IGNORE. BE HAPPY


IGNORE. BE HAPPY

“Hmmm … I’ll ignore school to be intelligent.”
“Don’t you dare!”

Hahaha! Begitulah tanggapan krucil melihat saya mengunggah status tentang IGNORANCE kemarin.

Berani-berani ignore school bisa kena jitak nanti!

Status kemarin muncul setelah saya menonton podcast seorang public figure yang sebenarnya bukan idola saya karena orangnya cenderung tengil dan sengak. Tapi saya tonton juga sih karena materinya lumayan lebih berbobot dibanding podcast seleb yang lain.

Nah, kemarin saya full nonton talk shownya dengan seorang pemuka agama yang baru saja mengalami musibah, ditusuk seseorang. Kata demi kata saya dengarkan, tak seperti biasanya. Kali ini saya benar-benar in awe. Ternganga. Kok bisa ya?

Bagaimana bisa seseorang memiliki sifat welas asih, sabar, dan gak suka ribut seperti itu? Sifat yang saya tahu hanya dimiliki seorang “manusia pilihan” Sang Pencipta.

Dari ucapan demi ucapan sang pemuka agama, saya belajar banyak sekali. Salah satunya tentang ignorance, dalam arti positif.

“Apa yang Syekh pikirkan ketika melihat si penusuk?”
“Enggak ada pikir apa-apa. Ya sudah saja, gak saya pikir lagi. Ndak pikir siapa, apa motifnya, apa alasannya, saya pikir ini takdir dari Allah. Alhamdulillah. Saya tidak mau dikaitkan dengan apapun.”

Jangankan sang host, saya saja yang mendengar sampe jaw dropped. Tak percaya. Padahal di luar sana, lisan dan tulisan, ribut tak terkendali, saling menyalahkan serta menyindir padahal belum juga paham cerita sebenarnya. Menggelikan.

Kalian belum nonton? Tonton deh. Wajib. Ini linknya https://youtu.be/6OTBeW-SIh8

Dari beliau saya akhirnya benar-benar paham, kapan kita harus bersikap acuh pada sesuatu. Terutama yang bukan menjadi urusan dan keahlian kita untuk berkomentar. Termasuk menanggapi segala jenis keributan remeh yang bisa diselesaikan dengan tanpa membesar-besarkan.

Masalah besar, kecilkan. Masalah kecil, hilangkan. Tak ada masalah? Jangan ikutan orang mengipasi masalah.

Walau rasanya masih jauh panggang dari api, paling tidak podcast sang Syekh memberi saya sudut pandang baru tentang ignorance.

Tak semua hal butuh campur tangan dan komentar kita, karena tak semua hal kita pahami dengan benar. Jadi, diam dan mengamati untuk belajar, masih jauh lebih berguna. Percayalah, banyak ribut itu tak ada gunanya kecuali ini menjadi katalisator kurangnya sesuatu dalam hidupmu. Kurang bahagia mungkin? Hingga senang melihat orang lain ribut dan ribut melihat orang lain senang menjadi pelampiasan.

Be happy … not because everything is good, but because you can see the good side of everything.

Love, Rere.

Be Happy!


Be Happy!

“Ih, ngapain sih pake bulu mata palsu? Kan alami lebih baik. Coba tanya suamimu. Iya kan, suamiku? Mending tampil apa adanya seperti aku gini kan ya?”

Saya pernah mendengar seorang perempuan mengatakan ini pada sang suami tentang perempuan yang lain. Kemudian saya jadi berpikir.

Susah betul jadi perempuan. Lebih susah lagi ternyata menghadapi sesama perempuan. Menghadapi cibiran, senyum sinis, insecurity sesama kaumnya.

Tahukah kalian betapa sulitnya menjadi seorang perempuan? Tak perlu lah saya membahas tentang proses melahirkan, bagaimana rasanya mengeluarkan seorang bayi melalui lubang kecil di kemaluan, atau robekan lapis demi lapis kulit di perut yang menjadi aduhai.

Menjadi perempuan, dituntut banyak hal. Sejak gadis dituntut untuk menjaga diri. Salah jaga? Sudah pasti disalahkan.

Ketika bergelar ibu, lebih susah lagi. Setengah mati mendidik anak-anak di rumah, dan ketika mereka ke luar rumah lalu melakukan kesalahan, yang akan menjadi cibiran adalah, “Ibunya pasti gak tau cara mendidik dengan baik.”

Setiap pagi bernyanyi merdu bak kaset rusak demi mengajarkan anak-anak keahlian ini itu, dan ketika mereka tumbuh dewasa menjadi manusia malas, lagi-lagi tentunya sang ibu yang menjadi sorotan. “Ibunya gak pernah ngajarin sih. Jadi bloon semua anaknya.”

Belum lagi ketika sang belahan hati berpaling, kalimat pertama yang mungkin muncul adalah, “istrinya gak tau jaga diri dan suami sih.”

Ya, salam susah sekali jadi kami.

Berdandan sedikit cantik, dituntut tampil sederhana dan natural. Tapi melihat jidat licin, mata pasangan melirik tanpa kedip.

Berdandan sedikit lebih cantik dibanding yang lain dikatain macem lenong. Padahal keluar rumah tanpa riasan pun dapat cibiran, “dandan dikit kek. Pucet amat! Duit banyak pake tu buat perawatan atau beli skinker mahal. Lipstikan kek!”

Ya Tuhan. Mau kelean apa sik?

Ada lagi nih. Mematut diri dengan rapi dikatain macem mau ke pesta. Padahal kalau tampil slebor dianggap tidak bisa menjaga diri dan maruah suami.

Onde mande, susah kali menuruti keinginan kalian.

Jika saja kalian tahu betapa sulitnya menutup mata melihat rumah yang berantakan, anak-anak yang malas, cucian yang menggunung dan melambai minta dibelai. Belum lagi jika tiba-tiba ada pipa bocor dan harus berubah peran menjadi plumber. Jika saja kalian paham susahnya hati ini melihat kompor yang bersih karena tidak ada masakan untuk disantap hari ini. Jika saja kalian paham beban mental yang kami sandang ketika mendengar segala kritik tentang penampilan. Jika saja kalian paham betapa sulitnya mencari pakaian setelah tubuh berkali-kali mengalami pelebaran jalan.

Jika saja kalian paham … jika saja kalian menjadi perempuan.

Being a woman is never easy.
You have to think like a man, look like a young girl, but work like a horse.

Buket bunga ini untuk kalian semua kaum perempuan, para ibu, semua single moms. Love yourself no matter what. I love you all just the way you are. Dandan, gak dandan, dandan macem lenong, pake baju pesta, whatever it is. Make yourself happy! Be happy!

Love, Rere.

Feeling Good Like I Should


Feeling Good Like I Should

“Where are you going, Bunda?”
“I’m going out with
ayah to buy groceries. You stay at home, okay?”
“Okay. Why are you wearing make up?”
“Why do you want to know?”
Bunda, you’re wearing a mask. Why do you need make up? Nobody will recognize you anyway.”
“I’m not wearing make up for people to see me.”
“Then?”
“I’m wearing it for myself.”
“Why?”
“Why are you so kepo?”
Bundaaaaa. Tell me why.”

Ish! Punya anak kepo banget!

Saya memang terbiasa ber make up walaupun hanya pergi ke pasar. Bukan make up tebal macam lenong dengan teplokan warna warni di jidat jenong. Hanya make up tipis yang penting manis. Ihik!

Buat apa ya?

Hmmmm … kekepoan Rayyan sangat menggelitik, karena mungkin ini juga yang ada di benak beberapa orang yang sama herannya dan punya pertanyaan yang sama tapi takut bertanya. Ngeri ya liat mata saya terbeliak macam Suzzana?

Lagian aneh. Lha wong pake masker, ketutup, enggak ada yang mengenali, ngapain juga dandan?

Oy! Saya dandan bukan dengan harapan dilihat orang. Saya memulas make up tipis di wajah yang semakin menua ini hanya semata ingin terlihat segar. Tidak kumut-kumut dan busuk karena sudah terlalu lama ngerem di rumah. Itu pun saya hanya memulas bagian mata dan lip tint tipis karena di dalam kendaraan pribadi toh saya tidak perlu mengenakan masker.

Lagipula saya pergi dengan suami yang harus saya jaga maruahnya. Mana tau di tempat belanja, saya bertemu dengan koleganya. Nanti disangka saya tuyul dengan mata panda yang lepas kandang, karena keluar rumah tanpa menebalkan alis dan membentuk bingkai mata dengan eyeliner agar tak terlihat pucat.

Selebihnya saya hanya ingin tampak segar walau hanya mata yang terlihat berbinar. Saya pun masih tetap mematut pakaian dengan pantas walaupun harus mendorong trolley berisi penuh belanjaan pasar.

Percayalah Moms. You’ll feel good when you look good and you’ll feel good when you smell good.

So, jangan segan memakai make up dan wewangian. Karena ketika kita nampak segar, hati akan riang, dan seisi rumah pun menjadi tenang. Melihat sang ibu tidak kumut-kumut, bermuka cemberut, seperti dompet akhir bulan yang mengkerut.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis

MOTHERHOOD


MOTHERHOOD I was nominated by some beautiful girl friends to post picture (pictures) of me enjoying my life as a Mother. Well, motherhood is never easy. Karena itu saya menghargai mereka yang mengikuti tantangan ini sebagai bentuk dukungan kepada sesama ibu rumah tangga maupun bekerja. Mereka yang saya tahu pasti, beberapa berjuang menghadapi hari demi […]

When Things Don’t Go Your Way


When Things Don’t Go Your Way Jika hidup tidak semudah dan semulus yang kita harapkan dan inginkan. Accept, don’t deny it. Terima saja. Tak perlu menyangkal atau menghindar. Sebaliknya, berdamailah dengan keadaan yang mungkin tidak kita harapkan ujungnya. Pat yourself on the back and say, “Everything’s gonna be alright and I’ve done a great job!” […]

It’s Okay To Not Okay


It’s Okay To Not Okay Selamat pagi jiwa-jiwa yang bahagia! Pernahkah merasa harimu begitu menjengkelkan ketika bangun tidur? Bahkan berlanjut hingga menjelang malam hari sebelum tidur? Saya pernah. Ya. Saya yang nampak bahagia dan selalu punya sisi positif dari setiap peristiwa ini. Saya juga mengalami pasang surut hati dan mental sama seperti manusia pada umumnya. […]