A Wish


A Wish

“Dasar anak set …”

BRAK!

Suara bantingan pintu itu begitu keras, hingga ruangan di rumah megah milik Tatiana Wijaya, sang sosialita ternama ibukota, bergetar siang itu.

Pertengkaran yang kerap terjadi antara dirinya dan sang putra tunggal, yang selalu berakhir dengan sumpah serapah keluar dari bibir merahnya.

Anak durhaka, anak tidak tahu diri, bocah kurang ajar, anak setan, dasar bodoh, dan segala makian yang tertuju pada Adrian. Remaja berusia 17, dengan sekujur tubuh penuh tato, telinga berhias sebuah anting, dan kerap ditemui sang ibu dalam kondisi mabuk berat.

Hari itu, sebelum Tatiana meneruskan makiannya, Adrian bergegas keluar dari rumah dengan menenteng sebuah tas lusuh berwarna hitam. Ia berjalan keluar sambil membanting pintu dan tidak pernah lagi menengok ke belakang.

Itu lah hari terakhir Tatiana bertemu dengan putra semata wayangnya. Tak sempat dilihatnya bulir bening yang jatuh dari sudut mata Adrian. Remaja yang nampak begitu garang, namun sebenarnya sangat rapuh dan butuh pertolongan.

Tatiana jatuh terduduk dan menangis tersedu. Ia seperti sedang mengulang sebuah skenario yang terjadi 18 tahun yang lalu. Ketika untuk pertama kalinya ia merasakan panasnya pipi yang tertampar.

“Dasar anak kurang ajar! Kau torehkan kotoran di wajah ayah dan ibumu! Sadarkah kau Tatiana? Pergi kau dari sini! Aku tak sanggup melihatmu dan anak haram itu di rumah ini. Pergi kau anak durhaka! Kau bukan anakku lagi! Bawa pergi anak setanmu itu!l

Anak setan yang kau doakan dulu, betul-betul menjelma menjadi setan, Yah. Anak yang dengan susah payah kubesarkan sendiri. Kulimpahi dengan cinta kasih dan pendidikan yang cukup, berharap ia tumbuh menjadi seorang lelaki yang baik. Ia kini tumbuh besar seperti harapanmu, Yah. Seperti doamu dulu.

Tatiana memang membesarkan Adrian seorang diri. Sang kekasih yang seharusnya bertanggung jawab atas semua yang terjadi, seperti hilang ditelan bumi. Sejauh apapun ia mencari, lelaki itu tak mampu ditemuinya lagi. Tatiana harus rela menjadi perempuan simpanan seorang pejabat negeri demi menghidupi sang putra terkasih. Putra satu-satunya yang kini juga telah meninggalkannya pergi.

Adrian berjalan dengan gontai. Tujuannya hanya satu, mencari ketenangan bersama teman-teman dan Boss Bhanu. Lelaki paruh baya yang pertama kali mengenalkannya pada kenikmatan dunia.

Bhanu, mantan penghuni hotel prodeo yang bolak balik berada di balik terali besi dengan sederet tindak kriminal yang seperti tidak mengenal jera. Lelaki dengan pekerjaan tidak jelas, bandar obat-obatan terlarang dengan jaringan internasional. Ia selalu bisa lolos dan berhasil keluar dari penjara dengan dukungan seseorang. Entah siapa.

Begitulah hukum mampu dibelinya.

Hingga pada suatu hari, rumah yang dijadikan tempat transaksi haram bahkan praktek perdagangan manusia illegal, digrebek polisi. Dengan sederet bukti, kali ini Bhanu tak mampu berkutik.

Adrian meraung, menangis bak bocah kecil melihat Bhanu dengan tangan terkunci borgol. Polisi juga membawanya beserta beberapa remaja lelaki dan perempuan yang akan dijualnya pada lelaki hidung belang.

Tatiana yang menerima telepon dari kantor polisi, bergegas mendatangi sang putra yang masih sangat dikasihinya. Ia berharap kali ini Adrian jera. Ia pun telah berjanji untuk memperbaiki diri dan hubungan mereka, karena merasa apa yang terjadi pada Adrian adalah juga kesalahannya.

Perih hati Tatiana menatap kondisi Adrian yang kurus, lusuh, setelah berbulan-bulan meninggalkan rumah. Adrian menangis tergugu melihat sang ibu kemudian memeluknya dengan erat. Hati Tatiana semakin hancur mengetahui Adrian juga menjadi korban pelecehan seksual sang induk semang.

“Maafkan aku, Ma. Rasanya aku lebih baik mati saja.”
“Kita mulai lagi semua dari awal ya, Nak. Mama berjanji akan lebih memperhatikan dirimu. Tidak ada kata terlambat, Adrian.”
“Aku anak durhaka, Ma. Anak setan.”
“Sshhh. Kamu anakku. Anak yang kusayangi hingga akhir nafasku, bagaimana pun keadaanmu.”

Mereka pun saling berpelukan dengan penuh kerinduan.

Sejurus kemudian Tatiana berteriak histeris hingga mengagetkan semua orang.

“Bhanu! Kau kah itu? Bhanu! Lelaki keparat! Kemana saja kau selama ini? Lihat anakmu di sini! Ingatkah kau padaku Bhanu? Perempuan yang kau tinggal pergi dalam keadaan mengandung dulu?”
“Ma … dia … dia ayahku?”
“Maafkan Mama, Nak. Ya. Dia ayahmu, yang meninggalkan Mama ketika mengandung dulu.”

Terhuyung-huyung Adrian merasakan tubuhnya ringan dengan perut mual. Tangannya serta merta meraih sebuah pistol yang ada di pinggang seorang petugas. Dengan cepat ia segera menarik pelatuknya ke arah Bhanu yang sedang melintas menuju sebuah ruangan dengan kawalan beberapa orang petugas.

Bhanu pun jatuh terkapar, dan sebelum Tatiana mampu berbuat banyak, Adrian pun jatuh bersimbah darah setelah menembak dirinya sendiri.

“Ma … af … kan aku, Ma. Lelaki itu yang … menghancurkan hidupku.”

Be Careful With What You Wish For (ReRe)

(Tamat)

Bila Tak Ada Lagi Esok (Untukmu, Anakku)


Bila Tak Ada Lagi Esok
(Untukmu, Anakku)

Hidup
Sesungguhnya sebuah misteri
Serba rahasia dan sangat tertutup
Tak ada seorang pun tahu ujung cerita ini

Hidup
Akan seperti apa kita semua akhiri?
Serba samar dan sayup
Entah bagaimana akhir masing-masing kisah ini

Hidup
Sesungguhnya mengerikan untukku
Penuh dengan aroma semu
Dalam langkah yang serba ujian melulu

Hidup
Tiba-tiba bisa direnggut oleh-Nya, Sang Empunya
Kita ini lalu bisa apa?
Hanya mampu pasrah tertelungkup kelu

Hidup
Mengajarkanku banyak hal baru
Tentang arti bergaul juga berseteru
Kuncinya ada pada dirimu
Mau ikut atau segera berlalu

Hidup
Yang terlewati dengan banyak ujian dan pelajaran
Memberiku banyak peringatan
Tentang segala yang tersurat, tersirat, juga tersiar
Penuh godaan yang erat mencengkeram

Hidup
Bagaimana kelak akan kita akhiri?
Penuh doa pada semua atau semata caci maki?
Yang hingga akhir tercurah dari lisan hingga jari
Ngeri

Nak, hidup ini bukan kekal
Serba singkat bahkan hanya sekedip mata saja
Jika IA berkehendak, kita bisa apa?
Tiba-tiba segala kenikmatan musnah di hadapan
Tanpa bisa protes maupun banyak tuntutan

Nak, di tanganmu pena dan penghapus itu tergenggam
Bagaimana caramu mengisi putihnya setiap lembaran
Mungkin sesekali butuh menghapus lisan dan tulisan
Karena dosa dan kesalahan sejatinya berjalan beriringan
Hanya butuh luasnya hati untuk menyadari kesalahan

Nak, kejahatan tak perlu berbalas yang sama
Singkatnya hidup, jalani saja dengan kedamaian
Sebelum terlambat sadar dan semua terenggut tanpa peringatan
Doakan saja mereka yang memancing amarah dan kesedihan
Mungkin suatu saat dari mereka kau dapat pertolongan
Jika bukan perlakuan, mungkin doa yang menyelamatkan

Nak, ketika esok tak ada lagi di hadapan
Berharap lah matamu terpejam dalam kenyamanan
Karena tak ada hati yang tersakiti atau jiwa yang merintih perih
Memintamu untuk menjahit setiap sisi yang tanpa sadar kau iris

Nak, mulailah memahat setiap sisi kehidupan dengan ukiran indah
Menulis setiap laku dan lakon dengan sebaik-baiknya
Karena hidup tak selalu berujung megah

Bila tak ada lagi esok untukmu melangkah

Love, Rere

Terlanjur Mencinta


Terlanjur Mencinta

“Mas, mau ke mana?”
Meeting. Enggak usah ditunggu. Aku pulang malam.”
“Hati-hati ya, Mas.”

Sebuah kecupan seadanya mendarat di dahi Ayumi. Datar. Tanpa gairah.

Dua puluh lima tahun usia pernikahan mereka, Ayumi merasa ada yang berubah pada diri Aldi, sang suami. Hambar. Sekedar melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri, terutama di hadapan 3 putri mereka yang beranjak dewasa. Si sulung, Alya, bahkan sebentar lagi akan naik pelaminan.

Aldi adalah sosok ayah idola bagi 3 putrinya.Tampan, bertanggung jawab, penyayang, dan setia. Persis seperti gambaran mereka tentang laki-laki idaman.

“Aku akan mencari calon suami seperti ayah. Harus seperti ayah,” begitu selalu mereka membayangkan sosok seorang suami. Seperti Aldi.

****

“Pagi, cantik. Sudah bangun?”
“Pagi, Mas. Sudah dong. Mas sedang apa?”
“Sedang berdiri di depan rumahmu. Makan siang, yuk.”
“Astaga! Kamu selalu memberi kejutan! Aku suka.”

***

Happy Anniversary Ibu dan Ayah. Semoga selalu mencinta hingga akhir hayat. Selamat menikmati pemandangan cantik dari hotel, tanda cinta kami bertiga. Love, Alya, Alina, Aulia.

“Terima kasih, Nak. Cantik sekali kartu, cake, dan bunganya. Terima kasih juga hadiah menginap di hotelnya. Pemandangannya indah sekali dari jendela kamar,” tulis Ayumi pada sebuah pesan singkat untuk ketiga putrinya.

Ya, ulang tahun pernikahan perak itu sangat luar biasa. Sebuah hotel dengan pemandangan menawan, buket bunga segar, dan sebuah cake cantik, hadiah dari ketiga putri kesayangannya.

Hadiah pernikahan perak yang dinikmatinya sendiri … tanpa Aldi di sisi.

Mata Ayumi menerawang jauh mengingat kejadian yang ia alami 2 minggu sebelumnya. Sebuah pesan singkat berisi foto Aldi sedang menggandeng mesra seorang perempuan cantik di suatu tempat, terkirim ke gawainya dari deretan nomor asing yang tidak bernama. Ayumi mengenali tempat di foto itu karena dulu ia dan Aldi sama-sama menimba ilmu di sana. Di sebuah kota tempat awal cinta mereka bersemi.

Perempuan itu, Soraya namanya, yang pesan singkat bernada mesranya juga terkirim bersama dengan beberapa foto mereka berdua dalam berbagai pose. Termasuk juga bukti pengiriman bunga, beberapa barang, nota restoran, dan hotel.

Hati Ayumi hancur. Tepat di hari ulang tahun pernikahan peraknya, ia harus ikhlas melepas Aldi yang lebih memilih menemui perempuan lain.

***

“Maafkan aku, Mas. Aku terlanjur mencinta dan tak mampu melupa. Semoga istrimu ikhlas melepasmu menjadi milikku.”

Senyum Soraya mengembang sambil jemari lentiknya mengirim pesan singkat ke sebuah nomor … milik Ayumi.

(Tamat)

Song: Maafkan Aku, Terlanjur Mencinta – Tiara Andini (cover)

Love Is … Being Responsible


Love Is … Being Responsible

“Enggak usah masak dan bikin cake lah, Bunda. Beli saja gampang, enggak capek.”

“Enggak mau, ah. Buat apa saya belajar bikin cake kalau masih beli juga?”

Suami saya yang sangat baik. Ia memang tidak mau saya terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selalu khawatir saya akan jatuh sakit karena kelelahan. Hingga sang istri kerap diingatkan untuk istirahat dan banyak tidur. Ia tahu bahwa istrinya tipikal perempuan yang tidak bisa diam, pun tidak bisa dilarang alias keras kepala.

Well, sang istri hanya berusaha melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu dengan sepenuh hati. Baginya, ini hanya lah sebagian kecil dari bentuk tanggung jawabnya di rumah terhadap anak-anak. Mereka yang diamanahkan kepada sang istri untuk dijaga dengan baik. Hingga ia merasa bertanggung jawab dengan apapun yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Meski ia bisa saja dengan gampang membeli apapun, tanpa harus susah memasak atau repot sendiri mempersiapkan makanan. Contohnya untuk hari spesial anak-anak seperti kemarin.

Tak jarang ia juga bertanya dalam hati, “Kenapa sih mau susah sendiri? Bukannya lebih gampang hanya keluar duit tapi tanpa keringat dan pegal sekujur badan, ya?”

Hmm … inilah cinta. Terdengar klise tapi begitulah kenyataannya.

Jika bukan atas nama cinta yang begitu besar, rasanya mudah saja baginya untuk meninggalkan segala tanggung jawab di belakang. Namun sang istri hanya ingin mewariskan kebiasaan baik bukan sekedar harta duniawi. Ia hanya berharap kelak mereka melakukan hal yang sama untuk keluarga masing-masing. Memberikan segenap cinta di setiap sentuhan tangan dan peluhnya tanpa syarat.

Pada saat yang sama sebagai seorang ibu, ia juga sedang mengajarkan arti tanggung jawab pada ketiga buah hatinya. Bahwa ketika telah berani memutuskan untuk membangun sebuah keluarga, ada tanggung jawab besar di sana. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan materi namun juga ada kewajiban untuk selalu meningkatkan kemampuan diri.

Ibu … adalah awal seorang manusia mengenal dunia. Sejatinya semua pengalaman dan kesiapan untuk menghadapi juga matang dipikirkan. Karena hidup bukan sekedar bersenang-senang, namun ada tanggung jawab di dalamnya. Semua adalah bekal para penerus menghadapi dunia dengan segala dinamikanya.

Selamat menjalani hari-harimu Ibu, lakukan semua dengan bahagia dan cinta, hingga tak ada kata tak bisa.

Love, Rere

Menjaga Jiwa


Menjaga Jiwa

Untuk jiwa yang sedang gundah
Pada raga yang tengah goyah
Untuk jiwa yang sedang merana
Pada raga yang tengah lelah

Menyerah lah meski bukan kalah
Menyerah karena butuh pasrah
Pasrah pada keinginan raga dan jiwa
Mereka sedang butuh udara

Meski kadang raga berdiri tegak
Merasa kuat hingga pongah
Walau tertatih tetap menjejak
Tanpa sadar jiwa tengah gelisah

Wahai jiwa yang merasa tegar
Bahkan setengah mati menahan
Tetesan bulir bening di sudut netra
Luahkan! Tak perlu lagi kau tahan

Pahami ambunya yang tengah masygul
Jangan berpaling apalagi bingung
Biarkan jiwamu bergetar dengan jujur
Hirup wangi hidup yang tak selalu harum

Biarkan sumarah mengganti amarah
Biarkan harsa mengganti duka
Mencinta sang jiwa bukan melulu dunia
Menjaga sang raga bukan hanya mereka

Dirimu juga tanggung jawabmu
Jiwa yang tenang harusnya fokusmu
Raga yang ceria semestinya upayamu

Berhenti menguras habis karunia Nya untukmu
Berhenti berkorban demi mereka melulu
Berhenti berharap bahagia datang padamu
Berhenti tak perlu ragu

Bahagia … bahagiakan jiwamu
Sehat … sehatkan ragamu
Cinta … cintai dirimu utuh
Berharga itu … kamu juga jiwamu

Love, Rere

Rantang Plastik Mama … Sebuah Kenangan


Rantang Plastik Mama … Sebuah Kenangan

“Do you like the food that I packed yesterday?”
“I do
Bunda. So yummy.”
“Does any of your friends bring food to school too?”
“Nope. Only me.”
“Are you okay with it? Are you not ashamed of bringing lunch box to school?”
“Nooo. I’m okay
Bunda. Infact, some of my friends kinda wait and curious about what food I bring everyday. They said, whoa Lara’s mom can cook anything delicious! Thank you for preparing foods every single day, Bunda.

Senyum saya terkembang lebar sekali pagi tadi. Kemudian kami berdiskusi tentang mengapa saya rela harus bangun lebih pagi dan sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah, dengan menu yang selalu berbeda setiap hari.

Sambil bercerita, ingatan saya melayang ke puluhan tahun silam dengan segala kenangan tentang sebuah rantang plastik berwarna putih. Ya, rantang plastik milik mama, yang kerap saya bawa untuk bekal sarapan dan makan siang, di sebuah kantor tempat saya bekerja dulu.

Meskipun rumah makan bertebaran di sana, saya tetap membawa bekal yang sedari pagi buta disiapkan mama. Walau hanya berupa menu sederhana namun rantang plastik itu berisi ungkapan penuh cinta dari seorang ibunda. Cinta yang kemudian begitu saya rindukan ketika harus melanglang buana meninggalkan tanah air hingga hari ini.

Kebiasaan dan kebisaan itu yang lalu terbawa hingga saya menikmati setiap proses menyiapkan bekal pagi. Meskipun saya memberikan anak-anak sedikit uang jajan untuk keperluan di sekolah, saya tetap membungkuskan mereka makanan yang saya buat sendiri dan letakkan dalam 3 buah kotak makan plastik berwarna-warni.

Kotak makan yang selalu mengingatkan saya akan kenangan rantang plastik berwarna putih milik mama. Cinta dan kasih sayangnya tetap terasa hingga saat ini, dan tidak pernah usang.

Terima kasih, Ma.

Semoga ketiga cucumu di sini kelak juga memiliki kenangan tentang kotak makan plastik berisi sentuhan cinta dariku. Cinta yang tak mengenal syarat dan tanpa batas hingga kelak akhir waktuku.

Love, Rere

Singapore’s Phase Two – New Normal Be Like …


Singapore’s Phase Two – New Normal Be Like …

Sejak merebaknya pandemi di seluruh belahan dunia, pemerintah Singapura memberlakukan Circuit Breaker bagi semua warganya. Segala pembatasan pun mulai diterapkan. Praktis sejak saat itu, kami sekeluarga hanya tinggal di rumah saja. Suami bekerja dari rumah, dan anak-anak bersekolah dari rumah serta mengerjakan semua tugas secara daring. Saya, hanya pergi berbelanja kebutuhan pokok sekali dalam 2 minggu.

Hingga memasuki awal bulan Juni kemarin, Singapura mulai memberlakukan pelonggaran circuit breaker bagi warganya. Kami mulai diperbolehkan keluar rumah dengan lebih bebas, walaupun tetap harus mengikuti aturan yang ditetapkan.

Sampai tiba masanya pemerintah memberlakukan pembukaan fase ke-2 sejak 15 Juni 2020. Ditandai dengan dibukanya beberapa tempat yang sebelumnya ditutup, dan kelonggaran bagi warganya untuk melakukan aktifitas secara normal. Tentu saja dengan beberapa protokol kesehatan yang harus dipatuhi.

Meski pemerintah setempat memandang bahwa keadaan relatif stabil dan tidak ada kenaikan grafik penderita virus, kami semua dihimbau untuk tidak memandang pembebasan ini sebagai kehebohan baru. Kami tetap harus memakai masker di mana pun berada, menjaga jarak satu sama lain, dan tetap menjaga kebersihan dengan rajin mencuci tangan.

Well, paling tidak kami semua berharap roda perekonomian kembali normal, dan anak-anak bisa kembali bersekolah walau harus menggunakan masker atau face shield seharian. Para pekerja juga bisa kembali ke kantor dan melakukan tugas seperti sebelumnya.

Sementara saya, kembali bisa bertemu dengan beberapa sahabat untuk sekedar duduk bercengkrama di kedai kopi favorit. Walau hanya terbatas 5 orang dalam 1 meja yang harus tetap berjarak. Tentu saja pemakaian masker juga tidak ketinggalan. Karena pemerintah tidak segan menjatuhkan denda dan hukuman bagi para pelanggar aturan.

Jadi begini lah kehidupan baru yang harus kami jalani saat ini. Tetap bersyukur dan selalu mematuhi peraturan adalah kunci. Jaga diri dan sekitar itu tentu lebih baik.

Semoga pandemi segera berlalu, namun jika tidak, pandang lah ini sebagai sebuah bentuk kehidupan baru. Berdamai lah dengannya dan jadikan ini sebuah kebiasaan yang baik untukmu.

Love, Rere.

Bangkit! Sweat Now, Shine Later


Bangkit! Sweat Now, Shine Later

Pagi tadi saya bangun tidur dengan sedikit sakit di bagian kepala. Saya memang penderita sinus dan migraine. Sudah seperti makanan sehari-hari kedua penyakit itu.

But, hey! You won’t stop me!

Saya tidak akan kalah darimu! Bergegas saya memakai sepatu olahraga dan menyalakan laptop untuk mengikuti kelas daring Zumba.

Sambil menunggu sang pelatih membuka kelas, ingatan saya melayang di hari saya merasakan sakit yang luar biasa hebat di bagian kepala beberapa tahun ke belakang. Sakit yang sempat membuat saya takut mengingat gejala yang sama pernah membawa suami saya menjalani operasi pembedahan kepala.

Ya, sewaktu ia terkena brain aneurysm. Seperti yang saya ceritakan di sini,

https://reynsdrain.com/2020/06/15/piece-by-piece/

Hari itu, setahun setelah suami saya dinyatakan sembuh, giliran sakit kepala hebat menghampiri saya. Gejalanya sama seperti apa yang dialaminya dulu. Throbbing headache, rasanya seperti ada orang yang memukul kepala dari dalam.

Begitu hebatnya rasa sakit itu saya sampai tidak bisa membuka mata sama sekali. Kepala dan tengkuk terasa sangat berat, perut saya pun mual. Kali ini giliran suami memaksa saya pergi ke rumah sakit. Saya sungguh enggan karena berpikir itu adalah sakit kepala biasa. Saya juga tidak ingin meninggalkan anak-anak di rumah jika ternyata saya harus dirawat. Namun dengan berat hati sambil menahan sakit, saya tetap menuruti permintaan suami.

Sesampainya di rumah sakit ternyata kami bertemu lagi dengan dokter yang setahun lepas memeriksa suami saya. Dengan wajah khawatir ia menyuruh saya segera menjalani pemeriksaan CT Scan.

Sepanjang perjalanan menuju ruang periksa, mulut saya bergumam meminta Sang Pencipta memberi saya kesembuhan dan kesehatan. Terbayang wajah ketiga anak saya yang masih kecil. Saya masih ingin membesarkan mereka, Ya Rabb.

Beruntung hasil pemeriksaan dengan cepat kami ketahui dan ternyata saya terkena muscle spasm. Suatu keadaan dimana saya mengalami serangan fatigue secara tiba-tiba. Mungkin karena stress, terlalu lelah, atau kurang olahraga.

“You need to do exercise.”
“But I’m a mother of 3 kids, Doc. I moved a lot as I don’t have a maid.”
“That one is tiring. Exercise will make you fresh and more healthy. That’s the only cure to your muscle spasm.”

Dokter hanya memberi saya beberapa butir muscle relaxant dan menyarankan saya untuk berolahraga. Sejak menjadi ibu saya memang tidak pernah lagi berolahraga seperti ketika muda dulu. Rasanya tidak pernah ada waktu luang karena begitu sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus ketiga buah hati tanpa bantuan seorang asisten pun. Ternyata saya mengalami kelelahan luar biasa.

Thanks, Doc! Sejak hari itu saya bertekad akan bergerak untuk menjaga kesehatan. Saya akan bangkit dari keengganan dan mulai memperhatikan kesehatan, karena anak-anak di rumah butuh ibu yang sehat jasmani dan rohaninya.

Di sini lah saya sekarang dengan sejumlah kegiatan olahraga yang semakin padat justru sejak pandemi terjadi. Meskipun hanya dilakukan secara daring in the comfort of our own home, Senin hingga Minggu saya sempatkan untuk berolahraga bersama teman-teman.

Terbukti tubuh saya sekarang sehat dan muscle spasm pun tidak pernah lagi saya alami. Hadha Min Fadli Rabb. Semua karena kuasa-Nya.

Ayo teman, bangkit dari sofa empukmu dan mulai memperhatikan kesehatan ragamu. Olahraga bukan hanya akan merubah fisik namun juga menyehatkan mental di hari-hari sulit seperti sekarang ini. Terlebih lagi kita butuh untuk menjaga imunitas agar tidak mudah terkena virus. Mari ubah kebiasaan diri dan … bangkit, yuk!

Get up! It’s a good day to turn your life around.

Love, Rere.

Selamat Berjuang, Nak!


Selamat Berjuang, Nak!

“How’s school, Lana?”
“It was okay,
Bunda.”
“Are you okay wearing face mask during lesson?”
“I’m okay.”
“Can you breathe easily?”
“Kinda dizzy a bit but no problem.”
“Huh? You must inform your teacher if you feel uncomfortable,
Nak.”
“It’s okay,
Bunda. It’s only for a while. After that I’m fine.”

Hhhh … sesak dada rasanya melihat ketiga anak saya dan seluruh murid di Singapura kembali ke sekolah. Ya, sejak mulai diberlakukannya Fase 2 di awal Juni kemarin, mereka memang mulai bergantian kembali belajar di dalam kelas. Tentu saja dengan sederet aturan yang harus dipatuhi tanpa kecuali.

Setelah minggu kemarin dua putri saya masuk sekolah sementara si bungsu mengerjakan tugas di rumah, minggu ini giliran Rayyan yang masuk sekolah dan sang kakak mengerjakan tugas sekolah dari rumah.

Saya sedikit khawatir memang pada kondisi Lana yang pernah menderita asma. Ia juga mudah sekali mimisan ketika suhu tubuhnya naik. Namun saya hanya mengingatkannya untuk berkomunikasi dengan sang guru ketika ia mulai merasa tidak enak badan. Bangganya saya ketika melihatnya begitu tabah dan tanpa keluh kesah menuruti peraturan sekolah.

Begitu pula dengan si bungsu Rayyan, yang begitu bersemangat mengawali pagi. Tak nampak raut wajah khawatir atau segan setelah sekian lama hanya di rumah saja. Sejak hari Senin kemarin, ia harus kembali ke sekolah dan memulai segala sesuatu dengan hal baru.

Ia juga harus belajar beradaptasi dengan masker yang terpakai sepanjang hari, serta berjuang untuk melalui semuanya tanpa kecuali.

“How’s school, Rayyan?”
“Oh my! It was so hot with my mask on,
Bunda.”
“But are you okay?”
“Yea, I’m fine. Teacher asked us to wear PE attire to school so we don’t sweat too much.”
“I know you can do it and able to adapt to the new normal. Right?”
“Yea. I’m fine. I look cool with my mask on anyway.”
“Ish! So vain!”

Hahaha! Mungkin hanya Rayyan yang kegirangan memakai masker wajah karena menurutnya ia tampak keren.

Alhamdulillah mendengar mereka tetap semangat, tidak banyak mengeluh, dan cepat beradaptasi dengan keadaan yang baru ini. So proud of you, kids!

Semoga perjuangan kalian di bangku sekolah dalam situasi tidak mengenakkan tahun ini, akan membentuk pribadi yang kuat dan tidak mudah mengeluh ketika dewasa kelak. Masih banyak tantangan di depan sana yang harus kalian perjuangkan bukan? Ini hanya sebagian kecil dari proses belajar hidup, Nak.

Welcome back to school and welcoming the new normal!

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda #Perjuangan

Welcoming The New Normal. Hang in there, Kids!

TERSERAH!


TERSERAH!

"Yah, pingin banget makan Thosai di restoran itu deh. Duh! Udah kemecer di ujung lidah nih. Enak banget thosainya di sana."
"Bunda mau?"
"Iya. Sarapan di sana, yuk. Pingin minum Lassi juga.'
"Okay. Ayo ke sana."

Pagi itu saya, yang akan mengantar suami berangkat ke kantor, tiba-tiba ingin sarapan di sebuah restoran yang menyajikan masakan India. Kami pun bergegas mempersiapkan diri, dan saya sibuk memilih baju serta bersolek di depan kaca.

"Yah, pakai baju apa ya? Pilihin dong yang merah atau hitam?
"Mana saja bagus, kok. Terserah Bunda saja."
"Ih! Bantuin mikir dong! Bingung nih."
"Ya sudah merah saja bagus."
"Memangnya yang hitam kenapa? Enggak bagus ya?"
"Lah! Katanya tadi saya disuruh milih?"
"Hmm ... ya sudah nanti saya pikir dulu. Merah ya?"

Beberapa saat kemudian,

"Bunda, sudah siap?"
"Sudah, Yah. Ayo berangkat."
"Lah? Ayah pikir mau pakai baju merah tadi?"
"Enggak, ah. Pakai pink saja."
"Ish! Tadi buat apa tanya?"
"Ya, pingin tahu saja pilihanmu."
"Terus yang dipilih malah beda. Dasar! Terserah deh!"

Hahaha! “Sabar ya, Sayang,” ujar saya sembari nyengir dan menggandeng tangannya menuju tempat parkir. Sebelum saya melajukan kendaraan, kembali sebuah pertanyaan saya ajukan.

"Yah, kita mau lewat jalur A atau B?"
"Terserah Bunda."
"Ih! Jangan terserah-terserah terus lah!"
"Hhhh ... Ya sudah lewat jalur A saja mungkin enggak macet."
"Eee ... tapi kan jalur itu lebih jauh terus macet lagi nanti."
"Ish! Terserah deh!"

Saya pun berbelok melalui jalur C … yang macet! Hahaha! Sambil melirik ke arah sang suami yang merengut, saya tertawa lepas sambil berusaha mengusir rasa bersalah karena tidak menuruti kata-katanya.

Akhirnya kami pun tiba di restoran yang sedari pagi thosainya saya inginkan bak sedang mengidam berat. Thosai adalah sejenis makanan khas India yang bentuknya seperti pancake dengan isian kentang yang gurih dengan beragam cocolan sambal yang nikmat. Sementara lassi adalah minuman dari buah segar yang dicampur dengan sejenis yoghurt yang segar. Enak pokoknya!

"Pesan ya? Ayah mau prata telur bawang dan teh tarik. Bunda mau thosai dan lassi, kan?"
"Iya. Eh sebentar, mau lihat menu dulu."

Suami pun memanggil pelayan untuk memesan, berpikir bahwa saya akan membeli makanan yang sebelumnya saya inginkan.

"Hi. Can I have 1 telur bawang prata, 1 thosai masala, and ..."
"Eh, wait wait. Sebentar, Yah. Bunda pesan cheese prata dan teh panas saja, deh."
"Lah? Bukannya jauh-jauh kemari mau makan thosai dan minum lassi? Kenapa jadi cheese prata dan teh panas?"
"Thosai sudah pernah, ah. Mau coba cheese prata. Hehe."

Penuh keheranan suami saya pun merubah pesanan sebelumnya sambil menggerutu, “Gimana sih? Tadi katanya mau apa, terakhir jadi apa. Terserah deh!”

Hahaha! Begitu lah saya, yang seringkali membuat suami mengelus dada atau membeliakkan mata tanda takjub. Ya, ia sering dibuat takjub dengan cepatnya saya merubah keputusan, mengingat sang istri adalah orang yang menghendaki banyak hal terorganisir dengan baik, rapi, disiplin, serba harus, dan tepat.

Yah, saya memang justru sering konsisten untuk tidak konsisten dalam hal mengambil keputusan yang sepele dan remeh. Hahaha! Tapi jangan main-main dengan saya dalam urusan serius seperti sekolah. Saya tidak perlu berpikir dua kali dan ragu-ragu untuk urusan disiplin pengajaran anak dan pendidikan.

Well, anggap saja ini bentuk terapi saya melawan OCD alias Obsessive Compulsory Disorder yang selama ini lumayan membuat stress mereka yang ada di sekeliling saya. Walaupun terapi ala saya ini harus sering membuat kesal suami hingga membuatnya mengernyitkan dahi sambil berkata, “Terserah!”

"Yah, Bunda gendut ya?"
"Enggak."
"Ah, bohong!"
"Beneran! Enggak gendut kok."
"Tapi enggak langsing juga kan?"
"Langsing!"
"Bohong!"
"Ya udaaahhh gendut!"
"Ih! Tega bener!"
"Hadeh! Terseraaaaahh!"

Marriage lets you annoy one special person for the rest of your life. (Anonymous)

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Terserah #ReReynilda