Keliling Indonesia


Keliling Indonesia

Sebelas tahun usia saya ketika salah seorang adik mama mengajak saya keliling Indonesia. Tante cantik saya dulu adalah seorang penyanyi, dan waktu itu ia sedang bertugas di atas sebuah kapal penumpang.

Saya yang belum pernah melihat kapal laut, berdecak kagum dengan mulut ternganga. Besar sekali kapal penumpang ini, begitu saya bergumam. KM Kerinci namanya. Ia membawa saya mengarungi lautan luas dan menginjakkan kaki ke beberapa pulau di Indonesia selama sebulan penuh.

Bertolak dari pelabuhan Tanjung Priuk, saya memulai petualangan baru di usia yang masih belia. Beberapa kota besar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi menjadi tempat kami berlabuh untuk mengambil dan mengantar penumpang.

Pengalaman paling menakjubkan adalah ketika melewati sebuah tempat yang belakangan baru saya tahu bernama Segitiga Masalembo. Salah satu perairan yang terangker di Indonesia, dimana banyak terjadi kecelakaan kapal laut maupun udara.

Sebut saja peristiwa tenggelamnya Kapal Tampomas pada tahun 1981. Seingat saya memang suasana agak berbeda ketika melewati perairan itu. Sunyi, mistis. Walau mungkin karena masih berusia sangat muda saya belum punya rasa takut, malah berusaha memandang ke lautan lepas dan berharap melihat “sesuatu”. Hahaha! Kalau sekarang mungkin saya sudah meringkuk di balik selimut.

Pengalaman luar biasa juga saya alami ketika kapal melewati kawasan Laut Cina Selatan. Ombak begitu besar mengayun-ayun kapal dengan ganas, hingga saya bahkan tidak bisa berdiri tegak karena terhuyung-huyung mengikuti alunannya. Dari jendela kamar saya bisa melihat ombak memukul-mukul jendela dengan dahsyat. Ngeri. Namun lagi-lagi sebagai bocah berusia 11, saya belum kenal rasa mual karena mabuk laut. Saya justru mondar-mandir mengantarkan obat pening kepada seluruh pemain musik. Hahaha!

Saya juga pernah dilanda kebingungan ketika kapal bersandar di tengah laut dan melihat para penumpang berpindah lalu menaiki kapal-kapal kecil untuk mencapai daratan. Baru saya tahu waktu itu bahwa ternyata ada daerah yang tidak memiliki pelabuhan, sehingga kapal sebesar Kerinci tidak bisa bersandar di sana.

Jika melihat peta Indonesia tercinta, tiba-tiba saya sangat merindukan udara laut yang pernah begitu lama saya nikmati aromanya. Membayangkan keriangan setiap kali saya harus ikut berbaris untuk latihan pendaratan darurat. Melihat deretan sekoci diturunkan, memakai pelampung, dan mendengarkan aba-aba kapten kapal. Menjelajahi seluruh isinya, bahkan menikmati lezatnya sate bikinan sang kapten khusus untuk saya.

Jika semesta mengijinkan, ingin rasanya saya membawa suami dan anak-anak untuk mengelilingi ibu pertiwi. Melihat deretan kepulauan yang begitu luas, penuh dengan ragam budaya, dan adat istiadat yang memanjakan rasa dan mata.

Tujuh puluh lima tahun deretan pulau ini telah merdeka. Selama itu pula ia telah memberikan banyak nuansa. Tak selalu mulus dan melulu berbagi cinta. Pergulatan dan pertikaian memang selalu ada, karena banyaknya beda. Itu lah yang membuat Indonesia menjadi luar biasa.

Dirgahayu untukmu … Engkau kubanggakan.

Love, Rere

Tik Tok Mentok


Tik Tok Mentok

Kak, ayo dong ajari Bunda main Tik Tok.”
“Ish,
Bunda! No.”
“Ih
coba bikin 1 yuk, tapi jangan yang susah ya.”
“Renegade?”
“Mmmm …
boleh deh. Susah tak?”
“I teach you.”
“Then later can I upload the video?”
“Ih,
Bunda! No shame!”
“Hahaha! Satu saja … boleh ya? Ya?”

Begitu rayuan maut saya ketika membuat video Tik Tok pertama kali dulu. Tentu saja setelah mereka akhirnya menyetujui keinginan saya mengunduh videonya dengan syarat, mereka akan menutup wajahnya dengan masker. Hahaha!

Saya tentu saja dengan kepercayaan diri super tinggi menolak memakai masker seperti mereka. Walaupun gerakan saya pun … entahlah. Susah ternyata! Saya ibarat sedang berlari mengelilingi lapangan bola karena keringat mengucur deras ketika sedang berlatih gerakannya. Phew!

Generasi Tik Tok rasanya tidak bisa saya sematkan pada anak-anak itu. Mereka ternyata malu berjoget-joget di depan kamera apalagi kemudian ditonton banyak orang. Entah kenapa saya merasa lega. Bukan karena aplikasi ini kurang sukses merasuki jiwa anak-anak di rumah, tapi lebih karena bersyukur mereka masih memiliki rasa segan dan malu. Jadi rasanya saya tidak perlu terlalu banyak melarang ini itu.

Sebagai ibu di jaman milenial ini, saya memang selalu membuka diri dengan kemajuan teknologi. Termasuk segala aplikasi hits di jaman ini. Kadang kami berdiskusi tentang segala hal yang sedang santer diberitakan. Termasuk juga Tik Tok dengan segala kelucuan dan kehebohannya.

Saya mengajak anak-anak untuk berpikir terbuka. Jika mereka memang tidak suka, cukup jadi penikmat saja. Satu saja pesan saya, tidak perlu mencibir atau menghina mereka yang berbeda karena menyukai aplikasi ini. Mari kita hanya melihat segala kelucuan yang ada.

Selama ini saya hanya menemukan beberapa video yang memang mampu mengundang gelak tawa, dan sebagian sukses membuat mulut menganga dengan keajaibannya. Terus terang bukan mudah membuat video seperti tik tok ini. Paling tidak saya sudah pernah mencoba satu kali dan mungkin tidak akan pernah lagi. Sudah mentok … gagalnya. Hahaha!

Jadi, pilihannya adalah menjadi pemain atau sekedar penikmat. Tak ingin melihat sama sekali? Boleh juga. Karena saya pribadi rasanya juga tidak punya nyali untuk membuat video sendiri dan akhirnya bersama anak-anak, lebih memilih untuk menjadi penikmat saja.

We are all different, so don’t judge.
Understand instead.

Love, Rere.

Waktu Yang Salah


Waktu Yang Salah

Happy anniversary, Sayang.”

Senyum mengembang di wajah Nada melihat Bian datang mengecup dahinya seraya memberikan seikat bunga cantik berwarna oranye. Warna kesukaan Nada.

Setiap tanggal pernikahan mereka datang, Bian tak pernah lupa memberikan seikat bunga dan sebuah hadiah manis untuk sang istri. Nada merasa sangat beruntung memiliki Bian.

Namun pagi itu Bian nampak berbeda. Wajahnya pucat dan nampak murung. Nada merasakan sesuatu yang berbeda dari sang suami yang telah mendampinginya selama 2 tahun pernikahan.

“Pucat sekali wajahmu, Mas? Kamu sakit ya?”
“Enggak, Sayang. Masak sih pucat? Aku enggak apa-apa kok. Bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik saja, Mas. Terima kasih ya bunganya. Aku suka.”

Bian menatap mata Nada, lama sekali seperti mencari sesuatu di sana.

“Nada, jika suatu hari nanti aku pergi, sanggupkah dirimu menjalani hari?”
“Maaaassss. Jangan ngomong itu dong. Ini hari ulang tahun pernikahan kita. Aku enggak mau dengar yang sedih-sedih. Aku ingin bersamamu hingga kita tua dan keriput nanti, Mas.”
“Tapi aku kan tak bisa menemanimu selamanya, Sayang. Jika waktu itu tiba, kuatkah dirimu?”
“Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku tak sanggup kehilangan dirimu.”

Nada menggenggam erat tangan Bian. Sahabat masa kecil yang kemudian menjadi belahan jiwanya. Ia tak pernah mampu membayangkan bagaimana kelak ia akan menjalani hari tanpa Bian di sisi. Cintanya pada Bian begitu besar, hingga ia rela meninggalkan keluarganya yang tidak pernah merestui pernikahan mereka.

“Nada … Nada? Bangun, Nak. Ini Mama.”
“Ma … ma? Bian mana? Bunga oranye? Mana Ma? Bian … kenapa aku ada di sini?”

Dahi Nada mengernyit ketika perlahan ia membuka matanya dan merasakan aroma yang begitu menyengat hidungnya. Matanya berputar mencari sosok Bian. Namun yang tampak hanya wajah sang mama dan beberapa orang berpakaian putih yang tak dikenalnya.

“Bagaimana kondisi putri saya, Dok?”
“Ia mulai membaik. Hanya perlu diawasi dengan lebih ketat untuk menghindari kejadian ini lagi. Saya hanya bisa menyarankan agar bapak menyingkirkan semua benda tajam di rumah, agar Nada tidak lagi berusaha untuk …”

Lamat Nada mendengar seseorang berbicara. Ia berpikir dengan keras bagaimana ia bisa ada di ruangan ini. Padahal tadi ia sedang bersama Bian merayakan hari pernikahan mereka.

“Ma, mana Bian? Nada mau lihat Bian.”
“Nada … anakku.”

Bulir bening jatuh dari pipi perempuan yang ia panggil mama itu. Nada semakin heran. Ia ingin bertanya lagi, namun kepalanya terasa sangat sakit hingga perlahan ia memejamkan mata. Nada merasa lelah sekali.

“Nada, anakku. Sampai kapan kau akan memikirkan lelaki itu, Nak? Ia sudah lama pergi. Sadarlah, Nak. Berhenti menyakiti dirimu sendiri dan terimalah kenyataan bahwa Bian telah pergi. Nada … bisakah kau dengar suara mama?”

Bian … pergi?

Seketika potongan beberapa kejadian tergambar jelas di mata Nada. Hari pernikahan … potongan kue … suara tembakan … gundukan tanah merah … genangan darah di lantai kamar mandi … pisau lipat.

“Biaaannnn! Jangan tinggalkan aku!”

Nada berteriak histeris setelah menyadari sang belahan jiwa pergi untuk selamanya, tepat di hari pernikahan mereka. Nada tidak pernah mampu menerima kenyataan pahit, kehilangan sang kekasih dengan cara yang tragis.

Tangannya gemetar mengingat Bian yang terkulai lemas di dalam pelukannya. Gaun pengantin putihnya pun berganti warna menjadi merah darah.

Bian tergeletak jatuh setelah dihujani peluru yang ditembakkan seorang wanita, tepat di jantungnya. Wanita itu … istri sah Bian.

(Tamat)

“You’re everywhere except right here … and it hurts.” (ReReynilda)

A Wish


A Wish

“Dasar anak set …”

BRAK!

Suara bantingan pintu itu begitu keras, hingga ruangan di rumah megah milik Tatiana Wijaya, sang sosialita ternama ibukota, bergetar siang itu.

Pertengkaran yang kerap terjadi antara dirinya dan sang putra tunggal, yang selalu berakhir dengan sumpah serapah keluar dari bibir merahnya.

Anak durhaka, anak tidak tahu diri, bocah kurang ajar, anak setan, dasar bodoh, dan segala makian yang tertuju pada Adrian. Remaja berusia 17, dengan sekujur tubuh penuh tato, telinga berhias sebuah anting, dan kerap ditemui sang ibu dalam kondisi mabuk berat.

Hari itu, sebelum Tatiana meneruskan makiannya, Adrian bergegas keluar dari rumah dengan menenteng sebuah tas lusuh berwarna hitam. Ia berjalan keluar sambil membanting pintu dan tidak pernah lagi menengok ke belakang.

Itu lah hari terakhir Tatiana bertemu dengan putra semata wayangnya. Tak sempat dilihatnya bulir bening yang jatuh dari sudut mata Adrian. Remaja yang nampak begitu garang, namun sebenarnya sangat rapuh dan butuh pertolongan.

Tatiana jatuh terduduk dan menangis tersedu. Ia seperti sedang mengulang sebuah skenario yang terjadi 18 tahun yang lalu. Ketika untuk pertama kalinya ia merasakan panasnya pipi yang tertampar.

“Dasar anak kurang ajar! Kau torehkan kotoran di wajah ayah dan ibumu! Sadarkah kau Tatiana? Pergi kau dari sini! Aku tak sanggup melihatmu dan anak haram itu di rumah ini. Pergi kau anak durhaka! Kau bukan anakku lagi! Bawa pergi anak setanmu itu!l

Anak setan yang kau doakan dulu, betul-betul menjelma menjadi setan, Yah. Anak yang dengan susah payah kubesarkan sendiri. Kulimpahi dengan cinta kasih dan pendidikan yang cukup, berharap ia tumbuh menjadi seorang lelaki yang baik. Ia kini tumbuh besar seperti harapanmu, Yah. Seperti doamu dulu.

Tatiana memang membesarkan Adrian seorang diri. Sang kekasih yang seharusnya bertanggung jawab atas semua yang terjadi, seperti hilang ditelan bumi. Sejauh apapun ia mencari, lelaki itu tak mampu ditemuinya lagi. Tatiana harus rela menjadi perempuan simpanan seorang pejabat negeri demi menghidupi sang putra terkasih. Putra satu-satunya yang kini juga telah meninggalkannya pergi.

Adrian berjalan dengan gontai. Tujuannya hanya satu, mencari ketenangan bersama teman-teman dan Boss Bhanu. Lelaki paruh baya yang pertama kali mengenalkannya pada kenikmatan dunia.

Bhanu, mantan penghuni hotel prodeo yang bolak balik berada di balik terali besi dengan sederet tindak kriminal yang seperti tidak mengenal jera. Lelaki dengan pekerjaan tidak jelas, bandar obat-obatan terlarang dengan jaringan internasional. Ia selalu bisa lolos dan berhasil keluar dari penjara dengan dukungan seseorang. Entah siapa.

Begitulah hukum mampu dibelinya.

Hingga pada suatu hari, rumah yang dijadikan tempat transaksi haram bahkan praktek perdagangan manusia illegal, digrebek polisi. Dengan sederet bukti, kali ini Bhanu tak mampu berkutik.

Adrian meraung, menangis bak bocah kecil melihat Bhanu dengan tangan terkunci borgol. Polisi juga membawanya beserta beberapa remaja lelaki dan perempuan yang akan dijualnya pada lelaki hidung belang.

Tatiana yang menerima telepon dari kantor polisi, bergegas mendatangi sang putra yang masih sangat dikasihinya. Ia berharap kali ini Adrian jera. Ia pun telah berjanji untuk memperbaiki diri dan hubungan mereka, karena merasa apa yang terjadi pada Adrian adalah juga kesalahannya.

Perih hati Tatiana menatap kondisi Adrian yang kurus, lusuh, setelah berbulan-bulan meninggalkan rumah. Adrian menangis tergugu melihat sang ibu kemudian memeluknya dengan erat. Hati Tatiana semakin hancur mengetahui Adrian juga menjadi korban pelecehan seksual sang induk semang.

“Maafkan aku, Ma. Rasanya aku lebih baik mati saja.”
“Kita mulai lagi semua dari awal ya, Nak. Mama berjanji akan lebih memperhatikan dirimu. Tidak ada kata terlambat, Adrian.”
“Aku anak durhaka, Ma. Anak setan.”
“Sshhh. Kamu anakku. Anak yang kusayangi hingga akhir nafasku, bagaimana pun keadaanmu.”

Mereka pun saling berpelukan dengan penuh kerinduan.

Sejurus kemudian Tatiana berteriak histeris hingga mengagetkan semua orang.

“Bhanu! Kau kah itu? Bhanu! Lelaki keparat! Kemana saja kau selama ini? Lihat anakmu di sini! Ingatkah kau padaku Bhanu? Perempuan yang kau tinggal pergi dalam keadaan mengandung dulu?”
“Ma … dia … dia ayahku?”
“Maafkan Mama, Nak. Ya. Dia ayahmu, yang meninggalkan Mama ketika mengandung dulu.”

Terhuyung-huyung Adrian merasakan tubuhnya ringan dengan perut mual. Tangannya serta merta meraih sebuah pistol yang ada di pinggang seorang petugas. Dengan cepat ia segera menarik pelatuknya ke arah Bhanu yang sedang melintas menuju sebuah ruangan dengan kawalan beberapa orang petugas.

Bhanu pun jatuh terkapar, dan sebelum Tatiana mampu berbuat banyak, Adrian pun jatuh bersimbah darah setelah menembak dirinya sendiri.

“Ma … af … kan aku, Ma. Lelaki itu yang … menghancurkan hidupku.”

Be Careful With What You Wish For (ReRe)

(Tamat)

Bila Tak Ada Lagi Esok (Untukmu, Anakku)


Bila Tak Ada Lagi Esok
(Untukmu, Anakku)

Hidup
Sesungguhnya sebuah misteri
Serba rahasia dan sangat tertutup
Tak ada seorang pun tahu ujung cerita ini

Hidup
Akan seperti apa kita semua akhiri?
Serba samar dan sayup
Entah bagaimana akhir masing-masing kisah ini

Hidup
Sesungguhnya mengerikan untukku
Penuh dengan aroma semu
Dalam langkah yang serba ujian melulu

Hidup
Tiba-tiba bisa direnggut oleh-Nya, Sang Empunya
Kita ini lalu bisa apa?
Hanya mampu pasrah tertelungkup kelu

Hidup
Mengajarkanku banyak hal baru
Tentang arti bergaul juga berseteru
Kuncinya ada pada dirimu
Mau ikut atau segera berlalu

Hidup
Yang terlewati dengan banyak ujian dan pelajaran
Memberiku banyak peringatan
Tentang segala yang tersurat, tersirat, juga tersiar
Penuh godaan yang erat mencengkeram

Hidup
Bagaimana kelak akan kita akhiri?
Penuh doa pada semua atau semata caci maki?
Yang hingga akhir tercurah dari lisan hingga jari
Ngeri

Nak, hidup ini bukan kekal
Serba singkat bahkan hanya sekedip mata saja
Jika IA berkehendak, kita bisa apa?
Tiba-tiba segala kenikmatan musnah di hadapan
Tanpa bisa protes maupun banyak tuntutan

Nak, di tanganmu pena dan penghapus itu tergenggam
Bagaimana caramu mengisi putihnya setiap lembaran
Mungkin sesekali butuh menghapus lisan dan tulisan
Karena dosa dan kesalahan sejatinya berjalan beriringan
Hanya butuh luasnya hati untuk menyadari kesalahan

Nak, kejahatan tak perlu berbalas yang sama
Singkatnya hidup, jalani saja dengan kedamaian
Sebelum terlambat sadar dan semua terenggut tanpa peringatan
Doakan saja mereka yang memancing amarah dan kesedihan
Mungkin suatu saat dari mereka kau dapat pertolongan
Jika bukan perlakuan, mungkin doa yang menyelamatkan

Nak, ketika esok tak ada lagi di hadapan
Berharap lah matamu terpejam dalam kenyamanan
Karena tak ada hati yang tersakiti atau jiwa yang merintih perih
Memintamu untuk menjahit setiap sisi yang tanpa sadar kau iris

Nak, mulailah memahat setiap sisi kehidupan dengan ukiran indah
Menulis setiap laku dan lakon dengan sebaik-baiknya
Karena hidup tak selalu berujung megah

Bila tak ada lagi esok untukmu melangkah

Love, Rere

Terlanjur Mencinta


Terlanjur Mencinta

“Mas, mau ke mana?”
Meeting. Enggak usah ditunggu. Aku pulang malam.”
“Hati-hati ya, Mas.”

Sebuah kecupan seadanya mendarat di dahi Ayumi. Datar. Tanpa gairah.

Dua puluh lima tahun usia pernikahan mereka, Ayumi merasa ada yang berubah pada diri Aldi, sang suami. Hambar. Sekedar melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri, terutama di hadapan 3 putri mereka yang beranjak dewasa. Si sulung, Alya, bahkan sebentar lagi akan naik pelaminan.

Aldi adalah sosok ayah idola bagi 3 putrinya.Tampan, bertanggung jawab, penyayang, dan setia. Persis seperti gambaran mereka tentang laki-laki idaman.

“Aku akan mencari calon suami seperti ayah. Harus seperti ayah,” begitu selalu mereka membayangkan sosok seorang suami. Seperti Aldi.

****

“Pagi, cantik. Sudah bangun?”
“Pagi, Mas. Sudah dong. Mas sedang apa?”
“Sedang berdiri di depan rumahmu. Makan siang, yuk.”
“Astaga! Kamu selalu memberi kejutan! Aku suka.”

***

Happy Anniversary Ibu dan Ayah. Semoga selalu mencinta hingga akhir hayat. Selamat menikmati pemandangan cantik dari hotel, tanda cinta kami bertiga. Love, Alya, Alina, Aulia.

“Terima kasih, Nak. Cantik sekali kartu, cake, dan bunganya. Terima kasih juga hadiah menginap di hotelnya. Pemandangannya indah sekali dari jendela kamar,” tulis Ayumi pada sebuah pesan singkat untuk ketiga putrinya.

Ya, ulang tahun pernikahan perak itu sangat luar biasa. Sebuah hotel dengan pemandangan menawan, buket bunga segar, dan sebuah cake cantik, hadiah dari ketiga putri kesayangannya.

Hadiah pernikahan perak yang dinikmatinya sendiri … tanpa Aldi di sisi.

Mata Ayumi menerawang jauh mengingat kejadian yang ia alami 2 minggu sebelumnya. Sebuah pesan singkat berisi foto Aldi sedang menggandeng mesra seorang perempuan cantik di suatu tempat, terkirim ke gawainya dari deretan nomor asing yang tidak bernama. Ayumi mengenali tempat di foto itu karena dulu ia dan Aldi sama-sama menimba ilmu di sana. Di sebuah kota tempat awal cinta mereka bersemi.

Perempuan itu, Soraya namanya, yang pesan singkat bernada mesranya juga terkirim bersama dengan beberapa foto mereka berdua dalam berbagai pose. Termasuk juga bukti pengiriman bunga, beberapa barang, nota restoran, dan hotel.

Hati Ayumi hancur. Tepat di hari ulang tahun pernikahan peraknya, ia harus ikhlas melepas Aldi yang lebih memilih menemui perempuan lain.

***

“Maafkan aku, Mas. Aku terlanjur mencinta dan tak mampu melupa. Semoga istrimu ikhlas melepasmu menjadi milikku.”

Senyum Soraya mengembang sambil jemari lentiknya mengirim pesan singkat ke sebuah nomor … milik Ayumi.

(Tamat)

Song: Maafkan Aku, Terlanjur Mencinta – Tiara Andini (cover)

Love Is … Being Responsible


Love Is … Being Responsible

“Enggak usah masak dan bikin cake lah, Bunda. Beli saja gampang, enggak capek.”

“Enggak mau, ah. Buat apa saya belajar bikin cake kalau masih beli juga?”

Suami saya yang sangat baik. Ia memang tidak mau saya terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selalu khawatir saya akan jatuh sakit karena kelelahan. Hingga sang istri kerap diingatkan untuk istirahat dan banyak tidur. Ia tahu bahwa istrinya tipikal perempuan yang tidak bisa diam, pun tidak bisa dilarang alias keras kepala.

Well, sang istri hanya berusaha melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu dengan sepenuh hati. Baginya, ini hanya lah sebagian kecil dari bentuk tanggung jawabnya di rumah terhadap anak-anak. Mereka yang diamanahkan kepada sang istri untuk dijaga dengan baik. Hingga ia merasa bertanggung jawab dengan apapun yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Meski ia bisa saja dengan gampang membeli apapun, tanpa harus susah memasak atau repot sendiri mempersiapkan makanan. Contohnya untuk hari spesial anak-anak seperti kemarin.

Tak jarang ia juga bertanya dalam hati, “Kenapa sih mau susah sendiri? Bukannya lebih gampang hanya keluar duit tapi tanpa keringat dan pegal sekujur badan, ya?”

Hmm … inilah cinta. Terdengar klise tapi begitulah kenyataannya.

Jika bukan atas nama cinta yang begitu besar, rasanya mudah saja baginya untuk meninggalkan segala tanggung jawab di belakang. Namun sang istri hanya ingin mewariskan kebiasaan baik bukan sekedar harta duniawi. Ia hanya berharap kelak mereka melakukan hal yang sama untuk keluarga masing-masing. Memberikan segenap cinta di setiap sentuhan tangan dan peluhnya tanpa syarat.

Pada saat yang sama sebagai seorang ibu, ia juga sedang mengajarkan arti tanggung jawab pada ketiga buah hatinya. Bahwa ketika telah berani memutuskan untuk membangun sebuah keluarga, ada tanggung jawab besar di sana. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan materi namun juga ada kewajiban untuk selalu meningkatkan kemampuan diri.

Ibu … adalah awal seorang manusia mengenal dunia. Sejatinya semua pengalaman dan kesiapan untuk menghadapi juga matang dipikirkan. Karena hidup bukan sekedar bersenang-senang, namun ada tanggung jawab di dalamnya. Semua adalah bekal para penerus menghadapi dunia dengan segala dinamikanya.

Selamat menjalani hari-harimu Ibu, lakukan semua dengan bahagia dan cinta, hingga tak ada kata tak bisa.

Love, Rere

Menjaga Jiwa


Menjaga Jiwa

Untuk jiwa yang sedang gundah
Pada raga yang tengah goyah
Untuk jiwa yang sedang merana
Pada raga yang tengah lelah

Menyerah lah meski bukan kalah
Menyerah karena butuh pasrah
Pasrah pada keinginan raga dan jiwa
Mereka sedang butuh udara

Meski kadang raga berdiri tegak
Merasa kuat hingga pongah
Walau tertatih tetap menjejak
Tanpa sadar jiwa tengah gelisah

Wahai jiwa yang merasa tegar
Bahkan setengah mati menahan
Tetesan bulir bening di sudut netra
Luahkan! Tak perlu lagi kau tahan

Pahami ambunya yang tengah masygul
Jangan berpaling apalagi bingung
Biarkan jiwamu bergetar dengan jujur
Hirup wangi hidup yang tak selalu harum

Biarkan sumarah mengganti amarah
Biarkan harsa mengganti duka
Mencinta sang jiwa bukan melulu dunia
Menjaga sang raga bukan hanya mereka

Dirimu juga tanggung jawabmu
Jiwa yang tenang harusnya fokusmu
Raga yang ceria semestinya upayamu

Berhenti menguras habis karunia Nya untukmu
Berhenti berkorban demi mereka melulu
Berhenti berharap bahagia datang padamu
Berhenti tak perlu ragu

Bahagia … bahagiakan jiwamu
Sehat … sehatkan ragamu
Cinta … cintai dirimu utuh
Berharga itu … kamu juga jiwamu

Love, Rere

Rantang Plastik Mama … Sebuah Kenangan


Rantang Plastik Mama … Sebuah Kenangan

“Do you like the food that I packed yesterday?”
“I do
Bunda. So yummy.”
“Does any of your friends bring food to school too?”
“Nope. Only me.”
“Are you okay with it? Are you not ashamed of bringing lunch box to school?”
“Nooo. I’m okay
Bunda. Infact, some of my friends kinda wait and curious about what food I bring everyday. They said, whoa Lara’s mom can cook anything delicious! Thank you for preparing foods every single day, Bunda.

Senyum saya terkembang lebar sekali pagi tadi. Kemudian kami berdiskusi tentang mengapa saya rela harus bangun lebih pagi dan sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah, dengan menu yang selalu berbeda setiap hari.

Sambil bercerita, ingatan saya melayang ke puluhan tahun silam dengan segala kenangan tentang sebuah rantang plastik berwarna putih. Ya, rantang plastik milik mama, yang kerap saya bawa untuk bekal sarapan dan makan siang, di sebuah kantor tempat saya bekerja dulu.

Meskipun rumah makan bertebaran di sana, saya tetap membawa bekal yang sedari pagi buta disiapkan mama. Walau hanya berupa menu sederhana namun rantang plastik itu berisi ungkapan penuh cinta dari seorang ibunda. Cinta yang kemudian begitu saya rindukan ketika harus melanglang buana meninggalkan tanah air hingga hari ini.

Kebiasaan dan kebisaan itu yang lalu terbawa hingga saya menikmati setiap proses menyiapkan bekal pagi. Meskipun saya memberikan anak-anak sedikit uang jajan untuk keperluan di sekolah, saya tetap membungkuskan mereka makanan yang saya buat sendiri dan letakkan dalam 3 buah kotak makan plastik berwarna-warni.

Kotak makan yang selalu mengingatkan saya akan kenangan rantang plastik berwarna putih milik mama. Cinta dan kasih sayangnya tetap terasa hingga saat ini, dan tidak pernah usang.

Terima kasih, Ma.

Semoga ketiga cucumu di sini kelak juga memiliki kenangan tentang kotak makan plastik berisi sentuhan cinta dariku. Cinta yang tak mengenal syarat dan tanpa batas hingga kelak akhir waktuku.

Love, Rere

Singapore’s Phase Two – New Normal Be Like …


Singapore’s Phase Two – New Normal Be Like …

Sejak merebaknya pandemi di seluruh belahan dunia, pemerintah Singapura memberlakukan Circuit Breaker bagi semua warganya. Segala pembatasan pun mulai diterapkan. Praktis sejak saat itu, kami sekeluarga hanya tinggal di rumah saja. Suami bekerja dari rumah, dan anak-anak bersekolah dari rumah serta mengerjakan semua tugas secara daring. Saya, hanya pergi berbelanja kebutuhan pokok sekali dalam 2 minggu.

Hingga memasuki awal bulan Juni kemarin, Singapura mulai memberlakukan pelonggaran circuit breaker bagi warganya. Kami mulai diperbolehkan keluar rumah dengan lebih bebas, walaupun tetap harus mengikuti aturan yang ditetapkan.

Sampai tiba masanya pemerintah memberlakukan pembukaan fase ke-2 sejak 15 Juni 2020. Ditandai dengan dibukanya beberapa tempat yang sebelumnya ditutup, dan kelonggaran bagi warganya untuk melakukan aktifitas secara normal. Tentu saja dengan beberapa protokol kesehatan yang harus dipatuhi.

Meski pemerintah setempat memandang bahwa keadaan relatif stabil dan tidak ada kenaikan grafik penderita virus, kami semua dihimbau untuk tidak memandang pembebasan ini sebagai kehebohan baru. Kami tetap harus memakai masker di mana pun berada, menjaga jarak satu sama lain, dan tetap menjaga kebersihan dengan rajin mencuci tangan.

Well, paling tidak kami semua berharap roda perekonomian kembali normal, dan anak-anak bisa kembali bersekolah walau harus menggunakan masker atau face shield seharian. Para pekerja juga bisa kembali ke kantor dan melakukan tugas seperti sebelumnya.

Sementara saya, kembali bisa bertemu dengan beberapa sahabat untuk sekedar duduk bercengkrama di kedai kopi favorit. Walau hanya terbatas 5 orang dalam 1 meja yang harus tetap berjarak. Tentu saja pemakaian masker juga tidak ketinggalan. Karena pemerintah tidak segan menjatuhkan denda dan hukuman bagi para pelanggar aturan.

Jadi begini lah kehidupan baru yang harus kami jalani saat ini. Tetap bersyukur dan selalu mematuhi peraturan adalah kunci. Jaga diri dan sekitar itu tentu lebih baik.

Semoga pandemi segera berlalu, namun jika tidak, pandang lah ini sebagai sebuah bentuk kehidupan baru. Berdamai lah dengannya dan jadikan ini sebuah kebiasaan yang baik untukmu.

Love, Rere.