Keliling Dunia


Keliling Dunia

Ujung tahun 2000 waktu itu, ketika airmata saya menetes di atas pesawat yang bertolak dari Jakarta menuju Jeddah. Ada rasa yang mendadak hilang hingga membuat lutut saya terasa lemas. Jantung saya berdebar membayangkan sebuah tempat nun jauh di belahan bumi lain, ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahiran.

Memang pergi ke luar negeri adalah cita-cita saya sedari kecil. Meski tidak banyak anak seusia saya yang berpikir untuk menjadikannya sebuah keinginan. Kebanyakan dari mereka menjadikan sebuah profesi sebagai mimpi masa depannya. Namun tidak bagi saya.

Nyatanya menjadi seorang awak kabin adalah jalan saya mewujudkan mimpi itu. Kalau tahu, dulu saya bercita-cita saja menjadi seorang pramugari, hingga tidak ada orang yang tertawa geli mendengar seorang bocah SD menjadikan pergi dan tinggal di luar negeri sebagai mimpinya.

Meskipun belum seluruh belahan bumi yang begitu luas ini saya datangi, namun banyak pengalaman batin membuat saya merasa kaya. Ya, kaya pengalaman yang menjadi bekal saya memandang banyak hal saat ini.

Pernah mendengar sebuah tempat bernama Khartoum? Mungkin tidak banyak yang tahu atau sadar bahwa ada sebuah kota bernama Khartoum yang menjadi ibukota negara Sudan. Dalam penerbangan menuju tempat itu, pesawat kami penuh berisi deportees, atau mereka yang diusir dari negara lain karena sebab tertentu. Jangan bayangkan perjalanan ini fancy ya. Hampir seluruh penumpang tidak memakai alas kaki, bahkan ada yang sudah berhari-hari tidak mandi.

Pesawat berhenti di sebuah tempat yang sejauh mata memandang hanya berupa deretan gurun yang kering dan tandus. Kami bahkan harus membuka seluruh pintu pesawat karena aroma menyengat yang ditinggalkan para penumpang. Miris melihatnya, sambil mengingat sejarah tertindasnya bangsa mereka sejak jaman dahulu kala.

Perbedaan warna kulit … gumam saya pelan.

Khartoum bukan satu-satunya pengalaman menakjubkan yang pernah saya lalui. Banyak sekali cerita penuh warna saya temui. Pekerjaan ini memang membawa saya berinteraksi dengan banyak budaya, ras, bahkan hingga akhirnya bertemu sang belahan jiwa. Bahwa hidup adalah sebuah pilihan, terjadi setelahnya. Meski dengan sedikit berat hati, saya berhenti dari pekerjaan yang saya cintai karena banyak memperkaya batin itu.

Beruntung saya tidak dibesarkan untuk melihat perbedaan. Maka berada di mana pun bagi saya tetap menyenangkan. Meski berkali-kali tergagap mengikuti alur sekitar, namun jiwa petualang membuat saya mampu bertahan. Apalagi kali ini saya harus hidup berdampingan dengan beberapa ras sekaligus. Cina, India, Melayu, dan etnis lain menjadi pengalaman baru yang semakin memperkaya kehidupan di tahun ke-14 saya tinggal di negara multikultural ini.

Beruntungnya saya. Setelah pernah keliling Indonesia https://reynsdrain.com/2020/08/18/keliling-indonesia/ lalu keliling dunia, sekarang membesarkan anak-anak di tengah banyak perbedaan https://reynsdrain.com/2020/08/07/rumah-ke-2/

Tidak banyak harta ayah dan bunda kelak tinggalkan, Nak. Namun pengalaman serta terbukanya wawasan akan menjadi bekalmu memandang indahnya kehidupan. Indah karena beda. Beda yang harus dihargai keberadaannya sebagai anugerah dari Sang Pencipta.

It’s not about being all the same. It’s about respecting differences.

Love, Rere

Si Kaset Rusak (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Si Kaset Rusak
(Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Lara, sudah sholat belum?”
“Lana, sapu rumah, Nak.”
“Rayyan, make up your bed!”
“Ayo, cepat makan. It’s 6.30 already!”
“Don’t forget your masks”
“Botol, lunch box dah bawa?”
“Your keys, don’t forget!”
“Go home straight away.”

Bla … bla … bla.

Begitulah setiap pagi keramaian di rumah kami. Asalnya hanya dari satu suara, sih. Saya. Sementara suara lain hanya berbunyi, “yes, Bunda,” atau “sudah, Bunda.” Hahaha!

Awalnya saya berpikir keributan ini hanya terjadi di rumah kami. Ternyata setelah berbincang dengan beberapa sahabat, sama juga hebohnya. Phew! Berarti saya tidak sendiri. Lega.

Bukan tidak pernah saya mengajukan keberatan karena harus berubah bak sebuah kaset rusak setiap pagi. Ya, setiap pagi. Beberapa cara pun pernah saya lakukan. Membuat jadwal harian mulai dari yang sederhana hingga berbagai bentuk dan gaya agar menarik. Tentu saja setiap saat harus berubah demi menyesuaikan jadwal dan usia anak-anak.

Kadang saya juga harus menahan diri setengah mati dengan tujuan untuk mendidik. Saya biarkan mereka gedubrakan karena terlambat bangun, hingga beberapa keperluan sekolahnya tertinggal. Ya, saya pun pernah juga begitu. Walaupun sebagai ibu dengan didikan disiplin tingkat tinggi di masa sekolah, ini adalah satu hal yang sangat menyiksa. Iya, tersiksa rasanya melihat ketidakaturan dan ketidaksiapan di depan mata.

Namun anak-anak harus belajar dari kesalahan. Sementara saya harus belajar untuk sedikit menutup mata dan mengurangi kebiasaan “serba harus dan tidak boleh salah”.

Saya tahu, mereka sebenarnya paham apa yang harus dilakukan. Mungkin mereka hanya terlalu suka dan selalu rindu mendengar suara nyanyian sang ibu yang berulang seumur hidup. Hingga melambatkan diri setiap pagi adalah salah satu cara untuk tetap menghidupkan bunyi sang kaset rusak.

Meski tiap pagi “bernyanyi” saya tidak marah. Saya tahu suatu hari nanti mereka akan rindu, seperti saya yang kerap merindukan kebawelan mama saat ini. Oleh karena itu setelah puas merepet bak petasan banting, saya tetap memeluk dan selalu mencium mereka dengan penuh cinta di depan pintu. Sambil mendoakan dalam hati agar Yang Kuasa melindungi mereka selama di luar rumah.

Toh setelah semua pergi, rumah jadi sepi. Saya bisa dengan tenang menyeruput secangkir kopi hangat sambil menonton acara televisi.

“Abaaang! Dah sholat belum? Cepat lah! Dah almost shuruk!”

Lamat saya dengar tetangga sebelah rumah yang dapurnya bersebelahan, sedang “bernyanyi” merdu pada sang putra yang berusia 40. Hahaha!

Motherhood … where silence is no longer golden.

Love, Rere.

P A M I T


P A M I T

“Aku pergi dulu.”
“Eh, kemana Mas?”
“Hubungan ini enggak akan mulus. Harus diakhiri demi kebaikan kita berdua.”
“Mas …”

“Sum! Sum! Ngelamun! Ayo kerja!”

Bentakan Tuan Hadi membuyarkan lamunan Sumini. Ia kembali melanjutkan tugasnya mengepel lantai ruangan kantor megah itu.

Airmata mengalir dari sudut matanya. Betapa ia sangat merindukan aroma khas yang selalu datang dari tubuh sang suami, Manto. Sumanto, lelaki yang telah didampinginya selama 24 tahun masa pernikahan dengan segala pasang surutnya.

Dua puluh empat tahun lalu mereka mengikat janji dalam segala keterbatasan. Manto hanyalah pegawai kecil pada sebuah perusahaan percetakan. Gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari mereka berdua. Selama itu pun Sumini tidak pernah sama sekali mengeluhkan nasibnya. Walau hanya tinggal di sebuah rumah petak dan tidur di atas sebuah kasur sederhana.

Manto adalah lelaki baik hati yang selalu membuat Sumini merasa sangat beruntung meski hidup serba pas-pasan. Mereka sangat bahagia terutama setelah di tahun ke-10 pernikahan mereka, seorang bocah lelaki muncul sebagai cahaya yang semakin menyinari kehidupan. Damar, begitu nama yang mereka sematkan, berarti obor dalam bahasa Jawa. Ia memang terbukti menerangi kehidupan mereka setelah kelahirannya.

Sebagai pegawai rendahan, Sumanto sangat rajin dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Hingga ketika sang pemilik percetakan beranjak tua dan mulai lemah, ia mempercayakan laju perusahaan padanya. Keberuntungan memang nyata berpihak pada Sumanto, karena sang pemilik adalah seorang lelaki yang melajang hingga di renta usianya. Sumanto adalah satu-satunya orang yang dengan setia menemani hingga akhir hayatnya.

Kehidupan Sumini dan Sumanto pun berubah membaik di tahun ke 20 pernikahan. Mereka tidak lagi perlu menahan segala keinginan, dan bisa makan apapun yang mereka inginkan. Sang putra, Damar, kini duduk di bangku sekolah menengah dan menjadi salah satu murid terpandai dengan prestasi baik di kelasnya.

Namun, seiring dengan kemakmuran hidupnya, Sumini mulai merasakan perubahan pada diri Manto. Lelaki yang kini tampak semakin muda dengan tubuh terjaga dan wangi parfum yang semerbak itu terasa semakin jauh. Ia tidak lagi pernah bertanya ke mana dan sedang apa istrinya. Rapat di sana, rapat di sini, itu selalu jawaban yang didapat Sumini. Namun perasaan aneh itu kerap ditepis dan Sumini menyibukkan diri dengan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, demi menyenangkan sang suami.

Bulan depan adalah ulang tahun perkawinan perak Sumini dan Sumanto. Sederet rencana sudah disusun dengan matang oleh Sumini. Sebuah restoran megah dengan hiasan cantik akan menjadi tempat mereka makan malam berdua. Damar bahkan telah menyiapkan sebuah hadiah istimewa untuk kedua orang tuanya.

Hingga malam itu sebuah kejadian menghempas rencana indah Sumini dan Damar. Sang bapak memilih untuk pergi meninggalkan rumah dengan alasan pernikahan mereka adalah sebuah beban. Sumini terhenyak, ia tak kuasa menahan tangis. Damar tampak tegar dan memeluk sang ibu dengan tangan kecilnya, erat sekali.

Entah apa yang ada di benak Manto. Ia seperti lupa bagaimana sang istri dengan setia mendampinginya di kala susah, dan tanpa ragu menghempas ketika dirinya semakin bersinar terang. Sumini hanya mampu pasrah. Namun tidak demikian dengan Damar. Ia yang begitu mengagumi sang bapak seperti mendapat sebuah mimpi buruk. Murid terpandai itu jatuh terpuruk. Ia bahkan harus rela mengulang pelajaran di kelas sebelumnya karena tidak mampu mengerjakan ujian akhir dengan baik.

Sumini harus keluar dari rumah mewah mereka karena kalah di pengadilan agama. Tanpa disadarinya, sang suami tidak pernah meletakkan namanya di dokumen apapun selama ini. Ia hanya memberi Sumini sejumlah uang untuk bertahan hidup, walau berjanji akan bertanggung jawab pada biaya sekolah Damar.

Janji tinggal janji … Sumini memilih pergi.

Perjuangan hidup membawanya pada pekerjaan sebagai petugas kebersihan di sebuah kantor megah di pusat kota. Damar, sang putra tercinta, memilih untuk mengakhiri hidupnya karena depresi. Sumini menemukannya sedang meregang nyawa setelah sebotol cairan pembasmi serangga masuk ke dalam tenggorokannya.

“Sum! Melamun lagi! Cepat bikinkan minuman untuk Bapak dan 2 orang tamu!”
“Oh … baik Bu.”

Ibu Sisi, sang sekretaris cantik, kali ini yang membuyarkan lamunan Sumini akan Sumanto. Sepuluh tahun berlalu namun lelaki itu dengan aroma tubuh khasnya tetap dirindukan setiap saat. Meski ia telah menorehkan luka yang begitu dalam di hati Sumini.

“Permisi, Pak. Ini minumannya.”
“Letakkan saja di atas meja, Sum. Terima kasih.”

BRAKK!

Nampan berisi 3 cangkir minuman panas itu terjatuh bersamaan dengan terhuyungnya tubuh Sumini yang mendadak hilang kesadaran.

“Astaga! Sum!”
“Aduh! Massss! Bajuku basahhhh ketumpahan minuman! Aaaaaahhh! Gimana sih pembantumu Mas Hadi!”
“Aduh maaf Dik Sinta, Mas Anto. Maaf. Sum! Sum! Pak Satpam angkat ini si Sumini! Sum! Bangun!”

“Mas … Ma … Manto.”

Sumini … pergi dalam diam. Ia terkena serangan stroke setelah melihat Sumanto bersama seorang wanita bernama Sinta, istri barunya. Kekasih gelapnya sejak Sumini mengandung Damar … yang sinarnya telah redup lebih dulu dalam kesunyian.

Tamat.

“No matter what I say or do,
I’ll still feel you here ’till the moment I’m gone.”
(Sara Bareilles)

Gravity – Sara Bareilles (Cover)

Love, Rere

S T R E N G T H


S T R E N G T H

Lihat deh tanaman kecil ini. Ia tumbuh liar di dalam pot keramik cantik, berisi sebuah pohon bonsai mungil yang bunganya berwarna merah dan konon rasanya manis. Ketika kecil saya suka sekali menghisap bunganya dan beranggapan bahwa ia berisi madu.

Tanaman kecil ini tiba-tiba saja tumbuh di sana tanpa saya sadari. Mungkin akar kecilnya terbawa dalam tanah yang dipakai untuk membonsai si bunga madu atau Red Ixora nama cantiknya.

Saya baru menyadari ternyata sempat lupa menyirami hingga 2 hari. Saya memang lalai kemarin, hingga sang tanaman kecil pun kering dan merunduk layu. Sedih hati melihatnya. Saya lalu membawanya ke dapur dan tetap menyiraminya seperti biasa.

“Tumbuh lagi ya kamu si kecil. Jangan menyerah,” begitu bisik saya padanya. Sambil berharap ia akan kembali berdiri tegak dan menunjukkan cantiknya.

Kemudian setelah meletakkannya di tempat biasa, saya coba mengawasi sambil berharap cemas. Saya takut ia malah terkulai lemas dan mati karena merana. Ternyata, ia kembali tegak berdiri dengan warna hijaunya yang justru semakin cemerlang! Saya merasa ia sedang tersenyum seraya berkata, “I will survive.”

Lalu saya merenung tentang kehidupan, sambil memperhatikan setiap lembar daun yang menempel di batang kecil yang kurus itu. Inilah hidup. Rapuh, kadang jatuh, kadang harus tegak berdiri walau hanya bersandar pada dahan yang nampak lemah tak berdaya.

Betapa hidup ini bak sebuah episode drama. Bagaimana jalan ceritanya, semua kehendak sang sutradara. Pengatur segala lakon kehidupan di dunia. Jika Ia ingin membalik semua kesenangan menjadi ujian, be it. Pun begitu sebaliknya. Sang pemain hanya bisa mengikuti apa mauNya.

Pasrah, itu saja yang bisa kita lakukan. Berserah atas semua garis yang ditentukan Sang Pencipta. Pasrah dan menerima dengan ikhlas semua suratan. Namun pasrah tetap harus dengan usaha keras, karena Ia tidak akan mengubah nasib umatNya yang tidak mau berusaha hingga ke titik penghabisan.

Untukmu yang sedang dirundung duka karena drama kehidupan, bertahan lah. Sebagaimana tanaman kecil ini berusaha untuk tetap hidup walaupun sempat tertunduk lesu. Jika harus merunduk karena layu terima saja, namun jadikan itu sumber kekuatan. Yakin lah, sang Pemilik kehidupan tidak akan melupakan umatNya yang kuat dan memilih untuk tetap tegak bertahan menghadapi badai kehidupan. Pertolongan pasti akan datang di waktu yang tepat … menurutNya. Percayalah.

Terima kasih wahai tanaman kecil, untuk kekuatan dan pelajaran hidup yang kau tunjukkan padaku pagi ini.

What doesn’t kill you make you stronger. (Kelly Clarkson)

Love, Rere

(Secangkir Kopi Hangat Emak)

Rumah Ke-2


Rumah Ke-2

Empat belas tahun sudah saya turut merasakan gegap gempitanya warna merah putih berkibar di negara ini. Merah putih yang berhias bulan dan bintang.

Empat belas tahun yang tanpa terasa saya lalui di negara sejuta denda ini dengan segala pasang surutnya yang bak roller coaster nya kehidupan. Seru dan selalu menantang.

Jika ditanya apakah saya menikmati setiap detik yang saya lewati selama ini, jawaban saya tentu saja ya. Singapura adalah rumah kedua saya. Tempat dimana saya membangun keluarga kecil dan mengajarkan anak-anak segala hal tentang kebaikan, kepekaan sosial, keberagaman, kesetaraan, tanggung jawab, dan tentu saja disiplin.

Singapura memang menyenangkan. Bersih, teratur, tertib, patuh, tenang, nyaman, aman. Walau aman bukan berarti tanpa kewaspadaan. Low crime doesn’t mean no crime, begitu ujar suami saya yang kerap mengingatkan kami semua untuk tidak terlena dan lengah.

Beragam budaya, bahasa, ras hingga agama, tumbuh bersama dan saling berdampingan di negara ini. Tanpa saling caci, hujat, maupun mengecilkan satu sama lain.

“We, the citizens of Singapore, pledge ourselves as one united people regardless of race, language or religion, to build a democratic society based on justice and equality so as to achieve happiness, prosperity and progress for our nation.”

Pledge yang setiap pagi wajib dibaca semua murid di sekolah ini benar-benar menunjukkan, betapa semua warganya harus hidup rukun dan saling menghargai. Jika ingin ketenangan dan kenyamanan hidup betul-betul tercapai.

Meski hanya sebuah titik kecil di peta dunia, Singapura memang luar biasa. Hingga tenang rasanya hati menjadikannya rumah kedua.

Selamat 55 tahun Singapura! Semoga makin luar biasa dan menjadi satu titik kecil yang terus bersinar terang di peta dunia.

Love, Rere

Singapore National Day 9 August 1965 – 9 August 2020

FOKUS


FOKUS

Pagi tadi Rayyan memberikan hasil ujian pelajaran Bahasa Melayunya pada saya dengan sedikit ragu. Saya tahu, pasti ada sesuatu.

Minggu lalu memang anak-anak Sekolah Dasar di Singapura baru melaksanakan ujian tengah semester. Rayyan dengan percaya dirinya selalu bilang, “so easy. I can do it, Bunda,” setiap kali saya bertanya bagaimana ujiannya, sepulangnya dari sekolah.

Benar saja. Nilai ujian Bahasa Melayunya rendah sekali bahkan berbuah catatan dari sang guru yang menegurnya agar lebih fokus mengerjakan soal. Saya pun mengajaknya bicara pagi tadi.

“Do you understand this note from your teacher?’
“No I don’t,
Bunda.”
Lah? Read please.”
“But …”
“Just read. We will discuss about it.”

Dengan terbata-bata Rayyan membaca tulisan bertinta merah yang tertera di kertas ujiannya itu.

“What’s menggencewakhan, Bunda?”
“Mengecewakan. Meaning your cikgu is dissapointed at you because you took this exam lightly and didn’t focus on your paper.”
“But I didn’t take this lightly. I just don’t understand,
Bunda. I’m sorry.”
“I understand that you struggle hard for this subject. It’s part of my mistakes too. But when you don’t understand something, you must work harder to understand more and we will work this thing out together, okay? But I want you to try harder too.”
“Okay,
Bunda. I’m sorry. But some of my friends got low marks too.”
Rayyan, please focus on yourself for now and don’t think about others. Understand?”
“Sorry,
Bunda.”

Saya dapat melihat penyesalan di wajahnya karena saya tahu ia memang bekerja keras untuk menyelesaikan semua ujiannya minggu lalu. Nilai matematikanya bahkan naik dan menjadi 3 besar peraih nilai tertinggi di kelasnya. Saya merasa ikut bersalah karena tidak membiasakannya lebih sering berbicara dalam bahasa Melayu di rumah.

Lha saya sendiri bahkan sang ayah yang asli Melayu juga bingung, kok.

Saya menekankan padanya untuk fokus memperbaiki diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Anggap saja catatan dari sang guru adalah teguran pada kami berdua untuk lebih giat dan tekun belajar sesuatu yang tidak kami kuasai dengan baik.

Setelah berdiskusi dengan mata berkaca-kaca ia memeluk saya lalu meminta maaf karena merasa mengecewakan saya dan gurunya di sekolah. Saya memeluknya sekaligus mengatakan betapa bangga melihatnya banyak berubah. Ia sekarang lebih rajin, lebih teratur hingga isi tasnya pun tersusun rapi tidak lagi amburadul seperti sebelumnya. Saya juga senang ia bahagia pergi ke sekolah bahkan menganggap pelajaran matematika sebagai sesuatu yang menyenangkan. Yayy!

Ingat ya, Nak. Fokus saja sama dirimu sendiri dulu, tak perlu sibuk dengan apa adanya orang lain. Habiskan saja waktu untuk selalu memperbaiki diri sendiri. Ini saja seharusnya sudah cukup menyita waktu kita hingga akhir masa nanti.

Diskusi pagi kami pun ditutup dengan pelukan hangat dan kata cinta seperti biasa. Saya tahu ia sangat menyesal. Saya memintanya menemui sang guru untuk mengatakan penyesalannya sekaligus berjanji untuk memperbaiki diri dan lebih berkonsentrasi di kelas.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Rayyan.”

Love, Rere

Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Being a woman is never easy
Melalui banyak fase yang berakibat perubahan pada diri
Belum lagi siklus hormonal yang kadang bikin pusing sendiri
Mending jauh-jauh daripada kena usir

Being a woman is never easy
Masa muda harus benar-benar jaga diri
Kalau tak ingin masa itu terenggut dini

Being a woman is never easy
Setelah berbuntut dan menimang buah hati
Kesenangan pribadi harus rela tersisih

Being a woman is never easy
Menjaga yang tersayang kadang butuh otot besi
Namun penampilan tetap harus manis tak boleh basi

Ladies, mari saling mendukung
Berbagi cinta dan cerita untuk yang terkungkung
Tak perlu drama dan kelamaan merenung
Segera bangkit dan tegakkan punggung
Hitam putihnya dunia mari hadapi dengan senyum

Hitam putih challenge ini sungguh menarik. Melihat bagaimana kaum perempuan saling memdukung dan berbagi kekuatan satu sama lain. Melalui berbagi foto tanpa warna-warni.

Hanya hitam dan putih.

Ibarat hidup yang penuh dengan pasang surut. Kadang berpikir ia bahagia, ternyata hidupnya carut marut. Kadang menganggap ia menyebalkan, ternyata justru darinya didapat ilmu tentang kehidupan. Ahhh … sawang sinawangnya hidup.

The least we can do adalah berhenti memberi terlalu banyak komentar, terutama berbagi negativity. Karena terkadang di mata kita tampak hitam, ternyata ada putih di sana, pun sebaliknya. Berhati-hati dengan setiap ucapan, karena sejatinya pergumulan hidup setiap orang berbeda. We never know.

Pelukku untukmu semua yang sedang berjuang menghadapi kehidupan, dan berpacu menghadapi waktu. Berbahagialah menghadapi hiruk pikuknya. Karena ketika kita bahagia, tak akan ada waktu terbuang untuk membuat orang lain tidak bahagia.

Ladies, sisihkan waktu untuk menikmati hidupmu. Seruput hangat kopi di hadapan, agar senyum kembali terkembang di wajahmu.

Love, Rere

Hitam Putih


Hitam Putih

Hitam Putih
Karena hidup tak selalu berwarna bak pelangi
Kadang membosankan bahkan terlalu sepi
Menunggu bahagia, ia tak selalu datang sendiri

Wahai raga yang sedang tak berwarna
Sampai kapan jiwamu akan terpuruk merana?
Padahal banyak jalan mungkin terbuka
Jika netra berani melawan rasa

Duhai sukma yang sedang dirundung duka
Tataplah masa depan di hadapan
Tak perlu lagi menengok ke belakang
Jika hanya luka yang akan kau hirup aromanya

Beranikan diri menghadapi hari
Sampai hitam putihnya buana kau jalani
Hidup penuh warna pasti di ujung menanti
Tanpa perlu menunggu siapapun mengiringi

Bahagia itu adanya di hati
Bahagia itu tentang mencintai diri
Airmata segera sudahi
Bangkit dan segera maju sebelum mati

Mencintai diri sendiri itu butuh nyali
Berani melangkah itu bak pemantik api
Cintai jiwamu dengan sepenuh hati
Sirami dengan kasih agar ia senantiasa berseri

Life won’t sparkle unless you do!


Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.

Kenalan, yuk!


Kenalan, yuk!

“Suka baking ya, Bun?”

Melihat beberapa postingan saya tentang baking, seorang sahabat bertanya apakah saya memang hobi membuat kue atau roti.

“Sama sekali enggak,” demikian jawab saya padanya. Hahaha!

Jika dibandingan dengan membuat kue, memanggang roti, atau membuat makanan sejenis, saya lebih memilih untuk memasak. Tidak telaten rasanya jika harus mengaduk adonan lama-lama, atau menguleni hingga lengan pegal-pegal, atau membentuk satu demi satu penganan. Beda sekali dengan masakan. Satu kali masak, saya bisa menyediakan sekian banyak porsi tanpa harus lama-lama berdiri di dapur.

Namun tak suka bukan berarti saya menolak untuk mencoba. Justru karena keengganan itu saya jadi tertarik untuk belajar. Ya, pilihan saya jatuh untuk belajar di sebuah studio.

“Apa bedanya dengan belajar sendiri lewat internet? Malah gratis.”

Betul banget. Banyak sekali mereka yang dengan sukarela berbagi resep bahkan video tutorial langkah demi langkah membuat beragam masakan. Kadang saya juga dengan rajin mencari postingan seperti ini, lho. Mencatatnya, kemudian beberapa kali mencoba sendiri. Sebagian berhasil, meskipun banyak yang gagal dengan sukses. Hahaha!

Memutuskan untuk mengikuti kelas membuat kue dan roti di sebuah tempat tentu saja dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah tips dan trik dari mereka yang ahli di bidang ini. Satu hal yang tidak mudah saya dapat dari internet, karena beberapa tutorial hanya menyajikan hasil akhir yang cantik. Padahal sebelumnya mereka melakukan banyak trial and error di balik layar tanpa kita sadari.

Pertimbangan selanjutnya adalah keseruan memasak bersama para sahabat. Meskipun saya bukan orang yang terlalu suka bepergian, tapi bertemu mereka lalu memasak hingga tertawa bersama, adalah salah satu cara melepas penat dan rutinitas harian di rumah. Beda lho rasanya memasak sendiri dengan bersama teman. Seru!

Lambat laun saya makin cinta dengan perbakingan. Pupus sudah keyakinan bahwa saya dikutuk oleh semua oven di dunia ini. Ternyata saya hanya belum kenal, makanya belum cinta.

Jadi, keluar dari zona nyaman memasak itu ternyata seru juga, lho. Seseru hasil baking saya beberapa hari ini dengan mencoba beberapa resep kekinian dengan hasil yang kece berat. Burnt Cheese Cake, Volcano Garlic Bread, dan Camembert Noix it is, guys!

Wow! Your cake and breads are awesome, Bunda! So yummy!” dan ini yang membuat saya makin bersemangat mencoba banyak hal baru.

Jadi … masih mau bilang enggak suka bikin ini itu? Cobaaaa kenalan duluuu.

Love, Rere