Thank You, Me


Thank You, Me

Hai, Moms!

Sudah membereskan rumah?
Sudah selesai melipat segunung baju?
Sudah memasukkan cucian kotor ke dalam mesin cuci?
Sudah masak untuk makan siang dan malam sekeluarga?

Mmm … dan untukmu sendiri bagaimana?

Sudah minum kopi pagi ini?
Sudah menyempatkan diri untuk menikmati me time?
Sudah melakukan olah tubuh dan berkeringat dengan gembira?
Sudah mengatakan cinta pada raga yang kerap kau buat bak kerja rodi seharian?

Kasihannya tubuh ini, yang kadang tanpa sadar terdzalimi.
Meski kadang begitu sakit hingga tak satu obat kimiawi menjadi remedy.

Lebih kasihan lagi jiwa ini, yang setengah mati mencoba untuk selalu tegak berdiri.
Bahkan ketika butiran bening jatuh pun, dengan segera terhapus tanpa menunggu siapapun datang dan berusaha mengusap.

Well Moms,
Ragamu yang semakin melemah tergerus usia, juga butuh perhatian.
Jiwamu yang selalu berusaha tegar juga butuh secangkir kopi untuk menghangatkan.
Cintai dirimu sama besarnya dengan cintamu pada sekitar.

Thank You, Me.
Thank you for standing tall and strong even on my weakest point in life.
Thank You, Me!
Thank you to never let anyone bring me down.
Thank You!

Hey, You! Love yourself and write down your own story!
-Rere

There’s Always The First Time


There’s Always The First Time

Saya pernah berpikir punya tangan yang enggak dingin. Karena semua tanaman yang saya pegang pasti mati. Lantas, setelah beberapa pot tanaman berusaha saya limpahi dengan kasih sayang namun tetap mati, apakah saya berhenti?

Meski harus sedikit bertegang urat dengan suami, saya yang sangat mencintai tumbuhan hidup, berusaha mencoba lagi. Berbekal tanya sana sini dan menimba ilmu melalui banyak tutorial di internet, akhirnya saya berhasil.

Hingga hari ini sudah ada setidaknya 5 pot tumbuhan mungil yang saya tanam sendiri dari mulai berbentuk biji dan batang. Yay! Akhirnya untuk pertama kalinya tangan saya ternyata tidak kurang dingin.

Saya pun pernah berpikir dimusuhi oven dan ulenan roti. Karena beberapa kali mencoba membuat cake cantik seperti yang selalu saya lihat di televisi, berhasil akhir jauh sekali. Expectation vs reality yang bikin nyengir.

Roti, ahhhh … ribet sekali! Harus nguleni, harus tunggu mengembang lagi, susah Cint! Sampai ibu saya membawakan mesin pembuat roti yang juga hanya teronggok manis di tepi. Saya mending masak untuk 100 orang saja, sih.

Sampai semalam, seorang sahabat memberi saya sebuah resep yang simple dan anti ribet. Penuh keengganan saya beranjak ke dapur dan mulai mempersiapkan semua bahan. Ya, saya sudah punya semua, hanya kekurangan semangat akibat terlalu malas dan takut bayangan. Jangan-jangan nanti roti saya bantat.

Penuh kesungguhan saya ikuti setiap langkah yang biasanya dengan seenaknya saya modifikasi sesuai keinginan sendiri. Ya ya, saya memang sering sok tahu padahal kurang ilmu. Hiks!

Well, there’s always the first time to everything. Roti yang saya buat perdana semalam, akhirnya mengembang dengan cantik dan indah. Menurut para pemakan segala di rumah, rasanya luar biasa.

Aaahhh … senyum saya pun mengembang sumringah. Ternyata saya tidak lagi dimusuhi oven di rumah. Patah sudah stigma negatif tentang ketidakmampuan diri. Ketakutan nyatanya membuat saya membatasi setiap gerak dan langkah. Takut gagal, yang sejatinya adalah sebuah tanda baik tentang percobaan dan bertambahnya pengetahuan.

Jadi, masih takut melangkah dan mencoba? Tenang … saya temani yuk, sambil makan garlic bread buatan perdana dan minum secangkir kopi hangat.

“Hey! There’s always the first time … semangat!”

Love, Rere.

Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, are you packing us food or do we buy at the canteen?”

Pagi tadi Lana menemui saya di dapur ketika sedang membungkuskan bekal untuknya dan sang kakak. Seharusnya Kamis adalah hari jatah mereka jajan di kantin sekolah. Namun kemarin ternyata mereka harus pulang lebih awal karena kakak-kakak kelasnya akan menghadapi ujian tengah semester. Karena itu mereka jadi tidak bisa jajan di kantin sekolah.

“You can buy food Nak, but I will still pack you some. Okay?”
“Okay,
Bunda. Thank you.”

Seharusnya saya bisa saja menyuruh mereka jajan hingga tidak perlu sibuk menyiapkan ini itu di pagi buta. Belum lagi harus berpikir akan membuat apa.

Saya bukan hanya sedang mengajarkan anak-anak untuk berhemat dan menabung uang jajan mingguannya. Saya sedang mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang di setiap lembar roti atau apapun yang saya buat untuk mereka.

Meski kadang hanya berbentuk bekal sederhana, saya ingin mereka mengingat sang bunda di setiap detik kehidupan yang terlewati.

Beruntung kami dikaruniai putra putri yang manis dan hampir tidak pernah mengeluh. Semua bekal makanan yang saya buat untuk mereka selalu dihabiskan dengan gembira.

Tentu saja selain berusaha menyajikan makanan yang sehat, saya juga harus memahami apa saja yang mereka suka maupun tidak. Saya tidak pernah memaksa mereka makan apapun yang tidak disukai. Encouraging ya, tapi pemaksaan tidak. Saya ingin mereka makan dengan bahagia bukan terpaksa.

Sambil duduk menikmati pagi yang indah bersama secangkir kopi hangat, saya membuka deretan gambar bekal makanan yang pernah saya sajikan untuk suami dan anak-anak. Penuh cinta dan rasa sayang yang luar biasa besarnya.

Pesan saya untukmu para bunda, penuhi dan isi setiap detik kehidupan pasangan dan buah hati dengan sentuhan tanganmu sendiri. Percayalah, you will always gain by giving love. Mereka akan membawa cinta itu kemana pun mereka berada. Dengan namamu tersemat indah di dalamnya. Love is You … Bunda.

Love, Rere.

Belajar Dari Rayyan


Belajar Dari Rayyan

Ting Tong!

He? Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah? Waduh! Saya belum lagi mandi, dan baru saja menyeduh secangkir kopi. Bergegas saya menuju pintu rumah dan melihat dari lubang intip.

Lah! Si Rayyan?

“What’s wrong, Rayyan? Did you forget something?”
Bundaaa! I forgot my mask! I was almost reached the school gate when I realized I didn’t put on my mask.”
“Oalah! Hold on, I take your mask.”
“Thank you,
Bunda.”
“There you go. Be careful. Just go down by the lift,
Nak.”
“I’ll go down by the stairs,
Bunda. So sorry for this.”
“No problem. Take care!”
“I love you,
Bunda. Assalamualaikum.”
“Love you more!
Waalaikumussalaam.”

Lamat saya masih mendengarnya berteriak menyatakan penyesalan dan cintanya, sambil menuruni anak tangga, sesaat setelah saya menutup pintu.

Apartemen kami berada di lantai 5, dan anak-anak selalu turun naik menggunakan tangga tanpa pernah mau naik lift yang letaknya persis di samping rumah. Kami memang mengajarkan mereka untuk rajin menggunakan tangga di mana pun berada. Anggap saja olahraga.

Saya pun mengawasi Rayyan dari jendela rumah sampai ia selamat menyeberang lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke gerbang sekolah. Beruntungnya kami, sekolah dasar anak-anak hanya terpisah 1 blok saja dari bangunan apartemen rumah.

Ah Rayyan … seandainya semua orang belajar disiplin darimu. Si bungsu yang baru berusia 9 tahun. Demi menjaga diri dan lingkungannya, ia sampai rela harus turun naik tangga dari lantai 1 ke lantai 5 mengambil masker penutup mulutnya yang tertinggal di rumah. Padahal di sekolah ia juga harus turun naik dari lantai 3 ruang kelasnya ke lantai 1, atau lantai 2 untuk mengikuti serangkaian kelas.

Semoga tetap semangat dan bahagia ya Nak. Tidak perlu meminta maaf karena sudah menerapkan disiplin dengan baik, dan melakukan sesuatu yang benar. Padahal bisa saja ia tidak peduli dan tinggal bilang lupa. I’m so proud of you big boy!

Semoga banyak manusia ikut belajar dari Rayyan.

Love, R

Dirawat VS Diedit


Dirawat VS Diedit

“Cantik banget siiiihh kamu!”
“Hahaha! Editan itu. Filter maksimal, Cint.”
“Ah, gak diedit juga udah cantik.”
“Kata siapa? Cantik itu kudu dirawat Cint. Perawatan mahal jadi … edit aja. Gratis dan bikin bahagia!”

Hahaha!

Ini adalah kalimat yang biasa saya ucapkan ketika menerima pujian dari beberapa sahabat setelah mengunggah hasil swafoto di media sosial.

Ya, saya memang kadang menggunakan aplikasi untuk mendapat hasil foto yang bagus. Paling tidak membuat saya bahagia. Walaupun saya berusaha untuk tidak terlihat terlalu mulus dan flawless. Nanti yang bertemu langsung dengan saya bisa makjegagig kaget, karena ternyata aslinya tidak seindah tampilan di layar gawai.

Berbicara soal perawatan, siapa sih yang tidak ingin merawat tubuh dan kulitnya secara paripurna? Tahukah kalian semua, betapa kami para perempuan ini sebenarnya khawatir? Semakin menua, kulit kami tidak menjadi semakin mulus dan glowy. Semakin bertambah usia, yang tadinya kencang menjadi serba melorot. Mata yang tadinya berbinar indah, menjadi berkantung tebal dan kehilangan sinar.

Belum lagi bertambahnya babat dan timbunan lemak di banyak tempat. Padahal kami sudah berusaha menjaga pola makan dan menghindari beberapa jenis makanan. Tetap saja kami tidak bisa selangsing Sophia Latjuba dan secantik Putri Marino. Mereka sih rasanya tidak perlu repot melakukan diet ketat atau perawatan maksimal, bahkan rasanya mereka tidak pernah menggunakan aplikasi untuk mempercantik tampilan.

Uhari pernikahan saja pipi mereka tidak diteploki bedak dan shading setebal 2 mm kok. Coba kalau kita yang tidak full make up di hari pernikahan. Sudah pasti tampilan kita akan seperti orang yang baru bangun tidur. Bengkak dan kusam.

Perawatan yang saya lakukan di rumah juga terbilang lengkap. Tentu saja, bila mengingat mahalnya melakukan perawatan ke salon kecantikan di negara ini. Awalnya saya berpikir, daripada ke salon mendingan saya rawat sendiri di rumah. Karena jika dihitung akan jauh lebih murah dan hemat.

Bagaimana dengan suami saya? Apakah ia mendukung cara saya melakukan perawatan ini? Ya tentu saja jika ingin melihat saya tampil mendekati seperti 15 tahun yang lalu ketika ia pertama kali terpana melihat saya. Eeeaaaaaa!

Para suami tentu saja harus memberikan dukungan penuh jika menghendaki sang istri tampil menawan bak polesan aplikasi peluntur kekusaman. Jangan hanya menuntut kami ini bekerja di rumah seperti kuli dengan tampilan wajib bak gadis muda kinyis-kinyis, yang bahkan menyalakan kompor saja masih meringis.

Namun sebagai perempuan yang sudah menjadi ibu juga harus paham, bahwa ada banyak hal yang butuh perhatian lebih sekarang. Skala prioritas hidup harus sedikit diatur walau tidak melupakan kebutuhan pribadi.

Lihat kan regime perawatan muka saya? Semua ini tidak berharga murah memang. Tapi saya membelinya dari menyisihkan uang jatah jajan saya sendiri. Ya, saya menghadiahi diri sendiri uang jajan setiap bulan yang bisa dengan bebas saya pergunakan.

Nah, daripada saya menghabiskannya untuk nongkrong cantik atau arisan di resto mewah, saya menyisihkannya untuk membeli beberapa alat perawatan kulit dan wajah. Semacam investasi kecantikan.

Lantas, dipakai tidak? Yaaaaa kebanyakan sih setelah berakhirnya uforia, mereka akan teronggok di sudut lemari kaca. Lantas butuh suntikan semangat untuk menggunakannya kembali. Saya sih masih pakai kok sesekali. Sayang juga sudah mahal-mahal dibeli.

Segitu amat ya perawatannya? Sementara kebanyakan dari kita merasa, “Ah sudahlah. Begini juga sudah laku dan beranak pinak.” Betul tidaakkk? Padahal pikiran seperti itu yang sebenarnya lambat laun akan membuat kita makin malas merawat tubuh hingga kehilangan rasa cinta pada diri sendiri.

Saya sih juga seringnya malas melakukan perawatan sendiri. Namun biasanya dengan beberapa sahabat kami saling menyuntikkan semangat untuk rajin merawat diri. Kadang juga janjian menyeberang pulau untuk pergi ke salon kecantikan dengan harga yang jauh lebih murah daripada di sini.

Jadi, perlu kah kita merawat diri hingga tak lagi butuh sekedar mengedit dengan aplikasi? Jika dengan aplikasi saja kita sudah bahagia, ya lakukan saja. Bebas. Yang penting mencintai dan menyayangi diri sendiri itu juga wajib.

Eyow para suami, bantu istri-istrimu di rumah. Jika tidak menghendaki mereka menghabiskan uang untuk melakukan perawatan, setidaknya berikan dukungan secara verbal bukan melulu perundungan.

“Gendut amat sih, Ma?”
“Kusem amat tu muka, Bun!”
“Lihat deh ini Yuni Shara umur 50 tahun masih kinclong enggak kayak kamu, Mi!”

Oy! Percayalah, ini semua dilakukan para perempuan untuk membahagiakan anda semua. Jadi berikan dukungan, modali istrimu untuk sesekali pergi ke salon kecantikan, dan berikan waktu untuk menghibur diri sejenak dari rutinitas harian. Above all, watch your words! Karena tajamnya bisa menusuk lebih daripada pedang.

Trust me, being a woman is never easy. We have to think like a man, work like a horse, and look like a young girl.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

MIMPI


MIMPI

“Pah, pinjam mesin tik nya ya.”
“Buat apa? Memang tahu cara pakainya?”
Tau dong. Mau nulis buat mading.”
“Nulis apa?”
“Enggak tahu. Hehe.”

Mesin tik bersejarah itu awal saya berkenalan dengan dunia tulis menulis di tahun 1991, ketika duduk di bangku SMA.

Satu persatu huruf di mesin tik tua itu saya kenali dan berusaha keras mengakrabkan diri. Lembar demi lembar tulisan yang saya buat darinya akhirnya bertengger di majalah dinding sekolah kami. Tentu saja dengan nama samaran karena saya belum lagi percaya diri.

Berkenalan dengan grup para penulis keren awal tahun lalu, membuat saya kembali tertarik menuangkan keluh kesah dan pengalaman hidup. Ya. Hampir semua tulisan yang saya buat memang berdasarkan apa yang saya lalui selama ini. Tidak selalu manis dan indah, bahkan sarat dengan kisah sedih dan airmata.

Tulisan pertama saya bahkan juga menghadiahi diri ini piala pertama dalam hidup. Hahaha!

Kini, dua di antara beberapa antologi yang telah saya tulis juga menempatkan saya di deretan terbaik . Melalui antologi Seni Menyikapi Ketelanjuran dan Ketika Jiwa Terlahir Kembali.

https://parapecintaliterasi.com/5-naskah-terbaik-dalam-event-spesial-milad-ma-nubar-sumatera/

https://parapecintaliterasi.com/siapakah-terbaik-dalam-event-terdahsyat-nubar-sumatera-bertemakan-hijrah/

Percayalah, ini adalah wujud dari semua mimpi yang pernah saya rajut sejak di hari saya menekan tombol-tombol huruf di mesin tik tua milik papa. Tidak pernah muluk-muluk berpikir untuk melihat tulisan saya kelak nangkring di toko buku ternama. Cukup dengan membuat banyak mata membaca kemudian mengambil pelajaran dari semua kisah yang saya bagikan. Itu saja.

Mimpi, jangan takut dipunyai. Karena mimpi yang memberi warna hidup ini. Gelap bisa berubah terang, terang bisa semakin bersinar.

Follow your dream, believe in yourself, and never give up.

Love, R

LATHI


LATHI

Dalam bahasa Jawa berarti lidah, atau bisa juga bermaksud ucapan.

Lagu yang menggabungkan bahasa Inggris dengan bahasa Jawa ini buat saya kok sarat dengan kesakitan.

Ada rasa perih, sedih, penderitaan, yang disebabkan oleh cinta.

Love’s a bless and curse.

Cinta itu anugerah sekaligus kutukan. Menjadi indah ketika ia tiba pada saat dan sasaran yang tepat. Namun menjadi sebuah kesalahan ketika cinta menimbulkan kesakitan dan airmata.

Dalem banget. Sedalam yang digambarkan dalam video clip lagu ini.

Never wanted this kind of pain, turned myself so cold and heartless.

Segala penderitaan yang disebabkan oleh cinta bahkan mampu membuat seseorang yang penuh cinta menjadi dingin dan mati rasa.

Saya mencoba memahami apa arti kalimat dalam bahasa Jawa yang ada di lagu ini.

Kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi.

Kamu tidak bisa lari dari kesalahan, harga diri seseorang ada pada lidahnya (perkataannya).

Hmmm … karena lidah juga, cinta yang indah bisa jadi menyakitkan bahkan berujung penderitaan.

Sambil menghirup wangi kopi di hadapan saya sore ini, saya jadi berpikir tentang kehidupan dan cinta. Apa yang kita pikir baik kadang belum tentu baik juga. Apa yang kita rasa cinta ternyata seringkali membutakan mata. Hingga segala hal yang nyata nampak bak ilusi yang ingin kita lihat saja padahal ia menyakitkan.

Lathi – Weird Genius Feat Sara Fajira (Cover)

Love, R

Lirik:

I was born a fool
Broken all the rules
Seeing all null
Denying all of the truth

Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for

Never wanted this kind of pain
Turned myself so cold and heartless
But one thing you should know

‘Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi’

Pushing through the countless pain
And all I know that this love’s a bless and curse

Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for

Never wanted this kind of pain
Turned myself so cold and heartless
But one thing you should know

‘Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi’

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda

Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?


Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?

Perantau seperti saya dan beberapa teman, memang harus rela berkorban. Dengan atau tanpa adanya pandemi, kami kadang harus rela berjauhan diri. Dengan keluarga dan kampung sendiri.

Menjalani puasa dengan keterbatasan, bahkan lebaran kali ini tidak bisa mudik seperti biasa. Yah, apa mau dikata? Lebih baik menurut aturan saja.

Lebaran yang dinanti-nanti karena ingin saling mengucap maaf atas khilaf diri. Setahun hanya sekali. Itupun tidak bisa juga kali ini.

Jangan sedih ya, Eyang. Kita masih bisa bertatap muka melalui layar untuk mengatakan sayang. Nanti kalau situasi sudah reda, kami siap berlayar. Untuk mencium tanganmu dan meminta restu demi menjalani kehidupan dengan tegar.

Susah, Eyang.

Susah hati berjauhan seperti ini. Begitu lama rasanya menanti, untuk bisa berkumpul kembali. Karena sejak kuliah sudah memilih pergi, hingga berkeluarga kita tetap tak bisa berdekatan setiap hari.

Duhai ayah bunda, ampunkan ananda tak dapat beraya bersama. Jauh dari mata dekat dalam jiwa, teduh kasihku tidak berubah.

Berbahagia jika kalian selalu bisa berdekatan. Dengan orang tua di kampung halaman. Karena rasanya sangat berbeda kala berjauhan.

Sayangi mereka, hormati senantiasa. Karena padanya ada keberkahan yang akan selalu terbawa. Percayalah, hidup ini akan hampa tanpa doa dan restu mereka.

Sayu, hati ini makin sayu. Rindu, padamu dan rumah sederhanamu … selalu.

Taqobalallahu minna wa minkum.
Selamat merayakan kebahagiaan bersama keluarga tercinta … di rumah saja.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #ReReynilda

Life’s Good


Life’s Good

Seharian ini saya hanya duduk menonton Netflix. Tidak memasak, tidak membersihkan rumah, hanya membereskan beberapa barang yang akan saya berikan pada seseorang.

Jari saya mulai mencari film-film yang ingin saya tonton hari ini. Aahhhh ada “Dilan 1991” hingga “Miracle In Cell No. 7” yang akan saya tulis reviewnya besok.

Menonton 2 film itu lantas mengaduk-aduk perasaan saya. Ambyar rasanya melihat cerita tentang cinta, kasih sayang, dan juga kehilangan.

Alhasil saya ya senyum-senyum, ya ketawa, ya mewek. Iyaaa. Saya tersedu-sedu sendirian melihat beberapa adegan dalam 2 film itu. Sambil mengucap syukur dalam hati atas kehidupan indah yang saya jalani selama ini. Susah senang, sedih gembira, tawa duka, semua nampak indah di mata saya.

Semakin mengharu biru rasanya ketika tiba-tiba seorang kurir datang dan mengantarkan sebuah bungkusan cinta dari seorang sahabat. You know who you are. Thank you! BerkahNya untukmu selalu.

Life’s good, isn’t it? Treasure it. Be kind.

Love, R

Getem-Getem


Getem-Getem

Getem-getem dalam bahasa Jawa adalah ekspresi menahan emosi sambil membeliakkan mata, serta mengatupkan gigi dan bibir. Biasanya paling sering dilakukan para ibu di pagi hari sejak anak-anak bangun pagi. Betul tidak?

Well, seperti biasa di rumah kami, semua anak wajib membereskan tempat tidur masing-masing, termasuk melipat selimut dengan rapi. Catat … dengan rapi. Saya mengajarkan mereka melipat sejak kecil. Awalnya dengan saling membantu kemudian belajar untuk mandiri, mengerjakannya sendiri.

Kisah ini terjadi ketika putra bungsu saya berusia 7 tahun. Pagi itu ia, yang memang agak dramatis, sambil menangis mengatakan 1 kata kunci yang really triggering my getem-getem.

“How to do this? I’m not good at this!”

Oh no! False alarm. Salah besar kalo membuat saya mendengar kalimat itu di pagi hari, hingga membuat saya getem-getem selama beberapa detik.

“What’s wrong, Rayyan?”

“I can’t fold the big blanket myself, Bunda. Can you help me? Because I’m not good at this.”

“Listen. Why do you think Allah gave us brain?”

“To think?”

“Yes. To think. To figure out things. To find a way to do things. I taught you on how to fold this. But since you told yourself that you are not good in this then your brain will do what your mouth is telling you, and forever you will not be good in anything. Is that what you want?”

“No, Bunda.”

“Try, be patient and don’t give up easily. Keep trying, whatever the result will be. At least you try before you cry. Tell yourself let me try before assuming that you are not good in anything. Say it!”

“Let me try.”

“Again. 3 times.”

“Let me try. Let me try. Let me try.”

“Now try.”

“Okay.”

After a while, “Bundaaaa, look!” ujarnya sambil menunjukkan selimut hasil lipatannya.


“Smart boy. You see? I know you can do it!”

“Yeah. I was very cranky before but then I told myself that I can do it and that I have to try and try. So there it goes. Is it neat and tidy, Bunda?”


“Yes it is. It’s super neat! You see? You just have to try. Be patient, and don’t give up easily. You know you can do it and whatever the result is, be proud because you do it yourself. That’s the most important thing. Understand?”


Yes Bunda. Thank you for teaching me everything. I love you.”


“I love you more Sayang.”

Ia pun memeluk saya seraya mengucapkan terima kasih karena suntikan semangat yang saya beri, walau diawali dengan getem-getem tadi.


By the way, selimut yang dipakai Rayyan berukuran besar yaitu queen size. Bukan selimut kecil yang bisa dengan mudah dilipat oleh bocah 7 tahun setinggi 120 cm ya. Jadi saya sangat bangga padanya.

Moms, mengajarkan positive attitude kepada anak-anak memang bukan hal yang mudah. Apalagi ketika sekeliling mereka penuh dengan orang-orang dewasa dengan negativities. Tapi kita lah ibunya. Kita yang pegang peranan bagaimana menentukan tumbuh kembang mereka. Tinggal masalah berdamai dengan emosi saja yang kadang muncul karena beberapa sebab. Ya, seperti getem-getem itu, yang bagi saya adalah salah satu cara menahan emosi.

It’s not easy yet nothing is impossible. Have a great day ahead!

Love, R

#RumahMediaGrup #ChallengeMenulis #WCR #SecangkirKopiHangatEmak #ReReynilda