FOKUS


FOKUS

Pagi tadi Rayyan memberikan hasil ujian pelajaran Bahasa Melayunya pada saya dengan sedikit ragu. Saya tahu, pasti ada sesuatu.

Minggu lalu memang anak-anak Sekolah Dasar di Singapura baru melaksanakan ujian tengah semester. Rayyan dengan percaya dirinya selalu bilang, “so easy. I can do it, Bunda,” setiap kali saya bertanya bagaimana ujiannya, sepulangnya dari sekolah.

Benar saja. Nilai ujian Bahasa Melayunya rendah sekali bahkan berbuah catatan dari sang guru yang menegurnya agar lebih fokus mengerjakan soal. Saya pun mengajaknya bicara pagi tadi.

“Do you understand this note from your teacher?’
“No I don’t,
Bunda.”
Lah? Read please.”
“But …”
“Just read. We will discuss about it.”

Dengan terbata-bata Rayyan membaca tulisan bertinta merah yang tertera di kertas ujiannya itu.

“What’s menggencewakhan, Bunda?”
“Mengecewakan. Meaning your cikgu is dissapointed at you because you took this exam lightly and didn’t focus on your paper.”
“But I didn’t take this lightly. I just don’t understand,
Bunda. I’m sorry.”
“I understand that you struggle hard for this subject. It’s part of my mistakes too. But when you don’t understand something, you must work harder to understand more and we will work this thing out together, okay? But I want you to try harder too.”
“Okay,
Bunda. I’m sorry. But some of my friends got low marks too.”
Rayyan, please focus on yourself for now and don’t think about others. Understand?”
“Sorry,
Bunda.”

Saya dapat melihat penyesalan di wajahnya karena saya tahu ia memang bekerja keras untuk menyelesaikan semua ujiannya minggu lalu. Nilai matematikanya bahkan naik dan menjadi 3 besar peraih nilai tertinggi di kelasnya. Saya merasa ikut bersalah karena tidak membiasakannya lebih sering berbicara dalam bahasa Melayu di rumah.

Lha saya sendiri bahkan sang ayah yang asli Melayu juga bingung, kok.

Saya menekankan padanya untuk fokus memperbaiki diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Anggap saja catatan dari sang guru adalah teguran pada kami berdua untuk lebih giat dan tekun belajar sesuatu yang tidak kami kuasai dengan baik.

Setelah berdiskusi dengan mata berkaca-kaca ia memeluk saya lalu meminta maaf karena merasa mengecewakan saya dan gurunya di sekolah. Saya memeluknya sekaligus mengatakan betapa bangga melihatnya banyak berubah. Ia sekarang lebih rajin, lebih teratur hingga isi tasnya pun tersusun rapi tidak lagi amburadul seperti sebelumnya. Saya juga senang ia bahagia pergi ke sekolah bahkan menganggap pelajaran matematika sebagai sesuatu yang menyenangkan. Yayy!

Ingat ya, Nak. Fokus saja sama dirimu sendiri dulu, tak perlu sibuk dengan apa adanya orang lain. Habiskan saja waktu untuk selalu memperbaiki diri sendiri. Ini saja seharusnya sudah cukup menyita waktu kita hingga akhir masa nanti.

Diskusi pagi kami pun ditutup dengan pelukan hangat dan kata cinta seperti biasa. Saya tahu ia sangat menyesal. Saya memintanya menemui sang guru untuk mengatakan penyesalannya sekaligus berjanji untuk memperbaiki diri dan lebih berkonsentrasi di kelas.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Rayyan.”

Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.

Love Is … Being Responsible


Love Is … Being Responsible

“Enggak usah masak dan bikin cake lah, Bunda. Beli saja gampang, enggak capek.”

“Enggak mau, ah. Buat apa saya belajar bikin cake kalau masih beli juga?”

Suami saya yang sangat baik. Ia memang tidak mau saya terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selalu khawatir saya akan jatuh sakit karena kelelahan. Hingga sang istri kerap diingatkan untuk istirahat dan banyak tidur. Ia tahu bahwa istrinya tipikal perempuan yang tidak bisa diam, pun tidak bisa dilarang alias keras kepala.

Well, sang istri hanya berusaha melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu dengan sepenuh hati. Baginya, ini hanya lah sebagian kecil dari bentuk tanggung jawabnya di rumah terhadap anak-anak. Mereka yang diamanahkan kepada sang istri untuk dijaga dengan baik. Hingga ia merasa bertanggung jawab dengan apapun yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Meski ia bisa saja dengan gampang membeli apapun, tanpa harus susah memasak atau repot sendiri mempersiapkan makanan. Contohnya untuk hari spesial anak-anak seperti kemarin.

Tak jarang ia juga bertanya dalam hati, “Kenapa sih mau susah sendiri? Bukannya lebih gampang hanya keluar duit tapi tanpa keringat dan pegal sekujur badan, ya?”

Hmm … inilah cinta. Terdengar klise tapi begitulah kenyataannya.

Jika bukan atas nama cinta yang begitu besar, rasanya mudah saja baginya untuk meninggalkan segala tanggung jawab di belakang. Namun sang istri hanya ingin mewariskan kebiasaan baik bukan sekedar harta duniawi. Ia hanya berharap kelak mereka melakukan hal yang sama untuk keluarga masing-masing. Memberikan segenap cinta di setiap sentuhan tangan dan peluhnya tanpa syarat.

Pada saat yang sama sebagai seorang ibu, ia juga sedang mengajarkan arti tanggung jawab pada ketiga buah hatinya. Bahwa ketika telah berani memutuskan untuk membangun sebuah keluarga, ada tanggung jawab besar di sana. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan materi namun juga ada kewajiban untuk selalu meningkatkan kemampuan diri.

Ibu … adalah awal seorang manusia mengenal dunia. Sejatinya semua pengalaman dan kesiapan untuk menghadapi juga matang dipikirkan. Karena hidup bukan sekedar bersenang-senang, namun ada tanggung jawab di dalamnya. Semua adalah bekal para penerus menghadapi dunia dengan segala dinamikanya.

Selamat menjalani hari-harimu Ibu, lakukan semua dengan bahagia dan cinta, hingga tak ada kata tak bisa.

Love, Rere

Belajar Dari Rayyan


Belajar Dari Rayyan

Ting Tong!

He? Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah? Waduh! Saya belum lagi mandi, dan baru saja menyeduh secangkir kopi. Bergegas saya menuju pintu rumah dan melihat dari lubang intip.

Lah! Si Rayyan?

“What’s wrong, Rayyan? Did you forget something?”
Bundaaa! I forgot my mask! I was almost reached the school gate when I realized I didn’t put on my mask.”
“Oalah! Hold on, I take your mask.”
“Thank you,
Bunda.”
“There you go. Be careful. Just go down by the lift,
Nak.”
“I’ll go down by the stairs,
Bunda. So sorry for this.”
“No problem. Take care!”
“I love you,
Bunda. Assalamualaikum.”
“Love you more!
Waalaikumussalaam.”

Lamat saya masih mendengarnya berteriak menyatakan penyesalan dan cintanya, sambil menuruni anak tangga, sesaat setelah saya menutup pintu.

Apartemen kami berada di lantai 5, dan anak-anak selalu turun naik menggunakan tangga tanpa pernah mau naik lift yang letaknya persis di samping rumah. Kami memang mengajarkan mereka untuk rajin menggunakan tangga di mana pun berada. Anggap saja olahraga.

Saya pun mengawasi Rayyan dari jendela rumah sampai ia selamat menyeberang lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke gerbang sekolah. Beruntungnya kami, sekolah dasar anak-anak hanya terpisah 1 blok saja dari bangunan apartemen rumah.

Ah Rayyan … seandainya semua orang belajar disiplin darimu. Si bungsu yang baru berusia 9 tahun. Demi menjaga diri dan lingkungannya, ia sampai rela harus turun naik tangga dari lantai 1 ke lantai 5 mengambil masker penutup mulutnya yang tertinggal di rumah. Padahal di sekolah ia juga harus turun naik dari lantai 3 ruang kelasnya ke lantai 1, atau lantai 2 untuk mengikuti serangkaian kelas.

Semoga tetap semangat dan bahagia ya Nak. Tidak perlu meminta maaf karena sudah menerapkan disiplin dengan baik, dan melakukan sesuatu yang benar. Padahal bisa saja ia tidak peduli dan tinggal bilang lupa. I’m so proud of you big boy!

Semoga banyak manusia ikut belajar dari Rayyan.

Love, R

Getem-Getem


Getem-Getem

Getem-getem dalam bahasa Jawa adalah ekspresi menahan emosi sambil membeliakkan mata, serta mengatupkan gigi dan bibir. Biasanya paling sering dilakukan para ibu di pagi hari sejak anak-anak bangun pagi. Betul tidak?

Well, seperti biasa di rumah kami, semua anak wajib membereskan tempat tidur masing-masing, termasuk melipat selimut dengan rapi. Catat … dengan rapi. Saya mengajarkan mereka melipat sejak kecil. Awalnya dengan saling membantu kemudian belajar untuk mandiri, mengerjakannya sendiri.

Kisah ini terjadi ketika putra bungsu saya berusia 7 tahun. Pagi itu ia, yang memang agak dramatis, sambil menangis mengatakan 1 kata kunci yang really triggering my getem-getem.

“How to do this? I’m not good at this!”

Oh no! False alarm. Salah besar kalo membuat saya mendengar kalimat itu di pagi hari, hingga membuat saya getem-getem selama beberapa detik.

“What’s wrong, Rayyan?”

“I can’t fold the big blanket myself, Bunda. Can you help me? Because I’m not good at this.”

“Listen. Why do you think Allah gave us brain?”

“To think?”

“Yes. To think. To figure out things. To find a way to do things. I taught you on how to fold this. But since you told yourself that you are not good in this then your brain will do what your mouth is telling you, and forever you will not be good in anything. Is that what you want?”

“No, Bunda.”

“Try, be patient and don’t give up easily. Keep trying, whatever the result will be. At least you try before you cry. Tell yourself let me try before assuming that you are not good in anything. Say it!”

“Let me try.”

“Again. 3 times.”

“Let me try. Let me try. Let me try.”

“Now try.”

“Okay.”

After a while, “Bundaaaa, look!” ujarnya sambil menunjukkan selimut hasil lipatannya.


“Smart boy. You see? I know you can do it!”

“Yeah. I was very cranky before but then I told myself that I can do it and that I have to try and try. So there it goes. Is it neat and tidy, Bunda?”


“Yes it is. It’s super neat! You see? You just have to try. Be patient, and don’t give up easily. You know you can do it and whatever the result is, be proud because you do it yourself. That’s the most important thing. Understand?”


Yes Bunda. Thank you for teaching me everything. I love you.”


“I love you more Sayang.”

Ia pun memeluk saya seraya mengucapkan terima kasih karena suntikan semangat yang saya beri, walau diawali dengan getem-getem tadi.


By the way, selimut yang dipakai Rayyan berukuran besar yaitu queen size. Bukan selimut kecil yang bisa dengan mudah dilipat oleh bocah 7 tahun setinggi 120 cm ya. Jadi saya sangat bangga padanya.

Moms, mengajarkan positive attitude kepada anak-anak memang bukan hal yang mudah. Apalagi ketika sekeliling mereka penuh dengan orang-orang dewasa dengan negativities. Tapi kita lah ibunya. Kita yang pegang peranan bagaimana menentukan tumbuh kembang mereka. Tinggal masalah berdamai dengan emosi saja yang kadang muncul karena beberapa sebab. Ya, seperti getem-getem itu, yang bagi saya adalah salah satu cara menahan emosi.

It’s not easy yet nothing is impossible. Have a great day ahead!

Love, R

#RumahMediaGrup #ChallengeMenulis #WCR #SecangkirKopiHangatEmak #ReReynilda

Movie Night


Movie Night

Ayah, can we have a movie night today and everybody sleep together in the living room?”
“Okay
Rayyan. Guys, we’re gonna sleep outside tonight.”
“Nooooo! I don’t want
Ayah.”
“Why?”
“I just don’t want.”
Bundaaaaaaaa! The girls don’t want to sleep outside tonight!”


Satu hari dalam seminggu biasanya kami sekeluarga memiliki jatah movie night. Memutar film di ruang tamu hingga dini hari, dan menggelar alas untuk tidur berlima di lantai. Ya, di lantai ruang tamu dengan alas seadanya.

Setelah beberapa lama, kegiatan ini tidak kami lakukan, hingga kemarin Rayyan si bungsu pun mengajak sang ayah dan kedua kakaknya untuk menggelar movie night lagi.

Sayangnya ide ini serta merta ditolak oleh kedua putri saya, hingga sang ayah mengadu dan mengatakan idenya dihempas tanpa ampun. Kemudian saya memanggil Lana dan Lara bergantian.

Adik, do you want to have a movie night tonight?”
“Okay,
Bunda.”
“We sleep together in the living room okay?”
“Okay!”
Kakaakkk, how about you?”
“Okay
Bunda.”

“Haaaaa? Why so easy? Why you give her different answer? You said you didn’t want to sleep outside just now?” Tanya sang ayah yang idenya ditolak mentah-mentah beberapa menit sebelumnya.

Ayah, that’s the importance of communicating effectively.” Jawab saya dengan senyum sumringah tanda kemenangan.

Kalau saja saya mengajak mereka untuk sekedar tidur bersama di lantai ruang tamu yang tidak nyaman, pasti ide ini juga akan ditolak mentah-mentah. Jadi, saya menggunakan ajakan persuasif yang seru seperti menggelar movie night untuk mengajak mereka, dan langsung diterima tanpa banyak protes. Padahal intinya sama-sama ajakan untuk tidur berlima di lantai ruang tamu.

Well, what can I say? Motheeerrrr knows best!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

MOTHER


MOTHER

Identik dengan pengorbanan. Berkorban bentuk badan, berkorban kesenangan pribadi, berkorban prioritas, berkorban jati diri.

Badan yang langsing bak gitar Spanyol, kulit tangan yang halus dan perut mulus, rambut indah yang bak mayang terurai, semua berubah di hari ia dipanggil Ibu.

Kesenangan pribadi sekedar nongkrong di kedai kopi dengan teman sejati, harus berhenti sejak kemana-mana ia harus menggendong sang buah hati.

Prioritas diri yang kadang hanya ingin belanja keperluan pribadi, harus berganti dengan tumpukan buku pelajaran, atau belanjaan dapur pengisi perut para bocah kecil dan sang suami.

Jati diri yang di masa kinyis-kinyis terkenal manis penuh senyum tersungging, berganti menjadi sosok pemarah, tukang ngomel, hanya karena lantai toilet yang dirty.

Ahhh … Ibu, Emak, Mommy, Mother, Mom, Mama, Mamak, Bunda, Simbok, Umi, percayalah.

Segala pengorbanan itu terbayar tuntas ketika kelak anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bebas, dan cerdas. Berani berkata lugas, namun juga cergas.

Mereka, yang bagimu adalah pelajaran tanpa akhir dan kelas. Mereka yang akan mendoakanmu ketika mulai meranggas, hingga tiba saat tinggal landas.

Happy Mother’s Day untukmu semua perempuan hebat di seluruh dunia. Terima kasih pada para suami yang siap sedia mendukung sang istri pada setiap detik perjalanan hidupnya … menjadi sosok lain bernama IBU.

Mothers, love yourself! It’s not selfish.

Love, R

Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?


Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?

“Bunda …”
“Yes?”
“I left my lunch box and bottle at home.”
“So?”
“Can you send it to me?”
“No, I can’t.”
“But I’m hungry,
Bunda.”

Begitulah pesan singkat yang saya terima dari putri sulung saya. Ketika sedang menikmati secangkir kopi hangat pagi itu. Kotak makan, dan botol minumnya memang tertinggal di rumah. Saya menemukannya tergeletak di depan pintu. setelah ia pamit berangkat sekolah.

Ia memang nampak terburu-buru hari itu. Ada tugas Student Council, katanya. Semacam OSIS di sekolah Indonesia. Dengan singkat saya membalas pesannya, “Learn from this lesson.”

Kejam kah saya? Bagaimana dengan Anda para ibu? Jika anda menjadi saya, apakah anda akan mengambil langkah yang sama dengan saya yaitu menolak mengantar barang yang tertinggal sebagai pembelajaran? Atau justru tergopoh-gopoh pergi ke sekolah untuk mengantar barang mereka karena kasihan?

I might sound mean to many. Ibu yang kejam. Sekolah sebelah rumah saja tidak mau mengeluarkan sedikit effort untuk mengantar keperluan bocah yang tertinggal.

Ya. Begitulah cara saya mendidik anak-anak di rumah. Disiplin dan tanggung jawab adalah hal yang utama di keluarga kami. Jangan heran jika berkunjung ke rumah saya, anda akan melihat saya tidak segan memerintahkan anak-anak untuk melakukan banyak hal, bahkan sejak usia mereka masih sangat muda.

Memasak, membersihkan rumah, membereskan kamar, membuang sampah, pendeknya semua harus mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Semua. Tanpa kecuali.

Bahkan putra bungsu saya yang baru berusia 9 tahun, sudah terampil mempersiapkan menu sahur sederhananya sendiri, lho. Apalagi kedua kakaknya. Merekalah yang sekarang ini bertanggung jawab atas banyak hal di rumah kami.

Bagaimana saya melakukan semuanya?

It takes two to tango.

Kami melakukannya bersama-sama. Berproses sedari kecil, dan belajar dari semua kesalahan selama proses berlangsung. Seperti yang saya ceritakan dalam buku antologi Tips Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Anak Jilid 1 https://curhatanaksekarang.com/tips-mengoptimalkan-kemampuan-belajar-anak/

Belajar bukan hanya di ruang kelas dan membuka buku. Belajar hidup disiplin dan mengenal arti tanggung jawab, juga termasuk ilmu tentang kehidupan yang akan berguna seumur hidup. Ini yang tanpa lelah saya tanamkan di diri putra dan kedua putri saya.

Untuk siapa semua life skills ini? Untuk mereka. Agar kelak mereka bertiga tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang disiplin, berani bertanggung jawab, dan tidak pernah menyusahkan orang lain.

Mau membaca tulisan kami semua dan menyerap manfaatnya? Mari belajar bersama.

Love, Reyn.

Susah? Senengin Aja!


Susah? Senengin Aja!

Cerita tentang sang mantan … teman sekamar kemarin memunculkan beberapa opini dari banyak sisi. Terima kasih ya teman-teman. Jangan khawatir, saya tidak berteman dengannya di sosial media. Rasanya juga ia tidak memiliki aktifitas apapun di dunia maya.

Amaaan. Eh!

Mungkin salah satu yang membuat gemas adalah cerita tentang kontradiktifnya ia, ketika marah mendengar suara derit pintu tapi memutar musik dengan keras, ketika saya sedang melaksanakan ibadah, tanpa ragu. Kenapa saya bisa sesabar itu? Kalau orang lain mungkin sudah marah karena merasa terganggu. Mungkin juga beberapa merasa saya terlalu mengalah dan lugu. Ah … senangnya punya teman yang begitu peduli, aylapyu!

Waktu itu saya tidak marah padanya, tidak juga menegurnya. Kenapa? Saya merasa, sholat saya seharusnya bisa khusyuk bagaimanapun keadaan di sekitar saya. Be it musik yang berdentum keras, orang yang mondar-mandir di hadapan, atau mungkin suara mereka yang sedang bercakap-cakap dengan volume tinggi.

Ya, memang sesederhana itu saja alasan saya.

Sama hal nya ketika sedang berpuasa, saya juga tidak lebay meminta orang lain paham dan bertenggang rasa. Yang puasa saya, kenapa orang lain harus ikut menanggungnya? Ini juga yang saya ajarkan pada anak-anak yang pernah bercerita tentang bagaimana mereka melihat teman lain, yang tidak berpuasa, meneguk minuman dingin di hadapan mereka yang sedang berpuasa.

Saya sedang mengajarkan anak-anak untuk tidak jadi manusia yang rese, mengharap orang lain selalu memahami situasi mereka, dan menjadi marah ketika sekitar tidak menunjukkan dukungan.

Hidup itu jadi sulit ketika kita memperlakukannya dengan sulit.
Hidup akan menjadi susah ketika kita menyusahkan sekitar, atau susah ketika melihat orang lain tidak susah.

Bersamaan dengan cara saya membuang semua hal yang negatif, saya juga belajar buat lebih mendengar dari banyak sisi. Seperti bagaimana saya mendengar segala keluh kesah Salwa tentang roomate nya dulu. Saya bahkan juga membuka diri dan telinga dengan segala aturan darinya sebagai pemilik kamar terdahulu. Tanpa perlu menyusahkan diri untuk berdebat, saya mengambil percakapan itu untuk kemudian menganalisa dan mengambil kesimpulan, bagaimana harus menghadapi seseorang yang lumayan ajaib sepertinya.

Susah? Senengin aja!

Saya hanya ingin kehidupan yang damai, demi kesehatan mental saya sendiri. Pekerjaan saya dulu yang mengharuskan interaksi dengan banyak pribadi ajaib bahkan menyebalkan, rasanya sudah cukup membuat saya banyak emosi.

Percayalah, hidup akan jauh lebih menyenangkan ketika kita fokus pada perbaikan diri, dengan membuka telinga lebar agar hati tak sampai mati. Bayangkan susahnya hidup mereka yang berpikir semua orang salah, cuma gue yang bener dan baik hati. Capek, ih!

Love, R

#WCR #tantanganmenulis #rumahmediagrup #rereynilda

S U S A H


S U S A H

Waktu masih bekerja sebagai awak kabin dulu, saya berbagi kamar dengan teman sejawat yang bukan sebangsa. Namanya Salwa, berkebangsaan Maroko.

Bagaimana cara saya beradaptasi? Mudah? Absolutely not. Sama sekali tidak. Susah!

Salwa adalah jenis perempuan yang lumayan sulit. Sulit berbagi, sulit untuk dipahami, dan sulit untuk memahami orang lain. Saya juga tidak berusaha mengulik latar belakang kehidupannya yang mungkin menjadi salah satu sumber perilakunya.

Sebenarnya ia baik, paling tidak untuk saya. Hanya saja karakternya memang ajaib dalam beberapa hal. Misalnya, ia melarang saya untuk mengganggunya ketika tidur. Bahkan derit pintu yang terbuka pun bisa membuatnya marah dan ngomel seharian. Tapiiiiii, ia dengan cueknya akan memutar kaset lagu Arab kesukaannya dengan keras tanpa peduli bahwa saya sedang melakukan ibadah.

Ia melarang kami, teman seapartemennya yang semua WNI, untuk membuka pintu dapur ketika sedang memasak. Bau, katanya. Padahal kalau dia sibuk di dapur, kami tidak keberatan dan tidak ada yang protes dengan bau masakannya. Hahaha!

Ia juga kerap bercerita tentang bagaimana teman sekamarnya dulu selalu bergosip dan menceritakan hal buruk tentang dirinya. Padahal saya juga tidak kenal dengan si mantan teman.

Banyak lagi suka duka saya lalui selama tinggal di asrama khusus untuk awak kabin itu bersama Salwa. Namun pelajaran apa yang bisa saya petik darinya?

Jangan jadi orang yang susah dan nyusahin orang.
Jangan jadi orang yang ribet dan ngeribetin orang.
Jangan jadi orang yang terlalu mikirin apa kata orang, karena bisa jadi orang itu sebenarnya sama sekali tak punya waktu untuk memikirkan segala polah kita.

Jangan terlalu repot memikirkan semua hal yang bukan urusan kita. Sibuk saja sama perbaikan pribadi biar banyak disayangi.

Untuk para ibu, fokus saja dengan bagaimana mengarahkan karakter anak sebagai bekal hidupnya kelak ketika harus tinggal berjauhan dengan kita. Sehingga mereka kelak tidak perlu tumbuh menjadi manusia yang susah bin sulit seperti mantan teman kamar saya.

Untuk para bapak, sibuk saja membangun bonding dengan anak-anak di rumah, agar mereka tidak kekurangan kasih sayang dan melampiaskan kekosongan hatinya di luar.

Be kind, be true to yourself, and be genuine.

Love, R