Daging Untuk Si Anti Daging


Daging Untuk Si Anti Daging

“What’s that, Bunda? Smells so yummy!”
“Come and try.”

Rayyan, bocah yang gampang-gampang susah makannya. Dia memang senang makan, tapi daging … sama sekali tak bakal tertelan. Mau berbentuk apapun itu, pasti hoek-hoek kalau ketemu daging-dagingan.

Hari ini saya membuat lasagna dengan isian yang ada saja di lemari pendingin. Minced meat atau daging cincang, wortel, frozen spinach, frozen hashbrown, dan sebungkus cheddar cheese saja yang saya temukan. Yah, bikin sajalah.

Bagaimana caranya?

  1. Lembaran lasagna direbus dalam air panas yang diberi sedikit minyak goreng. Masukkan satu per satu.
  2. Tumis bawang bombay, wortel yang dipotong dadu, lalu daging cincang. Tambahkan saus spaghetti, bubuk pala, pepper, bawang putih, parsley, oregano, gula, dan garam. Koreksi rasa.
  3. Masukkan sedikit susu cair.
  4. Siapin wadah yang sudah dioles butter, susun tumisan daging lalu taburi keju, kemudian tutup dengan lembaran lasagna di atasnya. Kemudian masukkan hashbrown yang sudah digoreng atau air fry dan sudah dihancurkan, taburi frozen spinach lalu keju. Tutup dengan lembaran lasagna dan ulangi lagi urutannya. Terakhir lembaran lasagna paling atas, lalu taburi keju juga oregano.
  5. Panggang deh, dalam oven yang sudah dipanaskan, dengan suhu 150 derajat selama 15 – 20 menit.

Voila! Si anti daging, sudah empat kali makan lasagna isi daging hari ini. Katanya, so yummy! 😁

Love, Rere

Pangeran (Ayam) Kodok


Pangeran (Ayam) Kodok

Rasa aslinya? Saya belum pernah coba sama sekali.

Tak terhitung berapa banyak video tutorialnya saya sudah tonton dan selalu berpikir, susah sekali membuat makanan satu ini.

Sudahlah namanya ajaib, tutorialnya susah setengah mati, hingga berpikir untuk membuatnya saja … saya sudah malas sekali.

Ulang tahun suami mengubah segala pandangan tentang si kodok. Memang setiap ada kemauan, di situ akan muncul jalan.

Memanfaatkan ketertarikan akan kerajinan tangan, saya mulai mengolah si kodok dengan penuh ketelatenan.

Bayangkan saja, hidangan satu ini tu seperti orang kurang kerjaan.

Si ayam calon kodok, dikuliti dengan hati-hati. Sesudah itu si kulit tanpa isi harus diisi kembali, bahkan dijahit hingga semua bersatu tak bisa kabur tanpa permisi. Hmm … kurang kerjaan, kan?

Dikuliti, diisi, dijahit.

Si kentang yang bukan potato couch pun begitu juga. Setelah direbus, isinya dikeruk hingga melompong. Sesudah itu, kerukan kosong itu diisi kembali seperti semula. Iseng banget, kan? Ngapain coba dari awal dikeruk-keruk. Emang kurang kerjaan betul!

Oh, tapi moto hidup saya kan, kalau ada jalan yang susah, kenapa ambil yang mudah? Hahaha!

Jadi, inilah produk baru Dapoer Ranayan dengan rasa yang mungkin tidak original. Berhubung sang bakul belum pernah mencobanya langsung. Namun, jangan bingung. Verdictnya saya dapat dari si dia yang awalnya meringis melihat si ayam berpose bak kodok nanggung.

Dibeli olesan bak foundation tebal.

“Ihhh ayam seekor? Kan tahu Ayah enggak suka.”
“Coba duluu!”
“Oh, lain ya isinya? Wah! Sedap! Enak banget ini!”

Senyum dan hidung sang bakul pun mengembang. Project perdana si kodok berhasil membuat si dia senang. Bahkan, meski deg-degan mengirimnya pada kakak tersayang, komentar yang datang pun nyatanya membuat girang. Ahh, ai laff you pangeran ayam … eh kodok sayang!

Kamu, kamu, enggak pingin nyoba?

Love,
Rere

Pisang Tanda Sayang


Pisang Tanda Sayang

Hmm … back to school berarti kembali klutekan di dapur nyiapin bekal para krucils sekolah.

Capek, kah, saya? Enggak, tuh.

Saya justru menikmati harus bangun lebih pagi demi membuat makanan kecil yang akan mereka bawa pergi. Saya juga menikmati setiap proses ketika memikirkan bentuk, dan jenis snack untuk anak-anak. Bener, lho. Suwertekewerkewer!

Meskipun tidak melulu fancy, karena saya cuma membuat apa saja yang saya punya di lemari es. Bahan dasarnya, ya … biasanya paling roti. Tinggal mikir mau diisi apa atau dibentuk seperti apa supaya nampak cantik dan menarik.

Padahal mending ngasih duit jajan kan, ya? Gampang, enggak ribet.

Hmm … Dua anak sekolah menengah sih, tetap saya kasih “sangu” $20 untuk seminggu. Sementara Rayyan, hanya boleh jajan di kantin sekolah setiap hari Rabu, sesuai jadwal ekskul. Walaupun saya membekali LL dengan duit jajan, saya tetap membuatkan mereka makanan kecil, lho.

Saya hanya ingin, kelak mereka mengingat semua sentuhan cinta yang saya ungkapkan tak melulu lewat kata. Meski hanya sebuah kotak makan berisi cemilan sederhana, saya ingin mereka merasakan kehadiran saya, di mana pun mereka berada.

Pagi ini, cinta itu terwakili lewat bentuk KW dari pisang molen. Pisang kepok berbalut kulit pastry sebagai tanda cinta, yang beratnya lebih dari segepok. Semoga hari ini saya dapet cipok. 💋

Cihuy!

Love, Rere.

Tumpeng Bikin Seneng


Tumpeng Bikin Seneng

Masih ingat tumpeng mini yang waktu itu saya buat?

Padahal setelah hari itu, saya tobat bikin tumpeng, lho. Makannya 5 menit, menghiasnya bikin pinggang sakit.

Ternyata tobat saya tobat sambel. Cuma sesaat. Hahaha!

Pagi ini bukan lagi tumpeng mini saya buat, tapi tumpeng gede. Hahaha! Meski sudah mengatakan pada mamak pemesan yang kece berat, bahwa karena short notice, saya akan membuat tumpeng sederhana saja. Ternyata … saya tak tahan juga melihatnya terlalu biasa. Padahal hanya punya 1 hari persiapan saja.

Meski tak memberikan deretan pagar cantik, atau bentuk basket seperti sebelumnya, kali ini tumpeng saya penuh dengan bunga. Bak sebuah taman mini di sudut rumah yang asri. Penuh warna-warni, yang memikat hati. Semoga menu yang tersaji memikat lidah juga ya, ibu-ibu baik hati.

Terima kasih sudah memaksa saya membuat tumpeng lagi. Hahaha!

Love, Rere

Kenalan, yuk!


Kenalan, yuk!

“Suka baking ya, Bun?”

Melihat beberapa postingan saya tentang baking, seorang sahabat bertanya apakah saya memang hobi membuat kue atau roti.

“Sama sekali enggak,” demikian jawab saya padanya. Hahaha!

Jika dibandingan dengan membuat kue, memanggang roti, atau membuat makanan sejenis, saya lebih memilih untuk memasak. Tidak telaten rasanya jika harus mengaduk adonan lama-lama, atau menguleni hingga lengan pegal-pegal, atau membentuk satu demi satu penganan. Beda sekali dengan masakan. Satu kali masak, saya bisa menyediakan sekian banyak porsi tanpa harus lama-lama berdiri di dapur.

Namun tak suka bukan berarti saya menolak untuk mencoba. Justru karena keengganan itu saya jadi tertarik untuk belajar. Ya, pilihan saya jatuh untuk belajar di sebuah studio.

“Apa bedanya dengan belajar sendiri lewat internet? Malah gratis.”

Betul banget. Banyak sekali mereka yang dengan sukarela berbagi resep bahkan video tutorial langkah demi langkah membuat beragam masakan. Kadang saya juga dengan rajin mencari postingan seperti ini, lho. Mencatatnya, kemudian beberapa kali mencoba sendiri. Sebagian berhasil, meskipun banyak yang gagal dengan sukses. Hahaha!

Memutuskan untuk mengikuti kelas membuat kue dan roti di sebuah tempat tentu saja dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah tips dan trik dari mereka yang ahli di bidang ini. Satu hal yang tidak mudah saya dapat dari internet, karena beberapa tutorial hanya menyajikan hasil akhir yang cantik. Padahal sebelumnya mereka melakukan banyak trial and error di balik layar tanpa kita sadari.

Pertimbangan selanjutnya adalah keseruan memasak bersama para sahabat. Meskipun saya bukan orang yang terlalu suka bepergian, tapi bertemu mereka lalu memasak hingga tertawa bersama, adalah salah satu cara melepas penat dan rutinitas harian di rumah. Beda lho rasanya memasak sendiri dengan bersama teman. Seru!

Lambat laun saya makin cinta dengan perbakingan. Pupus sudah keyakinan bahwa saya dikutuk oleh semua oven di dunia ini. Ternyata saya hanya belum kenal, makanya belum cinta.

Jadi, keluar dari zona nyaman memasak itu ternyata seru juga, lho. Seseru hasil baking saya beberapa hari ini dengan mencoba beberapa resep kekinian dengan hasil yang kece berat. Burnt Cheese Cake, Volcano Garlic Bread, dan Camembert Noix it is, guys!

Wow! Your cake and breads are awesome, Bunda! So yummy!” dan ini yang membuat saya makin bersemangat mencoba banyak hal baru.

Jadi … masih mau bilang enggak suka bikin ini itu? Cobaaaa kenalan duluuu.

Love, Rere

Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Pagi tadi saya melihat sebuah status yang isinya kurang lebih menanyakan kenapa para lelaki harus mencari istri yang pandai memasak. Bukankah mereka sedang membangun rumah tangga, bukan rumah makan?

Hahaha! Saya ketawa sih membacanya. Kemudian berpikir sambil menghirup wanginya kopi hangat di hadapan saya.

Pernah kah saya berpikir bahwa saya dijadikan bak rumah makan di rumah? Hmm … sependek ingatan saya sih belum pernah. Selama ini saya menyukai seluruh kegiatan di dapur, bahkan sempat rajin menerima pesanan masakan dari beberapa pelanggan.

Terpaksa kah saya melakukan kegiatan masak memasak di rumah selama ini? Jawabannya adalah sama sekali tidak. Saya melakukannya dengan senang hati dan gembira, tanpa paksaan atau keterpaksaan. Bahkan dengan penuh semangat belajar banyak menu baru untuk disajikan di rumah.

Wahai para remaja putri atau teman-teman perempuan yang belum menikah. Percaya lah, kalian akan sangat bahagia ketika mendengar sang suami memuji masakan anda semua bahkan lebih memilih untuk makan di rumah, sesederhana apapun masakan anda. Bahkan dengan bangga membawanya ke tempat kerja, dalam sebuah kotak makan unyu, tanpa ragu dan malu.

Itu belum seberapa. Senyum anda juga pasti mengembang selebar-lebarnya ketika mendengar anak-anak mengatakan dengan bangga bahwa teman-teman sekolahnya menganggap anda “cool”. Hanya karena mereka mengagumi hasil buatan tangan anda di dalam kotak makan, yang selalu berbeda tiap hari hingga mereka selalu penasaran dengan isinya.

“Your Mom so cool! The food looks delicious and always nice to look at.”

Belum lagi pujian dari sahabat, teman, teman suami, atau keluarga yang berkesempatan makan di rumah anda dan dengan tulus mengatakan betapa lezatnya rasa masakan anda. Bahagianya mungkin lebih dari rasa lelah yang muncul setelah selesai memasak, dan melihat dapur bak kapal pecah.

Tapi eh tapi, ada nilai edukasi juga di rumah kami lho. Meski dengan suka hati saya memasak beragam menu, anak-anak juga harus belajar untuk tidak cerewet dan menjadi picky eater. Saya membiasakan mereka untuk being grateful, sesederhana apapun masakan yang saya buat. Mereka harus paham bahwa ada banyak sekali anak seusia mereka di luar sana yang tidak bisa menikmati makanan seperti mereka di rumah. Jadi, mereka tidak boleh banyak protes dan harus banyak bersyukur. Makan apapun yang ibunya masak, dan selalu berterima kasih atas segala anugerah yang didapat dari Sang Pencipta.

Saya juga mengajarkan mereka untuk terbiasa dan mengenal isi dapur. Ini adalah salah satu dari sekian banyak life skills yang saya wariskan untuk hidup mereka kelak. Jadi mereka tetap bisa survive di mana pun mereka tumbuh dewasa nanti. Saya toh tidak bisa selamanya memasak untuk mereka, kan?

Suatu hari nanti anak-anak harus hidup mandiri dan mampu bertahan sendiri. Jika memasak hal yang paling sederhana saja tidak mampu, bisa dibayangkan betapa tipisnya kantong mereka kelak, karena harus jajan setiap hari.

Jadi, masih mau menganggap kemampuan memasak ini sepele? Think again, ladies.

Jangan merendahkan diri dan menganggap bahwa kegiatan memasak akan menjadikan anda bak rumah makan di rumah sendiri. Tersenyum lah dengan bangga hati karena bisa berkata, “Gue dong, masak sendiri buat anak-anak dan suami.”

Love, Rere

From Scratch To The New Path


From Scratch To The New Path

“Waduh! Lupa, besok Lana ulang tahun! Bikin apa nih? Mana waktunya mepet, enggak sempat belanja!”

Ya ya … saya memang sering lupa tanggal dan hari. Saya selalu ingat hari lahir hampir semua anggota keluarga terdekat. Hanya saja saya kerap lupa ini hari apa dan tanggal berapa, dan … saya baru sadar tanggal 7 Juli adalah keesokan harinya.

Kami memang tidak pernah dengan sengaja merayakan ulang tahun anak-anak secara besar-besaran. Biasa saja, hanya di rumah dan makan masakan saya. Nah, biasanya saya sudah belanja beberapa hari sebelumnya untuk persiapan membuat nasi kuning dan sebuah cake sederhana.

Hari itu saya betul-betul tidak sadar tanggal 7 sudah di depan mata. Pantas saja putri kecil saya nampak sedih apalagi sempat saya marahi di malam hari. Hahaha! Sorry, Nak.

Hmmm … what should I do? What could I make? Gumam saya di depan kulkas sambil mata menyusuri semua sudut dapur, mencari bahan masakan yang bisa saya gunakan.

Akhirnya, pilihan jatuh pada nasi kuning sederhana, pizza hanya dengan topping salami, dan sebuah cheese cake yang baru saya pelajari sehari sebelumnya. Set!

Ingin tahu bagaimana saya membuat pizza dengan bahan sederhana dan relatif cepat? Berikut bahan dan cara membuatnya.

Bahan:

  • Ragi instan 1 sdt
  • Gula pasir 1 sdm
  • Air hangat 240 ml
  • Bread flour 350 gr
  • Olive oil atau minyak sayur 2 sdm
  • Susu bubuk 1 sdm
  • Oregano
  • Topping: saus pasta mushroom, salami, keju cheddar dan mozarela, sosis

Cara membuat:

  1. Campurkan air hangat dengan ragi dan gula, aduk pelan dan diamkan 5-8 menit hingga berbuih.
  2. Campurkan tepung, susu bubuk, dan minyak ke dalam wadah kemudian tuang campuran ragi yang sudah berbuih.
  3. Uleni selama 10 menit, kemudian bentuk bulatan dan tutup selama 15 menit.
  4. Bentuk menurut ukuran loyang, tusuk dengan garpu.
  5. Berikan topping sesuai keinginan. Saya mengoleskan saos pasta mushroom lalu potongan salami di atasnya, dan ditutup dengan parutan keju mozarela dan cheddar lalu taburi oregano.
  6. Jika ingin mengisi pinggiran pizza seperti yang saya buat, tinggal menggulung adonan lebih keluar, lalu isi dengan sosis atau keju.
  7. Sebelum memasukkan dalam oven yang sudah dipanaskan terlebih dahulu, olesi pinggiran yang sudah diisi, dengan campuran kuning telur dan susu cair.

Voila! Last minute pizza from scratch siap disantap sebagai hadiah menjalani perjalanan baru, the new path, di 13 tahun sang putri tercinta.

“How’s the pizza, Adik?”

“It’s yummy, Bunda! Better than the one we bought outside. Thank you, Bunda.”

“Happy birthday, Adik!”

… and happy cooking to you!

Love, Rere

MasakMasak. MpekMpek


MasakMasak. MpekMpek

Makanan favorit yang sama sekali tak pernah terbayang buat membuatnya sendiri.

Ribet!

Belum lagi bau amisnya ikan memenuhi dapur, harus nguleni, masukin telur yang entah gimana caranya lalu dibentuk, ah malas!

Eh tapi kan, ada di grup yang semua suka mencoba masakan itu bikin semangat ternyata. Setelah minggu lalu kami membuat pizza from scratch, hari ini kami membuat mpek-mpek plus cukonya juga from scratch.

Ternyata eh ternyata, tak sesulit bayangan saya selama ini. I apparently enjoy membentuk kapal selam walau beberapa kali adonannya bochooorr dengan sukses!

Finally, mpek-mpek juga bisa saya taklukkan dengan beberapa catatan untuk pelajaran.

Tekstur yang crunchy di luar namun lembut di dalam, infact rasa garamnya kurang. Next time harus kasih lebih banyak garam! Catat!

Kuah cuko … not bad. Wangi bawang putih dengan sedikit kaldu dari tumisan ebi yang bergabung dengan rasa asam dan manis, just nice lah buat saya. Cumaaaa ternyata saya terlalu banyak menuang air hingga rasa sedap cuko ini harus saya koreksi beberapa kali.

Pokoknya saya sudah bisa membuat mpek-mpek! Yayyy!

Note for myself: jangan suka menuduh diri sendiri tak mampu membuat sesuatu sebelum mencoba, dan jangan malas! Berikut resepnya.

Bahan dasar mpek-mpek:

  • 600 gr daging tengiri / makarel (seperti yang saya pakai)
  • 2 siung bawang putih
  • 220 ml air
  • 400 gr tepung sagu/tapioca starch
  • 30 gr tepung terigu
  • 2 sdm garam & sedikit penyedap
  • Sepanci air untuk merebus

Cara membuat:

  • Haluskan daging ikan dengan 2 siung bawang putih
  • Pindahkan dalam tempat untuk menguleni, tambahkan air sedikit demi sedikit
  • Masukkan terigu dan tepung sagu
  • Tambahkan garam dan penyedap
  • Taburkan tepung ke atas piring sebelum mulai membentuk mpek-mpek
  • Bentuk panjang untuk lenjer, masukkan telur yang sudah dikocok untuk kapal selam
  • Masukkan ke dalam panci berisi rebusan air
  • Tunggu hingga mengambang sebagai tanda sudah matang

Cara membuat cuko:

  • Campur 1 kg gula aren, 10 siung bawang putih, 250 gr cabe rawit, ebi yang sudah disangray, 40 gr garam, 5 sdm cuka, 200 gr asam jawa ke dalam 1,5 lt air.
  • Masak hingga mendidih dan koreksi rasa.
  • Saring sebelum disajikan

Tips:

  • Ikan harus benar-benar halus sebelum digunakan
  • Tekstur adonan memang lengket dan agak lembek agar hasil akhir tidak keras
  • Ketika mengaduk adonan dengan tepung, jangan terlalu lama. Sebentar saja asal tercampur rata
  • Sebelum meletakkan adonan yang sudah dibentuk, taburi piring dengan tepung agar adonan tidak menempel dan rusak ketika akan digoreng

Happy cooking!

Rere

Rantang Plastik Mama … Sebuah Kenangan


Rantang Plastik Mama … Sebuah Kenangan

“Do you like the food that I packed yesterday?”
“I do
Bunda. So yummy.”
“Does any of your friends bring food to school too?”
“Nope. Only me.”
“Are you okay with it? Are you not ashamed of bringing lunch box to school?”
“Nooo. I’m okay
Bunda. Infact, some of my friends kinda wait and curious about what food I bring everyday. They said, whoa Lara’s mom can cook anything delicious! Thank you for preparing foods every single day, Bunda.

Senyum saya terkembang lebar sekali pagi tadi. Kemudian kami berdiskusi tentang mengapa saya rela harus bangun lebih pagi dan sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah, dengan menu yang selalu berbeda setiap hari.

Sambil bercerita, ingatan saya melayang ke puluhan tahun silam dengan segala kenangan tentang sebuah rantang plastik berwarna putih. Ya, rantang plastik milik mama, yang kerap saya bawa untuk bekal sarapan dan makan siang, di sebuah kantor tempat saya bekerja dulu.

Meskipun rumah makan bertebaran di sana, saya tetap membawa bekal yang sedari pagi buta disiapkan mama. Walau hanya berupa menu sederhana namun rantang plastik itu berisi ungkapan penuh cinta dari seorang ibunda. Cinta yang kemudian begitu saya rindukan ketika harus melanglang buana meninggalkan tanah air hingga hari ini.

Kebiasaan dan kebisaan itu yang lalu terbawa hingga saya menikmati setiap proses menyiapkan bekal pagi. Meskipun saya memberikan anak-anak sedikit uang jajan untuk keperluan di sekolah, saya tetap membungkuskan mereka makanan yang saya buat sendiri dan letakkan dalam 3 buah kotak makan plastik berwarna-warni.

Kotak makan yang selalu mengingatkan saya akan kenangan rantang plastik berwarna putih milik mama. Cinta dan kasih sayangnya tetap terasa hingga saat ini, dan tidak pernah usang.

Terima kasih, Ma.

Semoga ketiga cucumu di sini kelak juga memiliki kenangan tentang kotak makan plastik berisi sentuhan cinta dariku. Cinta yang tak mengenal syarat dan tanpa batas hingga kelak akhir waktuku.

Love, Rere

There’s Always The First Time


There’s Always The First Time

Saya pernah berpikir punya tangan yang enggak dingin. Karena semua tanaman yang saya pegang pasti mati. Lantas, setelah beberapa pot tanaman berusaha saya limpahi dengan kasih sayang namun tetap mati, apakah saya berhenti?

Meski harus sedikit bertegang urat dengan suami, saya yang sangat mencintai tumbuhan hidup, berusaha mencoba lagi. Berbekal tanya sana sini dan menimba ilmu melalui banyak tutorial di internet, akhirnya saya berhasil.

Hingga hari ini sudah ada setidaknya 5 pot tumbuhan mungil yang saya tanam sendiri dari mulai berbentuk biji dan batang. Yay! Akhirnya untuk pertama kalinya tangan saya ternyata tidak kurang dingin.

Saya pun pernah berpikir dimusuhi oven dan ulenan roti. Karena beberapa kali mencoba membuat cake cantik seperti yang selalu saya lihat di televisi, berhasil akhir jauh sekali. Expectation vs reality yang bikin nyengir.

Roti, ahhhh … ribet sekali! Harus nguleni, harus tunggu mengembang lagi, susah Cint! Sampai ibu saya membawakan mesin pembuat roti yang juga hanya teronggok manis di tepi. Saya mending masak untuk 100 orang saja, sih.

Sampai semalam, seorang sahabat memberi saya sebuah resep yang simple dan anti ribet. Penuh keengganan saya beranjak ke dapur dan mulai mempersiapkan semua bahan. Ya, saya sudah punya semua, hanya kekurangan semangat akibat terlalu malas dan takut bayangan. Jangan-jangan nanti roti saya bantat.

Penuh kesungguhan saya ikuti setiap langkah yang biasanya dengan seenaknya saya modifikasi sesuai keinginan sendiri. Ya ya, saya memang sering sok tahu padahal kurang ilmu. Hiks!

Well, there’s always the first time to everything. Roti yang saya buat perdana semalam, akhirnya mengembang dengan cantik dan indah. Menurut para pemakan segala di rumah, rasanya luar biasa.

Aaahhh … senyum saya pun mengembang sumringah. Ternyata saya tidak lagi dimusuhi oven di rumah. Patah sudah stigma negatif tentang ketidakmampuan diri. Ketakutan nyatanya membuat saya membatasi setiap gerak dan langkah. Takut gagal, yang sejatinya adalah sebuah tanda baik tentang percobaan dan bertambahnya pengetahuan.

Jadi, masih takut melangkah dan mencoba? Tenang … saya temani yuk, sambil makan garlic bread buatan perdana dan minum secangkir kopi hangat.

“Hey! There’s always the first time … semangat!”

Love, Rere.