Be Happy!


Be Happy!

“Ih, ngapain sih pake bulu mata palsu? Kan alami lebih baik. Coba tanya suamimu. Iya kan, suamiku? Mending tampil apa adanya seperti aku gini kan ya?”

Saya pernah mendengar seorang perempuan mengatakan ini pada sang suami tentang perempuan yang lain. Kemudian saya jadi berpikir.

Susah betul jadi perempuan. Lebih susah lagi ternyata menghadapi sesama perempuan. Menghadapi cibiran, senyum sinis, insecurity sesama kaumnya.

Tahukah kalian betapa sulitnya menjadi seorang perempuan? Tak perlu lah saya membahas tentang proses melahirkan, bagaimana rasanya mengeluarkan seorang bayi melalui lubang kecil di kemaluan, atau robekan lapis demi lapis kulit di perut yang menjadi aduhai.

Menjadi perempuan, dituntut banyak hal. Sejak gadis dituntut untuk menjaga diri. Salah jaga? Sudah pasti disalahkan.

Ketika bergelar ibu, lebih susah lagi. Setengah mati mendidik anak-anak di rumah, dan ketika mereka ke luar rumah lalu melakukan kesalahan, yang akan menjadi cibiran adalah, “Ibunya pasti gak tau cara mendidik dengan baik.”

Setiap pagi bernyanyi merdu bak kaset rusak demi mengajarkan anak-anak keahlian ini itu, dan ketika mereka tumbuh dewasa menjadi manusia malas, lagi-lagi tentunya sang ibu yang menjadi sorotan. “Ibunya gak pernah ngajarin sih. Jadi bloon semua anaknya.”

Belum lagi ketika sang belahan hati berpaling, kalimat pertama yang mungkin muncul adalah, “istrinya gak tau jaga diri dan suami sih.”

Ya, salam susah sekali jadi kami.

Berdandan sedikit cantik, dituntut tampil sederhana dan natural. Tapi melihat jidat licin, mata pasangan melirik tanpa kedip.

Berdandan sedikit lebih cantik dibanding yang lain dikatain macem lenong. Padahal keluar rumah tanpa riasan pun dapat cibiran, “dandan dikit kek. Pucet amat! Duit banyak pake tu buat perawatan atau beli skinker mahal. Lipstikan kek!”

Ya Tuhan. Mau kelean apa sik?

Ada lagi nih. Mematut diri dengan rapi dikatain macem mau ke pesta. Padahal kalau tampil slebor dianggap tidak bisa menjaga diri dan maruah suami.

Onde mande, susah kali menuruti keinginan kalian.

Jika saja kalian tahu betapa sulitnya menutup mata melihat rumah yang berantakan, anak-anak yang malas, cucian yang menggunung dan melambai minta dibelai. Belum lagi jika tiba-tiba ada pipa bocor dan harus berubah peran menjadi plumber. Jika saja kalian paham susahnya hati ini melihat kompor yang bersih karena tidak ada masakan untuk disantap hari ini. Jika saja kalian paham beban mental yang kami sandang ketika mendengar segala kritik tentang penampilan. Jika saja kalian paham betapa sulitnya mencari pakaian setelah tubuh berkali-kali mengalami pelebaran jalan.

Jika saja kalian paham … jika saja kalian menjadi perempuan.

Being a woman is never easy.
You have to think like a man, look like a young girl, but work like a horse.

Buket bunga ini untuk kalian semua kaum perempuan, para ibu, semua single moms. Love yourself no matter what. I love you all just the way you are. Dandan, gak dandan, dandan macem lenong, pake baju pesta, whatever it is. Make yourself happy! Be happy!

Love, Rere.

Olahraga Olahjiwa


Olahraga Olahjiwa

“Olahraga melulu enggak kurus-kurus.”
“Olahraga melulu ngapain, sih? Bikin capek saja.”

Bukan sekali dua saya menerima afirmasi seperti itu karena hobi saya berolahraga. Be it yoga, piloxing, zumba, saya “memaksa” diri untuk mengikuti semuanya. Lebih menggila setelah sekarang dimudahkan untuk melakukannya secara online.

Tidak ada yang pernah menyadari bahwa saya tidak hanya sedang mengolah raga namun juga berusaha mengolah jiwa.

Olahraga mengajarkan saya cara untuk berhadapan dengan rasa sakit. Bahkan mencarinya hingga ke batas yang tidak tertahan, lalu belajar menghadapi, dan menikmati setiap nyeri yang muncul kemudian.

Sama persis bak sebuah denyut kehidupan.

Kehidupan yang tidak bisa selalu senikmat dan semudah keinginan. Hidup yang lengkap dengan rasa sakit, kecewa, duka, dendam, perjuangan … hari demi hari di dalamnya. Semua rasa yang harus dihadapi dan dinikmati tanpa bisa lari atau mencari jalan lain demi menghindari.

Hidup yang memang tidak selalu sejalan dengan keinginan diri namun seringkali butuh banyak melihat dari banyak sisi. Mempertimbangkan banyak hati dan pasrah mengindahkan kemauan sendiri. Kemauan yang justru kadang berangkat dari mimpi untuk memberikan hanya yang terbaik.

Keinginan yang kadang mesti pasrah menghadapi penolakan hingga muncul kecewa dan sakit. Rasa yang harus dihadapi dengan berani, bukan memilih lari untuk menghindari. Meski sulit namun begitulah hidup ini.

Olahraga mengajarkan saya untuk mengolah semua itu. Menghadapi kecewa dan sakit tanpa perlu setengah mati berusaha untuk menolak. Mengubah rasa tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang berguna bukan sekedar keluh kesah hampa. Menyembuhkan hati dan jiwa sendiri tanpa berharap bantuan siapa.

Percayalah, harapan yang terlalu tinggi akan seseorang atau sesuatu, seringkali menjadi sumber kecewa yang menghajar tanpa ampun. Maka mencari afirmasi positif melalui kegiatan yang juga positif akan memunculkan sisi diri yang jauh dari negatif.

Jadi, masih butuh tahu kenapa saya suka sekali berolahraga padahal tubuh tidak juga mencapai bobot dan bentuk bak puluhan tahun ke belakang?

Ini lah cara saya mencintai diri dan raga yang sudah tidak lagi muda. Mengolah raga sekaligus mengolah jiwa.

Being strong is never easy, but inner strength teaches us how to deal with pain and go on despite fear.

Love, Rere.

PS:
Bakasana atau Crow Pose, adalah salah satu pose yang bagi saya pernah begitu sulit. Mengajarkan saya bagaimana menyeimbangkan raga dengan jiwa. Menggabungkan kekuatan dan keberanian.

Benefits of Crow Pose

  • Tones the abdominal wall
  • Strengthens abdominal organs to aide in lower back pain and indigestion
  • Strengthens arms
  • Stretches and strengthens the back
  • Stretches and strengthens inner thighs
  • Opens the groin
  • Strengthens the wrists
  • Builds endurance and focus – mental focus and calm

(Source: https://yogawithadriene.com/crow-pose/)

Learn. Relearn


Learn. Relearn

“Guys, do you want to bring anything for Teacher’s Day? Just choose. I can bake, cook, or if you want to give my handmade stuffs just choose whatever is on the table. There are keychains made of resin and embroidery, mask extenders, wired stuffs, I can make embroidery pouch too, or maybe macrames?”

Ini lah saatnya saya bisa tersenyum manis memandang “meja kerja” saya yang bak kapal pecah.

Ini juga saatnya saya bisa menepuk punggung sendiri sambil berkata, “hey You, good job! Ayo belajar lagi sesuatu yang baru.”

Belajar buat saya seperti tak mengenal batas. Usia yang terus bertambah, tidak pernah menghalangi langkah. Sesuatu yang baru selalu membuat saya ingin maju. Keluar dari zona nyaman adalah usaha keras saya mengalahkan malas dan ragu. Tubuh ringkih yang dari luar nampak perkasa ini pun tak pernah membuat saya mundur teratur.

Hidup rasanya terlalu berharga jika dilalui tanpa sebuah karya. Meski tampak sederhana namun saya percaya, ini lah yang membuat hidup menjadi lebih berguna. A hobby a day keeps the doldrums away, rasanya bukan hanya sekedar deretan kalimat tanpa makna.

Jadi, masih mau melewati hari tanpa melakukan apa-apa? Never stop learning, because life never stops teaching.

Happy Teacher’s Day!

Love, Rere

MARAH – Secangkir Kopi Hangat Emak


MARAH – Secangkir Kopi Hangat Emak

Terserang sinus parah sejak hari Sabtu, sempat membatasi ruang gerak saya. Karena kepala dan bagian wajah saya rasanya seperti minta dilepas. Sakit luar biasa.

Akhirnya saya hanya bisa berbaring karena menghindari minum obat. Mencoba menyembuhkan diri sendiri dengan mengatur nafas dan relaksasi. Walau akhirnya terpaksa harus menyerah dengan tablet penahan rasa nyeri.

Hari berikutnya saya menolak menyerah pada sakit ini. Bangkit dan mencoba berdiri, walau kaki bak melayang di atas bumi. Tapi saya seorang ibu, dengan janji dan amanah yang harus ditepati. Sakit ini, semoga cepat pergi.

Apa daya, beratnya kepala membuat emosi membuncah. Saya marah sekali ketika melihat rumah dalam keadaan sedikit “meriah”. Cucian baju menumpuk belum dilipat, meja makan tak beraturan, dan “kemeriahan” lainnya.

Kesal sekali rasanya. Berjalan terhuyung-huyung keluar kamar, dan mendapati rumah bak kapal pecah. Well, tidak betul-betul tampak seperti kapal yang pecah sih. Hanya mungkin bak kapal yang sedikit oleng. Sehingga beberapa barang ngeloyor pergi ke tempat yang tidak seharusnya ia berada.

Amukan saya belum berhenti di situ saja. Akhirnya kami semua berdiskusi dan berbincang di meja makan. Semua tertunduk dengan muka tegang. Hahahaha!

Saya mengajukan keberatan, atas pemandangan indah yang saya temui pagi itu. Apalagi dalam keadaan kepala bak mendengar suara perkusi beradu. Berdentum di dalam tanpa bisa berhenti bertalu.

Semua menunduk dan meneteskan airmata, ketika saya mengingatkan diri ini yang semakin bertambah tua. Malas rasanya beradu tegang dan menambah kerutan di muka. Perawatan di salon mahal, Cinta.

Perbincangan kami pun berakhir manis. Walau diiringi derai airmata dan tangis. Yang penting semua masalah selesai dengan baik, tanpa perlu menjadi sinis. Biarlah sang emak tetap tampak kinyis-kinyis. Walau seharian berdaster dan bau amis. Ihir!

Hey, Moms! Sakit itu alami, tanda kita ini manusia dengan jiwa dan hati. Katakan saja apa yang kau rasa, jangan membatasi diri. Apalagi berpura-pura tegak berdiri. Sakit, marah, bahagia, katakan saja tanpa perlu membohongi diri.

Siang menjelang, matahari pun naik dengan terang. Setelah pagi bersitegang, semua lalu berubah menjadi riang. Rumah bersih dan benderang, Emak pun tersenyum girang.

Sinus yang menyerang sejak Sabtu siang pun, berubah menjadi tawa lebar. Ketika membuka gawai yang sedari Minggu pagi itu, terus bergetar. Pertanda pesan masuk dari seseorang. Dengan mata sedikit menyipit, karena tak kuat melihat pantulan cahaya, hati ini berubah senang. Karena membaca sebuah pesan tentang keberhasilan.

Apa sih isi pesannya?

Rahasia. Tunggu saja. Kopi hangat di depan mata saya ini, sedang menunggu untuk dihirup wanginya. Kamu tunggu ceritanya lagi, esok atau lusa, ya.

Love, Rere

Mencari Ilham


Mencari Ilham

Menulis cerpen butuh mood dan bakat? Ah, itu hanya mitos belaka. Menulis itu butuh ilham.

Ya, seperti sebuah ilham yang kami dapat ketika pelatihan kemarin. Bahwa menulis cerpen adalah semudah makan semangkuk bakso pedas yang panas nan menggemaskan. Ilham yang ini adalah sang founder Rumah Media Grup. Entah karena beliau begitu hobi makan bakso atau memang semudah itu kah menulis sebuah cerita pendek?

Bagi para pemula, 3 cara mudah ini bisa diterapkan untuk awal menulis sebuah cerita pendek.

1. Sisihkan waktu

Sebuah cerita pendek bermuatan antara 1000 hingga 2000 kata saja. Maka menyisihkan 10-20 jam waktu kita untuk mencari ilham rasanya cukup.

2. Mencari ide

Kadang sebuah ilham muncul di mana saja dan kapan saja. Jangan sia-siakan ide yang muncul tiba-tiba itu. Sesegera mungkin catat di dalam sebuah buku saku, sebelum ia melayang dan pergi jauh.

3. Tentukan gaya

Mulailah dengan bersikap jujur sejak awal menulis. Tidak perlu berusaha meniru gaya seseorang dan berusaha keras menjadi orang lain. Be true to yourself.

Setelah 3 tahap awal ini berhasil dilakukan, pelatihan bersama Pak Ilham kemarin juga memberikan pencerahan berupa tips menulis cerpen. Apa saja tips yang sangat berguna itu?

1. Tema

Pilihlah tema yang memang dikuasai oleh penulis dan dirasa nyaman dengan diri sendiri. Karena dengan menguasai sebuah tema berarti penulis telah memiliki pengalaman dan tentunya telah mengumpulkan banyak informasi. Hal ini akan membuat cerita mudah diolah agar pembaca dapat memetik hikmah atau pelajaran di dalamnya.

2. Penokohan

Menentukan tokoh selanjutnya menjadi hal utama setelah tema. Hendaknya fokus hanya pada 1 hingga 3 tokoh saja dalam setiap cerita. Penokohan ini juga harus mempertimbangkan nama, sifat atau karakter masing-masing tokoh, serta perannya di dalam cerita.

3. Alur

Sebuah cerita tentu saja membutuhkan alur atau dinamika yang membuatnya hidup. Beberapa jenis alur bisa menjadi pilihan. Misalnya alur maju, yang berarti cerita tentang hari ini hingga esok atau lusa, atau alur mundur yang bercerita tentang hal yang lampau atau sebuah kilas balik. Alur campuran juga bisa dijadikan pilihan yang merupakan kombinasi antara alur maju dan kilas balik, biasanya ditemui pada sebuah novel.

4. Sudut pandang

Penentuan sudut pandang juga memegang peranan penting dalam sebuah cerita. Jika ingin menceritakan tentang aku, maka sudut pandang orang pertama bisa menjadi pilihan. Namun jika penulis ingin menjadi tokoh utama sekaligus pencerita, maka bisa memilih sudut pandang orang kedua. Menjadi pengamat atau sutradara dalam cerita, berarti penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.

5. Susastra

Susastra berarti semua hal yang berkaitan dengan karya sastra. Dalam hal ini berupa permainan bunyi atau rima, pengulangan kata menggunakan padanannya, atau dialog cantik antar tokoh di dalamnya. Penulis juga bisa menggunakan bahasa asing, kata-kata yang jarang dipakai, atau puisi untuk membuat jalan cerita lebih menarik. Penggunaan simbol sebagai penggambaran karakter juga bisa dijadikan salah satu bentuk susastra.

6. Judul

Setelah semua kerangka cerita didapat, pemilihan judul menjadi hal terpenting selanjutnya. Beberapa hal berikut ini bisa dijadikan cara penentuan. Pertama, judul harus menarik perhatian pembaca. Bisa dengan menggunakan kata-kata yang unik atau jarang digunakan. Nama tokoh utama dalam cerita juga bisa dijadikan alternatif. Kedua, judul tidak perlu terlalu panjang. Cukup satu kata asal mempesona, rasanya sudah membuat sebuah cerita menjadi magnet bagi pembaca.

Setelah semua hal tersebut didapat maka bagaimana cara penulis mengawali sebuah cerita pendek?

  1. Mulai dengan narasi atau deskripsi tokoh
  2. Mulai dengan percakapan

Setiap awal tentunya harus ada akhir, bukan? Setelah alur cerita selesai, bagaimana cara menentukan akhirnya? Berikut adalah 2 cara untuk menamatkan sebuah cerita, yaitu;

  1. Ending tertutup, berarti cerita berakhir dengan kebahagiaan atau kesedihan yang jelas.
  2. Ending terbuka, biasanya dipilih untuk sebuah cerita yang panjang karena penulis belum bisa menentukan akhirnya. Ending seperti ini membebaskan pembacanya untuk menentukan sendiri akhir konflik atau kisah di dalamnya. Keuntungan bagi penulis jika menggunakan ending ini adalah terbukanya kemungkinan untuk memunculkan cerita baru yang makin seru.

Jadi, masih berpikir bahwa menulis cerpen butuh mood dan bakat? Cobalah mulai mencari ilham tulisanmu. Jika tidak juga bertemu, silahkan mencarinya di pelatihan menulis yang lain bersama Ilham Alfafa, sang founder Rumedia Grup.

Sumber: Pelatihan Menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” bersama Ilham Alfafa

Love, Rere

V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan


V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan

“Urip iku mung mampir ngombe.”

Pernah denger ungkapan dalam bahasa Jawa ini, yang artinya hidup itu cuma mampir minum saja?

Ya, benar juga. Menjalani hari hingga usia saat ini itu kadang terasa lama, tapi melihat anak-anak tumbuh dewasa rasanya waktu begitu cepat berlalu. Semudah menghabiskan segelas minuman.

Sebentar lagi, tanpa terasa mereka akan lulus sekolah. Lalu kemudian bekerja, membeli rumah terus menikah, membangun keluarga kecil, beranak, hingga bercucu. Begitu saja sih sebenarnya hidup ini. Benar-benar ibarat seteguk air.

Hanya perjalanan masing-masing saja yang membedakan. Ada yang bak garis lurus, ada yang berkelok bak jahitan berbentuk zig-zag. Bahkan ada yang begitu kusut di awal lalu lurus di belakang, atau sebaliknya.

Hmmm … saya merangkum semuanya dalam sederet foto ini. Ketika seorang keponakan melepas masa lajang dan saya menghadiahinya dekorasi mobil pengantin. Kemudian tiba giliran keponakan yang lain naik pelaminan, saya membuatkannya sebuah kotak ang paw berbentuk sepasang pengantin berbaju khas Melayu.

Berbulan setelah hari itu, saya kembali menghadiahi mereka dengan sebuah bingkisan berbentuk cake bertingkat. Bedanya yang ini tidak untuk dikonsumsi karena terbuat dari susunan diaper atau popok sekali pakai. Yep, saya sudah punya cucu meskipun bukan lahir dari 3 anak yang masih sekolah. Suatu hari nanti akan tiba giliran mereka.

Jalan kehidupan kemudian kembali berulang, kelak ketika para cucu beranjak dewasa. Setelah tiba giliran mereka naik pelaminan, mungkin saya masih kuat menghias mobil pengantin masing-masing. Lalu sambil membetulkan kacamata yang melorot, mungkin saya juga masih membuat kotak ang paw tentunya dengan hiasan yang hits pada tahun itu.

Semoga … karena saya ingin hidup ini tidak cuma sekedar numpang minum tapi juga berguna untukmu. Meski tidak lagi mampu muluk-muluk menawarkan bantu. Semata hanya karena ingin hidup memiliki value. Meski harus melalui jalan panjang yang berkelok bahkan berdebu.

Life’s too short, make the most of it.

Love, Rere.

Menulis Ala Sang DJ


Menulis Ala Sang DJ

Menulis kok ala DJ? DJ itu kan …

Ini DJ bukan sembarang DJ, ini DJ keren bernama lengkap DeeJay Supriyanto. Saya pun tidak tahu pasti asal muasal nama salah satu dari duo founder Rumah Media Grup ini. Yang saya tahu hanya paparan beliau yang sangat membuat mata saya terbuka lebar selama 2 hari kemarin.

Dari beliau saya baru paham betul apa perbedaan fiksi, non fiksi, dan faksi. Maklum, saya hanyalah anak bawang yang sedang berjuang. Berjuang menuangkan ide dan gagasan, demi masa depan cemerlang. Caelah! Sebenarnya sih alasan utamanya semata ingin meninggalkan sederet catatan bersejarah yang bermanfaat dan berguna bagi semua. Hingga kelak bisa menjadi warisan bagi anak cucu ketika saya sudah tidak mampu lagi menuangkan isi kepala ke dalam tulisan.

Pelatihan di hari pertama sudah memberikan saya afirmasi positif, bahwa menulis adalah hobi yang mengasyikkan. Memang, menulis bagi saya sudah ibarat candu. Jika tidak menulis rasanya hidup ini makin miris. Hahaha!

Sedikit saya akan berbagi bagaimana langkah mudah membuat How Tips seperti yang dipaparkan pada pelatihan di hari pertama.

1. Menemukan ide

Caranya bisa dengan membuat daftar keahlian, menulis minat dan hal yang disukai, melakukan survey, atau dengan berselancar di dunia maya untuk mencari inspirasi.

2. Mengumpulkan data dan fakta

Kita bisa melakukan riset kecil sebelum membuat judul besar atau tentative outline. Kemudian menentukan bab atau sub bab, sebelum akhirnya menuangkan ide berupa paparan.

3. Membuat konsep tulisan

Keberadaan konsep sangat diperlukan karena berisi poin-poin penting untuk tulisan, termasuk rencana penyusunan bab dan sub bab, melalui beberapa pertanyaan.

4. Gaya bahasa

Penggunaan setiap kata harus lah mengalir, mudah dipahami dan tentunya mengandung informasi yang jelas serta akurat. Maka silahkan menentukan bagaimana gaya bahasa tulisanmu.

5. Sertakan data pendukung

Sebagai pendukung tulisan, bisa juga menyertakan visualisasi dalam bentuk foto, gambar, atau contoh kejadian.

6. Tuliskan bagian naskah dengan lengkap

Penyusunan kerangka atau outline memegang peranan penting dalam sebuah tulisan. Misalnya, urutan bab, sub bab, indeks atau daftar isi, catatan kaki, glosarium atau kamus singkat, serta profil penulis. Perlu diingat bahwa penyusunan daftar isi harus dibuat sesederhana mungkin. Jika menyertakan tabel hendaknya dibuat berurutan agar tidak membingungkan pembaca.

7. Menentukan judul

Penentuan judul ini masih bersifat tentatif atau sementara, karena pihak penerbit menjadi salah satu penentu hasil akhir judul sebuah tulisan atau buku. Tentu saja semua bergantung pada sisi komersil yang harus dihadirkan demi kepuasan pembaca.

Pelatihan di hari kedua memberikan ilmu baru tentang kinerja otak yang dibutuhkan oleh seorang penulis. Melalui sebuah tehnik sederhana yang 99% akurat, yaitu menempelkan 2 ibu jari dengan posisi satu di atas dan yang lain di bawah, akan nampak sisi otak sebelah mana yang lebih dominan pada diri seseorang.

Selain mengandalkan kinerja otak, yang tentunya bisa diasah untuk mengaktifkan ke dua belah sisi, ada 5 modal utama yang harus dimiliki oleh seorang penulis.

1. Referensi

Hal ini bisa didapat dengan banyak membaca, sehingga segala ilmu yang terdapat dari setiap bacaan itu mampu mengisi ruang kosong di dalam memori otak. Segala informasi ini akan sangat berguna untuk mengatasi kebuntuan ide yang mungkin tiba-tiba datang.

2. Silaturahmi

Siapa mengira bahwa selain memperpanjang usia dan merekatkan hubungan, silaturahmi juga mampu memperkaya pengalaman. Maka rajinlah bersilaturahmi, jangan membatasi diri dari lingkungan pertemanan, lalu serap sebanyak mungkin ilmu yang muncul.

3. Traveling

Perjalanan wisata dan penjelajahan tempat-tempat baru rupanya juga bisa membuat seseorang memiliki referensi dan memori untuk dituangkan dalam tulisan. Maka “jangan kurang piknik” rasanya tepat disematkan jika ingin memiliki banyak referensi.

4. Mengikat ide

Terkadang ide bisa muncul di mana saja dan kapanpun ketika ia ingin muncul. Untuk mengatasi berhamburannya ide sehingga lenyap sebelum sempat disantap, mulailah memiliki sebuah buku kecil sebagai tempat menambatkannya.

5. Sudut pandang

Mengidolakan seorang penulis kadang membuat kita tanpa sadar mengikuti gaya mereka. Hingga sudut pandang yang disajikan akan nampak serupa. Padahal berbeda kan seru pastinya. Maka, ubahlah arah sudut pandang dengan menyajikan ide atau tulisan yang berbeda.

Lima modal utama ini tentunya tidak akan berhasil ditampilkan ketika seorang penulis mempercayai mitos. Apa saja mitos yang harus dihindari seorang penulis?

1. Penulis butuh mood

Mood seharusnya tidak berperan dalam proses penulisan. Ketika kebuntuan datang, seorang penulis seharusnya mampu menyegarkan otak dengan cara membuka wawasan.

2. Tidak ada ide

Di dunia yang penuh warna ini seharusnya bisa memunculkan beragam ide, jika seorang penulis mampu membuka diri dan pikiran. Bergaul, membaca buku, atau sekedar piknik tipis bisa menjadi jalan menemukan ide, lho.

3. Bahasa harus indah

Jika anda adalah seorang penyair maka hasil karya anda memang butuh tulisan yang merdu, merayu nan indah. Namun untuk menuliskan sebuah ide, penggunaan bahasa yang indah tidak terlalu diperlukan. Yang utama adalah cerita yang disajikan harus mengalir dan saling berkesinambungan.

4. Memiliki bakat

Sering saya mendengar seseorang mengatakan ia tidak berbakat pada satu hal, misalnya menulis. Ketahuilah bahwa siapapun bisa menulis dan yang dibutuhkan hanya proses. Maka menulis, menulis, dan menulis lah tanpa henti untuk semakin memperhalus narasi dan diksi.

Yang Maha Kuasa menganugerahkan ciptaanNya dengan otak yang harus terus dijaga dengan diberikan nutrisi terbaik untuk membuatnya tetap hidup. Maka kewajiban kita adalah memanfaatkannya dengan terus membuka wawasan dan tidak membatasi diri.

The sky is not the limit. Your mind is. So open up your mind and enjoy the colourful life!

Menulis bukan lah semata tentang hobi atau bakat. Menulis adalah sarana latihan tanpa jeda dalam usaha untuk menuangkan gagasan dan ide, yang sumbernya banyak sekali bertebaran di muka bumi ini. Melalui tulisan dan gaya bahasa, dapat tercermin gaya kehidupan seseorang. Maka dengan apakah kita ingin diingat sebagai pribadi?

Saya pilih menulis. Kalau kamu?

Sumber: Pelatihan Menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” oleh DeeJay Supriyanto

Love, Rere

FRAGILE


FRAGILE

Masih ingat kah celoteh saya tentang si tetangga blok sebelah yang sering marah dan berteriak hingga seluruh telinga dalam radius 1 kilometer bisa mendengar suaranya? Sampai saya juga kehilangan fokus untuk menulis?

Sore tadi ia mulai marah lagi dan berteriak-teriak bak sedang kesurupan. Sebenarnya naluri saya sebagai ibu memberontak, ketika mendengar ada suara lain muncul setelah si tetangga berteriak sambil terdengar memukul-mukul sesuatu. Lamat saya mendengar suara tangis seorang bocah.

Saya menyimpan sebuah video yang sengaja saya ambil tadi, jika suatu hari nanti saya diijinkan suami untuk melapor pada pihak berwajib. Saat ini saya merasa helpless.

Posisi sebagai warga berstatus Permanent Resident di negara ini membuat ruang gerak saya sangat terbatas. Ada banyak hal yang harus dipikirkan dengan matang sebelum bertindak. Tidak boleh gegabah dan grasa-grusu hanya demi menenangkan hati. Mungkin juga menyenangkan hati? Hmmmm.

Mewarisi jiwa pemberontak dari bapak yang mantan Brimob, membuat saya sebenarnya gatal ingin berteriak dan menyuruh si tetangga diam dan menghentikan aksinya. Tapi … apa bedanya saya dengan dia kalau begitu adanya?

Orang dengan karakter berisik tidak perlu kita balas dengan juga menjadi berisik. Mereka dengan kebiasaan senang ribut, tidak perlu berbalas dengan kita yang ikutan ribut. Atau mereka yang senang menunjukkan emosi secara membabi buta di hadapan umum, tidak perlu berbalas emosi kita yang ikut ngalor-ngidul. Kecuali … kita ingin disamakan dengan mereka yang kita rumpiin kebiasaan buruknya.

Sigh … saya sungguh bukan ingin ikut ribut. Rasanya sudah cukup masa muda saya habiskan dengan gontok-gontokan. Saya hanya merasa ikut bertanggung jawab jika ada sesuatu yang buruk terjadi. Saya takut kelak ikut menyesal karena terlambat berbuat sesuatu. Namun apa daya, saat ini saya harus sedikit egois dan meredam keinginan untuk membela orang lain. Mungkin saja orang itu tidak butuh saya bela? Hmmm … entahlah.

Perut saya mendadak mulas memikirkan nasib anak-anak yang ibunya berkatarsis dengan begitu dahsyat. Sama hal nya ketika melihat keributan dan kegaduhan yang terjadi di depan mata atau hanya lewat sosial media. Saya hanya berpikir bahwa mereka mungkin butuh sarana pelepas emosi jiwa. Mungkin mereka tidak punya lawan bicara di dunia nyata, hingga melampiaskan keluh kesahnya di dunia maya. Mungkinkah mereka sebenarnya rapuh hingga butuh dukungan baik positif maupun negatif dari mereka yang sebagian tulus bersimpati, meski sebagian hanya sekedar mengambil opportunity?

Pilihannya memang hanya ikut terbawa arus atau menyingkir tanpa suara.

Oh, how fragile we are.

Love, Rere.

Menulis … Mulai Dari?


Menulis … Mulai Dari?

Banyak hal menarik saya dapat dari sesi pertama pelatihan menulis kemarin. Pelatihan? Ya. Saya memang anak bawang yang masih tertatih mengenal diri sendiri dan berusaha menuangkan isi kepala dalam deretan kata. Maka mengikuti pelatihan adalah cara saya menajamkan pena.

Pelatihan dimulai dengan mengenali beberapa karakter manusia dalam hubungannya dengan motivasi untuk menulis.

  1. Tipe yang membuat sesuatu terjadi.
  2. Tipe yang biasa melihat saja.
  3. Tipe yang hanya terkesima ketika melihat sesuatu.

Jika anda tipe yang terbiasa hanya melihat dan terkesima, cobalah untuk membuatnya menjadi sesuatu. Bagaimana cara mewujudkannya? Dengan menumbuhkan kepercayaan diri, asal jangan kelewat percaya diri. Hahaha!

If you think you can, then you will. If you think you can not, then you won’t.

Apakah dalam proses mewujudkan itu tidak akan ada rintangan? Tentu saja ada. Cara menghadapinya adalah dengan mencoba, dan terus mencoba tanpa kenal menyerah. Namun ada 2 hal yang perlu diingat seseorang ketika ingin mulai menajamkan pena menjadi seorang penulis.

Branding

Pilihlah sebuah nama yang akan menjadi ciri khas. Stick to it dan jangan melakukan banyak perubahan, sehingga gaungnya akan dengan mudah diingat oleh pembaca.

Spirit

Tidak ada siapa pun yang bisa menumbuhkan semangat dalam diri kecuali diri sendiri. Caranya dengan menguatkan tekad, menggelorakan semangat, serta fokus pada apa yang ada di hadapan. Membuka mata juga telinga adalah wajib, karena ilmu serta keahlian itu sangat luas. Percayalah, mempelajari sesuatu yang baru itu akan membuat hidup menjadi lebih indah.

Try, try again, try harder, try your best, and never give up!

Saya juga menemukan 5 resep menarik yang sangat berguna untuk mulai menulis, baik sebagai pemula atau juga menjadi pegangan seumur hidup untuk para penulis profesional.

1. Abaikan teori, and just start. Mulai lah menulis dari apa pun yang terlintas di benak, dan bagaimana pun jenis tulisanmu.

2. Terus berlatih, and never stop learning. Buka mata dan pikiran untuk menambah kosa kata serta wawasan, dan berlatih untuk terus mengasah ide yang muncul. Beberapa cara bisa dilakukan seperti mengikuti tantangan menulis atau bergabung dengan komunitas menulis. Jangan terlalu khawatir dengan hasil akhir karena semua butuh proses. Life is a never ending journey of learning and relearning, isn’t it?

3. Jika mendadak buntu, berhenti saja lah. Memaksa diri untuk menulis ketika otak sedang menolak diajak berpikir adalah hal yang harus dihindari. Istirahatkan ia untuk sementara dan benahi pikiran serta emosi agar bisa kembali konsentrasi. Memiliki bank naskah adalah salah satu solusi. Bagaimana caranya? Biasakan untuk menulis apapun yang terlintas di benak, kapan pun, di mana pun. Kemudian simpan naskah-naskah ini di sebuah folder yang sewaktu-waktu bisa kita edit lalu publish ketika otak sedang beku.

4. Mulai lah menulis hal yang begitu dekat dengan kehidupan kita dan tentunya dikuasai dengan baik. Saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk be true to yourself. Jujurlah pada semua hal, termasuk dalam tulisan. Tidak perlu muluk-muluk berangan ingin menulis tentang hal yang kekinian atau sedang bombastis dibicarakan. Tulis saja hal-hal sederhana yang menarik untuk dibaca sebagai permulaan.

5. Abaikan gaya menulis, tampilkan jati diri sebagai penulis. Membaca tulisan orang lain memang seringkali membuat ternganga atau terkagum bingung. Kok bisa ya dia menulis sekeren itu? Menjadikan seseorang sebagai obyek belajar adalah sesuatu yang baik. Namun berusaha keras menjadi seperti orang lain adalah hal yang harus dihindari ketika mulai menulis. Be yourself, you are you, you are unique. Karena menjadi berbeda itu seru!

Jadi, jika ingin menjadi penulis maka mulailah menulis. Nikmati segala prosesnya dengan menjadi diri sendiri dan bersikap jujur pada setiap goresan yang bersumber dari hati.

So, let’s start and just write!

Sumber: Pelatihan Menulis “Mencetak Generasi Berliterasi” Bersama Ilham Alfafa, Founder Rumah Media Grup

Keliling Dunia


Keliling Dunia

Ujung tahun 2000 waktu itu, ketika airmata saya menetes di atas pesawat yang bertolak dari Jakarta menuju Jeddah. Ada rasa yang mendadak hilang hingga membuat lutut saya terasa lemas. Jantung saya berdebar membayangkan sebuah tempat nun jauh di belahan bumi lain, ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahiran.

Memang pergi ke luar negeri adalah cita-cita saya sedari kecil. Meski tidak banyak anak seusia saya yang berpikir untuk menjadikannya sebuah keinginan. Kebanyakan dari mereka menjadikan sebuah profesi sebagai mimpi masa depannya. Namun tidak bagi saya.

Nyatanya menjadi seorang awak kabin adalah jalan saya mewujudkan mimpi itu. Kalau tahu, dulu saya bercita-cita saja menjadi seorang pramugari, hingga tidak ada orang yang tertawa geli mendengar seorang bocah SD menjadikan pergi dan tinggal di luar negeri sebagai mimpinya.

Meskipun belum seluruh belahan bumi yang begitu luas ini saya datangi, namun banyak pengalaman batin membuat saya merasa kaya. Ya, kaya pengalaman yang menjadi bekal saya memandang banyak hal saat ini.

Pernah mendengar sebuah tempat bernama Khartoum? Mungkin tidak banyak yang tahu atau sadar bahwa ada sebuah kota bernama Khartoum yang menjadi ibukota negara Sudan. Dalam penerbangan menuju tempat itu, pesawat kami penuh berisi deportees, atau mereka yang diusir dari negara lain karena sebab tertentu. Jangan bayangkan perjalanan ini fancy ya. Hampir seluruh penumpang tidak memakai alas kaki, bahkan ada yang sudah berhari-hari tidak mandi.

Pesawat berhenti di sebuah tempat yang sejauh mata memandang hanya berupa deretan gurun yang kering dan tandus. Kami bahkan harus membuka seluruh pintu pesawat karena aroma menyengat yang ditinggalkan para penumpang. Miris melihatnya, sambil mengingat sejarah tertindasnya bangsa mereka sejak jaman dahulu kala.

Perbedaan warna kulit … gumam saya pelan.

Khartoum bukan satu-satunya pengalaman menakjubkan yang pernah saya lalui. Banyak sekali cerita penuh warna saya temui. Pekerjaan ini memang membawa saya berinteraksi dengan banyak budaya, ras, bahkan hingga akhirnya bertemu sang belahan jiwa. Bahwa hidup adalah sebuah pilihan, terjadi setelahnya. Meski dengan sedikit berat hati, saya berhenti dari pekerjaan yang saya cintai karena banyak memperkaya batin itu.

Beruntung saya tidak dibesarkan untuk melihat perbedaan. Maka berada di mana pun bagi saya tetap menyenangkan. Meski berkali-kali tergagap mengikuti alur sekitar, namun jiwa petualang membuat saya mampu bertahan. Apalagi kali ini saya harus hidup berdampingan dengan beberapa ras sekaligus. Cina, India, Melayu, dan etnis lain menjadi pengalaman baru yang semakin memperkaya kehidupan di tahun ke-14 saya tinggal di negara multikultural ini.

Beruntungnya saya. Setelah pernah keliling Indonesia https://reynsdrain.com/2020/08/18/keliling-indonesia/ lalu keliling dunia, sekarang membesarkan anak-anak di tengah banyak perbedaan https://reynsdrain.com/2020/08/07/rumah-ke-2/

Tidak banyak harta ayah dan bunda kelak tinggalkan, Nak. Namun pengalaman serta terbukanya wawasan akan menjadi bekalmu memandang indahnya kehidupan. Indah karena beda. Beda yang harus dihargai keberadaannya sebagai anugerah dari Sang Pencipta.

It’s not about being all the same. It’s about respecting differences.

Love, Rere