Try. Try Hard. Try Harder


Try. Try Hard. Try Harder

Kalau dipikir-pikir, universe beserta Sang Pencipta kadang bercandanya seru, ya?

Beberapa bulan lepas kita masih pergi ke mana pun kaki melangkah dengan bebas. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat dan membuat seluruh penghuni bumi dimasukkan dalam “sangkar” emas.

Berbulan-bulan hanya berdiam di rumah saja tentunya membawa banyak perubahan pada fisik dan mental. Biasanya aktif di luar rumah, sekarang harus menikmati detik demi detik kehidupan di dalam rumah saja. Bosan, jenuh, bete, hingga enggak tahu mau melakukan apa lagi.

Nah, apa yang bisa kita lakukan selama di rumah saja? Banyak! Salah satu contohnya adalah melakukan kegiatan yang disukai dan mencoba hobi baru setiap hari.

Bukankah a hobby a day will keep the boredom away? Jadi kenapa kita tidak berusaha mencoba banyak keahlian dan hobi?

“Ah, gue kan enggak berbakat kayak elu.”
“Elu mah megang apa aja jadi, Mak. Gue mah enggak bisa.”

Ih! Kalian tahu tak kalimat “tak kenal maka bisa utang … eh … maksudnya tak sayang”? Bagaimana sih kalian bisa tahu kalau tidak berbakat jika mencoba saja belum pernah. Padahal kegagalan itu masih lebih baik daripada keengganan. Mending gagal tapi pernah mencoba, daripada belum coba tapi sudah menyerah kalah.

Untuk itu, kalau kalian pikir saya bisa ini itu dari lahir, kalian salah. Sesungguhnya saya hanya punya semangat dan ketekunan. Semangat untuk selalu belajar hal baru, tekun mencari ilmu, serta rajin mencoba keahlian baru.

Tahukah kalian semua, jika semakin banyak hal saya temui dalam proses belajar ini, semakin saya paham bahwa sejatinya saya tidak tahu apa-apa. Untuk itu saya belajar membuka diri dan juga hati agar semua ilmu bisa saya pelajari tanpa ruangnya pernah saya batasi.

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk melihat video cara pembuatan beragam kerajinan tangan di internet. Kemudian saya mulai mencoba dan melakukan eksperimen sendiri. Kadang gagal, tapi saya tidak menyerah. Terus mencoba, itulah prinsip hidup saya.

Jadi, apa yang kalian lihat postingannya selama ini di beranda pribadi saya, adalah hasil dari sebuah proses belajar, proses mencoba, dan juga proses melakukan banyak kesalahan.

Begitulah cara saya belajar. Hingga tercipta beberapa hasil karya berupa macrame, wire weaving, resin, dan juga beberapa tulisan yang menunggu untuk dibukukan. Percayalah, memakai hasil karya sendiri itu sensasinya beda teman.

Jadi, masih mau bilang enggak bisa dan enggak berbakat? Think again.

Making mistakes simply means you are trying harder than anyone else.

Love, R

Belajar Dari Rayyan


Belajar Dari Rayyan

Ting Tong!

He? Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah? Waduh! Saya belum lagi mandi, dan baru saja menyeduh secangkir kopi. Bergegas saya menuju pintu rumah dan melihat dari lubang intip.

Lah! Si Rayyan?

“What’s wrong, Rayyan? Did you forget something?”
Bundaaa! I forgot my mask! I was almost reached the school gate when I realized I didn’t put on my mask.”
“Oalah! Hold on, I take your mask.”
“Thank you,
Bunda.”
“There you go. Be careful. Just go down by the lift,
Nak.”
“I’ll go down by the stairs,
Bunda. So sorry for this.”
“No problem. Take care!”
“I love you,
Bunda. Assalamualaikum.”
“Love you more!
Waalaikumussalaam.”

Lamat saya masih mendengarnya berteriak menyatakan penyesalan dan cintanya, sambil menuruni anak tangga, sesaat setelah saya menutup pintu.

Apartemen kami berada di lantai 5, dan anak-anak selalu turun naik menggunakan tangga tanpa pernah mau naik lift yang letaknya persis di samping rumah. Kami memang mengajarkan mereka untuk rajin menggunakan tangga di mana pun berada. Anggap saja olahraga.

Saya pun mengawasi Rayyan dari jendela rumah sampai ia selamat menyeberang lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke gerbang sekolah. Beruntungnya kami, sekolah dasar anak-anak hanya terpisah 1 blok saja dari bangunan apartemen rumah.

Ah Rayyan … seandainya semua orang belajar disiplin darimu. Si bungsu yang baru berusia 9 tahun. Demi menjaga diri dan lingkungannya, ia sampai rela harus turun naik tangga dari lantai 1 ke lantai 5 mengambil masker penutup mulutnya yang tertinggal di rumah. Padahal di sekolah ia juga harus turun naik dari lantai 3 ruang kelasnya ke lantai 1, atau lantai 2 untuk mengikuti serangkaian kelas.

Semoga tetap semangat dan bahagia ya Nak. Tidak perlu meminta maaf karena sudah menerapkan disiplin dengan baik, dan melakukan sesuatu yang benar. Padahal bisa saja ia tidak peduli dan tinggal bilang lupa. I’m so proud of you big boy!

Semoga banyak manusia ikut belajar dari Rayyan.

Love, R

Selamat Berjuang, Nak!


Selamat Berjuang, Nak!

“How’s school, Lana?”
“It was okay,
Bunda.”
“Are you okay wearing face mask during lesson?”
“I’m okay.”
“Can you breathe easily?”
“Kinda dizzy a bit but no problem.”
“Huh? You must inform your teacher if you feel uncomfortable,
Nak.”
“It’s okay,
Bunda. It’s only for a while. After that I’m fine.”

Hhhh … sesak dada rasanya melihat ketiga anak saya dan seluruh murid di Singapura kembali ke sekolah. Ya, sejak mulai diberlakukannya Fase 2 di awal Juni kemarin, mereka memang mulai bergantian kembali belajar di dalam kelas. Tentu saja dengan sederet aturan yang harus dipatuhi tanpa kecuali.

Setelah minggu kemarin dua putri saya masuk sekolah sementara si bungsu mengerjakan tugas di rumah, minggu ini giliran Rayyan yang masuk sekolah dan sang kakak mengerjakan tugas sekolah dari rumah.

Saya sedikit khawatir memang pada kondisi Lana yang pernah menderita asma. Ia juga mudah sekali mimisan ketika suhu tubuhnya naik. Namun saya hanya mengingatkannya untuk berkomunikasi dengan sang guru ketika ia mulai merasa tidak enak badan. Bangganya saya ketika melihatnya begitu tabah dan tanpa keluh kesah menuruti peraturan sekolah.

Begitu pula dengan si bungsu Rayyan, yang begitu bersemangat mengawali pagi. Tak nampak raut wajah khawatir atau segan setelah sekian lama hanya di rumah saja. Sejak hari Senin kemarin, ia harus kembali ke sekolah dan memulai segala sesuatu dengan hal baru.

Ia juga harus belajar beradaptasi dengan masker yang terpakai sepanjang hari, serta berjuang untuk melalui semuanya tanpa kecuali.

“How’s school, Rayyan?”
“Oh my! It was so hot with my mask on,
Bunda.”
“But are you okay?”
“Yea, I’m fine. Teacher asked us to wear PE attire to school so we don’t sweat too much.”
“I know you can do it and able to adapt to the new normal. Right?”
“Yea. I’m fine. I look cool with my mask on anyway.”
“Ish! So vain!”

Hahaha! Mungkin hanya Rayyan yang kegirangan memakai masker wajah karena menurutnya ia tampak keren.

Alhamdulillah mendengar mereka tetap semangat, tidak banyak mengeluh, dan cepat beradaptasi dengan keadaan yang baru ini. So proud of you, kids!

Semoga perjuangan kalian di bangku sekolah dalam situasi tidak mengenakkan tahun ini, akan membentuk pribadi yang kuat dan tidak mudah mengeluh ketika dewasa kelak. Masih banyak tantangan di depan sana yang harus kalian perjuangkan bukan? Ini hanya sebagian kecil dari proses belajar hidup, Nak.

Welcome back to school and welcoming the new normal!

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda #Perjuangan

Welcoming The New Normal. Hang in there, Kids!

Surat Cinta


Surat Cinta

Adakah di antara emak semua yang masih menyimpan lembaran surat cinta? Surat-surat sederhana yang kadang hanya ditulis di selembar kertas nota kecil, kadang sudah lusuh bahkan mungkin robek di sana-sini? Eits! Saya tidak sedang berbicara tentang masa lalu ya. Ihik!

Ini tentang surat cinta yang saya dapat dari ketiga anak saya, yang tersimpan dan saya rawat dengan baik.

Dulu, waktu kedua putri saya masih kecil dan baru belajar menulis, mereka sering menghadiahi saya surat sebagai tanda cintanya. Walaupun tulisannya masih bak cakar ayam atau dengan gambar yang meleyot sana sini. Banyak lho yang masih saya simpan walau sebagian besar raib, mungkin terbuang waktu kami pindah rumah dulu.

Sekarang, surat cinta itu saya dapatkan kebanyakan dari si bungsu yang memang luar biasa romantis. Ia begitu perhatian dan sangat ekspresif. Rajin sekali memeluk, mencium, dan mengungkapkan isi hatinya dengan bahasa yang lucu.

Ya, ia akan tiba-tiba datang dan menyerahkan sobekan kertas yang berisi kata-kata manis untuk saya.

“I will write down something for you every single day Bunda, because I love you so so so much,” begitu ujarnya.

Ah … meleleh!

Sebagian surat cinta itu sengaja saya letakkan di tempat khusus supaya saya bisa selalu melihat dan membaca. Sebagai pengingat juga untuk tidak selalu marah dan bermuka tegang di rumah. Sebagai tanda juga bahwa ada orang-orang di sekitar yang menyayangi saya dengan tulus hati. Unconditionally.

Thank you, Nak! Rasanya tidak ada hal yang begitu membahagiakan dibanding menjadi seorang ibu. Surat-surat cintamu membuat hidup bunda begitu indah dan bahagia.

Life has never been so good!

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda

TERSERAH!


TERSERAH!

"Yah, pingin banget makan Thosai di restoran itu deh. Duh! Udah kemecer di ujung lidah nih. Enak banget thosainya di sana."
"Bunda mau?"
"Iya. Sarapan di sana, yuk. Pingin minum Lassi juga.'
"Okay. Ayo ke sana."

Pagi itu saya, yang akan mengantar suami berangkat ke kantor, tiba-tiba ingin sarapan di sebuah restoran yang menyajikan masakan India. Kami pun bergegas mempersiapkan diri, dan saya sibuk memilih baju serta bersolek di depan kaca.

"Yah, pakai baju apa ya? Pilihin dong yang merah atau hitam?
"Mana saja bagus, kok. Terserah Bunda saja."
"Ih! Bantuin mikir dong! Bingung nih."
"Ya sudah merah saja bagus."
"Memangnya yang hitam kenapa? Enggak bagus ya?"
"Lah! Katanya tadi saya disuruh milih?"
"Hmm ... ya sudah nanti saya pikir dulu. Merah ya?"

Beberapa saat kemudian,

"Bunda, sudah siap?"
"Sudah, Yah. Ayo berangkat."
"Lah? Ayah pikir mau pakai baju merah tadi?"
"Enggak, ah. Pakai pink saja."
"Ish! Tadi buat apa tanya?"
"Ya, pingin tahu saja pilihanmu."
"Terus yang dipilih malah beda. Dasar! Terserah deh!"

Hahaha! “Sabar ya, Sayang,” ujar saya sembari nyengir dan menggandeng tangannya menuju tempat parkir. Sebelum saya melajukan kendaraan, kembali sebuah pertanyaan saya ajukan.

"Yah, kita mau lewat jalur A atau B?"
"Terserah Bunda."
"Ih! Jangan terserah-terserah terus lah!"
"Hhhh ... Ya sudah lewat jalur A saja mungkin enggak macet."
"Eee ... tapi kan jalur itu lebih jauh terus macet lagi nanti."
"Ish! Terserah deh!"

Saya pun berbelok melalui jalur C … yang macet! Hahaha! Sambil melirik ke arah sang suami yang merengut, saya tertawa lepas sambil berusaha mengusir rasa bersalah karena tidak menuruti kata-katanya.

Akhirnya kami pun tiba di restoran yang sedari pagi thosainya saya inginkan bak sedang mengidam berat. Thosai adalah sejenis makanan khas India yang bentuknya seperti pancake dengan isian kentang yang gurih dengan beragam cocolan sambal yang nikmat. Sementara lassi adalah minuman dari buah segar yang dicampur dengan sejenis yoghurt yang segar. Enak pokoknya!

"Pesan ya? Ayah mau prata telur bawang dan teh tarik. Bunda mau thosai dan lassi, kan?"
"Iya. Eh sebentar, mau lihat menu dulu."

Suami pun memanggil pelayan untuk memesan, berpikir bahwa saya akan membeli makanan yang sebelumnya saya inginkan.

"Hi. Can I have 1 telur bawang prata, 1 thosai masala, and ..."
"Eh, wait wait. Sebentar, Yah. Bunda pesan cheese prata dan teh panas saja, deh."
"Lah? Bukannya jauh-jauh kemari mau makan thosai dan minum lassi? Kenapa jadi cheese prata dan teh panas?"
"Thosai sudah pernah, ah. Mau coba cheese prata. Hehe."

Penuh keheranan suami saya pun merubah pesanan sebelumnya sambil menggerutu, “Gimana sih? Tadi katanya mau apa, terakhir jadi apa. Terserah deh!”

Hahaha! Begitu lah saya, yang seringkali membuat suami mengelus dada atau membeliakkan mata tanda takjub. Ya, ia sering dibuat takjub dengan cepatnya saya merubah keputusan, mengingat sang istri adalah orang yang menghendaki banyak hal terorganisir dengan baik, rapi, disiplin, serba harus, dan tepat.

Yah, saya memang justru sering konsisten untuk tidak konsisten dalam hal mengambil keputusan yang sepele dan remeh. Hahaha! Tapi jangan main-main dengan saya dalam urusan serius seperti sekolah. Saya tidak perlu berpikir dua kali dan ragu-ragu untuk urusan disiplin pengajaran anak dan pendidikan.

Well, anggap saja ini bentuk terapi saya melawan OCD alias Obsessive Compulsory Disorder yang selama ini lumayan membuat stress mereka yang ada di sekeliling saya. Walaupun terapi ala saya ini harus sering membuat kesal suami hingga membuatnya mengernyitkan dahi sambil berkata, “Terserah!”

"Yah, Bunda gendut ya?"
"Enggak."
"Ah, bohong!"
"Beneran! Enggak gendut kok."
"Tapi enggak langsing juga kan?"
"Langsing!"
"Bohong!"
"Ya udaaahhh gendut!"
"Ih! Tega bener!"
"Hadeh! Terseraaaaahh!"

Marriage lets you annoy one special person for the rest of your life. (Anonymous)

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Terserah #ReReynilda

Dirawat VS Diedit


Dirawat VS Diedit

“Cantik banget siiiihh kamu!”
“Hahaha! Editan itu. Filter maksimal, Cint.”
“Ah, gak diedit juga udah cantik.”
“Kata siapa? Cantik itu kudu dirawat Cint. Perawatan mahal jadi … edit aja. Gratis dan bikin bahagia!”

Hahaha!

Ini adalah kalimat yang biasa saya ucapkan ketika menerima pujian dari beberapa sahabat setelah mengunggah hasil swafoto di media sosial.

Ya, saya memang kadang menggunakan aplikasi untuk mendapat hasil foto yang bagus. Paling tidak membuat saya bahagia. Walaupun saya berusaha untuk tidak terlihat terlalu mulus dan flawless. Nanti yang bertemu langsung dengan saya bisa makjegagig kaget, karena ternyata aslinya tidak seindah tampilan di layar gawai.

Berbicara soal perawatan, siapa sih yang tidak ingin merawat tubuh dan kulitnya secara paripurna? Tahukah kalian semua, betapa kami para perempuan ini sebenarnya khawatir? Semakin menua, kulit kami tidak menjadi semakin mulus dan glowy. Semakin bertambah usia, yang tadinya kencang menjadi serba melorot. Mata yang tadinya berbinar indah, menjadi berkantung tebal dan kehilangan sinar.

Belum lagi bertambahnya babat dan timbunan lemak di banyak tempat. Padahal kami sudah berusaha menjaga pola makan dan menghindari beberapa jenis makanan. Tetap saja kami tidak bisa selangsing Sophia Latjuba dan secantik Putri Marino. Mereka sih rasanya tidak perlu repot melakukan diet ketat atau perawatan maksimal, bahkan rasanya mereka tidak pernah menggunakan aplikasi untuk mempercantik tampilan.

Uhari pernikahan saja pipi mereka tidak diteploki bedak dan shading setebal 2 mm kok. Coba kalau kita yang tidak full make up di hari pernikahan. Sudah pasti tampilan kita akan seperti orang yang baru bangun tidur. Bengkak dan kusam.

Perawatan yang saya lakukan di rumah juga terbilang lengkap. Tentu saja, bila mengingat mahalnya melakukan perawatan ke salon kecantikan di negara ini. Awalnya saya berpikir, daripada ke salon mendingan saya rawat sendiri di rumah. Karena jika dihitung akan jauh lebih murah dan hemat.

Bagaimana dengan suami saya? Apakah ia mendukung cara saya melakukan perawatan ini? Ya tentu saja jika ingin melihat saya tampil mendekati seperti 15 tahun yang lalu ketika ia pertama kali terpana melihat saya. Eeeaaaaaa!

Para suami tentu saja harus memberikan dukungan penuh jika menghendaki sang istri tampil menawan bak polesan aplikasi peluntur kekusaman. Jangan hanya menuntut kami ini bekerja di rumah seperti kuli dengan tampilan wajib bak gadis muda kinyis-kinyis, yang bahkan menyalakan kompor saja masih meringis.

Namun sebagai perempuan yang sudah menjadi ibu juga harus paham, bahwa ada banyak hal yang butuh perhatian lebih sekarang. Skala prioritas hidup harus sedikit diatur walau tidak melupakan kebutuhan pribadi.

Lihat kan regime perawatan muka saya? Semua ini tidak berharga murah memang. Tapi saya membelinya dari menyisihkan uang jatah jajan saya sendiri. Ya, saya menghadiahi diri sendiri uang jajan setiap bulan yang bisa dengan bebas saya pergunakan.

Nah, daripada saya menghabiskannya untuk nongkrong cantik atau arisan di resto mewah, saya menyisihkannya untuk membeli beberapa alat perawatan kulit dan wajah. Semacam investasi kecantikan.

Lantas, dipakai tidak? Yaaaaa kebanyakan sih setelah berakhirnya uforia, mereka akan teronggok di sudut lemari kaca. Lantas butuh suntikan semangat untuk menggunakannya kembali. Saya sih masih pakai kok sesekali. Sayang juga sudah mahal-mahal dibeli.

Segitu amat ya perawatannya? Sementara kebanyakan dari kita merasa, “Ah sudahlah. Begini juga sudah laku dan beranak pinak.” Betul tidaakkk? Padahal pikiran seperti itu yang sebenarnya lambat laun akan membuat kita makin malas merawat tubuh hingga kehilangan rasa cinta pada diri sendiri.

Saya sih juga seringnya malas melakukan perawatan sendiri. Namun biasanya dengan beberapa sahabat kami saling menyuntikkan semangat untuk rajin merawat diri. Kadang juga janjian menyeberang pulau untuk pergi ke salon kecantikan dengan harga yang jauh lebih murah daripada di sini.

Jadi, perlu kah kita merawat diri hingga tak lagi butuh sekedar mengedit dengan aplikasi? Jika dengan aplikasi saja kita sudah bahagia, ya lakukan saja. Bebas. Yang penting mencintai dan menyayangi diri sendiri itu juga wajib.

Eyow para suami, bantu istri-istrimu di rumah. Jika tidak menghendaki mereka menghabiskan uang untuk melakukan perawatan, setidaknya berikan dukungan secara verbal bukan melulu perundungan.

“Gendut amat sih, Ma?”
“Kusem amat tu muka, Bun!”
“Lihat deh ini Yuni Shara umur 50 tahun masih kinclong enggak kayak kamu, Mi!”

Oy! Percayalah, ini semua dilakukan para perempuan untuk membahagiakan anda semua. Jadi berikan dukungan, modali istrimu untuk sesekali pergi ke salon kecantikan, dan berikan waktu untuk menghibur diri sejenak dari rutinitas harian. Above all, watch your words! Karena tajamnya bisa menusuk lebih daripada pedang.

Trust me, being a woman is never easy. We have to think like a man, work like a horse, and look like a young girl.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

Seven


PROLOG


Tujuh. Angka yang sangat aku sukai. Bukan hanya suka, melainkan aku sudah terobsesi dengan angka tujuh.

Teman kampus memanggilku Amel. Kepanjangan dari panggilanku adalah Amelia Oktavia Sasmita. Aku seorang mahasiswa kedokteran dan penderita OCD—Obsessive Compulsive Disorder. Sebuah gangguan mental yang membuatku harus melakukan sebuah tindakan berulang. Jika tidak melakukannya, maka diriku akan diliputi kecemasan dan ketakutan yang luar biasa. Pada kasusku, aku sangat terobsesi dengan angka tujuh.

Ketika mencuci tangan, aku akan membilas tanganku dengan air bersih sebanyak lima kali. Aku akan menghabiskan makanan yang kumakan dengan kelipatan tujuh. Mengecek jendela serta pintu harus sebanyak tujuh kali sebelum tidur atau bepergian. Semua itu kulakukan setiap hari.

Bagaimana jika aku tidak melakukan sebanyak tujuh kali atau kelipatannya? Maka … seharian penuh aku akan merasa gelisah dan ketakutan hebat. Bahkan rasa gelisah itu bisa bersemayam selama seminggu. Sungguh rasa gelisah yang sangat berlebihan.

Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.

Sialnya, di suatu hari aku mengalami kejadian buruk. Waktu itu aku sedang melewati jembatan penyebrangan dekat kampus, yang konon banyak yang bilang di jembatan itu sangat rawan. Desas desus itu menjadi nyata. Saat aku sedang berjalan di jembatan penyebrangan, ada seorang laki-laki berambut gondrong menghalangi jalanku.

Aku berjalan ke kanan, dia mengikuti ke kanan. Ketika berjalan ke kiri, dia mengikutinya. Aku diam sambil menatap manik matanya. Lalu aku berbalik badan dan lari sekencang mungkin. Namun, dia mengikutiku dari belakang. Dengan langkah besarnya, dia sangat mudah mencekal lengan kananku. Sontak aku berusaha menyentak cekalannya, tapi tak terlepas.

Sebuah ide terlintas begitu saja dalam otakku. Aku tendang tepat di selangkangannya dan dia pun mengaduh sambil memegang bagian sensitifnya. Ini kesempatanku untuk kabur, tapi sebelum kabur, aku mendorong tubuhnya hingga terjungkal dan menggelinding ke tangga. Lelaki itu terkapar tak berdaya di tanah setelah anak tangga paling bawah. Darah segar membasahi area kepalanya.

Kejadian ini sangat mengerikan. Tanganku sampai bergetar. Ini adalah pertama kalinya aku menyakiti seseorang hingga tewas. Namun bukan kejadiannya yang membuat mengerikan. Karena jika aku sudah memulai sesuatu, aku akan berhenti jika sudah melakukannya sebanyak tujuh kali.

Inilah awal ceritaku dimulai. Siap mengikuti jalan ceritaku sampai akhir?

Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh.

To be continue

MIMPI


MIMPI

“Pah, pinjam mesin tik nya ya.”
“Buat apa? Memang tahu cara pakainya?”
Tau dong. Mau nulis buat mading.”
“Nulis apa?”
“Enggak tahu. Hehe.”

Mesin tik bersejarah itu awal saya berkenalan dengan dunia tulis menulis di tahun 1991, ketika duduk di bangku SMA.

Satu persatu huruf di mesin tik tua itu saya kenali dan berusaha keras mengakrabkan diri. Lembar demi lembar tulisan yang saya buat darinya akhirnya bertengger di majalah dinding sekolah kami. Tentu saja dengan nama samaran karena saya belum lagi percaya diri.

Berkenalan dengan grup para penulis keren awal tahun lalu, membuat saya kembali tertarik menuangkan keluh kesah dan pengalaman hidup. Ya. Hampir semua tulisan yang saya buat memang berdasarkan apa yang saya lalui selama ini. Tidak selalu manis dan indah, bahkan sarat dengan kisah sedih dan airmata.

Tulisan pertama saya bahkan juga menghadiahi diri ini piala pertama dalam hidup. Hahaha!

Kini, dua di antara beberapa antologi yang telah saya tulis juga menempatkan saya di deretan terbaik . Melalui antologi Seni Menyikapi Ketelanjuran dan Ketika Jiwa Terlahir Kembali.

https://parapecintaliterasi.com/5-naskah-terbaik-dalam-event-spesial-milad-ma-nubar-sumatera/

https://parapecintaliterasi.com/siapakah-terbaik-dalam-event-terdahsyat-nubar-sumatera-bertemakan-hijrah/

Percayalah, ini adalah wujud dari semua mimpi yang pernah saya rajut sejak di hari saya menekan tombol-tombol huruf di mesin tik tua milik papa. Tidak pernah muluk-muluk berpikir untuk melihat tulisan saya kelak nangkring di toko buku ternama. Cukup dengan membuat banyak mata membaca kemudian mengambil pelajaran dari semua kisah yang saya bagikan. Itu saja.

Mimpi, jangan takut dipunyai. Karena mimpi yang memberi warna hidup ini. Gelap bisa berubah terang, terang bisa semakin bersinar.

Follow your dream, believe in yourself, and never give up.

Love, R

Fitri, Sebuah Refleksi


Fitri, Sebuah Refleksi

“Aji ning rogo menungso iku soko busono, Nak,” ujar mama pada suatu hari. Ia menerima wejangan ini dari almarhumah ibunya, nenek saya, kemudian meneruskannya pada saya.

Harga diri seorang manusia itu dilihat dari bagaimana caranya berpakaian. Secara harfiah maksudnya adalah bagaimana seseorang membungkus tubuh sekaligus mematut diri. Metafora atau makna yang terkandung di dalamnya adalah bagaimana manusia itu mampu menempatkan diri dengan baik, pantas, dan sewajarnya, bak pepatah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Hingga seharusnya setiap kita berhati-hati dengan nilai dan kepantasan, karena dari situ lah manusia bisa dihargai keberadaannya.

Respect is earned, not given y’all.

“Aji ning diri soko lathi,” adalah kalimat baru, meski tidak terbaru, yang saya dengar dari lagu Lathi unggahan kemarin.

Harga diri seorang manusia itu dilihat dari lidahnya. Menarik melihat bagaimana tutur bahasa seseorang mampu menunjukkan karakter serta caranya memandang sesuatu hal.

Ada yang terbiasa bergurau hingga setiap kata yang terlontar membuat banyak orang terpingkal. Ada pula mereka yang seringkali sinis hingga lidah terbiasa mencaci atau berbicara tentang keburukan atas banyak hal. Ada lagi yang lebih memilih diam dan membatasi setiap ucapan.

Menarik kan?

Menjadi menarik justru karena membuat saya kepo dan ingin tahu latar belakang kehidupan yang membentuk karakter seseorang. Banyak yang dalam hidupnya nampak bahagia ternyata terbentuk dari gempuran kerikil tajam yang dengan kuat dihadapinya. Sebaliknya, banyak yang seringkali terlihat marah ternyata karena ada sesuatu hal yang tidak mampu diselesaikan atau dihadapi. Sehingga melontarkan kekesalan adalah salah satu jalan menghadapi perasaan kecewa yang menghantui.

Saya lalu merenung, jika Lebaran adalah hari yang fitri dimana seseorang dianggap bak selembar kertas putih dengan istilah ‘kembali suci’, seharusnya masa lalu adalah sebuah refleksi. Tentang bagaimana menjaga raga agar tidak salah menempatkan diri, dan bagaimana menjaga hati agar tidak tergelincir karena lidah yang seringkali berucap tanpa berpikir.

Berat sekali ternyata makna Eidl Fitr. Padahal manusia adalah tempatnya salah dan alpa, namun kertas putih itu harus tetap terjaga. Siapa tahu tahun depan tidak bisa kembali menjadi selembar kertas putih lagi, dan justru menghadapi ujung hari dengan kertas penuh noda berhias tinta hitam pekat, pertanda gelapnya hati.

Naudzubillah.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #TemaLebaran #Lebaran #RumahMediaGrup #Rereynilda

LATHI


LATHI

Dalam bahasa Jawa berarti lidah, atau bisa juga bermaksud ucapan.

Lagu yang menggabungkan bahasa Inggris dengan bahasa Jawa ini buat saya kok sarat dengan kesakitan.

Ada rasa perih, sedih, penderitaan, yang disebabkan oleh cinta.

Love’s a bless and curse.

Cinta itu anugerah sekaligus kutukan. Menjadi indah ketika ia tiba pada saat dan sasaran yang tepat. Namun menjadi sebuah kesalahan ketika cinta menimbulkan kesakitan dan airmata.

Dalem banget. Sedalam yang digambarkan dalam video clip lagu ini.

Never wanted this kind of pain, turned myself so cold and heartless.

Segala penderitaan yang disebabkan oleh cinta bahkan mampu membuat seseorang yang penuh cinta menjadi dingin dan mati rasa.

Saya mencoba memahami apa arti kalimat dalam bahasa Jawa yang ada di lagu ini.

Kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi.

Kamu tidak bisa lari dari kesalahan, harga diri seseorang ada pada lidahnya (perkataannya).

Hmmm … karena lidah juga, cinta yang indah bisa jadi menyakitkan bahkan berujung penderitaan.

Sambil menghirup wangi kopi di hadapan saya sore ini, saya jadi berpikir tentang kehidupan dan cinta. Apa yang kita pikir baik kadang belum tentu baik juga. Apa yang kita rasa cinta ternyata seringkali membutakan mata. Hingga segala hal yang nyata nampak bak ilusi yang ingin kita lihat saja padahal ia menyakitkan.

Lathi – Weird Genius Feat Sara Fajira (Cover)

Love, R

Lirik:

I was born a fool
Broken all the rules
Seeing all null
Denying all of the truth

Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for

Never wanted this kind of pain
Turned myself so cold and heartless
But one thing you should know

‘Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi’

Pushing through the countless pain
And all I know that this love’s a bless and curse

Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for

Never wanted this kind of pain
Turned myself so cold and heartless
But one thing you should know

‘Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi’

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda