Harus Bahagia


Harus Bahagia

Rasanya enggak akan bosan saya menggaungkan kata ini.

Bahagia.

Bagaimana cara menemukannya? Gampang. Banyak bersyukur, dan jangan sombong.

Bener deh, hidup kita tu bisa dengan mudah dibolak balik macem tahu walik oleh Sang Empunya Hidup. Sedetik kita ketawa, detik berikutnya kita mungkin menangis tersedu.

Jadi rasanya kita ini gak punya alasan buat sombong pada orang lain. Harta, tahta, jabatan, bahkan yang tercinta bisa dengan mudah diambil tanpa banyak kata.

So be kind and don’t hold grudges.

Setelah itu baru esensi bahagia kita dapat dengan mudah. Melihat orang lain bahagia, kita ikut bahagia. Melihat teman tanpa airmata, kita ikut bersuka. Melihat hal sekecil apapun, kita pasti senang dan makin menghargai hidup.

Jika hidupmu kelabu
Jika hatimu sendu
Coba tersenyum dan bilang I love you

I love you, self
I love you, life
I love you, people
I love you, universe

Yuk, mulai berbagi hal-hal baik yang kelak kita syukuri ketika memorinya muncul kembali.

Yuk, mulai biasakan berbahasa dengan santun, yang kelak kita syukuri impact-nya pada lingkungan.

Yuk, beri contoh anak-anak di rumah cara menyebar kebaikan dan kebahagiaan, yang kelak kita rasakan di damainya dunia.

Harus bahagia, ya!

Share love not hate,
Rere

Harus Bahagia – Yura Yunita (Cover)

DIRA – Hitam Putih Perempuan


DIRA – Hitam Putih Perempuan

“Dir, eee … Dena, Dena Dir.”
“Raka? Dena kenapa?”
“Dibawa ambulance ke rumah sakit. Tolong Dir. Aku bingung harus gimana.”
“Ah! Dasar lu! Sama aja laki di mana-mana! Tunggu gue dateng sebentar lagi. Gue coba hubungi Liana, Vini, dan Tari dulu.”

Menyeret langkah, Dira bangun dari atas tempat tidur sambil menahan sakit di kepalanya.

“Tsk! Masih berdarah lagi!” bisiknya sambil berjalan perlahan menuju toilet lalu membasuh wajahnya dengan air keran. Bercak merah pun memercik ke dalam wastafel berwarna putih di dalam kamar mandi luas itu.

Dira meringis kesakitan. Airmatanya pun tumpah tanpa tertahan. “Diam, Dira! Hapus airmatamu!” Hardiknya pada sosok di cermin dengan mata lebam dan kening berhias luka menganga itu. “Ini toh bukan yang pertama kali! Diam!”

Alam, sang suami, sebenarnya lelaki baik dan sangat penyayang. Ia begitu memuja Dira yang ditatapnya pertama kali di ruang kantor mewah tampatnya duduk menjadi pimpinan sebuah perusahaan. Dira masih sangat muda ketika datang untung memenuhi panggilan wawancara kerja di kantornya. Cantik, langsing, cerdas, dan sangat memikat. Alam langsung jatuh hati dan menjadikan perempuan muda itu sekretaris pribadinya.

Dibawanya Dira kemana pun ia berdinas bahkan hingga ke luar negeri. Kedekatan yang kemudian menjadikan mereka berdua bak sepasang kekasih. Sudah bukan rahasia lagi di kantor ketika itu. Karena siapapun bisa melihat dengan jelas bagaimana hubungan terlarang yang terjalin antara sang pimpina dengan sekretaris cantiknya.

Hubungan terlarang yang kemudian tercium istri sah Alam yang datang melabrak Dira hingga keributan besar pun terjadi. Alam lalu memberhentikan kekasih gelapnya itu dari pekerjaannya dan menikahinya secara siri, tanpa diketahui sang istri.

Sebuah rumah mewah, beberapa kendaraan berharga fantastis diberikan Alam pada Dira yang kemudian mendadak hidup senang. Dira memang tumbuh dalam keadaan serba kekurangan. Ibunya hanyalah seorang pemilik toko kelontong kecil di kampung tempatnya dibesarkan. Ia membesarkan Dira seorang diri karena tidak tahu siapa lelaki yang dengan keji telah merenggut masa depannya dulu. Ia hanya ingat sepasang lengan yang kuat membekap dan menutup wajahnya dengan sebuah kain. Hanya deru mobil yang didengarnya terakhir kali sebelum ia lemas tak sadarkan diri, dan ketika sadar ia sudah berada di sebuah rumah tua dalam keadaan mengenaskan.

Sekuat tenaga ia membesarkan Dira yang tumbuh menjadi seorang gadis cantik berambut kemerahan dan kulit putih bersih. Keberuntungan lah yang lalu membawa Dira hingga ia mampu menapakkan kaki di ibukota yang terkenal kejam. Sampai di hari ia bertemu dengan Alam yang begitu tampan dan membuatnya jatuh cinta.

Dira sang anak kampung menjelma menjadi sosialita dengan pergaulan luas. Berlibur ke luar negeri, bergelimang kemewahan, begitulah ia sekarang. Walau tak banyak orang tahu bahwa Alam kerap menyiksa Dira bahkan melarangnya memiliki keturunan. Siksaan yang diterima Dira bertahun-tahun hingga ia merasa kebal dan tak lagi menangis.

Dalam pikirannya hanyalah bertahan hidup demi sang ibu yang sudah sakit-sakitan karena usia lanjut. Dira menahan semua sakit dan selalu menceritakan betapa sempurna hidupnya pada teman-temannya. Kesempurnaan semu namun cukup membuatnya terhibur dan melupakan kesepian hati terutama kekejaman sang suami. Suami yang dicintainya dengan sepenuh hati meski sadar tak akan pernah utuh dimiliki.

Segala cara telah dilakukan untuk memaksa Alam meninggalkan istri sahnya seperti janjinya pada Dira dulu. Alam bergeming, “Aku masih mencintai istriku namun aku tak bisa melepaskanmu.”

Setelah membasuh mukanya dan membubuhkan riasan tipis, Dira membuka sebuah laci yang selalu dikunci. Tangannya mengelus perlahan sebuah kotak berwarna hitam sambil menghela nafas panjang. “Belum lagi, Dira. Belum waktunya,” desisnya sambil menatap cermin.

“Dir, mata lu kenapa? Kenapa Dir?”
“Eh, eee … enggak apa-apa Li. Tadi pagi gue terantuk pintu tanpa sengaja. Sudah enggak apa-apa. Sini deh. Dena pernah cerita apa sama lu? Rasanya dia baik-baik saja kemarin.”
“Dir, lu jawab dulu pertanyaan gue. Kenapa mata lu? Jangan bohong! Lu pikir gue percaya lebam begitu karena pintu? Astaga! Dahi lu Dir! Berdarah!”
“Gue, gue enggak apa-apa Li. Bener deh.”

… kemudian pandangan Dira menghitam. Ia jatuh pingsan.

(Bersambung)

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Tanya Hati – Pasto (Cover)

Liana – Hitam Putih Perempuan


Liana – Hitam Putih Perempuan

“Li, Dena masuk ICU! Gue tunggu di rumah sakit sekarang!”

Dena … Liana tersentak membaca sebaris pesan singkat yang baru saja dikirim Dira, sahabatnya. Dena? ICU?

Jantung Liana seketika berdebar sangat kencang, lututnya lemas, pandangannya gelap. Mimpi buruk itu kembali lagi.

“Li, Dio masuk ICU! Dia tiba-tiba jatuh waktu sedang mimpin rapat. Gue di rumah sakit sekarang. Kalau bisa cari flight ke Jakarta secepatnya!”

Liana tak ingat lagi kalimat apa yang dibacanya setelah itu. Tiba-tiba saja ia sudah terbaring di sebuah ruangan, dikelilingi beberapa teman yang pergi berlibur ke Bali dengannya waktu itu. Liburan yang seharusnya menyenangkan sebelum ia mengambil cuti hamil panjang.

Dio memang mengijinkan Liana yang tengah hamil untuk menikmati liburan bersama beberapa teman perempuannya. Liana sebenarnya tidak ingin pergi, namun Dio yang justru memintanya berangkat agar Liana bisa beristirahat dari kesibukan kerjanya. Ia meminta maaf karena tidak bisa mendampingi sang istri. Kesibukannya di kantor sangat menyita waktu.

Janin di perut Liana adalah hadiah pernikahan ke 12 tahun mereka. Ya, selama 12 tahun segala daya upaya dilakukan Dio dan Liana untuk memperoleh keturunan. Tak sedikit suara sumbang dan nada sinis didengar Liana. Sang ibu mertua bahkan terang-terangan menyuruh Dio untuk mencari istri ke-dua. Rencana yang ditolak mentah-mentah oleh Dio.

Liana mengalami depresi hingga kesehatan rahimnya makin terganggu. Mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kota kelahiran Dio dan mencari pekerjaan di Jakarta. Nasib baik memang mengiringi mereka berdua karena Dio dan Liana akhirnya bisa menduduki jabatan tinggi di tempat kerjanya masing-masing. Hingga memiliki keturunan sudah tidak lagi menjadi mimpi mereka berdua.

Meski begitu, Dio adalah lelaki baik yang sangat mencintai sang istri. Meski tidak seorang bayi pun dipersembahkan Liana dalam kehidupan mereka. Liana sangat bersyukur memiliki Dio sebagai pasangan hidup. Hingga tanpa disadari menginjak tahun ke 12 pernikahan mereka, Liana hamil. Berita yang tentu saja membuat Dio sangat bahagia.

Bulan depan adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 12. Rencananya Dio akan menyusul Liana, kemudian berada di Bali hingga tiba saatnya ia melahirkan. Namun sebaris pesan singkat yang dikirim seorang sahabat menjadi awal mimpi buruk Liana.

Setelah siuman dan merasa kuat Liana mengambil penerbangan terakhir ke Jakarta. Airmata tak henti mengalir sepanjang perjalanan yang dirasanya begitu lama. Perasaannya tidak enak, jantungnya berdebar, dan di satu saat ia merasa ada yang hilang.

Setibanya di rumah sakit, seluruh keluarga telah berkumpul dan sang ibu mertua dilihatnya menangis histeris. Melihat kedatangan Liana, matanya memerah lalu ia menghampiri dan menampar pipinya.

“Istri macam apa kau ini? Suamimu bekerja keras di Jakarta, kau asik-asikan liburan di Bali! Sekarang lihat! Lihat! Anakku mati! Mati!”

Tak dirasakannya perih pipi yang tertampar, mata Liana mencari-cari keberadaan Dio. Suami terkasih yang ditemuinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Liana menjerit lalu tergeletak jatuh ke lantai.

Hari itu juga, dokter terpaksa melakukan operasi Caesar karena air ketuban Liana pecah sebelum waktunya. Dio pergi tanpa sempat melihat sang putra tampan yang oleh Liana diberi nama Al Dio, Anak Lelaki Dio.

Bocah tampan yang kini telah beranjak dewasa dan menjadi pelindung bagi sang ibu sepeninggal ayah, yang tidak pernah dilihat wajahnya. Liana memutuskan untuk tidak mencari pengganti Dio sampai kapanpun. Ia membesarkan Dio kecil seorang diri dan bekerja keras demi menghidupi mereka berdua. Sementara seluruh harta benda yang ditinggalkan sang suami, habis dikuras sang ibu mertua.

“Dena … astaga! Apa yang kamu lakukan? Raka! Apa yang terjadi?”
“Dena … Dena berusaha bunuh diri, Li. Aku … aku enggak tahu kenapa.”
“Kamu suaminya, sialan! Bagaimana mungkin kamu tak tahu apa yang terjadi pada istrimu sendiri!”
“Aku … aku …”
“Ah! Diem lu! Dena … Dena … Dira, apa yang terjadi?”

Dira menatap Liana dengan pandangan kosong. Di bawah matanya tampak bekas lebam berwarna kebiruan.

(Bersambung)

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Dua Belas Tahun Terindah – BCL (Cover)

DENA – Hitam Putih Perempuan


DENA – Hitam Putih Perempuan

“Maaaa, mana jaketku? Udah telat nih!”
“Maaaa, tadi aku taro kacamata di meja kok hilang?”
“Maaaa, tolong setrika baju Papa yg ini dulu dong. Enggak mau ah pakai yang udah disetrika itu.”

Dena, sedari pagi sudah bangun. Dengan gerakan super cepat ia menyiapkan sarapan, bekal ke sekolah kedua anak kembarnya, serta bekal suami ke kantor. Ya, mereka semua malas pergi ke kantin hingga meminta Dena menyiapkan bekal untuk makan di siang hari.

Dena melakukan semuanya dengan tulus hati. Walau hidupnya berubah 360 derajat sejak memutuskan berhenti dari pekerjaan terdahulunya. Di masa muda, Dena adalah seorang awak kabin sebuah maskapai internasional. Penampilannya selalu glamour dan memikat. Sepatu berhak tinggi, tas tangan bermerk mahal, make up cantik, serta keluar masuk pusat perbelanjaan terkenal adalah kesehariannya.

Bertemu dengan Raka, yang kemudian menjadi suaminya, benar-benar merubah sudut pandang Dena tentang kehidupan. Ia rela berhenti dari pekerjaan yang membawanya keliling dunia dan bergelimang harta. Tak lagi dipedulikannya semua harta dunia. Apalagi selepas menikah, ia mengandung anak kembar lelaki dan perempuan. Tora dan Tiara, semakin melengkapi hidupnya.

Hidup yang kemudian ternyata membuatnya berubah. Dena tidak lagi mempedulikan dirinya sendiri. Hidupnya adalah melulu tentang Raka, Tora, dan Tiara saja.

Raka bukanlah lelaki yang romantis. Ia tidak pernah mengingat hari lahir Dena yang dulu selalu dirayakan dengan meriah. Jangankan hadiah, seikat bunga pun rasanya hanya diterima Dena di tahun pertama pernikahan mereka. Dena berusaha memahami dan tidak ingin merusak janjinya untuk tulus mengabdi pada keluarga. Ia ingin menjadi ibu dan istri yang terbaik bagi keluarga.

Kemarin ia bertemu dengan 4 sahabatnya, Dira, Tari, Vini, dan Liana. Berbeda dengan Dena, mereka ber 4 adalah para pengusaha terkenal dan sosialita cantik yang kerap menghabiskan waktu di sebuah kafe. Dena yang paling sering menolak acara kumpul-kumpul itu. Ia kehilangan rasa percaya diri yang dulu begitu penuh ia miliki.

“Dena! Bajumu enggak banget sih! Emang si Raka enggak pernah beliin kamu baju baru? Tiap ketemu itu saja yang kamu pakai!”

Dira, memang selalu outspoken karena menganggap Dena sudah seperti saudara sendiri. Tanpa sadar ia menorehkan luka di hati Dena. Gaji Raka memang tidak akan cukup memenuhi gaya hidup seorang istri pengusaha terkenal seperti Dira. Namun ia adalah teman yang baik. Dira hanya khawatir melihat perubahan pada diri Dena, sang sahabat.

Pagi itu perasaan Dena memang sedang tidak karuan. Ia merasa semakin tidak dianggap di rumahnya sendiri. Kedua anak kembarnya hanya mencari ketika mereka butuh bantuan sang mama untuk mencari barang yang hilang. Sementara Raka hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak dipedulikannya Dena yang kerepotan membersihkan rumah sendiri atau ketika ia harus mondar-mandir mengantar kedua anaknya ke tempat belajar yang berbeda. Padahal ia masih harus pulang lalu memasak makanan untuk semua.

Dena terlalu lelah. Ia menolak berpikir bahwa ia tidak bahagia. Ia takut mengungkapkan isi hatinya karena tidak ingin ada keributan di rumah. Ia tidak ingin dianggap istri yang tak tahu bersyukur. Ia tak ingin menjadi contoh ibu yang banyak mengeluh. Ia ingin terlihat sebagai perempuan yang kuat dan mampu menyelesaikan segala hal sendiri. Ia lupa, dirinya juga seorang manusia, bukan robot yang tanpa rasa.

Berbicara dengan 4 sahabatnya tidak juga mengisi ruang kosong di hatinya. Dira selalu sibuk menceritakan tentang hidupnya yang sempurna. Suami tampan yang kaya raya dan putri tunggalnya yang manis dan pintar. Tari, juga sibuk bercerita tentang bisnisnya yang tersebar di mana-mana dan keluarganya yang sangat harmonis. Vini, adalah sahabatnya yang selalu penuh keberuntungan sejak dulu. Ia juga tidak lagi bekerja sama seperti Dena. Namun suaminya sangat baik dan romantis hingga sang istri selalu diajak berlibur ke luar negeri dan dilimpahi banyak materi. Liana? Sang pengusaha terkenal, yang meskipun hidup sendirian namun tidak nampak kesepian karena kesibukan yang sangat padat.

Dena memandang kedua anak kembarnya yang sedang sarapan, lalu melihat ke arah Raka yang tampak necis dalam balutan pakaian kerja. Ia sedang menyesap kopinya sambil membaca koran. Dena lalu melangkah ke dalam kamar dan melihat pantulannya sendiri ke arah cermin. Rambutnya yang penuh uban, berantakan, wajah pucat dan penuh garis halus, serta sebuah daster lusuh melengkapi penampilannya setiap hari. Tak seorang pun menyadari perubahan sikap Dena yang semakin diam tanpa suara di rumah.

Bulir bening mengalir di pipinya. “Apa yang terjadi padaku?” bisik Dena pelan.

“Maaaa, kita berangkat ya.”
“Iya Nak. Pa, Mama mau mandi ya.”
“Bye, Ma.”

Dena memandang ke lantai bawah sambil melihat mobil Raka meninggalkan rumah. “Mereka tidak membutuhkanku lagi, tidak mencintaiku,” gumam Dena pelan.

“Mamaaaa aku ada tugas sekolah ya. Jangan diganggu.”
“Ma, Tora belajar bareng temen di kafe Cinta ya.”
“Ma, Papa ada rapat. Pulang lambat. Enggak usah ditungguin.”

Dena menenggak butir pil terakhirnya lalu tubuhnya mengejang, dan mulutnya merintih pelan sambil mengeluarkan busa. Matanya terpejam perlahan, ia merasa tenang.

(Bersambung)

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Human – Christina Perri (Cover)

Tujuh Puluh Lima


Tujuh Puluh Lima

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang

Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Tercekat dan bergetar rasa hati setiap kali mendengar lagu ini bergema. Bukan hanya karena indahnya kata dan syahdunya nada, namun semata karena rindu yang begitu kuat merebak.

Berada jauh dari sanak saudara dan tanah air tercinta, tidak pernah menyurutkan rasa cinta kami semua pada Indonesia. Ibu pertiwi tempat kami pertama kali merasakan segarnya udara dan indahnya warna warni dunia.

Bersama kami menyatakan cinta dan rasa untukmu negeri tercinta, yang hari ini semakin menua. Tujuh puluh lima tahun sudah, semoga tetap jaya dan bersama kita bersatu, merajut asa dalam perbedaan … dengan penuh cinta.

Salam persatuan dari kami, para ibu perantau, asal Indonesia.

Merdeka! 🇲🇨

Tanah Air – Ibu Sud

P A M I T


P A M I T

“Aku pergi dulu.”
“Eh, kemana Mas?”
“Hubungan ini enggak akan mulus. Harus diakhiri demi kebaikan kita berdua.”
“Mas …”

“Sum! Sum! Ngelamun! Ayo kerja!”

Bentakan Tuan Hadi membuyarkan lamunan Sumini. Ia kembali melanjutkan tugasnya mengepel lantai ruangan kantor megah itu.

Airmata mengalir dari sudut matanya. Betapa ia sangat merindukan aroma khas yang selalu datang dari tubuh sang suami, Manto. Sumanto, lelaki yang telah didampinginya selama 24 tahun masa pernikahan dengan segala pasang surutnya.

Dua puluh empat tahun lalu mereka mengikat janji dalam segala keterbatasan. Manto hanyalah pegawai kecil pada sebuah perusahaan percetakan. Gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari mereka berdua. Selama itu pun Sumini tidak pernah sama sekali mengeluhkan nasibnya. Walau hanya tinggal di sebuah rumah petak dan tidur di atas sebuah kasur sederhana.

Manto adalah lelaki baik hati yang selalu membuat Sumini merasa sangat beruntung meski hidup serba pas-pasan. Mereka sangat bahagia terutama setelah di tahun ke-10 pernikahan mereka, seorang bocah lelaki muncul sebagai cahaya yang semakin menyinari kehidupan. Damar, begitu nama yang mereka sematkan, berarti obor dalam bahasa Jawa. Ia memang terbukti menerangi kehidupan mereka setelah kelahirannya.

Sebagai pegawai rendahan, Sumanto sangat rajin dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Hingga ketika sang pemilik percetakan beranjak tua dan mulai lemah, ia mempercayakan laju perusahaan padanya. Keberuntungan memang nyata berpihak pada Sumanto, karena sang pemilik adalah seorang lelaki yang melajang hingga di renta usianya. Sumanto adalah satu-satunya orang yang dengan setia menemani hingga akhir hayatnya.

Kehidupan Sumini dan Sumanto pun berubah membaik di tahun ke 20 pernikahan. Mereka tidak lagi perlu menahan segala keinginan, dan bisa makan apapun yang mereka inginkan. Sang putra, Damar, kini duduk di bangku sekolah menengah dan menjadi salah satu murid terpandai dengan prestasi baik di kelasnya.

Namun, seiring dengan kemakmuran hidupnya, Sumini mulai merasakan perubahan pada diri Manto. Lelaki yang kini tampak semakin muda dengan tubuh terjaga dan wangi parfum yang semerbak itu terasa semakin jauh. Ia tidak lagi pernah bertanya ke mana dan sedang apa istrinya. Rapat di sana, rapat di sini, itu selalu jawaban yang didapat Sumini. Namun perasaan aneh itu kerap ditepis dan Sumini menyibukkan diri dengan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, demi menyenangkan sang suami.

Bulan depan adalah ulang tahun perkawinan perak Sumini dan Sumanto. Sederet rencana sudah disusun dengan matang oleh Sumini. Sebuah restoran megah dengan hiasan cantik akan menjadi tempat mereka makan malam berdua. Damar bahkan telah menyiapkan sebuah hadiah istimewa untuk kedua orang tuanya.

Hingga malam itu sebuah kejadian menghempas rencana indah Sumini dan Damar. Sang bapak memilih untuk pergi meninggalkan rumah dengan alasan pernikahan mereka adalah sebuah beban. Sumini terhenyak, ia tak kuasa menahan tangis. Damar tampak tegar dan memeluk sang ibu dengan tangan kecilnya, erat sekali.

Entah apa yang ada di benak Manto. Ia seperti lupa bagaimana sang istri dengan setia mendampinginya di kala susah, dan tanpa ragu menghempas ketika dirinya semakin bersinar terang. Sumini hanya mampu pasrah. Namun tidak demikian dengan Damar. Ia yang begitu mengagumi sang bapak seperti mendapat sebuah mimpi buruk. Murid terpandai itu jatuh terpuruk. Ia bahkan harus rela mengulang pelajaran di kelas sebelumnya karena tidak mampu mengerjakan ujian akhir dengan baik.

Sumini harus keluar dari rumah mewah mereka karena kalah di pengadilan agama. Tanpa disadarinya, sang suami tidak pernah meletakkan namanya di dokumen apapun selama ini. Ia hanya memberi Sumini sejumlah uang untuk bertahan hidup, walau berjanji akan bertanggung jawab pada biaya sekolah Damar.

Janji tinggal janji … Sumini memilih pergi.

Perjuangan hidup membawanya pada pekerjaan sebagai petugas kebersihan di sebuah kantor megah di pusat kota. Damar, sang putra tercinta, memilih untuk mengakhiri hidupnya karena depresi. Sumini menemukannya sedang meregang nyawa setelah sebotol cairan pembasmi serangga masuk ke dalam tenggorokannya.

“Sum! Melamun lagi! Cepat bikinkan minuman untuk Bapak dan 2 orang tamu!”
“Oh … baik Bu.”

Ibu Sisi, sang sekretaris cantik, kali ini yang membuyarkan lamunan Sumini akan Sumanto. Sepuluh tahun berlalu namun lelaki itu dengan aroma tubuh khasnya tetap dirindukan setiap saat. Meski ia telah menorehkan luka yang begitu dalam di hati Sumini.

“Permisi, Pak. Ini minumannya.”
“Letakkan saja di atas meja, Sum. Terima kasih.”

BRAKK!

Nampan berisi 3 cangkir minuman panas itu terjatuh bersamaan dengan terhuyungnya tubuh Sumini yang mendadak hilang kesadaran.

“Astaga! Sum!”
“Aduh! Massss! Bajuku basahhhh ketumpahan minuman! Aaaaaahhh! Gimana sih pembantumu Mas Hadi!”
“Aduh maaf Dik Sinta, Mas Anto. Maaf. Sum! Sum! Pak Satpam angkat ini si Sumini! Sum! Bangun!”

“Mas … Ma … Manto.”

Sumini … pergi dalam diam. Ia terkena serangan stroke setelah melihat Sumanto bersama seorang wanita bernama Sinta, istri barunya. Kekasih gelapnya sejak Sumini mengandung Damar … yang sinarnya telah redup lebih dulu dalam kesunyian.

Tamat.

“No matter what I say or do,
I’ll still feel you here ’till the moment I’m gone.”
(Sara Bareilles)

Gravity – Sara Bareilles (Cover)

Love, Rere

Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?


Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?

Perantau seperti saya dan beberapa teman, memang harus rela berkorban. Dengan atau tanpa adanya pandemi, kami kadang harus rela berjauhan diri. Dengan keluarga dan kampung sendiri.

Menjalani puasa dengan keterbatasan, bahkan lebaran kali ini tidak bisa mudik seperti biasa. Yah, apa mau dikata? Lebih baik menurut aturan saja.

Lebaran yang dinanti-nanti karena ingin saling mengucap maaf atas khilaf diri. Setahun hanya sekali. Itupun tidak bisa juga kali ini.

Jangan sedih ya, Eyang. Kita masih bisa bertatap muka melalui layar untuk mengatakan sayang. Nanti kalau situasi sudah reda, kami siap berlayar. Untuk mencium tanganmu dan meminta restu demi menjalani kehidupan dengan tegar.

Susah, Eyang.

Susah hati berjauhan seperti ini. Begitu lama rasanya menanti, untuk bisa berkumpul kembali. Karena sejak kuliah sudah memilih pergi, hingga berkeluarga kita tetap tak bisa berdekatan setiap hari.

Duhai ayah bunda, ampunkan ananda tak dapat beraya bersama. Jauh dari mata dekat dalam jiwa, teduh kasihku tidak berubah.

Berbahagia jika kalian selalu bisa berdekatan. Dengan orang tua di kampung halaman. Karena rasanya sangat berbeda kala berjauhan.

Sayangi mereka, hormati senantiasa. Karena padanya ada keberkahan yang akan selalu terbawa. Percayalah, hidup ini akan hampa tanpa doa dan restu mereka.

Sayu, hati ini makin sayu. Rindu, padamu dan rumah sederhanamu … selalu.

Taqobalallahu minna wa minkum.
Selamat merayakan kebahagiaan bersama keluarga tercinta … di rumah saja.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #ReReynilda

Hey C, kapan kau pergi?


Hey C, kapan kau pergi?

GAC nyanyi bertiga
Saya dong ber-sembilan saja
Jangan sedih dan gundah gulana
Tetep semangat dan harus bahagia

Daripada pusing di rumah melulu
Mending bikin sesuatu
Mungkin coba resep masakan baru
Kalau sudah jadi, saya dikirimin juga mau

Hey C ... oh ... Si Corona
Kapankah dirimu berakhir dan perginya?
Rasanya hidup ini hampa
Mengetahui Lebaran akan berlalu tanpa anjangsana

Namun darimu kami semua belajar
Apa artinya kekuatan dan bertahan 
Darimu pula kami tahu
Bagaimana harus baik berlaku

Karenamu juga kami jadi tahu
Bahwa Sang Pencipta itu letaknya di kalbu
Bukan di dalam gedung
Atau di atas hamparan sesuatu

Bumi pun sementara beristirahat tenang
Membersihkan diri yang selama ini teraniaya
Karena ulah manusia yang tinggal di atasnya
Bahkan langit kini berwarna biru terang

Kini kita hanya mampu berdamai dengan keadaan
Merubah kebiasaan yang tidak sepadan
Lalu membawanya senantiasa dalam kehidupan
Untuk ingat bersih, hidup sehat, dan menyebarkan kebaikan

Jangan gundah dan terjebak lama dalam kesedihan
Semua pasti bertemu jalan
Seperti janji-Nya dalam kitab pegangan
IA hanya merubah nasib jika ada usaha dan keyakinan

Bahagia selalu
Jaga diri dan kesehatanmu
Jangan putus asa
Jika pintumu tertutup, ada pintu lain terbuka

Love, R
#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda
Bahagia – Cover

Kalangkang – Khayalan


Kalangkang – Khayalan

Saya mengenal lagu ini dari papa saya yang bersuku Sunda. Namun, saya tidak mengerti artinya karena juga tidak bisa berbahasa Sunda sama sekali.

Dinyanyikan oleh Nining Meida dan dirilis pada sekitar tahun 1988, ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar, lagu ini sempat menjadi hits dengan angka penjualan tinggi untuk kategori lagu daerah. Iramanya yang mendayu dan suara sang penyanyi yang merdu begitu saya ingat dan hapal di luar kepala, meskipun tidak paham artinya. Mendengarnya kembali seperti melempar saya ke masa kecil ketika papa memutar kaset ini di radio tua kesayangannya.

Menemukan lagu ini kembali di sebuah aplikasi bernyanyi membuat saya ingin mendedikasikannya untuk papa. Sekarang saya sudah tahu artinya, Pa. Terima kasih pada kemudahan teknologi masa kini. Hihihi.

Kalangkang berarti khayalan, atau bayangan. Sesuai dengan isi lagu ini yang merupakan ungkapan hati seorang lelaki pada wanita pujaannya. Khayalannya tentang si dia yang wajahnya manis dan rambutnya panjang melambai, kemudian menjadi kenyataan.

Seperti hidup, yang seringkali berawal dari mimpi dan harapan, kemudian menjadi kenyataan. Tentu saja diiringi dengan kerja keras ya. Mari bersenandung bersama!

Kalangkang (Nining Meida)

Mungguhing dina impenan
Tinggi nya lamunan kita

Geuning sakitu deudeuhna
Ternyata hati ini begitu dalam sayangnya

Kanyaah nu wening bersih
Rasa cinta kasih yang begitu dalam jernih dan tulus bersih

Satia jadi kakasih
Ku kan setia menjadi kekasih

Mungguhing dina impenan
Impian di dalam jiwa yang begitu tinggi

Geuning sakitu leahna
Ternyata oh begitu indahnya

Pameunteu marahmay manis
Wajah manis dan bersinarnya

Teu isin kaambung damis
Tidak canggung ku mencium pipinya

Rambut panjang nu ngarumbay
Rambutnya yang panjang melambai

Disangkeh panangan nyampay
Disangga oleh tangan yang menyambutnya

Lalaunan raray tanggah
Perlahan wajahnya mulai terpapar indah

Rangkulan karaos pageuh
Diri ku memeluknya semakin erat

Luhur pasir tepung geter
Setinggi-tinggi nya gunung, jika bertemu akan menimbulkan getaran

Perlambang asih nu mekar
Pertanda diantaranya terdapat kasih cinta yang sedang mekar

Kabagjaan nu duaan
Rasa bahagia terasa jadi satu milik berdua

Nu duaan
Milik berdua

Hanjakal, hanjakal teuing
Ku menyayangi, ku sangat menyayanginya

Endah ngan ukur kalangkang
Indah merupakan bayangan sejak dini

Harepan, harepan diri
Yang merupakan harapan diri

Sing nyanding jeung kanyataan
Namun sekarang menjadi kenyataan

Love, R

reynsdrain/rereynilda

Sumber foto dan terjemahan: Wikipedia

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda

Kalangkang – Nining Meida (Cover)

Glenn


Glenn

Saya menonton konsernya pertama kali di Esplanade ketika sedang mengandung si bungsu.

Anyep sih karena nonton sendiri dan hanya bisa heboh sendiri. Walaupun di deretan kursi saya ada beberapa nama pesohor negeri. Marini Zumarnis, Syahrini, dan beberapa sosialita yang beritanya kerap mondar mandir di jagat hiburan tanah air.

Kali ke-dua saya bertemu dengannya di sebuah Mal Jakarta, ia berdiri di depan saya ketika sedang naik eskalator. Menyesal saya tidak menyapa dan berfoto dengannya. Saya takut dengan bayangan artis pasti songong.

Saya mengenalnya dari layar kaca sewaktu ia bergabung dengan Funk Section. Lagu-lagunya juga mengiringi masa ABG saya yang lengkap dengan cerita tentang patah hati dan putus cinta. Rasanya dulu saya heran kenapa ia seperti tahu jalan hidup saya.

Mendengar kepulangannya tepat di hari ulang tahun kemarin, membuat saya jadi ikut galau dan patah hati. Kami hampir seusia, dan lelaki bersuara bak Tevin Campbell itu pun kini telah tiada.

Saya tidak akan memberikan tribute berupa lagu sedihnya yang bejibun. Saya percaya ia pergi dengan cinta. So long, Bung. Lagu-lagumu tetap akan abadi hingga kapanpun.

Love,
Reyn

A Tribute to Glenn Fredly