Secangkir Kopi Hangat Emak – Belajar Hidup. Hidup Belajar


Secangkir Kopi Hangat Emak – Belajar Hidup. Hidup Belajar

Rayyan, I need to talk to you.”
“Yes,
Bunda?”
“I’ve tried my best to teach you good manners. On the dining table, while talking to others, etc … but you didn’t seem to bother. Everything is a joke to you.”

Bocah 9 tahun itu tertawa dan berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengajak saya menonton film kesukaannya.

“Listen! It’s time for you to listen! You are so playful! Do you know why I teach all of you manners every single day?”
“Mmm … to make me a well-behaved kid?”
“Exactly. You knew it, yet you like to test my patience everyday. You will not stay in this house with me forever you know that? You will go out and might stay with other families one day. How are you going to be a well-behaved person if you don’t start here now. In your own house?”

Bungsu dari 3 bersaudara ini mulai menundukkan kepala dan berusaha memeluk saya. Mungkin wujud penyesalannya.

“You said you want to see me healthy until I grow older and can no longer take care of you? You said you don’t like to hear me nagging every single day? Yet, you keep making me angry.”

Kemudian saya mulai membuka gawai dan mencari sesuatu melalui internet.

Boy’s boarding school.

Mata bocah pecicilan itu pun terbeliak dan saya merasakan jantungnya berdegup kencang. Saya memang sengaja membuatnya melihat apa yang saya cari di internet.

“Why are you searching for boy’s boarding school?”
“I’m thinking of sending you to a boarding school. You will learn how to interact with other people and take care of yourself here. You will be placed in a dormitory, in a single room or a shared one. You will learn how to behave and communicate with others without me around. I think you will like it. You are going for National Service too soon. So this is good for you. Maybe you will listen to the teachers there better than me.”

Mata bulat bocah lelaki itu berkaca-kaca, kemudian ia membalikkan badannya dan saya melihat bahunya berguncang tanda ia sedang menangis.

“Aahhhh. I found one. I think this is perfect. Mazowe Boys Boarding School in Zimbabwe. Do you know where Zimbabwe is? Rayyan?”
“I don’t know! And I don’t want to know!”

Ia menjerit dari balik selimut yang menutupi sekujur tubuhnya sambil menangis.

“It’s in Africa. It’s just perfect for you. I’m going to call the school tomorrow. Good night.”


“Aahhh good,
Bunda. I agree with your choice. Zimbabwe is perfect for him.” Sang ayah pun turut andil menambahkan bumbu hingga bocah lelaki itu pun semakin menangis.

Saya setengah mati menahan tawa.

“Please don’t send me to a boarding school. I promise I will practice good behaviour, I will listen to you bunda, ayah, and kakak. I promise I will help around the house. I promise I will study more and be a well-behaved student at school. I want to be with you Bunda. I don’t want to go to Africa.”
“Promise? I just want to raise you right,
Rayyan. I want people to see you as a kind boy, not a naughty one that people refuse to be around. So, you promise me? If you break your promise what should I do?”

“Send him to Zimbabwe,” ujar sang ayah.

Tersedu-sedu ia menangis sambil memeluk saya semalam. Ya ya, saya tahu. Saya dan ayahnya adalah naughty parents. Hahaha! Saya suka sekali bermain drama dengan anak-anak. Kadang juga sedikit membumbui dengan ancaman secara halus. Pokoknya bukan ilmu parenting yang baik deh. Hahaha! Tak perlu ditiru.

Rayyan sebenarnya anak yang manis. Ia terhitung penurut, namun sangat playful. Semua hal adalah humor konyol, dan lucu untuknya. Ia kadang tidak bisa memilah dan bertindak semaunya di sembarang tempat. Kami sedang mengajarkannya untuk pandai menempatkan diri. Di mana ia bisa bergurau dengan bebas, dan di mana ia harus diam dan bertingkah laku baik.

Ini adalah salah satu cara saya mendidiknya karena saya tidak ingin terlalu sering membentak bahkan melayangkan tangan ketika kesal. Saya ingin menanamkan kata-kata baik dan positif di dalam benaknya. Hal yang akan ia bawa hingga dewasa.

Lantas, bagaimana hasil sang drama mama semalam?

Pagi tadi, bocah lelaki itu bangun sahur dengan tersenyum. Mempersiapkan makanannya sendiri dengan cekatan, membuang sampah tanpa banyak alasan, dan duduk dengan manis di meja makan. Selesai makan, ia membawa piring makannya kemudian mencuci dengan tertib, dan kembali ke meja makan untuk membersihkan sisa makanannya.

Setelah itu ia mandi, meletakkan baju kotornya dalam mesin tanpa diperintah, kemudian menawarkan sang kakak untuk menyapu rumah. Setelah selesai ia pergi tidur tanpa beliakan mata saya, namun meminta ijin menggunakan gawai nya nanti untuk menonton film kesukaannya.

Good boy. Semoga bukan hanya hari ini janji itu dipenuhinya. Ingat, Zimbabwe menantimu di sana.

Love, R

#WCR #ChallengeMenulis #RumahMediaGrup #ReRe