KINDNESS


KINDNESS

Bunda, when will I be able to work?”
“When you’re above 14 years old you can do some part time jobs during school holiday.”
“I can’t wait! Well of course I will still pursue my dream to be an engineer.”
“Why are you so eager to work?”
“So I can give you money that I earn
Bunda.”
“That’s sweet.”

Nak, janji saja bahwa kamu kelak jadi manusia yang banyak kawan bukan cuma bikin sawan.

Jadi manusia yang kehadirannya bikin seneng bukan senep.

Jadi manusia yang keberadaannya dirindukan bukan pingin disingkirkan.

Jadi manusia bukan butuh sekedar pintar Nak tapi juga harus baik hati dan punya empati.

Jangan jahat sama orang, kalau enggak mau kelak dijahatin.

Jangan sombong, dalam sekedip mata nasib kita bisa dibalik Sang Pencipta.

Jadi lah besar tanpa mengecilkan sesama.

Itu saja.

Love, Bunda.

IGNORE. BE HAPPY


IGNORE. BE HAPPY

“Hmmm … I’ll ignore school to be intelligent.”
“Don’t you dare!”

Hahaha! Begitulah tanggapan krucil melihat saya mengunggah status tentang IGNORANCE kemarin.

Berani-berani ignore school bisa kena jitak nanti!

Status kemarin muncul setelah saya menonton podcast seorang public figure yang sebenarnya bukan idola saya karena orangnya cenderung tengil dan sengak. Tapi saya tonton juga sih karena materinya lumayan lebih berbobot dibanding podcast seleb yang lain.

Nah, kemarin saya full nonton talk shownya dengan seorang pemuka agama yang baru saja mengalami musibah, ditusuk seseorang. Kata demi kata saya dengarkan, tak seperti biasanya. Kali ini saya benar-benar in awe. Ternganga. Kok bisa ya?

Bagaimana bisa seseorang memiliki sifat welas asih, sabar, dan gak suka ribut seperti itu? Sifat yang saya tahu hanya dimiliki seorang “manusia pilihan” Sang Pencipta.

Dari ucapan demi ucapan sang pemuka agama, saya belajar banyak sekali. Salah satunya tentang ignorance, dalam arti positif.

“Apa yang Syekh pikirkan ketika melihat si penusuk?”
“Enggak ada pikir apa-apa. Ya sudah saja, gak saya pikir lagi. Ndak pikir siapa, apa motifnya, apa alasannya, saya pikir ini takdir dari Allah. Alhamdulillah. Saya tidak mau dikaitkan dengan apapun.”

Jangankan sang host, saya saja yang mendengar sampe jaw dropped. Tak percaya. Padahal di luar sana, lisan dan tulisan, ribut tak terkendali, saling menyalahkan serta menyindir padahal belum juga paham cerita sebenarnya. Menggelikan.

Kalian belum nonton? Tonton deh. Wajib. Ini linknya https://youtu.be/6OTBeW-SIh8

Dari beliau saya akhirnya benar-benar paham, kapan kita harus bersikap acuh pada sesuatu. Terutama yang bukan menjadi urusan dan keahlian kita untuk berkomentar. Termasuk menanggapi segala jenis keributan remeh yang bisa diselesaikan dengan tanpa membesar-besarkan.

Masalah besar, kecilkan. Masalah kecil, hilangkan. Tak ada masalah? Jangan ikutan orang mengipasi masalah.

Walau rasanya masih jauh panggang dari api, paling tidak podcast sang Syekh memberi saya sudut pandang baru tentang ignorance.

Tak semua hal butuh campur tangan dan komentar kita, karena tak semua hal kita pahami dengan benar. Jadi, diam dan mengamati untuk belajar, masih jauh lebih berguna. Percayalah, banyak ribut itu tak ada gunanya kecuali ini menjadi katalisator kurangnya sesuatu dalam hidupmu. Kurang bahagia mungkin? Hingga senang melihat orang lain ribut dan ribut melihat orang lain senang menjadi pelampiasan.

Be happy … not because everything is good, but because you can see the good side of everything.

Love, Rere.

Refleksi. Manusia. Refleksi


Refleksi. Manusia. Refleksi

Refleksi
Satu kata sederhana
Terlalu sederhana hingga banyak orang lupa
Lalu memilih untuk sekedar menunjuk muka
Tentu saja selain mengarah ke dirinya
Lebih mudah, karena tak butuh kaca

Refleksi
Nyatanya tidak benar-benar sederhana
Melihat kelam dalam diri menjadi tak mudah
Mengakuinya ada, jadi tak biasa
Padahal kelam itu yang membuat dewasa
Hingga mampu memahami segala

Refleksi
Butuh diam dari banyak berulah
Butuh dengar dari sering berujar
Butuh berhenti dari menunjuk jari
Lalu mulai melihat ke dalam diri

Refleksi hanya butuh berani
Berani mengakui kelamnya diri

Refleksi hanya butuh berhenti
Berhenti melihat ke arah lain

Refleksi hanya butuh konsentrasi
Konsentrasi mengisi lubang kosong dalam hati

Refleksi bukan semula jadi
Ia butuh dilatih hingga ujung waktu sendiri

Refleksi
Membuat manusia kembali sejati
Sejatinya manusia
Bukan Tuhan bagi sesama

“The more reflective you are, the more humane you are.”

Love, Rere

Masjid Sultan – Singapore Out And About


Masjid Sultan – Singapore Out And About

Siapa tak kenal dengan bangunan bersejarah satu ini?

Sultan Mosque atau Masjid Sultan. Dipakai sebagai tempat peribadatan secara resmi pada tahun 1929. Mengambil nama Sultan Hussain yang mendirikan masjid ini sekitar tahun 1824, di samping istananya yang berlokasi di daerah Kampong Gelam. Bangunan ini lalu diabadikan sebagai monumen nasional pada tahun 1975. (Wikipedia)

Terdiri dari 2 lantai, yang bagian atasnya adalah tempat khusus beribadah kaum perempuan. Sementara tempat berwudhu dan kamar kecil ada di sisi sebelah kanannya.

Oh ya, jangan harap bisa melangkah masuk ke dalamnya jika anda tidak memakai pakaian yang rapi dan sopan. Namun jangan khawatir, para penjaga yang duduk di tangga masuk masjid telah menyediakan sarung atau abaya yang bisa anda pinjam dan kenakan jika ingin mengunjungi bagian dalam masjid.

Untuk memanjakan perut, terdapat banyak sekali restoran dan cafe di bagian luar bangunan megah ini. Mulai dari kuliner khas warga Melayu, Lebanesse, Arabs, Moroccans, India, hingga rumah makan Padang pun juga tersebar di sekitarnya. Tak ketinggalan toko-toko roti yang wanginya semerbak pun sangat menggoda untuk didatangi. Ingin membawa buah tangan untuk keluarga di rumah? Para penjaja suvenir khas negara ini pun bisa disambangi di bagian luar masjid.

Jangan lupa, segala perlengkapan umrah dan haji juga bisa didapat di sekitar bangunan ini. Harganya? Lumayan masih terjangkau lah.

Oh, jangan lupa berfoto ya. Ini adalah salah satu tempat dengan spot foto terbaik di negara ini. Pokoknya Instagrammable deh! Caelah!

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Haji Lane – Singapore Out & About


Haji Lane – Singapore Out & About

Terletak di antara gang sempit, kawasan ini memang terkenal sebagai salah satu spot foto yang instagrammable. Caelah!

Siapa mengira, bahwa di antara tahun 1800-1960an, toko-toko yang berjejer di kiri kanan itu adalah pondok tempat para jemaah haji menginap, dalam perjalanan menuju Mekkah. Demi menghemat uang saku, mereka akan berjualan apa saja yang penting laku. Dari sini lah nama Haji Lane didapat kawasan ini.

Kurun waktu 1960-1970an, tempat ini kemudian terkenal sebagai tempat belanja penduduk Melayu yang hidup kekurangan. Mereka bisa mendapat banyak barang berharga murah di sini.

Beda sekali dengan sekarang ya. Setelah menjadi salah satu spot berfoto para turis, sebuah henna sederhana yang dilukis di atas tangan bisa berharga $15-$25. Padahal cuma gambar setangkai bunga sederhana. Oh, well.

Di tempat ini bisa ditemukan banyak sekali cafe, tempat makan termasuk rumah makan Padang. Tidak ketinggalan tempat belanja barang-barang khas Turki seperti lampu-lampu cantik dan karpet indah. Pastinya beragam kain-kain cantik dengan harga yang lumayan bikin dompet mlipir cantik. Mencari wewangian atau oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah? Juga ada di sini.

Oh ya, selain Sari Ratu sebagai tujuan mengisi perut dengan cita rasa khas Indonesia, Kampung Gelam Cafe adalah salah satu tempat yang bisa dijadikan alternatif untuk menyicipi kuliner khas Melayu. Menu seperti lontong, mee siam, mee rebusnya maknyussss! Harganya pun ramah di kantong. Ada pula kuliner khas Swedia seperti Fika Cafe, atau masakan khas timur tengah. Semua berjejer rapi demi memanjakan lidah.

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Be Happy!


Be Happy!

“Ih, ngapain sih pake bulu mata palsu? Kan alami lebih baik. Coba tanya suamimu. Iya kan, suamiku? Mending tampil apa adanya seperti aku gini kan ya?”

Saya pernah mendengar seorang perempuan mengatakan ini pada sang suami tentang perempuan yang lain. Kemudian saya jadi berpikir.

Susah betul jadi perempuan. Lebih susah lagi ternyata menghadapi sesama perempuan. Menghadapi cibiran, senyum sinis, insecurity sesama kaumnya.

Tahukah kalian betapa sulitnya menjadi seorang perempuan? Tak perlu lah saya membahas tentang proses melahirkan, bagaimana rasanya mengeluarkan seorang bayi melalui lubang kecil di kemaluan, atau robekan lapis demi lapis kulit di perut yang menjadi aduhai.

Menjadi perempuan, dituntut banyak hal. Sejak gadis dituntut untuk menjaga diri. Salah jaga? Sudah pasti disalahkan.

Ketika bergelar ibu, lebih susah lagi. Setengah mati mendidik anak-anak di rumah, dan ketika mereka ke luar rumah lalu melakukan kesalahan, yang akan menjadi cibiran adalah, “Ibunya pasti gak tau cara mendidik dengan baik.”

Setiap pagi bernyanyi merdu bak kaset rusak demi mengajarkan anak-anak keahlian ini itu, dan ketika mereka tumbuh dewasa menjadi manusia malas, lagi-lagi tentunya sang ibu yang menjadi sorotan. “Ibunya gak pernah ngajarin sih. Jadi bloon semua anaknya.”

Belum lagi ketika sang belahan hati berpaling, kalimat pertama yang mungkin muncul adalah, “istrinya gak tau jaga diri dan suami sih.”

Ya, salam susah sekali jadi kami.

Berdandan sedikit cantik, dituntut tampil sederhana dan natural. Tapi melihat jidat licin, mata pasangan melirik tanpa kedip.

Berdandan sedikit lebih cantik dibanding yang lain dikatain macem lenong. Padahal keluar rumah tanpa riasan pun dapat cibiran, “dandan dikit kek. Pucet amat! Duit banyak pake tu buat perawatan atau beli skinker mahal. Lipstikan kek!”

Ya Tuhan. Mau kelean apa sik?

Ada lagi nih. Mematut diri dengan rapi dikatain macem mau ke pesta. Padahal kalau tampil slebor dianggap tidak bisa menjaga diri dan maruah suami.

Onde mande, susah kali menuruti keinginan kalian.

Jika saja kalian tahu betapa sulitnya menutup mata melihat rumah yang berantakan, anak-anak yang malas, cucian yang menggunung dan melambai minta dibelai. Belum lagi jika tiba-tiba ada pipa bocor dan harus berubah peran menjadi plumber. Jika saja kalian paham susahnya hati ini melihat kompor yang bersih karena tidak ada masakan untuk disantap hari ini. Jika saja kalian paham beban mental yang kami sandang ketika mendengar segala kritik tentang penampilan. Jika saja kalian paham betapa sulitnya mencari pakaian setelah tubuh berkali-kali mengalami pelebaran jalan.

Jika saja kalian paham … jika saja kalian menjadi perempuan.

Being a woman is never easy.
You have to think like a man, look like a young girl, but work like a horse.

Buket bunga ini untuk kalian semua kaum perempuan, para ibu, semua single moms. Love yourself no matter what. I love you all just the way you are. Dandan, gak dandan, dandan macem lenong, pake baju pesta, whatever it is. Make yourself happy! Be happy!

Love, Rere.

Olahraga Olahjiwa


Olahraga Olahjiwa

“Olahraga melulu enggak kurus-kurus.”
“Olahraga melulu ngapain, sih? Bikin capek saja.”

Bukan sekali dua saya menerima afirmasi seperti itu karena hobi saya berolahraga. Be it yoga, piloxing, zumba, saya “memaksa” diri untuk mengikuti semuanya. Lebih menggila setelah sekarang dimudahkan untuk melakukannya secara online.

Tidak ada yang pernah menyadari bahwa saya tidak hanya sedang mengolah raga namun juga berusaha mengolah jiwa.

Olahraga mengajarkan saya cara untuk berhadapan dengan rasa sakit. Bahkan mencarinya hingga ke batas yang tidak tertahan, lalu belajar menghadapi, dan menikmati setiap nyeri yang muncul kemudian.

Sama persis bak sebuah denyut kehidupan.

Kehidupan yang tidak bisa selalu senikmat dan semudah keinginan. Hidup yang lengkap dengan rasa sakit, kecewa, duka, dendam, perjuangan … hari demi hari di dalamnya. Semua rasa yang harus dihadapi dan dinikmati tanpa bisa lari atau mencari jalan lain demi menghindari.

Hidup yang memang tidak selalu sejalan dengan keinginan diri namun seringkali butuh banyak melihat dari banyak sisi. Mempertimbangkan banyak hati dan pasrah mengindahkan kemauan sendiri. Kemauan yang justru kadang berangkat dari mimpi untuk memberikan hanya yang terbaik.

Keinginan yang kadang mesti pasrah menghadapi penolakan hingga muncul kecewa dan sakit. Rasa yang harus dihadapi dengan berani, bukan memilih lari untuk menghindari. Meski sulit namun begitulah hidup ini.

Olahraga mengajarkan saya untuk mengolah semua itu. Menghadapi kecewa dan sakit tanpa perlu setengah mati berusaha untuk menolak. Mengubah rasa tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang berguna bukan sekedar keluh kesah hampa. Menyembuhkan hati dan jiwa sendiri tanpa berharap bantuan siapa.

Percayalah, harapan yang terlalu tinggi akan seseorang atau sesuatu, seringkali menjadi sumber kecewa yang menghajar tanpa ampun. Maka mencari afirmasi positif melalui kegiatan yang juga positif akan memunculkan sisi diri yang jauh dari negatif.

Jadi, masih butuh tahu kenapa saya suka sekali berolahraga padahal tubuh tidak juga mencapai bobot dan bentuk bak puluhan tahun ke belakang?

Ini lah cara saya mencintai diri dan raga yang sudah tidak lagi muda. Mengolah raga sekaligus mengolah jiwa.

Being strong is never easy, but inner strength teaches us how to deal with pain and go on despite fear.

Love, Rere.

PS:
Bakasana atau Crow Pose, adalah salah satu pose yang bagi saya pernah begitu sulit. Mengajarkan saya bagaimana menyeimbangkan raga dengan jiwa. Menggabungkan kekuatan dan keberanian.

Benefits of Crow Pose

  • Tones the abdominal wall
  • Strengthens abdominal organs to aide in lower back pain and indigestion
  • Strengthens arms
  • Stretches and strengthens the back
  • Stretches and strengthens inner thighs
  • Opens the groin
  • Strengthens the wrists
  • Builds endurance and focus – mental focus and calm

(Source: https://yogawithadriene.com/crow-pose/)

Learn. Relearn


Learn. Relearn

“Guys, do you want to bring anything for Teacher’s Day? Just choose. I can bake, cook, or if you want to give my handmade stuffs just choose whatever is on the table. There are keychains made of resin and embroidery, mask extenders, wired stuffs, I can make embroidery pouch too, or maybe macrames?”

Ini lah saatnya saya bisa tersenyum manis memandang “meja kerja” saya yang bak kapal pecah.

Ini juga saatnya saya bisa menepuk punggung sendiri sambil berkata, “hey You, good job! Ayo belajar lagi sesuatu yang baru.”

Belajar buat saya seperti tak mengenal batas. Usia yang terus bertambah, tidak pernah menghalangi langkah. Sesuatu yang baru selalu membuat saya ingin maju. Keluar dari zona nyaman adalah usaha keras saya mengalahkan malas dan ragu. Tubuh ringkih yang dari luar nampak perkasa ini pun tak pernah membuat saya mundur teratur.

Hidup rasanya terlalu berharga jika dilalui tanpa sebuah karya. Meski tampak sederhana namun saya percaya, ini lah yang membuat hidup menjadi lebih berguna. A hobby a day keeps the doldrums away, rasanya bukan hanya sekedar deretan kalimat tanpa makna.

Jadi, masih mau melewati hari tanpa melakukan apa-apa? Never stop learning, because life never stops teaching.

Happy Teacher’s Day!

Love, Rere

MARAH – Secangkir Kopi Hangat Emak


MARAH – Secangkir Kopi Hangat Emak

Terserang sinus parah sejak hari Sabtu, sempat membatasi ruang gerak saya. Karena kepala dan bagian wajah saya rasanya seperti minta dilepas. Sakit luar biasa.

Akhirnya saya hanya bisa berbaring karena menghindari minum obat. Mencoba menyembuhkan diri sendiri dengan mengatur nafas dan relaksasi. Walau akhirnya terpaksa harus menyerah dengan tablet penahan rasa nyeri.

Hari berikutnya saya menolak menyerah pada sakit ini. Bangkit dan mencoba berdiri, walau kaki bak melayang di atas bumi. Tapi saya seorang ibu, dengan janji dan amanah yang harus ditepati. Sakit ini, semoga cepat pergi.

Apa daya, beratnya kepala membuat emosi membuncah. Saya marah sekali ketika melihat rumah dalam keadaan sedikit “meriah”. Cucian baju menumpuk belum dilipat, meja makan tak beraturan, dan “kemeriahan” lainnya.

Kesal sekali rasanya. Berjalan terhuyung-huyung keluar kamar, dan mendapati rumah bak kapal pecah. Well, tidak betul-betul tampak seperti kapal yang pecah sih. Hanya mungkin bak kapal yang sedikit oleng. Sehingga beberapa barang ngeloyor pergi ke tempat yang tidak seharusnya ia berada.

Amukan saya belum berhenti di situ saja. Akhirnya kami semua berdiskusi dan berbincang di meja makan. Semua tertunduk dengan muka tegang. Hahahaha!

Saya mengajukan keberatan, atas pemandangan indah yang saya temui pagi itu. Apalagi dalam keadaan kepala bak mendengar suara perkusi beradu. Berdentum di dalam tanpa bisa berhenti bertalu.

Semua menunduk dan meneteskan airmata, ketika saya mengingatkan diri ini yang semakin bertambah tua. Malas rasanya beradu tegang dan menambah kerutan di muka. Perawatan di salon mahal, Cinta.

Perbincangan kami pun berakhir manis. Walau diiringi derai airmata dan tangis. Yang penting semua masalah selesai dengan baik, tanpa perlu menjadi sinis. Biarlah sang emak tetap tampak kinyis-kinyis. Walau seharian berdaster dan bau amis. Ihir!

Hey, Moms! Sakit itu alami, tanda kita ini manusia dengan jiwa dan hati. Katakan saja apa yang kau rasa, jangan membatasi diri. Apalagi berpura-pura tegak berdiri. Sakit, marah, bahagia, katakan saja tanpa perlu membohongi diri.

Siang menjelang, matahari pun naik dengan terang. Setelah pagi bersitegang, semua lalu berubah menjadi riang. Rumah bersih dan benderang, Emak pun tersenyum girang.

Sinus yang menyerang sejak Sabtu siang pun, berubah menjadi tawa lebar. Ketika membuka gawai yang sedari Minggu pagi itu, terus bergetar. Pertanda pesan masuk dari seseorang. Dengan mata sedikit menyipit, karena tak kuat melihat pantulan cahaya, hati ini berubah senang. Karena membaca sebuah pesan tentang keberhasilan.

Apa sih isi pesannya?

Rahasia. Tunggu saja. Kopi hangat di depan mata saya ini, sedang menunggu untuk dihirup wanginya. Kamu tunggu ceritanya lagi, esok atau lusa, ya.

Love, Rere

Menulis Ala Sang DJ


Menulis Ala Sang DJ

Menulis kok ala DJ? DJ itu kan …

Ini DJ bukan sembarang DJ, ini DJ keren bernama lengkap DeeJay Supriyanto. Saya pun tidak tahu pasti asal muasal nama salah satu dari duo founder Rumah Media Grup ini. Yang saya tahu hanya paparan beliau yang sangat membuat mata saya terbuka lebar selama 2 hari kemarin.

Dari beliau saya baru paham betul apa perbedaan fiksi, non fiksi, dan faksi. Maklum, saya hanyalah anak bawang yang sedang berjuang. Berjuang menuangkan ide dan gagasan, demi masa depan cemerlang. Caelah! Sebenarnya sih alasan utamanya semata ingin meninggalkan sederet catatan bersejarah yang bermanfaat dan berguna bagi semua. Hingga kelak bisa menjadi warisan bagi anak cucu ketika saya sudah tidak mampu lagi menuangkan isi kepala ke dalam tulisan.

Pelatihan di hari pertama sudah memberikan saya afirmasi positif, bahwa menulis adalah hobi yang mengasyikkan. Memang, menulis bagi saya sudah ibarat candu. Jika tidak menulis rasanya hidup ini makin miris. Hahaha!

Sedikit saya akan berbagi bagaimana langkah mudah membuat How Tips seperti yang dipaparkan pada pelatihan di hari pertama.

1. Menemukan ide

Caranya bisa dengan membuat daftar keahlian, menulis minat dan hal yang disukai, melakukan survey, atau dengan berselancar di dunia maya untuk mencari inspirasi.

2. Mengumpulkan data dan fakta

Kita bisa melakukan riset kecil sebelum membuat judul besar atau tentative outline. Kemudian menentukan bab atau sub bab, sebelum akhirnya menuangkan ide berupa paparan.

3. Membuat konsep tulisan

Keberadaan konsep sangat diperlukan karena berisi poin-poin penting untuk tulisan, termasuk rencana penyusunan bab dan sub bab, melalui beberapa pertanyaan.

4. Gaya bahasa

Penggunaan setiap kata harus lah mengalir, mudah dipahami dan tentunya mengandung informasi yang jelas serta akurat. Maka silahkan menentukan bagaimana gaya bahasa tulisanmu.

5. Sertakan data pendukung

Sebagai pendukung tulisan, bisa juga menyertakan visualisasi dalam bentuk foto, gambar, atau contoh kejadian.

6. Tuliskan bagian naskah dengan lengkap

Penyusunan kerangka atau outline memegang peranan penting dalam sebuah tulisan. Misalnya, urutan bab, sub bab, indeks atau daftar isi, catatan kaki, glosarium atau kamus singkat, serta profil penulis. Perlu diingat bahwa penyusunan daftar isi harus dibuat sesederhana mungkin. Jika menyertakan tabel hendaknya dibuat berurutan agar tidak membingungkan pembaca.

7. Menentukan judul

Penentuan judul ini masih bersifat tentatif atau sementara, karena pihak penerbit menjadi salah satu penentu hasil akhir judul sebuah tulisan atau buku. Tentu saja semua bergantung pada sisi komersil yang harus dihadirkan demi kepuasan pembaca.

Pelatihan di hari kedua memberikan ilmu baru tentang kinerja otak yang dibutuhkan oleh seorang penulis. Melalui sebuah tehnik sederhana yang 99% akurat, yaitu menempelkan 2 ibu jari dengan posisi satu di atas dan yang lain di bawah, akan nampak sisi otak sebelah mana yang lebih dominan pada diri seseorang.

Selain mengandalkan kinerja otak, yang tentunya bisa diasah untuk mengaktifkan ke dua belah sisi, ada 5 modal utama yang harus dimiliki oleh seorang penulis.

1. Referensi

Hal ini bisa didapat dengan banyak membaca, sehingga segala ilmu yang terdapat dari setiap bacaan itu mampu mengisi ruang kosong di dalam memori otak. Segala informasi ini akan sangat berguna untuk mengatasi kebuntuan ide yang mungkin tiba-tiba datang.

2. Silaturahmi

Siapa mengira bahwa selain memperpanjang usia dan merekatkan hubungan, silaturahmi juga mampu memperkaya pengalaman. Maka rajinlah bersilaturahmi, jangan membatasi diri dari lingkungan pertemanan, lalu serap sebanyak mungkin ilmu yang muncul.

3. Traveling

Perjalanan wisata dan penjelajahan tempat-tempat baru rupanya juga bisa membuat seseorang memiliki referensi dan memori untuk dituangkan dalam tulisan. Maka “jangan kurang piknik” rasanya tepat disematkan jika ingin memiliki banyak referensi.

4. Mengikat ide

Terkadang ide bisa muncul di mana saja dan kapanpun ketika ia ingin muncul. Untuk mengatasi berhamburannya ide sehingga lenyap sebelum sempat disantap, mulailah memiliki sebuah buku kecil sebagai tempat menambatkannya.

5. Sudut pandang

Mengidolakan seorang penulis kadang membuat kita tanpa sadar mengikuti gaya mereka. Hingga sudut pandang yang disajikan akan nampak serupa. Padahal berbeda kan seru pastinya. Maka, ubahlah arah sudut pandang dengan menyajikan ide atau tulisan yang berbeda.

Lima modal utama ini tentunya tidak akan berhasil ditampilkan ketika seorang penulis mempercayai mitos. Apa saja mitos yang harus dihindari seorang penulis?

1. Penulis butuh mood

Mood seharusnya tidak berperan dalam proses penulisan. Ketika kebuntuan datang, seorang penulis seharusnya mampu menyegarkan otak dengan cara membuka wawasan.

2. Tidak ada ide

Di dunia yang penuh warna ini seharusnya bisa memunculkan beragam ide, jika seorang penulis mampu membuka diri dan pikiran. Bergaul, membaca buku, atau sekedar piknik tipis bisa menjadi jalan menemukan ide, lho.

3. Bahasa harus indah

Jika anda adalah seorang penyair maka hasil karya anda memang butuh tulisan yang merdu, merayu nan indah. Namun untuk menuliskan sebuah ide, penggunaan bahasa yang indah tidak terlalu diperlukan. Yang utama adalah cerita yang disajikan harus mengalir dan saling berkesinambungan.

4. Memiliki bakat

Sering saya mendengar seseorang mengatakan ia tidak berbakat pada satu hal, misalnya menulis. Ketahuilah bahwa siapapun bisa menulis dan yang dibutuhkan hanya proses. Maka menulis, menulis, dan menulis lah tanpa henti untuk semakin memperhalus narasi dan diksi.

Yang Maha Kuasa menganugerahkan ciptaanNya dengan otak yang harus terus dijaga dengan diberikan nutrisi terbaik untuk membuatnya tetap hidup. Maka kewajiban kita adalah memanfaatkannya dengan terus membuka wawasan dan tidak membatasi diri.

The sky is not the limit. Your mind is. So open up your mind and enjoy the colourful life!

Menulis bukan lah semata tentang hobi atau bakat. Menulis adalah sarana latihan tanpa jeda dalam usaha untuk menuangkan gagasan dan ide, yang sumbernya banyak sekali bertebaran di muka bumi ini. Melalui tulisan dan gaya bahasa, dapat tercermin gaya kehidupan seseorang. Maka dengan apakah kita ingin diingat sebagai pribadi?

Saya pilih menulis. Kalau kamu?

Sumber: Pelatihan Menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” oleh DeeJay Supriyanto

Love, Rere