!

Jangan terkejut jika bertemu dan ia akan dengan lugas mengutarakan pendapatnya atas sesuatu. Maaf, kalau ia jadi terdengar terlalu jujur. Saya hanya ingin anak-anak terbiasa mengutarakan isi hati tanpa banyak memendam, tentu saja dengan beberapa syarat yang hingga hari ini mereka terus pelajari tanpa jeda. Termasuk saya.

Saya tidak ingin mereka tumbuh sebagai orang-orang dewasa yang penuh prasangka akibat banyak memendam rasa. Itu sebabnya kala pesan singkat ini terkirim, saya menyikapi dengan hati-hati, karena tidak ingin terjebak dalam situasi penuh melodramatik.

Seiring dengan nasihat untuk melihat situasi dengan tegar diri, saya juga ingin ia tahu bahwa ia dicintai. Saya anjurkan ia untuk bersabar dan memberi waktu pada teman-temannya untuk mengenal lebih dekat.

Yet, segala perubahan yang terjadi di awal tahun ini rupanya seiring dengan berita penuh berkah. Meski sempat merasa sendirian, tak membuatnya surut melangkah dan tetap berprestasi dengan sumringah. Alhamdulillah! Congrats, Adik!

Tetap lah menjadi dirimu, meski kadang harus melangkah pergi sendiri dari kerumun. Berjalan lah maju tanpa ragu, namun ingat untuk selalu merunduk. Menerima nasihat yang datang dari segala arah, dengan lapang dada. Menjadi kuat dan tidak banyak berprasangka.

You are loved, Sayang!

Love, Rere.

Daster … oh … daster


Daster … oh … daster

Bahasan yang menarik karena menyangkut hajat hidup para perempuan. Hahaha!

Saya akhirnya paham dari mana asal usul pembahasan tentang daster yang seliweran di beranda kemarin.

Si Embak Quinn enggak sepenuhnya salah. Buat saya, ia hanya menghimbau para perempuan supaya memiliki self love. Self love bukan selfish ya, teman-teman perempuan terkasih.

Self love itu mencintai diri sendiri, bukan lantas menjadi egosentris, tapi merawat dan bertanggung jawab akan keberadaannya di dunia ini.

Embak Quinn hanya punya 1 kesalahan kecil, yaitu menyinggung soal daster. Baju sejuta umat perempuan, kebanggaan mereka semua. Pokoknya urusan daster, jangan coba-coba nyolek, deh. Tak kurang seorang selebritis cantik sekelas Sarwendah pun kerap menjadi contoh, karena sering terlihat mondar mandir berdaster ria. Tapi … sini ekeh bilangin. Doi mulus, Cint! Putih, mancung, langsing, rambut terawat. Jadi mau pake daster bolong pun enggak ada yang ilfil. Hahaha!

Saya pernah ada di fase males mengurusi diri sendiri, waktu hamil anak 1. Berpikiran bahwa, “ah gue udah laku ini,” menjadi pembenaran saya tampil kumut-kumut. Sampai suatu hari suami saya yang menegur dan minta saya kembali memperhatikan diri sendiri, seperti ketika ia pertama kali bertemu saya berseragam pramugari. Menurutnya saya nampak pucat sekali.

Saya termenung, dan lalu berpikir. Iya, sih. Jika bukan saya yang menghargai diri sendiri, lalu siapa lagi? Bukankah respect is earned, and not given? 😉

Saya pribadi memang bukan pemakai daster, bukan karena merasa diri elegan nan menawan. Eeeaaa. Saya memang bukan pemakai dress panjang juga. Buat saya, ribet. Tidak leluasa bergerak, padahal saya harus petakilan bak tarsan perempuan sehari-harinya. Alasan ke 2 adalah, saya menjadi abai dengan bentuk badan karena sudah nyaman berbaju gombrong bahkan bolong di banyak tempat.

Percayalah, baju-baju besar akan membuat kita tidak menyadari, betapa banyak lemak sudah tertimbun di sana-sini. Saya tidak mengatakan big is not beautiful. Buat saya yang petakilan ini, bobot tubuh yang berat akan membuat saya makin malas bergerak dan cenderung melambat. Sementara saya tak suka bergerak lelet jumelet.

Jadi, ambil bagian baik dari kata si Embak Quinn itu untuk perbaikan diri saja. Walaupun tidak perlu lantas berubah artificial, seperti berusaha keras agar nampak elegan tapi malah berujung menggelikan. Tetap lah menjadi diri sendiri dengan beberapa perbaikan untuk menunjukkan betapa kita mencintai tubuh dan jiwa yang sekian tahun bersama kita. Tanpa sadar bahkan kita dzolimi dan lupa bahwa ia juga butuh dirawat setiap hari.

Merawat dengan tujuan untuk menunjukkan respect pada diri sendiri, dan mengubah beberapa hal menjadi baik agar orang lain juga respect melihat kita. Meskipun 24/7 hanya di rumah saja, seperti saya.

Jangan alergi mendengar perempuan lain mengatakan hal-hal baik untuk perbaikan. Ambil yang baik, buang yang buruk. Jangan kelamaan menyimpan hal buruk, karena akan nampak di raut wajah kita, juga perilaku.

Jadi, mari berubah lebih baik dan semakin menghargai diri sendiri. Pakai lah dastermu lagi, asal ingat untuk selalu terbuka pada hal apapun yang membawa perbaikan diri.

Up up away! For a better me … and you!

Love, Rere

The Little Thing â€‹


The Little Thing

“Bunda, why didn’t you wave at me from the window like always?”

Dengan suara parau seperti menahan tangis, bocah lelaki itu menghubungi saya lewat sambungan telepon sekolahnya pagi tadi.

Saya pun kaget, tidak mengira bahwa keterlambatan kami berdua membuka jendela untuk melambaikan tangan , begitu berarti untuknya. Sampai ia harus menghubungi saya melalui telepon sekolah.

Entah apa yang ia katakan pada penjaga counter kantor pusat, tempat telepon itu berada. Mungkin dengan bilang, ada sesuatu yang penting hingga ia harus menghubungi saya secepatnya. Hahaha! Padahal hanya gara-gara lambaian tangan ayah dan bundanya, yang tadi pagi terlambat membuka jendela.

Saya pun segera meminta maaf dan menjelaskan bahwa setelah ia keluar rumah, saya bergegas membuka catatan untuk membayar tagihan bulanan. Sementara sang ayah sedang kebingungan mencari dompetnya yang entah ia simpan di mana. Begitu sadar, ia segera membuka jendela namun sang putra tercinta sudah berjalan masuk ke gerbang sekolah. Hanya sekian detik saja mungkin kami terlambat melihatmu dari lantai atas.

Ahh … Rayyan. Lembut sekali hatimu, hingga sepasang lambaian tangan saja bisa membuatmu sendu. Jangan tanya bagaimana menyesalnya ayah karena terlambat membuka jendela untuk melihatmu. Bunda sih, seperti biasa, pikun dan lupa selalu.

Jadi inget eyang papa kalau urusan seperti ini. Papa yang selalu menitikkan airmata terhadap segala pencapaian putri kecilnya dalam hidup, even the very smallest thing. Hal manis yang membuat sang putri tumbuh percaya diri karena tahu ia dicintai.

Enjoy the little things in life. One day you will look back and realize they were BIG things … for it is the little thing that matter the most.

Love, Rere

Pisang Tanda Sayang


Pisang Tanda Sayang

Hmm … back to school berarti kembali klutekan di dapur nyiapin bekal para krucils sekolah.

Capek, kah, saya? Enggak, tuh.

Saya justru menikmati harus bangun lebih pagi demi membuat makanan kecil yang akan mereka bawa pergi. Saya juga menikmati setiap proses ketika memikirkan bentuk, dan jenis snack untuk anak-anak. Bener, lho. Suwertekewerkewer!

Meskipun tidak melulu fancy, karena saya cuma membuat apa saja yang saya punya di lemari es. Bahan dasarnya, ya … biasanya paling roti. Tinggal mikir mau diisi apa atau dibentuk seperti apa supaya nampak cantik dan menarik.

Padahal mending ngasih duit jajan kan, ya? Gampang, enggak ribet.

Hmm … Dua anak sekolah menengah sih, tetap saya kasih “sangu” $20 untuk seminggu. Sementara Rayyan, hanya boleh jajan di kantin sekolah setiap hari Rabu, sesuai jadwal ekskul. Walaupun saya membekali LL dengan duit jajan, saya tetap membuatkan mereka makanan kecil, lho.

Saya hanya ingin, kelak mereka mengingat semua sentuhan cinta yang saya ungkapkan tak melulu lewat kata. Meski hanya sebuah kotak makan berisi cemilan sederhana, saya ingin mereka merasakan kehadiran saya, di mana pun mereka berada.

Pagi ini, cinta itu terwakili lewat bentuk KW dari pisang molen. Pisang kepok berbalut kulit pastry sebagai tanda cinta, yang beratnya lebih dari segepok. Semoga hari ini saya dapet cipok. 💋

Cihuy!

Love, Rere.

Tumpeng Bikin Seneng


Tumpeng Bikin Seneng

Masih ingat tumpeng mini yang waktu itu saya buat?

Padahal setelah hari itu, saya tobat bikin tumpeng, lho. Makannya 5 menit, menghiasnya bikin pinggang sakit.

Ternyata tobat saya tobat sambel. Cuma sesaat. Hahaha!

Pagi ini bukan lagi tumpeng mini saya buat, tapi tumpeng gede. Hahaha! Meski sudah mengatakan pada mamak pemesan yang kece berat, bahwa karena short notice, saya akan membuat tumpeng sederhana saja. Ternyata … saya tak tahan juga melihatnya terlalu biasa. Padahal hanya punya 1 hari persiapan saja.

Meski tak memberikan deretan pagar cantik, atau bentuk basket seperti sebelumnya, kali ini tumpeng saya penuh dengan bunga. Bak sebuah taman mini di sudut rumah yang asri. Penuh warna-warni, yang memikat hati. Semoga menu yang tersaji memikat lidah juga ya, ibu-ibu baik hati.

Terima kasih sudah memaksa saya membuat tumpeng lagi. Hahaha!

Love, Rere