C I N T A Ini …


C I N T A Ini …

“I want to kill myself.”
“Astaga! Alma! Sadar! Oy! Ngomong apa, lu?!”

Bergetar jemari Tania membalas pesan singkat yang diterimanya dari sang sahabat.

Alma, putri tunggal seorang pengusaha kaya raya. Ia cantik, seorang model yang cukup terkenal, baik hati dan tidak sombong. Kehidupan yang sangat berkecukupan tidak pernah membuatnya tinggi hati. Ia bahkan mau bersahabat dengan Tania sejak kecil, yang hanya putri seorang pegawai kantor sederhana di salah satu perusahaan milik Ayahnya.

Tania begitu mengagumi Alma. Kadang ia pun tak habis pikir, mengapa Alma mau bersahabat dengannya. Padahal sebagai kembang di kampus, tidak sedikit mahasiswi tajir bak sosialita, yang mendekati, dan ingin menjadi sahabatnya. Tapi Alma malah lebih suka nongkrong di warung mie ayam seberang kampus bersama Tania.

“Aku kesepian. Jangan tinggalkan aku, Tania.”

Rumah megah bak istana dengan deretan mobil mewah, ternyata tidak cukup membuat Alma bahagia. Ia tumbuh dewasa menjadi sosok yang rapuh dan lemah. Jika saja Tania tidak menjaga bahkan kerap memarahinya, mungkin Alma sudah terjerumus dalam buaian semu zat psikotropika.

Orang tua Alma memang kerap meninggalkannya sendiri, karena sibuk dengan bisnis dan dunia gemerlap mereka masing-masing. Alma, yang dilahirkan di luar sebuah pernikahan resmi, merupakan “beban” bagi mereka. Sebuah kehidupan yang tidak pernah diharapkan kehadirannya.

Alma kecil lalu tumbuh dewasa di bawah asuhan beberapa asisten rumah tangga. Mereka yang diam-diam begitu dibencinya, hingga ia seringkali berulah untuk membuat para asisten itu diberhentikan dari pekerjaannya. Yang tersisa hanya Mbok Sarmi yang sudah berusia lanjut dan Mang Diman sang supir keluarga.

Orang tua Alma pun menyerah dan membiarkan sang putri mengurus dirinya sendiri. Bagi mereka, melimpahi hidup Alma dengan materi, dirasa cukup. Toh ada Tania, sang sahabat yang sudah dianggap seperti anggota keluarga sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa kebebasan yang diterima Alma membuatnya semakin kesepian. Ia sering terlihat murung sambil memeluk sebuah boneka. Boneka usang yang tidak pernah lepas dari pelukannya, milik Tania yang direbutnya ketika kecil dulu.

Pesta kelulusan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan bagi para mahasiswa, nyatanya hanyalah sebuah episode buruk dalam hidup Alma. Tania, yang datang dengan orang tua dan calon suaminya nampak begitu bahagia berfoto bersama. Sementara di suatu sudut, Alma menghembuskan asap rokoknya sambil memandang senyum Tania dari kejauhan dengan tajam.

“Al! Ngapain lu di sini? Ayo, foto sama gue. Om dan Tante Sofyan mana?”
“Mati.”
“Ih, udah gila ni anak! Amit-amit! Udah sih, ngerokok mulu! Betulin, tuh, make up lu.”
“Foto sama sapa? Pacar lu? Males gue!”
“Ihhhhh! Berdua aja. Yuk. Ayo, lahhh. Abis ini lu cabut ke luar negri. Kapan lagi kita foto berdua.”

Tangan Tania pun menggeret lengan Alma yang melangkah dengan malas sembari cemberut. “Kamu bodoh, Tania! Kamu tidak paham perasaanku! Sial!” Maki Alma dalam hati. Sambil memperhatikan Tania dari belakang, terbayang wajah manisnya ketika ia menginap di rumah megahnya dulu. Tania yang cantik, baik hati dan menyayanginya seperti … seperti seorang adik kecil. Alma mendengus kesal.

“Al, ini undangan pernikahanku. Kamu pulang, ya, ke Indonesia. Jangan sampai nggak datang. Awas!”

Pesan singkat yang diterima Alma berupa sebuah undangan cantik dengan foto Tania dan Raka, membuatnya histeris. Ia melempar gawai berharga mahal pemberian sang Ayah ke dinding kamar apartemennya, hingga hancur berkeping. Alma menjerit, meraung, dan menangis sejadi-jadinya.

“Taniaaaa! Bodoh lu! Bodohh!” Tangannya meraih sesuatu yang tersimpan di dalam laci sebelah tempat tidurnya. Sebotol penuh obat tidur yang menemani hari-hari Alma, karena insomnia akut yang dideritanya. Dengan gemetar, ia menelan semua isinya sambil menenggak sebotol minuman beralkohol. Sebentar kemudian ia menggelepar dengan mulut berbusa.

“I want to kill myself.”
“Astaga! Alma! Sadar! Oy! Ngomong apa, lu?!”

Tangan gemetar Tania menekan nomor gawai milik Tante Sofyan yang dijawab lama sekali setelah ia berkali-kali menghubungi. Suara keras musik disko yang terdengar di latar belakang, membuat Tania harus bicara sambil berteriak. “Tante!!! Alma ingin bunuh diri. Tante di mana? Tolong lihat Alma, Tante. Toloong.”

“Aku mencintaimu, Tania. Mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Mungkin kau tak sadar makna belaian tanganku di wajahmu. Mungkin kau tak sadar pelukan hangatku ketika kau tidur. Bahkan kecupan mesraku di dahimu. Boneka lusuh yang kurebut darimu dulu, adalah pengganti wujudmu untuk mengisi hariku yang sepi dan tanpa arti di sini. Aku tidak ingin menjadi adikmu, Tania. Aku ingin menjadi … kekasihmu. Maafkan aku. Selamat tinggal, Tania. Semoga kau berbahagia dengan Raka. Aku benci padamu.”

Wajah Tania pucat pasi menerima sepucuk surat berwarna jingga dari Tante Sofyan.

“Tania, Alma ditemukan meninggal dunia di kamar apartemennya sambil memeluk boneka yang direbutnya darimu dulu. Surat ini mereka temukan di dalam laci kamarnya bersama puluhan alat suntik bekas pakai. Tante menyesal. Tante berdosa pada Alma,” tangis Tante Sofyan kemudian terdengar samar. Pandangan Tania seketika gelap, ia meraung memanggil nama sang sahabat, kemudian terkulai lemah.

“Alma!!!!”

Tamat

Re Reynilda

V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan


V.A.L.U.E – Sebuah Perjalanan

“Urip iku mung mampir ngombe.”

Pernah denger ungkapan dalam bahasa Jawa ini, yang artinya hidup itu cuma mampir minum saja?

Ya, benar juga. Menjalani hari hingga usia saat ini itu kadang terasa lama, tapi melihat anak-anak tumbuh dewasa rasanya waktu begitu cepat berlalu. Semudah menghabiskan segelas minuman.

Sebentar lagi, tanpa terasa mereka akan lulus sekolah. Lalu kemudian bekerja, membeli rumah terus menikah, membangun keluarga kecil, beranak, hingga bercucu. Begitu saja sih sebenarnya hidup ini. Benar-benar ibarat seteguk air.

Hanya perjalanan masing-masing saja yang membedakan. Ada yang bak garis lurus, ada yang berkelok bak jahitan berbentuk zig-zag. Bahkan ada yang begitu kusut di awal lalu lurus di belakang, atau sebaliknya.

Hmmm … saya merangkum semuanya dalam sederet foto ini. Ketika seorang keponakan melepas masa lajang dan saya menghadiahinya dekorasi mobil pengantin. Kemudian tiba giliran keponakan yang lain naik pelaminan, saya membuatkannya sebuah kotak ang paw berbentuk sepasang pengantin berbaju khas Melayu.

Berbulan setelah hari itu, saya kembali menghadiahi mereka dengan sebuah bingkisan berbentuk cake bertingkat. Bedanya yang ini tidak untuk dikonsumsi karena terbuat dari susunan diaper atau popok sekali pakai. Yep, saya sudah punya cucu meskipun bukan lahir dari 3 anak yang masih sekolah. Suatu hari nanti akan tiba giliran mereka.

Jalan kehidupan kemudian kembali berulang, kelak ketika para cucu beranjak dewasa. Setelah tiba giliran mereka naik pelaminan, mungkin saya masih kuat menghias mobil pengantin masing-masing. Lalu sambil membetulkan kacamata yang melorot, mungkin saya juga masih membuat kotak ang paw tentunya dengan hiasan yang hits pada tahun itu.

Semoga … karena saya ingin hidup ini tidak cuma sekedar numpang minum tapi juga berguna untukmu. Meski tidak lagi mampu muluk-muluk menawarkan bantu. Semata hanya karena ingin hidup memiliki value. Meski harus melalui jalan panjang yang berkelok bahkan berdebu.

Life’s too short, make the most of it.

Love, Rere.

Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Being a woman is never easy
Melalui banyak fase yang berakibat perubahan pada diri
Belum lagi siklus hormonal yang kadang bikin pusing sendiri
Mending jauh-jauh daripada kena usir

Being a woman is never easy
Masa muda harus benar-benar jaga diri
Kalau tak ingin masa itu terenggut dini

Being a woman is never easy
Setelah berbuntut dan menimang buah hati
Kesenangan pribadi harus rela tersisih

Being a woman is never easy
Menjaga yang tersayang kadang butuh otot besi
Namun penampilan tetap harus manis tak boleh basi

Ladies, mari saling mendukung
Berbagi cinta dan cerita untuk yang terkungkung
Tak perlu drama dan kelamaan merenung
Segera bangkit dan tegakkan punggung
Hitam putihnya dunia mari hadapi dengan senyum

Hitam putih challenge ini sungguh menarik. Melihat bagaimana kaum perempuan saling memdukung dan berbagi kekuatan satu sama lain. Melalui berbagi foto tanpa warna-warni.

Hanya hitam dan putih.

Ibarat hidup yang penuh dengan pasang surut. Kadang berpikir ia bahagia, ternyata hidupnya carut marut. Kadang menganggap ia menyebalkan, ternyata justru darinya didapat ilmu tentang kehidupan. Ahhh … sawang sinawangnya hidup.

The least we can do adalah berhenti memberi terlalu banyak komentar, terutama berbagi negativity. Karena terkadang di mata kita tampak hitam, ternyata ada putih di sana, pun sebaliknya. Berhati-hati dengan setiap ucapan, karena sejatinya pergumulan hidup setiap orang berbeda. We never know.

Pelukku untukmu semua yang sedang berjuang menghadapi kehidupan, dan berpacu menghadapi waktu. Berbahagialah menghadapi hiruk pikuknya. Karena ketika kita bahagia, tak akan ada waktu terbuang untuk membuat orang lain tidak bahagia.

Ladies, sisihkan waktu untuk menikmati hidupmu. Seruput hangat kopi di hadapan, agar senyum kembali terkembang di wajahmu.

Love, Rere