Tik Tok Mentok


Tik Tok Mentok

Kak, ayo dong ajari Bunda main Tik Tok.”
“Ish,
Bunda! No.”
“Ih
coba bikin 1 yuk, tapi jangan yang susah ya.”
“Renegade?”
“Mmmm …
boleh deh. Susah tak?”
“I teach you.”
“Then later can I upload the video?”
“Ih,
Bunda! No shame!”
“Hahaha! Satu saja … boleh ya? Ya?”

Begitu rayuan maut saya ketika membuat video Tik Tok pertama kali dulu. Tentu saja setelah mereka akhirnya menyetujui keinginan saya mengunduh videonya dengan syarat, mereka akan menutup wajahnya dengan masker. Hahaha!

Saya tentu saja dengan kepercayaan diri super tinggi menolak memakai masker seperti mereka. Walaupun gerakan saya pun … entahlah. Susah ternyata! Saya ibarat sedang berlari mengelilingi lapangan bola karena keringat mengucur deras ketika sedang berlatih gerakannya. Phew!

Generasi Tik Tok rasanya tidak bisa saya sematkan pada anak-anak itu. Mereka ternyata malu berjoget-joget di depan kamera apalagi kemudian ditonton banyak orang. Entah kenapa saya merasa lega. Bukan karena aplikasi ini kurang sukses merasuki jiwa anak-anak di rumah, tapi lebih karena bersyukur mereka masih memiliki rasa segan dan malu. Jadi rasanya saya tidak perlu terlalu banyak melarang ini itu.

Sebagai ibu di jaman milenial ini, saya memang selalu membuka diri dengan kemajuan teknologi. Termasuk segala aplikasi hits di jaman ini. Kadang kami berdiskusi tentang segala hal yang sedang santer diberitakan. Termasuk juga Tik Tok dengan segala kelucuan dan kehebohannya.

Saya mengajak anak-anak untuk berpikir terbuka. Jika mereka memang tidak suka, cukup jadi penikmat saja. Satu saja pesan saya, tidak perlu mencibir atau menghina mereka yang berbeda karena menyukai aplikasi ini. Mari kita hanya melihat segala kelucuan yang ada.

Selama ini saya hanya menemukan beberapa video yang memang mampu mengundang gelak tawa, dan sebagian sukses membuat mulut menganga dengan keajaibannya. Terus terang bukan mudah membuat video seperti tik tok ini. Paling tidak saya sudah pernah mencoba satu kali dan mungkin tidak akan pernah lagi. Sudah mentok … gagalnya. Hahaha!

Jadi, pilihannya adalah menjadi pemain atau sekedar penikmat. Tak ingin melihat sama sekali? Boleh juga. Karena saya pribadi rasanya juga tidak punya nyali untuk membuat video sendiri dan akhirnya bersama anak-anak, lebih memilih untuk menjadi penikmat saja.

We are all different, so don’t judge.
Understand instead.

Love, Rere.

TERSERAH!


TERSERAH!

"Yah, pingin banget makan Thosai di restoran itu deh. Duh! Udah kemecer di ujung lidah nih. Enak banget thosainya di sana."
"Bunda mau?"
"Iya. Sarapan di sana, yuk. Pingin minum Lassi juga.'
"Okay. Ayo ke sana."

Pagi itu saya, yang akan mengantar suami berangkat ke kantor, tiba-tiba ingin sarapan di sebuah restoran yang menyajikan masakan India. Kami pun bergegas mempersiapkan diri, dan saya sibuk memilih baju serta bersolek di depan kaca.

"Yah, pakai baju apa ya? Pilihin dong yang merah atau hitam?
"Mana saja bagus, kok. Terserah Bunda saja."
"Ih! Bantuin mikir dong! Bingung nih."
"Ya sudah merah saja bagus."
"Memangnya yang hitam kenapa? Enggak bagus ya?"
"Lah! Katanya tadi saya disuruh milih?"
"Hmm ... ya sudah nanti saya pikir dulu. Merah ya?"

Beberapa saat kemudian,

"Bunda, sudah siap?"
"Sudah, Yah. Ayo berangkat."
"Lah? Ayah pikir mau pakai baju merah tadi?"
"Enggak, ah. Pakai pink saja."
"Ish! Tadi buat apa tanya?"
"Ya, pingin tahu saja pilihanmu."
"Terus yang dipilih malah beda. Dasar! Terserah deh!"

Hahaha! “Sabar ya, Sayang,” ujar saya sembari nyengir dan menggandeng tangannya menuju tempat parkir. Sebelum saya melajukan kendaraan, kembali sebuah pertanyaan saya ajukan.

"Yah, kita mau lewat jalur A atau B?"
"Terserah Bunda."
"Ih! Jangan terserah-terserah terus lah!"
"Hhhh ... Ya sudah lewat jalur A saja mungkin enggak macet."
"Eee ... tapi kan jalur itu lebih jauh terus macet lagi nanti."
"Ish! Terserah deh!"

Saya pun berbelok melalui jalur C … yang macet! Hahaha! Sambil melirik ke arah sang suami yang merengut, saya tertawa lepas sambil berusaha mengusir rasa bersalah karena tidak menuruti kata-katanya.

Akhirnya kami pun tiba di restoran yang sedari pagi thosainya saya inginkan bak sedang mengidam berat. Thosai adalah sejenis makanan khas India yang bentuknya seperti pancake dengan isian kentang yang gurih dengan beragam cocolan sambal yang nikmat. Sementara lassi adalah minuman dari buah segar yang dicampur dengan sejenis yoghurt yang segar. Enak pokoknya!

"Pesan ya? Ayah mau prata telur bawang dan teh tarik. Bunda mau thosai dan lassi, kan?"
"Iya. Eh sebentar, mau lihat menu dulu."

Suami pun memanggil pelayan untuk memesan, berpikir bahwa saya akan membeli makanan yang sebelumnya saya inginkan.

"Hi. Can I have 1 telur bawang prata, 1 thosai masala, and ..."
"Eh, wait wait. Sebentar, Yah. Bunda pesan cheese prata dan teh panas saja, deh."
"Lah? Bukannya jauh-jauh kemari mau makan thosai dan minum lassi? Kenapa jadi cheese prata dan teh panas?"
"Thosai sudah pernah, ah. Mau coba cheese prata. Hehe."

Penuh keheranan suami saya pun merubah pesanan sebelumnya sambil menggerutu, “Gimana sih? Tadi katanya mau apa, terakhir jadi apa. Terserah deh!”

Hahaha! Begitu lah saya, yang seringkali membuat suami mengelus dada atau membeliakkan mata tanda takjub. Ya, ia sering dibuat takjub dengan cepatnya saya merubah keputusan, mengingat sang istri adalah orang yang menghendaki banyak hal terorganisir dengan baik, rapi, disiplin, serba harus, dan tepat.

Yah, saya memang justru sering konsisten untuk tidak konsisten dalam hal mengambil keputusan yang sepele dan remeh. Hahaha! Tapi jangan main-main dengan saya dalam urusan serius seperti sekolah. Saya tidak perlu berpikir dua kali dan ragu-ragu untuk urusan disiplin pengajaran anak dan pendidikan.

Well, anggap saja ini bentuk terapi saya melawan OCD alias Obsessive Compulsory Disorder yang selama ini lumayan membuat stress mereka yang ada di sekeliling saya. Walaupun terapi ala saya ini harus sering membuat kesal suami hingga membuatnya mengernyitkan dahi sambil berkata, “Terserah!”

"Yah, Bunda gendut ya?"
"Enggak."
"Ah, bohong!"
"Beneran! Enggak gendut kok."
"Tapi enggak langsing juga kan?"
"Langsing!"
"Bohong!"
"Ya udaaahhh gendut!"
"Ih! Tega bener!"
"Hadeh! Terseraaaaahh!"

Marriage lets you annoy one special person for the rest of your life. (Anonymous)

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Terserah #ReReynilda

Feeling Good Like I Should


Feeling Good Like I Should

“Where are you going, Bunda?”
“I’m going out with
ayah to buy groceries. You stay at home, okay?”
“Okay. Why are you wearing make up?”
“Why do you want to know?”
Bunda, you’re wearing a mask. Why do you need make up? Nobody will recognize you anyway.”
“I’m not wearing make up for people to see me.”
“Then?”
“I’m wearing it for myself.”
“Why?”
“Why are you so kepo?”
Bundaaaaa. Tell me why.”

Ish! Punya anak kepo banget!

Saya memang terbiasa ber make up walaupun hanya pergi ke pasar. Bukan make up tebal macam lenong dengan teplokan warna warni di jidat jenong. Hanya make up tipis yang penting manis. Ihik!

Buat apa ya?

Hmmmm … kekepoan Rayyan sangat menggelitik, karena mungkin ini juga yang ada di benak beberapa orang yang sama herannya dan punya pertanyaan yang sama tapi takut bertanya. Ngeri ya liat mata saya terbeliak macam Suzzana?

Lagian aneh. Lha wong pake masker, ketutup, enggak ada yang mengenali, ngapain juga dandan?

Oy! Saya dandan bukan dengan harapan dilihat orang. Saya memulas make up tipis di wajah yang semakin menua ini hanya semata ingin terlihat segar. Tidak kumut-kumut dan busuk karena sudah terlalu lama ngerem di rumah. Itu pun saya hanya memulas bagian mata dan lip tint tipis karena di dalam kendaraan pribadi toh saya tidak perlu mengenakan masker.

Lagipula saya pergi dengan suami yang harus saya jaga maruahnya. Mana tau di tempat belanja, saya bertemu dengan koleganya. Nanti disangka saya tuyul dengan mata panda yang lepas kandang, karena keluar rumah tanpa menebalkan alis dan membentuk bingkai mata dengan eyeliner agar tak terlihat pucat.

Selebihnya saya hanya ingin tampak segar walau hanya mata yang terlihat berbinar. Saya pun masih tetap mematut pakaian dengan pantas walaupun harus mendorong trolley berisi penuh belanjaan pasar.

Percayalah Moms. You’ll feel good when you look good and you’ll feel good when you smell good.

So, jangan segan memakai make up dan wewangian. Karena ketika kita nampak segar, hati akan riang, dan seisi rumah pun menjadi tenang. Melihat sang ibu tidak kumut-kumut, bermuka cemberut, seperti dompet akhir bulan yang mengkerut.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis

Movie Night


Movie Night

Ayah, can we have a movie night today and everybody sleep together in the living room?”
“Okay
Rayyan. Guys, we’re gonna sleep outside tonight.”
“Nooooo! I don’t want
Ayah.”
“Why?”
“I just don’t want.”
Bundaaaaaaaa! The girls don’t want to sleep outside tonight!”


Satu hari dalam seminggu biasanya kami sekeluarga memiliki jatah movie night. Memutar film di ruang tamu hingga dini hari, dan menggelar alas untuk tidur berlima di lantai. Ya, di lantai ruang tamu dengan alas seadanya.

Setelah beberapa lama, kegiatan ini tidak kami lakukan, hingga kemarin Rayyan si bungsu pun mengajak sang ayah dan kedua kakaknya untuk menggelar movie night lagi.

Sayangnya ide ini serta merta ditolak oleh kedua putri saya, hingga sang ayah mengadu dan mengatakan idenya dihempas tanpa ampun. Kemudian saya memanggil Lana dan Lara bergantian.

Adik, do you want to have a movie night tonight?”
“Okay,
Bunda.”
“We sleep together in the living room okay?”
“Okay!”
Kakaakkk, how about you?”
“Okay
Bunda.”

“Haaaaa? Why so easy? Why you give her different answer? You said you didn’t want to sleep outside just now?” Tanya sang ayah yang idenya ditolak mentah-mentah beberapa menit sebelumnya.

Ayah, that’s the importance of communicating effectively.” Jawab saya dengan senyum sumringah tanda kemenangan.

Kalau saja saya mengajak mereka untuk sekedar tidur bersama di lantai ruang tamu yang tidak nyaman, pasti ide ini juga akan ditolak mentah-mentah. Jadi, saya menggunakan ajakan persuasif yang seru seperti menggelar movie night untuk mengajak mereka, dan langsung diterima tanpa banyak protes. Padahal intinya sama-sama ajakan untuk tidur berlima di lantai ruang tamu.

Well, what can I say? Motheeerrrr knows best!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

Kalangkang – Khayalan


Kalangkang – Khayalan

Saya mengenal lagu ini dari papa saya yang bersuku Sunda. Namun, saya tidak mengerti artinya karena juga tidak bisa berbahasa Sunda sama sekali.

Dinyanyikan oleh Nining Meida dan dirilis pada sekitar tahun 1988, ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar, lagu ini sempat menjadi hits dengan angka penjualan tinggi untuk kategori lagu daerah. Iramanya yang mendayu dan suara sang penyanyi yang merdu begitu saya ingat dan hapal di luar kepala, meskipun tidak paham artinya. Mendengarnya kembali seperti melempar saya ke masa kecil ketika papa memutar kaset ini di radio tua kesayangannya.

Menemukan lagu ini kembali di sebuah aplikasi bernyanyi membuat saya ingin mendedikasikannya untuk papa. Sekarang saya sudah tahu artinya, Pa. Terima kasih pada kemudahan teknologi masa kini. Hihihi.

Kalangkang berarti khayalan, atau bayangan. Sesuai dengan isi lagu ini yang merupakan ungkapan hati seorang lelaki pada wanita pujaannya. Khayalannya tentang si dia yang wajahnya manis dan rambutnya panjang melambai, kemudian menjadi kenyataan.

Seperti hidup, yang seringkali berawal dari mimpi dan harapan, kemudian menjadi kenyataan. Tentu saja diiringi dengan kerja keras ya. Mari bersenandung bersama!

Kalangkang (Nining Meida)

Mungguhing dina impenan
Tinggi nya lamunan kita

Geuning sakitu deudeuhna
Ternyata hati ini begitu dalam sayangnya

Kanyaah nu wening bersih
Rasa cinta kasih yang begitu dalam jernih dan tulus bersih

Satia jadi kakasih
Ku kan setia menjadi kekasih

Mungguhing dina impenan
Impian di dalam jiwa yang begitu tinggi

Geuning sakitu leahna
Ternyata oh begitu indahnya

Pameunteu marahmay manis
Wajah manis dan bersinarnya

Teu isin kaambung damis
Tidak canggung ku mencium pipinya

Rambut panjang nu ngarumbay
Rambutnya yang panjang melambai

Disangkeh panangan nyampay
Disangga oleh tangan yang menyambutnya

Lalaunan raray tanggah
Perlahan wajahnya mulai terpapar indah

Rangkulan karaos pageuh
Diri ku memeluknya semakin erat

Luhur pasir tepung geter
Setinggi-tinggi nya gunung, jika bertemu akan menimbulkan getaran

Perlambang asih nu mekar
Pertanda diantaranya terdapat kasih cinta yang sedang mekar

Kabagjaan nu duaan
Rasa bahagia terasa jadi satu milik berdua

Nu duaan
Milik berdua

Hanjakal, hanjakal teuing
Ku menyayangi, ku sangat menyayanginya

Endah ngan ukur kalangkang
Indah merupakan bayangan sejak dini

Harepan, harepan diri
Yang merupakan harapan diri

Sing nyanding jeung kanyataan
Namun sekarang menjadi kenyataan

Love, R

reynsdrain/rereynilda

Sumber foto dan terjemahan: Wikipedia

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda

Kalangkang – Nining Meida (Cover)

Glenn


Glenn

Saya menonton konsernya pertama kali di Esplanade ketika sedang mengandung si bungsu.

Anyep sih karena nonton sendiri dan hanya bisa heboh sendiri. Walaupun di deretan kursi saya ada beberapa nama pesohor negeri. Marini Zumarnis, Syahrini, dan beberapa sosialita yang beritanya kerap mondar mandir di jagat hiburan tanah air.

Kali ke-dua saya bertemu dengannya di sebuah Mal Jakarta, ia berdiri di depan saya ketika sedang naik eskalator. Menyesal saya tidak menyapa dan berfoto dengannya. Saya takut dengan bayangan artis pasti songong.

Saya mengenalnya dari layar kaca sewaktu ia bergabung dengan Funk Section. Lagu-lagunya juga mengiringi masa ABG saya yang lengkap dengan cerita tentang patah hati dan putus cinta. Rasanya dulu saya heran kenapa ia seperti tahu jalan hidup saya.

Mendengar kepulangannya tepat di hari ulang tahun kemarin, membuat saya jadi ikut galau dan patah hati. Kami hampir seusia, dan lelaki bersuara bak Tevin Campbell itu pun kini telah tiada.

Saya tidak akan memberikan tribute berupa lagu sedihnya yang bejibun. Saya percaya ia pergi dengan cinta. So long, Bung. Lagu-lagumu tetap akan abadi hingga kapanpun.

Love,
Reyn

A Tribute to Glenn Fredly

MOTHERHOOD


MOTHERHOOD I was nominated by some beautiful girl friends to post picture (pictures) of me enjoying my life as a Mother. Well, motherhood is never easy. Karena itu saya menghargai mereka yang mengikuti tantangan ini sebagai bentuk dukungan kepada sesama ibu rumah tangga maupun bekerja. Mereka yang saya tahu pasti, beberapa berjuang menghadapi hari demi […]

Macrame Sling Bag


Macrame Sling Bag Saya sebenarnya punya alergi yang cukup parah. Kain, benang, debu, AC, udara dingin, bulu hewan, bahkan jajaran semut yang berjalan di hadapan saya, mampu membuat alergi saya kumat. Repot ya? Bagaimana symptom nya? Saya akan merasakan gatal yang luar biasa di daerah wajah. Biasanya saya harus langsung mencuci muka dan membersihkan hidung. […]

DISCIPLINE Blooms Like A Flower


DISCIPLINE Blooms Like A Flower “Sudah bersihkan kamar? Sapu rumah? Cuci piring? Jemur toilet mat? Lap meja?”“Sudah, Bundaaaaaa.” Demikian para krucil di rumah menjawab rentetan pertanyaan saya setiap pagi. Ulangi ya, SETIAP PAGI. Eyang Mama yang selalu protes pada saya, kenapa anak-anak diharuskan melakukan house chores dulu di pagi hari, sebelum berangkat sekolah. “Mesakke anak-anak, […]

Paris Brèst


Paris Brèst Sejenis cream puff dengan isian vla persis seperti kue sus ala Indonesia. Mengapa saya tertarik dengan jenis cake ini? Karena sejarahnya yang seru. Paris Brest adalah pastry khas Perancis yang dibuat pada sekitar tahun 1910. Konon itu adalah saat diselenggarakannya lomba sepeda dengan rute antara Paris hingga Brest, di wilayah Brittany. Bentuknya yang […]