Tulis Yang Manis


Tulis Yang Manis

“Oy! Mana setoran?”

Begitu seorang sahabat yang bertugas menjaga mading alias majalah dinding sekolah, menyapa saya pagi itu. Hmm … mungkin sekitar tahun 1992-1993.

Penuh senyum, saya serahkan 2 lembar pantun konyol, hasil ketak-ketik saya semalam, menggunakan mesin tik tua milik papa. Tentu saja saya begitu percaya diri, karena menggunakan nama samaran. Saya tidak tumbuh dewasa menjadi anak yang terlalu berani menampakkan diri. Sampai tulisan sendiri, tak mampu saya mencantumkan nama asli.

Biasanya di jam istirahat, saya akan sengaja berdiri di depan mading untuk memperhatikan reaksi siswa dan siswi. Beberapa memang rajin melihat isi mading, yang berubah hampir setiap hari. Kebanyakan tertawa ngakak melihat isi pantun saya yang kocak.

“Ini sih bener banget!” ujar seorang senior sambil tertawa, menatap pantun berisi curhat saya tentang ujian yang bikin kepala sakit luar biasa.

Menulis memang sudah jadi bagian dalam hidup ini. Anggap saja katarsis dari kebiasaan saya yang suka meringis dan ngomong sendiri. Tentu saja bertambahnya usia membuat gaya menulis saya banyak berubah. Dua pelajaran penting dalam menulis, awalnya saya dapat dari 2 orang mentor berkumis tipis.

Pelajaran pertama, saya dapat dari seseorang yang dengan baik hati menjapri dan berbagi hal penting dalam menulis.

“Menulis harus berisi, namun tidak bertujuan untuk menyerang orang lain.”

Darinya saya belajar untuk menulis karena ingin berbagi, bukan untuk menyerang atau mengkritisi. Meski terselubung, diajarkannya saya untuk menahan semua itu. Menulis dengan hati, bukan untuk puja dan puji. Bukan pula untuk menyerang si anu atau ini.

You know who you are, Kak, yang segala ilmunya saya terapkan hingga hari ini. Thank you, You!

Pelajaran kedua adalah tentang memotong tulisan. Meski kritik ini awalnya melemahkan hati, karena berbanding terbalik dengan pelajaran pertama yang saya dapati. Dengan kalimat keras, menurut saya, sang mentor berkata bahwa kalimat saya membuatnya susah bernafas.

Awalnya saya ke-GR-an mengira ia susah bernafas karena tercekat. Rupanya, ia literally susah bernafas, membaca kalimat yang begitu panjang tanpa potongan. Hahaha!

“Jangan baper!” ujar saya kepada hati serta otak yang sempat lemah dan hampir menyerah. Dengan segera, kalimat panjang itu saya potong menjadi beberapa bagian. Jadi kalian sekarang bisa benar-benar tercekat karena cerita saya yang memikat, bukan karena asma yang kumat.

Meski mengikuti beberapa tantangan menulis, saya bahkan tak pernah berfikir untuk menjadi yang terbaik. Saya hanya menulis dengan hati, untuk berbagi hal baik, atau menyimpan ilmu yang masih sedikit di dinding, sebagai pembatas diri. Agar tak perlu menyerang ke sana kemari, dan fokus saja pada cerita yang berisi.

Menulis benar-benar membuat saya banyak merubah diri. Tidak lagi sinis, namun berganti senyum manis. Tidak lagi memandang banyak hal dari sisi kritis namun lebih melankolis. Sesekali berubah mistis namun tetap bikin mringis.

Itu saja, sih. Selamat menikmati hari Minggu yang manis, dengan keluarga yang banyak mringis.

Love, Rere.

SEBELAS … LIMA BELAS … SELAMANYA


SEBELAS … LIMA BELAS … SELAMANYA

Thank you, ya, kornetnya waktu itu. Enak, deh! Aku suka,” kataku melalui sambungan telpon.
“Kornet? Kornet apa, ya?” tanyanya dengan nada kebingungan.
“Kornet, masak enggak tau? Itu lho, daging ancur dalam kaleng yang kamu bawain waktu itu.”
“Ancur itu … hancur, ya? Kornet saya belum paham … kaleng apa lagi, ya?”
“Ihhhh! Gimana, sih! Kornet, ya … kornet, lah! Kaleng masak enggak ngerti juga, sih!”
“Spell … please.”
C O R N E D Beef. Kornet.”
“Oooh, –Korndbeef. Bukan kornet, laaaah.”
“Orang Indonesia bilangnya kornet! Pokoknya kornet!” kataku mulai kesal.
“Terus, kal … kal tadi apa?”
“Kaleng? Tempatnya kornet!” jawabku dengan ketus.
So, kaleng is tin?”
“Iya! Kalengnya kornet!”
Kornd.”
“Kornet! Pokoknya kornet!”
“Ih! Kan saya bilang yang betul.”
“Biarin! Udah, ah! Aku mau berangkat kerja. Pokoknya tetep kornet! Bye!” kataku menutup telepon dengan marah.

Kami memang beda. Bukan hanya beda bahasa, namun juga karakter. Ia yang pendiam, dan aku yang tidak bisa diam. Ia yang sabar, aku yang tidak sabaran. Ia yang selalu mengalah, aku si “degil” yang tak pernah mau kalah, apalagi mengaku salah.

Setidaknya ini semua sudah tergambar lewat komunikasi fail antara kami berdua. Bahkan di minggu-minggu awal setelah kami berkenalan di dunia maya, lalu bertatap muka di dunia nyata.

Masalah kornet … errr –kornd– ini, hanya salah satu contoh kecil, yang setelah kami pikir ternyata lumayan bikin nyengir. Hahaha!

Sebelas tahun sesudah September 2005, kami yang awalnya berdua menjadi berlima. Dua putri, dan seorang putra melengkapi kehidupan. Keluarga kecil yang ramainya bak pasar malam. Tentu saja bukan tanpa kerikil dan aral.

Namun beda itu tak setengah mati berusaha kami samakan. Biarkan saja ia ada, kami hanya butuh banyak pemahaman. Seperti ia yang paham bagaimana saya mengucapkan kornet, bukan –kornd-. Saya juga belajar memahami bahwa ia tak kenal apa itu kaleng. Sedari kecil ia hanya tahu “tin“.

Apakah beda itu lantas menjadikan kami semakin jauh berjarak? Tentu saja tidak. Lalu, bagaimana cara kami menjaganya supaya tetap utuh meski tak bersuara penuh?

Beda itu jadi kekuatan kami mengajarkan anak-anak tentang warna pelangi. Dengan semburat yang tak sama, ia tetap indah dipandang mata. Mungkin jika pelangi tak berwarna-warni, ia tak akan menghiasi bumi hingga nampak berseri.

Lima belas tahun sudah hingga hari ini, dan beda itu tetap ada di sini. Saya, tidak berubah menjadi dia. Dia, tidak berubah menjadi saya. Kami tetap membawa warna sendiri, namun saling melengkapi. Hingga ketika hujan menghampiri, pelangi siap menghiasi.

Jika ia sedang menjadi api, saya akan berusaha menjadi air yang menyejukkan panas hati. Begitu pula sebaliknya. Maka, biarkan saja beda itu ada.

Untuk sebelas, lima belas … hingga selamanya.

Love, Rere

Dedicated untuk Mbak Emmy Herlina dan suami tercinta, di sebelas tahun kebersamaan. Semoga selalu mencinta di atas segala beda, hingga menuju surga bersama. Sebelas … hingga lima belas … bersama selamanya.

http://parapecintaliterasi.com

PLAGIAT


PLAGIAT

“Anya … Anya … to —”
“Ah! Diam!”

Anya bergeming. Tak diindahkannya suara lirih yang memanggil-manggil namanya.

“Diam kau, Lastri!”
“Oy! Ngomong sendiri! Udah gila, lu? Pulang, Nyet! Gue pulang duluan, ya. Awas digondol wewe gombel, lu!”
“Berisik! Pergi sana! Gue selesai sebentar lagi. Besok harus presentasi, dan gue harus berhasil.”

Menghela nafas, Nayla pun beranjak meninggalkan Anya sendiri, di ruang kantor yang hanya tinggal mereka berdua. Memandang sekeliling dengan bergidik, Nayla memilih menuruni anak tangga ketimbang memasuki lift. Suasana kantor memang belakangan agak berbeda hingga kerap membuat bulu kuduknya berdiri.

Keesokan harinya, dengan cemerlang Anya membawakan hasil pekerjaannya di hadapan para pimpinan. Tak dihiraukannya teguran Nayla yang menganggap ia seperti lupa daratan. Matanya menghitam dan tubuhnya kurus seperti kurang makan.

Anya hanya menjawab dengan senyum mengembang, “yang penting aku sukses, bukan?”

“Anya … Anya ….”
Shut it, Lastri!”

Suara itu lagi! Sial betul si Lastri ini! Tak henti-hentinya berbisik lirih di telingaku.


Anya dan Lastri, dua sahabat yang begitu terkenal di kampus dulu. Anya yang cantik dan terkenal sebagai seorang selebgram, sebutan untuk mereka yang akun Instagramnya diikuti puluhan ribu penggemar. Lastri, gadis desa yang berhasil masuk ke universitas bergengsi itu sebagai penerima beasiswa. Ia sangat cerdas, namun berbeda 180 derajat, penampilannya agak kuno bahkan kampungan. Setidaknya, begitu cibiran yang diterimanya setiap kali ia berjalan tanpa mendongakkan kepala di samping Anya.

Saling melengkapi, begitu jawab Anya tiap kali ditanya, bagaimana mereka bisa bersahabat karib. Tentu saja, karena Anya memang tidak terlalu pintar. Ia hanya pandai menebar pesona. Lastri, adalah pelengkap hidupnya, alias, sang pembuat pekerjaan rumah, dan hampir semua project di kampusnya.

Lastri yang lugu, tak sadar ia diperalat. Kekagumannya pada Anya membutakan mata dan telinga. Tak dihiraukannya cibiran dan pandangan sinis yang hanya dijawabnya dengan senyum manis.

“Anya adalah sahabat terbaikku,” begitu selalu ujarnya.

Ia baru terkesiap sadar ketika pada suatu hari, dilihatnya Anya menyadur hasil tulisan untuk karya ilmiahnya. Tulisan yang akan diserahkan Lastri sebagai syarat meneruskan pendidikan pasca sarjananya.

“A … Anya, kenapa … kenapa kau menyalin semua tulisanku? Aku … aku bisa membantumu menulisnya juga dengan materi yang berbeda.”

Ragu-ragu Lastri bertanya pada sang sahabat yang kemudian menatapnya tajam dengan mata memerah seperti kurang tidur.

“Diam kau, Lastri! Jika kau berani bersuara, akan kuhabisi kau beserta seluruh keluargamu!”

Lastri menunduk kelu, airmatanya tumpah tak terbendung. Terbayang wajah renta ibu, yang sudah bertahun-tahun bertahan hidup dari bantuan Anya, dan sang kekasih yang sudah berumur.

Karya ilmiah itu yang kemudian membuat Lastri menjadi tertuduh. Ia kini berlabel plagiator. Namun ia tak mampu membela diri dan hanya memendam segala kesedihan sendiri. Kesedihan yang makin menjadi, setelah ibu tutup usia secara mendadak. Hilang sudah penopang hidup dan segala kekuatan hidupnya.

Lastri dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa … oleh Anya, sahabatnya sendiri.

“Kasihan Lastri, aku tak tahu mengapa ia sampai hati. Mencuri karya sahabatnya sendiri,” ungkap Anya penuh kesedihan di sebuah tayangan televisi.

Tak seorang pun melihat senyumnya yang licik di balik kamera TV.

Sementara Lastri, ia mulai depresi. Masa depan cerah yang tergambar di hadapannya musnah dalam hitungan hari. Ia tak lagi berpikir jernih, matanya terus mematung memandang sebotol penuh obat penenang.

Anya semakin berjaya. Namun hidupnya dihantui bayangan Lastri, sang sahabat yang dikhianati. Hingga pada suatu hari ia ditemukan tak sadarkan diri, oleh sang sugar daddy.

“Anya mengalami kelelahan kronis dan sekarang dalam kondisi koma,” ujar dokter yang menerimanya di ruang gawat darurat.

Di dalam ruang ICU, Nayla memandang Anya dengan penuh pilu. Meski mereka tak begitu dekat, namun Anya adalah rekan sekerja. Walau tak pernah dihiraukan, namun Nayla kerap mengingatkan Anya untuk berhenti bekerja terlalu berat.

“Anya … kau dengar suaraku?” ujar Nayla pelan sambil menggenggam tangan kurus itu.

Dilihatnya airmata Anya mengalir dari sudut pipinya, tanda ia masih bereaksi meski dalam diam.

Sepeninggal Nayla, Anya terbaring sendiri. Pelan kesadarannya pulih dan matanya terbuka sedikit. Nampak di hadapannya seseorang berpakaian bak suster rumah sakit, sedang tersenyum manis.

“La … Lastri? Kau … kau kah itu?” ucap Anya dalam hati, sambil memandang ngeri.

Tergambar hari ketika ia menyerahkan sebotol obat ke tangan Lastri, yang diakuinya untuk menenangkan diri. Berharap sang sahabat menenggaknya habis untuk mengakhiri hidup, yang diakuinya sudah mati.

Tak sepatah kata terucap, hanya sebuah garis lurus di layar ECG pertanda sang pasien telah pergi. Suster Astri pun melangkah ke luar ruangan, dengan senyum terkembang.

“Telah kubalaskan dendammu adik kembarku. Tenanglah sekarang di peraduan abadimu.”

(Tamat)

Don’t steal, be original, and proud of your own thing. (Rere)

Lucia


Lucia

“Sayang, kenapa mematung di depan pintu? Ayo, tidur lagi.”

Penuh kelembutan, ia membawa gadis itu kembali ke kamar tidurnya. Mimi bukannya tak tahu kalau putri semata wayangnya itu selalu mengigau di kala waktu tidurnya. Namun akhir-akhir ini ia sering mendapati Lucia, nama gadis kecil itu, terbangun dari tidurnya lalu berjalan tak tentu arah dengan mata terpejam.

“Lucia is sleepwalking,” katanya melalui sambungan telepon, kepada Adam sang suami, yang tinggal di luar kota karena urusan pekerjaan.

Ya, Mimi memang hanya tinggal berdua di rumah besar itu, dengan putri tunggal Adam, yang baru setahun ini menikahinya. Meskipun ada dua orang asisten rumah tangga tersedia untuk melayani segala kebutuhannya. Mereka ditempatkan di bangunan lain, di sisi sebelah utara rumah utama itu.

Adam adalah seorang pengusaha sukses. Mimi seketika jatuh hati pada pandangan pertama ketika mereka bertemu di suatu acara. Diterimanya dengan penuh cinta, status Adam yang tak lagi perjaka. Ia adalah seorang duda beranak 1 yang sudah beberapa tahun ditinggal istri pertamanya.

Tak seorang pun mengetahui keberadaan sang istri. Menurut Adam, perempuan itu pergi meninggalkannya dan lari bersama seorang lelaki muda selingkuhannya. Mimi tak sanggup menahan perih mengetahui kisah pilu ini. Ia semakin jatuh hati, hingga akhirnya bersedia dinikahi.

Lucia, adalah gadis kecil yang penuh misteri. Ia manis sekali, namun seperti menyimpan sesuatu dalam hati. Meskipun begitu, Mimi tak secepatnya menyerah lalu pergi. Penuh kelembutan, ia menempatkan diri sebagai ibu sambung sekaligus sahabat bagi sang putri.

Meski gadis itu hampir tak pernah bersuara, Mimi berkomunikasi dengannya melalui coretan berupa gambar sketsa. Lucia suka sekali menggambar sosok perempuan cantik. Mungkin ia merindukan sang ibu, yang dilihat Mimi memang mirip sekali fotonya dengan gambar milik Lucia. Kasihan.

Penuh kasih sayang, Mimi mendampingi Lucia. Termasuk menjaganya ketika ia mulai mengigau, hingga berjalan dalam keadaan tidur. Herannya, gadis itu selalu berdiri di depan sebuah pintu. Pintu menuju sebuah gudang, tempat keluarga Adam menyimpan banyak barang.

Meski penasaran, Mimi urung membuka pintu ruangan itu. Alergi debu membuatnya menghindari tempat yang berpotensi memicu. Hingga pada suatu malam, semuanya berubah pilu.

“Lucia? Astaga! Kau membuatku terperanjat! Ada apa, Sayang? Kau ….” ucapan Mimi tak sempat terselesaikan, ketika sebuah pisau menancap di dadanya, tepat mengenai jantungnya. Matanya terbeliak tak percaya, melihat Lucia menikamnya dengan mata tertutup rapat. Bersimbah darah, ia jatuh ke lantai berkarpet mahal, di dalam kamar tidurnya yang penuh perabotan mewah.

Jerit Lucia membangunkan kedua asisten rumah tangga yang sedang tidur di bangunan sebelah. Menghela nafas panjang, salah seorang dari mereka secepatnya menghubungi Adam.

“Tuan … ia melakukannya lagi. Haruskah kami mengubur jasad istri tuan di dalam gudang lagi?”

(Tamat)

Sumber foto: WAG RNB

Love, ReReynilda

LUKA


LUKA

Aku tak tahu mengapa umak memberiku nama Luka.

Luka saja, tanpa awal atau akhir kata.

Menurut orang-orang kampung sini, aku dilahirkan tanpa bapak sewaktu umak pergi bekerja ke luar negeri. Usia umak baru 17 tahun ketika itu. Sedang mekar-mekarnya anak gadis, kata mereka.

Umak yang cantik dan pintar terpaksa berhenti sekolah dan harus bekerja keras, demi membayar hutang kedua orangtuanya. Kakek dan nenek yang tak pernah kutahu sosoknya.

“Terbakar dalam rumah sewaktu perampok menyatroni mereka di pagi buta,” kata Pak Saman tetangga desa.

Waktu itu umak sudah berangkat ke luar negeri, dan menjadi buah bibir di kampung. Bagaimana tidak … baru beberapa bulan umak pergi, rumah kakek dan nenek sudah naik tinggi. Keramik cantik menghiasi lantai, mengganti alas tanah yang sebelumnya tiap pagi berhias tai. Ya, kotoran ayam milik tetangga, yang kandangnya ada di sebelah rumah.

Umak juga mengirim sebuah kendaraan mewah, sebagai pengganti becak yang selalu dikayuh kakek keliling desa sebelah. Dibangunkannya sebuah toko megah, untuk nenek yang biasanya berjualan tempe di pasar basah. Tentu saja, semua tetangga memandang gerah. Termasuk komplotan pencuri yang sudah terkenal namanya di pusat kota, geng bramacorah.

Kebakaran rumah umak di desa menjadi akhir kisah hidup dan ceritanya di sana. Umak yang anak tunggal, mengubur semua mimpi dan harapannya bersamaan dengan terkuburnya jasad kakek dan nenek menjadi abu, di rumah kebanggaan mereka yang berujung pilu.

Tak ada seorang pun tahu apa yang terjadi pada umak setelah itu. Hanya kabar burung beredar di kampung, umak bukan hanya bekerja sebagai pembantu. Ia adalah simpanan seorang tauke berharta menggunung. Banyak yang kagum, lebih banyak yang mencibir dengan sinis, biasa lah sesama kaum. Mungkin mereka iri dan dalam hati kecil ingin berjaya seperti umak, yang diam-diam mereka kagumi.

Semua berubah di hari umak kembali. Dengan tubuh kurus kering, umak kembali ke kampung membawa seorang bayi dalam bengkung. Seisi kampung gempar, bisik-bisik semakin tak terbendung liar.

Dengan sisa gemerincing koin di saku, umak menepi di sebuah rumah berpagar bambu. Entah rumah siapa, umak pun tak tahu. Gubuk berhantu, kata Pak Saman dulu.

Umakku tak takut hantu. Ia lebih takut melihat mulut-mulut yang menggerutu. Istri-istri yang takut suaminya jatuh hati, gadis-gadis yang takut kekasihnya berpaling pergi. Padahal umak kembali tanpa penampilan bak gadis ting-ting. Umak kembali membawa sakit, di hati dan diri. Karena di gendongannya ada bayi lelaki yang harus diurus sendiri.

Umak … umak.

Malang sekali nasibmu berakhir. Kataku sambil menatap hembusan asap rokok beraroma tajam … sembari membetulkan gincu berwarna merah terang. Untuk pelanggan lain yang segera datang.

(Tamat)

Love, Rere

MIMPI BURUK


MIMPI BURUK

“Wah, ada sandal bagus. Kebetulan sandalku sudah buluk.”

Dengan tenang, Adul memakai sandal berwarna coklat muda yang dilihatnya tergeletak di depan warnet tempatnya bermain games hari itu. Ditinggalkannya sandal plastik berwarna biru yang telah usang, namun sudah bertahun-tahun menemaninya berjalan ke sana kemari itu.

Ia pun bergegas pulang meninggalkan tempat itu, takut sang pemilik sendal yang asli tiba-tiba muncul. Meski bukan miliknya, Adul merasa bahagia dan bolak balik menatap sandal cantik yang menghiasi jemari kakinya itu dengan bangga.

“Akhirnya, punya juga aku sandal kekinian yang mirip seperti punya teman-teman. Keren, nih!”

Setibanya di rumah petak yang disewanya bersama sang ibu, Adul bergegas mandi. Sandal barunya ia letakkan dengan rapi di bawah lemari. Semoga tidak ada tikus yang menggerogoti. Ia lalu merebahkan diri di atas kasur tipis yang ada di sudut rumah kecilnya itu. Sambil menatap langit-langit rumah yang sudah berwarna kusam itu, Adul memikirkan nasibnya yang pilu.

Sejak kecil ia hanya tahu sosok sang ibu. Wanita pekerja keras yang sehari-hari berjualan sayur hingga beras. Ia tak tahu di mana bapaknya berada. Ibu hanya bilang, laki-laki itu minggat, artinya pergi entah kemana. Adul kesal sekali, karena berarti ia harus banting tulang menghidupi diri. Padahal ia malas sekali.

Adul juga tidak pernah merasakan bangku sekolah. Kerjanya hanya membantu Bang Amat si tukang parkir, atau sesekali menjadi tukang angkut barang di pasar. Uang hasil kerjanya habis di warnet untuk bermain games kegemarannya. Telinganya sudah bebal dimarahi ibu setiap hari tanpa jeda.

“Semoga Ibu tidak melihat sandal yang kuambil tadi. Bisa habis telingaku dijewernya sambil dimarahi sampai akhir bulan.”

Diliriknya sandal yang ada di bawah lemari kayu usang, tempatnya meletakkan baju yang hanya beberapa helai saja. Sandal itu seperti bersinar terang, hingga Adul tertidur dalam senyuman.

“Ibuuuuu! Kakiku sakit sekali! Kenapa sandal ini membuat kakiku nyeri?”
“Apaan sih, Dul? Berisik sekali! Ibu sedang masak, nih!”
“Lho! Ibuuuu mana sandal coklatku yang baru? Kenapa sandalku berubah seperti ini? Ini kan sabut kelapa!”

Adul menjerit kesakitan dan heran, melihat sandal coklat barunya mendadak berubah menjadi sabut kelapa dengan tali biru. Seperti sandal buluknya dulu! Kakinya pun terlihat mengeluarkan darah karena sabut kelapa yang tajam dan melukai kulitnya itu.

“Sandal coklat apa? Mana kau punya sandal coklat, Adullll? Sandalmu kan berwarna biru!”
“Aku … aku … punya sandal baru, Bu. Warnanya coklat, cantik sekali menghiasi kakiku. Tadi … aku letakkan di bawah lemari baju. Kenapa … kenapa sandalku hilang dan berubah begini?”
“Sandal coklat baru? Dari mana kau punya uang untuk membeli, ha? Kau curi milik orang lain, ya? Adul! Kau curi barang milik orang? Nanti kau dicokok polisi dan dimasukkan penjara baru tahu rasa!”

Seketika teriakan ibu menggema bak petir di siang bolong. Ia marah sekali dan menjewer telinga Adul dengan keras. Ibu memang selalu berpesan padanya untuk tidak pernah mengambil apa-apa yang bukan miliknya, meski hidup mereka serba kekurangan. Hidup sederhana dan jujur, begitu selalu nasehatnya sejak Adul kecil.

Adul menangis. Bukan hanya karena telinganya sakit, tapi karena sudah berani mencuri dan telah melanggar janjinya pada ibu untuk selalu jujur. Ia juga takut ditangkap pak polisi lalu dimasukkan ke penjara karena telah mencuri sandal.

“Ibuuuuu! Maafkan Adul! Huhuhuhu! Adul mau mengembalikan sandal coklat itu. Adul kapok, Bu. Tapi … tapi … sandalnya sudah jadi begini,” ujarnya sambil mengangkat sepasang sandal yang terbuat dari sabut kelapa dan berbentuk aneh itu.

“Adul! Adul! Bangun, woy! Mimpi apa, sih? Sampai teriak-teriak begitu?”
“Ha? Sandalku! Sandalku mana? Sandal …” Adul terbeliak menatap wajah Bang Amat yang menatapnya dengan heran.
“Sandal sandal! Sana kerja! Tidur aja, lu!” Ujar lelaki berambut plontos di hadapannya itu sambil memukul kepalanya dengan sebuah sandal.

Sandal plastik berwarna biru buluk miliknya yang digenggamnya erat kala tertidur di pos ronda tadi siang.

Honesty saves everyone’s life.

Love Life, Rere

Sumber Photo: Internet

Dedicated untuk para peserta RNB 3 dengan tantangan menulis bertema. Tantangan yang mengajarkan saya untuk membuka mata dan keluar dari segala keterbatasan. Enam ratus lebih kata dalam satu jam saja. Kalian pasti bisa!

C I N T A Ini …


C I N T A Ini …

“I want to kill myself.”
“Astaga! Alma! Sadar! Oy! Ngomong apa, lu?!”

Bergetar jemari Tania membalas pesan singkat yang diterimanya dari sang sahabat.

Alma, putri tunggal seorang pengusaha kaya raya. Ia cantik, seorang model yang cukup terkenal, baik hati dan tidak sombong. Kehidupan yang sangat berkecukupan tidak pernah membuatnya tinggi hati. Ia bahkan mau bersahabat dengan Tania sejak kecil, yang hanya putri seorang pegawai kantor sederhana di salah satu perusahaan milik Ayahnya.

Tania begitu mengagumi Alma. Kadang ia pun tak habis pikir, mengapa Alma mau bersahabat dengannya. Padahal sebagai kembang di kampus, tidak sedikit mahasiswi tajir bak sosialita, yang mendekati, dan ingin menjadi sahabatnya. Tapi Alma malah lebih suka nongkrong di warung mie ayam seberang kampus bersama Tania.

“Aku kesepian. Jangan tinggalkan aku, Tania.”

Rumah megah bak istana dengan deretan mobil mewah, ternyata tidak cukup membuat Alma bahagia. Ia tumbuh dewasa menjadi sosok yang rapuh dan lemah. Jika saja Tania tidak menjaga bahkan kerap memarahinya, mungkin Alma sudah terjerumus dalam buaian semu zat psikotropika.

Orang tua Alma memang kerap meninggalkannya sendiri, karena sibuk dengan bisnis dan dunia gemerlap mereka masing-masing. Alma, yang dilahirkan di luar sebuah pernikahan resmi, merupakan “beban” bagi mereka. Sebuah kehidupan yang tidak pernah diharapkan kehadirannya.

Alma kecil lalu tumbuh dewasa di bawah asuhan beberapa asisten rumah tangga. Mereka yang diam-diam begitu dibencinya, hingga ia seringkali berulah untuk membuat para asisten itu diberhentikan dari pekerjaannya. Yang tersisa hanya Mbok Sarmi yang sudah berusia lanjut dan Mang Diman sang supir keluarga.

Orang tua Alma pun menyerah dan membiarkan sang putri mengurus dirinya sendiri. Bagi mereka, melimpahi hidup Alma dengan materi, dirasa cukup. Toh ada Tania, sang sahabat yang sudah dianggap seperti anggota keluarga sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa kebebasan yang diterima Alma membuatnya semakin kesepian. Ia sering terlihat murung sambil memeluk sebuah boneka. Boneka usang yang tidak pernah lepas dari pelukannya, milik Tania yang direbutnya ketika kecil dulu.

Pesta kelulusan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan bagi para mahasiswa, nyatanya hanyalah sebuah episode buruk dalam hidup Alma. Tania, yang datang dengan orang tua dan calon suaminya nampak begitu bahagia berfoto bersama. Sementara di suatu sudut, Alma menghembuskan asap rokoknya sambil memandang senyum Tania dari kejauhan dengan tajam.

“Al! Ngapain lu di sini? Ayo, foto sama gue. Om dan Tante Sofyan mana?”
“Mati.”
“Ih, udah gila ni anak! Amit-amit! Udah sih, ngerokok mulu! Betulin, tuh, make up lu.”
“Foto sama sapa? Pacar lu? Males gue!”
“Ihhhhh! Berdua aja. Yuk. Ayo, lahhh. Abis ini lu cabut ke luar negri. Kapan lagi kita foto berdua.”

Tangan Tania pun menggeret lengan Alma yang melangkah dengan malas sembari cemberut. “Kamu bodoh, Tania! Kamu tidak paham perasaanku! Sial!” Maki Alma dalam hati. Sambil memperhatikan Tania dari belakang, terbayang wajah manisnya ketika ia menginap di rumah megahnya dulu. Tania yang cantik, baik hati dan menyayanginya seperti … seperti seorang adik kecil. Alma mendengus kesal.

“Al, ini undangan pernikahanku. Kamu pulang, ya, ke Indonesia. Jangan sampai nggak datang. Awas!”

Pesan singkat yang diterima Alma berupa sebuah undangan cantik dengan foto Tania dan Raka, membuatnya histeris. Ia melempar gawai berharga mahal pemberian sang Ayah ke dinding kamar apartemennya, hingga hancur berkeping. Alma menjerit, meraung, dan menangis sejadi-jadinya.

“Taniaaaa! Bodoh lu! Bodohh!” Tangannya meraih sesuatu yang tersimpan di dalam laci sebelah tempat tidurnya. Sebotol penuh obat tidur yang menemani hari-hari Alma, karena insomnia akut yang dideritanya. Dengan gemetar, ia menelan semua isinya sambil menenggak sebotol minuman beralkohol. Sebentar kemudian ia menggelepar dengan mulut berbusa.

“I want to kill myself.”
“Astaga! Alma! Sadar! Oy! Ngomong apa, lu?!”

Tangan gemetar Tania menekan nomor gawai milik Tante Sofyan yang dijawab lama sekali setelah ia berkali-kali menghubungi. Suara keras musik disko yang terdengar di latar belakang, membuat Tania harus bicara sambil berteriak. “Tante!!! Alma ingin bunuh diri. Tante di mana? Tolong lihat Alma, Tante. Toloong.”

“Aku mencintaimu, Tania. Mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Mungkin kau tak sadar makna belaian tanganku di wajahmu. Mungkin kau tak sadar pelukan hangatku ketika kau tidur. Bahkan kecupan mesraku di dahimu. Boneka lusuh yang kurebut darimu dulu, adalah pengganti wujudmu untuk mengisi hariku yang sepi dan tanpa arti di sini. Aku tidak ingin menjadi adikmu, Tania. Aku ingin menjadi … kekasihmu. Maafkan aku. Selamat tinggal, Tania. Semoga kau berbahagia dengan Raka. Aku benci padamu.”

Wajah Tania pucat pasi menerima sepucuk surat berwarna jingga dari Tante Sofyan.

“Tania, Alma ditemukan meninggal dunia di kamar apartemennya sambil memeluk boneka yang direbutnya darimu dulu. Surat ini mereka temukan di dalam laci kamarnya bersama puluhan alat suntik bekas pakai. Tante menyesal. Tante berdosa pada Alma,” tangis Tante Sofyan kemudian terdengar samar. Pandangan Tania seketika gelap, ia meraung memanggil nama sang sahabat, kemudian terkulai lemah.

“Alma!!!!”

Tamat

Re Reynilda

Mawar Untuk Ibu


Mawar Untuk Ibu

“Bapakmu mana, Nduk?”
“Bapak di rumah sakit Tentara, Bu. Di sana peralatannya lebih lengkap.”
“Ibu mau ketemu Bapak, Nduk.”

Lirih, ibu memintaku mengantarnya ke rumah sakit tempat bapak dirawat. Ibu, juga sedang dirawat di sebuah rumah sakit khusus penderita jantung. Mereka terpaksa dirawat berjauhan karena kondisi bapak yang semakin menurun, setelah terserang penyakit liver. Pagi itu, ibu bersikeras bangun dari tempat tidurnya dan ingin menemui bapak.

Ya, ia memaksa kami untuk mengajaknya pergi dan menjenguk sang suami. Suami yang selama 40 tahun lebih didampinginya keluar masuk hutan, berpindah tempat penugasan. Hingga 9 anaknya lahir di daerah yang berbeda-beda.

Bapak adalah sosok suami ideal di mataku. Berperawakan tinggi besar dan kulit kecoklatan, sekilas ia tampak garang. Namun, belum pernah sekalipun ia marah atau bersikap kasar pada 9 putrinya. Tutur katanya begitu santun, lembut, dan penuh cinta.

Kharismanya begitu luar biasa, hingga pada suatu hari, muncul seorang wanita sambil menggendong seorang bayi lelaki, yang tangannya juga menuntun seorang bocah lelaki mungil. Ia mengaku istri Bapak.

Ibu begitu terkejut, dan sempat pingsan tak sadarkan diri. Ia tak pernah mengira, lelaki yang sangat dicintainya dan nampak begitu sempurna sebagai seorang suami dan ayah itu, tega mengkhianatinya.

Ibu begitu terluka. Sejak hari itu, ia menolak tidur sekamar dengan bapak. “Aku jijik,” katanya. Kami semua begitu marah pada bapak, tapi segala kebencian dan amarah luluh kala ia memohon maaf atas kesalahannya sambil berurai airmata.

Meskipun begitu, ibu tidak pernah mengucapkan keinginan untuk berpisah. Tidak satu kata pun. Sementara bapak juga tidak mengurangi rasa sayang, cinta, dan tanggung jawabnya pada kami semua. Ibu bertahan dalam pernikahan semu demi kami, 9 putrinya yang tengah beranjak dewasa.

Pagi itu, kondisi ibu semakin melemah. Ia memang menderita penyakit jantung, dan sedang dirawat secara intensif. Bapak menempatkan ibu di sebuah rumah sakit khusus dengan pengawasan penuh. Sementara ia sendiri yang keadaannya juga semakin melemah, segera dilarikan ke rumah sakit tentara keesokan harinya. Keadaannya yang semakin mengkhawatirkan, membuat kami harus berbagi tugas. Kakak sulung hingga ke-4 bertugas menjaga bapak secara bergantian.

Aku, si bungsu dan kakak ke-5 dan 6, bertugas menjaga Ibu. Kakak ke-7 dan 8 ku berada di luar negeri, dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah kami.

“Dira, cepat datang. Kondisi Bapak semakin parah. Dokter bilang, tidak ada lagi harapan.”

Vira kakak sulungku, baru saja menghubungi sambil menangis. Ia memintaku segera datang menemui bapak. Dengan suara parau karena sekuat tenaga menahan tangis, aku meminta ijin pada ibu untuk keluar sebentar.

“Bu, Dira mau pulang dan mandi dulu, ya? Lapar juga, nih.”
“Kamu mau menemui bapakmu ya, Nak?”
“Ha? Oh, eh, bukan, Bu. Dira mau pulang sebentar saja. Belum mandi dari semalam, dan perut Dira keroncongan. Ibu nanti ditemani Suster Ani dulu, ya?”
“Bawa Ibu menemui bapak, Nak.”
“Tunggu Ibu kuat dulu, ya. Dira pamit, Bu.”

Ibu menggenggam erat tanganku. Ia bersikeras untuk ikut tak seperti biasanya. Sejak hari ia mengetahui pengkhianatan bapak, ibu memang bersikap dingin karena luka hati yang begitu dalam. Namun hari itu, ia terus menangis karena ingin bertemu bapak. Hatiku tak karuan rasanya. Perasaanku tidak enak.

“Maaf, saya dan tim sudah berusaha semampu kami. Tapi bapak sudah tidak tertolong. Maafkan, kami. Kami turut berduka cita.”

Duniaku seketika gelap dan runtuh. Bapak pergi meninggalkan kami, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata perpisahan, maupun cinta. Tanpa sempat bertemu ibu, istri yang mendampinginya dengan setia, meski sudah diduakan hatinya.

Bingung dan kalut kami semua, tak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar ini pada ibu. Sakit jantung yang dideritanya, membuat kami sepakat untuk menyembunyikan kabar duka ini darinya.

“Bapakmu sudah pergi ya, Nak?”

Aku menemui ibu sedang menangis tergugu sambil menggenggam secarik kertas berwarna biru. Di sampingnya, nampak seikat bunga mawar merah, kesukaannya sejak muda dulu. Gemetar, aku mengusap lembut tangan kurus ibu, seraya mengambil kertas itu dari genggamannya.

Noora, Istriku.
Maafkan segala salah dan khilafku padamu.
Aku benar-benar menyesal telah mengkhianatimu.
Cinta suci dan pengorbananmu telah kusia-siakan tanpa ragu.
Sembilan putri cantik hadiah darimu, tak juga membuat lengkap hidupku.
Aku ingin memiliki seorang putra sebagai penerus.
Namun ternyata kebahagiaan yang kuharap itu semu.
Aku kehilanganmu … cahaya hidupku.
Meski cintaku padamu tak sedikitpun berkurang karena itu.
Cinta yang akan kubawa hingga ujung waktuku.
Cinta yang ada di setiap merah kelopak mawar kesukaanmu.
Maafkan aku, Istriku.
Aku mencintaimu.
Aku hanya mencintaimu.

Bapak.

(Tamat)

Love, Rere

Mencari Ilham


Mencari Ilham

Menulis cerpen butuh mood dan bakat? Ah, itu hanya mitos belaka. Menulis itu butuh ilham.

Ya, seperti sebuah ilham yang kami dapat ketika pelatihan kemarin. Bahwa menulis cerpen adalah semudah makan semangkuk bakso pedas yang panas nan menggemaskan. Ilham yang ini adalah sang founder Rumah Media Grup. Entah karena beliau begitu hobi makan bakso atau memang semudah itu kah menulis sebuah cerita pendek?

Bagi para pemula, 3 cara mudah ini bisa diterapkan untuk awal menulis sebuah cerita pendek.

1. Sisihkan waktu

Sebuah cerita pendek bermuatan antara 1000 hingga 2000 kata saja. Maka menyisihkan 10-20 jam waktu kita untuk mencari ilham rasanya cukup.

2. Mencari ide

Kadang sebuah ilham muncul di mana saja dan kapan saja. Jangan sia-siakan ide yang muncul tiba-tiba itu. Sesegera mungkin catat di dalam sebuah buku saku, sebelum ia melayang dan pergi jauh.

3. Tentukan gaya

Mulailah dengan bersikap jujur sejak awal menulis. Tidak perlu berusaha meniru gaya seseorang dan berusaha keras menjadi orang lain. Be true to yourself.

Setelah 3 tahap awal ini berhasil dilakukan, pelatihan bersama Pak Ilham kemarin juga memberikan pencerahan berupa tips menulis cerpen. Apa saja tips yang sangat berguna itu?

1. Tema

Pilihlah tema yang memang dikuasai oleh penulis dan dirasa nyaman dengan diri sendiri. Karena dengan menguasai sebuah tema berarti penulis telah memiliki pengalaman dan tentunya telah mengumpulkan banyak informasi. Hal ini akan membuat cerita mudah diolah agar pembaca dapat memetik hikmah atau pelajaran di dalamnya.

2. Penokohan

Menentukan tokoh selanjutnya menjadi hal utama setelah tema. Hendaknya fokus hanya pada 1 hingga 3 tokoh saja dalam setiap cerita. Penokohan ini juga harus mempertimbangkan nama, sifat atau karakter masing-masing tokoh, serta perannya di dalam cerita.

3. Alur

Sebuah cerita tentu saja membutuhkan alur atau dinamika yang membuatnya hidup. Beberapa jenis alur bisa menjadi pilihan. Misalnya alur maju, yang berarti cerita tentang hari ini hingga esok atau lusa, atau alur mundur yang bercerita tentang hal yang lampau atau sebuah kilas balik. Alur campuran juga bisa dijadikan pilihan yang merupakan kombinasi antara alur maju dan kilas balik, biasanya ditemui pada sebuah novel.

4. Sudut pandang

Penentuan sudut pandang juga memegang peranan penting dalam sebuah cerita. Jika ingin menceritakan tentang aku, maka sudut pandang orang pertama bisa menjadi pilihan. Namun jika penulis ingin menjadi tokoh utama sekaligus pencerita, maka bisa memilih sudut pandang orang kedua. Menjadi pengamat atau sutradara dalam cerita, berarti penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.

5. Susastra

Susastra berarti semua hal yang berkaitan dengan karya sastra. Dalam hal ini berupa permainan bunyi atau rima, pengulangan kata menggunakan padanannya, atau dialog cantik antar tokoh di dalamnya. Penulis juga bisa menggunakan bahasa asing, kata-kata yang jarang dipakai, atau puisi untuk membuat jalan cerita lebih menarik. Penggunaan simbol sebagai penggambaran karakter juga bisa dijadikan salah satu bentuk susastra.

6. Judul

Setelah semua kerangka cerita didapat, pemilihan judul menjadi hal terpenting selanjutnya. Beberapa hal berikut ini bisa dijadikan cara penentuan. Pertama, judul harus menarik perhatian pembaca. Bisa dengan menggunakan kata-kata yang unik atau jarang digunakan. Nama tokoh utama dalam cerita juga bisa dijadikan alternatif. Kedua, judul tidak perlu terlalu panjang. Cukup satu kata asal mempesona, rasanya sudah membuat sebuah cerita menjadi magnet bagi pembaca.

Setelah semua hal tersebut didapat maka bagaimana cara penulis mengawali sebuah cerita pendek?

  1. Mulai dengan narasi atau deskripsi tokoh
  2. Mulai dengan percakapan

Setiap awal tentunya harus ada akhir, bukan? Setelah alur cerita selesai, bagaimana cara menentukan akhirnya? Berikut adalah 2 cara untuk menamatkan sebuah cerita, yaitu;

  1. Ending tertutup, berarti cerita berakhir dengan kebahagiaan atau kesedihan yang jelas.
  2. Ending terbuka, biasanya dipilih untuk sebuah cerita yang panjang karena penulis belum bisa menentukan akhirnya. Ending seperti ini membebaskan pembacanya untuk menentukan sendiri akhir konflik atau kisah di dalamnya. Keuntungan bagi penulis jika menggunakan ending ini adalah terbukanya kemungkinan untuk memunculkan cerita baru yang makin seru.

Jadi, masih berpikir bahwa menulis cerpen butuh mood dan bakat? Cobalah mulai mencari ilham tulisanmu. Jika tidak juga bertemu, silahkan mencarinya di pelatihan menulis yang lain bersama Ilham Alfafa, sang founder Rumedia Grup.

Sumber: Pelatihan Menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” bersama Ilham Alfafa

Love, Rere

P A M I T


P A M I T

“Aku pergi dulu.”
“Eh, kemana Mas?”
“Hubungan ini enggak akan mulus. Harus diakhiri demi kebaikan kita berdua.”
“Mas …”

“Sum! Sum! Ngelamun! Ayo kerja!”

Bentakan Tuan Hadi membuyarkan lamunan Sumini. Ia kembali melanjutkan tugasnya mengepel lantai ruangan kantor megah itu.

Airmata mengalir dari sudut matanya. Betapa ia sangat merindukan aroma khas yang selalu datang dari tubuh sang suami, Manto. Sumanto, lelaki yang telah didampinginya selama 24 tahun masa pernikahan dengan segala pasang surutnya.

Dua puluh empat tahun lalu mereka mengikat janji dalam segala keterbatasan. Manto hanyalah pegawai kecil pada sebuah perusahaan percetakan. Gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari mereka berdua. Selama itu pun Sumini tidak pernah sama sekali mengeluhkan nasibnya. Walau hanya tinggal di sebuah rumah petak dan tidur di atas sebuah kasur sederhana.

Manto adalah lelaki baik hati yang selalu membuat Sumini merasa sangat beruntung meski hidup serba pas-pasan. Mereka sangat bahagia terutama setelah di tahun ke-10 pernikahan mereka, seorang bocah lelaki muncul sebagai cahaya yang semakin menyinari kehidupan. Damar, begitu nama yang mereka sematkan, berarti obor dalam bahasa Jawa. Ia memang terbukti menerangi kehidupan mereka setelah kelahirannya.

Sebagai pegawai rendahan, Sumanto sangat rajin dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Hingga ketika sang pemilik percetakan beranjak tua dan mulai lemah, ia mempercayakan laju perusahaan padanya. Keberuntungan memang nyata berpihak pada Sumanto, karena sang pemilik adalah seorang lelaki yang melajang hingga di renta usianya. Sumanto adalah satu-satunya orang yang dengan setia menemani hingga akhir hayatnya.

Kehidupan Sumini dan Sumanto pun berubah membaik di tahun ke 20 pernikahan. Mereka tidak lagi perlu menahan segala keinginan, dan bisa makan apapun yang mereka inginkan. Sang putra, Damar, kini duduk di bangku sekolah menengah dan menjadi salah satu murid terpandai dengan prestasi baik di kelasnya.

Namun, seiring dengan kemakmuran hidupnya, Sumini mulai merasakan perubahan pada diri Manto. Lelaki yang kini tampak semakin muda dengan tubuh terjaga dan wangi parfum yang semerbak itu terasa semakin jauh. Ia tidak lagi pernah bertanya ke mana dan sedang apa istrinya. Rapat di sana, rapat di sini, itu selalu jawaban yang didapat Sumini. Namun perasaan aneh itu kerap ditepis dan Sumini menyibukkan diri dengan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, demi menyenangkan sang suami.

Bulan depan adalah ulang tahun perkawinan perak Sumini dan Sumanto. Sederet rencana sudah disusun dengan matang oleh Sumini. Sebuah restoran megah dengan hiasan cantik akan menjadi tempat mereka makan malam berdua. Damar bahkan telah menyiapkan sebuah hadiah istimewa untuk kedua orang tuanya.

Hingga malam itu sebuah kejadian menghempas rencana indah Sumini dan Damar. Sang bapak memilih untuk pergi meninggalkan rumah dengan alasan pernikahan mereka adalah sebuah beban. Sumini terhenyak, ia tak kuasa menahan tangis. Damar tampak tegar dan memeluk sang ibu dengan tangan kecilnya, erat sekali.

Entah apa yang ada di benak Manto. Ia seperti lupa bagaimana sang istri dengan setia mendampinginya di kala susah, dan tanpa ragu menghempas ketika dirinya semakin bersinar terang. Sumini hanya mampu pasrah. Namun tidak demikian dengan Damar. Ia yang begitu mengagumi sang bapak seperti mendapat sebuah mimpi buruk. Murid terpandai itu jatuh terpuruk. Ia bahkan harus rela mengulang pelajaran di kelas sebelumnya karena tidak mampu mengerjakan ujian akhir dengan baik.

Sumini harus keluar dari rumah mewah mereka karena kalah di pengadilan agama. Tanpa disadarinya, sang suami tidak pernah meletakkan namanya di dokumen apapun selama ini. Ia hanya memberi Sumini sejumlah uang untuk bertahan hidup, walau berjanji akan bertanggung jawab pada biaya sekolah Damar.

Janji tinggal janji … Sumini memilih pergi.

Perjuangan hidup membawanya pada pekerjaan sebagai petugas kebersihan di sebuah kantor megah di pusat kota. Damar, sang putra tercinta, memilih untuk mengakhiri hidupnya karena depresi. Sumini menemukannya sedang meregang nyawa setelah sebotol cairan pembasmi serangga masuk ke dalam tenggorokannya.

“Sum! Melamun lagi! Cepat bikinkan minuman untuk Bapak dan 2 orang tamu!”
“Oh … baik Bu.”

Ibu Sisi, sang sekretaris cantik, kali ini yang membuyarkan lamunan Sumini akan Sumanto. Sepuluh tahun berlalu namun lelaki itu dengan aroma tubuh khasnya tetap dirindukan setiap saat. Meski ia telah menorehkan luka yang begitu dalam di hati Sumini.

“Permisi, Pak. Ini minumannya.”
“Letakkan saja di atas meja, Sum. Terima kasih.”

BRAKK!

Nampan berisi 3 cangkir minuman panas itu terjatuh bersamaan dengan terhuyungnya tubuh Sumini yang mendadak hilang kesadaran.

“Astaga! Sum!”
“Aduh! Massss! Bajuku basahhhh ketumpahan minuman! Aaaaaahhh! Gimana sih pembantumu Mas Hadi!”
“Aduh maaf Dik Sinta, Mas Anto. Maaf. Sum! Sum! Pak Satpam angkat ini si Sumini! Sum! Bangun!”

“Mas … Ma … Manto.”

Sumini … pergi dalam diam. Ia terkena serangan stroke setelah melihat Sumanto bersama seorang wanita bernama Sinta, istri barunya. Kekasih gelapnya sejak Sumini mengandung Damar … yang sinarnya telah redup lebih dulu dalam kesunyian.

Tamat.

“No matter what I say or do,
I’ll still feel you here ’till the moment I’m gone.”
(Sara Bareilles)

Gravity – Sara Bareilles (Cover)

Love, Rere