FOKUS


FOKUS

Pagi tadi Rayyan memberikan hasil ujian pelajaran Bahasa Melayunya pada saya dengan sedikit ragu. Saya tahu, pasti ada sesuatu.

Minggu lalu memang anak-anak Sekolah Dasar di Singapura baru melaksanakan ujian tengah semester. Rayyan dengan percaya dirinya selalu bilang, “so easy. I can do it, Bunda,” setiap kali saya bertanya bagaimana ujiannya, sepulangnya dari sekolah.

Benar saja. Nilai ujian Bahasa Melayunya rendah sekali bahkan berbuah catatan dari sang guru yang menegurnya agar lebih fokus mengerjakan soal. Saya pun mengajaknya bicara pagi tadi.

“Do you understand this note from your teacher?’
“No I don’t,
Bunda.”
Lah? Read please.”
“But …”
“Just read. We will discuss about it.”

Dengan terbata-bata Rayyan membaca tulisan bertinta merah yang tertera di kertas ujiannya itu.

“What’s menggencewakhan, Bunda?”
“Mengecewakan. Meaning your cikgu is dissapointed at you because you took this exam lightly and didn’t focus on your paper.”
“But I didn’t take this lightly. I just don’t understand,
Bunda. I’m sorry.”
“I understand that you struggle hard for this subject. It’s part of my mistakes too. But when you don’t understand something, you must work harder to understand more and we will work this thing out together, okay? But I want you to try harder too.”
“Okay,
Bunda. I’m sorry. But some of my friends got low marks too.”
Rayyan, please focus on yourself for now and don’t think about others. Understand?”
“Sorry,
Bunda.”

Saya dapat melihat penyesalan di wajahnya karena saya tahu ia memang bekerja keras untuk menyelesaikan semua ujiannya minggu lalu. Nilai matematikanya bahkan naik dan menjadi 3 besar peraih nilai tertinggi di kelasnya. Saya merasa ikut bersalah karena tidak membiasakannya lebih sering berbicara dalam bahasa Melayu di rumah.

Lha saya sendiri bahkan sang ayah yang asli Melayu juga bingung, kok.

Saya menekankan padanya untuk fokus memperbaiki diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Anggap saja catatan dari sang guru adalah teguran pada kami berdua untuk lebih giat dan tekun belajar sesuatu yang tidak kami kuasai dengan baik.

Setelah berdiskusi dengan mata berkaca-kaca ia memeluk saya lalu meminta maaf karena merasa mengecewakan saya dan gurunya di sekolah. Saya memeluknya sekaligus mengatakan betapa bangga melihatnya banyak berubah. Ia sekarang lebih rajin, lebih teratur hingga isi tasnya pun tersusun rapi tidak lagi amburadul seperti sebelumnya. Saya juga senang ia bahagia pergi ke sekolah bahkan menganggap pelajaran matematika sebagai sesuatu yang menyenangkan. Yayy!

Ingat ya, Nak. Fokus saja sama dirimu sendiri dulu, tak perlu sibuk dengan apa adanya orang lain. Habiskan saja waktu untuk selalu memperbaiki diri sendiri. Ini saja seharusnya sudah cukup menyita waktu kita hingga akhir masa nanti.

Diskusi pagi kami pun ditutup dengan pelukan hangat dan kata cinta seperti biasa. Saya tahu ia sangat menyesal. Saya memintanya menemui sang guru untuk mengatakan penyesalannya sekaligus berjanji untuk memperbaiki diri dan lebih berkonsentrasi di kelas.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Rayyan.”

Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.

TTM Yang Manis


TTM Yang Manis

Sudah ada yang nonton “Teman Tapi Menikah” 1 dan 2?

Film yang diangkat dari buku milik Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion ini buat saya lumayan menghibur. Bagian 1 menceritakan bagaimana mereka bertemu di bangku SMA dan bertahun-tahun berada di friendzone hingga menyadari ternyata ada cinta di sana. Hmm … berapa banyak sih dari kita yang berawal dari teman sekolah lalu berakhir menjadi pasangan hidup karena menikah?

Well, walau harus saya akui cerita film ini sebenarnya biasa saja. Namun tanpa diduga, sequelnya ternyata lumayan menyentuh, hingga saya sempat meneteskan airmata. Ya, di bagian ke-2 film ini, Ayu dan Ditto akhirnya menikah. Namun tak seindah ketika bersahabat, konflik di antara mereka justru muncul ketika Ayu mulai berbadan dua.

Bagian ini saya tonton bersama suami, lalu kami sedikit flashback mengenang masa-masa ketika saya hamil pertama kali dulu. Tiga kehamilan yang masing-masing membawa cerita berbeda. Beruntung saya tidak mengalami perubahan yang terlalu parah seperti Ayu yang menjadi sangat emosional, hingga sempat membuat Ditto kelabakan.

Perubahan emosi Ayu semakin menjadi setiap kali ia bertemu dengan para sahabat yang masih lajang. Tubuh langsing, dandanan cantik, sepatu berhak tinggi yang tidak lagi dimiliki Ayu, membuatnya kehilangan kepercayaan diri di hadapan mereka.

“Nikmati masa-masa single lo karena itu enggak bakal balik lagi. Maksimalin. Main, kerja, jalan-jalan, jatuh cinta, karena kalau badan lo udah kayak gue nih, gerak aja usaha. Kalian bisa lihat kaki gue kan? Gue udah berbulan-bulan enggak bisa lihat,” ucapnya dengan sedih di hadapan para sahabatnya yang masih lajang.

Ayu … memang masih muda ketika menyadari telah berbadan dua pasca menikah. Padahal ia bermimpi ingin keliling dunia berdua Ditto dan sempat merasa kehamilannya menjadi penghalang.

Hehe. Yu, saya dulu juga begitu. Bulan madu berdua saja bahkan tak sempat kami lakukan. Keburu hamil, lalu hamil lagi, lalu hamil lagi. Tubuh yang sebelumnya cantik dan langsing jadi membengkak, lalu susut, lalu bengkak lagi, susut lagi, bengkak lagi, susut dikit … dikiiit sekali hingga hari ini, dan tak bisa kembali langsing seperti ketika masa muda.

Saya juga sempat merasa tidak percaya diri bertemu teman-teman kerja dulu. Melihat betapa chic dan cantiknya mereka, sementara saya kesana-kemari membawa gembolan dengan baju longgar dan muka pucat tanpa polesan make up. Kalau tidak sedang hamil, gembolan saya berubah menjadi botol susu, popok, dan segala printilan bayi.

Ah, sungguh masa-masa peralihan yang tidak mudah. Berubah dari lajang menjadi calon ibu, mengganti semua hal tentang aku menjadi tentangmu, kamu, dan kamu.

Namun sembilan bulan kesakitan itu nyatanya berbuah cinta hingga seumur hidup. Dengan tambahan gurat pelangi di setiap sudut. Dunia juga jadi lebih berwarna tak lagi pucat, indah tak lagi gundah, seru tak lagi beku.

Terima kasih untuk-Mu yang sudah menyempurnakan hidup ini dengan lika-liku, meski tak mudah tapi tetap indah. Seindah kisah Ayu dan Ditto yang menutup cerita dengan manis. Semanis senyum sang bayi, Dia Sekala Bumi.

Love, Rere

Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Pagi tadi saya melihat sebuah status yang isinya kurang lebih menanyakan kenapa para lelaki harus mencari istri yang pandai memasak. Bukankah mereka sedang membangun rumah tangga, bukan rumah makan?

Hahaha! Saya ketawa sih membacanya. Kemudian berpikir sambil menghirup wanginya kopi hangat di hadapan saya.

Pernah kah saya berpikir bahwa saya dijadikan bak rumah makan di rumah? Hmm … sependek ingatan saya sih belum pernah. Selama ini saya menyukai seluruh kegiatan di dapur, bahkan sempat rajin menerima pesanan masakan dari beberapa pelanggan.

Terpaksa kah saya melakukan kegiatan masak memasak di rumah selama ini? Jawabannya adalah sama sekali tidak. Saya melakukannya dengan senang hati dan gembira, tanpa paksaan atau keterpaksaan. Bahkan dengan penuh semangat belajar banyak menu baru untuk disajikan di rumah.

Wahai para remaja putri atau teman-teman perempuan yang belum menikah. Percaya lah, kalian akan sangat bahagia ketika mendengar sang suami memuji masakan anda semua bahkan lebih memilih untuk makan di rumah, sesederhana apapun masakan anda. Bahkan dengan bangga membawanya ke tempat kerja, dalam sebuah kotak makan unyu, tanpa ragu dan malu.

Itu belum seberapa. Senyum anda juga pasti mengembang selebar-lebarnya ketika mendengar anak-anak mengatakan dengan bangga bahwa teman-teman sekolahnya menganggap anda “cool”. Hanya karena mereka mengagumi hasil buatan tangan anda di dalam kotak makan, yang selalu berbeda tiap hari hingga mereka selalu penasaran dengan isinya.

“Your Mom so cool! The food looks delicious and always nice to look at.”

Belum lagi pujian dari sahabat, teman, teman suami, atau keluarga yang berkesempatan makan di rumah anda dan dengan tulus mengatakan betapa lezatnya rasa masakan anda. Bahagianya mungkin lebih dari rasa lelah yang muncul setelah selesai memasak, dan melihat dapur bak kapal pecah.

Tapi eh tapi, ada nilai edukasi juga di rumah kami lho. Meski dengan suka hati saya memasak beragam menu, anak-anak juga harus belajar untuk tidak cerewet dan menjadi picky eater. Saya membiasakan mereka untuk being grateful, sesederhana apapun masakan yang saya buat. Mereka harus paham bahwa ada banyak sekali anak seusia mereka di luar sana yang tidak bisa menikmati makanan seperti mereka di rumah. Jadi, mereka tidak boleh banyak protes dan harus banyak bersyukur. Makan apapun yang ibunya masak, dan selalu berterima kasih atas segala anugerah yang didapat dari Sang Pencipta.

Saya juga mengajarkan mereka untuk terbiasa dan mengenal isi dapur. Ini adalah salah satu dari sekian banyak life skills yang saya wariskan untuk hidup mereka kelak. Jadi mereka tetap bisa survive di mana pun mereka tumbuh dewasa nanti. Saya toh tidak bisa selamanya memasak untuk mereka, kan?

Suatu hari nanti anak-anak harus hidup mandiri dan mampu bertahan sendiri. Jika memasak hal yang paling sederhana saja tidak mampu, bisa dibayangkan betapa tipisnya kantong mereka kelak, karena harus jajan setiap hari.

Jadi, masih mau menganggap kemampuan memasak ini sepele? Think again, ladies.

Jangan merendahkan diri dan menganggap bahwa kegiatan memasak akan menjadikan anda bak rumah makan di rumah sendiri. Tersenyum lah dengan bangga hati karena bisa berkata, “Gue dong, masak sendiri buat anak-anak dan suami.”

Love, Rere

Love Is … Being Responsible


Love Is … Being Responsible

“Enggak usah masak dan bikin cake lah, Bunda. Beli saja gampang, enggak capek.”

“Enggak mau, ah. Buat apa saya belajar bikin cake kalau masih beli juga?”

Suami saya yang sangat baik. Ia memang tidak mau saya terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selalu khawatir saya akan jatuh sakit karena kelelahan. Hingga sang istri kerap diingatkan untuk istirahat dan banyak tidur. Ia tahu bahwa istrinya tipikal perempuan yang tidak bisa diam, pun tidak bisa dilarang alias keras kepala.

Well, sang istri hanya berusaha melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu dengan sepenuh hati. Baginya, ini hanya lah sebagian kecil dari bentuk tanggung jawabnya di rumah terhadap anak-anak. Mereka yang diamanahkan kepada sang istri untuk dijaga dengan baik. Hingga ia merasa bertanggung jawab dengan apapun yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Meski ia bisa saja dengan gampang membeli apapun, tanpa harus susah memasak atau repot sendiri mempersiapkan makanan. Contohnya untuk hari spesial anak-anak seperti kemarin.

Tak jarang ia juga bertanya dalam hati, “Kenapa sih mau susah sendiri? Bukannya lebih gampang hanya keluar duit tapi tanpa keringat dan pegal sekujur badan, ya?”

Hmm … inilah cinta. Terdengar klise tapi begitulah kenyataannya.

Jika bukan atas nama cinta yang begitu besar, rasanya mudah saja baginya untuk meninggalkan segala tanggung jawab di belakang. Namun sang istri hanya ingin mewariskan kebiasaan baik bukan sekedar harta duniawi. Ia hanya berharap kelak mereka melakukan hal yang sama untuk keluarga masing-masing. Memberikan segenap cinta di setiap sentuhan tangan dan peluhnya tanpa syarat.

Pada saat yang sama sebagai seorang ibu, ia juga sedang mengajarkan arti tanggung jawab pada ketiga buah hatinya. Bahwa ketika telah berani memutuskan untuk membangun sebuah keluarga, ada tanggung jawab besar di sana. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan materi namun juga ada kewajiban untuk selalu meningkatkan kemampuan diri.

Ibu … adalah awal seorang manusia mengenal dunia. Sejatinya semua pengalaman dan kesiapan untuk menghadapi juga matang dipikirkan. Karena hidup bukan sekedar bersenang-senang, namun ada tanggung jawab di dalamnya. Semua adalah bekal para penerus menghadapi dunia dengan segala dinamikanya.

Selamat menjalani hari-harimu Ibu, lakukan semua dengan bahagia dan cinta, hingga tak ada kata tak bisa.

Love, Rere

Rantang Plastik Mama … Sebuah Kenangan


Rantang Plastik Mama … Sebuah Kenangan

“Do you like the food that I packed yesterday?”
“I do
Bunda. So yummy.”
“Does any of your friends bring food to school too?”
“Nope. Only me.”
“Are you okay with it? Are you not ashamed of bringing lunch box to school?”
“Nooo. I’m okay
Bunda. Infact, some of my friends kinda wait and curious about what food I bring everyday. They said, whoa Lara’s mom can cook anything delicious! Thank you for preparing foods every single day, Bunda.

Senyum saya terkembang lebar sekali pagi tadi. Kemudian kami berdiskusi tentang mengapa saya rela harus bangun lebih pagi dan sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah, dengan menu yang selalu berbeda setiap hari.

Sambil bercerita, ingatan saya melayang ke puluhan tahun silam dengan segala kenangan tentang sebuah rantang plastik berwarna putih. Ya, rantang plastik milik mama, yang kerap saya bawa untuk bekal sarapan dan makan siang, di sebuah kantor tempat saya bekerja dulu.

Meskipun rumah makan bertebaran di sana, saya tetap membawa bekal yang sedari pagi buta disiapkan mama. Walau hanya berupa menu sederhana namun rantang plastik itu berisi ungkapan penuh cinta dari seorang ibunda. Cinta yang kemudian begitu saya rindukan ketika harus melanglang buana meninggalkan tanah air hingga hari ini.

Kebiasaan dan kebisaan itu yang lalu terbawa hingga saya menikmati setiap proses menyiapkan bekal pagi. Meskipun saya memberikan anak-anak sedikit uang jajan untuk keperluan di sekolah, saya tetap membungkuskan mereka makanan yang saya buat sendiri dan letakkan dalam 3 buah kotak makan plastik berwarna-warni.

Kotak makan yang selalu mengingatkan saya akan kenangan rantang plastik berwarna putih milik mama. Cinta dan kasih sayangnya tetap terasa hingga saat ini, dan tidak pernah usang.

Terima kasih, Ma.

Semoga ketiga cucumu di sini kelak juga memiliki kenangan tentang kotak makan plastik berisi sentuhan cinta dariku. Cinta yang tak mengenal syarat dan tanpa batas hingga kelak akhir waktuku.

Love, Rere

Belajar Dari Rayyan


Belajar Dari Rayyan

Ting Tong!

He? Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah? Waduh! Saya belum lagi mandi, dan baru saja menyeduh secangkir kopi. Bergegas saya menuju pintu rumah dan melihat dari lubang intip.

Lah! Si Rayyan?

“What’s wrong, Rayyan? Did you forget something?”
Bundaaa! I forgot my mask! I was almost reached the school gate when I realized I didn’t put on my mask.”
“Oalah! Hold on, I take your mask.”
“Thank you,
Bunda.”
“There you go. Be careful. Just go down by the lift,
Nak.”
“I’ll go down by the stairs,
Bunda. So sorry for this.”
“No problem. Take care!”
“I love you,
Bunda. Assalamualaikum.”
“Love you more!
Waalaikumussalaam.”

Lamat saya masih mendengarnya berteriak menyatakan penyesalan dan cintanya, sambil menuruni anak tangga, sesaat setelah saya menutup pintu.

Apartemen kami berada di lantai 5, dan anak-anak selalu turun naik menggunakan tangga tanpa pernah mau naik lift yang letaknya persis di samping rumah. Kami memang mengajarkan mereka untuk rajin menggunakan tangga di mana pun berada. Anggap saja olahraga.

Saya pun mengawasi Rayyan dari jendela rumah sampai ia selamat menyeberang lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke gerbang sekolah. Beruntungnya kami, sekolah dasar anak-anak hanya terpisah 1 blok saja dari bangunan apartemen rumah.

Ah Rayyan … seandainya semua orang belajar disiplin darimu. Si bungsu yang baru berusia 9 tahun. Demi menjaga diri dan lingkungannya, ia sampai rela harus turun naik tangga dari lantai 1 ke lantai 5 mengambil masker penutup mulutnya yang tertinggal di rumah. Padahal di sekolah ia juga harus turun naik dari lantai 3 ruang kelasnya ke lantai 1, atau lantai 2 untuk mengikuti serangkaian kelas.

Semoga tetap semangat dan bahagia ya Nak. Tidak perlu meminta maaf karena sudah menerapkan disiplin dengan baik, dan melakukan sesuatu yang benar. Padahal bisa saja ia tidak peduli dan tinggal bilang lupa. I’m so proud of you big boy!

Semoga banyak manusia ikut belajar dari Rayyan.

Love, R

Selamat Berjuang, Nak!


Selamat Berjuang, Nak!

“How’s school, Lana?”
“It was okay,
Bunda.”
“Are you okay wearing face mask during lesson?”
“I’m okay.”
“Can you breathe easily?”
“Kinda dizzy a bit but no problem.”
“Huh? You must inform your teacher if you feel uncomfortable,
Nak.”
“It’s okay,
Bunda. It’s only for a while. After that I’m fine.”

Hhhh … sesak dada rasanya melihat ketiga anak saya dan seluruh murid di Singapura kembali ke sekolah. Ya, sejak mulai diberlakukannya Fase 2 di awal Juni kemarin, mereka memang mulai bergantian kembali belajar di dalam kelas. Tentu saja dengan sederet aturan yang harus dipatuhi tanpa kecuali.

Setelah minggu kemarin dua putri saya masuk sekolah sementara si bungsu mengerjakan tugas di rumah, minggu ini giliran Rayyan yang masuk sekolah dan sang kakak mengerjakan tugas sekolah dari rumah.

Saya sedikit khawatir memang pada kondisi Lana yang pernah menderita asma. Ia juga mudah sekali mimisan ketika suhu tubuhnya naik. Namun saya hanya mengingatkannya untuk berkomunikasi dengan sang guru ketika ia mulai merasa tidak enak badan. Bangganya saya ketika melihatnya begitu tabah dan tanpa keluh kesah menuruti peraturan sekolah.

Begitu pula dengan si bungsu Rayyan, yang begitu bersemangat mengawali pagi. Tak nampak raut wajah khawatir atau segan setelah sekian lama hanya di rumah saja. Sejak hari Senin kemarin, ia harus kembali ke sekolah dan memulai segala sesuatu dengan hal baru.

Ia juga harus belajar beradaptasi dengan masker yang terpakai sepanjang hari, serta berjuang untuk melalui semuanya tanpa kecuali.

“How’s school, Rayyan?”
“Oh my! It was so hot with my mask on,
Bunda.”
“But are you okay?”
“Yea, I’m fine. Teacher asked us to wear PE attire to school so we don’t sweat too much.”
“I know you can do it and able to adapt to the new normal. Right?”
“Yea. I’m fine. I look cool with my mask on anyway.”
“Ish! So vain!”

Hahaha! Mungkin hanya Rayyan yang kegirangan memakai masker wajah karena menurutnya ia tampak keren.

Alhamdulillah mendengar mereka tetap semangat, tidak banyak mengeluh, dan cepat beradaptasi dengan keadaan yang baru ini. So proud of you, kids!

Semoga perjuangan kalian di bangku sekolah dalam situasi tidak mengenakkan tahun ini, akan membentuk pribadi yang kuat dan tidak mudah mengeluh ketika dewasa kelak. Masih banyak tantangan di depan sana yang harus kalian perjuangkan bukan? Ini hanya sebagian kecil dari proses belajar hidup, Nak.

Welcome back to school and welcoming the new normal!

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda #Perjuangan

Welcoming The New Normal. Hang in there, Kids!

Surat Cinta


Surat Cinta

Adakah di antara emak semua yang masih menyimpan lembaran surat cinta? Surat-surat sederhana yang kadang hanya ditulis di selembar kertas nota kecil, kadang sudah lusuh bahkan mungkin robek di sana-sini? Eits! Saya tidak sedang berbicara tentang masa lalu ya. Ihik!

Ini tentang surat cinta yang saya dapat dari ketiga anak saya, yang tersimpan dan saya rawat dengan baik.

Dulu, waktu kedua putri saya masih kecil dan baru belajar menulis, mereka sering menghadiahi saya surat sebagai tanda cintanya. Walaupun tulisannya masih bak cakar ayam atau dengan gambar yang meleyot sana sini. Banyak lho yang masih saya simpan walau sebagian besar raib, mungkin terbuang waktu kami pindah rumah dulu.

Sekarang, surat cinta itu saya dapatkan kebanyakan dari si bungsu yang memang luar biasa romantis. Ia begitu perhatian dan sangat ekspresif. Rajin sekali memeluk, mencium, dan mengungkapkan isi hatinya dengan bahasa yang lucu.

Ya, ia akan tiba-tiba datang dan menyerahkan sobekan kertas yang berisi kata-kata manis untuk saya.

“I will write down something for you every single day Bunda, because I love you so so so much,” begitu ujarnya.

Ah … meleleh!

Sebagian surat cinta itu sengaja saya letakkan di tempat khusus supaya saya bisa selalu melihat dan membaca. Sebagai pengingat juga untuk tidak selalu marah dan bermuka tegang di rumah. Sebagai tanda juga bahwa ada orang-orang di sekitar yang menyayangi saya dengan tulus hati. Unconditionally.

Thank you, Nak! Rasanya tidak ada hal yang begitu membahagiakan dibanding menjadi seorang ibu. Surat-surat cintamu membuat hidup bunda begitu indah dan bahagia.

Life has never been so good!

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda

Getem-Getem


Getem-Getem

Getem-getem dalam bahasa Jawa adalah ekspresi menahan emosi sambil membeliakkan mata, serta mengatupkan gigi dan bibir. Biasanya paling sering dilakukan para ibu di pagi hari sejak anak-anak bangun pagi. Betul tidak?

Well, seperti biasa di rumah kami, semua anak wajib membereskan tempat tidur masing-masing, termasuk melipat selimut dengan rapi. Catat … dengan rapi. Saya mengajarkan mereka melipat sejak kecil. Awalnya dengan saling membantu kemudian belajar untuk mandiri, mengerjakannya sendiri.

Kisah ini terjadi ketika putra bungsu saya berusia 7 tahun. Pagi itu ia, yang memang agak dramatis, sambil menangis mengatakan 1 kata kunci yang really triggering my getem-getem.

“How to do this? I’m not good at this!”

Oh no! False alarm. Salah besar kalo membuat saya mendengar kalimat itu di pagi hari, hingga membuat saya getem-getem selama beberapa detik.

“What’s wrong, Rayyan?”

“I can’t fold the big blanket myself, Bunda. Can you help me? Because I’m not good at this.”

“Listen. Why do you think Allah gave us brain?”

“To think?”

“Yes. To think. To figure out things. To find a way to do things. I taught you on how to fold this. But since you told yourself that you are not good in this then your brain will do what your mouth is telling you, and forever you will not be good in anything. Is that what you want?”

“No, Bunda.”

“Try, be patient and don’t give up easily. Keep trying, whatever the result will be. At least you try before you cry. Tell yourself let me try before assuming that you are not good in anything. Say it!”

“Let me try.”

“Again. 3 times.”

“Let me try. Let me try. Let me try.”

“Now try.”

“Okay.”

After a while, “Bundaaaa, look!” ujarnya sambil menunjukkan selimut hasil lipatannya.


“Smart boy. You see? I know you can do it!”

“Yeah. I was very cranky before but then I told myself that I can do it and that I have to try and try. So there it goes. Is it neat and tidy, Bunda?”


“Yes it is. It’s super neat! You see? You just have to try. Be patient, and don’t give up easily. You know you can do it and whatever the result is, be proud because you do it yourself. That’s the most important thing. Understand?”


Yes Bunda. Thank you for teaching me everything. I love you.”


“I love you more Sayang.”

Ia pun memeluk saya seraya mengucapkan terima kasih karena suntikan semangat yang saya beri, walau diawali dengan getem-getem tadi.


By the way, selimut yang dipakai Rayyan berukuran besar yaitu queen size. Bukan selimut kecil yang bisa dengan mudah dilipat oleh bocah 7 tahun setinggi 120 cm ya. Jadi saya sangat bangga padanya.

Moms, mengajarkan positive attitude kepada anak-anak memang bukan hal yang mudah. Apalagi ketika sekeliling mereka penuh dengan orang-orang dewasa dengan negativities. Tapi kita lah ibunya. Kita yang pegang peranan bagaimana menentukan tumbuh kembang mereka. Tinggal masalah berdamai dengan emosi saja yang kadang muncul karena beberapa sebab. Ya, seperti getem-getem itu, yang bagi saya adalah salah satu cara menahan emosi.

It’s not easy yet nothing is impossible. Have a great day ahead!

Love, R

#RumahMediaGrup #ChallengeMenulis #WCR #SecangkirKopiHangatEmak #ReReynilda