Bila Tak Ada Lagi Esok (Untukmu, Anakku)


Bila Tak Ada Lagi Esok
(Untukmu, Anakku)

Hidup
Sesungguhnya sebuah misteri
Serba rahasia dan sangat tertutup
Tak ada seorang pun tahu ujung cerita ini

Hidup
Akan seperti apa kita semua akhiri?
Serba samar dan sayup
Entah bagaimana akhir masing-masing kisah ini

Hidup
Sesungguhnya mengerikan untukku
Penuh dengan aroma semu
Dalam langkah yang serba ujian melulu

Hidup
Tiba-tiba bisa direnggut oleh-Nya, Sang Empunya
Kita ini lalu bisa apa?
Hanya mampu pasrah tertelungkup kelu

Hidup
Mengajarkanku banyak hal baru
Tentang arti bergaul juga berseteru
Kuncinya ada pada dirimu
Mau ikut atau segera berlalu

Hidup
Yang terlewati dengan banyak ujian dan pelajaran
Memberiku banyak peringatan
Tentang segala yang tersurat, tersirat, juga tersiar
Penuh godaan yang erat mencengkeram

Hidup
Bagaimana kelak akan kita akhiri?
Penuh doa pada semua atau semata caci maki?
Yang hingga akhir tercurah dari lisan hingga jari
Ngeri

Nak, hidup ini bukan kekal
Serba singkat bahkan hanya sekedip mata saja
Jika IA berkehendak, kita bisa apa?
Tiba-tiba segala kenikmatan musnah di hadapan
Tanpa bisa protes maupun banyak tuntutan

Nak, di tanganmu pena dan penghapus itu tergenggam
Bagaimana caramu mengisi putihnya setiap lembaran
Mungkin sesekali butuh menghapus lisan dan tulisan
Karena dosa dan kesalahan sejatinya berjalan beriringan
Hanya butuh luasnya hati untuk menyadari kesalahan

Nak, kejahatan tak perlu berbalas yang sama
Singkatnya hidup, jalani saja dengan kedamaian
Sebelum terlambat sadar dan semua terenggut tanpa peringatan
Doakan saja mereka yang memancing amarah dan kesedihan
Mungkin suatu saat dari mereka kau dapat pertolongan
Jika bukan perlakuan, mungkin doa yang menyelamatkan

Nak, ketika esok tak ada lagi di hadapan
Berharap lah matamu terpejam dalam kenyamanan
Karena tak ada hati yang tersakiti atau jiwa yang merintih perih
Memintamu untuk menjahit setiap sisi yang tanpa sadar kau iris

Nak, mulailah memahat setiap sisi kehidupan dengan ukiran indah
Menulis setiap laku dan lakon dengan sebaik-baiknya
Karena hidup tak selalu berujung megah

Bila tak ada lagi esok untukmu melangkah

Love, Rere

Menjaga Jiwa


Menjaga Jiwa

Untuk jiwa yang sedang gundah
Pada raga yang tengah goyah
Untuk jiwa yang sedang merana
Pada raga yang tengah lelah

Menyerah lah meski bukan kalah
Menyerah karena butuh pasrah
Pasrah pada keinginan raga dan jiwa
Mereka sedang butuh udara

Meski kadang raga berdiri tegak
Merasa kuat hingga pongah
Walau tertatih tetap menjejak
Tanpa sadar jiwa tengah gelisah

Wahai jiwa yang merasa tegar
Bahkan setengah mati menahan
Tetesan bulir bening di sudut netra
Luahkan! Tak perlu lagi kau tahan

Pahami ambunya yang tengah masygul
Jangan berpaling apalagi bingung
Biarkan jiwamu bergetar dengan jujur
Hirup wangi hidup yang tak selalu harum

Biarkan sumarah mengganti amarah
Biarkan harsa mengganti duka
Mencinta sang jiwa bukan melulu dunia
Menjaga sang raga bukan hanya mereka

Dirimu juga tanggung jawabmu
Jiwa yang tenang harusnya fokusmu
Raga yang ceria semestinya upayamu

Berhenti menguras habis karunia Nya untukmu
Berhenti berkorban demi mereka melulu
Berhenti berharap bahagia datang padamu
Berhenti tak perlu ragu

Bahagia … bahagiakan jiwamu
Sehat … sehatkan ragamu
Cinta … cintai dirimu utuh
Berharga itu … kamu juga jiwamu

Love, Rere

Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?


Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?

Perantau seperti saya dan beberapa teman, memang harus rela berkorban. Dengan atau tanpa adanya pandemi, kami kadang harus rela berjauhan diri. Dengan keluarga dan kampung sendiri.

Menjalani puasa dengan keterbatasan, bahkan lebaran kali ini tidak bisa mudik seperti biasa. Yah, apa mau dikata? Lebih baik menurut aturan saja.

Lebaran yang dinanti-nanti karena ingin saling mengucap maaf atas khilaf diri. Setahun hanya sekali. Itupun tidak bisa juga kali ini.

Jangan sedih ya, Eyang. Kita masih bisa bertatap muka melalui layar untuk mengatakan sayang. Nanti kalau situasi sudah reda, kami siap berlayar. Untuk mencium tanganmu dan meminta restu demi menjalani kehidupan dengan tegar.

Susah, Eyang.

Susah hati berjauhan seperti ini. Begitu lama rasanya menanti, untuk bisa berkumpul kembali. Karena sejak kuliah sudah memilih pergi, hingga berkeluarga kita tetap tak bisa berdekatan setiap hari.

Duhai ayah bunda, ampunkan ananda tak dapat beraya bersama. Jauh dari mata dekat dalam jiwa, teduh kasihku tidak berubah.

Berbahagia jika kalian selalu bisa berdekatan. Dengan orang tua di kampung halaman. Karena rasanya sangat berbeda kala berjauhan.

Sayangi mereka, hormati senantiasa. Karena padanya ada keberkahan yang akan selalu terbawa. Percayalah, hidup ini akan hampa tanpa doa dan restu mereka.

Sayu, hati ini makin sayu. Rindu, padamu dan rumah sederhanamu … selalu.

Taqobalallahu minna wa minkum.
Selamat merayakan kebahagiaan bersama keluarga tercinta … di rumah saja.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #ReReynilda

Feeling Good Like I Should


Feeling Good Like I Should

“Where are you going, Bunda?”
“I’m going out with
ayah to buy groceries. You stay at home, okay?”
“Okay. Why are you wearing make up?”
“Why do you want to know?”
Bunda, you’re wearing a mask. Why do you need make up? Nobody will recognize you anyway.”
“I’m not wearing make up for people to see me.”
“Then?”
“I’m wearing it for myself.”
“Why?”
“Why are you so kepo?”
Bundaaaaa. Tell me why.”

Ish! Punya anak kepo banget!

Saya memang terbiasa ber make up walaupun hanya pergi ke pasar. Bukan make up tebal macam lenong dengan teplokan warna warni di jidat jenong. Hanya make up tipis yang penting manis. Ihik!

Buat apa ya?

Hmmmm … kekepoan Rayyan sangat menggelitik, karena mungkin ini juga yang ada di benak beberapa orang yang sama herannya dan punya pertanyaan yang sama tapi takut bertanya. Ngeri ya liat mata saya terbeliak macam Suzzana?

Lagian aneh. Lha wong pake masker, ketutup, enggak ada yang mengenali, ngapain juga dandan?

Oy! Saya dandan bukan dengan harapan dilihat orang. Saya memulas make up tipis di wajah yang semakin menua ini hanya semata ingin terlihat segar. Tidak kumut-kumut dan busuk karena sudah terlalu lama ngerem di rumah. Itu pun saya hanya memulas bagian mata dan lip tint tipis karena di dalam kendaraan pribadi toh saya tidak perlu mengenakan masker.

Lagipula saya pergi dengan suami yang harus saya jaga maruahnya. Mana tau di tempat belanja, saya bertemu dengan koleganya. Nanti disangka saya tuyul dengan mata panda yang lepas kandang, karena keluar rumah tanpa menebalkan alis dan membentuk bingkai mata dengan eyeliner agar tak terlihat pucat.

Selebihnya saya hanya ingin tampak segar walau hanya mata yang terlihat berbinar. Saya pun masih tetap mematut pakaian dengan pantas walaupun harus mendorong trolley berisi penuh belanjaan pasar.

Percayalah Moms. You’ll feel good when you look good and you’ll feel good when you smell good.

So, jangan segan memakai make up dan wewangian. Karena ketika kita nampak segar, hati akan riang, dan seisi rumah pun menjadi tenang. Melihat sang ibu tidak kumut-kumut, bermuka cemberut, seperti dompet akhir bulan yang mengkerut.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis

MOTHERHOOD


MOTHERHOOD I was nominated by some beautiful girl friends to post picture (pictures) of me enjoying my life as a Mother. Well, motherhood is never easy. Karena itu saya menghargai mereka yang mengikuti tantangan ini sebagai bentuk dukungan kepada sesama ibu rumah tangga maupun bekerja. Mereka yang saya tahu pasti, beberapa berjuang menghadapi hari demi […]

DISCIPLINE Blooms Like A Flower


DISCIPLINE Blooms Like A Flower “Sudah bersihkan kamar? Sapu rumah? Cuci piring? Jemur toilet mat? Lap meja?”“Sudah, Bundaaaaaa.” Demikian para krucil di rumah menjawab rentetan pertanyaan saya setiap pagi. Ulangi ya, SETIAP PAGI. Eyang Mama yang selalu protes pada saya, kenapa anak-anak diharuskan melakukan house chores dulu di pagi hari, sebelum berangkat sekolah. “Mesakke anak-anak, […]

The Journey (The Calling)


The Journey (The Calling) “Yah, umroh yuk.” “Nanti lah. Bukan sekarang.” “When?” “Tunggu panggilan.” “Okay. Tapi panggilan juga mesti dijemput sepertinya.” Kataku dalam hati. Sedih, merana, karena begitu rindu melihat rumahNya kembali. Kapan Kau akan memanggil kami ke rumahMu lagi, Ya Rabb? Tempat yang dulu begitu dekat denganku karena bisa setiap saat kudatangi tanpa berpikir […]

Imperfect


Imperfect Wajah saya sebenarnya tidak simetris. Mata kiri saya lebih kecil dari yang kanan. Hidung miring, dan geraham kiri lebih tirus dibanding sebelahnya. Mungkin karena dulu saya lebih suka tidur menghadap ke sebelah kiri. Saya juga tidak terlalu suka berlama-lama di depan kaca untuk berdandan. Hingga dulu ketika masih bekerja sebagai cabin crew, waktu stand […]

Try And Fail


Try And Fail “Bunda, should I bake too?” “Yes, Nak. Why?” “You know I can’t bake. I’m not good in the kitchen like Lana.” “Well then you must try. It’s a simple cake, you’ll enjoy the class. You’ll never know if you never try.” Putri sulung saya memang tidak terlalu menyukai pekerjaan rumah tangga yang […]

Gratitude


Gratitude Seminggu ini banyak hal begitu mengaduk-aduk perasaan. Dimulai dengan berita kehilangan seorang belahan jiwa yang tanpa aba-aba. Meninggalkan sang istri yang tiba-tiba harus melanjutkan hidup sendirian. Pecah tangis ini setiap kali melihat sang buah hati menahan airmata. Hingga petang ini, cerita ditutup dengan curahan hati seorang ibu yang sebatang kara. Menghabiskan sore di ujung […]