Serpihan Hati


Serpihan Hati

Hai, apa kabar semua?

Awal tahun ini lumayan kelabu untuk saya pribadi. Semoga tidak untukmu semua di sini.

Dimulai dengan berita masuknya papa ke rumah sakit karena terkena Covid 19. Sesuatu yang kami semua sebenarnya heran, karena beliau adalah seorang kakek berusia 70 yang sangat bugar. Olahraga tak pernah ditinggalkan dan sangat menjaga asupan makanan. Meski terbilang bandel karena kebiasaan sholat di masjid tak bisa ia tinggalkan. Meski disiplin pada protokol kesehatan.

Ala kulli haal. Semua sudah menjadi ketentuan Sang Empunya Dunia.

Kabar duka selanjutnya, datang dari seorang kakak ipar, yang buat saya, sudah seperti pengganti mama yang jauh di Jakarta. Sang putra sulung, kebanggaan kami semua, berpulang di usia yang sangat muda. Padahal almarhum baru saja merilis sebuah single bertajuk “Fly High”. Rasanya tidak percaya meski kami semua harus ikhlas menerima. Hanya doa selalu terpanjat untuknya, semoga Allah menerangi kubur dan jalannya menuju surga.

Dua berita ini membuat pertahanan saya lumayan jebol, hingga segala hal buruk yang pernah terjadi beberapa tahun belakangan, muncul tanpa bisa dicegah.

Perseteruan, fitnah keji, dan segala hal tidak menyenangkan yang selama ini saya buang serta hindari, muncul tanpa basa basi. Basi!

Meskipun cuek, berusaha memahami dan tidak mengingkari, saya tetap sakit hati. Tumbuh menjadi seorang perempuan yang belajar untuk tidak menyimpan segala hal dalam hati, dan membuat tangan yang terkepal ini harus tersembunyi, membuat saya bingung sendiri. Tidak bisa dengan lugas semua saya habisi, demi tidak menyimpan dendam dalam hati, rupanya butuh lebih dari sekedar berdamai dengan diri sendiri.

Ternyata, proses berdamai itu butuh latihan setiap hari, tanpa jeda sama sekali. Tidak mengingkari rupanya kurang cukup membuat saya memahami perlakuan beberapa orang dari masa lalu, yang sangat membuat kesal dan keki.

Pelajaran hidup yang saya dapat dari suami untuk ikhlas dan sabar, rupanya tidak cukup terpatri dalam hati. Tapi saya belajar satu hal penting, untuk tidak melayani mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Semoga mereka tidak memancing kepalan yang setengah mati saya sembunyikan ini.

As for me, saya akan mulai tahun yang sendu ini dengan lembaran demi lembaran buku yang baru lagi. Semua hal buruk yang pernah dan masih berlangsung hingga saat ini, akan jadi salah satu cerita yang ada di sudut perpustakaan hati. Tidak perlu saya robek dan bakar habis serpihannya, hanya butuh disimpan untuk menjadi senjata menghadapi esok hari.

“Oy! Gue masih berdiri dengan tegak di sini! Ape lo ape lo!”

Have a great day ahead!
Love, Rere.

Tulis Yang Manis


Tulis Yang Manis

“Oy! Mana setoran?”

Begitu seorang sahabat yang bertugas menjaga mading alias majalah dinding sekolah, menyapa saya pagi itu. Hmm … mungkin sekitar tahun 1992-1993.

Penuh senyum, saya serahkan 2 lembar pantun konyol, hasil ketak-ketik saya semalam, menggunakan mesin tik tua milik papa. Tentu saja saya begitu percaya diri, karena menggunakan nama samaran. Saya tidak tumbuh dewasa menjadi anak yang terlalu berani menampakkan diri. Sampai tulisan sendiri, tak mampu saya mencantumkan nama asli.

Biasanya di jam istirahat, saya akan sengaja berdiri di depan mading untuk memperhatikan reaksi siswa dan siswi. Beberapa memang rajin melihat isi mading, yang berubah hampir setiap hari. Kebanyakan tertawa ngakak melihat isi pantun saya yang kocak.

“Ini sih bener banget!” ujar seorang senior sambil tertawa, menatap pantun berisi curhat saya tentang ujian yang bikin kepala sakit luar biasa.

Menulis memang sudah jadi bagian dalam hidup ini. Anggap saja katarsis dari kebiasaan saya yang suka meringis dan ngomong sendiri. Tentu saja bertambahnya usia membuat gaya menulis saya banyak berubah. Dua pelajaran penting dalam menulis, awalnya saya dapat dari 2 orang mentor berkumis tipis.

Pelajaran pertama, saya dapat dari seseorang yang dengan baik hati menjapri dan berbagi hal penting dalam menulis.

“Menulis harus berisi, namun tidak bertujuan untuk menyerang orang lain.”

Darinya saya belajar untuk menulis karena ingin berbagi, bukan untuk menyerang atau mengkritisi. Meski terselubung, diajarkannya saya untuk menahan semua itu. Menulis dengan hati, bukan untuk puja dan puji. Bukan pula untuk menyerang si anu atau ini.

You know who you are, Kak, yang segala ilmunya saya terapkan hingga hari ini. Thank you, You!

Pelajaran kedua adalah tentang memotong tulisan. Meski kritik ini awalnya melemahkan hati, karena berbanding terbalik dengan pelajaran pertama yang saya dapati. Dengan kalimat keras, menurut saya, sang mentor berkata bahwa kalimat saya membuatnya susah bernafas.

Awalnya saya ke-GR-an mengira ia susah bernafas karena tercekat. Rupanya, ia literally susah bernafas, membaca kalimat yang begitu panjang tanpa potongan. Hahaha!

“Jangan baper!” ujar saya kepada hati serta otak yang sempat lemah dan hampir menyerah. Dengan segera, kalimat panjang itu saya potong menjadi beberapa bagian. Jadi kalian sekarang bisa benar-benar tercekat karena cerita saya yang memikat, bukan karena asma yang kumat.

Meski mengikuti beberapa tantangan menulis, saya bahkan tak pernah berfikir untuk menjadi yang terbaik. Saya hanya menulis dengan hati, untuk berbagi hal baik, atau menyimpan ilmu yang masih sedikit di dinding, sebagai pembatas diri. Agar tak perlu menyerang ke sana kemari, dan fokus saja pada cerita yang berisi.

Menulis benar-benar membuat saya banyak merubah diri. Tidak lagi sinis, namun berganti senyum manis. Tidak lagi memandang banyak hal dari sisi kritis namun lebih melankolis. Sesekali berubah mistis namun tetap bikin mringis.

Itu saja, sih. Selamat menikmati hari Minggu yang manis, dengan keluarga yang banyak mringis.

Love, Rere.

Bibi TitiTeliti


Bibi TitiTeliti

Bagi saya, tidak ada satu pun hal yang tidak penting. Semua penting, dan harus diperhatikan dengan teliti.

Memang saya jadi terkesan cerewet dan bawelnya “ndak lumrah“. Hanya karena menolak anggapan, ahhh … gitu aja serius amat.

Tak kurang satu dua sahabat atau keluarga yang bahkan segan membantu saya mengerjakan sesuatu. Takut saya marahi ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Tentu saja ekspektasi saya sendiri. Hihihi!

Bahkan ini juga yang menyebabkan saya tidak mau memakai jasa seorang part timer untuk membantu membersihkan rumah. Setelah dulu pernah kapok melihat hasil kerjanya yang akhirnya saya ulangi demi mendapat hasil yang saya maui.

Seremeh pekerjaan menjemur baju pun bisa jadi akan saya ulangi jika mata ini berbulu melihatnya tidak tertata rapi. Begitu akhirnya saya melatih anak-anak di rumah untuk melakukannya dengan teliti. Searah, sekelompok, dan tentunya tidak berkerut seperti wajah yang merengut.

Hal yang nampak sepele, seperti membungkus peralatan makan plastik untuk pesanan esok pun, saya lakukan dengan sepenuh hati. Berapa pun jumlahnya.

Mungkin karena saya orang yang melihat sesuatu dari pandangan pertama. First impression must be impressed. Bukan untuk menghakimi, hanya semata menikmati karunia penglihatan dari Sang Illahi.

Sendok garpunya jadi cakep kan, Cint? 😉

Namun apakah saya selalu seteliti ini? Enggak juga. Beberapa kali saya pernah melakukan kecerobohan, walau sangat jarang. Salah satu kisahnya akan saya ceritakan nanti di antologi terbaru, hingga kalian bisa tertawa melihat bibi tititeliti tak selalu teliti.

Love Life, Rere

N G A M U K


N G A M U K

Well, setelah marah kemarin, lantas apa yang saya kerjakan untuk meredamnya?

Gampang.

Saya membeli es krim kegemaran, yang biasanya saya tahan untuk membeli karena harganya yang bagi saya mahal. Biasanya saya berpikir, “sayang, ah. Mending buat beli fresh milk anak-anak.” Hari itu, saya memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan.

Kemudian, saya meninggalkan anak-anak di sebuah restoran fast food sebagai treat untuk mereka. Saya jarang sekali membawa anak-anak jajan di luar dan lebih suka memasakkan hidangan kegemaran mereka di rumah. Selagi meninggalkan mereka menikmati “jajan mevvahnya”, saya melangkah masuk ke sebuah gerai baju.

Sudah beberapa hari saya eyeing sehelai cardigan bermotif lucu. Tadinya saya hanya menghela nafas panjang melihat deretan angka di sana. Biasanya lagi-lagi saya berpikir, sayang, ah. Mending buat beli groceries.

Hari itu, saya memasukkan cardigan cantik itu dalam keranjang belanjaan. Sambil terus menikmati pemandangan baju-baju cantik di sekitarnya.

“Oh well, I’ll take this, too. Ah this one too, lah.”

Saya bertekad akan menghadiahi diri sendiri dengan sejumlah angka hari itu. Asikkkk! Baju baru!

“Wow! You went shopping, Bunda?”
“Yep. It’s a reward that I deserve, right?”
“I give you my salary later,
Bunda. So you can buy whatever you want.”
“Okay,
Rayyan. I’ll keep that in mind. Make sure you keep your promise.”

Kemudian kami pun mulai tertawa bahagia lagi.

Tentu saja ini bukan satu-satunya cara saya meluapkan amarah. Jika setiap kali marah saya belanja, mungkin tak akan ada beras dan makanan di rumah jadinya.

Kadang saya melampiaskannya dengan ngamuk dan mengubah interior rumah. Bak Supergirl setengah tua, saya mampu memindahkan sebuah tempat tidur berukuran besar dan berat … sendirian. Kemudian memanjat apapun untuk membereskan gudang. Setelah itu semua penghuni akan dengan terpaksa ikut membereskan rumah dan kamar masing-masing, sambil bersungut-sungut kesal.

Saya … tinggal berkacak pinggang dan memerintah ini itu bak seorang mandor bangunan.

Sweet revenge, ain’t it? *smirk*

Be happy, Moms.
Supaya tak ada lubang dalam hatimu, untuk membuat orang lain tidak bahagia sepertimu hari itu.

Happy Moms, Happy Homes, kan? *winks*

Love Life,
Rere

Photo Credit: Suryatmaning Hany

SuperBunda

Berani Terima Rantangan?


Berani Terima Rantangan?

“Have you decide on what to draw?”
“Eeenggg …”

Dasar paling enggak bisa ditenteng eh ditantang!

Melihat sahabat di hadapan saya mengeluarkan sebuah gambar cantik berbentuk batik, saya pun latah. Pola mandala yang sudah saya gadang-gadang untuk dilukis di atas rantang putih nan imut ini pun berubah haluan.

Motif Parang yang selalu saya kagumi menjadi pilihan. Entah kenapa, saya yang sebenarnya tidak terlalu suka batik, begitu jatuh cinta pada motif ini. Berbentuk bak huruf S yang sederhana, dengan garis tegas namun tidak putus, seperti bagaimana saya memandang hidup.

Tidak perlu gumunan, namun pantang menjadi lemah apalagi mudah menyerah. No way, Cinta!

Meskipun saya jadi harus bekerja 2 kali untuk merubahnya dari motif awal yang saya buat pada goresan pertama. Enggak apa-apa. Rasa cinta pada bentuk dan filosofi yang terkandung pada motif ini membuat saya kembali mencoba melukisnya dengan harap-harap cemas. Takut hasil akhirnya tidak sesuai harapan seperti sebelumnya.

Hmmm seperti hidup ya, yang kadang tidak seindah bayangan. Namun akan selalu terbentang jalan untuk merubah, meski butuh perjuangan.

Kalau ingin menambah sedikit bumbu di tengah perjalanan itu, please do. Seperti saya yang akhirnya membuat 2 sisi rantang dengan motif berbeda. Batik parang dan motif bunga. Sebagai tanda cinta saya pada keindahan dan segala hal tentang perempuan.

Jadi perempuan harus kuat namun tetap nampak indah. Keindahan yang didapat dari rasa bahagia yang muncul dari dalam jiwa. Jiwa yang sehat tentunya.

Jadi, berani terima rantangan … eh tantangan? Berani, dong! Ingat, jangan ragu membuat perubahan. Karena berubah itu seru dan bikin hidup berani maju!

Love, Rere

Hi, Self!


Hi, Self!

Knowing yourself is the beginning of everything.

Sudahkah kita mengenal dan selesai dengan diri sendiri?

Mengenal bukan hanya dari luar dan pantulan di cermin. Namun memahami hingga ke dalam untuk kemudian bisa jujur pada diri sendiri. Jujur dengan perasaan yang muncul.

Jika sedang marah ya hadapi saja kemarahan itu, jangan ditahan sebelum suatu hari nanti meledak tak terkendali. Jika harimu sedang biru, hadapi saja bak sedang menatap langit mendung. Nikmati kesedihan dan udara dingin yang menyapu wajah. Menangis bak rinai hujan jika perlu. Setelah itu tataplah pelangi yang muncul dan membawa beragam warna kemudian mulai lagi tersenyum.

Forgive but never forget. Maafkan, demi jiwa yang tenang tapi jangan lupakan untuk sebuah pelajaran. Bahwa hidup sejatinya penuh persoalan bukan bak dongeng indah di negeri khayalan. Simpan ceritanya di sudut hati tanpa butuh kunci. Hingga sewaktu-waktu bisa dibuka dan diingat kembali untuk menguatkan hati. I’ve been there, I’ve done that. Jangan gumun ya, self.

Setelah itu tanyakan diri sendiri, sudahkah kita selesai dengan diri ini? Setelah mampu memahami, apakah sudah selesai dengan tanda tanya dalam hati, dan selesai dengan semua hal yang menyakiti?

Tanda tanya harusnya berbalas jawab. Jika masih ada tanya, tanyakan lagi hingga menemukan titik akhir dan puas dengan jawaban itu. Semua hal yang menyakiti, sudahkah menemukan solusi? Jika belum, bersyukurlah masih bertemu dengan rasa sakit. Bukankah itu tanda kita masih manusia dan punya kehidupan? Karena tanpanya, kita pasti sudah tak bernyawa.

Meski tidak selalu bisa berdamai dengan diri sendiri, percayalah, jika menatap semua persoalan dengan tenang niscaya damai itu ada di hadapan. Tak perlu mengumbar kesakitan diri dengan balik menyakiti orang lain tanpa henti. Tak perlu meluahkan kekecewaan pada apa yang terjadi dengan menunjuk jari. Semua sejatinya kembali ke dalam diri sendiri.

Selamat berdamai dengan diri, selamat menyelesaikan masalah sendiri, selamat melupakan dendam, lalu memaafkan demi kedamaian diri. Jangan lupa setelah itu pat yourself in the back dan bilang, “Thank you, Self. I’ve done a great job with myself. I’m ready to spread kindness now. No more hatred, no more bitterness, and no more belittling others.”

Selamat menghadapi hari, semoga banyak cinta menaungi. Masalah? Jangan sembunyi, berdiri tegak, dan hadapi dengan berani.

Love Life, Rere

Harus Bahagia


Harus Bahagia

Rasanya enggak akan bosan saya menggaungkan kata ini.

Bahagia.

Bagaimana cara menemukannya? Gampang. Banyak bersyukur, dan jangan sombong.

Bener deh, hidup kita tu bisa dengan mudah dibolak balik macem tahu walik oleh Sang Empunya Hidup. Sedetik kita ketawa, detik berikutnya kita mungkin menangis tersedu.

Jadi rasanya kita ini gak punya alasan buat sombong pada orang lain. Harta, tahta, jabatan, bahkan yang tercinta bisa dengan mudah diambil tanpa banyak kata.

So be kind and don’t hold grudges.

Setelah itu baru esensi bahagia kita dapat dengan mudah. Melihat orang lain bahagia, kita ikut bahagia. Melihat teman tanpa airmata, kita ikut bersuka. Melihat hal sekecil apapun, kita pasti senang dan makin menghargai hidup.

Jika hidupmu kelabu
Jika hatimu sendu
Coba tersenyum dan bilang I love you

I love you, self
I love you, life
I love you, people
I love you, universe

Yuk, mulai berbagi hal-hal baik yang kelak kita syukuri ketika memorinya muncul kembali.

Yuk, mulai biasakan berbahasa dengan santun, yang kelak kita syukuri impact-nya pada lingkungan.

Yuk, beri contoh anak-anak di rumah cara menyebar kebaikan dan kebahagiaan, yang kelak kita rasakan di damainya dunia.

Harus bahagia, ya!

Share love not hate,
Rere

Harus Bahagia – Yura Yunita (Cover)

Kerja – Now And Then


Kerja – Now And Then

Foto sebelah kanan yang ‘nyusruk’ itu, muncul di memori dinding saya pagi ini. Dengan tertawa saya menunjukkan pada anak-anak dan semua tergelak. Ketawa geli melihat kekonyolan sang Bunda yang memang sudah terkenal antik.

Setelah mereka berangkat sekolah dan rumah sepi, saya kembali melihat foto itu dan merenung. Foto yang diambil Lana ketika sedang musim Fallen Angel Challenge. Emak yang suka banget dikasih rantangan … eh tantangan ini, serta merta memintanya untuk mengambil gambar dengan pose ‘nyusruk‘. Sembari menggelengkan kepala ia terpaksa mengikuti arahan Emak. Pasrah. Daripada kena omelan panjang. Hahahaha.

Ingatan saya kemudian melayang di masa remaja dulu. Saya bukan anak yang selalu manis di rumah. Walaupun tidak pernah berani membentak atau marah pada orang tua. Pemberontakan saya dimulai di hari saya kabur dari rumah, karena merasa Mama tidak mengerti saya. Kaburnya sih juga ke rumah dinas Papa yang kosong di daerah Slipi. Hahaha. Jadi bukan kabur, ya. Cuma pindah rumah.

Kaburnya saya yang sebenarnya stress setelah diberhentikan secara mendadak dari sebuah kantor, ternyata membawa perubahan nasib.

Baca di sini https://reynsdrain.com/2020/10/09/kerja/

Berbekal selembar 20 ribuan di kantong, saya melamar kerja pada sebuah maskapai asing. Keberuntungan memang sedang berpihak pada saya. Saya diterima kerja setelah melalui serangkaian tes. Hingga tiba saatnya saya meninggalkan Indonesia tercinta.

Hari-hari saya kemudian, setelah bekerja dan menetap di luar negeri sebagai pramugari, hanya terpusat pada diri saya, dan saya saja. Me, myself, and I. Saya bahkan tidak pernah merasa perlu untuk memikirkan orang lain. Hidup saya hanya kerja atau bersenang-senang. Menghabiskan liburan dengan mengunjungi negara-negara di belahan bumi yang lain, atau sekedar membuang uang untuk belanja. Itu saja. Hal yang belakangan, lumayan saya sesali.

Ya. Seharusnya saya bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua dan mengajak mereka liburan bersama. Saya seharusnya juga bisa menyimpan uang untuk membeli sesuatu sebagai investasi. Apa daya semua itu tidak pernah ada dalam pikiran saya dulu. Live life to the fullest, begitulah saya dulu.

Mungkin juga karena saya membesar dalam situasi yang serba terbatas dan dibatasi. Termasuk dalam soal keuangan. Sampai-sampai ketika kuliah dulu, saya mengisi waktu luang di sela kegiatan sebagai mahasiswa dengan bekerja. Mulai dari pagi, sampai kadang dini hari. Hanya sekedar untuk membeli sepotong baju cantik yang terpampang di etalase sebuah toko. Saya memang tidak terbiasa membebani orang tua dengan segala keinginan pribadi. Seminim apapun uang jajan diberi, saya tidak pernah protes atau meminta lebih. Kebiasaan mandiri yang terbawa hingga kini termasuk dalam cara pengasuhan anak-anak saya sendiri.

Oh ya, beberapa teman kerap meminta saya berbagi pengalaman sebagai pramugari dulu. Saya hanya tersenyum. Karena bukan cerita indah yang banyak saya alami, kecuali bagian belanja dan jalan-jalannya tadi. Hahaha. Selebihnya hanya cerita tentang kenakalan dan kegilaan saya di masa muda, mungkin bisa dibilang fase terparah dalam hidup saya. Hehe.

Bersyukur sekali pada akhirnya, saya pernah mengalami beragam fase itu dalam hidup. Nakal, bandel, pemberontak, keras kepala, egois, egosentris, cuek, hingga yang paling parah menjadi seorang hedonis. Semua fase itu justru yang akhirnya membesarkan dan membentuk karakter saya hingga hari ini. Hingga hidup yang awalnya hanya me, myself, and I berubah menjadi family first.

Settling down atau duduk dengan tenang dan menikmati setiap detik keberadaan saya sebagai ibu rumah tangga sekarang, adalah hal yang sangat menyenangkan saat ini. Walau harus berjibaku mengurus rumah tangga dan membesarkan buah hati hanya dengan suami, saya bahagia sekali. Bahkan ketika tangan yang dulu lembut dan mulus berubah menjadi kasar dan berurat, saya tetap bangga.

Bangganya berperan sebagai ibu rumah tangga yang 24/7 di rumah, dan tidak pernah merasa membutuhkan kehadiran seorang asisten pribadi. Bahkan, ketika saya hampir setiap hari memasak untuk pesanan para pelanggan dulu, semua tetap saya kerjakan sendiri, di sela-sela waktu mengurus anak dan suami. Tawaran suami untuk memanggil pekerja paruh waktu ke rumah pun saya tolak. Saya merasa bisa mengatasi semua hal.

Ya. Saya bisa dan saya bahagia.

Jadi, tak perlu merasa terpuruk dan terkungkung di rumah sendiri ya, Moms. Percayalah, ketika suami bahagia dan anak-anak tumbuh sehat serta ceria, di situlah kepuasan pribadi melebihi segala keriaan di masa muda dulu. Namun ingat, yang terpenting adalah diri sendiri harus bahagia. Percayalah, seorang ibu yang bahagia akan membuat seisi rumah bahagia. Kalau saya, secangkir kopi hangat saja sudah cukuplah membuat bahagia di pagi hari.

Bagaimana cara saya menemukan bahagia? Baca di sini, yuk https://reynsdrain.com/2020/04/21/secangkir-kopi-hangat-emak-self-love-is-not-selfish/

Happy Mom, Happy Home.
Be that Happy Home, Moms.

Love Life, Rere

#worldmentalhealthday #harikesehatanmental #nubarsumatera

KERJA


KERJA

“Besok Senin mulai kerja ya. Ikut saja arahan teman-teman senior.”

Yayyyy! Gue jadi reporter!

Hari itu, 20 tahun yang lalu. Dengan sumringah saya pulang ke rumah di Depok. Meski harus menempuh jarak panjang karena lokasi tempat wawancara yang berada di tengah kota Jakarta.

Sejak hari itu, setiap hari tak kenal ujung Minggu, dengan penuh semangat saya melakukan liputan, wawancara, menulis naskah, dan sederet aktifitas lainnya. Bangga rasanya bisa mengecap pengalaman bekerja sebagai seorang awak media. Meski hanya untuk sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar waktu itu.

Saya bahkan tidak peduli, ongkos transportasi yang lebih besar dari gaji yang saya dapat. Sudah bekerja bahkan sebelum wisuda saja, rasanya bikin kegirangan luar biasa. Belum lagi kesempatan mendapat pengalaman baru, bertemu tokoh-tokoh terkenal, berbincang dengan mereka, menulis artikel … ahhhh semua itu tak tergantikan dengan besaran apapun.

Sayangnya, kesempatan bagus itu terpaksa harus putus karena konflik di dalam perusahaan. Belum setahun menikmati pekerjaan seru itu, saya diberhentikan mendadak. Sedih, mangkel, gemes, dengan gigi gemerutuk menahan marah, saya menyodorkan sejumlah pekerjaan yang telah saya selesaikan sebelum batas waktu.

“Jangan patah semangat ya, Re. Di depan masih banyak peluang untuk perempuan pintar dan tangguh sepertimu. Kamu pasti lebih berhasil setelah ini,” ujar Pemred baik hati, dengan suara tercekat.

Di bawah tetesan hujan sambil berurai airmata, saya berjalan pulang.

“Jangan cengeng, ini baru awal. Sana lihat ke depan! Jalanmu masih panjang!”

(Bersambung)

Never give up, you are stronger than you think ~ Rere

To My Children


To My Children

Happy Children’s Day, Nak!

Bertumbuh lah dengan riang dan bahagia
Bersahabat lah dengan dunia serta isinya
Mencintai sesama tanpa sekat
Mengulurkan tangan tanpa melihat

Belajar lah tentang kehidupan
Punyai setumpuk rasa penasaran
Agar kelak tak salah jalan
Agar kelak tak sekedar ikut haluan

Buka mata dan jangan tutup telinga
Semua hal butuh ilmu dan luasnya pengetahuan
Jangan menyerah jika kelak tak sejalan impian
Karena hidup sejatinya tentang perjuangan

Disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian
Bawa selalu dalam ingatan
Hanya itu bekalku untukmu ke depan
Karena kelak akan kau temui banyak tantangan

Jadi lah pemimpin bukan pemimpi
Berdiri lah di depan bukan mengekor dari belakang
Banyak lah memberi bukan semata memikirkan diri
Ingat lah untuk selalu mengasihi bukan rajin mencaci

I will always be around
Stalking you
Flipping out on you
Lecturing you
Driving you insane
Being your worst nightmare
Even hunting you down like a bloodhound

To make you a responsible adult
Who will always stay humble and kind
Who will always say what you know and know what you say

Love, Bunda