THE POWER OF IGNORANCE


THE POWER OF IGNORANCE

“Lho, kok bantalnya cuma dibungkus satu? Satu lagi mana?”

Kalian gemes liat itu bedsheet kiri kanan beda? Makin gemes melihat bantal yang tak bersarung di atasnya? Toss! Kita sama.

Tapi itu dulu.

Setelah bertahun-tahun melihat mereka sengaja memasang bedsheet berbeda untuk menandakan entah apa, sang ibu OCD memutuskan buat, “Yawes … karepmu, lah!”

Semudah itu?

Eits! Kalian pikir mudah menjalani hari sebagai seorang OCD? Jangankan cuma bedsheet yang tak sewarna dan tersusun rapi, gantungan baju tak searah pun bisa bikin mood jungkir balik.

Tapi itu dulu.

Sekarang, semua ketidakteraturan ini kuanggap terapi. Biar tak terlalu membebani diri, dengan harus begitu dan begini. Lemari bajuku pun kubiarkan tumpang tindih, meski hasrat untuk membuat rapi masih sering menghantui.

Bedsheet kedua gadis kecil itu kubiarkan saja berbeda warna. Meski dua bantal yang tak bersarung tetap kubungkus juga, setelah ngomel dari Sabang sampai Merauke di pagi buta.

Hidup harus seimbang, bukan?

Secangkir kopi and the power of ignorance jadi penyelamat melewati detik demi detik ke depan. Aku masih ingin wajah tanpa keriput berlebihan, akibat otak yang terlalu diperas habis-habisan karena OCD yang kerap membutakan.

Kamu juga, kan? 😆

Love, Rere

Mawar Terakhir


Mawar Terakhir

“Bapakmu mana, Nduk?”
“Bapak di rumah sakit Tentara, Bu. Di sana peralatannya lebih lengkap.”
“Ibu mau ketemu bapak, Nduk.”


Lirih, ibu memintaku mengantarnya ke rumah sakit tempat bapak dirawat. Padahal ia juga sedang ditempatkan di sebuah rumah sakit khusus penderita jantung. Mereka terpaksa harus berjauhan karena kondisi bapak yang semakin menurun, pasca terkena penyakit liver di hari Minggu. Pagi itu, ibu bersikeras bangun dari tempat tidurnya dan ingin menemui bapak. Lelaki, yang selama 40 tahun lebih didampinginya keluar masuk hutan, berpindah tempat penugasan. Hingga sembilan anaknya lahir di daerah yang semua berbeda.

Bapak adalah sosok suami ideal di mataku. Berperawakan tinggi besar dengan kulit kecoklatan. Sekilas ia tampak garang, namun belum pernah sekali pun ia marah atau bersikap kasar pada kami semua. Tutur katanya begitu santun, lembut, dan penuh cinta.

Kharismanya memang luar biasa. Hingga pada suatu hari, muncul sesosok wanita menggandeng seorang bocah lelaki berusia tiga tahun mungkin. Ia mengaku istri bapak kami.

Ibu begitu terkejut, dan sempat pingsan tak sadarkan diri. Tak pernah mengira, lelaki yang sangat dicintainya bahkan nampak begitu sempurna sebagai seorang suami dan ayah, tega mengkhianati. Ibu … terluka dan sejak hari itu, ia menolak tidur sekamar dengan bapak.

“Aku jijik,” katanya. Kami semua pun begitu marah pada lelaki itu, tapi luluh kala ia memohon maaf atas kesalahannya sambil berurai air mata.

Meskipun sakit hatinya begitu dalam, ibu tak pernah mengucapkan kata berpisah. Bapak juga tidak mengurangi rasa sayang, cinta, serta tanggung jawabnya pada kami semua. Ibu bertahan demi kami, sembilan putrinya yang tengah beranjak dewasa.

Hari itu kondisi ibu melemah.

“Dira, cepat datang. Kondisi bapak semakin parah. Dokter bilang, tidak ada lagi harapan.”

Vira kakak sulungku, baru saja menghubungi sambil tersedu. Ia memintaku segera datang menemui bapak, yang tak lagi punya harapan hidup. Dengan suara parau, aku meminta ijin ibu untuk keluar sebentar. Sekuat tenaga kutahan tangis dengan tubuh gemetar.

“Bu, Dira mau pulang dan mandi dulu, ya?”
“Kamu mau menemui bapak ya, Nak?”
“Ha? Oh, eh, bukan, Bu. Dira mau pulang sebentar saja. Belum mandi dari semalam, dan perut Dira keroncongan. Ibu nanti ditemani suster Ani, ya?”
“Bawa Ibu menemui bapak, Nak.”
“Tunggu Ibu kuat dulu. Dira pamit, Bu.”

Perempuan yang masih cantik di usia lanjut itu menggenggam tanganku dengan kuat. Ia bersikeras ingin ikut berangkat. Meski membenci bapak, bahkan bersikap dingin sejak hari pengkhianatan terjadi, saat itu ia terus menangis bersikeras ingin melihat sang suami. Hatiku tak karuan, perasaanku tidak enak.


“Maaf, saya dan tim telah berusaha semampu kami. Tapi bapak sudah tidak tertolong lagi. Maafkan, kami.”

Duniaku seketika gelap dan runtuh. Bapak pergi meninggalkan kami semua, tanpa sempat melambaikan salam perpisahan. Pada ibu, istri yang mendampinginya dengan setia, meski sudah diduakan hatinya.

Bingung, kalut rasanya kami semua, tak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar ini pada ibu yang ada di sana. Demi jantung yang harus dijaga, kami sepakat untuk menyembunyikan kabar duka ini darinya.

“Bapakmu sudah pergi ya, Nak?”

Aku menemui ibu sedang menangis tergugu sambil menggenggam secarik kertas berwarna biru. Di sampingnya nampak seikat bunga mawar putih, kesukaan ibu sejak muda dulu. Gemetar, aku mengusap lembut tangan kurus itu, seraya mengambil kertas yang digenggamnya kuat.


Noora, Istriku.
Maafkan segala salahku padamu.
Aku benar-benar menyesal telah mengkhianatimu.
Telah kusia-siakan cinta suci dan pengorbanan tulusmu.

Sembilan putri cantik hadiah darimu, tak juga membuatku puas.
Hasrat ingin memiliki seorang putra sebagai penerus, membuatku bablas.
Kupikir itu bahagia, ternyata hanya semu yang membias.

Aku kehilanganmu … cahaya hidupku.

Meski tak lagi kutemui Noora-ku yang penuh cinta seperti dulu, cintaku padamu takkan hilang karena itu.
Cinta yang akan kubawa hingga ujung waktuku.
Cinta yang ada di setiap kelopak mawar putih kesukaanmu.

Maafkan aku, Istriku.
Aku mencintaimu.
Selalu mencintaimu.

Bapak.

(Re Reynilda)

Takkan Hilang – Shakila (Cover)

Tulip Untuk Mamak


Tulip Untuk Mamak

“Maakk!Selamat hari Ibu, Maak. Maakk. Mana sih, Mamak, nih? Niana bawa tulip ni, Mak.”

Berjalan tertatih, Niana berteriak ke sana kemari, sambil menggenggam seikat tulip berbahan plastik. Ia keluar masuk dapur mencari keberadaan ibu yang dipanggilnya Mamak itu.

Remaja cantik berusia 15 dengan rambut keriting itu berjalan pelan, sambil menyeret kaki kanannya menggunakan tongkat buatan. Sebelah kakinya yang lain, terpaksa diamputasi karena kecelakaan mobil yang terjadi dua tahun lalu.

Ia terus berteriak mencari keberadaan sang Ibu sampai ke dalam kamar tidur utama.

“Aahhh! Ini dia. Mamak nih, Niana cari dari tadi diam saja. Mak, selamat hari Ibu, ya. Terima kasih karena telah menjaga Niana selama ini. Niana sayaang sekali sama Mamak. Niana enggak tau bagaimana kalau harus hidup sendiri, tanpa Mamak. Niana pasti bisa gila. Mamak suka enggak bunga tulipnya? Ini yang kita beli waktu itu di Keukenhof, Mak. Niana ganti terus airnya biar segar buat Mamak. Suka enggak, Mak?”

Hening.

Niana terus bercerita dengan riang, bagaimana suasana Keukenhof ketika bunga tulip bermekaran dengan warna warni yang indah. Sesekali tertawa lepas, ia terus mengungkapkan betapa senangnya menikmati setiap detik selama berada di sana.

“Mak! Diem aja, sih. Niana capek nih nyerocos terus dari tadi. Suka enggak tulipnya, Mak? Niana jaga terus nih buat Mamak, biar enggak layu. Mamak mau jalan-jalan ke Volendam lagi, enggak? Katanya kemarin masih mau naik ke atas kincir angin. Mamak sih, dibilangin jangan pake sepatu tinggi, bandel! Sakit deh, kakinya. Untung Mamak enggak gedubrakan jatuh kemarin.”

Tawa Niana terdengar lepas karena geli mengingat bagaimana sang ibu berjalan-jalan memakai sepatu tinggi, kemudian mengeluh kejang pada otot kaki.

“Niana … Sayang. Sedang apa, Nak? Dengan siapa kamu bicara?” tanya Baba.

Baba, Ayah Niana, yang hampir seluruh rambutnya telah memutih, mengetuk pintu kamar dengan pelan. Ia mendapati Niana sedang duduk di atas tempat tidur sambil tertawa lepas.

“Baba, duduk sini. Niana sedang cerita-cerita dengan Mamak, waktu kita liat tulip di Keukenhof kemarin. Tapi Mamak diam saja dari tadi. Niana baru kasih tulip, nih. Hari ini hari Ibu, lho. Baba kasih apa ke Mamak?”

Pelan, Baba menghapus airmatanya. Dengan lembut ia mengusap kepala Niana. Putri kecil yang sebelah kakinya terpaksa diamputasi. Jiwanya terganggu sejak kecelakaan yang terjadi dua tahun lalu. Sepulang dari melihat tulip yang bermekaran dengan indah di Keukenhof waktu itu.

Kecelakaan yang juga merenggut nyawa istri tercintanya.

Mamak Niana.

“Niana, Mamak sudah tiada, Nak. Ayo, doakan Mamak. Bunga tulipnya cantik sekali, Nak. Besok kita letakkan di makam Mamak, ya?”

“Baba, ngomong apa, sih? Mamak ada di sini, kok dibilang sudah tiada. Mamak baru bilang kita mau ke Volendam lagi besok. Gimana sih, Baba! Niana benci Baba!”

Amsterdam, 12 May 2019

ReReynilda

Mesin Waktu – Mawar De Jongh (Cover)

Mesin Waktu – Mawar De Jongh (Cover)

Thank You, Self!


Thank You, Self!

Hi, Ladies!

Sudah bilang terima kasih sama dirimu belum?
Sudah bilang cinta sama jiwamu?
Sudah menepuk bahu dan bilang, you are doing great, hatiku?

Meski masalah datang silih berganti, air mata jatuh tanpa bisa dibendung lagi, kecewa datang menghampiri, percayalah itu tanda kita masih punya hati.
Meski terkadang “being numb” cukup membantu melewati hari.
Jangan sering-sering, nanti rasamu jadi makin mati.

Turunkan saja ekspektasimu pada sesuatu atau seseorang itu.
Belajarlah untuk lebih banyak berdialog hanya dengan dirimu.
Nyatakan kesukaan dan ketidaksukaanmu pada banyak hal.
Jangan khawatir, tak ada yang bisa menghakimi apapun yang ada di akal.

Tak perlu banyak mengaduh atau mengadu.
Anggap saja semua masalahmu adalah cara-Nya menunjukkan kekuatanmu.
Kekuatan yang tak kau tahu hingga saatnya perlu.

Belajar juga untuk memaafkan diri sendiri, kita masih manusia ini.
Tempatnya salah dan kerap mengulangi.
Namanya juga proses mengenali diri.
Asal berani dan ingat untuk selalu mengapresiasi.
Tak perlu berharap setengah mati didapat dari orang lain.
Cukup seduh secangkir kopi seraya berbisik, “Terima kasih, DIRI!”

Love, Rere

THE FIRST TIME


THE FIRST TIME

Bersepeda, yang dulu begitu kuakrabi ketika di bangku sekolah, nyatanya menjadi sesuatu yang asing setelah beranjak dewasa.

Tangan gemetar, kaki keram, hingga berujung nyusruk di Pulau Ubin dengan luka di sepanjang paha dan lutut. Bahkan sempat mencium pohon, yang berdiri tegak tak bersalah, di pinggiran pantai East Coast. Payah!

Namun melihat teman-teman bersepeda keliling Singapura, rasanya ngiler juga. Akhirnya dua sepeda lipat bertengger manis di dalam mobil, yang sekarang lebih mirip gudang.

Penuh semangat, mulai mengayuh pedalnya pelan-pelan. Bertahan meski badan rasanya tak karuan. Pinggang, punggung, bokong, semua kesakitan. Daerah sepanjang East Coast menjadi sasaran. Sekaligus mengajarkan si bungsu bersepeda biar fun.

Hari ini pergi ke Ulu Sembawang nun jauh di sana pun dilakukan. Serunya lagi, harus bersepeda di jalanan. Meski tegang dan stress luar biasa, tetap mengayuh sambil ngos-ngosan.

There’s always the first time for everyone, kan?

Finally, bersepeda done, pergi ke jalan raya done. Tinggal menunggu keberanian melakukan perjalanan mengelilingi Singapura, yang masih butuh sejuta bekal dan kenekatan. Nantilah suatu hari … kalau nekat ini makin menjadi. 🤣

Love,
Rere

NASKAH TERBAIK


NASKAH TERBAIK

Di Persimpangan, hadir sebagai tema dari antologi ke-5, sementara Cul De Sac adalah antologi ke-6 area luar negeri Nubar Rumedia.

Muncul sebagai jawaban dari pergolakan batin jiwa-jiwa yang berada di sebuah persimpangan, dengan beberapa pilihan. Apakah akan berakhir bahagia atau pahitnya bak menelan simalakama? Atau bahkan justru tak ada jalan keluar? Buntu.

Empat puluh satu naskah tersaji, menghadirkan cerita-cerita penuh inspirasi. Ada duka, suka, air mata, hingga beragam rasa, campur aduk menjadi bumbu kehidupan. Namun satu yang sangat mencuri perhatian dari masing-masing tema.

Siapa saja mereka, para peraih trophy naskah terbaik?

https://reynsdrain.com/2021/09/05/saat-diri-harus-memilih/

https://reynsdrain.com/2021/09/05/cul-de-sac/

Selamat, untukmu, dan semua penulis yang telah meluahkan segenap rasa demi kepuasan pembaca. Kalian semua pemenang, karena berani berkontribusi dan mengalahkan ragu untuk menyelesaikan satu demi satu buku. Congrats, untukmu!

Love,
Rere

TEACHER’S DAY 2021


TEACHER’S DAY 2021

Hampir setiap tahun saya membuat sesuatu yang manis untuk para guru di sekolah anak-anak.

Tak fancy, tapi semua hasil buatan saya sendiri. Murni sebagai wujud terima kasih dan apresiasi. Bukan mudah mengajar murid yang kadang bandelnya gak ketulungan. Apalagi yang petakilan dan bawelnya seperti Rayyan.

Tahun ini saya membuatkan sebuah gantungan kunci manis dengan inisial nama mereka, dari uv resin. Bertema birunya laut, resin-resin cantik ini akan diberikan anak-anak besok pagi.

Happy Teacher’s Day!
Thank you for being the great teacher!

Love, Rere.

Tentang Cinta


Tentang Cinta

“Adek, ayo cepat! Ambil bag Bunda yang Miu Miu biru sana, atau MJ juga ada warna biru. Pake baju biru, kan?”
“Iyaaa, Maam.”
“Udah? Pake bag apa?”
“Bag yang Bunda buat.”
“Ohhh. Why?”
“Because this is your handmade. I like it. Even all of my friends liked it. They said, you’re so cool. You can make everything. Even the foods that you made, they loved it! I’m so proud of you, Bunda. I love you.”

Oh life. So beautiful, indeed.

Tas berbahan denim itu adalah hasil dedhel dhuwel dari celana jeans suami yang sudah tidak dipakai lagi. Ternyata jahitan tangan saya yang acakadut tak sempurna, bahkan tanpa pola itu, lebih dipilihnya. Ketimbang tas-tas saya yang bermerk lainnya.

Thanks, Lana. I know I raise you right.

Love, Rere

V A L U E (Sebuah Perjalanan Hidup)


V A L U E (Sebuah Perjalanan Hidup)

“Urip iku mung mampir ngombe.”

Pernah denger ungkapan dalam bahasa Jawa ini, yang artinya hidup itu cuma mampir minum saja?

Ya, bener juga. Menjalani hari hingga saat ini kadang terasa lama sekali. Namun melihat anak-anak tumbuh dewasa, rasanya waktu berlalu begitu saja. Semudah menghabiskan segelas minuman pelepas dahaga.

Sebentar lagi, tanpa terasa mereka akan lulus sekolah. Lalu kemudian bekerja, membeli rumah lantas menikah, membangun keluarga kecil hingga beranak pinak. Begitu saja sih sebenarnya hidup kita. Benar-benar ibarat segelas air yang hilang dalam setegukan. Hanya perjalanan masing-masing saja yang membedakan. Ada yang bak garis lurus, ada yang berkelok bak zig-zag, ada yang kusut di awal lalu lurus di belakang, atau sebaliknya.

Alur itu terangkum dalam sederet foto ini. Ketika seorang keponakan melepas masa lajang, saya menghadiahinya dekorasi mobil pengantin berwarna terang. Kemudian tiba giliran keponakan yang lain naik pelaminan, sebuah kotak ang paw berbentuk sepasang pengantin berbaju khas Melayu dan berkain songket jadi pilihan.

Berbulan setelah hari itu, saya kembali menghadiahi mereka dengan sebuah bingkisan berbentuk cake bertingkat. Bedanya yang ini tidak untuk dikonsumsi, karena terbuat dari susunan diaper untuk bayi. Yep, saya sudah punya cucu meskipun bukan lahir dari tiga buah hati sendiri. Belum. 😁

Jalan kehidupan kemudian akan kembali berulang, kelak saat para cucu beranjak dewasa. Ketika tiba giliran mereka naik pelaminan, mungkin saya yang akan kembali menghias mobil pengantin meski dengan tangan gemetaran. Lalu sambil membetulkan kacamata yang melorot, mungkin saya juga akan membuatkan kotak ang paw dengan hiasan yang hits nan kekinian.

Semoga … karena saya ingin hidup ini tidak cuma sekedar numpang minum tapi juga berguna, meski tak mampu muluk-muluk menawarkan bantu. Semata hanya karena ingin hidup memiliki value. Meski harus melalui jalan panjang yang berkelok, bahkan berdebu.

Life’s too short, make the most of it.

Love, Rere.

MACRAME ON SANDAL


MACRAME ON SANDAL

Leigh Wedges dari brand Crocs ini adalah sahabat saya ke sana kemari. Sandal berbahan plastik dengan hak model wedges ini sudah cocok dengan kaki. Saking cintanya, sampai punya beberapa pasang dengan warna berbeda sesuai tas yang dipakai sehari-hari. Gitu itu kalau sudah ketemu alas kaki yang nyaman, tak pernah ingin berganti model, kan?

Kalian sama enggak?

Nah, bayangkan ketika salah satu sandal kesayangan itu, kecemplung kubangan air berisi lumpur. Eh, bukan itu saja yang bikin hancur. Strapnya pun ikutan lepas! Ajur!

Kalau di Depok pasti saya sudah keplok-keplok memanggil bapak sol sepatu yang selalu mangkal depan rumah ibu. Di sini? Biayanya, tinggal ditambah sedikit saja, bisa buat beli sandal baru. Huhuhu!

Akhirnya, mengutak-atiknya jadi pilihan. Memakai tehnik macrame dengan tali kur berukuran kecil berwarna khaki, jadi tujuan.

Tadaaa … sandal buluk akhirnya jadi seperti baru. Lumayan daripada lumanyun. Ayok, kita halan-halan, Cuy!

Love, Rere