PLAGIAT


PLAGIAT

“Anya … Anya … to —”
“Ah! Diam!”

Anya bergeming. Tak diindahkannya suara lirih yang memanggil-manggil namanya.

“Diam kau, Lastri!”
“Oy! Ngomong sendiri! Udah gila, lu? Pulang, Nyet! Gue pulang duluan, ya. Awas digondol wewe gombel, lu!”
“Berisik! Pergi sana! Gue selesai sebentar lagi. Besok harus presentasi, dan gue harus berhasil.”

Menghela nafas, Nayla pun beranjak meninggalkan Anya sendiri, di ruang kantor yang hanya tinggal mereka berdua. Memandang sekeliling dengan bergidik, Nayla memilih menuruni anak tangga ketimbang memasuki lift. Suasana kantor memang belakangan agak berbeda hingga kerap membuat bulu kuduknya berdiri.

Keesokan harinya, dengan cemerlang Anya membawakan hasil pekerjaannya di hadapan para pimpinan. Tak dihiraukannya teguran Nayla yang menganggap ia seperti lupa daratan. Matanya menghitam dan tubuhnya kurus seperti kurang makan.

Anya hanya menjawab dengan senyum mengembang, “yang penting aku sukses, bukan?”

“Anya … Anya ….”
Shut it, Lastri!”

Suara itu lagi! Sial betul si Lastri ini! Tak henti-hentinya berbisik lirih di telingaku.


Anya dan Lastri, dua sahabat yang begitu terkenal di kampus dulu. Anya yang cantik dan terkenal sebagai seorang selebgram, sebutan untuk mereka yang akun Instagramnya diikuti puluhan ribu penggemar. Lastri, gadis desa yang berhasil masuk ke universitas bergengsi itu sebagai penerima beasiswa. Ia sangat cerdas, namun berbeda 180 derajat, penampilannya agak kuno bahkan kampungan. Setidaknya, begitu cibiran yang diterimanya setiap kali ia berjalan tanpa mendongakkan kepala di samping Anya.

Saling melengkapi, begitu jawab Anya tiap kali ditanya, bagaimana mereka bisa bersahabat karib. Tentu saja, karena Anya memang tidak terlalu pintar. Ia hanya pandai menebar pesona. Lastri, adalah pelengkap hidupnya, alias, sang pembuat pekerjaan rumah, dan hampir semua project di kampusnya.

Lastri yang lugu, tak sadar ia diperalat. Kekagumannya pada Anya membutakan mata dan telinga. Tak dihiraukannya cibiran dan pandangan sinis yang hanya dijawabnya dengan senyum manis.

“Anya adalah sahabat terbaikku,” begitu selalu ujarnya.

Ia baru terkesiap sadar ketika pada suatu hari, dilihatnya Anya menyadur hasil tulisan untuk karya ilmiahnya. Tulisan yang akan diserahkan Lastri sebagai syarat meneruskan pendidikan pasca sarjananya.

“A … Anya, kenapa … kenapa kau menyalin semua tulisanku? Aku … aku bisa membantumu menulisnya juga dengan materi yang berbeda.”

Ragu-ragu Lastri bertanya pada sang sahabat yang kemudian menatapnya tajam dengan mata memerah seperti kurang tidur.

“Diam kau, Lastri! Jika kau berani bersuara, akan kuhabisi kau beserta seluruh keluargamu!”

Lastri menunduk kelu, airmatanya tumpah tak terbendung. Terbayang wajah renta ibu, yang sudah bertahun-tahun bertahan hidup dari bantuan Anya, dan sang kekasih yang sudah berumur.

Karya ilmiah itu yang kemudian membuat Lastri menjadi tertuduh. Ia kini berlabel plagiator. Namun ia tak mampu membela diri dan hanya memendam segala kesedihan sendiri. Kesedihan yang makin menjadi, setelah ibu tutup usia secara mendadak. Hilang sudah penopang hidup dan segala kekuatan hidupnya.

Lastri dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa … oleh Anya, sahabatnya sendiri.

“Kasihan Lastri, aku tak tahu mengapa ia sampai hati. Mencuri karya sahabatnya sendiri,” ungkap Anya penuh kesedihan di sebuah tayangan televisi.

Tak seorang pun melihat senyumnya yang licik di balik kamera TV.

Sementara Lastri, ia mulai depresi. Masa depan cerah yang tergambar di hadapannya musnah dalam hitungan hari. Ia tak lagi berpikir jernih, matanya terus mematung memandang sebotol penuh obat penenang.

Anya semakin berjaya. Namun hidupnya dihantui bayangan Lastri, sang sahabat yang dikhianati. Hingga pada suatu hari ia ditemukan tak sadarkan diri, oleh sang sugar daddy.

“Anya mengalami kelelahan kronis dan sekarang dalam kondisi koma,” ujar dokter yang menerimanya di ruang gawat darurat.

Di dalam ruang ICU, Nayla memandang Anya dengan penuh pilu. Meski mereka tak begitu dekat, namun Anya adalah rekan sekerja. Walau tak pernah dihiraukan, namun Nayla kerap mengingatkan Anya untuk berhenti bekerja terlalu berat.

“Anya … kau dengar suaraku?” ujar Nayla pelan sambil menggenggam tangan kurus itu.

Dilihatnya airmata Anya mengalir dari sudut pipinya, tanda ia masih bereaksi meski dalam diam.

Sepeninggal Nayla, Anya terbaring sendiri. Pelan kesadarannya pulih dan matanya terbuka sedikit. Nampak di hadapannya seseorang berpakaian bak suster rumah sakit, sedang tersenyum manis.

“La … Lastri? Kau … kau kah itu?” ucap Anya dalam hati, sambil memandang ngeri.

Tergambar hari ketika ia menyerahkan sebotol obat ke tangan Lastri, yang diakuinya untuk menenangkan diri. Berharap sang sahabat menenggaknya habis untuk mengakhiri hidup, yang diakuinya sudah mati.

Tak sepatah kata terucap, hanya sebuah garis lurus di layar ECG pertanda sang pasien telah pergi. Suster Astri pun melangkah ke luar ruangan, dengan senyum terkembang.

“Telah kubalaskan dendammu adik kembarku. Tenanglah sekarang di peraduan abadimu.”

(Tamat)

Don’t steal, be original, and proud of your own thing. (Rere)

Lucia


Lucia

“Sayang, kenapa mematung di depan pintu? Ayo, tidur lagi.”

Penuh kelembutan, ia membawa gadis itu kembali ke kamar tidurnya. Mimi bukannya tak tahu kalau putri semata wayangnya itu selalu mengigau di kala waktu tidurnya. Namun akhir-akhir ini ia sering mendapati Lucia, nama gadis kecil itu, terbangun dari tidurnya lalu berjalan tak tentu arah dengan mata terpejam.

“Lucia is sleepwalking,” katanya melalui sambungan telepon, kepada Adam sang suami, yang tinggal di luar kota karena urusan pekerjaan.

Ya, Mimi memang hanya tinggal berdua di rumah besar itu, dengan putri tunggal Adam, yang baru setahun ini menikahinya. Meskipun ada dua orang asisten rumah tangga tersedia untuk melayani segala kebutuhannya. Mereka ditempatkan di bangunan lain, di sisi sebelah utara rumah utama itu.

Adam adalah seorang pengusaha sukses. Mimi seketika jatuh hati pada pandangan pertama ketika mereka bertemu di suatu acara. Diterimanya dengan penuh cinta, status Adam yang tak lagi perjaka. Ia adalah seorang duda beranak 1 yang sudah beberapa tahun ditinggal istri pertamanya.

Tak seorang pun mengetahui keberadaan sang istri. Menurut Adam, perempuan itu pergi meninggalkannya dan lari bersama seorang lelaki muda selingkuhannya. Mimi tak sanggup menahan perih mengetahui kisah pilu ini. Ia semakin jatuh hati, hingga akhirnya bersedia dinikahi.

Lucia, adalah gadis kecil yang penuh misteri. Ia manis sekali, namun seperti menyimpan sesuatu dalam hati. Meskipun begitu, Mimi tak secepatnya menyerah lalu pergi. Penuh kelembutan, ia menempatkan diri sebagai ibu sambung sekaligus sahabat bagi sang putri.

Meski gadis itu hampir tak pernah bersuara, Mimi berkomunikasi dengannya melalui coretan berupa gambar sketsa. Lucia suka sekali menggambar sosok perempuan cantik. Mungkin ia merindukan sang ibu, yang dilihat Mimi memang mirip sekali fotonya dengan gambar milik Lucia. Kasihan.

Penuh kasih sayang, Mimi mendampingi Lucia. Termasuk menjaganya ketika ia mulai mengigau, hingga berjalan dalam keadaan tidur. Herannya, gadis itu selalu berdiri di depan sebuah pintu. Pintu menuju sebuah gudang, tempat keluarga Adam menyimpan banyak barang.

Meski penasaran, Mimi urung membuka pintu ruangan itu. Alergi debu membuatnya menghindari tempat yang berpotensi memicu. Hingga pada suatu malam, semuanya berubah pilu.

“Lucia? Astaga! Kau membuatku terperanjat! Ada apa, Sayang? Kau ….” ucapan Mimi tak sempat terselesaikan, ketika sebuah pisau menancap di dadanya, tepat mengenai jantungnya. Matanya terbeliak tak percaya, melihat Lucia menikamnya dengan mata tertutup rapat. Bersimbah darah, ia jatuh ke lantai berkarpet mahal, di dalam kamar tidurnya yang penuh perabotan mewah.

Jerit Lucia membangunkan kedua asisten rumah tangga yang sedang tidur di bangunan sebelah. Menghela nafas panjang, salah seorang dari mereka secepatnya menghubungi Adam.

“Tuan … ia melakukannya lagi. Haruskah kami mengubur jasad istri tuan di dalam gudang lagi?”

(Tamat)

Sumber foto: WAG RNB

Love, ReReynilda

LUKA


LUKA

Aku tak tahu mengapa umak memberiku nama Luka.

Luka saja, tanpa awal atau akhir kata.

Menurut orang-orang kampung sini, aku dilahirkan tanpa bapak sewaktu umak pergi bekerja ke luar negeri. Usia umak baru 17 tahun ketika itu. Sedang mekar-mekarnya anak gadis, kata mereka.

Umak yang cantik dan pintar terpaksa berhenti sekolah dan harus bekerja keras, demi membayar hutang kedua orangtuanya. Kakek dan nenek yang tak pernah kutahu sosoknya.

“Terbakar dalam rumah sewaktu perampok menyatroni mereka di pagi buta,” kata Pak Saman tetangga desa.

Waktu itu umak sudah berangkat ke luar negeri, dan menjadi buah bibir di kampung. Bagaimana tidak … baru beberapa bulan umak pergi, rumah kakek dan nenek sudah naik tinggi. Keramik cantik menghiasi lantai, mengganti alas tanah yang sebelumnya tiap pagi berhias tai. Ya, kotoran ayam milik tetangga, yang kandangnya ada di sebelah rumah.

Umak juga mengirim sebuah kendaraan mewah, sebagai pengganti becak yang selalu dikayuh kakek keliling desa sebelah. Dibangunkannya sebuah toko megah, untuk nenek yang biasanya berjualan tempe di pasar basah. Tentu saja, semua tetangga memandang gerah. Termasuk komplotan pencuri yang sudah terkenal namanya di pusat kota, geng bramacorah.

Kebakaran rumah umak di desa menjadi akhir kisah hidup dan ceritanya di sana. Umak yang anak tunggal, mengubur semua mimpi dan harapannya bersamaan dengan terkuburnya jasad kakek dan nenek menjadi abu, di rumah kebanggaan mereka yang berujung pilu.

Tak ada seorang pun tahu apa yang terjadi pada umak setelah itu. Hanya kabar burung beredar di kampung, umak bukan hanya bekerja sebagai pembantu. Ia adalah simpanan seorang tauke berharta menggunung. Banyak yang kagum, lebih banyak yang mencibir dengan sinis, biasa lah sesama kaum. Mungkin mereka iri dan dalam hati kecil ingin berjaya seperti umak, yang diam-diam mereka kagumi.

Semua berubah di hari umak kembali. Dengan tubuh kurus kering, umak kembali ke kampung membawa seorang bayi dalam bengkung. Seisi kampung gempar, bisik-bisik semakin tak terbendung liar.

Dengan sisa gemerincing koin di saku, umak menepi di sebuah rumah berpagar bambu. Entah rumah siapa, umak pun tak tahu. Gubuk berhantu, kata Pak Saman dulu.

Umakku tak takut hantu. Ia lebih takut melihat mulut-mulut yang menggerutu. Istri-istri yang takut suaminya jatuh hati, gadis-gadis yang takut kekasihnya berpaling pergi. Padahal umak kembali tanpa penampilan bak gadis ting-ting. Umak kembali membawa sakit, di hati dan diri. Karena di gendongannya ada bayi lelaki yang harus diurus sendiri.

Umak … umak.

Malang sekali nasibmu berakhir. Kataku sambil menatap hembusan asap rokok beraroma tajam … sembari membetulkan gincu berwarna merah terang. Untuk pelanggan lain yang segera datang.

(Tamat)

Love, Rere

A Wish


A Wish

“Dasar anak set …”

BRAK!

Suara bantingan pintu itu begitu keras, hingga ruangan di rumah megah milik Tatiana Wijaya, sang sosialita ternama ibukota, bergetar siang itu.

Pertengkaran yang kerap terjadi antara dirinya dan sang putra tunggal, yang selalu berakhir dengan sumpah serapah keluar dari bibir merahnya.

Anak durhaka, anak tidak tahu diri, bocah kurang ajar, anak setan, dasar bodoh, dan segala makian yang tertuju pada Adrian. Remaja berusia 17, dengan sekujur tubuh penuh tato, telinga berhias sebuah anting, dan kerap ditemui sang ibu dalam kondisi mabuk berat.

Hari itu, sebelum Tatiana meneruskan makiannya, Adrian bergegas keluar dari rumah dengan menenteng sebuah tas lusuh berwarna hitam. Ia berjalan keluar sambil membanting pintu dan tidak pernah lagi menengok ke belakang.

Itu lah hari terakhir Tatiana bertemu dengan putra semata wayangnya. Tak sempat dilihatnya bulir bening yang jatuh dari sudut mata Adrian. Remaja yang nampak begitu garang, namun sebenarnya sangat rapuh dan butuh pertolongan.

Tatiana jatuh terduduk dan menangis tersedu. Ia seperti sedang mengulang sebuah skenario yang terjadi 18 tahun yang lalu. Ketika untuk pertama kalinya ia merasakan panasnya pipi yang tertampar.

“Dasar anak kurang ajar! Kau torehkan kotoran di wajah ayah dan ibumu! Sadarkah kau Tatiana? Pergi kau dari sini! Aku tak sanggup melihatmu dan anak haram itu di rumah ini. Pergi kau anak durhaka! Kau bukan anakku lagi! Bawa pergi anak setanmu itu!l

Anak setan yang kau doakan dulu, betul-betul menjelma menjadi setan, Yah. Anak yang dengan susah payah kubesarkan sendiri. Kulimpahi dengan cinta kasih dan pendidikan yang cukup, berharap ia tumbuh menjadi seorang lelaki yang baik. Ia kini tumbuh besar seperti harapanmu, Yah. Seperti doamu dulu.

Tatiana memang membesarkan Adrian seorang diri. Sang kekasih yang seharusnya bertanggung jawab atas semua yang terjadi, seperti hilang ditelan bumi. Sejauh apapun ia mencari, lelaki itu tak mampu ditemuinya lagi. Tatiana harus rela menjadi perempuan simpanan seorang pejabat negeri demi menghidupi sang putra terkasih. Putra satu-satunya yang kini juga telah meninggalkannya pergi.

Adrian berjalan dengan gontai. Tujuannya hanya satu, mencari ketenangan bersama teman-teman dan Boss Bhanu. Lelaki paruh baya yang pertama kali mengenalkannya pada kenikmatan dunia.

Bhanu, mantan penghuni hotel prodeo yang bolak balik berada di balik terali besi dengan sederet tindak kriminal yang seperti tidak mengenal jera. Lelaki dengan pekerjaan tidak jelas, bandar obat-obatan terlarang dengan jaringan internasional. Ia selalu bisa lolos dan berhasil keluar dari penjara dengan dukungan seseorang. Entah siapa.

Begitulah hukum mampu dibelinya.

Hingga pada suatu hari, rumah yang dijadikan tempat transaksi haram bahkan praktek perdagangan manusia illegal, digrebek polisi. Dengan sederet bukti, kali ini Bhanu tak mampu berkutik.

Adrian meraung, menangis bak bocah kecil melihat Bhanu dengan tangan terkunci borgol. Polisi juga membawanya beserta beberapa remaja lelaki dan perempuan yang akan dijualnya pada lelaki hidung belang.

Tatiana yang menerima telepon dari kantor polisi, bergegas mendatangi sang putra yang masih sangat dikasihinya. Ia berharap kali ini Adrian jera. Ia pun telah berjanji untuk memperbaiki diri dan hubungan mereka, karena merasa apa yang terjadi pada Adrian adalah juga kesalahannya.

Perih hati Tatiana menatap kondisi Adrian yang kurus, lusuh, setelah berbulan-bulan meninggalkan rumah. Adrian menangis tergugu melihat sang ibu kemudian memeluknya dengan erat. Hati Tatiana semakin hancur mengetahui Adrian juga menjadi korban pelecehan seksual sang induk semang.

“Maafkan aku, Ma. Rasanya aku lebih baik mati saja.”
“Kita mulai lagi semua dari awal ya, Nak. Mama berjanji akan lebih memperhatikan dirimu. Tidak ada kata terlambat, Adrian.”
“Aku anak durhaka, Ma. Anak setan.”
“Sshhh. Kamu anakku. Anak yang kusayangi hingga akhir nafasku, bagaimana pun keadaanmu.”

Mereka pun saling berpelukan dengan penuh kerinduan.

Sejurus kemudian Tatiana berteriak histeris hingga mengagetkan semua orang.

“Bhanu! Kau kah itu? Bhanu! Lelaki keparat! Kemana saja kau selama ini? Lihat anakmu di sini! Ingatkah kau padaku Bhanu? Perempuan yang kau tinggal pergi dalam keadaan mengandung dulu?”
“Ma … dia … dia ayahku?”
“Maafkan Mama, Nak. Ya. Dia ayahmu, yang meninggalkan Mama ketika mengandung dulu.”

Terhuyung-huyung Adrian merasakan tubuhnya ringan dengan perut mual. Tangannya serta merta meraih sebuah pistol yang ada di pinggang seorang petugas. Dengan cepat ia segera menarik pelatuknya ke arah Bhanu yang sedang melintas menuju sebuah ruangan dengan kawalan beberapa orang petugas.

Bhanu pun jatuh terkapar, dan sebelum Tatiana mampu berbuat banyak, Adrian pun jatuh bersimbah darah setelah menembak dirinya sendiri.

“Ma … af … kan aku, Ma. Lelaki itu yang … menghancurkan hidupku.”

Be Careful With What You Wish For (ReRe)

(Tamat)

SALAH (The Bride)


SALAH (The Bride)

“Kamu serakah! Kamu ingin menguasai harta Papi kan? Tega kamu! Selama ini Papi membiarkan kalian semua tinggal di sini, sekarang kalian ingin menjual rumahnya dan mengincar hartanya, kan?”

“Kak …”

“Ah sudah! Aku tak mau mendengar apa-apa lagi! Kamu bukan adikku lagi!”

Brak!

Sambungan telepon itu pun terputus. Aku tergugu di hadapan istriku, yang matanya merah karena marah. Perempuan lembut yang kunikahi 10 tahun lalu itu tak kuasa menahan emosinya. Ia tidak pernah menunjukkan kemarahannya sedemikian rupa.

“Jahat sekali dia!”

Penuh getar sambil menahan tangis, hanya itu yang terucap dari bibirnya dengan suaranya pelan. Ia pun beringsut dan mengajak ku pergi setelah meminta ijin dari ayah mertua yang sedari tadi hanya terdiam tanpa sepatah kata. Bahkan untuk membela. Ayahku, entah apa yang ada di benaknya.

September, 2005

“Selamat ya, semoga cinta kalian abadi, langgeng hingga tua nanti, beranak cicit dan setia hingga akhir.” Freya, kakak tertua yang membesarkanku sepeninggal Mami memelukku erat kemudian mengecup kening istriku, Acitya. Di belakangnya mengantri kakak kedua Franda, adikku Friska, dan abangku Ferdi. Hari yang sempurna.

Acitya cantik sekali dengan paes dan busana pengantin khas Jawa yang menghiasi tubuh langsing dan moleknya. Ia adalah pramugari salah satu maskapai asing yang kutemui ketika sedang melakukan perjalanan dinas. Mataku lekat melihat sosoknya yang mondar-mandir mengantarkan makanan dan keperluan penumpang. Suaranya yang tegas namun senyum tetap mengembang membuatku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama.

Ingin rasanya meminta nomor yang bisa kuhubungi kelak setelah kami berpisah. Namun lidah ini kelu. Aku merasa ini adalah cinta. Hingga pesawat mendarat, tak sepatah kata pun terucap dari bibirku untuknya. Pasrah.

Mencuri-curi pandang, dan mencari keberadaannya di bandar udara, hanya itu yang bisa kulakukan. Sungguh ingin kumaki diri ini yang tidak berani bersuara dan sekedar mengucapkan “Hai.” You are not You, Fajar! Seharusnya kau seberani mentari yang menyinari fajar di ufuk barat. Bukankah karena itu Papi dan Mami memberimu nama Fajar! Menghadapi seorang perempuan saja kau menciut.

Fajar Rahadian, tampan, sukses, dandy, siapa yang tak kenal lelaki playboy ini? Rasanya setengah perempuan ibukota pernah menjadi kekasihnya, paling tidak TTM lah. Teman Tapi Mesra. Ia bukan sukses tanpa usaha. Tekadnya yang kuat, otaknya yang cerdas, dan kemampuannya menjaring bisnis pun lawan jenis, membuatnya meraih kesuksesan hingga saat ini.

Namun semua itu sirna, di hadapan seorang pramugari yang nampak sederhana namun manis, dan kini hilang dari pandangan. “Sial!”

(Bersambung)

Reyn

Jujur Berbuah Mujur


Jujur Berbuah Mujur Pada suatu hari Toby, seorang anak kelinci mungil yang cerdas, berjalan kaki sendiri pulang dari sekolahnya. Ia memang harus pulang sedikit lebih lambat, karena pergi ke perpustakaan untuk mencari sebuah buku. Beberapa langkah keluar dari gerbang sekolah, ia melihat sebuah benda berwarna hitam di jalan. Penasaran, ia pun menghampiri benda itu. Wah! […]

DENDAM (11)


DENDAM (11) DORRRRRR!!! Nyalak pistol itu menggema seiring dengan terkulainya lelaki paruh baya bertubuh gagah itu dalam pelukan sang calon menantu. Senyumnya yang mengembang bahagia kala menyambut lelaki tampan bertuksedo itu dalam pelukannya, seketika luruh. Tubuhnya mengejang dan pelukannya melemah. Bhisma tercengang, kaget dan tidak percaya. Matanya bersirobok dengan tatapan teduh penuh kilat dendam dari […]

DENDAM (10)


DENDAM (10) “Mampus kau, perempuan sial! Aku tidak pernah mencintaimu! Aku hanya ingin menjadi bagian dari keluargamu yang kaya raya sekaligus membalaskan dendam ibuku. Hahahaha! Puassssss! Arini. Arini. Mati, kamu!” Sambil terkekeh, Indra memandang ke dalam sebuah sumur tua, di sudut taman rumah megah itu. Tangannya melemparkan sebuah palu berlumuran darah ke dalamnya. Indra melepas […]

DENDAM – Bhisma (9)


DENDAM – Bhisma (9) “Papi kenapa tidak pernah membela diri ketika disakiti? Papi kan lelaki, perawakan tinggi, dan kuat, mengapa tidak pernah melawan Mami? Kiara takut melihat pertengkaran kalian setiap hari. Kiara mau ikut Oma saja!” Tangis gadis kecil itu pecah. Ia memeluk sang Ayah yang menunduk sambil menahan perihnya darah yang mengalir dari sudut […]

DENDAM – Selamat Tinggal, Aryan (8)


DENDAM – Selamat Tinggal, Aryan (8) “Selamat sore, Om. Saya Indra. Indra Dewabrata.” Lelaki paruh baya, yang mulutnya berbau alkohol itu, hanya bergumam tak jelas dan membalas genggaman tangan Indra seadanya. Lelaki bermata teduh yang memacari putri semata wayangnya dan sedang menatapnya tajam. “Aku bukan tak tau siapa dirimu, lelaki keparat. Akan kubuat hidupmu menderita […]