Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Being a woman is never easy
Melalui banyak fase yang berakibat perubahan pada diri
Belum lagi siklus hormonal yang kadang bikin pusing sendiri
Mending jauh-jauh daripada kena usir

Being a woman is never easy
Masa muda harus benar-benar jaga diri
Kalau tak ingin masa itu terenggut dini

Being a woman is never easy
Setelah berbuntut dan menimang buah hati
Kesenangan pribadi harus rela tersisih

Being a woman is never easy
Menjaga yang tersayang kadang butuh otot besi
Namun penampilan tetap harus manis tak boleh basi

Ladies, mari saling mendukung
Berbagi cinta dan cerita untuk yang terkungkung
Tak perlu drama dan kelamaan merenung
Segera bangkit dan tegakkan punggung
Hitam putihnya dunia mari hadapi dengan senyum

Hitam putih challenge ini sungguh menarik. Melihat bagaimana kaum perempuan saling memdukung dan berbagi kekuatan satu sama lain. Melalui berbagi foto tanpa warna-warni.

Hanya hitam dan putih.

Ibarat hidup yang penuh dengan pasang surut. Kadang berpikir ia bahagia, ternyata hidupnya carut marut. Kadang menganggap ia menyebalkan, ternyata justru darinya didapat ilmu tentang kehidupan. Ahhh … sawang sinawangnya hidup.

The least we can do adalah berhenti memberi terlalu banyak komentar, terutama berbagi negativity. Karena terkadang di mata kita tampak hitam, ternyata ada putih di sana, pun sebaliknya. Berhati-hati dengan setiap ucapan, karena sejatinya pergumulan hidup setiap orang berbeda. We never know.

Pelukku untukmu semua yang sedang berjuang menghadapi kehidupan, dan berpacu menghadapi waktu. Berbahagialah menghadapi hiruk pikuknya. Karena ketika kita bahagia, tak akan ada waktu terbuang untuk membuat orang lain tidak bahagia.

Ladies, sisihkan waktu untuk menikmati hidupmu. Seruput hangat kopi di hadapan, agar senyum kembali terkembang di wajahmu.

Love, Rere

Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Pagi tadi saya melihat sebuah status yang isinya kurang lebih menanyakan kenapa para lelaki harus mencari istri yang pandai memasak. Bukankah mereka sedang membangun rumah tangga, bukan rumah makan?

Hahaha! Saya ketawa sih membacanya. Kemudian berpikir sambil menghirup wanginya kopi hangat di hadapan saya.

Pernah kah saya berpikir bahwa saya dijadikan bak rumah makan di rumah? Hmm … sependek ingatan saya sih belum pernah. Selama ini saya menyukai seluruh kegiatan di dapur, bahkan sempat rajin menerima pesanan masakan dari beberapa pelanggan.

Terpaksa kah saya melakukan kegiatan masak memasak di rumah selama ini? Jawabannya adalah sama sekali tidak. Saya melakukannya dengan senang hati dan gembira, tanpa paksaan atau keterpaksaan. Bahkan dengan penuh semangat belajar banyak menu baru untuk disajikan di rumah.

Wahai para remaja putri atau teman-teman perempuan yang belum menikah. Percaya lah, kalian akan sangat bahagia ketika mendengar sang suami memuji masakan anda semua bahkan lebih memilih untuk makan di rumah, sesederhana apapun masakan anda. Bahkan dengan bangga membawanya ke tempat kerja, dalam sebuah kotak makan unyu, tanpa ragu dan malu.

Itu belum seberapa. Senyum anda juga pasti mengembang selebar-lebarnya ketika mendengar anak-anak mengatakan dengan bangga bahwa teman-teman sekolahnya menganggap anda “cool”. Hanya karena mereka mengagumi hasil buatan tangan anda di dalam kotak makan, yang selalu berbeda tiap hari hingga mereka selalu penasaran dengan isinya.

“Your Mom so cool! The food looks delicious and always nice to look at.”

Belum lagi pujian dari sahabat, teman, teman suami, atau keluarga yang berkesempatan makan di rumah anda dan dengan tulus mengatakan betapa lezatnya rasa masakan anda. Bahagianya mungkin lebih dari rasa lelah yang muncul setelah selesai memasak, dan melihat dapur bak kapal pecah.

Tapi eh tapi, ada nilai edukasi juga di rumah kami lho. Meski dengan suka hati saya memasak beragam menu, anak-anak juga harus belajar untuk tidak cerewet dan menjadi picky eater. Saya membiasakan mereka untuk being grateful, sesederhana apapun masakan yang saya buat. Mereka harus paham bahwa ada banyak sekali anak seusia mereka di luar sana yang tidak bisa menikmati makanan seperti mereka di rumah. Jadi, mereka tidak boleh banyak protes dan harus banyak bersyukur. Makan apapun yang ibunya masak, dan selalu berterima kasih atas segala anugerah yang didapat dari Sang Pencipta.

Saya juga mengajarkan mereka untuk terbiasa dan mengenal isi dapur. Ini adalah salah satu dari sekian banyak life skills yang saya wariskan untuk hidup mereka kelak. Jadi mereka tetap bisa survive di mana pun mereka tumbuh dewasa nanti. Saya toh tidak bisa selamanya memasak untuk mereka, kan?

Suatu hari nanti anak-anak harus hidup mandiri dan mampu bertahan sendiri. Jika memasak hal yang paling sederhana saja tidak mampu, bisa dibayangkan betapa tipisnya kantong mereka kelak, karena harus jajan setiap hari.

Jadi, masih mau menganggap kemampuan memasak ini sepele? Think again, ladies.

Jangan merendahkan diri dan menganggap bahwa kegiatan memasak akan menjadikan anda bak rumah makan di rumah sendiri. Tersenyum lah dengan bangga hati karena bisa berkata, “Gue dong, masak sendiri buat anak-anak dan suami.”

Love, Rere

Recycle. Reuse. Remake


Recycle. Reuse. Remake

Punya hobby itu asyik lho. Apalagi ketika dari hobby itu jadi bisa menciptakan sesuatu yang baru baik dari limbah di rumah, atau barang bekas jaman dulu.

Tadi pagi saya beberes dapur, lalu melihat tampah berukuran kecil yang sudah agak rusak jalinan rotannya.

Dibuang? Sayang, ah.

Bikin baru, dong!

Akhirnya, iket sana iket sini, voila! Tampah rusak saya pun jadi sesuatu yang baru. Bisa digantung sebagai hiasan dinding, tempat bunga kering, atau bisa juga jadi tempat surat yang biasanya menumpuk di meja.

Jadi, masih mau buang barang lama? Bikin sesuatu, gih. Atau kalian mau pesan wall deco lucu ini? Ihik!

Love,
Rere

There’s Always The First Time


There’s Always The First Time

Saya pernah berpikir punya tangan yang enggak dingin. Karena semua tanaman yang saya pegang pasti mati. Lantas, setelah beberapa pot tanaman berusaha saya limpahi dengan kasih sayang namun tetap mati, apakah saya berhenti?

Meski harus sedikit bertegang urat dengan suami, saya yang sangat mencintai tumbuhan hidup, berusaha mencoba lagi. Berbekal tanya sana sini dan menimba ilmu melalui banyak tutorial di internet, akhirnya saya berhasil.

Hingga hari ini sudah ada setidaknya 5 pot tumbuhan mungil yang saya tanam sendiri dari mulai berbentuk biji dan batang. Yay! Akhirnya untuk pertama kalinya tangan saya ternyata tidak kurang dingin.

Saya pun pernah berpikir dimusuhi oven dan ulenan roti. Karena beberapa kali mencoba membuat cake cantik seperti yang selalu saya lihat di televisi, berhasil akhir jauh sekali. Expectation vs reality yang bikin nyengir.

Roti, ahhhh … ribet sekali! Harus nguleni, harus tunggu mengembang lagi, susah Cint! Sampai ibu saya membawakan mesin pembuat roti yang juga hanya teronggok manis di tepi. Saya mending masak untuk 100 orang saja, sih.

Sampai semalam, seorang sahabat memberi saya sebuah resep yang simple dan anti ribet. Penuh keengganan saya beranjak ke dapur dan mulai mempersiapkan semua bahan. Ya, saya sudah punya semua, hanya kekurangan semangat akibat terlalu malas dan takut bayangan. Jangan-jangan nanti roti saya bantat.

Penuh kesungguhan saya ikuti setiap langkah yang biasanya dengan seenaknya saya modifikasi sesuai keinginan sendiri. Ya ya, saya memang sering sok tahu padahal kurang ilmu. Hiks!

Well, there’s always the first time to everything. Roti yang saya buat perdana semalam, akhirnya mengembang dengan cantik dan indah. Menurut para pemakan segala di rumah, rasanya luar biasa.

Aaahhh … senyum saya pun mengembang sumringah. Ternyata saya tidak lagi dimusuhi oven di rumah. Patah sudah stigma negatif tentang ketidakmampuan diri. Ketakutan nyatanya membuat saya membatasi setiap gerak dan langkah. Takut gagal, yang sejatinya adalah sebuah tanda baik tentang percobaan dan bertambahnya pengetahuan.

Jadi, masih takut melangkah dan mencoba? Tenang … saya temani yuk, sambil makan garlic bread buatan perdana dan minum secangkir kopi hangat.

“Hey! There’s always the first time … semangat!”

Love, Rere.

Try. Try Hard. Try Harder


Try. Try Hard. Try Harder

Kalau dipikir-pikir, universe beserta Sang Pencipta kadang bercandanya seru, ya?

Beberapa bulan lepas kita masih pergi ke mana pun kaki melangkah dengan bebas. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat dan membuat seluruh penghuni bumi dimasukkan dalam “sangkar” emas.

Berbulan-bulan hanya berdiam di rumah saja tentunya membawa banyak perubahan pada fisik dan mental. Biasanya aktif di luar rumah, sekarang harus menikmati detik demi detik kehidupan di dalam rumah saja. Bosan, jenuh, bete, hingga enggak tahu mau melakukan apa lagi.

Nah, apa yang bisa kita lakukan selama di rumah saja? Banyak! Salah satu contohnya adalah melakukan kegiatan yang disukai dan mencoba hobi baru setiap hari.

Bukankah a hobby a day will keep the boredom away? Jadi kenapa kita tidak berusaha mencoba banyak keahlian dan hobi?

“Ah, gue kan enggak berbakat kayak elu.”
“Elu mah megang apa aja jadi, Mak. Gue mah enggak bisa.”

Ih! Kalian tahu tak kalimat “tak kenal maka bisa utang … eh … maksudnya tak sayang”? Bagaimana sih kalian bisa tahu kalau tidak berbakat jika mencoba saja belum pernah. Padahal kegagalan itu masih lebih baik daripada keengganan. Mending gagal tapi pernah mencoba, daripada belum coba tapi sudah menyerah kalah.

Untuk itu, kalau kalian pikir saya bisa ini itu dari lahir, kalian salah. Sesungguhnya saya hanya punya semangat dan ketekunan. Semangat untuk selalu belajar hal baru, tekun mencari ilmu, serta rajin mencoba keahlian baru.

Tahukah kalian semua, jika semakin banyak hal saya temui dalam proses belajar ini, semakin saya paham bahwa sejatinya saya tidak tahu apa-apa. Untuk itu saya belajar membuka diri dan juga hati agar semua ilmu bisa saya pelajari tanpa ruangnya pernah saya batasi.

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk melihat video cara pembuatan beragam kerajinan tangan di internet. Kemudian saya mulai mencoba dan melakukan eksperimen sendiri. Kadang gagal, tapi saya tidak menyerah. Terus mencoba, itulah prinsip hidup saya.

Jadi, apa yang kalian lihat postingannya selama ini di beranda pribadi saya, adalah hasil dari sebuah proses belajar, proses mencoba, dan juga proses melakukan banyak kesalahan.

Begitulah cara saya belajar. Hingga tercipta beberapa hasil karya berupa macrame, wire weaving, resin, dan juga beberapa tulisan yang menunggu untuk dibukukan. Percayalah, memakai hasil karya sendiri itu sensasinya beda teman.

Jadi, masih mau bilang enggak bisa dan enggak berbakat? Think again.

Making mistakes simply means you are trying harder than anyone else.

Love, R

Recycle. Reuse


Recycle. Reuse

“Yah, bunda ambil kaos buluknya ya.”
“Hmmm.”
“Yang ini ya?”
“Itu kan bunda yang beli dari Amsterdam.”
“Nggak apa. Udah buluk. Kan tetep ada memorinya tapi lain bentuk.”

Cekres-cekres … si kaos buluk yang saya beli untuk sang “pacar” dulu waktu masih melanglang buana dan jajan terus, berubah menjadi sesuatu yang baru.

The memory will remain, hanya dalam bentuk yang lain. Kalau dulu kaosnya dipakai sebagai baju, sekarang sang kaos berubah menjadi tatakan gelas untuknya.

Gak punya tali macrame tapi punya kaos lama? Atau bedsheet bekas? Atau sarung yang sudah kekecilan? Bikin coaster alias tatakan gelas yuk. Bisa juga dijadikan hiasan dinding seperti Dream Catcher.

Bahan:
• Tali macrame yang sudah digunting 200cm 12 buah.
• Atau kain bekas (pilih bahan kaos) yang digunting 3cm sampai habis.
• Gunting, klip, meja kecil atau papan, crochet hook (optional), lem bening & kuas untuk merapikan (optional)
• Plus senyum bahagia.

Cara membuatnya ada di video yang saya bagikan di bawah ya.

Jadi, punya baju bekas jangan dibuang ya. Daur ulang jadi sesuatu yang baru dan bermanfaat. Lumayan kan?

Love, R.

Leyeh-Leyeh? Apaan Tu?


Leyeh-Leyeh? Apaan Tu?

“Elu gak pernah tidur ya, Bun?”

Hahaha! Ya tidur lah! Walau mungkin tidak terbiasa leyeh-leyeh and do nothing dalam sehari. Saya hanya tidur di malam hari.Matahari yang bersinar cerah rasanya tidak pernah bisa membuat saya mengantuk.

Susah mau liat saya duduk diam tidak melakukan sesuatu. Kecuali memang saya sedang tidak enak badan … eeee … walau biasanya makin sakit saya makin petakilan. Malas rasanya “melayani” rasa sakit. Lawan saja!

Mmm … atau mungkin saya bisa diam dalam keadaan puasa begini dan mendadak lemas seharian? Ya enggak juga. Selesai sahur dan Subuh, saya tidak pernah tidur dan berbaring lagi. Ada sih 1 hari kemarin saya menderita migraine parah dan terpaksa harus berbaring karena membuka mata saja sakit rasanya.

Selebihnya, saya lebih suka mengisi waktu dengan membuat sesuatu. Pokoknya setiap hari saya harus klutekan bebikinan. Apapun itu.

A hobby a day keeps the drama away, doesn’t it?

Seperti hari ini, saya membuat sebuah wall deco, hiasan dinding bertema daun, yang kemudian saya letakkan bersama dengan beberapa coaster yang sebelumnya sudah saya buat. Lalu saya tempel di sebuah sudut tempat ruang TV kami berada.

Lumayan kan?

Love, R.

Mandala


Mandala

Mandala dalam bahasa sansekerta berarti lingkaran. Konon merupakan simbol dari hidup yang tidak pernah berhenti berputar dan saling berhubungan satu dengan yang lain.

Kali ini saya mencoba membuat sebuah bentuk sederhana dari mandala, menggunakan tali yang saya punya saja. Cantik juga membuat macrame dengan banyak warna seperti ini, ya. Selama ini macrame saya hanya monotone, satu warna saja.

Macrame buatan saya kali ini bisa dipakai untuk hiasan bando anak-anak, atau digantung sebagai anting, bahkan bros cantik. Untuk headpiece juga keren lho jika dibuat dalam jumlah banyak dan digabungkan. Pasti kece berat.

Bagian depan dan belakangnya sama-sama cantik dan bisa digunakan sesuka hati. Seterahhh.

Kalian sudah bikin apa hari ini?

Love, R

When life gives you hands, make handmades.

Bosan? Recycle & Reuse, Yuk!


Bosan? Recycle & Reuse, Yuk!

Kalian kalau bosan ngapain, sih?

Kalo saya biasanya ngerjain yang gak puguh. Hahaha!

Sepagian ini saya memandangi hiasan dinding yang dibuat sewaktu awal belajar membuat macrame dulu. Hmmm … masih berantakan, simpulnya banyak yang salah, dan pattern nya acakadut. Tapi itu lah macrame pertama yang saya buat dengan modal nekat.

Saya punya kebiasaan menyimpan memorabilia benda-benda yang saya buat pertama kali. Sewaktu masih proses belajar, dan sedang belajar dari kesalahan. Wire weaving yang petat-petot, simpul macrame yang miring ke sana kemari, resin yang tak rapi permukaannya, dan banyak lagi. Semua saya simpan dan pakai kalau berbentuk accessories.

Beberapa saya ubah bentuk untuk menjadikannya lebih sedap dipandang, dan tentu saja karena saya bosan dan ingin melihatnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Iseng banget ya.

Nah, itu lah yang terjadi pagi ini. Hiasan dinding pertama saya tinggal kenangan. Bukan dibuang, namun diubah bentuknya menjadi coaster berbentuk unik yang bisa saya pakai sebagai alas untuk meletakkan piring, toples, atau vas bunga. Lebih gampang juga sih, saya letakkan di mana-mana daripada harus nuthuki paku ke tembok yang kerasnya ngaujubilleh ini.

Lumayan kan?

Love, R

Siap-Siap. Bikin-bikin


Siap-Siap. Bikin-bikin

Setelah selesai dengan coaster atau tatakan macrame, hari ini mata saya melirik sebuah botol kosong bekas tempat mayonaise.

Botolnya yang berbentuk bulat lucu memang tidak pernah saya buang. Biasanya saya pakai untuk meletakkan money plants yang sudah beranak hingga 5 botol. Coba duit beneran ya. Bisa lah saya beli kapal pesiar mewah.

Ah, yang ini saya bungkus saja lah dengan macrame. Anggap saja toples lebaran baru, lalu nanti saya letakkan di atas coaster yang kemarin saya buat juga. Cakep deh.

Ikat sana ikat sini, putar sana putar sini, plus salah ikatan, salah jumlah tali, saya lewatt seharian kemarin, karena design kali ini dibuat tanpa pattern sama sekali. Saya hanya mengikuti kemana tangan berputar. Hihihi!

Hingga ahirnya … voila!

Botol bekas jadi baru dan berbaju cantik, hasil bikin-bikin untuk persiapan lebaran nanti.

Mau coba? Gampang kok, asal sabar. Eeeaaa!

Love, R