RECYCLED DECO


RECYCLED DECO

Recycled?

Yep! Semua media yang saya pakai ini adalah hasil daur ulang kanvas dan botol bekas.

Tiga kanvas yang saya pakai untuk membuat motif mandala ini adalah kanvas bekas. Satu milik saya yang hasil lukisnya kurang saya sukai karena agak berantakan, dua lainnya adalah milik Lara dan Rayyan yang setengah jadi. Merasa sayang melihat ketiganya teronggok tak berdaya di pojokan, saya pun mendaur ulang semuanya. Melapisi dengan acrylic paint warna hitam, membuat pola untuk bisa menyatukan tiga kanvas, lalu mulai menggunakan dotting tools untuk mewujudkan motif mandala bertema inner peace.

Tema yang cocok sekali untuk situasi saat ini yang serba tak menentu akibat pandemi. Tak bisa mudik, tak boleh berkunjung dengan bebas antar keluarga, juga menerima banyak berita duka yang mengiris jiwa.

Botol yang saya pakai itu hasil daur ulang juga dari YL Ningxia Red yang saya miliki banyak sekali di rumah. Seperti beberapa botol lain yang sudah saya lukis, kali ini saya membuat motif mandala bertema sama dengan lukisan pada di kanvas. Lumayan kan, untuk mengisi waktu selama berpuasa? Meski lebaran tak bisa saling mengunjungi dengan bebas, paling tidak saya punya home deco baru yang manis dan bikin gemas.

Mau belajar? Tunggu kelas offline “Craft Chain with Reyn” setelah Lebaran, ya. Sehat selalu semua!

Love,
Rere

Bukan KARTINI


Bukan KARTINI

“Mbak, kerja di mana?”
“Hmm … how do I put it in one word?”

I’m a wife and a mother.

Now let me elaborate that.

Sebagai seorang istri, tugasku adalah menjaga suami. Membuatnya sehat, sehingga jauh dari penyakit. Membuatnya nyaman, hingga ia betah berada di rumah yang bersih dan terawat. Menjaga asupan makanan, supaya sehat pencernaan. Memastikan semua pengeluaran, agar titik peluhnya tak melayang entah ke mana. Paling utama adalah menjaga martabat dan nama baiknya, dengan tidak berlaku sembarangan.

Sebagai seorang ibu, tugasku banyak bukan cuma itu. Aku adalah seorang juru rawat, yang harus sigap menangani segala penyakit yang datang menyerang. Aku adalah sang juru masak, yang harus memastikan semua isi perut kenyang. Aku adalah si ahli gizi, yang harus selalu menjaga kesehatan semua penghuni. Untuk itu aku harus menjadi seorang stockist, yang memantau ketersediaan bahan makanan, dari yang gurih hingga manis.

Aku juga menjadi tempat laudry, yang harus menjaga semua pakaian bersih dan wangi. Aku pastinya adalah seorang cleaning service, yang harus memastikan semua ruangan bersih tanpa kotoran atau bau amis.

Aku pun adalah seorang psikolog, yang bahunya harus siap menjadi tempat bersandar dari sebuah kekecewaan atau tangisan. Kadang aku juga jadi seorang plumber, yang berbekal peralatan sederhana, harus membetulkan pipa atau apa pun yang mampet. Oh, tempo-tempo aku juga harus siap menjadi sebuah ensiklopedia. Tempat semua orang bertanya di mana letak pakaian, siapa itu Tuhan, bagaimana bentuk gorgonian, atau bagaimana cara membetulkan mainan.

Kadang aku lupa rasanya menjadi seorang perempuan, yang lemah lembut dan selalu butuh perhatian. Hari-hariku sudah terlalu penuh untuk sekedar memikirkan. Sampai di hari spesial, aku justru sibuk dengan segunung cucian.

Jadi, bagaimana aku harus menjawab pertanyaan tentang pekerjaan, dalam satu kalimat sederhana? Jika setiap harinya, tugasku berubah tergantung keadaan. Padahal aku bukan perempuan hebat, tanpa deret gelar pendidikan, tanpa kartu nama dengan profesi menggiurkan, dan juga bukan sosok ternama. Seperti Kartini yang namanya harum, hingga selalu dikenang sepanjang kehidupan.

Namaku … hanya Bunda. Bunda saja.

Love,
Rere

Botol Bekas Jadi Vas


Botol Bekas Jadi Vas

“Banyak banget botol NXR.”

Saya memang peminum NingXia Red karena manfaatnya yang sangat baik untuk saya pribadi.

Saking seringnya beli, jadi botolnya pun menumpuk di gudang, karena bentuknya yang manis jadi dibuang sayang.

Sakit kepala yang hari ini menyerang, membuat saya butuh outlet yang harus bikin senang. Maka saya pun melihat sekililing rumah untuk mencari korban.

Voila! Botol-botol bekas, sudah berubah jadi deretan vas cantik, untuk deco di rumah.

Lumayan, kan?

Punya botol bekas? Recycle aja.

Love,
Rere

D.I.Y FASHION


D.I.Y FASHION

Hmm … D.I.Y?

Yes! Do It Yourself.

Siapa bilang untuk jadi fashionable butuh modal besar?
Siapa bilang untuk jadi fashionista butuh branded stuffs atau designer clothes?

Be your own design artist, Gengs!

Buka lemari, cari baju yang sudah kekecilan, atau malah kebesaran, atau yang sudah tidak terpakai karena sesuatu hal.

Cari inspirasi dari internet yang bejibun dibagi, buka Pinterest untuk ide seru, dan cari video tutorial yang kamu mau.

Saya memang bukan penjahit betulan, karena hanya belajar secara otodidak. Menjahit baju baru nyatanya memang kurang menarik hati saya. Mendhedeldhuwel baju lama yang dijadikan baru rasanya lebih menarik kalbu. Caelah!

Apa saja D.I.Y Fashion yang pernah saya buat? Semoga menjadi inspirasi ya, Gengs!

Yuk, buka lemarimu dan bikin sesuatu yang lama jadi baru!

Love,
Rere & SewAdorableYou!

PS: Ini hanya sebagian kecil hasil oprekan tangan saya mendhedeldhuwel baju lama. Ada beberapa baju yang kemudian berubah bentuk menjadi tas bertali, atau lunch bag tempat anak-anak menyimpan kotak makan.

FAITH


FAITH

Semalam saya bermimpi membuka jendela di pagi hari.
Lalu melihat pemandangan gunung yang tinggi.
Udara yang segar, dengan hembus angin yang membuat tubuh bergetar.
Aroma pinus memanjakan hidung, membuat hati sendu menjadi hidup.

Apa daya ketika sadar, hanya nampak bangunan apartemen berjajar.
Bukan tak bersyukur meski jadi tepekur.
Hidup toh harus terus meluncur jika tak ingin jiwa menjadi hancur.

Be happy, Self. This shall pass.

Love,
Rere

LUKA


LUKA

Aku tak tahu mengapa umak memberiku nama Luka.

Luka saja, tanpa awal atau akhir kata.

Menurut orang-orang kampung sini, aku dilahirkan tanpa bapak sewaktu umak pergi bekerja ke luar negeri. Usia umak baru 17 tahun ketika itu. Sedang mekar-mekarnya anak gadis, kata mereka.

Umak yang cantik dan pintar terpaksa berhenti sekolah dan harus bekerja keras, demi membayar hutang kedua orangtuanya. Kakek dan nenek yang tak pernah kutahu sosoknya.

“Terbakar dalam rumah sewaktu perampok menyatroni mereka di pagi buta,” kata Pak Saman tetangga desa.

Waktu itu umak sudah berangkat ke luar negeri, dan menjadi buah bibir di kampung. Bagaimana tidak … baru beberapa bulan umak pergi, rumah kakek dan nenek sudah naik tinggi. Keramik cantik menghiasi lantai, mengganti alas tanah yang sebelumnya tiap pagi berhias tai. Ya, kotoran ayam milik tetangga, yang kandangnya ada di sebelah rumah.

Umak juga mengirim sebuah kendaraan mewah, sebagai pengganti becak yang selalu dikayuh kakek keliling desa sebelah. Dibangunkannya sebuah toko megah, untuk nenek yang biasanya berjualan tempe di pasar basah. Tentu saja, semua tetangga memandang gerah. Termasuk komplotan pencuri yang sudah terkenal namanya di pusat kota, geng bramacorah.

Kebakaran rumah umak di desa menjadi akhir kisah hidup dan ceritanya di sana. Umak yang anak tunggal, mengubur semua mimpi dan harapannya bersamaan dengan terkuburnya jasad kakek dan nenek menjadi abu, di rumah kebanggaan mereka yang berujung pilu.

Tak ada seorang pun tahu apa yang terjadi pada umak setelah itu. Hanya kabar burung beredar di kampung, umak bukan hanya bekerja sebagai pembantu. Ia adalah simpanan seorang tauke berharta menggunung. Banyak yang kagum, lebih banyak yang mencibir dengan sinis, biasa lah sesama kaum. Mungkin mereka iri dan dalam hati kecil ingin berjaya seperti umak, yang diam-diam mereka kagumi.

Semua berubah di hari umak kembali. Dengan tubuh kurus kering, umak kembali ke kampung membawa seorang bayi dalam bengkung. Seisi kampung gempar, bisik-bisik semakin tak terbendung liar.

Dengan sisa gemerincing koin di saku, umak menepi di sebuah rumah berpagar bambu. Entah rumah siapa, umak pun tak tahu. Gubuk berhantu, kata Pak Saman dulu.

Umakku tak takut hantu. Ia lebih takut melihat mulut-mulut yang menggerutu. Istri-istri yang takut suaminya jatuh hati, gadis-gadis yang takut kekasihnya berpaling pergi. Padahal umak kembali tanpa penampilan bak gadis ting-ting. Umak kembali membawa sakit, di hati dan diri. Karena di gendongannya ada bayi lelaki yang harus diurus sendiri.

Umak … umak.

Malang sekali nasibmu berakhir. Kataku sambil menatap hembusan asap rokok beraroma tajam … sembari membetulkan gincu berwarna merah terang. Untuk pelanggan lain yang segera datang.

(Tamat)

Love, Rere

V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan


V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan

“Urip iku mung mampir ngombe.”

Pernah denger ungkapan dalam bahasa Jawa ini, yang artinya hidup itu cuma mampir minum saja?

Ya, benar juga. Menjalani hari hingga usia saat ini itu kadang terasa lama, tapi melihat anak-anak tumbuh dewasa rasanya waktu begitu cepat berlalu. Semudah menghabiskan segelas minuman.

Sebentar lagi, tanpa terasa mereka akan lulus sekolah. Lalu kemudian bekerja, membeli rumah terus menikah, membangun keluarga kecil, beranak, hingga bercucu. Begitu saja sih sebenarnya hidup ini. Benar-benar ibarat seteguk air.

Hanya perjalanan masing-masing saja yang membedakan. Ada yang bak garis lurus, ada yang berkelok bak jahitan berbentuk zig-zag. Bahkan ada yang begitu kusut di awal lalu lurus di belakang, atau sebaliknya.

Hmmm … saya merangkum semuanya dalam sederet foto ini. Ketika seorang keponakan melepas masa lajang dan saya menghadiahinya dekorasi mobil pengantin. Kemudian tiba giliran keponakan yang lain naik pelaminan, saya membuatkannya sebuah kotak ang paw berbentuk sepasang pengantin berbaju khas Melayu.

Berbulan setelah hari itu, saya kembali menghadiahi mereka dengan sebuah bingkisan berbentuk cake bertingkat. Bedanya yang ini tidak untuk dikonsumsi karena terbuat dari susunan diaper atau popok sekali pakai. Yep, saya sudah punya cucu meskipun bukan lahir dari 3 anak yang masih sekolah. Suatu hari nanti akan tiba giliran mereka.

Jalan kehidupan kemudian kembali berulang, kelak ketika para cucu beranjak dewasa. Setelah tiba giliran mereka naik pelaminan, mungkin saya masih kuat menghias mobil pengantin masing-masing. Lalu sambil membetulkan kacamata yang melorot, mungkin saya juga masih membuat kotak ang paw tentunya dengan hiasan yang hits pada tahun itu.

Semoga … karena saya ingin hidup ini tidak cuma sekedar numpang minum tapi juga berguna untukmu. Meski tidak lagi mampu muluk-muluk menawarkan bantu. Semata hanya karena ingin hidup memiliki value. Meski harus melalui jalan panjang yang berkelok bahkan berdebu.

Life’s too short, make the most of it.

Love, Rere.

Kenalan, yuk!


Kenalan, yuk!

“Suka baking ya, Bun?”

Melihat beberapa postingan saya tentang baking, seorang sahabat bertanya apakah saya memang hobi membuat kue atau roti.

“Sama sekali enggak,” demikian jawab saya padanya. Hahaha!

Jika dibandingan dengan membuat kue, memanggang roti, atau membuat makanan sejenis, saya lebih memilih untuk memasak. Tidak telaten rasanya jika harus mengaduk adonan lama-lama, atau menguleni hingga lengan pegal-pegal, atau membentuk satu demi satu penganan. Beda sekali dengan masakan. Satu kali masak, saya bisa menyediakan sekian banyak porsi tanpa harus lama-lama berdiri di dapur.

Namun tak suka bukan berarti saya menolak untuk mencoba. Justru karena keengganan itu saya jadi tertarik untuk belajar. Ya, pilihan saya jatuh untuk belajar di sebuah studio.

“Apa bedanya dengan belajar sendiri lewat internet? Malah gratis.”

Betul banget. Banyak sekali mereka yang dengan sukarela berbagi resep bahkan video tutorial langkah demi langkah membuat beragam masakan. Kadang saya juga dengan rajin mencari postingan seperti ini, lho. Mencatatnya, kemudian beberapa kali mencoba sendiri. Sebagian berhasil, meskipun banyak yang gagal dengan sukses. Hahaha!

Memutuskan untuk mengikuti kelas membuat kue dan roti di sebuah tempat tentu saja dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah tips dan trik dari mereka yang ahli di bidang ini. Satu hal yang tidak mudah saya dapat dari internet, karena beberapa tutorial hanya menyajikan hasil akhir yang cantik. Padahal sebelumnya mereka melakukan banyak trial and error di balik layar tanpa kita sadari.

Pertimbangan selanjutnya adalah keseruan memasak bersama para sahabat. Meskipun saya bukan orang yang terlalu suka bepergian, tapi bertemu mereka lalu memasak hingga tertawa bersama, adalah salah satu cara melepas penat dan rutinitas harian di rumah. Beda lho rasanya memasak sendiri dengan bersama teman. Seru!

Lambat laun saya makin cinta dengan perbakingan. Pupus sudah keyakinan bahwa saya dikutuk oleh semua oven di dunia ini. Ternyata saya hanya belum kenal, makanya belum cinta.

Jadi, keluar dari zona nyaman memasak itu ternyata seru juga, lho. Seseru hasil baking saya beberapa hari ini dengan mencoba beberapa resep kekinian dengan hasil yang kece berat. Burnt Cheese Cake, Volcano Garlic Bread, dan Camembert Noix it is, guys!

Wow! Your cake and breads are awesome, Bunda! So yummy!” dan ini yang membuat saya makin bersemangat mencoba banyak hal baru.

Jadi … masih mau bilang enggak suka bikin ini itu? Cobaaaa kenalan duluuu.

Love, Rere

Recycle. Reuse. Remake


Recycle. Reuse. Remake

Punya hobby itu asyik lho. Apalagi ketika dari hobby itu jadi bisa menciptakan sesuatu yang baru baik dari limbah di rumah, atau barang bekas jaman dulu.

Tadi pagi saya beberes dapur, lalu melihat tampah berukuran kecil yang sudah agak rusak jalinan rotannya.

Dibuang? Sayang, ah.

Bikin baru, dong!

Akhirnya, iket sana iket sini, voila! Tampah rusak saya pun jadi sesuatu yang baru. Bisa digantung sebagai hiasan dinding, tempat bunga kering, atau bisa juga jadi tempat surat yang biasanya menumpuk di meja.

Jadi, masih mau buang barang lama? Bikin sesuatu, gih. Atau kalian mau pesan wall deco lucu ini? Ihik!

Love,
Rere

Thank You, Me


Thank You, Me

Hai, Moms!

Sudah membereskan rumah?
Sudah selesai melipat segunung baju?
Sudah memasukkan cucian kotor ke dalam mesin cuci?
Sudah masak untuk makan siang dan malam sekeluarga?

Mmm … dan untukmu sendiri bagaimana?

Sudah minum kopi pagi ini?
Sudah menyempatkan diri untuk menikmati me time?
Sudah melakukan olah tubuh dan berkeringat dengan gembira?
Sudah mengatakan cinta pada raga yang kerap kau buat bak kerja rodi seharian?

Kasihannya tubuh ini, yang kadang tanpa sadar terdzalimi.
Meski kadang begitu sakit hingga tak satu obat kimiawi menjadi remedy.

Lebih kasihan lagi jiwa ini, yang setengah mati mencoba untuk selalu tegak berdiri.
Bahkan ketika butiran bening jatuh pun, dengan segera terhapus tanpa menunggu siapapun datang dan berusaha mengusap.

Well Moms,
Ragamu yang semakin melemah tergerus usia, juga butuh perhatian.
Jiwamu yang selalu berusaha tegar juga butuh secangkir kopi untuk menghangatkan.
Cintai dirimu sama besarnya dengan cintamu pada sekitar.

Thank You, Me.
Thank you for standing tall and strong even on my weakest point in life.
Thank You, Me!
Thank you to never let anyone bring me down.
Thank You!

Hey, You! Love yourself and write down your own story!
-Rere