Seven


PROLOG


Tujuh. Angka yang sangat aku sukai. Bukan hanya suka, melainkan aku sudah terobsesi dengan angka tujuh.

Teman kampus memanggilku Amel. Kepanjangan dari panggilanku adalah Amelia Oktavia Sasmita. Aku seorang mahasiswa kedokteran dan penderita OCD—Obsessive Compulsive Disorder. Sebuah gangguan mental yang membuatku harus melakukan sebuah tindakan berulang. Jika tidak melakukannya, maka diriku akan diliputi kecemasan dan ketakutan yang luar biasa. Pada kasusku, aku sangat terobsesi dengan angka tujuh.

Ketika mencuci tangan, aku akan membilas tanganku dengan air bersih sebanyak lima kali. Aku akan menghabiskan makanan yang kumakan dengan kelipatan tujuh. Mengecek jendela serta pintu harus sebanyak tujuh kali sebelum tidur atau bepergian. Semua itu kulakukan setiap hari.

Bagaimana jika aku tidak melakukan sebanyak tujuh kali atau kelipatannya? Maka … seharian penuh aku akan merasa gelisah dan ketakutan hebat. Bahkan rasa gelisah itu bisa bersemayam selama seminggu. Sungguh rasa gelisah yang sangat berlebihan.

Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.
Tujuh.

Sialnya, di suatu hari aku mengalami kejadian buruk. Waktu itu aku sedang melewati jembatan penyebrangan dekat kampus, yang konon banyak yang bilang di jembatan itu sangat rawan. Desas desus itu menjadi nyata. Saat aku sedang berjalan di jembatan penyebrangan, ada seorang laki-laki berambut gondrong menghalangi jalanku.

Aku berjalan ke kanan, dia mengikuti ke kanan. Ketika berjalan ke kiri, dia mengikutinya. Aku diam sambil menatap manik matanya. Lalu aku berbalik badan dan lari sekencang mungkin. Namun, dia mengikutiku dari belakang. Dengan langkah besarnya, dia sangat mudah mencekal lengan kananku. Sontak aku berusaha menyentak cekalannya, tapi tak terlepas.

Sebuah ide terlintas begitu saja dalam otakku. Aku tendang tepat di selangkangannya dan dia pun mengaduh sambil memegang bagian sensitifnya. Ini kesempatanku untuk kabur, tapi sebelum kabur, aku mendorong tubuhnya hingga terjungkal dan menggelinding ke tangga. Lelaki itu terkapar tak berdaya di tanah setelah anak tangga paling bawah. Darah segar membasahi area kepalanya.

Kejadian ini sangat mengerikan. Tanganku sampai bergetar. Ini adalah pertama kalinya aku menyakiti seseorang hingga tewas. Namun bukan kejadiannya yang membuat mengerikan. Karena jika aku sudah memulai sesuatu, aku akan berhenti jika sudah melakukannya sebanyak tujuh kali.

Inilah awal ceritaku dimulai. Siap mengikuti jalan ceritaku sampai akhir?

Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh. Tujuh.

To be continue

Movie Night


Movie Night

Ayah, can we have a movie night today and everybody sleep together in the living room?”
“Okay
Rayyan. Guys, we’re gonna sleep outside tonight.”
“Nooooo! I don’t want
Ayah.”
“Why?”
“I just don’t want.”
Bundaaaaaaaa! The girls don’t want to sleep outside tonight!”


Satu hari dalam seminggu biasanya kami sekeluarga memiliki jatah movie night. Memutar film di ruang tamu hingga dini hari, dan menggelar alas untuk tidur berlima di lantai. Ya, di lantai ruang tamu dengan alas seadanya.

Setelah beberapa lama, kegiatan ini tidak kami lakukan, hingga kemarin Rayyan si bungsu pun mengajak sang ayah dan kedua kakaknya untuk menggelar movie night lagi.

Sayangnya ide ini serta merta ditolak oleh kedua putri saya, hingga sang ayah mengadu dan mengatakan idenya dihempas tanpa ampun. Kemudian saya memanggil Lana dan Lara bergantian.

Adik, do you want to have a movie night tonight?”
“Okay,
Bunda.”
“We sleep together in the living room okay?”
“Okay!”
Kakaakkk, how about you?”
“Okay
Bunda.”

“Haaaaa? Why so easy? Why you give her different answer? You said you didn’t want to sleep outside just now?” Tanya sang ayah yang idenya ditolak mentah-mentah beberapa menit sebelumnya.

Ayah, that’s the importance of communicating effectively.” Jawab saya dengan senyum sumringah tanda kemenangan.

Kalau saja saya mengajak mereka untuk sekedar tidur bersama di lantai ruang tamu yang tidak nyaman, pasti ide ini juga akan ditolak mentah-mentah. Jadi, saya menggunakan ajakan persuasif yang seru seperti menggelar movie night untuk mengajak mereka, dan langsung diterima tanpa banyak protes. Padahal intinya sama-sama ajakan untuk tidur berlima di lantai ruang tamu.

Well, what can I say? Motheeerrrr knows best!

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

Secangkir Kopi Hangat Emak – Belajar Hidup. Hidup Belajar


Secangkir Kopi Hangat Emak – Belajar Hidup. Hidup Belajar

Rayyan, I need to talk to you.”
“Yes,
Bunda?”
“I’ve tried my best to teach you good manners. On the dining table, while talking to others, etc … but you didn’t seem to bother. Everything is a joke to you.”

Bocah 9 tahun itu tertawa dan berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengajak saya menonton film kesukaannya.

“Listen! It’s time for you to listen! You are so playful! Do you know why I teach all of you manners every single day?”
“Mmm … to make me a well-behaved kid?”
“Exactly. You knew it, yet you like to test my patience everyday. You will not stay in this house with me forever you know that? You will go out and might stay with other families one day. How are you going to be a well-behaved person if you don’t start here now. In your own house?”

Bungsu dari 3 bersaudara ini mulai menundukkan kepala dan berusaha memeluk saya. Mungkin wujud penyesalannya.

“You said you want to see me healthy until I grow older and can no longer take care of you? You said you don’t like to hear me nagging every single day? Yet, you keep making me angry.”

Kemudian saya mulai membuka gawai dan mencari sesuatu melalui internet.

Boy’s boarding school.

Mata bocah pecicilan itu pun terbeliak dan saya merasakan jantungnya berdegup kencang. Saya memang sengaja membuatnya melihat apa yang saya cari di internet.

“Why are you searching for boy’s boarding school?”
“I’m thinking of sending you to a boarding school. You will learn how to interact with other people and take care of yourself here. You will be placed in a dormitory, in a single room or a shared one. You will learn how to behave and communicate with others without me around. I think you will like it. You are going for National Service too soon. So this is good for you. Maybe you will listen to the teachers there better than me.”

Mata bulat bocah lelaki itu berkaca-kaca, kemudian ia membalikkan badannya dan saya melihat bahunya berguncang tanda ia sedang menangis.

“Aahhhh. I found one. I think this is perfect. Mazowe Boys Boarding School in Zimbabwe. Do you know where Zimbabwe is? Rayyan?”
“I don’t know! And I don’t want to know!”

Ia menjerit dari balik selimut yang menutupi sekujur tubuhnya sambil menangis.

“It’s in Africa. It’s just perfect for you. I’m going to call the school tomorrow. Good night.”


“Aahhh good,
Bunda. I agree with your choice. Zimbabwe is perfect for him.” Sang ayah pun turut andil menambahkan bumbu hingga bocah lelaki itu pun semakin menangis.

Saya setengah mati menahan tawa.

“Please don’t send me to a boarding school. I promise I will practice good behaviour, I will listen to you bunda, ayah, and kakak. I promise I will help around the house. I promise I will study more and be a well-behaved student at school. I want to be with you Bunda. I don’t want to go to Africa.”
“Promise? I just want to raise you right,
Rayyan. I want people to see you as a kind boy, not a naughty one that people refuse to be around. So, you promise me? If you break your promise what should I do?”

“Send him to Zimbabwe,” ujar sang ayah.

Tersedu-sedu ia menangis sambil memeluk saya semalam. Ya ya, saya tahu. Saya dan ayahnya adalah naughty parents. Hahaha! Saya suka sekali bermain drama dengan anak-anak. Kadang juga sedikit membumbui dengan ancaman secara halus. Pokoknya bukan ilmu parenting yang baik deh. Hahaha! Tak perlu ditiru.

Rayyan sebenarnya anak yang manis. Ia terhitung penurut, namun sangat playful. Semua hal adalah humor konyol, dan lucu untuknya. Ia kadang tidak bisa memilah dan bertindak semaunya di sembarang tempat. Kami sedang mengajarkannya untuk pandai menempatkan diri. Di mana ia bisa bergurau dengan bebas, dan di mana ia harus diam dan bertingkah laku baik.

Ini adalah salah satu cara saya mendidiknya karena saya tidak ingin terlalu sering membentak bahkan melayangkan tangan ketika kesal. Saya ingin menanamkan kata-kata baik dan positif di dalam benaknya. Hal yang akan ia bawa hingga dewasa.

Lantas, bagaimana hasil sang drama mama semalam?

Pagi tadi, bocah lelaki itu bangun sahur dengan tersenyum. Mempersiapkan makanannya sendiri dengan cekatan, membuang sampah tanpa banyak alasan, dan duduk dengan manis di meja makan. Selesai makan, ia membawa piring makannya kemudian mencuci dengan tertib, dan kembali ke meja makan untuk membersihkan sisa makanannya.

Setelah itu ia mandi, meletakkan baju kotornya dalam mesin tanpa diperintah, kemudian menawarkan sang kakak untuk menyapu rumah. Setelah selesai ia pergi tidur tanpa beliakan mata saya, namun meminta ijin menggunakan gawai nya nanti untuk menonton film kesukaannya.

Good boy. Semoga bukan hanya hari ini janji itu dipenuhinya. Ingat, Zimbabwe menantimu di sana.

Love, R

#WCR #ChallengeMenulis #RumahMediaGrup #ReRe

Teror part 1 Oleh Deesa Rahma


Teror
Part 1
Deesa Rahma

Khusus kos putri. Tulisan itu tercetak jelas di gerbang rumah berlantai dua. Terlihat sedikit seram. Dengan halaman besar dan taman kecil yang ditumbuhi pohon mangga beserta bunga rumput warna warni.

Sore ini aku pindah kos. Kerena esok hari pertama aku mulai bekerja di rumah sakit baru. Jarak kosku yang lama jauh dari tempat kerja baruku. Jadi, dengan sangat terpaksa, aku mencari tempat kos baru.

“Ini kunci kamar kosmu. Sudah bisa ditempati, karena sudah dibersihkan oleh Bibi. Kalo mau dipel lagi, silakan. Maaf mungkin agak lembab, karena sudah dua tahun tak berpenghuni,” ujar Ibu kos panjang lebar. Aku hanya mengangguk sambil menerima kunci yang disodorkannya.

“Oh, iya, peraturan di sini sangat ketat. Setiap penghuni kos, wajib jaga kebersihan kamar kos dan lingkungan kos. Pulang malam paling telat jam sepuluh. Jika memang harus pulang larut, beritahu saya atau Bibi. Tidak boleh bawa laki-laki ke kos ini, kalo diantar cukup sampai depan gerbang aja. Ketahuan bawa laki-laki masuk, saya usir kamu,” lanjutnya.

“Baik, Bu.”

“Oke saya pergi. Oh ya, untuk uang kos, kamu bayar nanti aja setelah kamu menempati kamarnya selama seminggu. Dirasa betah silakan lanjut, kalau gak betah silakan pergi dan tak usah bayar.”

Aku sedikit terkejut. Karena baru kali ini ada kos-kosan yang bisa uji coba dulu. Di sini ada 20 kamar, hampir semua terisi. Tersisa kamar yang akan aku tempati. Kamar nomer tiga belas.

Ada apa dengan kamar ini, sampai tak ada yang ingin menempati?

Bersambung ….

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #deesarahma #wcr

Secangkir Kopi Hangat Emak (The Promise)


Secangkir Kopi Hangat Emak
(The Promise)

“Can we make a promise before we sleep?”
“Okay,
Bunda.”
“I promise to be more patient while assisting you with your school assignments.”
“Yay!”
“But you have to promise me to be obedient and focus more on your school works.”
“Okay,
Bunda. I promise.”
“I’m not getting any younger,
Rayyan. I’m getting older and when I lose my temper, I suddenly got headache.”
“Come I massage you head.”
“Can you promise me first?”
“I promise,
Bunda. I’ll concentrate more on my works tomorrow so you will not get headache. Come I massage you now.”
“Thank you,
Nak. I love you.”
“I love you too,
Bunda. Please don’t get sick.”
“Then keep your promise.”
“Okay.”

Malam ini saya mengajarkan Rayyan artinya bertenggang rasa. Tepo seliro pada ibunya, yang sekarang harus mendampinginya belajar setiap hari.

Saya juga menunjukkan padanya bagaimana saya berusaha untuk berdamai dengan keadaan akhir-akhir ini. Pagi saya yang biasanya tenang, sekarang terpaksa harus menerima pekerjaan tambahan sebagai seorang guru. Ia memang belum bisa dilepas sendiri ketika mengerjakan tugas sekolahnya secara online, dan ini yang membuat saya sering hilang kesabaran. Terutama ketika melihatnya terlalu santai dan bermalas-malasan.

Saya berjanji padanya untuk lebih sabar dan pada saat yang bersamaan saya ingin ia juga berjanji untuk tidak memancing emosi saya. Ia harus tahu, it takes two to tango. Saya tidak bisa melalui semuanya sendiri. Ia harus ikut serta menjaga kesehatan psikis ibunya.

Moms, berhenti menganggap diri harus berkorban demi apapun. Belajar untuk melibatkan mereka yang tercinta demi menjaga kesehatan mentalmu. Lakukan apapun yang tidak membuatmu kehilangan kebahagiaan. Pengorbanan tidak harus berarti perampasan kebahagiaan.

Happy mom, happy home. Remember that.

Love, R

#challengemenulis #rumahmediagrup #rereynilda

SALAH (The Bride)


SALAH (The Bride)

“Kamu serakah! Kamu ingin menguasai harta Papi kan? Tega kamu! Selama ini Papi membiarkan kalian semua tinggal di sini, sekarang kalian ingin menjual rumahnya dan mengincar hartanya, kan?”

“Kak …”

“Ah sudah! Aku tak mau mendengar apa-apa lagi! Kamu bukan adikku lagi!”

Brak!

Sambungan telepon itu pun terputus. Aku tergugu di hadapan istriku, yang matanya merah karena marah. Perempuan lembut yang kunikahi 10 tahun lalu itu tak kuasa menahan emosinya. Ia tidak pernah menunjukkan kemarahannya sedemikian rupa.

“Jahat sekali dia!”

Penuh getar sambil menahan tangis, hanya itu yang terucap dari bibirnya dengan suaranya pelan. Ia pun beringsut dan mengajak ku pergi setelah meminta ijin dari ayah mertua yang sedari tadi hanya terdiam tanpa sepatah kata. Bahkan untuk membela. Ayahku, entah apa yang ada di benaknya.

September, 2005

“Selamat ya, semoga cinta kalian abadi, langgeng hingga tua nanti, beranak cicit dan setia hingga akhir.” Freya, kakak tertua yang membesarkanku sepeninggal Mami memelukku erat kemudian mengecup kening istriku, Acitya. Di belakangnya mengantri kakak kedua Franda, adikku Friska, dan abangku Ferdi. Hari yang sempurna.

Acitya cantik sekali dengan paes dan busana pengantin khas Jawa yang menghiasi tubuh langsing dan moleknya. Ia adalah pramugari salah satu maskapai asing yang kutemui ketika sedang melakukan perjalanan dinas. Mataku lekat melihat sosoknya yang mondar-mandir mengantarkan makanan dan keperluan penumpang. Suaranya yang tegas namun senyum tetap mengembang membuatku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama.

Ingin rasanya meminta nomor yang bisa kuhubungi kelak setelah kami berpisah. Namun lidah ini kelu. Aku merasa ini adalah cinta. Hingga pesawat mendarat, tak sepatah kata pun terucap dari bibirku untuknya. Pasrah.

Mencuri-curi pandang, dan mencari keberadaannya di bandar udara, hanya itu yang bisa kulakukan. Sungguh ingin kumaki diri ini yang tidak berani bersuara dan sekedar mengucapkan “Hai.” You are not You, Fajar! Seharusnya kau seberani mentari yang menyinari fajar di ufuk barat. Bukankah karena itu Papi dan Mami memberimu nama Fajar! Menghadapi seorang perempuan saja kau menciut.

Fajar Rahadian, tampan, sukses, dandy, siapa yang tak kenal lelaki playboy ini? Rasanya setengah perempuan ibukota pernah menjadi kekasihnya, paling tidak TTM lah. Teman Tapi Mesra. Ia bukan sukses tanpa usaha. Tekadnya yang kuat, otaknya yang cerdas, dan kemampuannya menjaring bisnis pun lawan jenis, membuatnya meraih kesuksesan hingga saat ini.

Namun semua itu sirna, di hadapan seorang pramugari yang nampak sederhana namun manis, dan kini hilang dari pandangan. “Sial!”

(Bersambung)

Reyn

The Journey (Gua Hira)


The Journey (Gua Hira)

“Mama berhasil lho naik ke puncak, Nak. Padahal kan tahu sendiri kalau lutut Mama selalu sakit dan enggak kuat jalan jauh. Alhamdulillah gunung setinggi itu Mama bisa daki. Allah Maha Besar.”

Mama, sudah berusia 60 tahun lebih ketika melakukan perjalanan umrah yang membawanya hingga ke puncak Jabal Nur. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam benaknya, mengingat kondisi lutut yang tidak sekuat ketika muda dulu. Tak terhitung berapa kali ia terjatuh ketika sedang melakukan sesuatu atau mengendarai motor. Lututnya begitu lemah dan tidak mampu menopang berat tubuhnya.

Niat yang kuat dalam hati, kemudian membawanya menuju Gua Hira. Semangatnya juga yang membawa saya menaiki puncak Jabal Nur, dengan ketinggian 640 Meter dan kemiringan hingga 60 derajat. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk mencapai puncaknya.

Dengan semangat 45, saya menaiki satu demi satu anak tangga yang dibentuk dari bebatuan gunung itu. Takut ketinggian yang kerap saya alami pun hilang seketika. Berganti dengan rasa haru membayangkan bagaimana Rasulullah mendaki gunung ini untuk menyepi dan menenangkan diri. Lebih sedih dan terharu rasanya ketika membayangkan istri Beliau turun naik mengantarkan makanan tanpa keluh dan lelah.

Jika saya ada di posisi beliau mungkin sudah menyerah melihat sulit dan terjalnya medan yang harus ditempuh setiap harinya. Malu rasanya mengingat diri yang kerap mengeluh padahal situasi jauh berbeda dengan yang dihadapi beliau dulu. Subhanallah.

Satu jam tiga puluh menit kemudian saya tiba di puncak. Gua Hira, I’m coming! Ternyata perjuangan saya belum usai. Saya masih harus melewati sisi yang begitu sempit bahkan harus memiringkan tubuh untuk melewatinya.

Lolos dari tempat ini, ternyata saya masih harus berjibaku memasuki Gua dan berdesakan dengan banyak jemaah lintas negara, yang juga ingin melihat tempat itu secara langsung. Pesan saya untuk anda yang ingin berkunjung ke sana, sabar, tahan emosi, dan tidak perlu melakukan ritual khusus. Perbanyak istighfar dan sholawat pada Baginda Nabi, jauh lebih baik.

Akhirnya dengan perjuangan saya berhasil masuk ke Gua Hira. Sempit, gelap, dan membayangkan di jaman Rasulullah, keadaan sekitar pasti lebih gelap lagi. Paling tidak, banyak cahaya berpendar dari sekelilingnya saat ini. Sesak rasanya dada ini melihat dengan mata kepala sendiri, tempat Rasulullah menerima wahyu untuk pertama kali.

He was there. Beliau ada di tempat yang sama dimana saya menginjakkan kaki saat ini. Lelah dan penatnya mendaki rasanya hilang seketika berganti dengan keharuan yang menyesakkan dada.

Pelan, saya sentuh semua bagian dinding gua berukuran lebar sekitar 50 cm, tinggi hanya 190 cm, dan kedalaman 2 m itu, sambil berusaha merasakan kehadiran Rasulullah di sana. He was here. He was here. Airmata saya mengalir tanpa terbendung.

Jabal Nur, memberikan saya sudut pandang baru tentang arti sabar, pasrah, pengabdian, dan ketabahan. Saya tentu saja belum seujung jari pun mampu menerapkannya dalam hidup. Bahkan menghadapi sesama Muslim yang berdesakan saja saya sudah kehilangan kesabaran. Padahal itu lah intisari kehidupan yang diajarkan Rasulullah dan sang Istri di sini.

Gunung Bercahaya yang kerap saya rindukan hingga hari ini.

(Bersambung)

Much Love,

Reyn

Jabal Nur, Maret 2019

The Journey (Jabal Rahmah)


The Journey (Jabal Rahmah) Pertama kali mendengar bahwa kami akan menaiki Jabal Rahmah, saya sudah membayangkan akan menulis nama kami berdua di sana. Di sebuah monumen batu yang konon merupakan simbol bertemunya Adam dan Hawa setelah terpisah ratusan tahun. Apa daya, keinginan untuk mengabadikan nama kami berdua itu ternyata tidak tercapai. Pemerintah setempat jelas-jelas melarang […]

The Journey (The Calling)


The Journey (The Calling) “Yah, umroh yuk.” “Nanti lah. Bukan sekarang.” “When?” “Tunggu panggilan.” “Okay. Tapi panggilan juga mesti dijemput sepertinya.” Kataku dalam hati. Sedih, merana, karena begitu rindu melihat rumahNya kembali. Kapan Kau akan memanggil kami ke rumahMu lagi, Ya Rabb? Tempat yang dulu begitu dekat denganku karena bisa setiap saat kudatangi tanpa berpikir […]

The Bulls Liburan (6)


The Bulls Liburan (6) “Astaga! Semua sudah bangun, Yah?” Berakhirnya liburan keluarga kemarin ditandai dengan munculnya kembali suara nyaring sang nyonya rumah yang makjegagig terlambat bangun. Setelah 3 hari sunyi dan semua bebas dari rentetan perintah, pagi ini dimulai lagi semua rutinitas di rumah. Meski jam beralarm keras sudah ada di masing-masing kamar. Tapi rasanya […]