Mawar Untuk Ibu


Mawar Untuk Ibu

“Bapakmu mana, Nduk?”
“Bapak di rumah sakit Tentara, Bu. Di sana peralatannya lebih lengkap.”
“Ibu mau ketemu Bapak, Nduk.”

Lirih, ibu memintaku mengantarnya ke rumah sakit tempat bapak dirawat. Ibu, juga sedang dirawat di sebuah rumah sakit khusus penderita jantung. Mereka terpaksa dirawat berjauhan karena kondisi bapak yang semakin menurun, setelah terserang penyakit liver. Pagi itu, ibu bersikeras bangun dari tempat tidurnya dan ingin menemui bapak.

Ya, ia memaksa kami untuk mengajaknya pergi dan menjenguk sang suami. Suami yang selama 40 tahun lebih didampinginya keluar masuk hutan, berpindah tempat penugasan. Hingga 9 anaknya lahir di daerah yang berbeda-beda.

Bapak adalah sosok suami ideal di mataku. Berperawakan tinggi besar dan kulit kecoklatan, sekilas ia tampak garang. Namun, belum pernah sekalipun ia marah atau bersikap kasar pada 9 putrinya. Tutur katanya begitu santun, lembut, dan penuh cinta.

Kharismanya begitu luar biasa, hingga pada suatu hari, muncul seorang wanita sambil menggendong seorang bayi lelaki, yang tangannya juga menuntun seorang bocah lelaki mungil. Ia mengaku istri Bapak.

Ibu begitu terkejut, dan sempat pingsan tak sadarkan diri. Ia tak pernah mengira, lelaki yang sangat dicintainya dan nampak begitu sempurna sebagai seorang suami dan ayah itu, tega mengkhianatinya.

Ibu begitu terluka. Sejak hari itu, ia menolak tidur sekamar dengan bapak. “Aku jijik,” katanya. Kami semua begitu marah pada bapak, tapi segala kebencian dan amarah luluh kala ia memohon maaf atas kesalahannya sambil berurai airmata.

Meskipun begitu, ibu tidak pernah mengucapkan keinginan untuk berpisah. Tidak satu kata pun. Sementara bapak juga tidak mengurangi rasa sayang, cinta, dan tanggung jawabnya pada kami semua. Ibu bertahan dalam pernikahan semu demi kami, 9 putrinya yang tengah beranjak dewasa.

Pagi itu, kondisi ibu semakin melemah. Ia memang menderita penyakit jantung, dan sedang dirawat secara intensif. Bapak menempatkan ibu di sebuah rumah sakit khusus dengan pengawasan penuh. Sementara ia sendiri yang keadaannya juga semakin melemah, segera dilarikan ke rumah sakit tentara keesokan harinya. Keadaannya yang semakin mengkhawatirkan, membuat kami harus berbagi tugas. Kakak sulung hingga ke-4 bertugas menjaga bapak secara bergantian.

Aku, si bungsu dan kakak ke-5 dan 6, bertugas menjaga Ibu. Kakak ke-7 dan 8 ku berada di luar negeri, dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah kami.

“Dira, cepat datang. Kondisi Bapak semakin parah. Dokter bilang, tidak ada lagi harapan.”

Vira kakak sulungku, baru saja menghubungi sambil menangis. Ia memintaku segera datang menemui bapak. Dengan suara parau karena sekuat tenaga menahan tangis, aku meminta ijin pada ibu untuk keluar sebentar.

“Bu, Dira mau pulang dan mandi dulu, ya? Lapar juga, nih.”
“Kamu mau menemui bapakmu ya, Nak?”
“Ha? Oh, eh, bukan, Bu. Dira mau pulang sebentar saja. Belum mandi dari semalam, dan perut Dira keroncongan. Ibu nanti ditemani Suster Ani dulu, ya?”
“Bawa Ibu menemui bapak, Nak.”
“Tunggu Ibu kuat dulu, ya. Dira pamit, Bu.”

Ibu menggenggam erat tanganku. Ia bersikeras untuk ikut tak seperti biasanya. Sejak hari ia mengetahui pengkhianatan bapak, ibu memang bersikap dingin karena luka hati yang begitu dalam. Namun hari itu, ia terus menangis karena ingin bertemu bapak. Hatiku tak karuan rasanya. Perasaanku tidak enak.

“Maaf, saya dan tim sudah berusaha semampu kami. Tapi bapak sudah tidak tertolong. Maafkan, kami. Kami turut berduka cita.”

Duniaku seketika gelap dan runtuh. Bapak pergi meninggalkan kami, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata perpisahan, maupun cinta. Tanpa sempat bertemu ibu, istri yang mendampinginya dengan setia, meski sudah diduakan hatinya.

Bingung dan kalut kami semua, tak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar ini pada ibu. Sakit jantung yang dideritanya, membuat kami sepakat untuk menyembunyikan kabar duka ini darinya.

“Bapakmu sudah pergi ya, Nak?”

Aku menemui ibu sedang menangis tergugu sambil menggenggam secarik kertas berwarna biru. Di sampingnya, nampak seikat bunga mawar merah, kesukaannya sejak muda dulu. Gemetar, aku mengusap lembut tangan kurus ibu, seraya mengambil kertas itu dari genggamannya.

Noora, Istriku.
Maafkan segala salah dan khilafku padamu.
Aku benar-benar menyesal telah mengkhianatimu.
Cinta suci dan pengorbananmu telah kusia-siakan tanpa ragu.
Sembilan putri cantik hadiah darimu, tak juga membuat lengkap hidupku.
Aku ingin memiliki seorang putra sebagai penerus.
Namun ternyata kebahagiaan yang kuharap itu semu.
Aku kehilanganmu … cahaya hidupku.
Meski cintaku padamu tak sedikitpun berkurang karena itu.
Cinta yang akan kubawa hingga ujung waktuku.
Cinta yang ada di setiap merah kelopak mawar kesukaanmu.
Maafkan aku, Istriku.
Aku mencintaimu.
Aku hanya mencintaimu.

Bapak.

(Tamat)

Love, Rere

Mencari Ilham


Mencari Ilham

Menulis cerpen butuh mood dan bakat? Ah, itu hanya mitos belaka. Menulis itu butuh ilham.

Ya, seperti sebuah ilham yang kami dapat ketika pelatihan kemarin. Bahwa menulis cerpen adalah semudah makan semangkuk bakso pedas yang panas nan menggemaskan. Ilham yang ini adalah sang founder Rumah Media Grup. Entah karena beliau begitu hobi makan bakso atau memang semudah itu kah menulis sebuah cerita pendek?

Bagi para pemula, 3 cara mudah ini bisa diterapkan untuk awal menulis sebuah cerita pendek.

1. Sisihkan waktu

Sebuah cerita pendek bermuatan antara 1000 hingga 2000 kata saja. Maka menyisihkan 10-20 jam waktu kita untuk mencari ilham rasanya cukup.

2. Mencari ide

Kadang sebuah ilham muncul di mana saja dan kapan saja. Jangan sia-siakan ide yang muncul tiba-tiba itu. Sesegera mungkin catat di dalam sebuah buku saku, sebelum ia melayang dan pergi jauh.

3. Tentukan gaya

Mulailah dengan bersikap jujur sejak awal menulis. Tidak perlu berusaha meniru gaya seseorang dan berusaha keras menjadi orang lain. Be true to yourself.

Setelah 3 tahap awal ini berhasil dilakukan, pelatihan bersama Pak Ilham kemarin juga memberikan pencerahan berupa tips menulis cerpen. Apa saja tips yang sangat berguna itu?

1. Tema

Pilihlah tema yang memang dikuasai oleh penulis dan dirasa nyaman dengan diri sendiri. Karena dengan menguasai sebuah tema berarti penulis telah memiliki pengalaman dan tentunya telah mengumpulkan banyak informasi. Hal ini akan membuat cerita mudah diolah agar pembaca dapat memetik hikmah atau pelajaran di dalamnya.

2. Penokohan

Menentukan tokoh selanjutnya menjadi hal utama setelah tema. Hendaknya fokus hanya pada 1 hingga 3 tokoh saja dalam setiap cerita. Penokohan ini juga harus mempertimbangkan nama, sifat atau karakter masing-masing tokoh, serta perannya di dalam cerita.

3. Alur

Sebuah cerita tentu saja membutuhkan alur atau dinamika yang membuatnya hidup. Beberapa jenis alur bisa menjadi pilihan. Misalnya alur maju, yang berarti cerita tentang hari ini hingga esok atau lusa, atau alur mundur yang bercerita tentang hal yang lampau atau sebuah kilas balik. Alur campuran juga bisa dijadikan pilihan yang merupakan kombinasi antara alur maju dan kilas balik, biasanya ditemui pada sebuah novel.

4. Sudut pandang

Penentuan sudut pandang juga memegang peranan penting dalam sebuah cerita. Jika ingin menceritakan tentang aku, maka sudut pandang orang pertama bisa menjadi pilihan. Namun jika penulis ingin menjadi tokoh utama sekaligus pencerita, maka bisa memilih sudut pandang orang kedua. Menjadi pengamat atau sutradara dalam cerita, berarti penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.

5. Susastra

Susastra berarti semua hal yang berkaitan dengan karya sastra. Dalam hal ini berupa permainan bunyi atau rima, pengulangan kata menggunakan padanannya, atau dialog cantik antar tokoh di dalamnya. Penulis juga bisa menggunakan bahasa asing, kata-kata yang jarang dipakai, atau puisi untuk membuat jalan cerita lebih menarik. Penggunaan simbol sebagai penggambaran karakter juga bisa dijadikan salah satu bentuk susastra.

6. Judul

Setelah semua kerangka cerita didapat, pemilihan judul menjadi hal terpenting selanjutnya. Beberapa hal berikut ini bisa dijadikan cara penentuan. Pertama, judul harus menarik perhatian pembaca. Bisa dengan menggunakan kata-kata yang unik atau jarang digunakan. Nama tokoh utama dalam cerita juga bisa dijadikan alternatif. Kedua, judul tidak perlu terlalu panjang. Cukup satu kata asal mempesona, rasanya sudah membuat sebuah cerita menjadi magnet bagi pembaca.

Setelah semua hal tersebut didapat maka bagaimana cara penulis mengawali sebuah cerita pendek?

  1. Mulai dengan narasi atau deskripsi tokoh
  2. Mulai dengan percakapan

Setiap awal tentunya harus ada akhir, bukan? Setelah alur cerita selesai, bagaimana cara menentukan akhirnya? Berikut adalah 2 cara untuk menamatkan sebuah cerita, yaitu;

  1. Ending tertutup, berarti cerita berakhir dengan kebahagiaan atau kesedihan yang jelas.
  2. Ending terbuka, biasanya dipilih untuk sebuah cerita yang panjang karena penulis belum bisa menentukan akhirnya. Ending seperti ini membebaskan pembacanya untuk menentukan sendiri akhir konflik atau kisah di dalamnya. Keuntungan bagi penulis jika menggunakan ending ini adalah terbukanya kemungkinan untuk memunculkan cerita baru yang makin seru.

Jadi, masih berpikir bahwa menulis cerpen butuh mood dan bakat? Cobalah mulai mencari ilham tulisanmu. Jika tidak juga bertemu, silahkan mencarinya di pelatihan menulis yang lain bersama Ilham Alfafa, sang founder Rumedia Grup.

Sumber: Pelatihan Menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” bersama Ilham Alfafa

Love, Rere

P A M I T


P A M I T

“Aku pergi dulu.”
“Eh, kemana Mas?”
“Hubungan ini enggak akan mulus. Harus diakhiri demi kebaikan kita berdua.”
“Mas …”

“Sum! Sum! Ngelamun! Ayo kerja!”

Bentakan Tuan Hadi membuyarkan lamunan Sumini. Ia kembali melanjutkan tugasnya mengepel lantai ruangan kantor megah itu.

Airmata mengalir dari sudut matanya. Betapa ia sangat merindukan aroma khas yang selalu datang dari tubuh sang suami, Manto. Sumanto, lelaki yang telah didampinginya selama 24 tahun masa pernikahan dengan segala pasang surutnya.

Dua puluh empat tahun lalu mereka mengikat janji dalam segala keterbatasan. Manto hanyalah pegawai kecil pada sebuah perusahaan percetakan. Gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari mereka berdua. Selama itu pun Sumini tidak pernah sama sekali mengeluhkan nasibnya. Walau hanya tinggal di sebuah rumah petak dan tidur di atas sebuah kasur sederhana.

Manto adalah lelaki baik hati yang selalu membuat Sumini merasa sangat beruntung meski hidup serba pas-pasan. Mereka sangat bahagia terutama setelah di tahun ke-10 pernikahan mereka, seorang bocah lelaki muncul sebagai cahaya yang semakin menyinari kehidupan. Damar, begitu nama yang mereka sematkan, berarti obor dalam bahasa Jawa. Ia memang terbukti menerangi kehidupan mereka setelah kelahirannya.

Sebagai pegawai rendahan, Sumanto sangat rajin dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Hingga ketika sang pemilik percetakan beranjak tua dan mulai lemah, ia mempercayakan laju perusahaan padanya. Keberuntungan memang nyata berpihak pada Sumanto, karena sang pemilik adalah seorang lelaki yang melajang hingga di renta usianya. Sumanto adalah satu-satunya orang yang dengan setia menemani hingga akhir hayatnya.

Kehidupan Sumini dan Sumanto pun berubah membaik di tahun ke 20 pernikahan. Mereka tidak lagi perlu menahan segala keinginan, dan bisa makan apapun yang mereka inginkan. Sang putra, Damar, kini duduk di bangku sekolah menengah dan menjadi salah satu murid terpandai dengan prestasi baik di kelasnya.

Namun, seiring dengan kemakmuran hidupnya, Sumini mulai merasakan perubahan pada diri Manto. Lelaki yang kini tampak semakin muda dengan tubuh terjaga dan wangi parfum yang semerbak itu terasa semakin jauh. Ia tidak lagi pernah bertanya ke mana dan sedang apa istrinya. Rapat di sana, rapat di sini, itu selalu jawaban yang didapat Sumini. Namun perasaan aneh itu kerap ditepis dan Sumini menyibukkan diri dengan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, demi menyenangkan sang suami.

Bulan depan adalah ulang tahun perkawinan perak Sumini dan Sumanto. Sederet rencana sudah disusun dengan matang oleh Sumini. Sebuah restoran megah dengan hiasan cantik akan menjadi tempat mereka makan malam berdua. Damar bahkan telah menyiapkan sebuah hadiah istimewa untuk kedua orang tuanya.

Hingga malam itu sebuah kejadian menghempas rencana indah Sumini dan Damar. Sang bapak memilih untuk pergi meninggalkan rumah dengan alasan pernikahan mereka adalah sebuah beban. Sumini terhenyak, ia tak kuasa menahan tangis. Damar tampak tegar dan memeluk sang ibu dengan tangan kecilnya, erat sekali.

Entah apa yang ada di benak Manto. Ia seperti lupa bagaimana sang istri dengan setia mendampinginya di kala susah, dan tanpa ragu menghempas ketika dirinya semakin bersinar terang. Sumini hanya mampu pasrah. Namun tidak demikian dengan Damar. Ia yang begitu mengagumi sang bapak seperti mendapat sebuah mimpi buruk. Murid terpandai itu jatuh terpuruk. Ia bahkan harus rela mengulang pelajaran di kelas sebelumnya karena tidak mampu mengerjakan ujian akhir dengan baik.

Sumini harus keluar dari rumah mewah mereka karena kalah di pengadilan agama. Tanpa disadarinya, sang suami tidak pernah meletakkan namanya di dokumen apapun selama ini. Ia hanya memberi Sumini sejumlah uang untuk bertahan hidup, walau berjanji akan bertanggung jawab pada biaya sekolah Damar.

Janji tinggal janji … Sumini memilih pergi.

Perjuangan hidup membawanya pada pekerjaan sebagai petugas kebersihan di sebuah kantor megah di pusat kota. Damar, sang putra tercinta, memilih untuk mengakhiri hidupnya karena depresi. Sumini menemukannya sedang meregang nyawa setelah sebotol cairan pembasmi serangga masuk ke dalam tenggorokannya.

“Sum! Melamun lagi! Cepat bikinkan minuman untuk Bapak dan 2 orang tamu!”
“Oh … baik Bu.”

Ibu Sisi, sang sekretaris cantik, kali ini yang membuyarkan lamunan Sumini akan Sumanto. Sepuluh tahun berlalu namun lelaki itu dengan aroma tubuh khasnya tetap dirindukan setiap saat. Meski ia telah menorehkan luka yang begitu dalam di hati Sumini.

“Permisi, Pak. Ini minumannya.”
“Letakkan saja di atas meja, Sum. Terima kasih.”

BRAKK!

Nampan berisi 3 cangkir minuman panas itu terjatuh bersamaan dengan terhuyungnya tubuh Sumini yang mendadak hilang kesadaran.

“Astaga! Sum!”
“Aduh! Massss! Bajuku basahhhh ketumpahan minuman! Aaaaaahhh! Gimana sih pembantumu Mas Hadi!”
“Aduh maaf Dik Sinta, Mas Anto. Maaf. Sum! Sum! Pak Satpam angkat ini si Sumini! Sum! Bangun!”

“Mas … Ma … Manto.”

Sumini … pergi dalam diam. Ia terkena serangan stroke setelah melihat Sumanto bersama seorang wanita bernama Sinta, istri barunya. Kekasih gelapnya sejak Sumini mengandung Damar … yang sinarnya telah redup lebih dulu dalam kesunyian.

Tamat.

“No matter what I say or do,
I’ll still feel you here ’till the moment I’m gone.”
(Sara Bareilles)

Gravity – Sara Bareilles (Cover)

Love, Rere

Waktu Yang Salah


Waktu Yang Salah

Happy anniversary, Sayang.”

Senyum mengembang di wajah Nada melihat Bian datang mengecup dahinya seraya memberikan seikat bunga cantik berwarna oranye. Warna kesukaan Nada.

Setiap tanggal pernikahan mereka datang, Bian tak pernah lupa memberikan seikat bunga dan sebuah hadiah manis untuk sang istri. Nada merasa sangat beruntung memiliki Bian.

Namun pagi itu Bian nampak berbeda. Wajahnya pucat dan nampak murung. Nada merasakan sesuatu yang berbeda dari sang suami yang telah mendampinginya selama 2 tahun pernikahan.

“Pucat sekali wajahmu, Mas? Kamu sakit ya?”
“Enggak, Sayang. Masak sih pucat? Aku enggak apa-apa kok. Bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik saja, Mas. Terima kasih ya bunganya. Aku suka.”

Bian menatap mata Nada, lama sekali seperti mencari sesuatu di sana.

“Nada, jika suatu hari nanti aku pergi, sanggupkah dirimu menjalani hari?”
“Maaaassss. Jangan ngomong itu dong. Ini hari ulang tahun pernikahan kita. Aku enggak mau dengar yang sedih-sedih. Aku ingin bersamamu hingga kita tua dan keriput nanti, Mas.”
“Tapi aku kan tak bisa menemanimu selamanya, Sayang. Jika waktu itu tiba, kuatkah dirimu?”
“Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku tak sanggup kehilangan dirimu.”

Nada menggenggam erat tangan Bian. Sahabat masa kecil yang kemudian menjadi belahan jiwanya. Ia tak pernah mampu membayangkan bagaimana kelak ia akan menjalani hari tanpa Bian di sisi. Cintanya pada Bian begitu besar, hingga ia rela meninggalkan keluarganya yang tidak pernah merestui pernikahan mereka.

“Nada … Nada? Bangun, Nak. Ini Mama.”
“Ma … ma? Bian mana? Bunga oranye? Mana Ma? Bian … kenapa aku ada di sini?”

Dahi Nada mengernyit ketika perlahan ia membuka matanya dan merasakan aroma yang begitu menyengat hidungnya. Matanya berputar mencari sosok Bian. Namun yang tampak hanya wajah sang mama dan beberapa orang berpakaian putih yang tak dikenalnya.

“Bagaimana kondisi putri saya, Dok?”
“Ia mulai membaik. Hanya perlu diawasi dengan lebih ketat untuk menghindari kejadian ini lagi. Saya hanya bisa menyarankan agar bapak menyingkirkan semua benda tajam di rumah, agar Nada tidak lagi berusaha untuk …”

Lamat Nada mendengar seseorang berbicara. Ia berpikir dengan keras bagaimana ia bisa ada di ruangan ini. Padahal tadi ia sedang bersama Bian merayakan hari pernikahan mereka.

“Ma, mana Bian? Nada mau lihat Bian.”
“Nada … anakku.”

Bulir bening jatuh dari pipi perempuan yang ia panggil mama itu. Nada semakin heran. Ia ingin bertanya lagi, namun kepalanya terasa sangat sakit hingga perlahan ia memejamkan mata. Nada merasa lelah sekali.

“Nada, anakku. Sampai kapan kau akan memikirkan lelaki itu, Nak? Ia sudah lama pergi. Sadarlah, Nak. Berhenti menyakiti dirimu sendiri dan terimalah kenyataan bahwa Bian telah pergi. Nada … bisakah kau dengar suara mama?”

Bian … pergi?

Seketika potongan beberapa kejadian tergambar jelas di mata Nada. Hari pernikahan … potongan kue … suara tembakan … gundukan tanah merah … genangan darah di lantai kamar mandi … pisau lipat.

“Biaaannnn! Jangan tinggalkan aku!”

Nada berteriak histeris setelah menyadari sang belahan jiwa pergi untuk selamanya, tepat di hari pernikahan mereka. Nada tidak pernah mampu menerima kenyataan pahit, kehilangan sang kekasih dengan cara yang tragis.

Tangannya gemetar mengingat Bian yang terkulai lemas di dalam pelukannya. Gaun pengantin putihnya pun berganti warna menjadi merah darah.

Bian tergeletak jatuh setelah dihujani peluru yang ditembakkan seorang wanita, tepat di jantungnya. Wanita itu … istri sah Bian.

(Tamat)

“You’re everywhere except right here … and it hurts.” (ReReynilda)

A Wish


A Wish

“Dasar anak set …”

BRAK!

Suara bantingan pintu itu begitu keras, hingga ruangan di rumah megah milik Tatiana Wijaya, sang sosialita ternama ibukota, bergetar siang itu.

Pertengkaran yang kerap terjadi antara dirinya dan sang putra tunggal, yang selalu berakhir dengan sumpah serapah keluar dari bibir merahnya.

Anak durhaka, anak tidak tahu diri, bocah kurang ajar, anak setan, dasar bodoh, dan segala makian yang tertuju pada Adrian. Remaja berusia 17, dengan sekujur tubuh penuh tato, telinga berhias sebuah anting, dan kerap ditemui sang ibu dalam kondisi mabuk berat.

Hari itu, sebelum Tatiana meneruskan makiannya, Adrian bergegas keluar dari rumah dengan menenteng sebuah tas lusuh berwarna hitam. Ia berjalan keluar sambil membanting pintu dan tidak pernah lagi menengok ke belakang.

Itu lah hari terakhir Tatiana bertemu dengan putra semata wayangnya. Tak sempat dilihatnya bulir bening yang jatuh dari sudut mata Adrian. Remaja yang nampak begitu garang, namun sebenarnya sangat rapuh dan butuh pertolongan.

Tatiana jatuh terduduk dan menangis tersedu. Ia seperti sedang mengulang sebuah skenario yang terjadi 18 tahun yang lalu. Ketika untuk pertama kalinya ia merasakan panasnya pipi yang tertampar.

“Dasar anak kurang ajar! Kau torehkan kotoran di wajah ayah dan ibumu! Sadarkah kau Tatiana? Pergi kau dari sini! Aku tak sanggup melihatmu dan anak haram itu di rumah ini. Pergi kau anak durhaka! Kau bukan anakku lagi! Bawa pergi anak setanmu itu!l

Anak setan yang kau doakan dulu, betul-betul menjelma menjadi setan, Yah. Anak yang dengan susah payah kubesarkan sendiri. Kulimpahi dengan cinta kasih dan pendidikan yang cukup, berharap ia tumbuh menjadi seorang lelaki yang baik. Ia kini tumbuh besar seperti harapanmu, Yah. Seperti doamu dulu.

Tatiana memang membesarkan Adrian seorang diri. Sang kekasih yang seharusnya bertanggung jawab atas semua yang terjadi, seperti hilang ditelan bumi. Sejauh apapun ia mencari, lelaki itu tak mampu ditemuinya lagi. Tatiana harus rela menjadi perempuan simpanan seorang pejabat negeri demi menghidupi sang putra terkasih. Putra satu-satunya yang kini juga telah meninggalkannya pergi.

Adrian berjalan dengan gontai. Tujuannya hanya satu, mencari ketenangan bersama teman-teman dan Boss Bhanu. Lelaki paruh baya yang pertama kali mengenalkannya pada kenikmatan dunia.

Bhanu, mantan penghuni hotel prodeo yang bolak balik berada di balik terali besi dengan sederet tindak kriminal yang seperti tidak mengenal jera. Lelaki dengan pekerjaan tidak jelas, bandar obat-obatan terlarang dengan jaringan internasional. Ia selalu bisa lolos dan berhasil keluar dari penjara dengan dukungan seseorang. Entah siapa.

Begitulah hukum mampu dibelinya.

Hingga pada suatu hari, rumah yang dijadikan tempat transaksi haram bahkan praktek perdagangan manusia illegal, digrebek polisi. Dengan sederet bukti, kali ini Bhanu tak mampu berkutik.

Adrian meraung, menangis bak bocah kecil melihat Bhanu dengan tangan terkunci borgol. Polisi juga membawanya beserta beberapa remaja lelaki dan perempuan yang akan dijualnya pada lelaki hidung belang.

Tatiana yang menerima telepon dari kantor polisi, bergegas mendatangi sang putra yang masih sangat dikasihinya. Ia berharap kali ini Adrian jera. Ia pun telah berjanji untuk memperbaiki diri dan hubungan mereka, karena merasa apa yang terjadi pada Adrian adalah juga kesalahannya.

Perih hati Tatiana menatap kondisi Adrian yang kurus, lusuh, setelah berbulan-bulan meninggalkan rumah. Adrian menangis tergugu melihat sang ibu kemudian memeluknya dengan erat. Hati Tatiana semakin hancur mengetahui Adrian juga menjadi korban pelecehan seksual sang induk semang.

“Maafkan aku, Ma. Rasanya aku lebih baik mati saja.”
“Kita mulai lagi semua dari awal ya, Nak. Mama berjanji akan lebih memperhatikan dirimu. Tidak ada kata terlambat, Adrian.”
“Aku anak durhaka, Ma. Anak setan.”
“Sshhh. Kamu anakku. Anak yang kusayangi hingga akhir nafasku, bagaimana pun keadaanmu.”

Mereka pun saling berpelukan dengan penuh kerinduan.

Sejurus kemudian Tatiana berteriak histeris hingga mengagetkan semua orang.

“Bhanu! Kau kah itu? Bhanu! Lelaki keparat! Kemana saja kau selama ini? Lihat anakmu di sini! Ingatkah kau padaku Bhanu? Perempuan yang kau tinggal pergi dalam keadaan mengandung dulu?”
“Ma … dia … dia ayahku?”
“Maafkan Mama, Nak. Ya. Dia ayahmu, yang meninggalkan Mama ketika mengandung dulu.”

Terhuyung-huyung Adrian merasakan tubuhnya ringan dengan perut mual. Tangannya serta merta meraih sebuah pistol yang ada di pinggang seorang petugas. Dengan cepat ia segera menarik pelatuknya ke arah Bhanu yang sedang melintas menuju sebuah ruangan dengan kawalan beberapa orang petugas.

Bhanu pun jatuh terkapar, dan sebelum Tatiana mampu berbuat banyak, Adrian pun jatuh bersimbah darah setelah menembak dirinya sendiri.

“Ma … af … kan aku, Ma. Lelaki itu yang … menghancurkan hidupku.”

Be Careful With What You Wish For (ReRe)

(Tamat)

Terlanjur Mencinta


Terlanjur Mencinta

“Mas, mau ke mana?”
Meeting. Enggak usah ditunggu. Aku pulang malam.”
“Hati-hati ya, Mas.”

Sebuah kecupan seadanya mendarat di dahi Ayumi. Datar. Tanpa gairah.

Dua puluh lima tahun usia pernikahan mereka, Ayumi merasa ada yang berubah pada diri Aldi, sang suami. Hambar. Sekedar melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri, terutama di hadapan 3 putri mereka yang beranjak dewasa. Si sulung, Alya, bahkan sebentar lagi akan naik pelaminan.

Aldi adalah sosok ayah idola bagi 3 putrinya.Tampan, bertanggung jawab, penyayang, dan setia. Persis seperti gambaran mereka tentang laki-laki idaman.

“Aku akan mencari calon suami seperti ayah. Harus seperti ayah,” begitu selalu mereka membayangkan sosok seorang suami. Seperti Aldi.

****

“Pagi, cantik. Sudah bangun?”
“Pagi, Mas. Sudah dong. Mas sedang apa?”
“Sedang berdiri di depan rumahmu. Makan siang, yuk.”
“Astaga! Kamu selalu memberi kejutan! Aku suka.”

***

Happy Anniversary Ibu dan Ayah. Semoga selalu mencinta hingga akhir hayat. Selamat menikmati pemandangan cantik dari hotel, tanda cinta kami bertiga. Love, Alya, Alina, Aulia.

“Terima kasih, Nak. Cantik sekali kartu, cake, dan bunganya. Terima kasih juga hadiah menginap di hotelnya. Pemandangannya indah sekali dari jendela kamar,” tulis Ayumi pada sebuah pesan singkat untuk ketiga putrinya.

Ya, ulang tahun pernikahan perak itu sangat luar biasa. Sebuah hotel dengan pemandangan menawan, buket bunga segar, dan sebuah cake cantik, hadiah dari ketiga putri kesayangannya.

Hadiah pernikahan perak yang dinikmatinya sendiri … tanpa Aldi di sisi.

Mata Ayumi menerawang jauh mengingat kejadian yang ia alami 2 minggu sebelumnya. Sebuah pesan singkat berisi foto Aldi sedang menggandeng mesra seorang perempuan cantik di suatu tempat, terkirim ke gawainya dari deretan nomor asing yang tidak bernama. Ayumi mengenali tempat di foto itu karena dulu ia dan Aldi sama-sama menimba ilmu di sana. Di sebuah kota tempat awal cinta mereka bersemi.

Perempuan itu, Soraya namanya, yang pesan singkat bernada mesranya juga terkirim bersama dengan beberapa foto mereka berdua dalam berbagai pose. Termasuk juga bukti pengiriman bunga, beberapa barang, nota restoran, dan hotel.

Hati Ayumi hancur. Tepat di hari ulang tahun pernikahan peraknya, ia harus ikhlas melepas Aldi yang lebih memilih menemui perempuan lain.

***

“Maafkan aku, Mas. Aku terlanjur mencinta dan tak mampu melupa. Semoga istrimu ikhlas melepasmu menjadi milikku.”

Senyum Soraya mengembang sambil jemari lentiknya mengirim pesan singkat ke sebuah nomor … milik Ayumi.

(Tamat)

Song: Maafkan Aku, Terlanjur Mencinta – Tiara Andini (cover)

Di Rumah Saja? Gak Masalah.


Di Rumah Saja? Gak Masalah.

Corona oh corona
Karenamu dunia jungkir balik tak berdaya
Padahal wujudmu tak terlihat adanya
Kita bisa apa?

Kerja dan sekolah dari rumah
Puasa dan ibadah pun di rumah saja
Mungkin lebaran nanti demikian juga
Kita bisa apa?

Banyak jiwa melangut karena keuangan mengkerut
Banyak raga terpuruk karena kondisi tak menentu
Akankah kita ikut cemberut meratapi nasib buruk?
Kita bisa apa?

Kita bisa!

Kita bisa menyebarkan kebaikan dengan apa saja yang kita punya. Semampunya dengan sepenuh hati. Seperti kami yang bersatu di bait indah ciptaan tangan dingin Erros Djarot ini.

Ulurkan tangan kita semua. Karena berpangku tangan tak ada manfaatnya. Bersama kita bantu semua yang sedang murung. Itu pun bagian dari ibadahmu juga.

Bersama kita saling menghibur dan meneguhkan hati, bahwa ibadah tetap bisa berjalan, walau hanya di rumah sendiri. Itu pun bagian dari ibadahmu yang bersumber dari hati.

Ibadahmu dengan Sang Khalik tidak perlu ditentukan dari lantai mana sujudmu datang, atau dari arah mana doamu terlafazkan. Semua sumbernya ada dalam hati dan kedalaman relung jiwa.

IA toh serba tahu dan serba merasa, apapun yang tersemat dalam lubuk terdalam masing-masing rongga. Tanpa kecuali dan tanpa pernah salah alamat. IA hanya butuh kepasrahan kala bermunajat dengan tulus tanpa minta banyak harapan.

Mengadulah padaNya kala diri terpuruk dan merasa terpasung di rumah sendiri. Ingat juga padaNya ketika berada di puncak bahagia dan berkalung kebebasan dunia. Berharaplah IA tetap mengingat mu di setiap detik kehidupan yang fana ini.

Di rumah saja, beribadah lah seperti biasa. IA menghitung tanpa jeda. Baik atau kurang adanya.

Jadi … di rumah saja? Gak masalah. Ibadah tetap lancar lah!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #Rere #IbadahStayAtHome

Lagu & Lirik: Erros Djarot
Singer: Kagama Bersenandung