SewAdorableYou


SewAdorableYou

S.A.Y adalah project remaking old clothes yang selalu saya buat setiap kali mood menjahit datang.

Sudah menumpuk jeans lama milik suami yang sudah tidak dipakai, dan sedang menanti sentuhan. Hari ini saya bertekad akan mulai satu demi project ini lagi. Kasihan “Si Abang” sampai berdebu tak pernah kena sentuh.

Semangat saya yang berkobar rupanya mendapat ujian. Si Abang ngadat. Benang yang harusnya melekat erat pada jarum mesin, kerap terlepas. Belum lagi lampu yang berkedip-kedip genit, kemudian byar pet mati tanpa permisi. Ah, Abang … ngambek rupanya.

Beruntung dua celana milik si dia berhasil saya selesaikan.

Celana hitam, saya padukan dengan rok plisket berwana maroon, milik saya jaman dahulu kala. Terinspirasi dari rok cantik milik Nagita Slavina yang berharga fantastis. Saya juga punya lho, Mbak Gigi. Sedangkan celana hijau, saya tambahkan hiasan ruffles di bagian depan sebagai pemanis. Lumayan, kan?

Jadi, punya baju atau celana yang sudah bosan dengan model yang itu-itu saja? Remake, yuk. Lumayan … ngirit. 😉

Love,
Rere

GIRL GUIDE


GIRL GUIDE

Adik, have you prepared your school stuffs?”
“I did,
Bunda. I’m sewing my Girl Guide uniform stuffs now.”
“Whoa! Can you do it?”
“Yea. It’s not perfect but yea, I can do it.”
Pinterr.”

Girl Guide, adalah kegiatan ekstra kurikuler yang dipilih putri saya nomor 2 ini.

Meski awalnya sang kakak meragukan kemampuannya beradaptasi dengan peraturan, sang adik mampu membuktikan. Walau penuh keengganan dan kerap “mecucu” menceritakan polah para senior, ia terbukti mampu menekan ego yang kerap ngeloyor.

Bangga sih, melihatnya semangat mempersiapkan seragam meski kembali mecucu ketika sang bunda hendak mengambil gambar. Hahaha! Ia tak tahu betapa setiap jepretan akan menjadi sisi manis sebuah kenangan.

Oh ya, Girl Guide adalah sebutan untuk Pramuka bagi murid tingkat sekolah menengah atau Secondary di Singapura. Untuk murid sekolah dasar sebutannya adalah Brownies. Mungkin karena mereka masih imut, manis, dan kinyis-kinyis.

Saya sendiri dulu adalah seorang Pramuka semasa bersekolah di SDN TUGU V. Dengan penuh semangat dulu saya belajar tali temali, baris berbaris, dan bermacam keahlian lainnya. I love being Pramuka.

“Then, what did you do yesterday?”
“We made Maggi.”
“Huh? Ah, you’re an expert already.”
“Yeah, but I didn’t eat. I just watched my juniors ate their noodles.”

Pelajaran penting bagi seorang GG: mampu menjahit dan memasak, minimal mie instan. Good job, Adik!

Love,
Rere

LUKA


LUKA

Aku tak tahu mengapa umak memberiku nama Luka.

Luka saja, tanpa awal atau akhir kata.

Menurut orang-orang kampung sini, aku dilahirkan tanpa bapak sewaktu umak pergi bekerja ke luar negeri. Usia umak baru 17 tahun ketika itu. Sedang mekar-mekarnya anak gadis, kata mereka.

Umak yang cantik dan pintar terpaksa berhenti sekolah dan harus bekerja keras, demi membayar hutang kedua orangtuanya. Kakek dan nenek yang tak pernah kutahu sosoknya.

“Terbakar dalam rumah sewaktu perampok menyatroni mereka di pagi buta,” kata Pak Saman tetangga desa.

Waktu itu umak sudah berangkat ke luar negeri, dan menjadi buah bibir di kampung. Bagaimana tidak … baru beberapa bulan umak pergi, rumah kakek dan nenek sudah naik tinggi. Keramik cantik menghiasi lantai, mengganti alas tanah yang sebelumnya tiap pagi berhias tai. Ya, kotoran ayam milik tetangga, yang kandangnya ada di sebelah rumah.

Umak juga mengirim sebuah kendaraan mewah, sebagai pengganti becak yang selalu dikayuh kakek keliling desa sebelah. Dibangunkannya sebuah toko megah, untuk nenek yang biasanya berjualan tempe di pasar basah. Tentu saja, semua tetangga memandang gerah. Termasuk komplotan pencuri yang sudah terkenal namanya di pusat kota, geng bramacorah.

Kebakaran rumah umak di desa menjadi akhir kisah hidup dan ceritanya di sana. Umak yang anak tunggal, mengubur semua mimpi dan harapannya bersamaan dengan terkuburnya jasad kakek dan nenek menjadi abu, di rumah kebanggaan mereka yang berujung pilu.

Tak ada seorang pun tahu apa yang terjadi pada umak setelah itu. Hanya kabar burung beredar di kampung, umak bukan hanya bekerja sebagai pembantu. Ia adalah simpanan seorang tauke berharta menggunung. Banyak yang kagum, lebih banyak yang mencibir dengan sinis, biasa lah sesama kaum. Mungkin mereka iri dan dalam hati kecil ingin berjaya seperti umak, yang diam-diam mereka kagumi.

Semua berubah di hari umak kembali. Dengan tubuh kurus kering, umak kembali ke kampung membawa seorang bayi dalam bengkung. Seisi kampung gempar, bisik-bisik semakin tak terbendung liar.

Dengan sisa gemerincing koin di saku, umak menepi di sebuah rumah berpagar bambu. Entah rumah siapa, umak pun tak tahu. Gubuk berhantu, kata Pak Saman dulu.

Umakku tak takut hantu. Ia lebih takut melihat mulut-mulut yang menggerutu. Istri-istri yang takut suaminya jatuh hati, gadis-gadis yang takut kekasihnya berpaling pergi. Padahal umak kembali tanpa penampilan bak gadis ting-ting. Umak kembali membawa sakit, di hati dan diri. Karena di gendongannya ada bayi lelaki yang harus diurus sendiri.

Umak … umak.

Malang sekali nasibmu berakhir. Kataku sambil menatap hembusan asap rokok beraroma tajam … sembari membetulkan gincu berwarna merah terang. Untuk pelanggan lain yang segera datang.

(Tamat)

Love, Rere

Bibi TitiTeliti


Bibi TitiTeliti

Bagi saya, tidak ada satu pun hal yang tidak penting. Semua penting, dan harus diperhatikan dengan teliti.

Memang saya jadi terkesan cerewet dan bawelnya “ndak lumrah“. Hanya karena menolak anggapan, ahhh … gitu aja serius amat.

Tak kurang satu dua sahabat atau keluarga yang bahkan segan membantu saya mengerjakan sesuatu. Takut saya marahi ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Tentu saja ekspektasi saya sendiri. Hihihi!

Bahkan ini juga yang menyebabkan saya tidak mau memakai jasa seorang part timer untuk membantu membersihkan rumah. Setelah dulu pernah kapok melihat hasil kerjanya yang akhirnya saya ulangi demi mendapat hasil yang saya maui.

Seremeh pekerjaan menjemur baju pun bisa jadi akan saya ulangi jika mata ini berbulu melihatnya tidak tertata rapi. Begitu akhirnya saya melatih anak-anak di rumah untuk melakukannya dengan teliti. Searah, sekelompok, dan tentunya tidak berkerut seperti wajah yang merengut.

Hal yang nampak sepele, seperti membungkus peralatan makan plastik untuk pesanan esok pun, saya lakukan dengan sepenuh hati. Berapa pun jumlahnya.

Mungkin karena saya orang yang melihat sesuatu dari pandangan pertama. First impression must be impressed. Bukan untuk menghakimi, hanya semata menikmati karunia penglihatan dari Sang Illahi.

Sendok garpunya jadi cakep kan, Cint? 😉

Namun apakah saya selalu seteliti ini? Enggak juga. Beberapa kali saya pernah melakukan kecerobohan, walau sangat jarang. Salah satu kisahnya akan saya ceritakan nanti di antologi terbaru, hingga kalian bisa tertawa melihat bibi tititeliti tak selalu teliti.

Love Life, Rere

V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan


V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan

“Urip iku mung mampir ngombe.”

Pernah denger ungkapan dalam bahasa Jawa ini, yang artinya hidup itu cuma mampir minum saja?

Ya, benar juga. Menjalani hari hingga usia saat ini itu kadang terasa lama, tapi melihat anak-anak tumbuh dewasa rasanya waktu begitu cepat berlalu. Semudah menghabiskan segelas minuman.

Sebentar lagi, tanpa terasa mereka akan lulus sekolah. Lalu kemudian bekerja, membeli rumah terus menikah, membangun keluarga kecil, beranak, hingga bercucu. Begitu saja sih sebenarnya hidup ini. Benar-benar ibarat seteguk air.

Hanya perjalanan masing-masing saja yang membedakan. Ada yang bak garis lurus, ada yang berkelok bak jahitan berbentuk zig-zag. Bahkan ada yang begitu kusut di awal lalu lurus di belakang, atau sebaliknya.

Hmmm … saya merangkum semuanya dalam sederet foto ini. Ketika seorang keponakan melepas masa lajang dan saya menghadiahinya dekorasi mobil pengantin. Kemudian tiba giliran keponakan yang lain naik pelaminan, saya membuatkannya sebuah kotak ang paw berbentuk sepasang pengantin berbaju khas Melayu.

Berbulan setelah hari itu, saya kembali menghadiahi mereka dengan sebuah bingkisan berbentuk cake bertingkat. Bedanya yang ini tidak untuk dikonsumsi karena terbuat dari susunan diaper atau popok sekali pakai. Yep, saya sudah punya cucu meskipun bukan lahir dari 3 anak yang masih sekolah. Suatu hari nanti akan tiba giliran mereka.

Jalan kehidupan kemudian kembali berulang, kelak ketika para cucu beranjak dewasa. Setelah tiba giliran mereka naik pelaminan, mungkin saya masih kuat menghias mobil pengantin masing-masing. Lalu sambil membetulkan kacamata yang melorot, mungkin saya juga masih membuat kotak ang paw tentunya dengan hiasan yang hits pada tahun itu.

Semoga … karena saya ingin hidup ini tidak cuma sekedar numpang minum tapi juga berguna untukmu. Meski tidak lagi mampu muluk-muluk menawarkan bantu. Semata hanya karena ingin hidup memiliki value. Meski harus melalui jalan panjang yang berkelok bahkan berdebu.

Life’s too short, make the most of it.

Love, Rere.

Menulis … Mulai Dari?


Menulis … Mulai Dari?

Banyak hal menarik saya dapat dari sesi pertama pelatihan menulis kemarin. Pelatihan? Ya. Saya memang anak bawang yang masih tertatih mengenal diri sendiri dan berusaha menuangkan isi kepala dalam deretan kata. Maka mengikuti pelatihan adalah cara saya menajamkan pena.

Pelatihan dimulai dengan mengenali beberapa karakter manusia dalam hubungannya dengan motivasi untuk menulis.

  1. Tipe yang membuat sesuatu terjadi.
  2. Tipe yang biasa melihat saja.
  3. Tipe yang hanya terkesima ketika melihat sesuatu.

Jika anda tipe yang terbiasa hanya melihat dan terkesima, cobalah untuk membuatnya menjadi sesuatu. Bagaimana cara mewujudkannya? Dengan menumbuhkan kepercayaan diri, asal jangan kelewat percaya diri. Hahaha!

If you think you can, then you will. If you think you can not, then you won’t.

Apakah dalam proses mewujudkan itu tidak akan ada rintangan? Tentu saja ada. Cara menghadapinya adalah dengan mencoba, dan terus mencoba tanpa kenal menyerah. Namun ada 2 hal yang perlu diingat seseorang ketika ingin mulai menajamkan pena menjadi seorang penulis.

Branding

Pilihlah sebuah nama yang akan menjadi ciri khas. Stick to it dan jangan melakukan banyak perubahan, sehingga gaungnya akan dengan mudah diingat oleh pembaca.

Spirit

Tidak ada siapa pun yang bisa menumbuhkan semangat dalam diri kecuali diri sendiri. Caranya dengan menguatkan tekad, menggelorakan semangat, serta fokus pada apa yang ada di hadapan. Membuka mata juga telinga adalah wajib, karena ilmu serta keahlian itu sangat luas. Percayalah, mempelajari sesuatu yang baru itu akan membuat hidup menjadi lebih indah.

Try, try again, try harder, try your best, and never give up!

Saya juga menemukan 5 resep menarik yang sangat berguna untuk mulai menulis, baik sebagai pemula atau juga menjadi pegangan seumur hidup untuk para penulis profesional.

1. Abaikan teori, and just start. Mulai lah menulis dari apa pun yang terlintas di benak, dan bagaimana pun jenis tulisanmu.

2. Terus berlatih, and never stop learning. Buka mata dan pikiran untuk menambah kosa kata serta wawasan, dan berlatih untuk terus mengasah ide yang muncul. Beberapa cara bisa dilakukan seperti mengikuti tantangan menulis atau bergabung dengan komunitas menulis. Jangan terlalu khawatir dengan hasil akhir karena semua butuh proses. Life is a never ending journey of learning and relearning, isn’t it?

3. Jika mendadak buntu, berhenti saja lah. Memaksa diri untuk menulis ketika otak sedang menolak diajak berpikir adalah hal yang harus dihindari. Istirahatkan ia untuk sementara dan benahi pikiran serta emosi agar bisa kembali konsentrasi. Memiliki bank naskah adalah salah satu solusi. Bagaimana caranya? Biasakan untuk menulis apapun yang terlintas di benak, kapan pun, di mana pun. Kemudian simpan naskah-naskah ini di sebuah folder yang sewaktu-waktu bisa kita edit lalu publish ketika otak sedang beku.

4. Mulai lah menulis hal yang begitu dekat dengan kehidupan kita dan tentunya dikuasai dengan baik. Saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk be true to yourself. Jujurlah pada semua hal, termasuk dalam tulisan. Tidak perlu muluk-muluk berangan ingin menulis tentang hal yang kekinian atau sedang bombastis dibicarakan. Tulis saja hal-hal sederhana yang menarik untuk dibaca sebagai permulaan.

5. Abaikan gaya menulis, tampilkan jati diri sebagai penulis. Membaca tulisan orang lain memang seringkali membuat ternganga atau terkagum bingung. Kok bisa ya dia menulis sekeren itu? Menjadikan seseorang sebagai obyek belajar adalah sesuatu yang baik. Namun berusaha keras menjadi seperti orang lain adalah hal yang harus dihindari ketika mulai menulis. Be yourself, you are you, you are unique. Karena menjadi berbeda itu seru!

Jadi, jika ingin menjadi penulis maka mulailah menulis. Nikmati segala prosesnya dengan menjadi diri sendiri dan bersikap jujur pada setiap goresan yang bersumber dari hati.

So, let’s start and just write!

Love, Rere

Sumber: Pelatihan Menulis “Mencetak Generasi Berliterasi” Bersama Ilham Alfafa, Founder Rumah Media Grup

Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Being a woman is never easy
Melalui banyak fase yang berakibat perubahan pada diri
Belum lagi siklus hormonal yang kadang bikin pusing sendiri
Mending jauh-jauh daripada kena usir

Being a woman is never easy
Masa muda harus benar-benar jaga diri
Kalau tak ingin masa itu terenggut dini

Being a woman is never easy
Setelah berbuntut dan menimang buah hati
Kesenangan pribadi harus rela tersisih

Being a woman is never easy
Menjaga yang tersayang kadang butuh otot besi
Namun penampilan tetap harus manis tak boleh basi

Ladies, mari saling mendukung
Berbagi cinta dan cerita untuk yang terkungkung
Tak perlu drama dan kelamaan merenung
Segera bangkit dan tegakkan punggung
Hitam putihnya dunia mari hadapi dengan senyum

Hitam putih challenge ini sungguh menarik. Melihat bagaimana kaum perempuan saling memdukung dan berbagi kekuatan satu sama lain. Melalui berbagi foto tanpa warna-warni.

Hanya hitam dan putih.

Ibarat hidup yang penuh dengan pasang surut. Kadang berpikir ia bahagia, ternyata hidupnya carut marut. Kadang menganggap ia menyebalkan, ternyata justru darinya didapat ilmu tentang kehidupan. Ahhh … sawang sinawangnya hidup.

The least we can do adalah berhenti memberi terlalu banyak komentar, terutama berbagi negativity. Karena terkadang di mata kita tampak hitam, ternyata ada putih di sana, pun sebaliknya. Berhati-hati dengan setiap ucapan, karena sejatinya pergumulan hidup setiap orang berbeda. We never know.

Pelukku untukmu semua yang sedang berjuang menghadapi kehidupan, dan berpacu menghadapi waktu. Berbahagialah menghadapi hiruk pikuknya. Karena ketika kita bahagia, tak akan ada waktu terbuang untuk membuat orang lain tidak bahagia.

Ladies, sisihkan waktu untuk menikmati hidupmu. Seruput hangat kopi di hadapan, agar senyum kembali terkembang di wajahmu.

Love, Rere

Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Pagi tadi saya melihat sebuah status yang isinya kurang lebih menanyakan kenapa para lelaki harus mencari istri yang pandai memasak. Bukankah mereka sedang membangun rumah tangga, bukan rumah makan?

Hahaha! Saya ketawa sih membacanya. Kemudian berpikir sambil menghirup wanginya kopi hangat di hadapan saya.

Pernah kah saya berpikir bahwa saya dijadikan bak rumah makan di rumah? Hmm … sependek ingatan saya sih belum pernah. Selama ini saya menyukai seluruh kegiatan di dapur, bahkan sempat rajin menerima pesanan masakan dari beberapa pelanggan.

Terpaksa kah saya melakukan kegiatan masak memasak di rumah selama ini? Jawabannya adalah sama sekali tidak. Saya melakukannya dengan senang hati dan gembira, tanpa paksaan atau keterpaksaan. Bahkan dengan penuh semangat belajar banyak menu baru untuk disajikan di rumah.

Wahai para remaja putri atau teman-teman perempuan yang belum menikah. Percaya lah, kalian akan sangat bahagia ketika mendengar sang suami memuji masakan anda semua bahkan lebih memilih untuk makan di rumah, sesederhana apapun masakan anda. Bahkan dengan bangga membawanya ke tempat kerja, dalam sebuah kotak makan unyu, tanpa ragu dan malu.

Itu belum seberapa. Senyum anda juga pasti mengembang selebar-lebarnya ketika mendengar anak-anak mengatakan dengan bangga bahwa teman-teman sekolahnya menganggap anda “cool”. Hanya karena mereka mengagumi hasil buatan tangan anda di dalam kotak makan, yang selalu berbeda tiap hari hingga mereka selalu penasaran dengan isinya.

“Your Mom so cool! The food looks delicious and always nice to look at.”

Belum lagi pujian dari sahabat, teman, teman suami, atau keluarga yang berkesempatan makan di rumah anda dan dengan tulus mengatakan betapa lezatnya rasa masakan anda. Bahagianya mungkin lebih dari rasa lelah yang muncul setelah selesai memasak, dan melihat dapur bak kapal pecah.

Tapi eh tapi, ada nilai edukasi juga di rumah kami lho. Meski dengan suka hati saya memasak beragam menu, anak-anak juga harus belajar untuk tidak cerewet dan menjadi picky eater. Saya membiasakan mereka untuk being grateful, sesederhana apapun masakan yang saya buat. Mereka harus paham bahwa ada banyak sekali anak seusia mereka di luar sana yang tidak bisa menikmati makanan seperti mereka di rumah. Jadi, mereka tidak boleh banyak protes dan harus banyak bersyukur. Makan apapun yang ibunya masak, dan selalu berterima kasih atas segala anugerah yang didapat dari Sang Pencipta.

Saya juga mengajarkan mereka untuk terbiasa dan mengenal isi dapur. Ini adalah salah satu dari sekian banyak life skills yang saya wariskan untuk hidup mereka kelak. Jadi mereka tetap bisa survive di mana pun mereka tumbuh dewasa nanti. Saya toh tidak bisa selamanya memasak untuk mereka, kan?

Suatu hari nanti anak-anak harus hidup mandiri dan mampu bertahan sendiri. Jika memasak hal yang paling sederhana saja tidak mampu, bisa dibayangkan betapa tipisnya kantong mereka kelak, karena harus jajan setiap hari.

Jadi, masih mau menganggap kemampuan memasak ini sepele? Think again, ladies.

Jangan merendahkan diri dan menganggap bahwa kegiatan memasak akan menjadikan anda bak rumah makan di rumah sendiri. Tersenyum lah dengan bangga hati karena bisa berkata, “Gue dong, masak sendiri buat anak-anak dan suami.”

Love, Rere

Recycle. Reuse. Remake


Recycle. Reuse. Remake

Punya hobby itu asyik lho. Apalagi ketika dari hobby itu jadi bisa menciptakan sesuatu yang baru baik dari limbah di rumah, atau barang bekas jaman dulu.

Tadi pagi saya beberes dapur, lalu melihat tampah berukuran kecil yang sudah agak rusak jalinan rotannya.

Dibuang? Sayang, ah.

Bikin baru, dong!

Akhirnya, iket sana iket sini, voila! Tampah rusak saya pun jadi sesuatu yang baru. Bisa digantung sebagai hiasan dinding, tempat bunga kering, atau bisa juga jadi tempat surat yang biasanya menumpuk di meja.

Jadi, masih mau buang barang lama? Bikin sesuatu, gih. Atau kalian mau pesan wall deco lucu ini? Ihik!

Love,
Rere

There’s Always The First Time


There’s Always The First Time

Saya pernah berpikir punya tangan yang enggak dingin. Karena semua tanaman yang saya pegang pasti mati. Lantas, setelah beberapa pot tanaman berusaha saya limpahi dengan kasih sayang namun tetap mati, apakah saya berhenti?

Meski harus sedikit bertegang urat dengan suami, saya yang sangat mencintai tumbuhan hidup, berusaha mencoba lagi. Berbekal tanya sana sini dan menimba ilmu melalui banyak tutorial di internet, akhirnya saya berhasil.

Hingga hari ini sudah ada setidaknya 5 pot tumbuhan mungil yang saya tanam sendiri dari mulai berbentuk biji dan batang. Yay! Akhirnya untuk pertama kalinya tangan saya ternyata tidak kurang dingin.

Saya pun pernah berpikir dimusuhi oven dan ulenan roti. Karena beberapa kali mencoba membuat cake cantik seperti yang selalu saya lihat di televisi, berhasil akhir jauh sekali. Expectation vs reality yang bikin nyengir.

Roti, ahhhh … ribet sekali! Harus nguleni, harus tunggu mengembang lagi, susah Cint! Sampai ibu saya membawakan mesin pembuat roti yang juga hanya teronggok manis di tepi. Saya mending masak untuk 100 orang saja, sih.

Sampai semalam, seorang sahabat memberi saya sebuah resep yang simple dan anti ribet. Penuh keengganan saya beranjak ke dapur dan mulai mempersiapkan semua bahan. Ya, saya sudah punya semua, hanya kekurangan semangat akibat terlalu malas dan takut bayangan. Jangan-jangan nanti roti saya bantat.

Penuh kesungguhan saya ikuti setiap langkah yang biasanya dengan seenaknya saya modifikasi sesuai keinginan sendiri. Ya ya, saya memang sering sok tahu padahal kurang ilmu. Hiks!

Well, there’s always the first time to everything. Roti yang saya buat perdana semalam, akhirnya mengembang dengan cantik dan indah. Menurut para pemakan segala di rumah, rasanya luar biasa.

Aaahhh … senyum saya pun mengembang sumringah. Ternyata saya tidak lagi dimusuhi oven di rumah. Patah sudah stigma negatif tentang ketidakmampuan diri. Ketakutan nyatanya membuat saya membatasi setiap gerak dan langkah. Takut gagal, yang sejatinya adalah sebuah tanda baik tentang percobaan dan bertambahnya pengetahuan.

Jadi, masih takut melangkah dan mencoba? Tenang … saya temani yuk, sambil makan garlic bread buatan perdana dan minum secangkir kopi hangat.

“Hey! There’s always the first time … semangat!”

Love, Rere.