Kerja – Now And Then


Kerja – Now And Then

Foto sebelah kanan yang ‘nyusruk’ itu, muncul di memori dinding saya pagi ini. Dengan tertawa saya menunjukkan pada anak-anak dan semua tergelak. Ketawa geli melihat kekonyolan sang Bunda yang memang sudah terkenal antik.

Setelah mereka berangkat sekolah dan rumah sepi, saya kembali melihat foto itu dan merenung. Foto yang diambil Lana ketika sedang musim Fallen Angel Challenge. Emak yang suka banget dikasih rantangan … eh tantangan ini, serta merta memintanya untuk mengambil gambar dengan pose ‘nyusruk‘. Sembari menggelengkan kepala ia terpaksa mengikuti arahan Emak. Pasrah. Daripada kena omelan panjang. Hahahaha.

Ingatan saya kemudian melayang di masa remaja dulu. Saya bukan anak yang selalu manis di rumah. Walaupun tidak pernah berani membentak atau marah pada orang tua. Pemberontakan saya dimulai di hari saya kabur dari rumah, karena merasa Mama tidak mengerti saya. Kaburnya sih juga ke rumah dinas Papa yang kosong di daerah Slipi. Hahaha. Jadi bukan kabur, ya. Cuma pindah rumah.

Kaburnya saya yang sebenarnya stress setelah diberhentikan secara mendadak dari sebuah kantor, ternyata membawa perubahan nasib.

Baca di sini https://reynsdrain.com/2020/10/09/kerja/

Berbekal selembar 20 ribuan di kantong, saya melamar kerja pada sebuah maskapai asing. Keberuntungan memang sedang berpihak pada saya. Saya diterima kerja setelah melalui serangkaian tes. Hingga tiba saatnya saya meninggalkan Indonesia tercinta.

Hari-hari saya kemudian, setelah bekerja dan menetap di luar negeri sebagai pramugari, hanya terpusat pada diri saya, dan saya saja. Me, myself, and I. Saya bahkan tidak pernah merasa perlu untuk memikirkan orang lain. Hidup saya hanya kerja atau bersenang-senang. Menghabiskan liburan dengan mengunjungi negara-negara di belahan bumi yang lain, atau sekedar membuang uang untuk belanja. Itu saja. Hal yang belakangan, lumayan saya sesali.

Ya. Seharusnya saya bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua dan mengajak mereka liburan bersama. Saya seharusnya juga bisa menyimpan uang untuk membeli sesuatu sebagai investasi. Apa daya semua itu tidak pernah ada dalam pikiran saya dulu. Live life to the fullest, begitulah saya dulu.

Mungkin juga karena saya membesar dalam situasi yang serba terbatas dan dibatasi. Termasuk dalam soal keuangan. Sampai-sampai ketika kuliah dulu, saya mengisi waktu luang di sela kegiatan sebagai mahasiswa dengan bekerja. Mulai dari pagi, sampai kadang dini hari. Hanya sekedar untuk membeli sepotong baju cantik yang terpampang di etalase sebuah toko. Saya memang tidak terbiasa membebani orang tua dengan segala keinginan pribadi. Seminim apapun uang jajan diberi, saya tidak pernah protes atau meminta lebih. Kebiasaan mandiri yang terbawa hingga kini termasuk dalam cara pengasuhan anak-anak saya sendiri.

Oh ya, beberapa teman kerap meminta saya berbagi pengalaman sebagai pramugari dulu. Saya hanya tersenyum. Karena bukan cerita indah yang banyak saya alami, kecuali bagian belanja dan jalan-jalannya tadi. Hahaha. Selebihnya hanya cerita tentang kenakalan dan kegilaan saya di masa muda, mungkin bisa dibilang fase terparah dalam hidup saya. Hehe.

Bersyukur sekali pada akhirnya, saya pernah mengalami beragam fase itu dalam hidup. Nakal, bandel, pemberontak, keras kepala, egois, egosentris, cuek, hingga yang paling parah menjadi seorang hedonis. Semua fase itu justru yang akhirnya membesarkan dan membentuk karakter saya hingga hari ini. Hingga hidup yang awalnya hanya me, myself, and I berubah menjadi family first.

Settling down atau duduk dengan tenang dan menikmati setiap detik keberadaan saya sebagai ibu rumah tangga sekarang, adalah hal yang sangat menyenangkan saat ini. Walau harus berjibaku mengurus rumah tangga dan membesarkan buah hati hanya dengan suami, saya bahagia sekali. Bahkan ketika tangan yang dulu lembut dan mulus berubah menjadi kasar dan berurat, saya tetap bangga.

Bangganya berperan sebagai ibu rumah tangga yang 24/7 di rumah, dan tidak pernah merasa membutuhkan kehadiran seorang asisten pribadi. Bahkan, ketika saya hampir setiap hari memasak untuk pesanan para pelanggan dulu, semua tetap saya kerjakan sendiri, di sela-sela waktu mengurus anak dan suami. Tawaran suami untuk memanggil pekerja paruh waktu ke rumah pun saya tolak. Saya merasa bisa mengatasi semua hal.

Ya. Saya bisa dan saya bahagia.

Jadi, tak perlu merasa terpuruk dan terkungkung di rumah sendiri ya, Moms. Percayalah, ketika suami bahagia dan anak-anak tumbuh sehat serta ceria, di situlah kepuasan pribadi melebihi segala keriaan di masa muda dulu. Namun ingat, yang terpenting adalah diri sendiri harus bahagia. Percayalah, seorang ibu yang bahagia akan membuat seisi rumah bahagia. Kalau saya, secangkir kopi hangat saja sudah cukuplah membuat bahagia di pagi hari.

Bagaimana cara saya menemukan bahagia? Baca di sini, yuk https://reynsdrain.com/2020/04/21/secangkir-kopi-hangat-emak-self-love-is-not-selfish/

Happy Mom, Happy Home.
Be that Happy Home, Moms.

Love Life, Rere

#worldmentalhealthday #harikesehatanmental #nubarsumatera

KERJA


KERJA

“Besok Senin mulai kerja ya. Ikut saja arahan teman-teman senior.”

Yayyyy! Gue jadi reporter!

Hari itu, 20 tahun yang lalu. Dengan sumringah saya pulang ke rumah di Depok. Meski harus menempuh jarak panjang karena lokasi tempat wawancara yang berada di tengah kota Jakarta.

Sejak hari itu, setiap hari tak kenal ujung Minggu, dengan penuh semangat saya melakukan liputan, wawancara, menulis naskah, dan sederet aktifitas lainnya. Bangga rasanya bisa mengecap pengalaman bekerja sebagai seorang awak media. Meski hanya untuk sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar waktu itu.

Saya bahkan tidak peduli, ongkos transportasi yang lebih besar dari gaji yang saya dapat. Sudah bekerja bahkan sebelum wisuda saja, rasanya bikin kegirangan luar biasa. Belum lagi kesempatan mendapat pengalaman baru, bertemu tokoh-tokoh terkenal, berbincang dengan mereka, menulis artikel … ahhhh semua itu tak tergantikan dengan besaran apapun.

Sayangnya, kesempatan bagus itu terpaksa harus putus karena konflik di dalam perusahaan. Belum setahun menikmati pekerjaan seru itu, saya diberhentikan mendadak. Sedih, mangkel, gemes, dengan gigi gemerutuk menahan marah, saya menyodorkan sejumlah pekerjaan yang telah saya selesaikan sebelum batas waktu.

“Jangan patah semangat ya, Re. Di depan masih banyak peluang untuk perempuan pintar dan tangguh sepertimu. Kamu pasti lebih berhasil setelah ini,” ujar Pemred baik hati, dengan suara tercekat.

Di bawah tetesan hujan sambil berurai airmata, saya berjalan pulang.

“Jangan cengeng, ini baru awal. Sana lihat ke depan! Jalanmu masih panjang!”

(Bersambung)

Never give up, you are stronger than you think ~ Rere

VINI – Hitam Putih Perempuan


VINI – Hitam Putih Perempuan

“Sayang, ngapain Raka telepon kamu? Ada hubungan apa kalian?”
“Raka? Rakanya Dena? Hubungan apa maksudmu, Mas?”
“Kamu jangan coba-coba selingkuh ya, Vin.”
“Mas, ngomong apa sih? Coba kembalikan gawaiku. Aku mau coba telepon Raka.”
“Heh! Kamu istriku! Ngapain kamu telepon laki-laki lain?”

PLAK!

Pipi mulus Vini kini berhias bayangan tangan sang suami. Gawainya pun pecah berhamburan setelah dibanting Attar, suami yang baru saja menikahinya selama 2 tahun ini.

Attar, dikenal Vini sejak muda belia. Mereka dulu bersahabat baik namun tanpa Vini sadari, Attar telah mencintainya sejak mereka masih sama-sama main di rumah pohon dulu. Tempat mereka bercengkrama bersama beberapa teman.

Mereka berpisah ketika Vini memutuskan untuk melanjutkan sekolah di kota lain. Sementara Attar yang harus menjaga sang mama memutuskan untuk bekerja di kota tempat mereka berdua dilahirkan. Namun tanpa jeda, ia selalu mengirimkan sepucuk surat pada Vini … yang tidak pernah menerima selembar pun berita dari sang sahabat.

Attar, tinggal bersama sang mama dan Atilla sang adik. Anita, sendirian membesarkan kedua anaknya sepeninggal sang suami. Attar adalah anak yang sangat penurut karena merasa sang mama telah berjuang tanpa bantuan siapapun. Ia tidak ingin semakin menyusahkan hidup sang mama. Tanpa ia ketahui, Anita selalu mengambil semua surat yang ia kirim pada Vini.

“Belum saatnya Attar. Kau harus berhasil dan tumbuh menjadi lelaki sukses yang mengangkat derajat kami semua. Perempuan ini hanya akan menghalangi cita-citamu,” desis Anita sambil memasukkan semua surat Attar ke dalam sebuah kotak besar. Bersamaan dengan beberapa lembar foto Vini yang ditemuinya di dalam kamar sang putra.

Setelah tamat bersekolah, Vini lalu bekerja di sebuah perusahan besar di ibukota. Pekerjaan yang mempertemukannya dengan Alfan sang tunangan. Rencana pernikahan yang tinggal hitungan bulan lalu buyar karena Vini mendapati Alfan telah berkeluarga.

Meski Vini telah berulang kali menolak rencana Alfan yang ingin menikahinya setelah ia menceraikan sang istri, Alfan terus mengejarnya. Hingga Vini terpaksa berhenti dari pekerjaannya dan pindah ke kota lain. Kepindahan yang lalu mempertemukannya dengan Attar tanpa sengaja.

Sakit hati dibohongi Alfan, Vini menutup pintu hatinya dari siapapun, termasuk Attar yang datang dengan sebuah cincin berlian. Tak kenal menyerah, Attar mendekati Vini dengan berbagai cara, termasuk mendekati sang ibu.

“Apa lagi yang kau cari, Vin? Attar sangat mencintaimu. Ia baik, tampan, soleh, sayang keluarga, pemilik beberapa usaha dan hotel terbesar di kota kita. Eh, kau tahu tidak apa nama hotel mewah bintang 5 milik Attar? Vinitta Hotel, kependekan dari Vini Attar.”

Tergelak Vini mendengar cerita sang ibu di ujung telepon. Mana mungkin Attar menamakan hotel mewahnya seperti itu. Lebay.

Kegigihan serta kelembutan Attar menghadapi sikap keras Vini lantas membuatnya luluh. Ia menerima pinangan Attar dan pesta pernikahan mewah mereka menjadi buah bibir semua orang.

Beberapa bulan berlalu, Vini mulai melihat perubahan pada diri Attar. Ia memang mencintai sang istri dengan sepenuh hati, besar sekali. Cinta yang lambat laun membuat Vini merasa terkekang bahkan ketakutan. Ia tak lagi boleh bekerja atau sekedar ke luar rumah sendirian. Meski harta benda dicukupi Attar, Vini merasa bak berada di dalam sebuah sangkar emas.

Pagi itu ia merasa sangat terkejut karena Attar menamparnya dan membanting gawai tanpa mau mendengar penjelasannya. Ia merasa tidak ada hubungan apa-apa dengan Raka. Perasaannya tidak enak memikirkan Dena, sang sahabat.

Ting tong!

Vini terbangun dari tempat tidurnya dan melangkah ke luar kamar untuk melihat siapa yang datang. Lamat didengarnya sang suami berbicara dengan seseorang.

“Vini sedang sakit. Ada apa, Dir?”
“Ee Dena Tar. Aku butuh ketemu Vini sekarang. Dena … Dena masuk rumah sakit. Aku enggak bisa menghubungi Vini dari tadi. Gawainya rusak ya?”
“Gue udah bilang istri gue lagi sakit! Nanti biar dia pergi sama gue ke rumah sakit. Oh dan bilang Raka, enggak usah telepon Vini terus.”
“Ehh tapi Tar.”
“Gue capek. Bye, Dir!”

Bulir bening membasahi pipi Vini. Dipandangnya ruang kamar tidur luas berhias perabotan mewah yang baginya bak sebuah sangkar emas. Tersekat. Terpenjara.

“Maafkan aku, Dena.”

(Bersambung)

ReReynilda

DIRA – Hitam Putih Perempuan


DIRA – Hitam Putih Perempuan

“Dir, eee … Dena, Dena Dir.”
“Raka? Dena kenapa?”
“Dibawa ambulance ke rumah sakit. Tolong Dir. Aku bingung harus gimana.”
“Ah! Dasar lu! Sama aja laki di mana-mana! Tunggu gue dateng sebentar lagi. Gue coba hubungi Liana, Vini, dan Tari dulu.”

Menyeret langkah, Dira bangun dari atas tempat tidur sambil menahan sakit di kepalanya.

“Tsk! Masih berdarah lagi!” bisiknya sambil berjalan perlahan menuju toilet lalu membasuh wajahnya dengan air keran. Bercak merah pun memercik ke dalam wastafel berwarna putih di dalam kamar mandi luas itu.

Dira meringis kesakitan. Airmatanya pun tumpah tanpa tertahan. “Diam, Dira! Hapus airmatamu!” Hardiknya pada sosok di cermin dengan mata lebam dan kening berhias luka menganga itu. “Ini toh bukan yang pertama kali! Diam!”

Alam, sang suami, sebenarnya lelaki baik dan sangat penyayang. Ia begitu memuja Dira yang ditatapnya pertama kali di ruang kantor mewah tampatnya duduk menjadi pimpinan sebuah perusahaan. Dira masih sangat muda ketika datang untung memenuhi panggilan wawancara kerja di kantornya. Cantik, langsing, cerdas, dan sangat memikat. Alam langsung jatuh hati dan menjadikan perempuan muda itu sekretaris pribadinya.

Dibawanya Dira kemana pun ia berdinas bahkan hingga ke luar negeri. Kedekatan yang kemudian menjadikan mereka berdua bak sepasang kekasih. Sudah bukan rahasia lagi di kantor ketika itu. Karena siapapun bisa melihat dengan jelas bagaimana hubungan terlarang yang terjalin antara sang pimpina dengan sekretaris cantiknya.

Hubungan terlarang yang kemudian tercium istri sah Alam yang datang melabrak Dira hingga keributan besar pun terjadi. Alam lalu memberhentikan kekasih gelapnya itu dari pekerjaannya dan menikahinya secara siri, tanpa diketahui sang istri.

Sebuah rumah mewah, beberapa kendaraan berharga fantastis diberikan Alam pada Dira yang kemudian mendadak hidup senang. Dira memang tumbuh dalam keadaan serba kekurangan. Ibunya hanyalah seorang pemilik toko kelontong kecil di kampung tempatnya dibesarkan. Ia membesarkan Dira seorang diri karena tidak tahu siapa lelaki yang dengan keji telah merenggut masa depannya dulu. Ia hanya ingat sepasang lengan yang kuat membekap dan menutup wajahnya dengan sebuah kain. Hanya deru mobil yang didengarnya terakhir kali sebelum ia lemas tak sadarkan diri, dan ketika sadar ia sudah berada di sebuah rumah tua dalam keadaan mengenaskan.

Sekuat tenaga ia membesarkan Dira yang tumbuh menjadi seorang gadis cantik berambut kemerahan dan kulit putih bersih. Keberuntungan lah yang lalu membawa Dira hingga ia mampu menapakkan kaki di ibukota yang terkenal kejam. Sampai di hari ia bertemu dengan Alam yang begitu tampan dan membuatnya jatuh cinta.

Dira sang anak kampung menjelma menjadi sosialita dengan pergaulan luas. Berlibur ke luar negeri, bergelimang kemewahan, begitulah ia sekarang. Walau tak banyak orang tahu bahwa Alam kerap menyiksa Dira bahkan melarangnya memiliki keturunan. Siksaan yang diterima Dira bertahun-tahun hingga ia merasa kebal dan tak lagi menangis.

Dalam pikirannya hanyalah bertahan hidup demi sang ibu yang sudah sakit-sakitan karena usia lanjut. Dira menahan semua sakit dan selalu menceritakan betapa sempurna hidupnya pada teman-temannya. Kesempurnaan semu namun cukup membuatnya terhibur dan melupakan kesepian hati terutama kekejaman sang suami. Suami yang dicintainya dengan sepenuh hati meski sadar tak akan pernah utuh dimiliki.

Segala cara telah dilakukan untuk memaksa Alam meninggalkan istri sahnya seperti janjinya pada Dira dulu. Alam bergeming, “Aku masih mencintai istriku namun aku tak bisa melepaskanmu.”

Setelah membasuh mukanya dan membubuhkan riasan tipis, Dira membuka sebuah laci yang selalu dikunci. Tangannya mengelus perlahan sebuah kotak berwarna hitam sambil menghela nafas panjang. “Belum lagi, Dira. Belum waktunya,” desisnya sambil menatap cermin.

“Dir, mata lu kenapa? Kenapa Dir?”
“Eh, eee … enggak apa-apa Li. Tadi pagi gue terantuk pintu tanpa sengaja. Sudah enggak apa-apa. Sini deh. Dena pernah cerita apa sama lu? Rasanya dia baik-baik saja kemarin.”
“Dir, lu jawab dulu pertanyaan gue. Kenapa mata lu? Jangan bohong! Lu pikir gue percaya lebam begitu karena pintu? Astaga! Dahi lu Dir! Berdarah!”
“Gue, gue enggak apa-apa Li. Bener deh.”

… kemudian pandangan Dira menghitam. Ia jatuh pingsan.

(Bersambung)

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Tanya Hati – Pasto (Cover)

Liana – Hitam Putih Perempuan


Liana – Hitam Putih Perempuan

“Li, Dena masuk ICU! Gue tunggu di rumah sakit sekarang!”

Dena … Liana tersentak membaca sebaris pesan singkat yang baru saja dikirim Dira, sahabatnya. Dena? ICU?

Jantung Liana seketika berdebar sangat kencang, lututnya lemas, pandangannya gelap. Mimpi buruk itu kembali lagi.

“Li, Dio masuk ICU! Dia tiba-tiba jatuh waktu sedang mimpin rapat. Gue di rumah sakit sekarang. Kalau bisa cari flight ke Jakarta secepatnya!”

Liana tak ingat lagi kalimat apa yang dibacanya setelah itu. Tiba-tiba saja ia sudah terbaring di sebuah ruangan, dikelilingi beberapa teman yang pergi berlibur ke Bali dengannya waktu itu. Liburan yang seharusnya menyenangkan sebelum ia mengambil cuti hamil panjang.

Dio memang mengijinkan Liana yang tengah hamil untuk menikmati liburan bersama beberapa teman perempuannya. Liana sebenarnya tidak ingin pergi, namun Dio yang justru memintanya berangkat agar Liana bisa beristirahat dari kesibukan kerjanya. Ia meminta maaf karena tidak bisa mendampingi sang istri. Kesibukannya di kantor sangat menyita waktu.

Janin di perut Liana adalah hadiah pernikahan ke 12 tahun mereka. Ya, selama 12 tahun segala daya upaya dilakukan Dio dan Liana untuk memperoleh keturunan. Tak sedikit suara sumbang dan nada sinis didengar Liana. Sang ibu mertua bahkan terang-terangan menyuruh Dio untuk mencari istri ke-dua. Rencana yang ditolak mentah-mentah oleh Dio.

Liana mengalami depresi hingga kesehatan rahimnya makin terganggu. Mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kota kelahiran Dio dan mencari pekerjaan di Jakarta. Nasib baik memang mengiringi mereka berdua karena Dio dan Liana akhirnya bisa menduduki jabatan tinggi di tempat kerjanya masing-masing. Hingga memiliki keturunan sudah tidak lagi menjadi mimpi mereka berdua.

Meski begitu, Dio adalah lelaki baik yang sangat mencintai sang istri. Meski tidak seorang bayi pun dipersembahkan Liana dalam kehidupan mereka. Liana sangat bersyukur memiliki Dio sebagai pasangan hidup. Hingga tanpa disadari menginjak tahun ke 12 pernikahan mereka, Liana hamil. Berita yang tentu saja membuat Dio sangat bahagia.

Bulan depan adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 12. Rencananya Dio akan menyusul Liana, kemudian berada di Bali hingga tiba saatnya ia melahirkan. Namun sebaris pesan singkat yang dikirim seorang sahabat menjadi awal mimpi buruk Liana.

Setelah siuman dan merasa kuat Liana mengambil penerbangan terakhir ke Jakarta. Airmata tak henti mengalir sepanjang perjalanan yang dirasanya begitu lama. Perasaannya tidak enak, jantungnya berdebar, dan di satu saat ia merasa ada yang hilang.

Setibanya di rumah sakit, seluruh keluarga telah berkumpul dan sang ibu mertua dilihatnya menangis histeris. Melihat kedatangan Liana, matanya memerah lalu ia menghampiri dan menampar pipinya.

“Istri macam apa kau ini? Suamimu bekerja keras di Jakarta, kau asik-asikan liburan di Bali! Sekarang lihat! Lihat! Anakku mati! Mati!”

Tak dirasakannya perih pipi yang tertampar, mata Liana mencari-cari keberadaan Dio. Suami terkasih yang ditemuinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Liana menjerit lalu tergeletak jatuh ke lantai.

Hari itu juga, dokter terpaksa melakukan operasi Caesar karena air ketuban Liana pecah sebelum waktunya. Dio pergi tanpa sempat melihat sang putra tampan yang oleh Liana diberi nama Al Dio, Anak Lelaki Dio.

Bocah tampan yang kini telah beranjak dewasa dan menjadi pelindung bagi sang ibu sepeninggal ayah, yang tidak pernah dilihat wajahnya. Liana memutuskan untuk tidak mencari pengganti Dio sampai kapanpun. Ia membesarkan Dio kecil seorang diri dan bekerja keras demi menghidupi mereka berdua. Sementara seluruh harta benda yang ditinggalkan sang suami, habis dikuras sang ibu mertua.

“Dena … astaga! Apa yang kamu lakukan? Raka! Apa yang terjadi?”
“Dena … Dena berusaha bunuh diri, Li. Aku … aku enggak tahu kenapa.”
“Kamu suaminya, sialan! Bagaimana mungkin kamu tak tahu apa yang terjadi pada istrimu sendiri!”
“Aku … aku …”
“Ah! Diem lu! Dena … Dena … Dira, apa yang terjadi?”

Dira menatap Liana dengan pandangan kosong. Di bawah matanya tampak bekas lebam berwarna kebiruan.

(Bersambung)

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Dua Belas Tahun Terindah – BCL (Cover)

DENA – Hitam Putih Perempuan


DENA – Hitam Putih Perempuan

“Maaaa, mana jaketku? Udah telat nih!”
“Maaaa, tadi aku taro kacamata di meja kok hilang?”
“Maaaa, tolong setrika baju Papa yg ini dulu dong. Enggak mau ah pakai yang udah disetrika itu.”

Dena, sedari pagi sudah bangun. Dengan gerakan super cepat ia menyiapkan sarapan, bekal ke sekolah kedua anak kembarnya, serta bekal suami ke kantor. Ya, mereka semua malas pergi ke kantin hingga meminta Dena menyiapkan bekal untuk makan di siang hari.

Dena melakukan semuanya dengan tulus hati. Walau hidupnya berubah 360 derajat sejak memutuskan berhenti dari pekerjaan terdahulunya. Di masa muda, Dena adalah seorang awak kabin sebuah maskapai internasional. Penampilannya selalu glamour dan memikat. Sepatu berhak tinggi, tas tangan bermerk mahal, make up cantik, serta keluar masuk pusat perbelanjaan terkenal adalah kesehariannya.

Bertemu dengan Raka, yang kemudian menjadi suaminya, benar-benar merubah sudut pandang Dena tentang kehidupan. Ia rela berhenti dari pekerjaan yang membawanya keliling dunia dan bergelimang harta. Tak lagi dipedulikannya semua harta dunia. Apalagi selepas menikah, ia mengandung anak kembar lelaki dan perempuan. Tora dan Tiara, semakin melengkapi hidupnya.

Hidup yang kemudian ternyata membuatnya berubah. Dena tidak lagi mempedulikan dirinya sendiri. Hidupnya adalah melulu tentang Raka, Tora, dan Tiara saja.

Raka bukanlah lelaki yang romantis. Ia tidak pernah mengingat hari lahir Dena yang dulu selalu dirayakan dengan meriah. Jangankan hadiah, seikat bunga pun rasanya hanya diterima Dena di tahun pertama pernikahan mereka. Dena berusaha memahami dan tidak ingin merusak janjinya untuk tulus mengabdi pada keluarga. Ia ingin menjadi ibu dan istri yang terbaik bagi keluarga.

Kemarin ia bertemu dengan 4 sahabatnya, Dira, Tari, Vini, dan Liana. Berbeda dengan Dena, mereka ber 4 adalah para pengusaha terkenal dan sosialita cantik yang kerap menghabiskan waktu di sebuah kafe. Dena yang paling sering menolak acara kumpul-kumpul itu. Ia kehilangan rasa percaya diri yang dulu begitu penuh ia miliki.

“Dena! Bajumu enggak banget sih! Emang si Raka enggak pernah beliin kamu baju baru? Tiap ketemu itu saja yang kamu pakai!”

Dira, memang selalu outspoken karena menganggap Dena sudah seperti saudara sendiri. Tanpa sadar ia menorehkan luka di hati Dena. Gaji Raka memang tidak akan cukup memenuhi gaya hidup seorang istri pengusaha terkenal seperti Dira. Namun ia adalah teman yang baik. Dira hanya khawatir melihat perubahan pada diri Dena, sang sahabat.

Pagi itu perasaan Dena memang sedang tidak karuan. Ia merasa semakin tidak dianggap di rumahnya sendiri. Kedua anak kembarnya hanya mencari ketika mereka butuh bantuan sang mama untuk mencari barang yang hilang. Sementara Raka hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak dipedulikannya Dena yang kerepotan membersihkan rumah sendiri atau ketika ia harus mondar-mandir mengantar kedua anaknya ke tempat belajar yang berbeda. Padahal ia masih harus pulang lalu memasak makanan untuk semua.

Dena terlalu lelah. Ia menolak berpikir bahwa ia tidak bahagia. Ia takut mengungkapkan isi hatinya karena tidak ingin ada keributan di rumah. Ia tidak ingin dianggap istri yang tak tahu bersyukur. Ia tak ingin menjadi contoh ibu yang banyak mengeluh. Ia ingin terlihat sebagai perempuan yang kuat dan mampu menyelesaikan segala hal sendiri. Ia lupa, dirinya juga seorang manusia, bukan robot yang tanpa rasa.

Berbicara dengan 4 sahabatnya tidak juga mengisi ruang kosong di hatinya. Dira selalu sibuk menceritakan tentang hidupnya yang sempurna. Suami tampan yang kaya raya dan putri tunggalnya yang manis dan pintar. Tari, juga sibuk bercerita tentang bisnisnya yang tersebar di mana-mana dan keluarganya yang sangat harmonis. Vini, adalah sahabatnya yang selalu penuh keberuntungan sejak dulu. Ia juga tidak lagi bekerja sama seperti Dena. Namun suaminya sangat baik dan romantis hingga sang istri selalu diajak berlibur ke luar negeri dan dilimpahi banyak materi. Liana? Sang pengusaha terkenal, yang meskipun hidup sendirian namun tidak nampak kesepian karena kesibukan yang sangat padat.

Dena memandang kedua anak kembarnya yang sedang sarapan, lalu melihat ke arah Raka yang tampak necis dalam balutan pakaian kerja. Ia sedang menyesap kopinya sambil membaca koran. Dena lalu melangkah ke dalam kamar dan melihat pantulannya sendiri ke arah cermin. Rambutnya yang penuh uban, berantakan, wajah pucat dan penuh garis halus, serta sebuah daster lusuh melengkapi penampilannya setiap hari. Tak seorang pun menyadari perubahan sikap Dena yang semakin diam tanpa suara di rumah.

Bulir bening mengalir di pipinya. “Apa yang terjadi padaku?” bisik Dena pelan.

“Maaaa, kita berangkat ya.”
“Iya Nak. Pa, Mama mau mandi ya.”
“Bye, Ma.”

Dena memandang ke lantai bawah sambil melihat mobil Raka meninggalkan rumah. “Mereka tidak membutuhkanku lagi, tidak mencintaiku,” gumam Dena pelan.

“Mamaaaa aku ada tugas sekolah ya. Jangan diganggu.”
“Ma, Tora belajar bareng temen di kafe Cinta ya.”
“Ma, Papa ada rapat. Pulang lambat. Enggak usah ditungguin.”

Dena menenggak butir pil terakhirnya lalu tubuhnya mengejang, dan mulutnya merintih pelan sambil mengeluarkan busa. Matanya terpejam perlahan, ia merasa tenang.

(Bersambung)

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Human – Christina Perri (Cover)

(Bukan) Orang Ketiga


PROLOG

Dimar Wisaka Brawijaya, nama yang terpatri begitu dalam di hatiku. Hidupku jadi lebih berwarna saat mengenal dia. Semua beban yang berada di pundakku seakan luruh ketika kami saling bercerita. Masalah keluargaku sangat pelik, tapi dia tetap memilih untuk bertahan disampingku. Dia yang selalu menghiburku ketika sedih. Dia juga yang selalu mengobati luka lebam yang ditorehkan oleh ayahku. Dia, hanya dia aku bisa bebas melepas semua beban yang terus menghimpit hatiku.

Hari ini tepat dua tahun kami—aku dan Dimar—menjalin hubungan. Lelakiku mengajak bertemu selepas jam kuliahku berakhir di sebuah Coffeeshop. Mungkin dia ingin merayakan hari jadi kami.

Harum Manis Coffeeshop merupakan tempat pilihannya sekaligus tempat bersejarah untuk kami. Di sini dia menyatakan isi hatinya. Aku datang sepuluh menit lebih cepat. Lalu aku memesan minuman kesukaannya dan minuman untukku. Selang lima menit kemudian, lelaki jangkung berbadan tegap itu datang dan langsung duduk di hadapanku. Tak lupa senyum manis dia sunggingkan di bibirnya.

Seperti orang kasmaran pada umumnya, kami saling pandang dan berpegangan tangan. Aksi saling pandang dan pegangan tangan kami terputus ketika seorang waiter mengantarkan pesananku. Dia berdeham untuk menghilangkan rasa malunya, sedangkan aku melempar pandangan ke sembarang tempat. Sepeninggal waiter itu, kami masih bungkam. Tak ada yang ingin membuka percakapan lebih dulu. Kulihat dia mulai menyesap coffee americano-nya dan aku hanya mengaduk-ngaduk minumanku dengan sedotan.

“Kita putus aja, ya,” ucapnya memecah kehingan di antara kami.

Aku menghentikkan kegiatan mengaduk-aduk minuman, lalu reflek mendongak. Aku menatap dalam kedua manik matanya. Daritadi tak ada perkataan apapun, tapi kenapa tiba-tiba yang keluar kata putus? Aneh. Rasanya aku ingin menangis, tapi air mata tak bisa keluar. Kurasa kedua mataku telah memerah.

“Putus?” tanyaku lirih untuk memastikan jika aku tak salah dengar.

Dimar mengangguk. “ Aku pikir ini yang terbaik untuk kita.”

Shit!

Aku hanya tersenyum sisnis menanggapi ucapannya. Tentu saja baik untuknya, tapi tidak untukku. Mungkin dia sudah muak dengan semua masalah pelikku, atau dia tak mau telibat lebih jauh dengan semua masalahku. Merasa tak ada yang harus dibahas lagi, aku mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan meletakkan di atas meja. Kemudian bangkir dari kursi

“Oke kita putus!” kataku sebelum meninggalkannya sendirian. Namun, baru beberapa langkah, aku berbalik kembali menghampirinya. “Dapet salam dari jari tengah,” bisikku di telinganya dengan penuh penekanan di setiap kata.

Selamat datang masalah baru. Selamat bergabung dengan masalah-masalah lamaku. Semoga kalian bisa bekerjasama untuk membunuhku pelan-pelan. Allah ... jika boleh meminta, aku ingin Kau ambil nyawaku.

Aku ... lelah.

Masjid Sultan – Singapore Out And About


Masjid Sultan – Singapore Out And About

Siapa tak kenal dengan bangunan bersejarah satu ini?

Sultan Mosque atau Masjid Sultan. Dipakai sebagai tempat peribadatan secara resmi pada tahun 1929. Mengambil nama Sultan Hussain yang mendirikan masjid ini sekitar tahun 1824, di samping istananya yang berlokasi di daerah Kampong Gelam. Bangunan ini lalu diabadikan sebagai monumen nasional pada tahun 1975. (Wikipedia)

Terdiri dari 2 lantai, yang bagian atasnya adalah tempat khusus beribadah kaum perempuan. Sementara tempat berwudhu dan kamar kecil ada di sisi sebelah kanannya.

Oh ya, jangan harap bisa melangkah masuk ke dalamnya jika anda tidak memakai pakaian yang rapi dan sopan. Namun jangan khawatir, para penjaga yang duduk di tangga masuk masjid telah menyediakan sarung atau abaya yang bisa anda pinjam dan kenakan jika ingin mengunjungi bagian dalam masjid.

Untuk memanjakan perut, terdapat banyak sekali restoran dan cafe di bagian luar bangunan megah ini. Mulai dari kuliner khas warga Melayu, Lebanesse, Arabs, Moroccans, India, hingga rumah makan Padang pun juga tersebar di sekitarnya. Tak ketinggalan toko-toko roti yang wanginya semerbak pun sangat menggoda untuk didatangi. Ingin membawa buah tangan untuk keluarga di rumah? Para penjaja suvenir khas negara ini pun bisa disambangi di bagian luar masjid.

Jangan lupa, segala perlengkapan umrah dan haji juga bisa didapat di sekitar bangunan ini. Harganya? Lumayan masih terjangkau lah.

Oh, jangan lupa berfoto ya. Ini adalah salah satu tempat dengan spot foto terbaik di negara ini. Pokoknya Instagrammable deh! Caelah!

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Haji Lane – Singapore Out & About


Haji Lane – Singapore Out & About

Terletak di antara gang sempit, kawasan ini memang terkenal sebagai salah satu spot foto yang instagrammable. Caelah!

Siapa mengira, bahwa di antara tahun 1800-1960an, toko-toko yang berjejer di kiri kanan itu adalah pondok tempat para jemaah haji menginap, dalam perjalanan menuju Mekkah. Demi menghemat uang saku, mereka akan berjualan apa saja yang penting laku. Dari sini lah nama Haji Lane didapat kawasan ini.

Kurun waktu 1960-1970an, tempat ini kemudian terkenal sebagai tempat belanja penduduk Melayu yang hidup kekurangan. Mereka bisa mendapat banyak barang berharga murah di sini.

Beda sekali dengan sekarang ya. Setelah menjadi salah satu spot berfoto para turis, sebuah henna sederhana yang dilukis di atas tangan bisa berharga $15-$25. Padahal cuma gambar setangkai bunga sederhana. Oh, well.

Di tempat ini bisa ditemukan banyak sekali cafe, tempat makan termasuk rumah makan Padang. Tidak ketinggalan tempat belanja barang-barang khas Turki seperti lampu-lampu cantik dan karpet indah. Pastinya beragam kain-kain cantik dengan harga yang lumayan bikin dompet mlipir cantik. Mencari wewangian atau oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah? Juga ada di sini.

Oh ya, selain Sari Ratu sebagai tujuan mengisi perut dengan cita rasa khas Indonesia, Kampung Gelam Cafe adalah salah satu tempat yang bisa dijadikan alternatif untuk menyicipi kuliner khas Melayu. Menu seperti lontong, mee siam, mee rebusnya maknyussss! Harganya pun ramah di kantong. Ada pula kuliner khas Swedia seperti Fika Cafe, atau masakan khas timur tengah. Semua berjejer rapi demi memanjakan lidah.

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Seven


PROLOG


Tujuh. Angka yang sangat aku sukai. Bukan hanya suka, melainkan aku sudah terobsesi dengan angka tujuh.

Teman kampus memanggilku Amel. Kepanjangan dari panggilanku adalah Amelia Oktavia Sasmita. Aku seorang mahasiswa kedokteran dan penderita OCD—Obsessive Compulsive Disorder. Sebuah gangguan mental yang membuatku harus melakukan sebuah tindakan berulang. Jika tidak melakukannya, maka diriku akan diliputi kecemasan dan ketakutan yang luar biasa. Pada kasusku, aku sangat terobsesi dengan angka tujuh.

Ketika mencuci tangan, aku akan membilas tanganku dengan air bersih sebanyak lima kali. Aku akan menghabiskan makanan yang kumakan dengan kelipatan tujuh. Mengecek jendela serta pintu harus sebanyak tujuh kali sebelum tidur atau bepergian. Semua itu kulakukan setiap hari.

Bagaimana jika aku tidak melakukan sebanyak tujuh kali atau kelipatannya? Maka … seharian penuh aku akan merasa gelisah dan ketakutan hebat. Bahkan rasa gelisah itu bisa bersemayam selama seminggu. Sungguh rasa gelisah yang sangat berlebihan.

Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.

Sialnya, di suatu hari aku mengalami kejadian buruk. Waktu itu aku sedang melewati jembatan penyebrangan dekat kampus, yang konon banyak yang bilang di jembatan itu sangat rawan. Desas desus itu menjadi nyata. Saat aku sedang berjalan di jembatan penyebrangan, ada seorang laki-laki berambut gondrong menghalangi jalanku.

Aku berjalan ke kanan, dia mengikuti ke kanan. Ketika berjalan ke kiri, dia mengikutinya. Aku diam sambil menatap manik matanya. Lalu aku berbalik badan dan lari sekencang mungkin. Namun, dia mengikutiku dari belakang. Dengan langkah besarnya, dia sangat mudah mencekal lengan kananku. Sontak aku berusaha menyentak cekalannya, tapi tak terlepas.

Sebuah ide terlintas begitu saja dalam otakku. Aku tendang tepat di selangkangannya dan dia pun mengaduh sambil memegang bagian sensitifnya. Ini kesempatanku untuk kabur, tapi sebelum kabur, aku mendorong tubuhnya hingga terjungkal dan menggelinding ke tangga. Lelaki itu terkapar tak berdaya di tanah setelah anak tangga paling bawah. Darah segar membasahi area kepalanya.

Kejadian ini sangat mengerikan. Tanganku sampai bergetar. Ini adalah pertama kalinya aku menyakiti seseorang hingga tewas. Namun bukan kejadiannya yang membuat mengerikan. Karena jika aku sudah memulai sesuatu, aku akan berhenti jika sudah melakukannya sebanyak tujuh kali.

Inilah awal ceritaku dimulai. Siap mengikuti jalan ceritaku sampai akhir?

Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh.

To be continue