Recycle. Reuse


Recycle. Reuse

“Yah, bunda ambil kaos buluknya ya.”
“Hmmm.”
“Yang ini ya?”
“Itu kan bunda yang beli dari Amsterdam.”
“Nggak apa. Udah buluk. Kan tetep ada memorinya tapi lain bentuk.”

Cekres-cekres … si kaos buluk yang saya beli untuk sang “pacar” dulu waktu masih melanglang buana dan jajan terus, berubah menjadi sesuatu yang baru.

The memory will remain, hanya dalam bentuk yang lain. Kalau dulu kaosnya dipakai sebagai baju, sekarang sang kaos berubah menjadi tatakan gelas untuknya.

Gak punya tali macrame tapi punya kaos lama? Atau bedsheet bekas? Atau sarung yang sudah kekecilan? Bikin coaster alias tatakan gelas yuk. Bisa juga dijadikan hiasan dinding seperti Dream Catcher.

Bahan:
• Tali macrame yang sudah digunting 200cm 12 buah.
• Atau kain bekas (pilih bahan kaos) yang digunting 3cm sampai habis.
• Gunting, klip, meja kecil atau papan, crochet hook (optional), lem bening & kuas untuk merapikan (optional)
• Plus senyum bahagia.

Cara membuatnya ada di video yang saya bagikan di bawah ya.

Jadi, punya baju bekas jangan dibuang ya. Daur ulang jadi sesuatu yang baru dan bermanfaat. Lumayan kan?

Love, R.

Leyeh-Leyeh? Apaan Tu?


Leyeh-Leyeh? Apaan Tu?

“Elu gak pernah tidur ya, Bun?”

Hahaha! Ya tidur lah! Walau mungkin tidak terbiasa leyeh-leyeh and do nothing dalam sehari. Saya hanya tidur di malam hari.Matahari yang bersinar cerah rasanya tidak pernah bisa membuat saya mengantuk.

Susah mau liat saya duduk diam tidak melakukan sesuatu. Kecuali memang saya sedang tidak enak badan … eeee … walau biasanya makin sakit saya makin petakilan. Malas rasanya “melayani” rasa sakit. Lawan saja!

Mmm … atau mungkin saya bisa diam dalam keadaan puasa begini dan mendadak lemas seharian? Ya enggak juga. Selesai sahur dan Subuh, saya tidak pernah tidur dan berbaring lagi. Ada sih 1 hari kemarin saya menderita migraine parah dan terpaksa harus berbaring karena membuka mata saja sakit rasanya.

Selebihnya, saya lebih suka mengisi waktu dengan membuat sesuatu. Pokoknya setiap hari saya harus klutekan bebikinan. Apapun itu.

A hobby a day keeps the drama away, doesn’t it?

Seperti hari ini, saya membuat sebuah wall deco, hiasan dinding bertema daun, yang kemudian saya letakkan bersama dengan beberapa coaster yang sebelumnya sudah saya buat. Lalu saya tempel di sebuah sudut tempat ruang TV kami berada.

Lumayan kan?

Love, R.

Mandala


Mandala

Mandala dalam bahasa sansekerta berarti lingkaran. Konon merupakan simbol dari hidup yang tidak pernah berhenti berputar dan saling berhubungan satu dengan yang lain.

Kali ini saya mencoba membuat sebuah bentuk sederhana dari mandala, menggunakan tali yang saya punya saja. Cantik juga membuat macrame dengan banyak warna seperti ini, ya. Selama ini macrame saya hanya monotone, satu warna saja.

Macrame buatan saya kali ini bisa dipakai untuk hiasan bando anak-anak, atau digantung sebagai anting, bahkan bros cantik. Untuk headpiece juga keren lho jika dibuat dalam jumlah banyak dan digabungkan. Pasti kece berat.

Bagian depan dan belakangnya sama-sama cantik dan bisa digunakan sesuka hati. Seterahhh.

Kalian sudah bikin apa hari ini?

Love, R

When life gives you hands, make handmades.

Bosan? Recycle & Reuse, Yuk!


Bosan? Recycle & Reuse, Yuk!

Kalian kalau bosan ngapain, sih?

Kalo saya biasanya ngerjain yang gak puguh. Hahaha!

Sepagian ini saya memandangi hiasan dinding yang dibuat sewaktu awal belajar membuat macrame dulu. Hmmm … masih berantakan, simpulnya banyak yang salah, dan pattern nya acakadut. Tapi itu lah macrame pertama yang saya buat dengan modal nekat.

Saya punya kebiasaan menyimpan memorabilia benda-benda yang saya buat pertama kali. Sewaktu masih proses belajar, dan sedang belajar dari kesalahan. Wire weaving yang petat-petot, simpul macrame yang miring ke sana kemari, resin yang tak rapi permukaannya, dan banyak lagi. Semua saya simpan dan pakai kalau berbentuk accessories.

Beberapa saya ubah bentuk untuk menjadikannya lebih sedap dipandang, dan tentu saja karena saya bosan dan ingin melihatnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Iseng banget ya.

Nah, itu lah yang terjadi pagi ini. Hiasan dinding pertama saya tinggal kenangan. Bukan dibuang, namun diubah bentuknya menjadi coaster berbentuk unik yang bisa saya pakai sebagai alas untuk meletakkan piring, toples, atau vas bunga. Lebih gampang juga sih, saya letakkan di mana-mana daripada harus nuthuki paku ke tembok yang kerasnya ngaujubilleh ini.

Lumayan kan?

Love, R

Siap-Siap. Bikin-bikin


Siap-Siap. Bikin-bikin

Setelah selesai dengan coaster atau tatakan macrame, hari ini mata saya melirik sebuah botol kosong bekas tempat mayonaise.

Botolnya yang berbentuk bulat lucu memang tidak pernah saya buang. Biasanya saya pakai untuk meletakkan money plants yang sudah beranak hingga 5 botol. Coba duit beneran ya. Bisa lah saya beli kapal pesiar mewah.

Ah, yang ini saya bungkus saja lah dengan macrame. Anggap saja toples lebaran baru, lalu nanti saya letakkan di atas coaster yang kemarin saya buat juga. Cakep deh.

Ikat sana ikat sini, putar sana putar sini, plus salah ikatan, salah jumlah tali, saya lewatt seharian kemarin, karena design kali ini dibuat tanpa pattern sama sekali. Saya hanya mengikuti kemana tangan berputar. Hihihi!

Hingga ahirnya … voila!

Botol bekas jadi baru dan berbaju cantik, hasil bikin-bikin untuk persiapan lebaran nanti.

Mau coba? Gampang kok, asal sabar. Eeeaaa!

Love, R

Ikat. Sana. Ikat. Sini


Ikat. Sana. Ikat. Sini

Lebaran kali ini mungkin tidak akan sama seperti tahun kemarin.

Mungkin tidak akan terlihat pemandangan serombongan orang hilir mudik mengenakan baju berwarna seragam, berkunjung ke rumah sanak saudara. Mungkin tidak akan ada deretan toples kaca berisi kue manis khas lebaran yang menggugah selera. Mungkin. Tapi mungkin juga tidak.

Di tengah suasana yang serba tidak pasti ini semangat ber hari raya saya tetap membara di hati. Berharap bumi ini sesegera mungkin sehat kembali. Anggap saja ia sedang melakukan pembersihan diri seperti puasa kami.

Semangat itu yang membuat saya melirik gulungan temali di atas meja putih. Tempat saya banyak menelurkan kreasi. Kreatifitas yang tidak pernah saya biarkan mati. Malah semakin dipupuk dengan banyak belajar lagi. Saya ingin membuat sesuatu untuk menyambut lebaran nanti.

Ikat sana, ikat sini, tali temali berputar hingga jadi lah beberapa coaster cantik berwarna putih susu, sebagai hiasan meja kaca di ruang tamu. Beberapa untuk gelas minum atau toples cemilan, dan sebuah yang besar untuk entah apapun itu. Nanti saya pikir dulu, kalau lebaran jadi menerima tamu.

Jangan murung karena tebaran virus yang menganggu. Wajah yang merengut hanya akan membuat hilang manismu. Buatlah sesuatu untuk mengisi hari-harimu. Karena hidup harus tetap maju meskipun hanya di rumah melulu. Semangat dan tetap berkarya selalu. Buka mata dan cari tahu apa yang bisa dijadikan sesuatu yang baru.

Saya belum akan berhenti membuat ini dan itu. Bagaimana dengan kamu?

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda

Bir Pletok


Bir Pletok Bahan-bahan: 1. Jahe yang dibakar. 2. Beberapa batang serai. 3. Daun pandan. 4. Daun jeruk. 5. Cengkeh. 6. Kayu manis. 7. Pala, merica, dan kunyit bubuk. 9. Sejumput Saffron. 10. Gula merah dan sedikit garam. Cara Membuat: Rebus sepanci air. Geprek jahe dan serai. Kemudian masukkan semua bahan satu persatu. Kecilkan api dan […]

Paris Brèst


Paris Brèst Sejenis cream puff dengan isian vla persis seperti kue sus ala Indonesia. Mengapa saya tertarik dengan jenis cake ini? Karena sejarahnya yang seru. Paris Brest adalah pastry khas Perancis yang dibuat pada sekitar tahun 1910. Konon itu adalah saat diselenggarakannya lomba sepeda dengan rute antara Paris hingga Brest, di wilayah Brittany. Bentuknya yang […]

SOLEIL


SOLEIL Stay At Home Days? Fret not! Ada banyak hal bisa kita lakukan ketika di rumah lho. Saya sendiri biasanya malah kebingungan which one first? Karena terlalu banyak hal yang ingin saya buat. Biasanya saya akan duduk termenung di meja saya sambil menimbang-nimbang, mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Pokoknya setiap hari saya wajib menghasilkan […]

SAHM Be Like (2)


SAHM Be Like (2) Stay At Home bukan barang baru bagi saya sejak 2006 yang lalu. Ketika memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan sebagai seorang awak kabin, lalu memilih untuk mendedikasikan sisa hidup pada keluarga. Februari 2006 saya resmi menjadi Stay At Home Mom. Suri rumah tangga, Ibu sepenuh masa kata orang Melayu. Lantas apakah berarti […]