Be Happy!


Be Happy!

“Ih, ngapain sih pake bulu mata palsu? Kan alami lebih baik. Coba tanya suamimu. Iya kan, suamiku? Mending tampil apa adanya seperti aku gini kan ya?”

Saya pernah mendengar seorang perempuan mengatakan ini pada sang suami tentang perempuan yang lain. Kemudian saya jadi berpikir.

Susah betul jadi perempuan. Lebih susah lagi ternyata menghadapi sesama perempuan. Menghadapi cibiran, senyum sinis, insecurity sesama kaumnya.

Tahukah kalian betapa sulitnya menjadi seorang perempuan? Tak perlu lah saya membahas tentang proses melahirkan, bagaimana rasanya mengeluarkan seorang bayi melalui lubang kecil di kemaluan, atau robekan lapis demi lapis kulit di perut yang menjadi aduhai.

Menjadi perempuan, dituntut banyak hal. Sejak gadis dituntut untuk menjaga diri. Salah jaga? Sudah pasti disalahkan.

Ketika bergelar ibu, lebih susah lagi. Setengah mati mendidik anak-anak di rumah, dan ketika mereka ke luar rumah lalu melakukan kesalahan, yang akan menjadi cibiran adalah, “Ibunya pasti gak tau cara mendidik dengan baik.”

Setiap pagi bernyanyi merdu bak kaset rusak demi mengajarkan anak-anak keahlian ini itu, dan ketika mereka tumbuh dewasa menjadi manusia malas, lagi-lagi tentunya sang ibu yang menjadi sorotan. “Ibunya gak pernah ngajarin sih. Jadi bloon semua anaknya.”

Belum lagi ketika sang belahan hati berpaling, kalimat pertama yang mungkin muncul adalah, “istrinya gak tau jaga diri dan suami sih.”

Ya, salam susah sekali jadi kami.

Berdandan sedikit cantik, dituntut tampil sederhana dan natural. Tapi melihat jidat licin, mata pasangan melirik tanpa kedip.

Berdandan sedikit lebih cantik dibanding yang lain dikatain macem lenong. Padahal keluar rumah tanpa riasan pun dapat cibiran, “dandan dikit kek. Pucet amat! Duit banyak pake tu buat perawatan atau beli skinker mahal. Lipstikan kek!”

Ya Tuhan. Mau kelean apa sik?

Ada lagi nih. Mematut diri dengan rapi dikatain macem mau ke pesta. Padahal kalau tampil slebor dianggap tidak bisa menjaga diri dan maruah suami.

Onde mande, susah kali menuruti keinginan kalian.

Jika saja kalian tahu betapa sulitnya menutup mata melihat rumah yang berantakan, anak-anak yang malas, cucian yang menggunung dan melambai minta dibelai. Belum lagi jika tiba-tiba ada pipa bocor dan harus berubah peran menjadi plumber. Jika saja kalian paham susahnya hati ini melihat kompor yang bersih karena tidak ada masakan untuk disantap hari ini. Jika saja kalian paham beban mental yang kami sandang ketika mendengar segala kritik tentang penampilan. Jika saja kalian paham betapa sulitnya mencari pakaian setelah tubuh berkali-kali mengalami pelebaran jalan.

Jika saja kalian paham … jika saja kalian menjadi perempuan.

Being a woman is never easy.
You have to think like a man, look like a young girl, but work like a horse.

Buket bunga ini untuk kalian semua kaum perempuan, para ibu, semua single moms. Love yourself no matter what. I love you all just the way you are. Dandan, gak dandan, dandan macem lenong, pake baju pesta, whatever it is. Make yourself happy! Be happy!

Love, Rere.

MARAH – Secangkir Kopi Hangat Emak


MARAH – Secangkir Kopi Hangat Emak

Terserang sinus parah sejak hari Sabtu, sempat membatasi ruang gerak saya. Karena kepala dan bagian wajah saya rasanya seperti minta dilepas. Sakit luar biasa.

Akhirnya saya hanya bisa berbaring karena menghindari minum obat. Mencoba menyembuhkan diri sendiri dengan mengatur nafas dan relaksasi. Walau akhirnya terpaksa harus menyerah dengan tablet penahan rasa nyeri.

Hari berikutnya saya menolak menyerah pada sakit ini. Bangkit dan mencoba berdiri, walau kaki bak melayang di atas bumi. Tapi saya seorang ibu, dengan janji dan amanah yang harus ditepati. Sakit ini, semoga cepat pergi.

Apa daya, beratnya kepala membuat emosi membuncah. Saya marah sekali ketika melihat rumah dalam keadaan sedikit “meriah”. Cucian baju menumpuk belum dilipat, meja makan tak beraturan, dan “kemeriahan” lainnya.

Kesal sekali rasanya. Berjalan terhuyung-huyung keluar kamar, dan mendapati rumah bak kapal pecah. Well, tidak betul-betul tampak seperti kapal yang pecah sih. Hanya mungkin bak kapal yang sedikit oleng. Sehingga beberapa barang ngeloyor pergi ke tempat yang tidak seharusnya ia berada.

Amukan saya belum berhenti di situ saja. Akhirnya kami semua berdiskusi dan berbincang di meja makan. Semua tertunduk dengan muka tegang. Hahahaha!

Saya mengajukan keberatan, atas pemandangan indah yang saya temui pagi itu. Apalagi dalam keadaan kepala bak mendengar suara perkusi beradu. Berdentum di dalam tanpa bisa berhenti bertalu.

Semua menunduk dan meneteskan airmata, ketika saya mengingatkan diri ini yang semakin bertambah tua. Malas rasanya beradu tegang dan menambah kerutan di muka. Perawatan di salon mahal, Cinta.

Perbincangan kami pun berakhir manis. Walau diiringi derai airmata dan tangis. Yang penting semua masalah selesai dengan baik, tanpa perlu menjadi sinis. Biarlah sang emak tetap tampak kinyis-kinyis. Walau seharian berdaster dan bau amis. Ihir!

Hey, Moms! Sakit itu alami, tanda kita ini manusia dengan jiwa dan hati. Katakan saja apa yang kau rasa, jangan membatasi diri. Apalagi berpura-pura tegak berdiri. Sakit, marah, bahagia, katakan saja tanpa perlu membohongi diri.

Siang menjelang, matahari pun naik dengan terang. Setelah pagi bersitegang, semua lalu berubah menjadi riang. Rumah bersih dan benderang, Emak pun tersenyum girang.

Sinus yang menyerang sejak Sabtu siang pun, berubah menjadi tawa lebar. Ketika membuka gawai yang sedari Minggu pagi itu, terus bergetar. Pertanda pesan masuk dari seseorang. Dengan mata sedikit menyipit, karena tak kuat melihat pantulan cahaya, hati ini berubah senang. Karena membaca sebuah pesan tentang keberhasilan.

Apa sih isi pesannya?

Rahasia. Tunggu saja. Kopi hangat di depan mata saya ini, sedang menunggu untuk dihirup wanginya. Kamu tunggu ceritanya lagi, esok atau lusa, ya.

Love, Rere

Si Kaset Rusak (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Si Kaset Rusak
(Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Lara, sudah sholat belum?”
“Lana, sapu rumah, Nak.”
“Rayyan, make up your bed!”
“Ayo, cepat makan. It’s 6.30 already!”
“Don’t forget your masks”
“Botol, lunch box dah bawa?”
“Your keys, don’t forget!”
“Go home straight away.”

Bla … bla … bla.

Begitulah setiap pagi keramaian di rumah kami. Asalnya hanya dari satu suara, sih. Saya. Sementara suara lain hanya berbunyi, “yes, Bunda,” atau “sudah, Bunda.” Hahaha!

Awalnya saya berpikir keributan ini hanya terjadi di rumah kami. Ternyata setelah berbincang dengan beberapa sahabat, sama juga hebohnya. Phew! Berarti saya tidak sendiri. Lega.

Bukan tidak pernah saya mengajukan keberatan karena harus berubah bak sebuah kaset rusak setiap pagi. Ya, setiap pagi. Beberapa cara pun pernah saya lakukan. Membuat jadwal harian mulai dari yang sederhana hingga berbagai bentuk dan gaya agar menarik. Tentu saja setiap saat harus berubah demi menyesuaikan jadwal dan usia anak-anak.

Kadang saya juga harus menahan diri setengah mati dengan tujuan untuk mendidik. Saya biarkan mereka gedubrakan karena terlambat bangun, hingga beberapa keperluan sekolahnya tertinggal. Ya, saya pun pernah juga begitu. Walaupun sebagai ibu dengan didikan disiplin tingkat tinggi di masa sekolah, ini adalah satu hal yang sangat menyiksa. Iya, tersiksa rasanya melihat ketidakaturan dan ketidaksiapan di depan mata.

Namun anak-anak harus belajar dari kesalahan. Sementara saya harus belajar untuk sedikit menutup mata dan mengurangi kebiasaan “serba harus dan tidak boleh salah”.

Saya tahu, mereka sebenarnya paham apa yang harus dilakukan. Mungkin mereka hanya terlalu suka dan selalu rindu mendengar suara nyanyian sang ibu yang berulang seumur hidup. Hingga melambatkan diri setiap pagi adalah salah satu cara untuk tetap menghidupkan bunyi sang kaset rusak.

Meski tiap pagi “bernyanyi” saya tidak marah. Saya tahu suatu hari nanti mereka akan rindu, seperti saya yang kerap merindukan kebawelan mama saat ini. Oleh karena itu setelah puas merepet bak petasan banting, saya tetap memeluk dan selalu mencium mereka dengan penuh cinta di depan pintu. Sambil mendoakan dalam hati agar Yang Kuasa melindungi mereka selama di luar rumah.

Toh setelah semua pergi, rumah jadi sepi. Saya bisa dengan tenang menyeruput secangkir kopi hangat sambil menonton acara televisi.

“Abaaang! Dah sholat belum? Cepat lah! Dah almost shuruk!”

Lamat saya dengar tetangga sebelah rumah yang dapurnya bersebelahan, sedang “bernyanyi” merdu pada sang putra yang berusia 40. Hahaha!

Motherhood … where silence is no longer golden.

Love, Rere.

FOKUS


FOKUS

Pagi tadi Rayyan memberikan hasil ujian pelajaran Bahasa Melayunya pada saya dengan sedikit ragu. Saya tahu, pasti ada sesuatu.

Minggu lalu memang anak-anak Sekolah Dasar di Singapura baru melaksanakan ujian tengah semester. Rayyan dengan percaya dirinya selalu bilang, “so easy. I can do it, Bunda,” setiap kali saya bertanya bagaimana ujiannya, sepulangnya dari sekolah.

Benar saja. Nilai ujian Bahasa Melayunya rendah sekali bahkan berbuah catatan dari sang guru yang menegurnya agar lebih fokus mengerjakan soal. Saya pun mengajaknya bicara pagi tadi.

“Do you understand this note from your teacher?’
“No I don’t,
Bunda.”
Lah? Read please.”
“But …”
“Just read. We will discuss about it.”

Dengan terbata-bata Rayyan membaca tulisan bertinta merah yang tertera di kertas ujiannya itu.

“What’s menggencewakhan, Bunda?”
“Mengecewakan. Meaning your cikgu is dissapointed at you because you took this exam lightly and didn’t focus on your paper.”
“But I didn’t take this lightly. I just don’t understand,
Bunda. I’m sorry.”
“I understand that you struggle hard for this subject. It’s part of my mistakes too. But when you don’t understand something, you must work harder to understand more and we will work this thing out together, okay? But I want you to try harder too.”
“Okay,
Bunda. I’m sorry. But some of my friends got low marks too.”
Rayyan, please focus on yourself for now and don’t think about others. Understand?”
“Sorry,
Bunda.”

Saya dapat melihat penyesalan di wajahnya karena saya tahu ia memang bekerja keras untuk menyelesaikan semua ujiannya minggu lalu. Nilai matematikanya bahkan naik dan menjadi 3 besar peraih nilai tertinggi di kelasnya. Saya merasa ikut bersalah karena tidak membiasakannya lebih sering berbicara dalam bahasa Melayu di rumah.

Lha saya sendiri bahkan sang ayah yang asli Melayu juga bingung, kok.

Saya menekankan padanya untuk fokus memperbaiki diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Anggap saja catatan dari sang guru adalah teguran pada kami berdua untuk lebih giat dan tekun belajar sesuatu yang tidak kami kuasai dengan baik.

Setelah berdiskusi dengan mata berkaca-kaca ia memeluk saya lalu meminta maaf karena merasa mengecewakan saya dan gurunya di sekolah. Saya memeluknya sekaligus mengatakan betapa bangga melihatnya banyak berubah. Ia sekarang lebih rajin, lebih teratur hingga isi tasnya pun tersusun rapi tidak lagi amburadul seperti sebelumnya. Saya juga senang ia bahagia pergi ke sekolah bahkan menganggap pelajaran matematika sebagai sesuatu yang menyenangkan. Yayy!

Ingat ya, Nak. Fokus saja sama dirimu sendiri dulu, tak perlu sibuk dengan apa adanya orang lain. Habiskan saja waktu untuk selalu memperbaiki diri sendiri. Ini saja seharusnya sudah cukup menyita waktu kita hingga akhir masa nanti.

Diskusi pagi kami pun ditutup dengan pelukan hangat dan kata cinta seperti biasa. Saya tahu ia sangat menyesal. Saya memintanya menemui sang guru untuk mengatakan penyesalannya sekaligus berjanji untuk memperbaiki diri dan lebih berkonsentrasi di kelas.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Rayyan.”

Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.

Kenalan, yuk!


Kenalan, yuk!

“Suka baking ya, Bun?”

Melihat beberapa postingan saya tentang baking, seorang sahabat bertanya apakah saya memang hobi membuat kue atau roti.

“Sama sekali enggak,” demikian jawab saya padanya. Hahaha!

Jika dibandingan dengan membuat kue, memanggang roti, atau membuat makanan sejenis, saya lebih memilih untuk memasak. Tidak telaten rasanya jika harus mengaduk adonan lama-lama, atau menguleni hingga lengan pegal-pegal, atau membentuk satu demi satu penganan. Beda sekali dengan masakan. Satu kali masak, saya bisa menyediakan sekian banyak porsi tanpa harus lama-lama berdiri di dapur.

Namun tak suka bukan berarti saya menolak untuk mencoba. Justru karena keengganan itu saya jadi tertarik untuk belajar. Ya, pilihan saya jatuh untuk belajar di sebuah studio.

“Apa bedanya dengan belajar sendiri lewat internet? Malah gratis.”

Betul banget. Banyak sekali mereka yang dengan sukarela berbagi resep bahkan video tutorial langkah demi langkah membuat beragam masakan. Kadang saya juga dengan rajin mencari postingan seperti ini, lho. Mencatatnya, kemudian beberapa kali mencoba sendiri. Sebagian berhasil, meskipun banyak yang gagal dengan sukses. Hahaha!

Memutuskan untuk mengikuti kelas membuat kue dan roti di sebuah tempat tentu saja dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah tips dan trik dari mereka yang ahli di bidang ini. Satu hal yang tidak mudah saya dapat dari internet, karena beberapa tutorial hanya menyajikan hasil akhir yang cantik. Padahal sebelumnya mereka melakukan banyak trial and error di balik layar tanpa kita sadari.

Pertimbangan selanjutnya adalah keseruan memasak bersama para sahabat. Meskipun saya bukan orang yang terlalu suka bepergian, tapi bertemu mereka lalu memasak hingga tertawa bersama, adalah salah satu cara melepas penat dan rutinitas harian di rumah. Beda lho rasanya memasak sendiri dengan bersama teman. Seru!

Lambat laun saya makin cinta dengan perbakingan. Pupus sudah keyakinan bahwa saya dikutuk oleh semua oven di dunia ini. Ternyata saya hanya belum kenal, makanya belum cinta.

Jadi, keluar dari zona nyaman memasak itu ternyata seru juga, lho. Seseru hasil baking saya beberapa hari ini dengan mencoba beberapa resep kekinian dengan hasil yang kece berat. Burnt Cheese Cake, Volcano Garlic Bread, dan Camembert Noix it is, guys!

Wow! Your cake and breads are awesome, Bunda! So yummy!” dan ini yang membuat saya makin bersemangat mencoba banyak hal baru.

Jadi … masih mau bilang enggak suka bikin ini itu? Cobaaaa kenalan duluuu.

Love, Rere

TTM Yang Manis


TTM Yang Manis

Sudah ada yang nonton “Teman Tapi Menikah” 1 dan 2?

Film yang diangkat dari buku milik Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion ini buat saya lumayan menghibur. Bagian 1 menceritakan bagaimana mereka bertemu di bangku SMA dan bertahun-tahun berada di friendzone hingga menyadari ternyata ada cinta di sana. Hmm … berapa banyak sih dari kita yang berawal dari teman sekolah lalu berakhir menjadi pasangan hidup karena menikah?

Well, walau harus saya akui cerita film ini sebenarnya biasa saja. Namun tanpa diduga, sequelnya ternyata lumayan menyentuh, hingga saya sempat meneteskan airmata. Ya, di bagian ke-2 film ini, Ayu dan Ditto akhirnya menikah. Namun tak seindah ketika bersahabat, konflik di antara mereka justru muncul ketika Ayu mulai berbadan dua.

Bagian ini saya tonton bersama suami, lalu kami sedikit flashback mengenang masa-masa ketika saya hamil pertama kali dulu. Tiga kehamilan yang masing-masing membawa cerita berbeda. Beruntung saya tidak mengalami perubahan yang terlalu parah seperti Ayu yang menjadi sangat emosional, hingga sempat membuat Ditto kelabakan.

Perubahan emosi Ayu semakin menjadi setiap kali ia bertemu dengan para sahabat yang masih lajang. Tubuh langsing, dandanan cantik, sepatu berhak tinggi yang tidak lagi dimiliki Ayu, membuatnya kehilangan kepercayaan diri di hadapan mereka.

“Nikmati masa-masa single lo karena itu enggak bakal balik lagi. Maksimalin. Main, kerja, jalan-jalan, jatuh cinta, karena kalau badan lo udah kayak gue nih, gerak aja usaha. Kalian bisa lihat kaki gue kan? Gue udah berbulan-bulan enggak bisa lihat,” ucapnya dengan sedih di hadapan para sahabatnya yang masih lajang.

Ayu … memang masih muda ketika menyadari telah berbadan dua pasca menikah. Padahal ia bermimpi ingin keliling dunia berdua Ditto dan sempat merasa kehamilannya menjadi penghalang.

Hehe. Yu, saya dulu juga begitu. Bulan madu berdua saja bahkan tak sempat kami lakukan. Keburu hamil, lalu hamil lagi, lalu hamil lagi. Tubuh yang sebelumnya cantik dan langsing jadi membengkak, lalu susut, lalu bengkak lagi, susut lagi, bengkak lagi, susut dikit … dikiiit sekali hingga hari ini, dan tak bisa kembali langsing seperti ketika masa muda.

Saya juga sempat merasa tidak percaya diri bertemu teman-teman kerja dulu. Melihat betapa chic dan cantiknya mereka, sementara saya kesana-kemari membawa gembolan dengan baju longgar dan muka pucat tanpa polesan make up. Kalau tidak sedang hamil, gembolan saya berubah menjadi botol susu, popok, dan segala printilan bayi.

Ah, sungguh masa-masa peralihan yang tidak mudah. Berubah dari lajang menjadi calon ibu, mengganti semua hal tentang aku menjadi tentangmu, kamu, dan kamu.

Namun sembilan bulan kesakitan itu nyatanya berbuah cinta hingga seumur hidup. Dengan tambahan gurat pelangi di setiap sudut. Dunia juga jadi lebih berwarna tak lagi pucat, indah tak lagi gundah, seru tak lagi beku.

Terima kasih untuk-Mu yang sudah menyempurnakan hidup ini dengan lika-liku, meski tak mudah tapi tetap indah. Seindah kisah Ayu dan Ditto yang menutup cerita dengan manis. Semanis senyum sang bayi, Dia Sekala Bumi.

Love, Rere

Dirawat VS Diedit


Dirawat VS Diedit

“Cantik banget siiiihh kamu!”
“Hahaha! Editan itu. Filter maksimal, Cint.”
“Ah, gak diedit juga udah cantik.”
“Kata siapa? Cantik itu kudu dirawat Cint. Perawatan mahal jadi … edit aja. Gratis dan bikin bahagia!”

Hahaha!

Ini adalah kalimat yang biasa saya ucapkan ketika menerima pujian dari beberapa sahabat setelah mengunggah hasil swafoto di media sosial.

Ya, saya memang kadang menggunakan aplikasi untuk mendapat hasil foto yang bagus. Paling tidak membuat saya bahagia. Walaupun saya berusaha untuk tidak terlihat terlalu mulus dan flawless. Nanti yang bertemu langsung dengan saya bisa makjegagig kaget, karena ternyata aslinya tidak seindah tampilan di layar gawai.

Berbicara soal perawatan, siapa sih yang tidak ingin merawat tubuh dan kulitnya secara paripurna? Tahukah kalian semua, betapa kami para perempuan ini sebenarnya khawatir? Semakin menua, kulit kami tidak menjadi semakin mulus dan glowy. Semakin bertambah usia, yang tadinya kencang menjadi serba melorot. Mata yang tadinya berbinar indah, menjadi berkantung tebal dan kehilangan sinar.

Belum lagi bertambahnya babat dan timbunan lemak di banyak tempat. Padahal kami sudah berusaha menjaga pola makan dan menghindari beberapa jenis makanan. Tetap saja kami tidak bisa selangsing Sophia Latjuba dan secantik Putri Marino. Mereka sih rasanya tidak perlu repot melakukan diet ketat atau perawatan maksimal, bahkan rasanya mereka tidak pernah menggunakan aplikasi untuk mempercantik tampilan.

Uhari pernikahan saja pipi mereka tidak diteploki bedak dan shading setebal 2 mm kok. Coba kalau kita yang tidak full make up di hari pernikahan. Sudah pasti tampilan kita akan seperti orang yang baru bangun tidur. Bengkak dan kusam.

Perawatan yang saya lakukan di rumah juga terbilang lengkap. Tentu saja, bila mengingat mahalnya melakukan perawatan ke salon kecantikan di negara ini. Awalnya saya berpikir, daripada ke salon mendingan saya rawat sendiri di rumah. Karena jika dihitung akan jauh lebih murah dan hemat.

Bagaimana dengan suami saya? Apakah ia mendukung cara saya melakukan perawatan ini? Ya tentu saja jika ingin melihat saya tampil mendekati seperti 15 tahun yang lalu ketika ia pertama kali terpana melihat saya. Eeeaaaaaa!

Para suami tentu saja harus memberikan dukungan penuh jika menghendaki sang istri tampil menawan bak polesan aplikasi peluntur kekusaman. Jangan hanya menuntut kami ini bekerja di rumah seperti kuli dengan tampilan wajib bak gadis muda kinyis-kinyis, yang bahkan menyalakan kompor saja masih meringis.

Namun sebagai perempuan yang sudah menjadi ibu juga harus paham, bahwa ada banyak hal yang butuh perhatian lebih sekarang. Skala prioritas hidup harus sedikit diatur walau tidak melupakan kebutuhan pribadi.

Lihat kan regime perawatan muka saya? Semua ini tidak berharga murah memang. Tapi saya membelinya dari menyisihkan uang jatah jajan saya sendiri. Ya, saya menghadiahi diri sendiri uang jajan setiap bulan yang bisa dengan bebas saya pergunakan.

Nah, daripada saya menghabiskannya untuk nongkrong cantik atau arisan di resto mewah, saya menyisihkannya untuk membeli beberapa alat perawatan kulit dan wajah. Semacam investasi kecantikan.

Lantas, dipakai tidak? Yaaaaa kebanyakan sih setelah berakhirnya uforia, mereka akan teronggok di sudut lemari kaca. Lantas butuh suntikan semangat untuk menggunakannya kembali. Saya sih masih pakai kok sesekali. Sayang juga sudah mahal-mahal dibeli.

Segitu amat ya perawatannya? Sementara kebanyakan dari kita merasa, “Ah sudahlah. Begini juga sudah laku dan beranak pinak.” Betul tidaakkk? Padahal pikiran seperti itu yang sebenarnya lambat laun akan membuat kita makin malas merawat tubuh hingga kehilangan rasa cinta pada diri sendiri.

Saya sih juga seringnya malas melakukan perawatan sendiri. Namun biasanya dengan beberapa sahabat kami saling menyuntikkan semangat untuk rajin merawat diri. Kadang juga janjian menyeberang pulau untuk pergi ke salon kecantikan dengan harga yang jauh lebih murah daripada di sini.

Jadi, perlu kah kita merawat diri hingga tak lagi butuh sekedar mengedit dengan aplikasi? Jika dengan aplikasi saja kita sudah bahagia, ya lakukan saja. Bebas. Yang penting mencintai dan menyayangi diri sendiri itu juga wajib.

Eyow para suami, bantu istri-istrimu di rumah. Jika tidak menghendaki mereka menghabiskan uang untuk melakukan perawatan, setidaknya berikan dukungan secara verbal bukan melulu perundungan.

“Gendut amat sih, Ma?”
“Kusem amat tu muka, Bun!”
“Lihat deh ini Yuni Shara umur 50 tahun masih kinclong enggak kayak kamu, Mi!”

Oy! Percayalah, ini semua dilakukan para perempuan untuk membahagiakan anda semua. Jadi berikan dukungan, modali istrimu untuk sesekali pergi ke salon kecantikan, dan berikan waktu untuk menghibur diri sejenak dari rutinitas harian. Above all, watch your words! Karena tajamnya bisa menusuk lebih daripada pedang.

Trust me, being a woman is never easy. We have to think like a man, work like a horse, and look like a young girl.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

Getem-Getem


Getem-Getem

Getem-getem dalam bahasa Jawa adalah ekspresi menahan emosi sambil membeliakkan mata, serta mengatupkan gigi dan bibir. Biasanya paling sering dilakukan para ibu di pagi hari sejak anak-anak bangun pagi. Betul tidak?

Well, seperti biasa di rumah kami, semua anak wajib membereskan tempat tidur masing-masing, termasuk melipat selimut dengan rapi. Catat … dengan rapi. Saya mengajarkan mereka melipat sejak kecil. Awalnya dengan saling membantu kemudian belajar untuk mandiri, mengerjakannya sendiri.

Kisah ini terjadi ketika putra bungsu saya berusia 7 tahun. Pagi itu ia, yang memang agak dramatis, sambil menangis mengatakan 1 kata kunci yang really triggering my getem-getem.

“How to do this? I’m not good at this!”

Oh no! False alarm. Salah besar kalo membuat saya mendengar kalimat itu di pagi hari, hingga membuat saya getem-getem selama beberapa detik.

“What’s wrong, Rayyan?”

“I can’t fold the big blanket myself, Bunda. Can you help me? Because I’m not good at this.”

“Listen. Why do you think Allah gave us brain?”

“To think?”

“Yes. To think. To figure out things. To find a way to do things. I taught you on how to fold this. But since you told yourself that you are not good in this then your brain will do what your mouth is telling you, and forever you will not be good in anything. Is that what you want?”

“No, Bunda.”

“Try, be patient and don’t give up easily. Keep trying, whatever the result will be. At least you try before you cry. Tell yourself let me try before assuming that you are not good in anything. Say it!”

“Let me try.”

“Again. 3 times.”

“Let me try. Let me try. Let me try.”

“Now try.”

“Okay.”

After a while, “Bundaaaa, look!” ujarnya sambil menunjukkan selimut hasil lipatannya.


“Smart boy. You see? I know you can do it!”

“Yeah. I was very cranky before but then I told myself that I can do it and that I have to try and try. So there it goes. Is it neat and tidy, Bunda?”


“Yes it is. It’s super neat! You see? You just have to try. Be patient, and don’t give up easily. You know you can do it and whatever the result is, be proud because you do it yourself. That’s the most important thing. Understand?”


Yes Bunda. Thank you for teaching me everything. I love you.”


“I love you more Sayang.”

Ia pun memeluk saya seraya mengucapkan terima kasih karena suntikan semangat yang saya beri, walau diawali dengan getem-getem tadi.


By the way, selimut yang dipakai Rayyan berukuran besar yaitu queen size. Bukan selimut kecil yang bisa dengan mudah dilipat oleh bocah 7 tahun setinggi 120 cm ya. Jadi saya sangat bangga padanya.

Moms, mengajarkan positive attitude kepada anak-anak memang bukan hal yang mudah. Apalagi ketika sekeliling mereka penuh dengan orang-orang dewasa dengan negativities. Tapi kita lah ibunya. Kita yang pegang peranan bagaimana menentukan tumbuh kembang mereka. Tinggal masalah berdamai dengan emosi saja yang kadang muncul karena beberapa sebab. Ya, seperti getem-getem itu, yang bagi saya adalah salah satu cara menahan emosi.

It’s not easy yet nothing is impossible. Have a great day ahead!

Love, R

#RumahMediaGrup #ChallengeMenulis #WCR #SecangkirKopiHangatEmak #ReReynilda

Movie Night


Movie Night

Ayah, can we have a movie night today and everybody sleep together in the living room?”
“Okay
Rayyan. Guys, we’re gonna sleep outside tonight.”
“Nooooo! I don’t want
Ayah.”
“Why?”
“I just don’t want.”
Bundaaaaaaaa! The girls don’t want to sleep outside tonight!”


Satu hari dalam seminggu biasanya kami sekeluarga memiliki jatah movie night. Memutar film di ruang tamu hingga dini hari, dan menggelar alas untuk tidur berlima di lantai. Ya, di lantai ruang tamu dengan alas seadanya.

Setelah beberapa lama, kegiatan ini tidak kami lakukan, hingga kemarin Rayyan si bungsu pun mengajak sang ayah dan kedua kakaknya untuk menggelar movie night lagi.

Sayangnya ide ini serta merta ditolak oleh kedua putri saya, hingga sang ayah mengadu dan mengatakan idenya dihempas tanpa ampun. Kemudian saya memanggil Lana dan Lara bergantian.

Adik, do you want to have a movie night tonight?”
“Okay,
Bunda.”
“We sleep together in the living room okay?”
“Okay!”
Kakaakkk, how about you?”
“Okay
Bunda.”

“Haaaaa? Why so easy? Why you give her different answer? You said you didn’t want to sleep outside just now?” Tanya sang ayah yang idenya ditolak mentah-mentah beberapa menit sebelumnya.

Ayah, that’s the importance of communicating effectively.” Jawab saya dengan senyum sumringah tanda kemenangan.

Kalau saja saya mengajak mereka untuk sekedar tidur bersama di lantai ruang tamu yang tidak nyaman, pasti ide ini juga akan ditolak mentah-mentah. Jadi, saya menggunakan ajakan persuasif yang seru seperti menggelar movie night untuk mengajak mereka, dan langsung diterima tanpa banyak protes. Padahal intinya sama-sama ajakan untuk tidur berlima di lantai ruang tamu.

Well, what can I say? Motheeerrrr knows best!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak