Tumpeng Bikin Seneng


Tumpeng Bikin Seneng

Masih ingat tumpeng mini yang waktu itu saya buat?

Padahal setelah hari itu, saya tobat bikin tumpeng, lho. Makannya 5 menit, menghiasnya bikin pinggang sakit.

Ternyata tobat saya tobat sambel. Cuma sesaat. Hahaha!

Pagi ini bukan lagi tumpeng mini saya buat, tapi tumpeng gede. Hahaha! Meski sudah mengatakan pada mamak pemesan yang kece berat, bahwa karena short notice, saya akan membuat tumpeng sederhana saja. Ternyata … saya tak tahan juga melihatnya terlalu biasa. Padahal hanya punya 1 hari persiapan saja.

Meski tak memberikan deretan pagar cantik, atau bentuk basket seperti sebelumnya, kali ini tumpeng saya penuh dengan bunga. Bak sebuah taman mini di sudut rumah yang asri. Penuh warna-warni, yang memikat hati. Semoga menu yang tersaji memikat lidah juga ya, ibu-ibu baik hati.

Terima kasih sudah memaksa saya membuat tumpeng lagi. Hahaha!

Love, Rere

SEX Education


SEX Education

Bunda, can you sign this consent paper?”
“Okay. Let me see.”

Di hadapan saya terpampang 2 lembar kertas permohonan ijin untuk anak-anak mengikuti kelas pendidikan seks.

Sebelum membubuhkan tanda tangan, saya baca kata demi kata dengan seksama. Ini persoalan penting bagi saya. Sekolah pun tidak memaksa, karenanya memberikan 2 lembar surat ijin berisi pernyataan ya atau tidak.

Di lembar tidak memberikan ijin, saya membaca beberapa alasan yang harus diberikan para orang tua. Di antaranya ada religious reason. Keren. Berarti concern beberapa orang tua benar-benar diperhatikan. Tidak dipaksa, tidak perlu anjuran, semua betul-betul terserah orang tua.

Anak-anak sudah pernah mendapat pendidikan ini ketika di Sekolah Dasar dulu. Meskipun saya yakin, bagi mereka hanya angin lalu. Belum mengerti juga pasti tentang ini itu.

Sambil memegang sebuah pena, saya bertanya pada kedua putri saya yang sudah beranjak dewasa. Tentang bagaimana pandangan mereka soal pendidikan seks ini. Mata mereka terbelalak lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengatakan, mereka tidak tahu. Mungkin malu atau segan mendengar hal itu.

“Let me tell you something about being an adult …”

Lalu mulai lah saya bercerita kenapa seorang perempuan memiliki anugrah yang datang setiap bulan. Saya mengajak mereka ber-flashback, mengenang masa-masa ketika mereka kecil dulu. Saya, si pramugari yang tadinya hanya tahu shopping, having fun, dan jalan-jalan saja, mendadak harus berjibaku ketika memutuskan menjadi seorang ibu.

Mereka masih ingat bagaimana saya mengurus sendiri 3 buah hati di rumah, mengelola rumah tangga hanya berdua sang ayah, bahkan masih sempat menerima order makanan. Saya menceritakan pada mereka segala mimpi yang saya punya ketika remaja, dan mengapa baru di usia hampir 30 saya memutuskan untuk menikah. Tentu saja dengan resiko, harus mengakhiri karir saya yang begitu fancy dan menyenangkan.

Saya mengajak mereka membayangkan ketika harus mengandung dan mengurusi anak di usia belasan karena suatu “kecelakaan”. Saya juga memberitahu mereka bagaimana jalan pintas yang terpaksa ditempuh seorang remaja demi menghilangkan “benih” yang muncul karena sebuah kebodohan.

Kemudian saya bertanya tentang mimpi-mimpi mereka di masa depan, dan bagaimana mereka harus memiliki pengetahuan yang memadai demi mencapainya. Setelah yakin bahwa mereka mengerti jika masalah seks bukan lah sesuatu yang lucu jika salah pengertian, saya baru membubuhkan tanda tangan.

Di kolom bertuliskan setuju, dan memberi ijin pada mereka berdua untuk mengikuti kelas itu. Belajar dan kenal tanggung jawab ya, Nak. Tanggung jawab pada diri sendiri yang utama.

“In order to grow, you have to give it a go.”

Love, Rere

Sang Pemenang


Sang Pemenang

Hei, bintang-bintang tampak cemerlang!
Bulan pun punya panggung untuk pamer ketampanan.
Di bawahnya, kerlap-kerlip lampu jalanan menggemaskan.
Ini adalah singa yang sama, yang kini ditatapnya dari jendela kantor lantai dua puluh enam.
Namun kini matanya justru memilih terpejam, ditariknya nafas panjang, hatinya sungguh merasa kepenuhan.

***

Tulisan kontributor satu ini memang membuat saya kagum, sejak pertama kali menerima naskahnya. Tak nampak layaknya seseorang yang baru menulis, seperti katanya dengan penuh rendah hati.

Gaya bahasa yang manis, berhias rima cantik, dan runtut dalam penyusunan, membuat saya mantap memilih naskah ini.

… daaannnn …

Ini lah naskah terbaik, antologi “Rumah Kedua”, event perdana NuBar area Luar Negeri yang berjudul “Bloom Where You Are Planted”.

Congrats Fransiska Defi! Semoga menjadi semangat untuk terus berkarya dalam menorehkan deretan aksara untuk kebaikan.

Terima kasih untuk semua kontributor Rumah Kedua. Para perempuan hebat, yang di sela-sela kesibukan hariannya, mampu berkomitmen, dan menyelesaikan tugas dengan baik tanpa banyak huru-hara.

Event perdana ini adalah bukti bahwa kami mampu menghasilkan sebuah karya. Meskipun bergelar ibu rumah tangga yang 24/7 di rumah saja.

Congrats! Untuk kita semua … para pemenang.

Love,
Rere

Serpihan Hati


Serpihan Hati

Hai, apa kabar semua?

Awal tahun ini lumayan kelabu untuk saya pribadi. Semoga tidak untukmu semua di sini.

Dimulai dengan berita masuknya papa ke rumah sakit karena terkena Covid 19. Sesuatu yang kami semua sebenarnya heran, karena beliau adalah seorang kakek berusia 70 yang sangat bugar. Olahraga tak pernah ditinggalkan dan sangat menjaga asupan makanan. Meski terbilang bandel karena kebiasaan sholat di masjid tak bisa ia tinggalkan. Meski disiplin pada protokol kesehatan.

Ala kulli haal. Semua sudah menjadi ketentuan Sang Empunya Dunia.

Kabar duka selanjutnya, datang dari seorang kakak ipar, yang buat saya, sudah seperti pengganti mama yang jauh di Jakarta. Sang putra sulung, kebanggaan kami semua, berpulang di usia yang sangat muda. Padahal almarhum baru saja merilis sebuah single bertajuk “Fly High”. Rasanya tidak percaya meski kami semua harus ikhlas menerima. Hanya doa selalu terpanjat untuknya, semoga Allah menerangi kubur dan jalannya menuju surga.

Dua berita ini membuat pertahanan saya lumayan jebol, hingga segala hal buruk yang pernah terjadi beberapa tahun belakangan, muncul tanpa bisa dicegah.

Perseteruan, fitnah keji, dan segala hal tidak menyenangkan yang selama ini saya buang serta hindari, muncul tanpa basa basi. Basi!

Meskipun cuek, berusaha memahami dan tidak mengingkari, saya tetap sakit hati. Tumbuh menjadi seorang perempuan yang belajar untuk tidak menyimpan segala hal dalam hati, dan membuat tangan yang terkepal ini harus tersembunyi, membuat saya bingung sendiri. Tidak bisa dengan lugas semua saya habisi, demi tidak menyimpan dendam dalam hati, rupanya butuh lebih dari sekedar berdamai dengan diri sendiri.

Ternyata, proses berdamai itu butuh latihan setiap hari, tanpa jeda sama sekali. Tidak mengingkari rupanya kurang cukup membuat saya memahami perlakuan beberapa orang dari masa lalu, yang sangat membuat kesal dan keki.

Pelajaran hidup yang saya dapat dari suami untuk ikhlas dan sabar, rupanya tidak cukup terpatri dalam hati. Tapi saya belajar satu hal penting, untuk tidak melayani mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Semoga mereka tidak memancing kepalan yang setengah mati saya sembunyikan ini.

As for me, saya akan mulai tahun yang sendu ini dengan lembaran demi lembaran buku yang baru lagi. Semua hal buruk yang pernah dan masih berlangsung hingga saat ini, akan jadi salah satu cerita yang ada di sudut perpustakaan hati. Tidak perlu saya robek dan bakar habis serpihannya, hanya butuh disimpan untuk menjadi senjata menghadapi esok hari.

“Oy! Gue masih berdiri dengan tegak di sini! Ape lo ape lo!”

Have a great day ahead!
Love, Rere.

COMPASSION


COMPASSION

“Why are you laughing at me?”

Begitu tanya saya pada Lana ketika ia menertawakan saya yang hampir salah masuk lift. Bukan hanya salah lift, kacamata yang bertengger di atas kepala pun meluncur jatuh ke lantai. Saya memang nampak seperti seorang yang telah berusia lanjut hari itu.

“Let me tell you something …”

Mendengarnya tertawa, saya spontan menatap dengan tajam.

Lalu meluncur lah sederet kalimat bernada ketidaksukaan saya pada perilakunya saat itu. Bukan hanya pada Lana, tapi juga pada sang kakak yang ikut tertawa.

Saya memang tidak suka anak-anak menertawai orang lain yang sedang tertimpa kesulitan. Be it jatuh, atau melakukan sebuah kesalahan.

“You shouldn’t laugh! Help out if you can.”

Daripada menertawakan, bukan kah lebih baik menolong? Siapa yang bisa memastikan, bahwa suatu hari nanti kejadian yang sama akan menimpa kita? Mungkin tiba-tiba kita terpeleset makgedabruk, jatuh di tengah keramaian, atau melakukan kesalahan tanpa sengaja.

Menunduk, mereka pun meminta maaf pada saya.

Ingat ya, Nak. Kita ini cuma manusia biasa, tempatnya salah dan khilaf. Kita bukan super heroes yang tak pernah salah, atau ahli nujum yang bisa meramal masa depan. Bayangkan, betapa sedihnya ketika kelak kita jatuh terperosok dalam sebuah lubang, dan tidak ada seorang pun mengulurkan bantuan.

Banyak tertawa memang membuat bahagia, tapi menertawakan orang lain yang sedang tertimpa kesulitan itu sangat menyebalkan.

Paling tidak bagi bunda, Nak. Jangan menganggap diri lebih sempurna dan baik dari orang lain hingga menertawakan jadi kebiasaan. Itu saja.

“Be like me, Kak. I’m very kind you know. I like to help people. Right, Bunda?”

Ya, enggak pake pamer juga kalik, Toooong.

Love,
Rere

Tulis Yang Manis


Tulis Yang Manis

“Oy! Mana setoran?”

Begitu seorang sahabat yang bertugas menjaga mading alias majalah dinding sekolah, menyapa saya pagi itu. Hmm … mungkin sekitar tahun 1992-1993.

Penuh senyum, saya serahkan 2 lembar pantun konyol, hasil ketak-ketik saya semalam, menggunakan mesin tik tua milik papa. Tentu saja saya begitu percaya diri, karena menggunakan nama samaran. Saya tidak tumbuh dewasa menjadi anak yang terlalu berani menampakkan diri. Sampai tulisan sendiri, tak mampu saya mencantumkan nama asli.

Biasanya di jam istirahat, saya akan sengaja berdiri di depan mading untuk memperhatikan reaksi siswa dan siswi. Beberapa memang rajin melihat isi mading, yang berubah hampir setiap hari. Kebanyakan tertawa ngakak melihat isi pantun saya yang kocak.

“Ini sih bener banget!” ujar seorang senior sambil tertawa, menatap pantun berisi curhat saya tentang ujian yang bikin kepala sakit luar biasa.

Menulis memang sudah jadi bagian dalam hidup ini. Anggap saja katarsis dari kebiasaan saya yang suka meringis dan ngomong sendiri. Tentu saja bertambahnya usia membuat gaya menulis saya banyak berubah. Dua pelajaran penting dalam menulis, awalnya saya dapat dari 2 orang mentor berkumis tipis.

Pelajaran pertama, saya dapat dari seseorang yang dengan baik hati menjapri dan berbagi hal penting dalam menulis.

“Menulis harus berisi, namun tidak bertujuan untuk menyerang orang lain.”

Darinya saya belajar untuk menulis karena ingin berbagi, bukan untuk menyerang atau mengkritisi. Meski terselubung, diajarkannya saya untuk menahan semua itu. Menulis dengan hati, bukan untuk puja dan puji. Bukan pula untuk menyerang si anu atau ini.

You know who you are, Kak, yang segala ilmunya saya terapkan hingga hari ini. Thank you, You!

Pelajaran kedua adalah tentang memotong tulisan. Meski kritik ini awalnya melemahkan hati, karena berbanding terbalik dengan pelajaran pertama yang saya dapati. Dengan kalimat keras, menurut saya, sang mentor berkata bahwa kalimat saya membuatnya susah bernafas.

Awalnya saya ke-GR-an mengira ia susah bernafas karena tercekat. Rupanya, ia literally susah bernafas, membaca kalimat yang begitu panjang tanpa potongan. Hahaha!

“Jangan baper!” ujar saya kepada hati serta otak yang sempat lemah dan hampir menyerah. Dengan segera, kalimat panjang itu saya potong menjadi beberapa bagian. Jadi kalian sekarang bisa benar-benar tercekat karena cerita saya yang memikat, bukan karena asma yang kumat.

Meski mengikuti beberapa tantangan menulis, saya bahkan tak pernah berfikir untuk menjadi yang terbaik. Saya hanya menulis dengan hati, untuk berbagi hal baik, atau menyimpan ilmu yang masih sedikit di dinding, sebagai pembatas diri. Agar tak perlu menyerang ke sana kemari, dan fokus saja pada cerita yang berisi.

Menulis benar-benar membuat saya banyak merubah diri. Tidak lagi sinis, namun berganti senyum manis. Tidak lagi memandang banyak hal dari sisi kritis namun lebih melankolis. Sesekali berubah mistis namun tetap bikin mringis.

Itu saja, sih. Selamat menikmati hari Minggu yang manis, dengan keluarga yang banyak mringis.

Love, Rere.

Cinta … Tanpa Suara


Cinta … Tanpa Suara

“Remember … you all must take care of Bunda, just like how she took care of you since you are small. Don’t make Bunda angry all the time, and remind her to drink water when I’m not around.”

Lamat terdengar suara lembut namun tegas itu dari pinggir tempat tidur dimana aku terbaring lemah hari itu. Sakit kepala dahsyat yang kualami pasca dirawat memang datang tanpa isyarat.

Dua hari terbaring tak berdaya memang membuatku bak mati rasa. Membuka mata saja rasanya seperti dalam kepala ada bunyi meriam berdentum tanpa jeda.

Ia … yang kudengar suaranya dalam tidur yang tak nyenyak, memang tak pernah kuceritakan dengan congkak. Tentu saja bukan karena tak cinta, tapi rasanya tak rela jika semua jadi ikut jatuh cinta.

Ia … memang tak banyak bersuara, pun tak suka dilihat banyak mata. Ia juga bukan sang pengobral cinta, namun segala ucapannya terdengar seperti obat paling manjur sedunia.

Ia … yang dulu memperjuangkan cinta, hingga rela mengarungi samudera. Tak dihiraukannya berapa besaran hanya demi bertukar sapa.

“Cinta harus diperjuangkan,” katanya.

Perjuangan yang hingga hari ini tanpa lelah ia tunjukkan. Merelakan seluruh harinya berkutat dengan pekerjaan, demi menghidupi kami semua. Tanpa lelah, tanpa pamrih, tanpa pernah berkeluh kesah.

Hidup baginya adalah keluarga. Hidup baginya adalah mengatakan cinta meski tanpa suara.

Untukmu … yang tercinta.
Yang tak pernah ingin kuberitakan ceritanya.
Karena tak ingin pada dunia, ku berbagi cinta.
Cinta yang meski tak bersuara.
Namun karenamu hidupku … sempurna.

Love, Rere

Sumber Foto: WAG

BEING INDEPENDENT


BEING INDEPENDENT

Sembunyi-sembunyi kupandangi si bungsu yang sedang menyiapkan makan malamnya sendiri.

Memasukkan olahan ayam ke dalam airfryer, menyendok nasi dari dalam periuk, daaaan menumpahkannya ke lantai dapur. Dengan cepat diletakkannya pinggan ke atas meja makan, lalu mengambil tissue dapur untuk mengangkat butiran nasi yang jatuh. Kemudian diraihnya vacuum cleaner untuk membersihkan sisa nasi yang bertebaran.

Semua dilakukannya sendiri dengan cepat. Mungkin takut bunda galaknya keburu membeliakkan mata sambil “bernyanyi” dengan suara nyaringnya.

Saya bukannya marah, malah tertawa geli. Saya memang sedang menjaga supaya sakit kepala dahsyat yang sudah 2 kali saya alami kemarin tak datang lagi. Saya tak boleh banyak mendhelik dan marah hari ini. Jadi, meskipun “getem-getem” saya hanya tepok jidat sambil meringis.

Bocah lelaki berusia 9 tahun itu memang sudah mandiri luar biasa. Kemandirian yang kerap diprotes eyang mama.

“Kasihan, masih kecil kok disuruh nyiapin makan sendiri,” begitu selalu katanya setiap kali memprotes “kekejaman” saya mendidik anak-anak.

Saya, cukup mrenges saja.

“Emang, dulu Mama enggak begitu? Malah lebih parah. Aku kemah pertama kali pas umur Rayyan gini, juga nyari barang sendiri, lho. Enggak minta tolong, dan enggak ada yang nawarin buat nolong.”

Hahaha! Eyang mama mungkin lupa betapa kerasnya ia dan papa mendidik saya dulu. Sebagai anak perempuan pertama, saya sama sekali tak bisa bermanja-manja. Meskipun membesar dengan seorang ART di rumah, segelas air pun belum pernah saya minta darinya. Saya justru harus membantu pekerjaan bibik tanpa bisa prembik-prembik.

Tenang, Rayyan.

Kelak ketika dewasa nanti, kamu pasti baru manggut-manggut sambil tersenyum simpul. Melihat beberapa teman lelakimu yang bahkan menyiapkan makannya sendiri pun tak mampu. Sementara kamu sedang asyik menggoreng masakan favoritmu, atau mungkin dengan cekatan membantu istrimu di dapur.

Kemandirian itu tak bisa dalam semalam dipelajari. Tak bisa mendadak masuk ke otak dan hati. Semua butuh waktu dan kebiasaan sejak dini. Semua butuh ibu yang nampak kejam sekali.

Seperti kejamnya eyang mama di mata bunda kecil dulu. Minta air minum pada bibik di rumah pun tercekat kelu. Malah disuruh ambil sapu dan ikut bantu-bantu.

Biar lah bunda nampak bengis kali ini. Buah manisnya akan kamu petik nanti. Janji, jangan buat susah hidup orang lain dengan tergantung pada siapa pun. Lebih baik membantu daripada minta dibantu.

Selamat Hari Ibu untukku, eyang mama, dan semua ibu yang hari ini nampak “kejam” di mata umum. Tugas kami berat, menyandang gelar yang tersemat demi menghasilkan generasi yang hebat. Generasi mandiri yang cerdas, berani, dan mampu survive menghadapi hidup yang kejam ini.

Love,
Rere

Teman Bahagia


Teman Bahagia

“Takkan pernah terlintas ‘tuk tinggalkan kamu, jauh darimu … kasihku.”

Sebaris awal lagu milik Jaz ini membuat saya sedikit merenungi acara mudik yang kerap saya lewati hanya dengan anak-anak saja selama ini. Liburan keluarga (tidak sekeluarga) yang jarang sekali saya lalui bersama suami karena sibuk dengan pekerjaannya.

Saya berusaha memaklumi. Sebagaimana ia yang juga berusaha memaklumi ketika terpaksa harus rela berpisah dengan anak-anak dan istrinya untuk waktu yang biasanya lumayan lama.

Perjalanan mudik saya dulu kerap kali mengundang kernyitan dahi beberapa orang. Menurut mereka, saya tidak seharusnya meninggalkan suami begitu lama. Saya seharusnya 24 jam, 7 hari dalam seminggu berada di sampingnya. Saya tidak seharusnya pergi tanpa didampingi olehnya.

Mereka mungkin lupa, saya juga manusia biasa.

Manusia yang butuh waktu untuk sekedar menikmati do nothing days. Manusia yang sesekali butuh merawat diri from head to toe ke sebuah tempat perawatan kecantikan. Manusia yang juga butuh bersosialisasi dengan orang lain, terutama para sahabat untuk sekedar bertukar cerita dan berbagi rasa.

Suami saya sebenarnya yang justru meminta saya untuk pergi berlibur dengan anak-anak. Ia tahu, saya juga butuh membahagiakan diri sendiri.

Apakah artinya selama ini saya tidak bahagia?

Saya sangat bahagia. Bahagia yang datang dari rasa syukur atas apa yang telah saya lalui dan miliki hingga hari ini. Namun ibarat sebuah gawai, saya juga butuh charging. Butuh sekedar keluar sebentar dari rutinitas, dan menikmati hidup sebagai seorang individu.

Saya butuh ruang.

Memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai seorang ibu dan istri, pastinya kehidupan saya berubah 180 derajat dari sebelumnya. Namun saya juga tidak ingin merampas hak sebagai seorang manusia. Saya juga berhak menikmati hari tanpa kerutan di dahi. Caranya? Pergi berlibur selama beberapa hari, bertemu orang tua dan sahabat baik, sudah cukup melegakan hati.

Terima kasih suamiku, karena sudah menempatkan istrimu di sisi bukan di belakang. Terima kasih karena sudah mengingatku sebagai seorang yang masih memiliki hak untuk bahagia. Terima kasih karena menyetujui pemahamanku, bahwa happy wife bermakna happy home. Terima kasih karena bersedia menjalani hari bersama sebagai sepasang “teman” bahagia.

“Percaya aku takkan kemana mana, setia akan ku jaga. Kita teman bahagia.”

Dedicated to my soulmate.

Soulmate aren’t just lovers. They are happy team mates!

Love, Rere

SEBELAS … LIMA BELAS … SELAMANYA


SEBELAS … LIMA BELAS … SELAMANYA

Thank you, ya, kornetnya waktu itu. Enak, deh! Aku suka,” kataku melalui sambungan telpon.
“Kornet? Kornet apa, ya?” tanyanya dengan nada kebingungan.
“Kornet, masak enggak tau? Itu lho, daging ancur dalam kaleng yang kamu bawain waktu itu.”
“Ancur itu … hancur, ya? Kornet saya belum paham … kaleng apa lagi, ya?”
“Ihhhh! Gimana, sih! Kornet, ya … kornet, lah! Kaleng masak enggak ngerti juga, sih!”
“Spell … please.”
C O R N E D Beef. Kornet.”
“Oooh, –Korndbeef. Bukan kornet, laaaah.”
“Orang Indonesia bilangnya kornet! Pokoknya kornet!” kataku mulai kesal.
“Terus, kal … kal tadi apa?”
“Kaleng? Tempatnya kornet!” jawabku dengan ketus.
So, kaleng is tin?”
“Iya! Kalengnya kornet!”
Kornd.”
“Kornet! Pokoknya kornet!”
“Ih! Kan saya bilang yang betul.”
“Biarin! Udah, ah! Aku mau berangkat kerja. Pokoknya tetep kornet! Bye!” kataku menutup telepon dengan marah.

Kami memang beda. Bukan hanya beda bahasa, namun juga karakter. Ia yang pendiam, dan aku yang tidak bisa diam. Ia yang sabar, aku yang tidak sabaran. Ia yang selalu mengalah, aku si “degil” yang tak pernah mau kalah, apalagi mengaku salah.

Setidaknya ini semua sudah tergambar lewat komunikasi fail antara kami berdua. Bahkan di minggu-minggu awal setelah kami berkenalan di dunia maya, lalu bertatap muka di dunia nyata.

Masalah kornet … errr –kornd– ini, hanya salah satu contoh kecil, yang setelah kami pikir ternyata lumayan bikin nyengir. Hahaha!

Sebelas tahun sesudah September 2005, kami yang awalnya berdua menjadi berlima. Dua putri, dan seorang putra melengkapi kehidupan. Keluarga kecil yang ramainya bak pasar malam. Tentu saja bukan tanpa kerikil dan aral.

Namun beda itu tak setengah mati berusaha kami samakan. Biarkan saja ia ada, kami hanya butuh banyak pemahaman. Seperti ia yang paham bagaimana saya mengucapkan kornet, bukan –kornd-. Saya juga belajar memahami bahwa ia tak kenal apa itu kaleng. Sedari kecil ia hanya tahu “tin“.

Apakah beda itu lantas menjadikan kami semakin jauh berjarak? Tentu saja tidak. Lalu, bagaimana cara kami menjaganya supaya tetap utuh meski tak bersuara penuh?

Beda itu jadi kekuatan kami mengajarkan anak-anak tentang warna pelangi. Dengan semburat yang tak sama, ia tetap indah dipandang mata. Mungkin jika pelangi tak berwarna-warni, ia tak akan menghiasi bumi hingga nampak berseri.

Lima belas tahun sudah hingga hari ini, dan beda itu tetap ada di sini. Saya, tidak berubah menjadi dia. Dia, tidak berubah menjadi saya. Kami tetap membawa warna sendiri, namun saling melengkapi. Hingga ketika hujan menghampiri, pelangi siap menghiasi.

Jika ia sedang menjadi api, saya akan berusaha menjadi air yang menyejukkan panas hati. Begitu pula sebaliknya. Maka, biarkan saja beda itu ada.

Untuk sebelas, lima belas … hingga selamanya.

Love, Rere

Dedicated untuk Mbak Emmy Herlina dan suami tercinta, di sebelas tahun kebersamaan. Semoga selalu mencinta di atas segala beda, hingga menuju surga bersama. Sebelas … hingga lima belas … bersama selamanya.

http://parapecintaliterasi.com