KISAH KASIH (Bedah Buku Nubar Sumatera)


KISAH KASIH (Bedah Buku Nubar Sumatera)

Beberapa kisah tentang kasih pada aksara dan keluarga, menjadi topik bedah buku semalam, [9 Agustus 2021].

Adalah Mi Familia dan Ada Cinta Di Tiap Aksara yang menjadi sumber bedahannya.

Kedua judul antologi itu diluncurkan dalam perayaan ulang tahun Nubar Sumatera dan founder Nubar Rumedia Ilham Alfafa.

Meski hanya disajikan secara daring, namun antusiasme lebih dari 30 peserta, sangat luar biasa. Acara dimulai dengan pemaparan para manager area dari tiga wilayah secara bergantian.

Dimulai dengan cerita dibalik pembuatan kedua judul buku oleh MA Sumatera Emmy Herlina, dilanjutkan dengan sharing pengalaman dari MA Jawa Barat Rhea Ilham Nurjanah, yang penuh dengan hal menarik seputar dunia menulis. MA Luar Negeri Reynilda Hendryatie mewakili para kontributor buku Mi Familia, menyajikan sebuah monolog sebelum menceritakan latar belakang penulisan naskahnya, serta pesan yang ingin disampaikan untuk para pembaca.

Tak sampai di situ saja, beberapa penulis juga berbagi pengalaman seputar dunia kepenulisan, termasuk tips dan trik untuk menyajikan tulisan yang menarik serta menggelitik.

Beberapa pertanyaan muncul dari para peserta, mengenai teknis penulisan, serta saran yang ingin diketahui dari para nara sumber. Topik seputar cara pembuatan outline, tema, hingga gaya menulis tak juga habis dikikis. Hingga dua jam lebih, rasanya tak cukup mengupas segala hal menarik tentang profesi penulis.

Sebagai penutup, founder Nubar Rumedia berpesan untuk banyak berlatih dan menghasilkan tulisan-tulisan positif yang bisa dibaca banyak orang. Bukan hanya semata soal materi, namun menulis adalah salah satu cara kita mengabadikan kisah penuh kasih.

Love,
Rere

Menulis Biar Manis


Menulis Biar Manis

Menulis bagi saya adalah sebuah terapi. Terapi dari kebiasaan ngomong sendiri. Menulis ternyata mampu membuat saya melupakan segala penat dan susah di hati. Meski kerap mengalami buntu hingga sering ingin berhenti, namun belajar dan membuka hati, adalah salah satu cara saya menghindari.

Sehari Bisa Menulis Buku adalah salah satu ruang ilmu yang saya tunggu-tunggu. Ibarat sebuah gelas yang kosong dan ingin saya isi dengan sesuatu yang manis. Maka belajar dan belajar lagi adalah kunci agar tak lagi meringis karena kebuntuan menulis.

Nubar Area Luar Negeri baru saja mengadakan sebuah pelatihan menulis bersama duo founder Rumedia Grup, pekan lalu. Apa saja yang kami dapat hari itu?

Pelatihan ini dimulai dengan pengetahuan tentang kinerja otak, sebagai karunia yang diberikan Tuhan kepada manusia. Manusia yang diciptakan berbakat dan punya potensi. Namun tentu saja jika tidak terus dilatih, maka kedua anugerah itu tidak akan muncul dengan optimal.

Penulis harus punya modal, untuk memperkaya isi tulisan. Lima modal itu adalah banyak membaca, rajin bersilaturahmi, melakukan banyak penjelajahan lokasi lewat perjalanan wisata, rajin mengikat ide yang datang, dan memiliki sudut pandang yang berbeda.

Seringkali kita terjebak pada banyak mitos seputar menulis. Di antaranya, menulis itu membutuhkan mood hingga kerap membuat termangu manakala sang mood tak kunjung datang. Tidak punya ide untuk dijadikan bahan menulis, padahal ini hanya persoalan peluang yang tidak segera diambil sebagai kesempatan. Ah, aku bukan seorang puitis hingga tak bisa menulis dengan bahasa yang indah dan manis. Hey, menulis adalah tentang menyajikan sebuah gagasan yang bisa diambil sebagai pelajaran. Maka menulis tak perlu harus puitis, yang penting kaidah dan tata bahasanya tersusun manis. Mitos paling dahsyat adalah pemikiran bahwa, aku tak berbakat menulis. Manis, manusia diciptakan Sang Kuasa dengan beragam bakat dan potensi diri. Namun semua tidak akan muncul manakala kelebihan itu tidak dilatih dan terus digali.

Kami kemudian diajarkan untuk membuat sebuah outline penulisan cerita pendek, yang bertujuan untuk mengikat ide dan gagasan. Dimulai dengan menentukan tokoh, yang sebaiknya dibatasi maksimal hanya lima karakter saja dalam sebuah cerpen. Kemudian setting tempat, yang tidak perlu terlalu banyak disajikan. Cukup maksimal dua saja agar tidak membingungkan. Setting suasana juga pegang peranan. Apakah cerita menghadirkan suasana yang muram atau terang, tentang bahagia atau kesedihan. Penempatan plot twist atau gimmick pada akhir cerita, juga menambah bumbu sebuah bacaan. Baik pada plot dengan akhir tertutup atau terbuka.

Pelatihan itu juga mengajarkan kami beberapa tips jitu penulisan cerpen. Seperti pemilihan tema yang sesuai kemampuan, kemudian memilih jumlah, nama, sifat, dan peran masing-masing tokoh dalam cerita. Penentuan alur baik maju, mundur, atau campuran, juga setting tempat, waktu, dan suasana. Sudut pandang memegang peranan penting dalam sebuah cerita agar tidak membuat pembaca kebingungan. Kehadiran konflik yang membuat sebuah kisah menarik, juga harus jelas ditelisik. Terakhir, menentukan sebuah judul yang mantul alias mantap betul.

Setelah semua data dan outline didapat, selanjutnya adalah mulai dengan kalimat pembuka. Sebuah cerita bisa dibuka dengan narasi atau deskripsi, bisa juga diawali dengan percakapan atau dialog yang mengundang penasaran. Tentunya juga menentukan akhir atau ending cerita yang menawan. Pilihannya bisa tertutup hingga jelas akhir ceritanya, atau terbuka untuk membiarkan pembaca menentukan pilihan.

Pelatihan diakhiri dengan anjuran agar percaya diri menjadi sorang penulis. Dengan cara, branding diri melalui nama pena dan motivasi bahwa kita semua bisa. Jangan biarkan hambatan yang muncul di tengah jalan, menjadi batu sandungan hingga membuat sebuah tulisan tak berujung diwujudkan.

Ingatlah lima resep dasar untuk penulis berikut ini.

  1. Abaikan teori, mulailah dengan menulis apapun yang terpikirkan, bagaimana pun jenisnya. Segera membuat kerangka untuk menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan.
  2. Terus berlatih, tanpa kenal berhenti. Bisa dimulai dengan membuat catatan harian atau menulis di platform sosial media setiap saat.
  3. Jika mengalami kebuntuan, berhentilah sejenak. Namun tak berhenti untuk menyimpan ide yang melintas dalam sebuah buku catatan.
  4. Menulislah segala hal yang memang kita kuasai dengan baik. Jika ingin mencoba hal lain, punyai referensi yang memadai sebagai modal penulisan.
  5. Abaikan gaya menulis terutama keinginan untuk menjadi seperti penulis lain. Miliki gayamu sendiri yang unik untuk menghadirkan jati diri yang asik.

Jadi, ingin jadi penulis? Mulailah dari sekarang dan buat semua orang meringis atau menangis, membaca luahan rasamu dalam sebuah tulisan yang manis.

Love, ReRe

Sumber: Pelatihan SBMB Rumedia Grup Bersama Ilham Alfafa dan DeeJay Supriyanto

Ilustrasi: Canva Apps

Olahraga Olahjiwa


Olahraga Olahjiwa

“Olahraga melulu enggak kurus-kurus.”
“Olahraga melulu ngapain, sih? Bikin capek saja.”

Bukan sekali dua saya menerima afirmasi seperti itu karena hobi saya berolahraga. Be it yoga, piloxing, zumba, saya “memaksa” diri untuk mengikuti semuanya. Lebih menggila setelah sekarang dimudahkan untuk melakukannya secara online.

Tidak ada yang pernah menyadari bahwa saya tidak hanya sedang mengolah raga namun juga berusaha mengolah jiwa.

Olahraga mengajarkan saya cara untuk berhadapan dengan rasa sakit. Bahkan mencarinya hingga ke batas yang tidak tertahan, lalu belajar menghadapi, dan menikmati setiap nyeri yang muncul kemudian.

Sama persis bak sebuah denyut kehidupan.

Kehidupan yang tidak bisa selalu senikmat dan semudah keinginan. Hidup yang lengkap dengan rasa sakit, kecewa, duka, dendam, perjuangan … hari demi hari di dalamnya. Semua rasa yang harus dihadapi dan dinikmati tanpa bisa lari atau mencari jalan lain demi menghindari.

Hidup yang memang tidak selalu sejalan dengan keinginan diri namun seringkali butuh banyak melihat dari banyak sisi. Mempertimbangkan banyak hati dan pasrah mengindahkan kemauan sendiri. Kemauan yang justru kadang berangkat dari mimpi untuk memberikan hanya yang terbaik.

Keinginan yang kadang mesti pasrah menghadapi penolakan hingga muncul kecewa dan sakit. Rasa yang harus dihadapi dengan berani, bukan memilih lari untuk menghindari. Meski sulit namun begitulah hidup ini.

Olahraga mengajarkan saya untuk mengolah semua itu. Menghadapi kecewa dan sakit tanpa perlu setengah mati berusaha untuk menolak. Mengubah rasa tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang berguna bukan sekedar keluh kesah hampa. Menyembuhkan hati dan jiwa sendiri tanpa berharap bantuan siapa.

Percayalah, harapan yang terlalu tinggi akan seseorang atau sesuatu, seringkali menjadi sumber kecewa yang menghajar tanpa ampun. Maka mencari afirmasi positif melalui kegiatan yang juga positif akan memunculkan sisi diri yang jauh dari negatif.

Jadi, masih butuh tahu kenapa saya suka sekali berolahraga padahal tubuh tidak juga mencapai bobot dan bentuk bak puluhan tahun ke belakang?

Ini lah cara saya mencintai diri dan raga yang sudah tidak lagi muda. Mengolah raga sekaligus mengolah jiwa.

Being strong is never easy, but inner strength teaches us how to deal with pain and go on despite fear.

Love, Rere.

PS:
Bakasana atau Crow Pose, adalah salah satu pose yang bagi saya pernah begitu sulit. Mengajarkan saya bagaimana menyeimbangkan raga dengan jiwa. Menggabungkan kekuatan dan keberanian.

Benefits of Crow Pose

  • Tones the abdominal wall
  • Strengthens abdominal organs to aide in lower back pain and indigestion
  • Strengthens arms
  • Stretches and strengthens the back
  • Stretches and strengthens inner thighs
  • Opens the groin
  • Strengthens the wrists
  • Builds endurance and focus – mental focus and calm

(Source: https://yogawithadriene.com/crow-pose/)

Menulis … Mulai Dari?


Menulis … Mulai Dari?

Banyak hal menarik saya dapat dari sesi pertama pelatihan menulis kemarin. Pelatihan? Ya. Saya memang anak bawang yang masih tertatih mengenal diri sendiri dan berusaha menuangkan isi kepala dalam deretan kata. Maka mengikuti pelatihan adalah cara saya menajamkan pena.

Pelatihan dimulai dengan mengenali beberapa karakter manusia dalam hubungannya dengan motivasi untuk menulis.

  1. Tipe yang membuat sesuatu terjadi.
  2. Tipe yang biasa melihat saja.
  3. Tipe yang hanya terkesima ketika melihat sesuatu.

Jika anda tipe yang terbiasa hanya melihat dan terkesima, cobalah untuk membuatnya menjadi sesuatu. Bagaimana cara mewujudkannya? Dengan menumbuhkan kepercayaan diri, asal jangan kelewat percaya diri. Hahaha!

If you think you can, then you will. If you think you can not, then you won’t.

Apakah dalam proses mewujudkan itu tidak akan ada rintangan? Tentu saja ada. Cara menghadapinya adalah dengan mencoba, dan terus mencoba tanpa kenal menyerah. Namun ada 2 hal yang perlu diingat seseorang ketika ingin mulai menajamkan pena menjadi seorang penulis.

Branding

Pilihlah sebuah nama yang akan menjadi ciri khas. Stick to it dan jangan melakukan banyak perubahan, sehingga gaungnya akan dengan mudah diingat oleh pembaca.

Spirit

Tidak ada siapa pun yang bisa menumbuhkan semangat dalam diri kecuali diri sendiri. Caranya dengan menguatkan tekad, menggelorakan semangat, serta fokus pada apa yang ada di hadapan. Membuka mata juga telinga adalah wajib, karena ilmu serta keahlian itu sangat luas. Percayalah, mempelajari sesuatu yang baru itu akan membuat hidup menjadi lebih indah.

Try, try again, try harder, try your best, and never give up!

Saya juga menemukan 5 resep menarik yang sangat berguna untuk mulai menulis, baik sebagai pemula atau juga menjadi pegangan seumur hidup untuk para penulis profesional.

1. Abaikan teori, and just start. Mulai lah menulis dari apa pun yang terlintas di benak, dan bagaimana pun jenis tulisanmu.

2. Terus berlatih, and never stop learning. Buka mata dan pikiran untuk menambah kosa kata serta wawasan, dan berlatih untuk terus mengasah ide yang muncul. Beberapa cara bisa dilakukan seperti mengikuti tantangan menulis atau bergabung dengan komunitas menulis. Jangan terlalu khawatir dengan hasil akhir karena semua butuh proses. Life is a never ending journey of learning and relearning, isn’t it?

3. Jika mendadak buntu, berhenti saja lah. Memaksa diri untuk menulis ketika otak sedang menolak diajak berpikir adalah hal yang harus dihindari. Istirahatkan ia untuk sementara dan benahi pikiran serta emosi agar bisa kembali konsentrasi. Memiliki bank naskah adalah salah satu solusi. Bagaimana caranya? Biasakan untuk menulis apapun yang terlintas di benak, kapan pun, di mana pun. Kemudian simpan naskah-naskah ini di sebuah folder yang sewaktu-waktu bisa kita edit lalu publish ketika otak sedang beku.

4. Mulai lah menulis hal yang begitu dekat dengan kehidupan kita dan tentunya dikuasai dengan baik. Saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk be true to yourself. Jujurlah pada semua hal, termasuk dalam tulisan. Tidak perlu muluk-muluk berangan ingin menulis tentang hal yang kekinian atau sedang bombastis dibicarakan. Tulis saja hal-hal sederhana yang menarik untuk dibaca sebagai permulaan.

5. Abaikan gaya menulis, tampilkan jati diri sebagai penulis. Membaca tulisan orang lain memang seringkali membuat ternganga atau terkagum bingung. Kok bisa ya dia menulis sekeren itu? Menjadikan seseorang sebagai obyek belajar adalah sesuatu yang baik. Namun berusaha keras menjadi seperti orang lain adalah hal yang harus dihindari ketika mulai menulis. Be yourself, you are you, you are unique. Karena menjadi berbeda itu seru!

Jadi, jika ingin menjadi penulis maka mulailah menulis. Nikmati segala prosesnya dengan menjadi diri sendiri dan bersikap jujur pada setiap goresan yang bersumber dari hati.

So, let’s start and just write!

Love, Rere

Sumber: Pelatihan Menulis “Mencetak Generasi Berliterasi” Bersama Ilham Alfafa, Founder Rumah Media Grup

Hitam Putih


Hitam Putih

Hitam Putih
Karena hidup tak selalu berwarna bak pelangi
Kadang membosankan bahkan terlalu sepi
Menunggu bahagia, ia tak selalu datang sendiri

Wahai raga yang sedang tak berwarna
Sampai kapan jiwamu akan terpuruk merana?
Padahal banyak jalan mungkin terbuka
Jika netra berani melawan rasa

Duhai sukma yang sedang dirundung duka
Tataplah masa depan di hadapan
Tak perlu lagi menengok ke belakang
Jika hanya luka yang akan kau hirup aromanya

Beranikan diri menghadapi hari
Sampai hitam putihnya buana kau jalani
Hidup penuh warna pasti di ujung menanti
Tanpa perlu menunggu siapapun mengiringi

Bahagia itu adanya di hati
Bahagia itu tentang mencintai diri
Airmata segera sudahi
Bangkit dan segera maju sebelum mati

Mencintai diri sendiri itu butuh nyali
Berani melangkah itu bak pemantik api
Cintai jiwamu dengan sepenuh hati
Sirami dengan kasih agar ia senantiasa berseri

Life won’t sparkle unless you do!


Love, Rere

Thank You, Me


Thank You, Me

Hai, Moms!

Sudah membereskan rumah?
Sudah selesai melipat segunung baju?
Sudah memasukkan cucian kotor ke dalam mesin cuci?
Sudah masak untuk makan siang dan malam sekeluarga?

Mmm … dan untukmu sendiri bagaimana?

Sudah minum kopi pagi ini?
Sudah menyempatkan diri untuk menikmati me time?
Sudah melakukan olah tubuh dan berkeringat dengan gembira?
Sudah mengatakan cinta pada raga yang kerap kau buat bak kerja rodi seharian?

Kasihannya tubuh ini, yang kadang tanpa sadar terdzalimi.
Meski kadang begitu sakit hingga tak satu obat kimiawi menjadi remedy.

Lebih kasihan lagi jiwa ini, yang setengah mati mencoba untuk selalu tegak berdiri.
Bahkan ketika butiran bening jatuh pun, dengan segera terhapus tanpa menunggu siapapun datang dan berusaha mengusap.

Well Moms,
Ragamu yang semakin melemah tergerus usia, juga butuh perhatian.
Jiwamu yang selalu berusaha tegar juga butuh secangkir kopi untuk menghangatkan.
Cintai dirimu sama besarnya dengan cintamu pada sekitar.

Thank You, Me.
Thank you for standing tall and strong even on my weakest point in life.
Thank You, Me!
Thank you to never let anyone bring me down.
Thank You!

Hey, You! Love yourself and write down your own story!
-Rere

H I D U P


H I D U P

Memang tak selalu lurus apalagi mulus
Kadang di tengah jalan bertemu kerikil dan batu
Mungkin juga berhadapan dengan jalan berliku
Namanya juga hidup, bisa bertahan kah kamu?

Pernah punya duit cuma sepuluh dollar
Dengan sebiji telur penahan lapar
Untung bayi kecil gak ikut nangis menggelegar
Namanya juga hidup, tak selamanya bak bunga mekar

Pernah juga tertimpa masalah besar
Sampai harus kabur-kaburan
Bahkan mobil sampai tabrakan
Namanya hidup, kadang ada ujian sabar

Ujian terus, kapan lulusnya?
Masak hidup enggak lurus terus jalannya?
Kan sabar ada batasnya?
Namanya juga hidup, kita tak pernah tahu ujungnya

Merasakan roller coasternya kehidupan
Membuat saya punya pertahanan
Walau kadang ada pasang surutnya
Tapi saya sadar, banyak orang lebih susah hidupnya

Dari itu semua, apa yang saya dapat?
Selain keyakinan untuk bisa menjalani dengan selamat?
Saya belajar artinya kekuatan
Yang tidak pernah saya tahu adanya di badan

Sekarang jalan saya terasa lebih lapang
Lupakan yang lewat dan maafkan segala kesalahan
Tugas saya sekarang berbagi pelajaran
Bahwa setelah gelap pasti ada terang

Life’s short, spend it wisely.

Change the way you look at things.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis

Di Rumah Saja? Gak Masalah.


Di Rumah Saja? Gak Masalah.

Corona oh corona
Karenamu dunia jungkir balik tak berdaya
Padahal wujudmu tak terlihat adanya
Kita bisa apa?

Kerja dan sekolah dari rumah
Puasa dan ibadah pun di rumah saja
Mungkin lebaran nanti demikian juga
Kita bisa apa?

Banyak jiwa melangut karena keuangan mengkerut
Banyak raga terpuruk karena kondisi tak menentu
Akankah kita ikut cemberut meratapi nasib buruk?
Kita bisa apa?

Kita bisa!

Kita bisa menyebarkan kebaikan dengan apa saja yang kita punya. Semampunya dengan sepenuh hati. Seperti kami yang bersatu di bait indah ciptaan tangan dingin Erros Djarot ini.

Ulurkan tangan kita semua. Karena berpangku tangan tak ada manfaatnya. Bersama kita bantu semua yang sedang murung. Itu pun bagian dari ibadahmu juga.

Bersama kita saling menghibur dan meneguhkan hati, bahwa ibadah tetap bisa berjalan, walau hanya di rumah sendiri. Itu pun bagian dari ibadahmu yang bersumber dari hati.

Ibadahmu dengan Sang Khalik tidak perlu ditentukan dari lantai mana sujudmu datang, atau dari arah mana doamu terlafazkan. Semua sumbernya ada dalam hati dan kedalaman relung jiwa.

IA toh serba tahu dan serba merasa, apapun yang tersemat dalam lubuk terdalam masing-masing rongga. Tanpa kecuali dan tanpa pernah salah alamat. IA hanya butuh kepasrahan kala bermunajat dengan tulus tanpa minta banyak harapan.

Mengadulah padaNya kala diri terpuruk dan merasa terpasung di rumah sendiri. Ingat juga padaNya ketika berada di puncak bahagia dan berkalung kebebasan dunia. Berharaplah IA tetap mengingat mu di setiap detik kehidupan yang fana ini.

Di rumah saja, beribadah lah seperti biasa. IA menghitung tanpa jeda. Baik atau kurang adanya.

Jadi … di rumah saja? Gak masalah. Ibadah tetap lancar lah!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #Rere #IbadahStayAtHome

Lagu & Lirik: Erros Djarot
Singer: Kagama Bersenandung

Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?


Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?

“Bunda …”
“Yes?”
“I left my lunch box and bottle at home.”
“So?”
“Can you send it to me?”
“No, I can’t.”
“But I’m hungry,
Bunda.”

Begitulah pesan singkat yang saya terima dari putri sulung saya. Ketika sedang menikmati secangkir kopi hangat pagi itu. Kotak makan, dan botol minumnya memang tertinggal di rumah. Saya menemukannya tergeletak di depan pintu. setelah ia pamit berangkat sekolah.

Ia memang nampak terburu-buru hari itu. Ada tugas Student Council, katanya. Semacam OSIS di sekolah Indonesia. Dengan singkat saya membalas pesannya, “Learn from this lesson.”

Kejam kah saya? Bagaimana dengan Anda para ibu? Jika anda menjadi saya, apakah anda akan mengambil langkah yang sama dengan saya yaitu menolak mengantar barang yang tertinggal sebagai pembelajaran? Atau justru tergopoh-gopoh pergi ke sekolah untuk mengantar barang mereka karena kasihan?

I might sound mean to many. Ibu yang kejam. Sekolah sebelah rumah saja tidak mau mengeluarkan sedikit effort untuk mengantar keperluan bocah yang tertinggal.

Ya. Begitulah cara saya mendidik anak-anak di rumah. Disiplin dan tanggung jawab adalah hal yang utama di keluarga kami. Jangan heran jika berkunjung ke rumah saya, anda akan melihat saya tidak segan memerintahkan anak-anak untuk melakukan banyak hal, bahkan sejak usia mereka masih sangat muda.

Memasak, membersihkan rumah, membereskan kamar, membuang sampah, pendeknya semua harus mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Semua. Tanpa kecuali.

Bahkan putra bungsu saya yang baru berusia 9 tahun, sudah terampil mempersiapkan menu sahur sederhananya sendiri, lho. Apalagi kedua kakaknya. Merekalah yang sekarang ini bertanggung jawab atas banyak hal di rumah kami.

Bagaimana saya melakukan semuanya?

It takes two to tango.

Kami melakukannya bersama-sama. Berproses sedari kecil, dan belajar dari semua kesalahan selama proses berlangsung. Seperti yang saya ceritakan dalam buku antologi Tips Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Anak Jilid 1 https://curhatanaksekarang.com/tips-mengoptimalkan-kemampuan-belajar-anak/

Belajar bukan hanya di ruang kelas dan membuka buku. Belajar hidup disiplin dan mengenal arti tanggung jawab, juga termasuk ilmu tentang kehidupan yang akan berguna seumur hidup. Ini yang tanpa lelah saya tanamkan di diri putra dan kedua putri saya.

Untuk siapa semua life skills ini? Untuk mereka. Agar kelak mereka bertiga tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang disiplin, berani bertanggung jawab, dan tidak pernah menyusahkan orang lain.

Mau membaca tulisan kami semua dan menyerap manfaatnya? Mari belajar bersama.

Love, Reyn.